Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38958 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
I Made Winarta; Promotor: Mondastri Korib Sudaryo; Kopromotor:Tri Yunis Miko Wahyono, Agnes Kurniawan; Penguji: Evi Martha, Ratna Djuwita, .I Made Djaja, Lukman Hakim, Waras Budiman, Soroy Lardo
Abstrak:
Latar Belakang: Tidak adanya Pemberian kemoprofilaksis pada pasukan pengamana daerah perbatasan menyebabkan tingkat kesakitan dan kematian akibat infeksi Malaria tinggi. Oleh karena itu sangat dibutuhkan suatu metode intervensi yang dapat mencegah insiden Malaria pada pasukan TNI di perbatasan tersebut. Efektivitas metode ini belum diuji secara optimal di daerah endemis Malaria seperti pada perbatasan Papua dan Papua New Guinea. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas Pemberian intervensi pada kelompok perlakuan pasukan TNI yang bertugas di wilayah perbatasan. Metode: Sebuah metode Mix Method yang dilakukan pada Juli-Oktober 2019 di Perbatasan Papua dan PNG. Subjek penelitian adalah satgas pasukan TNI Angkatan Darat dalam keadan sehat dan tidak sedang menderita Malaria. Subjek penelitian dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok intervensi standar sebagai kontrol (P1), kelompok intervensi meflokuin (P2), dan kelompok intervensi kombinasi Meflokuin dan Indooor Residuak Spraying (P3). Kemudian semua pasien difollow-up selama 126 hari dan dilihat insiden Malaria pada pasukan tersebut. Hasil: Insiden infeksi Malaria pada kelompok intervensi P2 lebih rendah dibandingkan dengan kelompok intervensi P1 (16.349% vs 82.39%). Dan Insiden infeksi Malaria pada kelompok intervensi P3 juga lebih rendah dibandingkan dengan kelompok intervensi P1(13.25% vs 82,39%). Rate Ratio (RR) intervensi Meflokuin terhadap insiden Malaria adalah 0.078 (CI 95%; 0.039 – 0.154). Rate Ratio (RR) intervensi kombinasi meflokuin dengan IRS terhadap infeksi Malaria adalah 0.073 (CI 95% = 0.045 – 0.119). Proporsi kasus yang dapat dicegah (PFu%) dengan intervensi P2 sebesar 92% dan intervensi P3 93%. Artinya, sebanyak 92% kejadian infeksi Malaria pada kelompok intervensi P1 dicegah dengan Pemberian kemoprofilaksis meflokuin dan sebesar 93% Artinya, sebanyak 93% kejadian infeksi pada kelompok intervensi P1 dicegah dengan Pemberian kombinasi kemoprofilaksis meflokuin dengan IRS. Hasil kualitatif memnemukan adanya hak ulayat dan tidak memakai kemoprofilaksis srehingga mudah terkena malaria Kesimpulan: Intervensi dengan meflokuin dan intervensi kombinasi meflokuin dengan IRS adalah sangat efektif dapat mencegah kedarian infeksi Malaria. Berkurangnya kejadian infeksi Malaria sejalan dengan bekuranngya transmisi dan morbiditas infeksi Malaria pada Satgas pengamanan daerah perbatasan yang endemis Malaria.

Background: The absence of giving chemoprophylaxis to security forces in border areas cause high morbidity and mortality due to Malaria infection. Therefore, an intervention method is urgently needed that can prevent Malaria incidents in TNI troops on the border. The effectiveness of this method has not been optimally tested in Malaria endemic areas such as the border of Papua and Papua New Guinea. The study aims: to determine the effectiveness of giving interventions to the treatment group of TNI troops serving in the border area. Method: A mixed method was conducted in July till October 2019 on the border of Papua and PNG. The research subjects were the Indonesian Army Troops task force who were in good health and were not suffering from Malaria. The research subjects were divided into 3 groups, namely the standard intervention group as a control (P1), the Meflokuin intervention group (P2), and the Meflokuin and Indoor Residual Spraying combination intervention group (P3). Then all patients were followed-up for 126 days and the incidence of Malaria was observed in the troops. Results: The incidence of Malaria infection in the P2 intervention group was lower than in the P1 intervention group (16.349% vs 82.39%). And the incidence of Malaria infection in the P3 intervention group was also lower than in the P1 intervention group (13.25% vs 82.39%). The Hazard Ratio (HR) of the Meflokuin intervention to the incidence of Malaria was 0.078 (95% CI; 0.039 – 0.154). The Hazard Ratio (HR) of Meflokuin and IRS combination intervention for Malaria infection was 0.073 (95% CI = 0.045 – 0.119). The proportion of cases that could be prevented (PFu%) with P2 interventions was 92% and 93% with P3 interventions. This means that as much as 92% of the incidence of Malaria infection in the P1 intervention group was prevented by administering Meflokuin chemoprophylaxis and by 93%. Qualitative results found that they had “Hak Ulayat” and did not use chemoprophylaxis so they were susceptible to malaria Conclusion: Intervention with Meflokuin and Meflokuin combination intervention with IRS is very effective in preventing the occurrence of Malaria infection. The reduced incidence of Malaria infection is in line with the reduced transmission and morbidity of Malaria infection in the Task Force for securing Malaria-endemic. border areas.
Read More
D-488
Depok : FKM-UI, 2023
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chandrayani Simanjorang; Promotor: Mondastri Korib Sudaryo; Kopromotor: Tri Yunis Miko, Agnes Kurniawan; Penguji: Umar Fahmi Achmadi, Helda, Tri Krianto, Lukman Hakim, Rita Kusriastuti
Abstrak: Latar Belakang: Lamanya waktu pengobatan primakuin pada pasien malaria vivax diyakini dapat menyebabkan tingkat kepatuhan minum obat yang rendah. Oleh karena itu dibutuhkan suatu metode intervensi yang dapat meningkatkan kepatuhan minum obat sehingga kekambuhan dapat dicegah. Efektivitas metode ini belum diuji secara optimal di daerah endemis malaria seperti Sentani Papua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penyuluhan individu dan supervisi pengobatan terhadap kekambuhan malaria vivax di Sentani Kabupaten Jayapura. Faktor-faktor lain yang berpotensi menyebabkan terjadinya kekambuhan malaria vivax juga disertakan dalam penelitian ini. Metode: Sebuah metode quasi eksperimen yang dilakukan pada Januari-Agustus 2019 di Sentani Papua. Subjek penelitian adalah pasien yang didiagnosa malaria vivax konfirmasi mikroskop, usia ≥1 tahun, bukan malaria berat, tidak sedang hamil, tidak sedang menyusui, tidak meminum obat anti malaria dalam 4 minggu sebelumnya dan diberikan pengobatan sesuai standar nasional dengan DHP selama 3 hari dan primakuin 14 hari. Subjek penelitian dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok standard therapy (STH) sebagai kontrol, kelompok intervensi penyuluhan individu (EDU), dan kelompok intervensi supervisi (SPV). Kemudian semua pasien difollow-up selama 90 hari dan dilihat kekambuhannya. Dinyatakan kambuh apabila ditemukan plasmodium vivax pada apusan darah subjek melalui pemeriksaan mikroskopis selama follow-up. Pemeriksaan dilakukan hari ke-3, 7, 14, 28, 60, dan 90 setelah diagnosa pertama. Hasil pemeriksaan dievaluasi dengan melakukan uji silang di BBPTKL-PP Jakarta. Intervensi pada kelompok EDU berupa penyuluhan individu oleh dokter dan perawat Puskesmas sebanyak 3 kali yaitu H0, H3, dan H7. Penyuluhan diberikan secara lisan kepada pasien dengan materi tentang kekambuhan malaria vivax yang sudah tertera di leaflet. Kemudian leaflet diberikan kepada pasien untuk dibaca dan dibawa pulang. Sementara kelompok SPV diberikan intervensi supervisi berupa kunjungan rumah untuk pengawasan minum obat sebanyak 7 kali yaitu H0, H2, H4, H6, H8, H10, H12. Serta mengirimkan pesan singkat/telepon untuk mengingatkan minum obat malaria pada H1, H3,H5, H7, H9, H11, H13. Kelompok kontrol (STH) merupakan kelompok yang didiagnosa malaria vivax di Puskesmas kemudian menerima pengobatan standar dan kembali ke rumah masing-masing. Hasil: Seluruh subjek penelitian (162 subjek) berasal dari pasien malaria vivax di wilayah Puskemas Sentani, Sentani Timur dan Sentani Barat. Terdapat 54 subjek masuk kelompok EDU (Puskesmas Sentani), 58 subjek masuk kelompok SPV (Puskesmas Sentani Timur), dan 50 subjek masuk kelompok STH (puskesmas Sentani Barat). Semua subjek sembuh tanpa komplikasi. Insiden kekambuhan malaria vivax pada kelompok EDU lebih rendah dibandingkan dengan kelompok STH (1.9% vs 20% atau 0.21/1.000 person-days vs 2.36/1.000 person-days). Insiden kekambuhan malaria vivax pada kelompok SPV juga lebih rendah dibandingkan dengan kelompok STH (1.7% vs 20% atau 0.19/1.000 person-days vs 2.36/1.000 person-days). Kekambuhan pada kelompok EDU terjadi di hari ke-48 (1 subjek), kelompok SPV terjadi di hari ke-7 dan 14 (1 subjek). Sementara kekambuhan pada kelompok STH terjadi di hari ke-38 ix Universitas Indonesia (1 subjek), 47 (1 subjek), 48 (1 subjek), 60 (2 subjek), 62 (1 subjek), 74 (2 subjek), dan 90 (2 subjek). Seluruh subjek dinyatakan kambuh melalui hasil pemeriksaan mikroskopis malaria vivax. Sebanyak 10 subjek (83%) dari seluruh subjek yang mengalami kekambuhan adalah anak-anak. Hazard Ratio (HR) intervensi EDU terhadap kekambuhan malaria vivax adalah 0.079 (CI 95%; 0.009-0.675). Hazard Ratio (HR) intervensi SPV terhadap kekambuhan malaria vivax adalah 0.087 (CI 95% = 0.010-0.734). Proporsi kasus yang dapat dicegah (PFu%) dengan intervensi EDU sebesar 92% dan intervensi SPV 91%. Artinya, sebanyak 92% kekambuhan pada kelompok STH dapat dicegah dengan pemberian penyuluhan individu dan sebesar 91% kekambuhan pada kelompok STH dapat dicegah dengan intervensi supervisi pengobatan. Kesimpulan: Intervensi berupa penyuluhan individu dan intervensi pengawasan minum obat sama-sama efektif meningkatkan kepatuhan pengobatan 14 hari primakuin sehingga dapat mencegah kekambuhan malaria vivax. Berkurangnya kekambuhan malaria vivax sejalan dengan berkurangnya transmisi dan morbiditas malaria di daerah endemis. Intervensi edukasi merupakan pilihan yang tepat diimplementasikan di daerah urban dimana mayoritas penduduknya berpendidikan tinggi, sementara di daerah rural sebaiknya memilih gabungan dari kedua intervensi dengan memberdayakan kader malaria yang sudah dilatih oleh Kementerian Kesehatan.
Read More
D-426
Depok : FKM-UI, 2020
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Dian Ayu Agustina Faten; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Renti Mahkota, Lukman Hakim
Abstrak: Malaria merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat menyebabkan kematian terutama pada kelompok risiko tinggi yaitu bayi, balita dan ibu hamil. Apabila mengenai ibu hamil dapat berakibat buruk terhadap ibu dan janinnya, salah satunya terhadap berat lahir bayi. Indonesia merupakan salah satu negara yang masih menjadi daerah endemis malaria dimana pada tahun 2012 terdapat 417.819 kasus. Di Papua,angka Annual Paracite Incidence (API) pada tahun 2012 sebesar 85,75/1000 penduduk, sedangkan angka API di kota Jayapura menunjukkan nilai 57,29 per 1000 penduduk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan status malaria pada ibu hamil dan BBLR di RSUD Abepura. Penelitian ini merupakan studi kohort retrospektif, menggunakan 540 data rekam medis pasien yang melakukan antenatal care di RSUD Abepura selama tahun 2012-2013. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kelompok responden yang mengalami malaria dalam kehamilan tidak berisiko secara statistik (Trimester pertama dengan RR 1,06 95% CI 0,42-2,72 dan p-value 0,891; trimester kedua dengan RR 0,99 95% CI 0,38-2,56 dan p-value 0,984; serta trimester ketiga dengan RR 1,01 95% CI 0,34-3,01 dan p-value 0,982) untuk melahirkan BBLR setelah dikontrol oleh variable usia gestasi dan status gizi ibu diantara ibu hamil yang anemia. Perlunya penelitian lebih lanjut dengan pengambilan sampel yang tepat dan jumlah sampel yang lebih besar. Kata kunci: Malaria maternal, BBLR, Abepura
Read More
T-4300
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chinta Novianti Mufara; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Jusniar Ariati, Hariyanto
Abstrak:
Provinsi Papua Barat menempati urutan ketiga kasus tertinggi malaria di Indonesia. Jumlah kasus malaria positif malaria tahun 2020 berjumlah 254.050 kasus, yang meningkat pada tahun 2021 dengan 304.607 kasus. Terdapat beberapa faktor risiko terjadinya malaria seperti sosio demografi, factor lingkungan, maupun perilaku individu dalam pencegahan penularan penyakit malaria. Penelitian ini bertujuan untuk menilai determinan kejadian malaria di Provinsi Papua Barat, menggunakan sumber data Riskesdas Provinsi Papua Barat Tahun 2018 dengan desain penelitian cross sectional. Penelitian ini menggunakan uji statistik cox regresi terhadap 2.602 sampel di provinsi Papua Barat, dengan signifikansi statistik berdasarkan interval kepercayaan 95%. Hasil penelitian didapatkan prevalensi malaria di Provinsi Papua Barat sebesar 37,2%. Proporsi kejadian malaria paling banyak pada laki-laki 42,5%, usia  5 tahun 37,4%, pendidikan terakhir  SMP/SLTP 37,5%, pekerjaan tidak berisiko 37,8%, tidak tidur menggunakan kelambu berinsektisida 41,2%, tidak menggunakan repelen, tidak menggunakan obat nyamuk 38,0%, menggunakan kasa pada ventilasi rumah 42,7%, memusnahkan barang-barang bekas berwadah 39,5%, tinggal di daerah perkotaan 46,5%, jenis sarana air utama yang digunakan untuk keperluan masak, kebersihan pribadi dan mencuci yang tidak berisiko 38,3% dan jenis sarana air utama yang digunakan untuk keperluan minum yang tidak berisiko 38,7%. Hasil penelitian menunjukan terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin (PR 1,295; 95% CI 1,141-1,469) dan tipe daerah (PR 0,746; 95% CI 0,650-0,855). Serta faktor yang dianggap berhubungan dengan kejadian malaria yaitu tidur menggunakan kelambu berinsektisida PR 1,102; 95% CI 0,965-1,258). Faktor jenis kelamin menjadi faktor yang paling mempengaruhi kejadian malaria yang memberikan resiko sebesar 1,295 terjadinya malaria pada laki-laki dibandingkan pada perempuan setelah dikontrol oleh faktor tipe daerah dan tidur menggunakan kelambu berinsektisida. Perlunya promosi, edukasi dan monitoring evaluasi penggunaan kelambu berinsektisida terutama pada masyarakat perkotaan dan kelompok berisiko (laki-laki).
West Papua Province ranks third in the highest cases of malaria in Indonesia. The number of positive malaria cases in 2020 totaled 254,050 cases, which increased in 2021 with 304,607 cases. There are several risk factors for the occurrence of malaria such as socio-demographic, environmental factors, and individual behavior in preventing the transmission of malaria. This study aims to assess the determinants of malaria incidence in West Papua Province, using the 2018 West Papua Province Riskesdas data source with a cross-sectional study design. This study used the cox regression statistical test on 2,602 samples in the province of West Papua, with statistical significance based on 95% confidence intervals. The results showed that the prevalence of malaria in West Papua Province was 37.2%. the highest proportion of malaria incidence was in males 42.5%, age  5 tahun 37.4%, last education  SMP/SLTP 37.5%, work not at risk 37.8%, did not sleep using insecticide treated nets 41.2 %, not using repellents, not using mosquito coils 38.0%, using gauze on house ventilation 42.7%, destroying used containerized 39.5%, living in urban areas 46.5%, the type of main water facility used used for cooking, personal hygiene and washing purposes which were not at risk 38.3% and the type of main water facility used for drinking purposes which was not at risk 38.7%. The results showed that there was a significant relationship between gender (PR 1.295; 95% CI 1.141-1.469) and area type (PR 0.746; 95% CI 0.650-0.855). As well as factors that are considered related to the incidence of malaria, namely sleeping using insecticide-treated nets PR 1.102; 95% CI 0.965-1.258). The gender factor is the factor that most influences the incidence of malaria which gives a risk of 1.295 for the occurrence of malaria in men compared to women after controlling for the type of area and sleeping using insecticide-treated mosquito nets. It is necessary to promotion, education, monitoring and evalution of the use of insecticide-treated nets, especially in urban communities and at risk group (men).
Read More
T-6602
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dolfinus Yufu Bouway; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo, Tris Eryando; Penguji: Kemal Nazaruddin Siregar, Evi Martha, Tri Yunis Miko, Wendy Hartanto, Hariadi Wibisono
Abstrak: Latar belakang proes perpindahan penduduk dari suatu wilayah ke tempat lain terjadi setiap hari, bulan dan tahun baik dalam negeri maupun yang ke luar negeri dengan tujuan yang bervariasi untuk memenuhi kebutuhan akan kehidupan dari orang-orang tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan mobilitas pendatang beserta faktor terkait dengan kejadian HIV di Kabupaten Mimika Provinsi Papua. Metode adalah mengunakan pendekatan Kasus Kontrol bertujuan untuk menganalisis implikasi serta pengaruh exposure dan disease dari pendatang berisiko yang mobilitasnya tinggi dan mobilitasnya rendah terhadap kejadian HIV. Sampel adalah 390 mobiltas penduduk dan kelompok masyarakat melakukan kunjungan tes VCT (Voluntary Conseling and Testing) pada 1 Rumah Sakit dan 4 Puskesmas di Kabupaten Mimika. Populasi eligible adalah semua mobiltas pendatang berisiko yang berkunjungan ke tempat tes VCT baik di Rumah Sakit dan Puskesmas pada periode tahun 2017 dan 2018. Hasil dari 390 responden yaitu ada kasus 157 dan kontrol 234, seleksi sampel maka ada 138 responden yang terdiri dari kasus 13 dan kontrol 125 tidak dikutkan karena berasal dari populasi kunci, sehingga berjumlah 253 sampel, terdiri dari kasus 144 dan kontrol 109. Selekasi sampel kasus 144 dan kontrol 109 dalam data terdapat responden yang tidak menjawab pertanyaan sehingga harus dikeluarkan, yang dikeluarkan 78 kasus dan 28 kontrol maka ditetapkan jumlah sampel untuk analisis yaitu 66 kasus dan 81 kontrol mobilitas tinggi berisiko 4 kali untuk terinfeksi, Karakteristik sosiodemografi pendatang dengan jenis kelamin laki-laki berisiko 6 kali, usia dewasa muda (17-35 tahun) berisiko 5 kali, berpendidikan rendah berisiko 0.1 kali, pekerjaan tidak tetap berisiko 2 kali, pengetahuan kurang berisiko 13 kali, tidak ada hubungan sikap dengan kejadian HIV, Tidak ada hubungan cakupan program HIV dengan kejadian HIV, Peningkatan infeksi HIV pada populasi pendatang dengan mobilitas tinggi merupakan ekses (negatif) dari perkembangan Kabupaten Mimika Provinsi Papua
Background mobility is the process of moving people from one area to another happening every day, month and year both domestically and abroad with varied objectives to meet the needs of the lives of these people. The purpose of this study was to determine the relationship between migrants' mobility and factors. Method is to use a case-control approach aimed at analyzing the implications and effects of exposure and disease from high-risk and low-mobility migrants at risk of HIV incidence. Sample was 390 population and community groups visiting VCT (Voluntary Counseling and Testing) tests at 1 Hospital and 4 Puskesmas in Mimika Regency. Eligible populations are all mobile risk migrants visiting VCT test sites both in hospitals and health centers in the 2017 and 2018 periods. Results of 390 respondents were 157 cases and 234 controls, sample selection there were 138 respondents consisting of 13 cases and 125 controls were not cited because they came from the key population, so there were 253 samples, consisting of 144 cases and 109 controls. 144 and 109 controls in the data there were respondents who did not answer the question and so had to be excluded, 78 cases and 28 controls were excluded then the number of samples for analysis was determined that 66 cases and 81 high mobility controls had 4 times the risk of being infected, Sociodemographic characteristics of migrants with male sex men at risk 6 times, young adults (17-35 years) at risk 5 times, educated low risk at 0.1 times, precarious work at risk 2 times, knowledge less risk 13 times, no relationship with HIV incidence, no relationship coverage HIV programs with HIV incidence, Increased HIV infection in migrant populations with high mobility m is an excess (negative) from the development of the Mimika Regency, Papua Province
Read More
D-410
Depok : FKM-UI, 2019
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amelia Marisa; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Putri Bungsu, Soewarta Kosen, Rahmad Isa
Abstrak:

Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di wilayah timur Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria di Tanah Papua berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional analitik dengan pendekatan kasus dan non-kasus. Data berasal dari SKI 2023 yang mencakup 37.036 responden dari wilayah Papua. Kasus didefinisikan sebagai individu yang mengalami malaria dalam


Malaria remains a public health issue in eastern Indonesia. This study aimed to analyze factors associated with malaria incidence in Tanah Papua based on data from the 2023 Indonesia Health Survey (SKI 2023). The study employed an analytical cross-sectional design with a case and non-case approach. The data were drawn from SKI 2023 and included 37,036 respondents from the Papua region. A malaria case was defined as an individual who had experienced malaria within the past month. Analyses were conducted using univariate, bivariate, and multivariate methods with logistic regression to calculate the Prevalence Odds Ratio (POR). The malaria prevalence was recorded at 4.80%. Factors significantly associated with malaria incidence included education level, type of occupation, household size, and interactions between age and sex, ventilation and bed net use, as well as age and mosquito repellent use. The strongest association was observed in the interaction between age and sex, in which males aged over 46 years had 2.85 times higher odds of having malaria compared to female children under five years. Malaria incidence in Tanah Papua remains high and is influenced by a complex interplay of individual characteristics and environmental factors, including preventive behaviors.

Read More
T-7324
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yules Boyke Yokhu; Pembimbing: Lukman Hakim Tarigan
S-3934
Depok : FKM-UI, 2004
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gift Charity Yikwa; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Renti Mahkota, Yovsyah, Heny Lestary, Kamaluddin Latief
Abstrak:
Stunting masih merupakan permasalahan gizi utama pada balita di Indonesia, khususnya di wilayah Pulau Papua. Salah satu faktor biologis yang diduga berperan dalam terjadinya stunting adalah berat badan lahir rendah (BBLR), meskipun pengaruhnya dapat dipengaruhi oleh kondisi ibu dan faktor lingkungan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara BBLR dan kejadian stunting pada anak usia 0-59 bulan di Pulau Papua menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan desain cross sectional yang memanfaatkan data sekunder SKI 2023. Sampel mencakup seluruh anak usia 0–59 bulan di Pulau Papua yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel dependen adalah kejadian stunting, sedangkan variabel independen utama adalah BBLR. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi Cox untuk memperoleh estimasi risiko yang telah diadjust oleh kovariat. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting sebesar 27,12%. Analisis multivariat menunjukkan bahwa BBLR tidak berhubungan signifikan dengan kejadian stunting (PR = 1,21; 95% CI: 0,81-1,81; p = 0,341). Sebaliknya, pemeriksaan kehamilan yang tidak lengkap, status ibu KEK, tidak mendapat ASI eksklusif, serta jenis kelamin anak bersifat confounding dengan terjadinya kejadian stunting. Temuan ini menegaskan pentingnya peran faktor ibu dan praktik perawatan anak dalam pencegahan stunting di wilayah Pulau Papua.

Stunting remains a major nutritional problem among toddlers in Indonesia, especially in the Papua region. One of the biological factors suspected to contribute to stunting is low birth weight (LBW), although its influence can be affected by the mother's condition and environmental factors. This study aims to analyze the relationship between LBW and stunting in children aged 0-59 months in Papua Island using data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). This study is an analytical study with a cross-sectional design that utilizes secondary data from SKI 2023. The sample included all children aged 0-59 months in Papua Island who met the inclusion criteria. The dependent variable was the incidence of stunting, while the main independent variable was LBW. Data analysis was performed univariately, bivariately, and multivariately using Cox regression to obtain risk estimates adjusted for covariates. The results showed a stunting prevalence of 27,12%. Multivariate analysis showed that LBW was not significantly associated with stunting (PR = 1,21; 95% CI: 0,81-1,81; p = 0,341). Conversely, incomplete antenatal care, maternal KEK status, not receiving exclusive breastfeeding, and child gender were confounding factors for the occurrence of stunting. These findings emphasize the importance of maternal factors and child care practices in preventing stunting in the Papua region.
Read More
T-7488
[s.l.] : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agus Rahman; Pembimbing: Ratna Djuwita
T-1166
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Cahyaningrum; Pembimbing:Syarif, Syahizal; Penguji: Renti Mahkota, Ajie Mulia Avisena
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji faktor-faktor risiko yang mempengaruhi kejadian filariasis di Papua Barat tahun 2015. Metodologi penelitian: menggunakan studi case control dengan data primer. Besar sampel sebanyak 565 responden. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari-Mei 2015 di Papua Barat. Penduduk di Papua Barat yang berusia 13-50 tahun dan telah diperiksa antigenaemia filariasis dipilih sebagai populasi studi. Data yang terkumpul dianalisis secara statistik dengan software SPSS 13 untuk menganalisis chi-square pada uji bivariat, menganalisis komponen: p-value; OR; 95% CI, dan uji multivariat dengan regresi logistik model prediksi. Hasil: Sampel terdiri dari 113 sebagai kasus dan 452 kontrol. Kemudian kelompok kasus dan kontrol tersebut dihubungkan dengan faktor-faktor risiko. Terdapat hubungan yang bermakna pada faktor sosiodemografi pada variabel suku (Suku asli OR=7,4; 95% CI 3,347-16,239); faktor lingkungan fisik pada variabel pembagian wilayah urban-rural (rural OR=8,1; 95%CI 4,839-13,468), topografi rawa (OR=5,4; 95%CI 3,058-9,377), dan topografi lain (kebun/bukit OR=4,6; 95%CI 2,980-7,162); faktor perilaku pada variabel membiarkan nyamuk saat keluar malam (tidak membiarkan OR=2,4; 95%CI 1,443-3,965), memakai baju panjang saat tidur (tidak memakai OR=4,1; 95% CI 1,454-11,512), dan memakai selimut saat tidur (tidak memakai OR=5,7; 95%CI 1,761-18,583); faktor pemanfaatan pelayanan kesehatan pada variabel jarak rumah-puskesmas (≥ 1 km OR=3,3; 95%CI 2,108-5,090). Pada faktor lingkungan biologi dan pengetahuan, tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik. Faktor risiko dominan adalah variabel pembagian wilayah urban-rural (rural OR=6,3; 95%CI 3,659- 10,615) dan jarak rumah-puskesmas (≥ 1 km OR=2,2; 95%CI 1,343-3,575). Simpulan: faktor pemanfaatan pelayanan kesehatan pada variabel pembagian wilayah urban-rural merupakan faktor risiko paling dominan yang mempengaruhi kejadian filariasis di Papua Barat. Saran: Masyarakat rural Provinsi Papua Barat perlu lebih diperhatikan dalam hal sosialisasi tentang dampak filariasis sehingga dapat melakukan pencegahan; Mengalokasikan sumber daya lebih banyak untuk masyarakat rural; Melakukan pemetaan filariasis dan evaluasi POPM lebih banyak pada masyarakat rural; dan Memberdayakan masyarakat yang berjarak ≥ 1 km dengan puskesmas dalam mendukung program filariasis pada POPM dan tatalaksana kasus. Kata kunci: filariasis, faktor risiko, case control, Papua Barat.
Read More
S-8759
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive