Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 20981 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Endivia Rizki Maghfiroh; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Adang Bachtiar, Vetty Yulianty Permanasari, Evy Febrina Nurpeni, Ari Dwi Aryani
Abstrak:
Latar belakang. Jumlah Rujukan FKTP ke RSIA Kenari Graha Medika pasien BPJS Kesehatan masih mendapat proporsi kecil dibandingkan dengan rujukan ke FKRTL lain di wilayahnya. Kunjungan poli rawat jalan RSIA Kenari Graha Medika juga belum mencapai target kunjungan pertahun yaitu sebesar 46.080 kunjungan pasien poli rawat jalan dalam satu tahun. Guna meningkatkan kinerja rawat jalan, RSIA Kenari Graha Medika telah menjalin jejaring kerjasama dengan 84 FKTP di wilayah Kabupaten Bogor, namun belum diketahui ada tidaknya hubungan kepuasan kemitraan dengan WOMI. Metode. Desain penelitian cross sectional dengan jumlah sampel 70 sampel dari popuasi semua FKTP yang menjalin kemitraan dengan RSIA Kenari Graha Medika. Enam variabel yang diteliti adalah 5 variabel framework Lui & Ngo, 2005 (yaitu asset specificity dan partner reputation, actions acquiescence, actions simplicity, dan actions reciprocity) dan 1 variabel Komitmen Pelayanan Rujuk Balik (PRB) kemudian dihubungkan dengan keminatan FKTP dalam memberikan rekomendasi (WOMI (Word of Mouth Intentions)) pada pasien. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat (deskriptif) dan multivariat dengan SEM PLS. Hasil. Dari analisais data didapatkan seluruh konstruk dinyatakan valid dan reliabel berdasarkan hasil perhitungan loading factor, AVE dan cornbach alpha. Uji hipotesis menunjukkan 3 variabel diterima yakni Action Acquiescence, Action Reciprocity, serta Action Simplicity, sedangkan 3 variabel lainnya ditolak yaitu, asset specificity, partner reputation, dan Komitmen PRB RS. Kesimpulan. Semakin tinggi dari Action Acquiescence, Action Reciprocity, dan Action Simplicity akan semakin tinggi pula WOMI FKTP yang bermitra dengan RSIA Kenari Graha Medika. Sedangkan tinggi rendahnya asset specificity, partner reputation, Komitmen PRB RS tidak berpengaruh pada WOMI.

Background. The number of First Level Health Facilities’s referrals to RSIA Kenari Graha Medika for BPJS Health patients still receives a small proportion compared to referrals to other First Level Health Facilities in the region. RSIA Kenari Graha Medika outpatient clinic visits have also not reached the annual visit target of 46,080 outpatient clinic patient visits in one year. In order to improve outpatient performance, RSIA Kenari Graha Medika has established a collaborative network with 84 First Level Health Facilities in the Bogor Regency area, but it is not yet known whether there is a relationship of satisfaction with WOMI. Method. Cross sectional research design with a sample size of 70 samples from the population of all First Level Health Facilities that have a partnership with RSIA Kenari Graha Medika. The six variables studied were 5 Lui & Ngo, 2005 framework variables (namely asset specificity and partner reputation, actions acquiescence, actions simplicity, and actions reciprocity) and 1 variable Reciprocity Service Commitment (PRB commitment) which was then linked to First Level Health Facilities’s interest in providing recommendations (WOMI (Word of Mouth Intentions)) in patients. Data analysis was carried out using univariate (descriptive) and multivariate analysis with SEM PLS. Results. From data analysis, it was found that all constructs were declared valid and reliable based on the results of loading factor, AVE and Cornbach alpha calculations. Hypothesis testing showed that 3 variables were accepted, namely Action Acquiescence, Action Reciprocity, and Action Simplicity, while 3 other variables were rejected. Conclusion. The higher the Action Acquiescence, Action Reciprocity, and Action Simplicity, the higher the First Level Health Facilities WOMI in partnership with RSIA Kenari Graha Medika. Meanwhile, high or low asset specificity, partner reputation, RS PRB Commitment have no effect on WOMI.
Read More
B-2434
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Selvie Fitria Pinandita; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Adang Bachtiar, Dumilah Ayuningtyas, Evy Febrina Nurpeni, Cholid Yamani
Abstrak: Latar belakang : Ketidaktercapaian target kunjungan pasien rawat jalan di RSIA Kenari Graha Medika selama 3 tahun terakhir menunjukkan adanya masalah yang perlu segera diatasi. Tidak tercapainya target pasien lama selama periode tersebut mengindikasikan rendahnya minat pasien untuk kembali (repurchase intention). Komunikasi antara dokter dan pasien di unit rawat jalan RSIA Kenari Graha Medika menjadi perhatian karena beberapa kali mendapatkan komplain pasien. Tujuan : untuk mengetahui hubungan keterampilan komunikasi dokter dengan repurchase intention pasien rawat jalan di RSIA Kenari Graha Medika. Metode : Desain penelitian cross sectional dengan jumlah sampel sebesar 152 sampel. Variabel yang diteliti adalah keterampilan komunikasi dokter dihubungkan dengan repurchase intention yang dimediasi oleh variabel customer satisfaction. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat (deskriptif) dan multivariat dengan SEM PLS. Hasil : Dari analisis data didapatkan seluruh konstruk dinyatakan valid dan reliabel berdasarkan hasil perhitungan loading factor, AVE dan corbach alpha. Uji hipotesis menunjukkan semua variabel diterima. Kesimpulan : Keterampilan komunikasi dokter berhubungan positif dan signifikan terhadap repurchase intention melalui kepuasan pasien, semakin tinggi keterampilan komunikasi dokter maka semakin tinggi juga repurchase intention. Berdasarkan temuan bahwa keterampilan komunikasi dokter berhubungan signifikan dengan kepuasan pasien dan repurchase intention, penting untuk terus melatih dokter dalam keterampilan komunikasi yang efektif.
Background: The failure to achieve the target for outpatient visits at RSIA Kenari Graha Medika over the last 3 years indicates a problem that needs to be addressed immediately. Not achieving the old patient target during this period indicates the patient's low interest in returning (repurchase intention). Communication between doctors and patients in the RSIA Kenari Graha Medika outpatient unit has become a concern because several times patient complaints have been received. Objective: to determine the relationship between doctors' communication skills and repurchase intention of outpatients at RSIA Kenari Graha Medika. Method: Cross sectional research design with a sample size of 152 samples. The variable studied is the doctor's communication skills which are associated with repurchase intention which is mediated by the customer satisfaction variable. Data analysis was carried out using univariate (descriptive) and multivariate analysis with SEM PLS. Results: From data analysis, it was found that all constructs were declared valid and reliable based on the results of loading factor, AVE and Corbach alpha calculations. Hypothesis testing shows all variables are accepted. Conclusion: Doctors' communication skills are positively and significantly related to repurchase intention through patient satisfaction. The higher the doctor's communication skills, the higher the repurchase intention. Based on the finding that physician communication skills are significantly related to patient satisfaction and repurchase intention, it is important to continue training physicians in effective communication skills.
Read More
B-2487
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dindin Hardianto Hadim; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Vetty Yulianty Permanasari, Lies Dina Liastuti, Nusati
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara faktor fasilitas kesehatan dan faktor kualitas tenaga dokter terhadap Rasio Rujukan Rawat Jalan Kasus Non Spesialistik (RRNS) di Wilayah Kerja BPJS Kesehatan Kantor Cabang Batam Tahun 2016. Penelitian dilakukan di FKTP yang bekerjasama dengan BPJS-Kesehatan KC. Batam. Sampel penelitian terdiri dari 17 FKTP yang mempunyai angka RRNS > 7 % sebagai kriteria inklusi. Teknik pengumpulan data adalah observasi/pengamatan serta kuesioner/angket dan kelompok diskusi terarah. Analisis Statistik yang dipakai adalah Analisis Parametrik Product Moment Person.Terdapat hubungan positif antara kelengkapan sarana-prasarana, farmasi- alat kesehatan, kompetensi dokter serta beban kerja dokter terhadap RRNS tetapi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Walaupun uji statistik tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap RRNS, akan tetapi diperoleh fakta bahwa sebagian besar FKTP di wilayah kerja BPJS-Kesehatan KC Batam belum terstandar sesuai peraturan yang berlaku baik dalam hal kelengkapan sarana-prasarana, farmasi-alat kesehatan dan tingkat kompetensi dokternya. Lebih banyak ditemukan Dokter di FKTP dengan Kategori Beban kerja berlebih dan angka RRNSnya tinggi. Kredensialing sebaiknya dilaksanakan secara terpadu oleh Dinas Kesehatan, Organisasi Profesi serta Asosiasi Klinik dan BPJS-Kesehatan dengan mengacu kepada peraturan yang ada agar diperoleh FKTP yang terstandar dengan baik. Selanjutnya pengawasan dan pembinaan oleh Dinas Kesehatan dan Asosiasi Faskes harus dilakukan secara berkala guna menjaga kualitas mutu layanan. Disamping itu PKB juga merupakan hal yang penting untuk memelihara kompetensi tenaga dokter sehingga pada akhirnya FKTP dapat berfungsi sebagai gatekeeper dalam pelayanan kesehatan di era JKN ini.
Kata kunci : RRNS, Faskes, Dokter, BPJS-Kesehatan

This study aims to determine whether there is a correlation between health facility factor and physician quality factor to Non-Specialistic Radiation Coverage Ratio (RRNS) in Work Area of BPJS Kesehatan Batam Branch Office 2016. The research was conducted in FKTP in collaboration with BPJS-Kesehatan KC . Batam. The study sample consisted of 17 FKTPs having RRNS> 7% as inclusion criteria. Data collection techniques are observation / observation as well as questionnaire / questionnaire and focus group discussion. Statistical Analysis used is Parametric Product Moment Person Analysis. There is a positive relationship between the completeness of infrastructure, pharmacy-health equipment, physician competence and physician's workload to RRNS but it does not show any significant relationship. Although statistical tests do not show a significant relationship to RRNS, the fact remains that most FKTPs in the working area of BPJS-Health KC Batam have not been standardized in accordance with the regulations applicable both in terms of completeness of facilities, pharmacy-health equipment and the level of competence of their doctors. More Doctors found in FKTP with Category Excessive workload and high RRNS numbers. Credentials should be implemented in an integrated manner by the Department of Health, Professional Organizations and Clinical Associations and BPJS-Kesehatan by referring to existing regulations in order to obtain a well-standardized FKTP. Further supervision and guidance by the Health Office and Faskes Association should be conducted periodically to maintain the quality of service quality. Besides, PKB is also an important thing to maintain the competence of doctors so that FKTP can eventually function as a gatekeeper in health service in this JKN-era.
Keywords ; BPJS-Kesehatan, Medical Doctor, Primary Clinic, RRNS
Read More
B-1920
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Abdining Ageng Pratikno; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Adang Bachtiar, Dumilah Ayuningtyas, Ivanny Khosasih, Mahendro Prasetyo Kusumo
Abstrak:
Latar belakang: Perkembangan teknologi dan media sosial telah mengubah cara manusia mencari informasi, termasuk layanan kesehatan. Rumah Sakit Yos Sudarso Padang memanfaatkan media sosial sebagai alat pemasaran namun masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan jumlah kunjungan pasien. Tujuan: Penelitian ini mengkaji hubungan antara media sosial dan electronic word of mouth (e-WOM) melalui brand awareness terhadap minat kunjungan pasien di RS Yos Sudarso Padang. Temuan penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan strategi pemasaran yang lebih efektif untuk meningkatkan jumlah kunjungan pasien. Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif dan teknik purposive sampling dengan menyebar kuesioner online kepada 100 sampel penelitian yang merupakan konsumen setia (followers) akun media sosial (Instagram, TikTok, YouTube, Facebook) dari Rumah Sakit Yos Sudarso Padang. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Partial Least Square (PLS). Hasil: Hasil analisis melihatkan adanya hubungan yang signifikan antara media sosial dan brand awareness, serta antara media sosial dan minat kunjungan. Namun, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara dan brand awareness, serta antara e-WOM, brand awareness, dan minat kunjungan secara bersama-sama. Meskipun begitu, terdapat hubungan yang signifikan antara e-WOM dan minat kunjungan, serta antara brand awareness dan minat kunjungan. Kesimpulan: Berdasarkan temuan ini, Rumah Sakit Yos Sudarso Padang dapat mengembangkan strategi pemasaran yang lebih efektif dengan memanfaatkan media sosial sebagai alat utama untuk meningkatkan minat kunjungan pasien dan memperkuat kesadaran merk calon pasien.

Background: The development of technology and social media has transformed how people seek information, including healthcare services. Yos Sudarso Hospital in Padang utilizes social media as a marketing tool but still faces challenges in increasing patient visits. This study examines the relationship between social media and electronic word of mouth (e-WOM) through brand awareness on patient visit interest at Yos Sudarso Hospital Padang. The findings are expected to develop more effective marketing strategies to increase patient visits. Methodology: This study employed a cross-sectional design with a quantitative approach and purposive sampling technique, distributing online questionnaires to 100 research samples who were loyal consumers (followers) of RS Yos Sudarso Padang's social media accounts (Instagram, TikTok, YouTube, Facebook). Data analysis was conducted using Partial Least Square (PLS). Results: The analysis confirmed a significant relationship between social media and brand awareness, as well as between social media and visit intention. However, there was no significant relationship between and brand awareness, as well as between e-WOM, brand awareness, and visit intention together. Nevertheless, there was a significant relationship between e-WOM and visit intention, as well as between brand awareness and visit intention. Conclusion: Based on these findings, Yos Sudarso Hospital Padang can develop more effective marketing strategies by leveraging social media as a primary tool to increase patient visit interest and strengthen brand awareness among potential patients.
Read More
B-2463
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maryam Afifah; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Prastuti Soewondo, Wachyu Sulistiadi, Evy Febrina Nurpeni, Martha L. Siahaan
Abstrak:
Rumah sakit memerlukan tata kelola yang baik sebagai instansi mandiri yang bergerak di bidang layanan kesehatan. Tata kelola dalam layanan kesehatan tersebut diturunkan bentuk tata kelola klinis yang dirumuskan dalam Clinical Pathway. Clinical Pathway merupakan alur klinis yang mengatur standar pelayanan kesehatan yang diberikan oleh beragam tenaga ahli kesehatan. Kepatuhan terhadap Clinical Pathway juga menjadi tolak ukur mutu rumah sakit yang menjadi salah satu dari 13 indikator mutu nasional. Kepatuhan terhadap Clinical Pathway di RSIA Kenari Graha Medika masih dibawah standar nasional, untuk itu dilakukan analisis terkait gambaran implementasi dan kepatuhan terhadap Clinical Pathway demam dengue di RSIA Kenari Graha Medika. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan melakukan wawancara terhadap 10 informan dan pengambilan data tagihan pasien rawat inap sebagai data sekunder. Data kemudian dilakukan validasi dengan triangulasi data. Hasil peneltian didapatkan kurangnya diskusi tim, sosialisasi, pelatihan dan pendampingan pada proses implementasi Clinical Pathway membuat pengetahuan terkait Clinical Pathway rendah sehingga variasi penggunaan obat dan jumlah pemeriksaan juga masih sering terjadi. Hal ini menjadi salah satu penyebab selisih tarif rumah sakit dengan tarif inacbg. Penelitian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan untuk dilakukan perbaikan sistem pada implementasi Clinical Pathway di RSIA Kenari Graha Medika.

Hospitals require good clinical governance as independent institutions operating of healthcare services. Clinical Governance is manifested in the form of Clinical Pathways, which regulate the standards of healthcare provided by various healthcare professionals. Compliance with Clinical Pathways is also a benchmark for the quality of hospitals, which is one of the 13 national quality indicators. Compliance with Clinical Pathways at RSIA Kenari Graha Medika is below national standards. Therefore, an analysis was conducted regarding the implementation and compliance with the dengue fever Clinical Pathway at RSIA Kenari Graha Medika. This qualitative study involved interviews with 10 informants and the collection of inpatient billing data as secondary data. The data was then validated through data triangulation. The research found that a lack of discussion, socialization, training, and mentoring in the implementation process of Clinical Pathway results in low knowledge related to Clinical Pathway, leading to frequent variations in drug usage and the number of examinations. This is one of the reasons for the discrepancy in hospital rates compared to inacbg rates. This study is expected to be a consideration for improving the system in the implementation of Clinical Pathway at RSIA Kenari Graha Medika.
Read More
B-2476
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggraina Widiyanti; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Adang Bachtiar, Rakhmad Hidayat, Nana Mulyana, Sri Kuswahyuni
Abstrak:
Latar Belakang: Pencapaian kinerja Rawat Jalan, Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan Bed Occupancy Rate (BOR) di Rumah Sakit (RS) Hermina Tangerang mengalami fluktuatif, belum mencapai target yang ditentukan dan trendlinenya cenderung mengalami penurunan pada periode tahun 2018-2023. Penilaian google review RS Hermina Tangerang adalah 4,1 dari 5, dimana masih didapatkan banyak keluhan mengenai kualitas pelayanan rawat inap di RS Hermina Tangerang. Hal ini mungkin menjadi penyebab rendahnya kunjungan ulang pasien ke RS Hermina Tangerang. Sehingga pencapaian Rawat Jalan, IGD dan BOR di RS Hermina Tangerang tidak mencapai target yang telah ditentukan. Apabila pencapaian tersebut dibiarkan terjadi terus menerus, akan berdampak signifikan pada pendapatan Rumah Sakit. Metode penelitian yang digunakan adalah mix methode, dengan tahap pertama survey, dan tahap kedua dengan action research.. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan kepada pasien rawat inap di RS Hermina Tangerang dan wawancara dengan informan kunci. Analisis data kuantitatif dilakukan menggunakan model persamaan struktural (SEM) dengan pendekatan partial least square (PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Word Of Mouth (WOM) dan minat kunjungan ulang pasien. Dimensi kualitas pelayanan yang meliputi tangibles, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy, semuanya berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan WOM dan minat kunjungan ulang. Selain itu, WOM juga terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap minat kunjungan ulang pasien. Kesimpulan: Kualitas pelayanan rawat inap di Rumah Sakit Hermina Tangerang sudah baik. Namun masih ada nilai dalam dimensi kualitas pelayanan yang kecil, menjadi ruang untuk RS Hermina Tangerang melakukan perbaikan dan meningkatkan kualitas pelayanan. Saran bagi manajemen rumah sakit adalah untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan guna meningkatkan loyalitas pasien dan keberhasilan bisnis rumah sakit. Kata Kunci: Kualitas pelayanan, Word of Mouth, Minat Kunjungan Ulang

Background: The performance achievements in Outpatient Services, Emergency Department (ED), and Bed Occupancy Rate (BOR) at Hermina Hospital Tangerang have been fluctuating, not reaching the set targets, and the trendline has tended to decline during the period 2018-2023. The Google review rating for Hermina Hospital Tangerang is 4.1 out of 5, where there are still many complaints regarding the quality of inpatient services at Hermina Hospital Tangerang. This may be the cause of the low rate of revisit intention patient to Hermina Hospital Tangerang. As a result, the achievements in Outpatient Services, ED, and BOR at Hermina Hospital Tangerang do not meet the predetermined targets. If this situation is allowed to continue, it will have a significant impact on the hospital's revenue. Methode: The research method used is a mixed method, with the first stage being a survey, and the second stage involving CDMG (Consensus Decision Making Group). Data were collected through questionnaires distributed to inpatients at Hermina Hospital Tangerang and interviews with key informants. Quantitative data analysis was conducted using structural equation modeling (SEM) with a partial least square (PLS) approach. Result: The research results show that service quality has a positive and significant influence on Word Of Mouth (WOM) and revisit intention. The dimensions of service quality, including tangibles, reliability, responsiveness, assurance, and empathy, all contribute significantly to the increase in WOM and revisit intention. Moreover, WOM also has a proven positive and significant influence on revisit intention. Conclusion: The quality of inpatient services at Hermina Hospital Tangerang is already good. However, there are still low scores in certain service quality dimensions, providing an opportunity for Hermina Hospital Tangerang to make improvements and enhance service quality. The recommendation for hospital management is to continuously improve service quality to increase patient loyalty and business success of the hospital. Keywords: Service Quality, Word of Mouth, Revisit Intention
 
Read More
B-2480
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rolly Catur Widyantoro; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Amila Megraini, Judiwan Delias Maswar
Abstrak:

Latar Belakang: Tingkat revisit intention pasien merupakan indikator penting yang mencerminkan kepuasan, kepercayaan, dan persepsi pasien terhadap mutu layanan rumah sakit. Dalam era digital, membangun loyalitas pasien tidak hanya bergantung pada pelayanan medis, tetapi juga pada persepsi terhadap rumah sakit secara keseluruhan. Faktor seperti electronic word of mouth (e-WOM), digital marketing, dan service quality menjadi elemen penting dalam membentuk hospital image, yang pada akhirnya memengaruhi keputusan pasien untuk kembali menggunakan layanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan ketiga variabel tersebut terhadap revisit intention, dengan hospital image sebagai variabel mediasi di Rumah Sakit X. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang. Data primer diperoleh melalui kuesioner kepada 120 pasien yang telah mendapatkan layanan minimal satu kali dalam satu tahun terakhir. Analisis dilakukan dengan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa e-WOM, digital marketing, dan service quality berpengaruh positif dan signifikan terhadap hospital image. Hospital image juga berpengaruh signifikan terhadap revisit intention pasien dan memediasi hubungan antara ketiga variabel tersebut dengan niat pasien untuk kembali berkunjung. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada ruang lingkup institusi tunggal dan keragaman karakteristik responden yang belum sepenuhnya mewakili populasi umum. Generalisasi temuan perlu dilakukan secara hati-hati. Kesimpulan: Hospital image terbukti sebagai faktor penting dalam meningkatkan loyalitas pasien. Peningkatan kualitas komunikasi digital dan konsistensi pelayanan sangat disarankan untuk memperkuat citra positif rumah sakit secara berkelanjutan.


 

Background: Patient revisit intention is a key indicator reflecting satisfaction, trust, and perception of service quality. In today’s digital era, building patient loyalty depends not only on clinical care, but also on overall hospital perception. Factors such as electronic word of mouth (e-WOM), digital marketing, and service quality play crucial roles in shaping hospital image, which in turn influences revisit intention. This study aims to analyze the relationship between e-WOM, digital marketing, and service quality on revisit intention, with hospital image as a mediating variable at Hospital X. Methods: A quantitative approach with a cross-sectional design was used. Primary data were collected through questionnaires from 120 patients who had received services at least once in the past year. Data were analyzed using the Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) method. Results: The findings indicate that e-WOM, digital marketing, and service quality have a positive and significant effect on hospital image. Furthermore, hospital image significantly influences revisit intention and mediates the relationship between the three variables and patient revisit behavior. Conclusion: Hospital image plays a key mediating role in enhancing revisit intention. Strengthening digital communication and maintaining consistent service quality are essential strategies to foster a positive and sustainable hospital image. The study is limited to a single institution with a relatively homogeneous respondent profile, and therefore, findings should be generalized with caution

Read More
B-2532
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitri Dwi Anggraini; Pembimbing: Yaslis Ilyas; Penguji: Puput Oktamianti, Anhari Achadi, Irma Rismayanty, Danyel Suryana
Abstrak:
Keselamatan adalah isu fundamental bagi rumah sakit, dimana keselamatan pasien merupakan prioritas utama karena berkaitan dengan kualitas dan nama baik rumah sakit. Pelaksanaan keselamatan pasien di rumah sakit dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor individu, faktor psikologis dan faktor organisasi. Pada tahun 2021, RSIA Bina Medika telah melakukan pengukuran budaya keselamatan pasien dimana diketahui bahwa budaya keselamatan pasien di RSIA Bina Medika masih tergolong rendah. Selain itu, pada tahun 2021 tercatat telah terjadi 37 insiden keselamatan pasien di RSIA Bina Medika, dimana tercatat telah terjadi 1 kejadian sentinel. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran penerapan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika pada tingkat individu dengan melakukan tela?ah dokumen Ongoing Professional Practice Evaluation (OPPE). Penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui gambaran sikap petugas terhadap keselamatan pasien dan hubungannya, serta gambaran pengetahuan petugas terhadap keselamatan pasien dan hubungannya. Selain itu, penelitian ini dilakukan untuk menemukan strategi yang tepat yang harus dilakukan manajemen rumah sakit dalam rangka meningkatkan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika. Penelitian ini adalah penelitian mix method dengan pendekatan cross-sectional, dimana dilakukan survei kuesioner terkait sikap (dengan SAQ-INA) dan pengetahuan, serta wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD) dan tela?ah dokumen terkait termasuk OPPE bagian Keperawatan tahun 2021. Dari hasil penelitian diketahui bahwa 54% petugas menerapkan keselamatan pasien dengan baik. Lalu, diketahui bahwa 56% petugas bersikap negatif terhadap keselamatan pasien dan 78% petugas berpengetahuan baik. Tidak ada hubungan yang signifikan antara sikap petugas dengan keselamatan pasien, begitu pula pengetahuan (p =1 dan p=0,08). Dari wawancara mendalam diketahui terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika. Dari FGD didapatkan berbagai strategi peningkatan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika yang akan diterapkan kedepannya. Dari keseluruhan penelitian ini diketahui bahwa penerapan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika masih belum baik karena terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika. Mayoritas petugas sudah berpengetahuan baik, namun masih banyak petugas yang bersikap negatif terhadap keselamatan pasien. Selain sikap dan pengetahuan, diketahui banyak faktor lainnya yang juga turut berkontribusi dalam pelaksanaan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika.

Safety is a fundamental issue for hospitals, where patient safety is a top priority because it relates to hospital?s quality and reputation. The implementation of patient safety in hospitals is influenced by various factors, such as individual factor, psychological factor and organizational factor. In 2021, RSIA Bina Medika had measured patient safety culture where the result showed that patient safety culture at RSIA Bina Medika was still relatively low. In addition, in 2021 there was 37 patient safety incidents at RSIA Bina Medika, where 1 sentinel incident had been recorded. Therefore, this research was conducted to find out the description of the implementation of patient safety at RSIA Bina Medika at individual level by conducting a review of the Ongoing Professional Practice Evaluation (OPPE) document. This study was also conducted to describe staff?s attitude towards patient safety and its relationship, as well as an overview of the staff's knowledge of patient safety and its relationship. In addition, this research was conducted to find the right strategy that hospital management must implement in order to improve patient safety at RSIA Bina Medika. This research was a mixed method research with a cross-sectional approach, in which a questionnaire survey was carried out regarding attitudes (with SAQINA) and knowledge, as well as in-depth interviews, Focus Group Discussion (FGD) and a review of related documents including the 2021 OPPE of Nursing section. The research results showed that 54% of staff implement patient safety well. Then, it was known that 56% of staff had a negative attitude towards patient safety and 78% of staff had good knowledge. There was no significant relationship between staff?s attitudes and patient safety, as well as knowledge (p = 1 and p = 0.08). From in-depth interviews it was known that there were several obstacles in implementing patient safety at RSIA Bina Medika. From the FGD, various strategies were obtained to improve patient safety at RSIA Bina Medika which will be implemented in the future. From all of this research it was known that the implementation of patient safety at RSIA Bina Medika was still not good because there were several obstacles in implementing patient safety at RSIA Bina Medika. The majority of staffs had good knowledge, but there were still many staffs who had negative attitude towards patient safety. Apart from attitude and knowledge, it was known that there were many other factors that also contribute to the implementation of patient safety at RSIA Bina Medika.
Read More
B-2304
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pingkan Ratna Veronika Sumampow; Pembimbing: Adang Bachtiar
B-737
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jusnita Tiodora Listira; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Ede Surya Darmawan, Arrival Amran
S-8881
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive