Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36604 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nuansa Dwika Aulia; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Ririn Arminsih Wulandari, Asep Tata Gunawan, Heri Nugroho
Abstrak:
Penelitian bertujuan mengetahui risiko kesehatan pada konsumen ikan asin, dilaksanakan di lima Pasar Tradisional terbesar di Kabupaten Banyumas yaitu Pasar Banyumas, Pasar Wage, Pasar Manis, Pasar Pon dan Pasar Cermai. Sampel penelitian terbagi menjadi dua, sampel lingkungan dan sampel penduduk. Sampel lingkungan adalah ikan asin jenis teri dan peda dari lima pasar dengan total penjual ikan asin adalah 9 pedagang, ikan asin yang menjadi sampel berjumlah 18 buah. Sampel penduduk adalah pengunjung lima pasar yang membeli ikan asin peda dan/atau teri saat dilakukan penelitian dengan total sampel 67 orang dari total populasi 200 orang rata-rata pembeli ikan asin di lima pasar tersebut setiap harinya. Hasilnya hanya terdapat 1 ikan asin yang positif mengandung formalin yaitu ikan asin teri di Pasar Manis. Hasil perhitungan intake realtime tertinggi yaitu konsumen ikan asin peda dan/atau teri Pasar Cermai yaitu dengan konsentrasi maksimum 2,0335 mg/kg/hari. Sementara intake lifetime tertinggi yaitu konsumen ikan asin peda dan/atau teri di Pasar manis dengan konsentrasi maksimum 2,498 mg/kg/hari. Hasil pengukuran RQ realtime tertinggi yaitu konsumen ikan asin peda dan/atau teri di Pasar Cermai dengan nilai maksimum 10,088. Sementara RQ lifetime tertinggi berada pada konsumen ikan asin peda dan/atau teri di Pasar Manis dengan nilai maksimum 12,49.

The research aims to determine the health risks of salted fish consumers, carried out in the five largest traditional markets in Banyumas Regency, namely Banyumas Market, Wage Market, Manis Market, Pon Market and Cermai Market. The research sample was divided into two, environmental samples and population samples. The environmental samples were anchovy and peda types of salted fish from five markets with a total of 9 salted fish sellers, the total number of salted fish in the sample was 18. The population sample was visitors to five markets who bought salted fish and/or anchovies when the research was conducted with a total sample of 67 people from a total population of 200 people, on average, buyers of salted fish in the five markets every day. The result was that there was only 1 salted fish that was positive for containing formaldehyde, namely anchovy salted fish at Pasar Manis. The highest real-time intake calculation results were consumers of peda salted fish and/or anchovies at Cermai Market with a maximum concentration of 2.0335 mg/kg/day. Meanwhile, the highest lifetime intake was consumers of salted peda fish and/or anchovies at Sweet Market with a maximum concentration of 2,498 mg/kg/day. The highest real-time RQ measurement results were consumers of salted peda fish and/or anchovies at Cermai Market with a maximum value of 10,088. Meanwhile, the highest lifetime RQ was for consumers of salted fish and/or anchovies at Pasar Manis with a maximum value of 12.49.
Read More
T-6849
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bahnan; Pembimbing: Sri Tjahjani Budi Utami; Bambang Wispriyono; Penguji: Haryoto Kusnoputranto, Wan Alkadri, Ani Isnawati
Abstrak:

Tahu adalah gumpalan protein kedelai yang diperoleh dari hasil penyarian kedelai yang telah digiling dengan penambahan air. Supaya tidak rugi dan mudah rusak produsen atau penjual tahu memberi formalin sebagai bahan pengawet. Formalin dapat menyebabkan nyeri abdominal, muntah, diare, hipertensl. koma, asidosis metabolik serta gangguan ginjal akut. Juga bersifat kronik seperti karsinogenik, ganggua.n menst.ruasi dan kesuburan wanita. Pada dosis rendah rnenyebabkan sakit penlt akut disertai muntah­ muntah, timbulnya depresi susunan syaraf. serta kegaga1an peredaran darah. Pada dosis tinggi menyebabkan kejang-kejang, keneing darah, tidak bisa kencing, dan muntab darah, sehingga dapat menyebabkan kematian. Tujuan penelitian ini adalah diketahutnya dengan menetapkan konsentrasi. Karakteristik risiko (RQ) nonkarsinogenik konsumen dari Pasar 10 Ulu terendah 0,0533 dan tertinggi 4,6198 konswnen yang berisiko sebanyak 4 orang (12,9 %), Pasar Sako Kenten terendah 0,0120 dan tertinggi 1,6264 konsumen yang berisiko sebanyak 3 orang (S,n %), Pasar Lemabang terendah 0,0225 dan tertinggi 1,9278 konswnen yang berisiko sebanyak 13 orang (21,67 %). Sedangkan karakteristik risiko karsinogenik konsumen dari Pasar 10 Ulu terendah 0,0229 dan tertinggi I ,9799 konsumen yang berisiko sebanyak 2 orang (6,45 %), Pasar Sako Kenten terendah 0,0051 dan tertinggi 0,6970, Pasar Lemabang terendah 0,0169 dan tertinggi 0,8262. Dengan uji I independen (uji mann whitney), diperoleh nilai p < 0,05 (p value 0,004), maka dapet disimpulkan bahwa pada taraf nyala 5 % ada perbedaan yang bermakna konsentra.si formalin antara kelompok tabu sayur dan tahu goreng. Produksi tabu hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan k.onsumen agar seriap hari selalu habis tedual, sehingga tidak perlu menggunakan bahan pengawet Produsen dan atau pedagang hendaknya tidak rnenggunakan formalin pada makanan apapun alasanya karena fonnalin dilarang digunakall pada makanan. Konsentrasi fonnalin dalarn tahu setelah disayur selama lO menit mengalarnj penurunan 25,91 %dan setelah digoreng mengalami penurunan 60,80 %. Produsen dan atau pedagang hendaknya menggunakan bahan pengawet yang tidak berisiko terhadap kesehatan konsumen.

Read More
T-2233
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Martanto; Pembimbing: Suyud Warno Utomo; Penguji: Haryoto Kusnoputranto, Enny Wahyu Lestari
Abstrak: Sektor pertanian merupakan sektor yang sangat dominan di kecamatan Cikajang Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Komoditas utamanya yaitu cabai, kol, wortel, tomat dan kentang. Kegiatan pertanian tidak terlepas dari penggunaan pestisida. Petani biasa mengkonsumi Sayuran dari hasil pertaniannya sehingga dapat menimbulkan risiko gangguan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui risiko kesehatan akibat konsumsi sayuran yang mengandung residu pestisida di Kecamatan Cikajang Kabupaten Garut. Metode penelitian adalah observasional study dengan rancangan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan. Survei sosial-demografi dan diet dengan wawancara 99 petani dilakukan dari bulan Maret-Mei 2017. Sampel cabai diekstraksi dengan menggunakan teknik QuechERS dan dihitung dengan kromatografi gas yang dilengkapi dengan detektor fotometrik nyala (FPD). Bahwa hasil penelitian menunjukkan sayuran yang mengandung residu pestisida adalah Cabai dengan Konsentrasi profenofos tertinggi yaitu sampel III yaitu 11,193 mg/kg, dan konsentrasi rata-rata yaitu 5,235 mg/kg, sedangkan untuk kubis dan wortel tidak ditemukan residu pestisida. Intake Profenofos melalui sayuran cabai pada petani di kecamatan Cikajang sebesar 0,05867 mg/kg/hari, dengan durasi pajanan sebesar 33,4 tahun, berat badan sebesar 57,37 kg. Laju asupan sebesar 0,3571 gr/hari dan frekuensi pajanan sebesar 52 hari/tahun. Konsentrasi profenofos dalam sayur Cabai telah melewati batas normal menurut EPA (2006) yaitu 0,00005 mg/kg/h. Hasil menunjukkan untuk RQ non karsinogenik memiliki risiko untuk terkena penyakit. Sehingga manajemen pengurangan risiko kesehatan perlu dilakukan. Kata kunci: Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan, Sayuran, Kubis, Wortel Cabai, Residu pestisida, Profenofos. The agricultural sector is a very dominant sector in Cikajang subdistrict, Garut regency, West Java Province. The main commodities are chili, cabbage, carrots, tomatoes and potatoes. Agricultural activities cannot be separated from the use of pesticides. In general, farmers who consume vegetables from their agricultural product are at risk of health problems. This study aims to determine the health risks due to consumption of vegetables containing pesticide residues in District Cikajang Garut. The research method is observational study with the design of Environmental Health Risk Analysis. Socio-demographic and dietary survey were completed by face-to-face questionnaire among 99 0f horticulture Farmers from March-May 2017. The results showed that vegetables containing pesticide residue were Chili with the highest Profenofos concentration ie III sample that is 11,193 mg / kg, and the mean concentration of 5,235 mg / kg, while for cabbage and carrots not found pesticide residue. Intake Profenofos through chili vegetables at farmers in sub-district Cikajang 0.0587 mg / kg / day, with the duration of exposure of 33.4 years, weight of 57.37 kg. Intake rate of 0,3571 g / day and exposure frequency of 52 days / year. The profenofos concentration in Chili Vegetables has exceeded the normal limit according to EPA (2006) that is 0.00005 mg/kg/h. The results showed for non-carcinogenic RQ have a risk for exposure to the disease. So that health risk reduction management needs to be done. Keywords: Environmental Health Risk Analysis, Chili, Pesticide Residues, Profenofos.
Read More
S-9376
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fahmi Rasyidah; Pembimbing: Suyud Warno Utomo; Penguji: Haryoto Kusnoputranto, Enny Wahyu Lestari
Abstrak: Penggunaan pestisida selain bermanfaat bagi pertanian namun juga berpotensi menimbulkan efek toksisitas bagi manumur dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor risiko keracunan pestisida berdasarkan konsentrasi enzim cholinesterase pada petani holtikultura. Desain studi yang digunakan adalah cross-sectional dengan sampel penelitian 92 petani holtikultura penyemprot pestisida yang berada di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan antara umur dengan keracunan pestisida (p=0,036). Sementara itu, uji statistik bivariat pada variabel lain menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara pemakaian APD (p = 0,273), masa kerja (p = 0,392), takaran pestisida (p = 0,49), metode penyemprotan (p = 0,171), pengetahuan petani (p = 0,095), dan kebersihan badan (p = 0,947) terhadap keracunan pestisida pada petani. Kesimpulan dari penelitian ini adalah faktor risiko umur petani berpengaruh terhadap kejadian keracunan pestisida. Pada penelitian selanjutnya diharapkan ada penelitian lebih lanjut yang mengaitkan antara konsentrasi pajanan di lingkungan dengan keracunan pestisida. Kata kunci: pestisida, keracunan pestisida, cholinesterase The use of pesticides not only give beneficial to agriculture but also potentially cause toxic effects for humans and the environment. The study design is cross-sectional and the sample study is 92 holticultural farmers who are spraying pesticides in Cikajang District, Garut Regency, West Java. Bivariate analysis showed that there was relation between age to pesticide poisoning (p=0,036). Meanwhile, there were no significant relation between personal protective equipment (PPE) usage (p = 0,273), working periode (p = 0,392), pesticide dose (p = 0,49), spray methode (p = 0,171), farmer knowledge (p = 0,095), and personal hygiene (P = 0,947) to pesticide poisoning on farmer. The conclusion of this research is behavioral risk factor has no association on the incidence of pesticide poisoning. In future studies, there is expected to be further research that analyse the association between the presence of exposure in the environment with pesticide poisoning. Keywords: pesticides, pesticide poisoning, cholinesterase
Read More
S-9424
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dilla Utari Nalmi; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Diah Wati Soetojo
Abstrak: ABSTRAK Skripsi ini membahas tentang tingkat risiko kesehatan pada nelayan Muara Angke akibat pajanan merkuri dari konsumsi ikan hasil tangkapan di Teluk Jakarta. Penelitian ini adalah penelitian analisis risiko kesehatan lingkungan dengan desain deskriptif. Hasil penelitian menyarankan bahwa perlu adanya penguatan regulasi tentang buangan limbah industri terutama merkuri dan dilakukan screening biomarker pajanan merkuri pada nelayan Muara Angke yang mengkonsumsi ikan hasil tangkapan di Teluk Jakarta. Kata kunci: Analisis risiko kesehatan, pajanan merkuri, nelayan ABSTRACT The focus of this study is the level of health risk to Muara Angke fishermen due to mercury exposure from fish consumption in Jakarta Bay. This research is an environmental health risk analysis research with descriptive design. The results suggest that there is a need to strengthen the regulation on industrial waste disposal, especially mercury and biomarker screening of mercury exposure to Muara Angke fishermen who consume fish catches in Jakarta Bay. Key words: Health risks, mercury exposure, fisherman
Read More
S-9800
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Azalia Putri Hanasri; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Haryoto Kusno Putranto, Muhammad Rudi AR
Abstrak:
Perairan Kepulauan Seribu diketahui telah tercemar oleh kadmium (Cd), hal ini turut menyebabkan terjadinya akumulasi kadmium (Cd) dalam tubuh ikan yang hidup di dalamnya. Nantinya ikan yang terkontaminasi kadmium (Cd) dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia yang rutin mengonsumsinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi tingkat risiko kesehatan akibat pajanan kadmium (Cd) dalam ikan pada masyarakat Pulau Tidung. Desain penelitian yang digunakan adalah analisis risiko kesehatan lingkungan (ARKL) menggunakan data primer dengan jumlah responden sebanyak 97 penduduk. Hasil pengujian menunjukkan konsentrasi kadmium (Cd) dalam ikan sebanyak 0,001 mg/kg (tongkol), 0,055 mg/kg (selar), dan 0,001 mg/kg (kembung). Konsentrasi tersebut masih berada di bawah baku mutu yang berlaku. Perhitungan nilai RQ untuk populasi dan nilai RQ untuk seluruh individu menghasilkan nilai RQ ≤1, Sehingga dapat diambil kesimpulan tingkat risiko yang ditimbulkan masih bersifat aman untuk populasi dan tiap individu penduduk, namun perlu dipertahankan agar risiko yang ada tetap bersifat aman. Pencegahan risiko dapat dilakukan pada sumber pencemaran dengan melakukan pengawasan terhadap limbah buangan yang dikeluarkan ke badan air dan pemanfaatan alga sebagai bioabsorben, seperti Chaetocerus sp., Euchema sp., Cladophora glomerata, Euchema isiforme, dan Sargassum sp. untuk mengurangi cemaran kadmium (Cd) di perairan.

The waters of the Seribu Islands are known to be polluted by cadmium (Cd), this has contributed to the accumulation of cadmium (Cd) in the bodies of the fish that live there. In the future, fish contaminated with cadmium (Cd) can cause health problems in humans who regularly consume it. This study aims to estimate the level of health risk due to exposure to cadmium (Cd) in fish in the Tidung Island community. The research design used was environmental health risk analysis (EHRA) using primary data with a total of 97 respondents. The test results showed that the concentration of cadmium (Cd) in fish was 0.001 mg/kg (tongkol), 0.055 mg/kg (selar), and 0.001 mg/kg (kembung). This concentration is still below the applicable quality standards. Calculation of the RQ value for the population and the RQ value for all individuals produces an RQ value of ≤1. It can be concluded that the level of risk posed is still safe for the population and each individual resident, but needs to be maintained so that the existing risks remain safe. Risk prevention can be carried out at pollution sources by monitoring waste released into water bodies and using algae as bioabsorbents, such as Chaetocerus sp., Euchema sp., Cladophora glomerata, Euchema isiforme, and Sargassum sp. to reduce cadmium (Cd) concentration in waters.
Read More
S-11769
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiara Dhesi Anggraeni; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Budi Hartono, Abdur Rahman
Abstrak: Permukiman Nelayan Kali Adem Muara Angke berlokasi di tepian Perairan Teluk Jakarta yang telahtercemar Kadmium. Masyarakat disana terbiasa mengonsumsi ikan yang berasal dari Pasar Ikan GrosirMuara Angke, dimana pasokan ikan yang dijual berasal dari Perairan Teluk Jakarta dan sebagian dari PantaiUtara Pulau Jawa. Pengonsumsian ikan dari perairan yang tercemar berisiko menimbulkan gangguankesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat risiko pajanan Kadmium daripengonsumsikan ketiga jenis ikan yaitu ikan kembung, ikan tongkol dan ikan bandeng, pada masyarakat diPermukiman Nelayan Kali Adem melalui pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL).Hasil penelitian menunjukkan bahwa asupan (Chronic Daily Intake) Kadmium melalui ikan yaitu sebesar9 x 10-5 mg/kg/hari, dengan laju asupan (R) sebesar 153,3 gram/hari, frekuensi pajanan (fE) selama 312hari/tahun, durasi pajanan (Dt) selama 26 tahun dan rata-rata berat badan (Wb) sebesar 59 kg. Hasilperhitungan tingkat risiko (RQ) pada pajanan real time untuk jenis ikan kembung, ikan tongkol dan ikanbandeng berturut-turut sebesar 0,070; 0,012; 0,006. Pada estimasi pajanan 10 tahun sebesar 0,097; 0,017;0,008. Pada estimasi pajanan 20 tahun sebesar 0,124; 0,022; 0,011. Dan untuk estimasi pajanan 30 tahunsebesar 0,152; 0,027; 0,013. Hasil tersebut menunjukkan bahwa masyarakat di Permukiman Nelayan KaliAdem Muara Angke secara populasi belum memiliki risiko dan masih aman dari timbulnya gangguankesehatan nonkarsinogenik akibat pajanan Kadmium dari pengonsumsian ikan untuk pajanan saat inihingga estimasi 30 tahun mendatang, dengan asumsi bahwa sumber pajanan hanya berasal dari ikan dantidak memperhitungkan pajanan Kadmium dari sumber lain.kata kunci : analisis risiko kesehatan lingkungan; ikan; kadmium; muara angke; pencemaran air laut
Kali Adem Muara Angke Fisherman Community located on the shores of Jakarta Bay which have beenpolluted by Cadmium. The community always eats fish from Pasar Ikan Grosir Muara Angke, where thesupplies of fish are from Jakarta Bay and partly from North Coast of Java Island. The consumptions ofcontaminated fish would pose a risk of health problems. This study aimed to determine the level of riskexposure to Cadmium at Kali Adem Muara Angke Fisherman Community through Environmental HealthRisk Analysis (EHRA) approach. The results showed that the intake (Chronic Daily Intake) of Cadmiumin fish at 9 x 10-5 mg/kg/hari, with the fish intake rate of 153,3 gram/day, frequency of exposure at 312days/year, duration of exposure for 26 years and the average body weight of 59 kg. The results of riskquotient (RQ) analysis for real time exposure in kembung fish, tongkol fish and bandeng fish are 0,070;0,012; 0,006. For 10 years exposure estimation, the results of risk quotient (RQ) are 0,097; 0,017; 0,008.For 20 years exposure estimation are 0,124; 0,022; 0,011. And for the 30 years exposure estimation are0,152; 0,027; 0,013. The results showed that the fisherman community, do not have risks and still safe fromthe noncarcinogenic health risk at this time to 30 years ahead, based on the assumption that Cadmiumexposure comes from fish only and do not take into the Cadmium exposure from the other sources.keywords : cadmium; environmental health risk assessment; fish; muara angke; sea water contamination.
Read More
S-10498
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agus Purnomo; Pembimbing: Rachmadi Purwana; I Made Djaja; Penguji: Bambang Wispriyono, Athena Anwar, Ely Setyawati
T-2232
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gita Ardyuani; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Laila Fitria, Imelda Wijaya
S-6154
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Frisca Rahmadina; Pembimbing: Suyud Warno Utomo; Penguji: Laila Fitria, Miko Hananto
Abstrak: ABSTRAK Pedagang ikan Muara Angke merupakan produsen sekaligus konsumen pertama yang mengonsumsi ikan dari Teluk Jakarta yang telah tercemar timbal. Apabila ikan yang terkontaminasi timbal dikonsumsi oleh manusia maka dapat menimbulkan risiko gangguan kesehatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat risiko kesehatan akibat pajanan timbal dari konsumsi ikan pada pedagang ikan melalui metode analisis risiko kesehatan lingkungan. Hasil penelitian menunjukan konsentrasi timbal dalam ikan sebesar 0,4 mg/kg, nilai chronic daily intake sebesar 0,001167847 mg/kg/hari, dengan lama pajanan 17 tahun, berat badan 61 kg, frekuensi pajanan 83 hari/tahun dan laju asupan 0,6736 kg/hari. Hasil analisis menunjukan bahwa pedagang ikan Muara Angke secara individu sudah tidak aman dan memiliki risiko gangguan kesehatan nonkarsinogenik akibat pajanan timbal dari konsumsi ikan untuk 10 tahun mendatang dengan asumsi bahwa sumber pajanan hanya berasal dari ikan. Kata kunci: analisis risiko kesehatan, ikan, logam berat, teluk jakarta, timbal Muara Angke fish traders are the first producer and consumer to consume fish from Jakarta Bay which has been polluted by lead. If fish contaminated by lead are consumed by humans then it may pose a risk of health problems. This study aims to determine the level of health risks due to lead exposure to fish consumption to fish traders through methods of environmental health risk analysis. The results showed rate concentration of lead in fish of 0,4 mg/kg, chronic daily intake value of 0,001167847 mg/kg/day, with 17 years of exposure, body weight 61 kg, exposure frequency 83 days/year and intake rate 0,6736 kg/day. The result of the analysis show that Muara Angke fish traders individually are not safe and have risk of non carcinogenic health problems due to lead exposure of fish consumption for the next 10 years assuming that the source of exposure only comes from fish. Key words: fish, health risk analysis, heavy metals, jakarta bay, lead
Read More
S-9844
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive