Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41404 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Andi Rika Apryanti; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Rita Damayanti, Primayana Miranti
Abstrak:
Kecemasan adalah respons emosional negatif bersifat subjektif dan memiliki gejala fisik. Kecemasan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola asuh orang tua dan karakteristik siswa. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan persepsi pola asuh dan karakteristik siswa dengan kecemasan pada siswa kelas 7 – 12 di Sekolah HighScope Indonesia tahun 2023. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif desain cross-sectional. Data dari 220 siswa dikumpulkan dengan mengisi booklet kuesioner secara mandiri berisi pertanyaan tentang karakteristik, kecemasan, dan pola asuh orang tua. Instrumen kecemasan menggunakan Zung Anxiety Self-Assessment Scale dan instrumen pola asuh dengan Scale of Parenting Style. Data dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi kecemasan pada siswa kelas 7 – 12 di Sekolah HighScope Indonesia tahun 2023 adalah 27,3%. Pola pengasuhan yang dirasakan siswa didominasi pola asuh authoritative (36,4%) dan neglectful (36,4%). Karakteristik siswa menunjukkan usia remaja awal (58,2%), jenis kelamin perempuan (50,5%), dengan tingkatan kelas SMP (72,7%). Hasil analisis menunjukkan hubungan signifikan antara pola asuh neglectful (p-value = 0,002, OR: 3,222, 95% CI= 1,500-6,921), pola asuh indulgent (p-value = 0,005, OR: 3,778, 95% CI= 1,455-9,808), jenis kelamin siswa (p-value = 0,000, OR: 3,817, 95% CI= 1,987-7,332), dan tingkatan kelas (p-value = 0,024; OR: 2,066, 95% CI= 1,093-3,908) dengan kecemasan siswa. Penelitian ini merekomendasi agar Sekolah HighScope Indonesia melakukan evaluasi terhadap siswa berisiko mengalami kecemasan (perempuan, tingkat SMA, pola asuh orang tuanya neglectful atau indulgent), disamping menyediakan “kotak curhat” untuk siswa dan workshop pola asuh bagi orang tua siswa.

Anxiety is a negative emotional response that is subjective with physical symptoms. Anxiety is influenced by various factors such as parenting styles and student characteristics. The purpose of this study was to determine the relationship between perceived parenting styles and student characteristics with anxiety in 7th – 12th grade students at Sekolah HighScope Indonesia in 2023. This research is a quantitative study using a cross-sectional design. Data from 220 students were collected by filling out a booklet questionnaire independently containing questions about student’s characteristics, anxiety, and parenting styles. The anxiety instrument uses the Zung Anxiety Self-Assessment Scale and the parenting instrument uses the Scale of Parenting Style. Data were analyzed using the chi-square test. The results showed that the prevalence of anxiety in 7th – 12th grade students at HighScope Indonesia Schools in 2023 were 27.3%. The most dominate student’s perceptions of their parenting styles are authoritative parenting (36.4%) and neglectful parenting (36.4%). Meanwhile, the characteristics of the students were early teens (58.2%), female (50.5%), and junior high school level (72.7%). The results of the analysis showed a significant relationship between neglectful parenting (p-value = 0.002, OR: 3.222, 95% CI = 1.500-6.921), indulgent parenting (p-value = 0.005, OR: 3.778, 95% CI= 1.455-9.808), student gender (p-value = 0.000, OR: 3.817, 9 5% CI = 1.987-7.332), and grade level (p-value = 0.024; OR: 2.066, 95% CI = 1.093-3.908) with student anxiety. This study recommends that Sekolah HighScope Indonesia should evaluate students risk of experiencing anxiety (female, high school level, parenting style of neglectful or indulgent), as well as providing a "student’s mail box" and parenting workshops.
Read More
S-11444
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sasqia Rizqiana; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dian Ayubi, Intan Kusumawati
Abstrak:
Kementerian Kesehatan RI melaporkan bahwa prevalensi merokok pada usia 10-18 tahun pada tahun 2023 di Indonesia mencapai 7,4%. Tingkat merokok pada remaja dapat dikurangi dengan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku merokok. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan self-esteem, lingkungan keluarga merokok, pola asuh negatif, dan tekanan teman sebaya dengan perilaku merokok pada siswa SMA DKI Jakarta Tahun 2023. Penelitian ini menggunakan data Survei Perilaku Remaja Siswa Sekolah Menengah di DKI Jakarta dengan menggunakan desain studi cross-sectional yang dianalisis secara univariat, bivariat, dan stratifikasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan lingkungan keluarga merokok (p=0,0001), pola asuh negatif (p=0,0001), dan tekanan teman sebaya (p= 0,0001) dengan perilaku merokok pada siswa, sedangkan pada self-esteem tidak terdapat hubungan dengan perilaku merokok pada siswa (p=0,582). Analisis stratifikasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan self-esteem, lingkungan keluarga merokok, dan tekanan teman sebaya dengan perilaku merokok siswa perempuan, sedangkan pada laki-laki terdapat hubungan lingkungan keluarga merokok, pola asuh negatif, dan tekanan teman sebaya dengan perilaku merokok. Selain itu, terdapat pengaruh pola asuh negatif pada hubungan tekanan teman sebaya dengan perilaku merokok pada siswa. Sementara itu, tidak terdapat pengaruh pola asuh negatif pada hubungan self-esteem dengan perilaku merokok pada siswa. Oleh karena itu, disarankan untuk mengadakan layanan konseling dan program peer educator/peer counselor pada siswa.

The prevalence of smoking among 10-18 years old in Indonesia reach 7,4% in 2023. Understanding the factors associated with smoking behavior can reduce smoking rates in adolescents. The purpose of this study is to determine the relationship between self-esteem, smoking family environment, negative parenting, and peer pressure with smoking behavior among high school students in DKI Jakarta in 2023. This study uses data from the Adolescent Behavior Survey of High School Students in DKI Jakarta using a cross-sectional study design that was analyzed univariate, bivariate, and stratified. The results of the study showed a relationship between smoking family environment (p=0,0001), negative parenting (p=0,0001), and peer pressure (p=0,0001) with smoking behavior among students. Meanwhile, self-esteem (p=0,582) is not related to smoking behavior among students. Stratified analysis shows a relationship between self-esteem, smoking family environment, and peer pressure with smoking behavior among female students, while among male students, there is a relationship between smoking family environment, negative parenting, and peer pressure with smoking behavior. Apart from that, negative parenting influences the relationship between peer pressure and smoking behavior among students. Meanwhile, there was no influence of negative parenting on the relationship between self-esteem and smoking behavior among students. Therefore, it is recommended to provide counseling services and peer educator/peer counselor programs for students.
Read More
S-11658
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Fadhlan Perdana Vitra; Pembiming: Tri Krianto; Penguji: Rita Damayanti, Muhammad Syaeful Mujab
Abstrak:
Latar Belakang: Kecemasan adalah kondisi psikologis yang ditandai oleh kekhawatiran berlebihan dan ketegangan mendalam, seringkali tanpa pemicu jelas. Fenomena ini menjadi perhatian serius, khususnya di kalangan mahasiswa. Kemunculan tagar Indonesia Gelap di media sosial mencerminkan keresahan publik, terutama generasi muda, terhadap ketidakpastian sosial, politik, dan ekonomi. Kondisi ini dapat memicu tekanan psikologis, termasuk kecemasan. Mahasiswa, sebagai kelompok usia dewasa muda yang aktif di media social. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dan melibatkan 191 responden yang merupakan mahasiswa aktif Universitas Indonesia angkatan 2022 dari berbagai fakultas dan program studi. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik proportional cluster random sampling. Instrumen penelitian terdiri dari tiga kuesioner yaitu persepsi terhadap tagar Indonesia Gelap (disusun peneliti), IUS-12 untuk mengukur intoleransi ketidakpastian, dan skala kecemasan DASS-21. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil.: Mayoritas responden memiliki persepsi negatif terhadap tagar Indonesia Gelap (55 %) dan tingkat intoleransi ketidakpastian yang tinggi (55,5%). Hasil uji bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara persepsi terhadap tagar Indonesia Gelap dengan kecemasan (p = 0,007), intoleransi ketidakpastian dengan kecemasan (p < 0,001) dan kecemasan dengan intoleransi ketidakpastian (p < 0.001) Kesimpulan: Persepsi narasi tagar Indonesia Gelap dan intoleransi ketidakpastian memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kecemasan mahasiswa.


Background: Anxiety is a psychological condition characterized by excessive worry and profound tension, often without a clear trigger. This phenomenon has become a serious concern, particularly among university students. The emergence of the  Indonesia Gelap hashtag on social media reflects public unease, especially among the younger generation, regarding social, political, and economic uncertainty. This situation can trigger psychological distress, including anxiety. University students, as a young adult age group active on social media, are particularly susceptible. Method: This study employed a cross-sectional design and involved 191 active University of Indonesia students from the 2022 cohort, spanning various faculties and study programs. Sampling was conducted using a proportional cluster random sampling technique. Research instruments consisted of three questionnaires: perception towards the Indonesia Gelap hashtag (developed by the researcher), the IUS-12 to measure intolerance of uncertainty, and the DASS-21 anxiety scale. Data were analyzed univariately and bivariately using the chi-square test. Result: The majority of respondents had a negative perception of the Indonesia Gelap hashtag (55%) and a high level of intolerance of uncertainty (55.5%). Bivariate test results showed a significant relationship between perception of the Indonesia Gelap hashtag and anxiety (p = 0.007), intolerance of uncertainty and anxiety (p < 0.001), anxiety and intolerance of anxiety (p < 0.001) Conclusion: Perception of the Indonesia Gelap hashtag narrative and intolerance of uncertainty have a significant relationship with students' anxiety levels.
Read More
S-12081
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Intan Kusuma Wati; Pembimbing: Adi Sasongko; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Ella Nurlaela Hadi, Arfah Laidiah Razik, Childa
T-4313
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jessica Apulina Ginting; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Dien Anshari, Ririn Arminsih Wulandari, Saksono Liliek Susanto, Monica Hutabarat
Abstrak:
Penyakit gigi dan mulut yang dialami oleh anak usia dini disebabkan oleh banyak faktor, namun kondisi kesehatan gigi dan mulut ini dapat dicegah serta diobati pada tahap awal. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis persepsi ibu dalam melakukan upaya pencegahan masalah kesehatan gigi dan mulut anak usia dini berdasarkan Health Belief Models. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam menggunakan pedoman pertanyaan yang dilaksanakan pada bulan Desember 2022-Januari 2023 pada 16 informan meliputi 6 informan utama dan 2 informan dari Sekolah X, 6 informan utama dan 2 informan kunci dari PAUD Y. Hasil Penelitian menunjukkan perilaku pencegahan masalah kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan ibu kepada anaknya adalah menyikat gigi, mengurangi makanan dan minuman manis, dan pemeriksaan rutin ke dokter gigi. Perilaku tersebut dipengaruhi oleh persepsi kerentanan dan persepsi bahaya/kesakitan terhadap penyakit gigi dan mulut, persepsi manfaat dan hambatan untuk melakukan perilaku tersebut, memiliki kemampuan melakukan perilaku tersebut, dan adanya isyarat untuk melakukannya yang berasal dari kesadaran diri, pengalaman terkena penyakit gigi, dukungan orang sekitar, dan program sekolah. Untuk itu, perlu dilakukan penyuluhan untuk meningkatkan perilaku ibu dalam mengupayakan pencegahan masalah kesehatan gigi dan mulut anak.

Oral diseases experienced by young children are caused by many factors, but these oral health conditions can be prevented and treated at an early stage. The purpose of this study was to analyze parent's perceptions in carrying out preventive actions for young children's oral health issues based on the Health Belief Models. This study used a qualitative approach with a case study design. Data collection was carried out by in-depth interviews using question guidelines carried out in December 2022-January 2023 on 16 informants including 6 main informants and 2 informants from School X, 6 main informants and 2 key informants from PAUD Y. The results showed that the preventive behavior of oral health issues carried out by parents to their children was brushing teeth, reducing sugary foods and drinks, and regular checks to the dentist. These behaviors are influenced by perceptions of susceptibility and perceptions of severity to oral and dental disease, perceptions of benefits and barriers to performing these behaviors, having the self-efficacy to perform these behaviors, and the presence of cues to action which come from self-awareness, experience of dental disease, support from surrounding people, and school’s programs. For this reason, it is necessary to improve parental behavior in seeking to prevent children's oral health issues.
Read More
T-6799
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Niswatun Nafi'ah; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Dian Ayubi, Triyanti, Junaidah, Abur Mustikawanto
Abstrak:
Perilaku sedentari merupakan faktor risiko gangguan metabolisme tubuh seperti: obesitas, kolesterol tinggi, hipertensi, diabetes melitus, serta berkaitan dengan gejala depresi dan kecemasan pada remaja. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran perilaku sedentari siswa SLTA di Kecamatan Tajurhalang Kabupaten Bogor tahun 2023 dan determinannya. Penelitian dengan desain cross sectional. Sampel sebesar 240 siswa diambil secara proportional random sampling pada 16 sekolah. Pengumpulan data dengan cara responden mengisi sendiri kuesioner yang diadaptasi dari The Adolescent Sedentary Activity Questionnaire. Analisis univariat, bivariat (Chi Square), dan multivariat (regresi logistik ganda) dilakukan pada penelitian ini. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 58,8% siswa berperilaku sedentari kategori tinggi (≥6 jam/hari). Faktor individu yang berhubungan dengan perilaku sedentari siswa adalah jenis kelamin dan status ekonomi keluarga. Faktor interpersonal yang berhubungan dengan perilaku sedentari adalah pola asuh orang tua dan dukungan teman sebaya, sedangkan peraturan sekolah merupakan variabel confounding. Jenis kelamin adalah faktor yang dominan berhubungan dengan perilaku sedentari siswa, siswa perempuan berpeluang hampir 12 kali untuk berperilaku sedentari tinggi dibanding siswa laki-laki (OR=11,8; 95% CI=5,829–23,934) setelah dikontrol oleh status ekonomi keluarga, pola asuh orang tua, dukungan teman sebaya dan peraturan sekolah. Untuk itu, Dinas kesehatan dan Puskesmas perlu mengoptimalkan peran dan fungsi edukasi pencegahan perilaku sedentari siswa serta menjalin kerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama agar upaya pencegahan perilaku sedentari dapat maksimal.

Sedentary behavior is a risk factor for metabolic disorders such as obesity, high cholesterol, hypertension, diabetes mellitus, and is associated with symptoms of depression and anxiety in adolescents. The research objective was to describe the sedentary behavior of high school students in Tajurhalang District, Bogor Regency in 2023 and its determinants. Research with cross sectional design. A sample of 240 students was taken by proportional random sampling in 16 schools. Data collection by means of respondents filling out a questionnaire adapted from The Adolescent Sedentary Activity Questionnaire. Univariate, bivariate (Chi Square), and multivariate (multiple logistic regression) analyzes were performed in this study. The results of the study found that 58.8% of students behaved sedentarily in the high category (≥6 hours/day). Individual factors related to students' sedentary behavior are gender and family economic status. Interpersonal factors related to sedentary behavior are parenting and peer support, while school regulations are confounding variables. Gender is the dominant factor related to students' sedentary behavior, female students are almost 12 times more likely to have high sedentary behavior than male students (OR=11.8; 95% CI=5.829–23.934) after being controlled by family economic status, pattern parenting, peer support and school rules. For this reason, the Health Service and Community Health Centers need to optimize the role and function of education to prevent sedentary behavior in students and collaborate with the Education Office and the Ministry of Religion so that efforts to prevent sedentary behavior can be maximized
Read More
T-6617
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Serena Ade Sonya Pakpahan; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dien Anshari, Mona Lisa
Abstrak: Penelitian bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self-esteem dan pola asuh orang tua terhadap depresi pada siswa SMA di Jakarta Selatan tahun 2023. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional berdasarkan data sekunder dari Survei Perilaku Remaja tahun 2023. Sampel terdiri dari 866 siswa kelas 10 dan 11 dari SMAN 38 dan SMAN 90 Jakarta Selatan yang diambil secara total sampling. Hasil analisis menunjukkan bahwa self-esteem rendah (p < 0.001; OR = 7.35, CI 95%: 5.07–10.64) dan pola asuh negatif (p < 0.001; OR = 2.91, CI 95%: 2.16–3.91) memiliki hubungan signifikan dengan tingkat depresi siswa. Analisis stratifikasi berdasarkan jenis kelamin mengungkapkan bahwa self-esteem rendah memiliki hubungan yang lebih kuat terhadap depresi pada siswa laki-laki (OR = 9.71, CI 95%: 5.90–16.00, p < 0.001) dibandingkan siswa perempuan (OR = 5.81, CI 95%: 3.81–8.84, p < 0.001). Pola asuh negatif juga ditemukan memiliki dampak yang konsisten pada kedua jenis kelamin, meskipun variasinya lebih kecil. Penelitian ini merekomendasikan sekolah untuk menyediakan pelatihan bagi guru dan konselor dalam mendeteksi tanda awal depresi pada siswa, serta mengadakan layanan konseling yang mendukung siswa dengan self-esteem rendah dan pengalaman pola asuh negatif. Penting untuk mengadakan seminar terkait kesehatan mental dan pola asuh positif bagi orang tua, serta mendorong penelitian lanjutan dengan pendekatan longitudinal dan eksplorasi variabel lain yang relevan.
This study aims to analyze the relationship between self-esteem, parenting styles, and socioeconomic status on depression among high school students in South Jakarta in 2023. The study employed a quantitative design with a cross-sectional approach using secondary data from the 2023 Adolescent Behavior Survey. The sample consisted of 866 10th- and 11th-grade students from SMAN 38 and SMAN 90 Jakarta, selected through total sampling. The analysis showed that low self-esteem (p < 0.001; OR = 7.35, CI 95%: 5.07–10.64) and negative parenting styles (p < 0.001; OR = 2.91, CI 95%: 2.16–3.91) were significantly associated with depression levels. Stratified analysis by gender revealed that low self-esteem had a stronger association with depression among male students (OR = 9.71, CI 95%: 5.90–16.00, p < 0.001) compared to female students (OR = 5.81, CI 95%: 3.81–8.84, p < 0.001). Negative parenting styles were consistently associated with depression in both genders, though the variation was smaller. This study recommends that schools provide training for teachers and counselors to detect early signs of depression in students and establish counseling services to support students with low self-esteem and negative parenting experiences. Additionally, it is essential to organize seminars on mental health and positive parenting for parents and to encourage further research using longitudinal approaches and exploration of other relevant variables
Read More
S-11856
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marti Rahayu Diah Kusumawati; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Triyanti, Evi Martha, Andi Sari Bunga Untung, Fiena Fithriah
Abstrak: Konsumsi buah dan sayur pada siswa masih belum memenuhi rekomendasi yangdianjurkan. Kurangnya konsumsi buah dan sayur mengakibatkan peningkatan risikopenyakit tidak menular dan menyebabkan kematian. Kelompok usia sekolah menengahatas merupakan kelompok usia remaja yang berada dalam masa yang tepat untukpertumbuhan dan perkembangannya dalam menanamkan kebiasaaan makan yang sehat.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan konsumsi buah dan sayur padasiswa SMA Negeri di Kecamatan Jatinegara Jakarta Timur. Penelitian ini merupakanpenelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Sebanyak 326 siswa dari 4SMA Negeri berpartisipasi dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwasikap, preferensi, dan ketersediaan buah dan sayur di rumah merupakan determinan darikonsumsi buah dan sayur dengan faktor dominan yang ditemukan adalah preferensi(OR=7,87; CI=1,8-34,1). Peningkatan pemahaman akan manfaat dan pentingnyakecukupan konsumsi buah dan sayur bagi kesehatan serta upaya pemberdayaanmasyarakat sekolah dapat membentuk persepsi yang baik bahwa buah dan sayur adalahmakanan sehat dengan rasa yang enak dan dapat dikonsumsi dalam berbagai jenispengolahan yang menarik.Kata kunci: Konsumsi buah dan sayur, remaja, siswa.
Consumption of fruits and vegetables in students still not meet the recommendedrecommendations. Lack of fruit and vegetable consumption leads to an increased risk ofnon-communicable diseases and causing death. The high school age group is a group ofteenagers who are in the right age for their growth and development in instilling healthyeating habits. This study aims to determine the determinants of fruit and vegetableconsumption in high school students in East Jakarta Jatinegara Subdistrict. This researchis a quantitative research with cross-sectional study design. A total of 326 students from4 public senior high school participated in this study. The results showed that theattitudes, preferences, and availability of fruits and vegetables at home were thedeterminants of fruit and vegetable consumption with the dominant factor found inpreference (OR = 7,87, CI = 1,8-34,1). Increased understanding of the benefits andimportance of the adequacy of fruit and vegetable consumption for health and efforts toempower the school community can form a good perception that fruits and vegetablesare healthy foods with good taste and can be consumed in various types of attractiveprocessing.Keywords: Consumption of fruit and vegetables, adolescents, students.
Read More
T-5313
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nariyah Handayani; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Rita Damayanti, Eny Riawati Tanzil, Ratna Yunita
Abstrak: Kebugaran merupakan prediktor dari penyakit degeneratif seperti penyakit kardiovaskular, diabetes mellitus dan lain sebagainya. Hasil tes kebugaran pada siswa sekolah menengah atas di kota Bogor yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan pada tahun 2014, menyebutkan 91.29% siswa berada pada tingkat kebugaran kurang dan kurang sekali. Perilaku merokok, jenis kelamin, status gizi, frekuensi olahraga, serta lingkar pinggang, kadar lipid dan tekanan darah, diperkirakan menjadi determinan kebugaran, menurut laporan Survei Kepatuhan terhadap KTR di Kawasan Sekolah tahun 2014, terdapat 15.18% siswa yang merokok. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apa saja determinan kebugaran kardiorespirasi pada siswa di 18 sekolah menengah atas di Kota Bogor. Disain penelitian ini cross- sectional menggunakan tiga data sekunder Dinkes Kota Bogor, tes kebugaran menggunakan metode TKJI untuk usia 16-19 tahun. Sampel penelitian didapatkan 354 responden yang tersebar pada 18 sekolah. Pada analisis regresi logistik ganda, ditemukan bahwa variabel jenis kelamin, status gizi, perilaku merokok dan lingkar pinggang merupakan determinan kebugaran kardiorespirasi, dengan variabel jenis kelamin yang dominan berhubungan dengan kebugaran kardiorespirasi. Perlu dibuat program gerakan hidup aktif untuk penanganan masalah gemuk dan obesitas agar adanya peningkatan kebugaran jasmani. Bagi penelitian selanjutnya, perlu penggunaan metode pengukuran kebugaran TKJI secara lengkap atau dengan metode pengukuran yang lain seperti single-test, dan pengukuran aktivitas fisik yang lebih baik lagi. Kata kunci : kebugaran kardiorespirasi, remaja, status gizi, TKJI
Read More
T-4497
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khaerul Nisa; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Rita Damayanti, Rachmat Priyono
Abstrak:
Tidur merupakan kebutuhan dasar agar tubuh dapat berfungsi dengan baik. Remaja merupakan salah satu kelompok umur yang sering mengalami masalah kualitas tidur buruk. Remaja rentan mengalami masalah kualitas tidur yang buruk karena penyesuaian berbagai faktor dan gaya hidup. Kualitas tidur yang buruk dapat menyebabkan munculnya risiko kesehatan baik fisik dan psikis serta terganggunya perkembangan kognitif. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran kualitas tidur dan hubungannya dengan durasi tatap layar, kecemasan, aktivitas fisik, dan kebiasaan tidur pada remaja di SMA Negeri 1 Kebumen tahun 2024. Studi ini menggunakan desain cross-sectional dengan responden sebanyak 304 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 53,6% responden memiliki kualitas tidur yang baik. Analisis bivariat yang dilakukan memperlihatkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kecemasan (p-value < 0,001) dengan nilai OR 8,971 dan kebiasaan tidur (p-value < 0,001) dengan nilai OR 3,24 dengan kualitas tidur remaja. Kemudian dari analisis bivariat juga memperlihatkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara durasi tatap layar dan aktivitas fisik dengan kualitas tidur remaja (p-value>0,05). Intervensi mengenai tips mengontrol kecemasan dan edukasi terkait kebiasaan tidur yang baik diharapkan dapat diterapkan di sekolah untuk meningkat kualitas tidur remaja.

Sleep is a basic need for the body to function properly. Adolescents are one of the age groups that often experience poor sleep quality problems. Adolescents are susceptible to poor sleep quality problems due to adjustments to various factors and lifestyles. Poor sleep quality can lead to physical and psychological health risks and disrupt cognitive development. This study was conducted to determine the picture of sleep quality and its relationship with screen time, anxiety, physical activity, and sleep hygiene in adolescents at SMA Negeri 1 Kebumen in 2024. This study used a cross-sectional design with 304 students as respondents. The results showed that 53,6% of respondents had good sleep quality. The bivariate analysis showed that there was a significant relationship between anxiety (p-value <0.001) with an OR value of 8.971 and sleep hygiene (p-value <0.001) with an OR value of 3.24 with adolescent sleep quality. Then the bivariate analysis also showed that there was no significant relationship between screen time and physical activity with adolescent sleep quality (p-value>0.05). Interventions regarding tips for controlling anxiety and education regarding good sleep hygiene are expected to be implemented in schools to improve the quality of adolescent sleep.
Read More
S-11614
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive