Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31915 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dionisius Indri Priyobodo; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Pujiyanto, Mochamamad Ridwan Indivana, Amila Megraini
Abstrak:
Dalam era JKN ini, unit cost diperlukan untuk membantu dalam mengelola keuangan rumah sakit dan bisa menambah atau mempertahankan pendapatan rumah sakit. Tonsilektomi merupakan salah satu tindakan tersering di bagian THT di banyak rumah sakit di dunia. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh biaya satuan pasien tonsilektomi di RS Aisyiyah Bojonegoro dan perbandingannya dengan tarif INA-CBGs. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan variabel yaitu direct cost, indirect cost, dan biaya total pada pasien yang mendapatkan tindakan tonsilektomi di RS Aisyiyah Bojonegoro. Metode perhitungan biaya ini menggunakan sistem ABC. Biaya satuan pasien yang mendapatkan tonsilektomi ringan pada kelas 1 sebesar Rp 5.585.881,24 dibandingkan dengan tarif INA-CBGs sebesar Rp 5.118.600,00, kelas 2 sebesar Rp 5.361.090,46 dibandingkan dengan tarif INA-CBGs sebesar Rp 4.483.600,00, dan kelas 3 sebesar Rp 5.198.101,09 dibandingkan dengan tarif INA-CBGs sebesar Rp 3.848.600,00. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan bahwa secara keseluruhan biaya satuan pada tonsilektomi ringan di RS Aisyiyah Bojonegoro tahun 2022 lebih besar dibandingkan dengan tarif INA-CBGs.

In this JKN era, unit costs are needed to help manage hospital finances and can increase or maintain hospital income. Tonsillectomy is one of the most common procedures in the ENT department in many hospitals in the world. The purpose of this study was to obtain unit costs for tonsillectomy patients at Aisyiyah Bojonegoro Hospital and compare them with INA-CBGs rates. This study uses a descriptive method with variables namely direct cost, indirect cost, and total cost in patients who get tonsillectomy at Aisyiyah Bojonegoro Hospital. This cost calculation method uses the ABC system. The unit cost of patients who received mild tonsillectomy in class 1 amounted to Rp 5.585.881,24 compared to the INA-CBGs rate of Rp 5,118,600.00, class 2 amounted to Rp 5.361.090,46 compared to the INA-CBGs rate of Rp 4,483,600.00, and class 3 amounted to Rp 5.198.101,09 compared to the INA-CBGs rate of Rp 3,848,600.00. Based on the results of this study, it was found that the overall unit cost of mild tonsillectomy at Aisyiyah Bojonegoro Hospital in 2022 was greater than the INA-CBGs tariff
Read More
B-2446
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hana Apriyanti; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Prastuti Soewondo, Atik Nurwahyuni, Melanie Husna, Iin Rahayu Kurniawati
Abstrak: Penelitian ini merupakan studi kasus di salah satu rumah sakit swasta tipe C di Kabupaten Bojonegoro yang bertujuan untuk memperoleh biaya satuan pasien rawat inap COVID19 dan perbandingannya dengan tarif Kementerian Kesehatan berdasarkan KMK No.HK.01.07/MENKES/5673/2021 dan No.HK.01.07/MENKES/1112/2022. Biaya satuan yang dihitung untuk 1 pasien COVID-19 selama 1 episode rawat inap, dimulai dari pasien masuk ke IGD COVID-19 sampai pasien keluar rumah sakit, dengan menggunakan metode ABC. Penelitian dilakukan pada berkas klaim rawat inap pasien COVID-19 yang masuk rumah sakit 1 Oktober 2021-28 Februari 2022 dengan kriteria inklusi: berkas klaim yang memiliki resume medis lengkap, pasien yang termasuk dalam kriteria suspek, probable, dan konfirmasi; dengan kriteria eksklusi: pasien rawat inap COVID-19 yang pulang APS dan dirujuk, klaim tidak layak, berkas yang berstatus pending dan dispute per April 2022. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan melakukan telaah dokumen, wawancara, serta observasi dan terdiri dari 3 tahap pengumpulan data. Terdapat 57 berkas klaim rawat inap pasien COVID-19 dengan karakteristik sebagai berikut: 54,39% pasien perempuan; dengan usia <60 tahun sebanyak 61,40%; 49,12% pasien sudah pernah menerima 2 kali vaksin COVID-19; pasien yang tidak memiliki komorbid sebanyak 57,89%; dengan 78,95% LOS selama 1-5 hari; 84,21% keluar dari rumah sakit dangan keadaan sembuh; diagnosa U07.1 sebanyak 54,39%; 56,14% termasuk ke dalam kelompok A-4-9-I. Biaya satuan pasien rawat inap COVID-19 yang terbesar adalah pada diagnosa U07.1;E03.9 (A-4-19-II) senilai Rp 38.916.021,91, diikuti U07.1;E11.9;E88.0 (A-4-19-II) senilai Rp 31.122.007,44, kemudian U07.1;I11.0 (A-4-19-III) senilai Rp 30.558.210,40. Sedangkan biaya satuan pasien rawat inap COVID-19 yang terkecil adalah pada diagnosa U07.1;G40.9 yaitu senilai Rp 9.467.928,01 yang termasuk ke dalam kelompok diagnosa konfirmasi COVID19 level 2. Secara keseluruhan komponen biaya terbesar adalah biaya langsung yaitu bervariasi sebesar 85-99% dan biaya tidak langsung yaitu 1-15%. Komponen biaya langsung terbesar berupa biaya logistik (81-90%) yang dipergunakan selama perawatan pasien COVID-19 di rumah sakit, sedangkan biaya jasa pelayanan sebesar 10-19%. Terdapat selisih positif nilai biaya satuan pasien rawat inap COVID-19 apabila dibandingkan dengan tarif KMK No.HK.01.07/MENKES/5673/2021. Selisih positif terbesar pada diagnosa U07.1;I64;G81.9 yaitu senilai Rp 59.990.525,65. Selisih positif terkecil yaitu Rp 4.149.364,92 pada diagnosa U07.2 (A-4-18-I). Apabila dibandingkan dengan KMK No.HK.01.07/MENKES/1112/2022 terdapat selisih negatif pada 9 diagnosa ICD-10 dan 11 diagnosa ICD-10 memiliki selisih positif. Selisih negatif terbesar yaitu Rp 22.623.021,91(U07.1;E03.9) dan selisih negatif terkecil yaitu Rp 29.199,24 (U07.1;E11.1).
Read More
B-2286
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dhini Sari Sembiluh; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Ede Surya Darmawan, Khafifah Any, Sholihul Absor
Abstrak: Tesis ini membahas analisis kesiapan implementasi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di RS Aisyiyah Bojonegoro. Kebijakan implementasi KRIS JKN ini akan berdampak pada tata kelola rumah sakit perlunya penyesuaian kebutuhan pada sumber daya rumah sakit dan manajemen rumah sakit sesuai dengan Permenkes Nomor 14 Tahun 2021 & Kepdirjenyankes Nomor HK.02.02/I/1811.2022. RS Aisyiyah Bojonegoro berada di Kabupaten Bojonegoro dengan cakupan UHC 98.76 %, merupakan RS swasta terbesar di Bojonegoro, tahun 2021 jumlah pasien rawat inap sebesar 50% jaminan JKN dan BOR 67.79%. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran kesiapan sumber daya, proses manajemen dan rencana tindak lanjut RS Aisyiyah Bojonegoro untuk implementasi KRIS JKN Perkembangan program JKN dengan adanya peningkatan jumlah peserta JKN dan jumlah fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS (RS swasta 63.8%). Peningkatan pemanfaatan JKN dengan proporsi pembiayaan rawat inap yang terbesar. Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) menjalankan implementasi kebijakan KRIS JKN mulai 1 Januari 2023 secara bertahap, untuk mewujudkan kesinambungan program JKN dan menjalankan amanah undang-undang SJSN dalam pemenuhan prinsip ekuitas
Read More
B-2287
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Virna Wita; Pembimbing: Hendrik M. Taurany; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Wahyu Sulistiadi, Budi Hartono
Abstrak:

Dalam era globalisasi tumbuhnya rumah sakit menyebabkan terjadinya kompetisi antar rumah sakit yang makin keras untuk dapat merebut pasar yang semakin terbuka lebar. Hal ini mendorong pihak rumah rumah sakit maupun stakeholder untuk menghitung secara riil berapa biaya pelayanan yang dibutuhkan sehingga dapat menjadi alat dalam pembiayaan pelayanan kesehatan tanpa mengurangi mutu pelayanan yang diberikan, yaitu dengan melakukan analisis perhitungan biaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besaran biaya satuan tindakan appendiktomi akut di kamar operasi rumah sakit X dengan menghitung biaya langsung dan tidak langsung yang terjadi. Penelitian ini merupakan penelitian operational research dan bersifat deskriptif analisis dengan menggunakan data sekunder rumah sakit tahun 2010 di RS X Jakarta. Metode perhitungan biaya menggunakan metode ABC (Activity Based Costing) dan distribusi sederhana. Metode ABC untuk mengalokasikan biaya langsung dengan menghitung biaya dari kegiatan yang terjadi menggunakan cost driver berdasarkan waktu kegiatan. Metode distribusi sederhana untuk mengalokasikan biaya tidak langsung yang secara tidak langsung terlibat dalam pelayanan appendiktomi dengan melakukan pendistribusian biaya dari unit penunjang ke unit produksi (kamar operasi). Biaya satuan aktual appendiktomi sebesar Rp. 5.344.551,48,- dan biaya satuan normatif sebesar Rp. 5.312.912,-. Biaya operasional jasa medis dan paramedis merupakan biaya yang terbesar.


 In an era of growing globalization of the hospital which led to competition among hospitals is increasingly more difficult to capture the wide open market. This prompted the hospital as well as the stakeholders to quantify how much the real cost of services is needed, and could be a reference tool in health care financing without reducing the quality of service provided by analyzing the cost calculation. The objective of this study is to determine the amount of unit cost in acute appendectomy surgery at operating room of hospital X by calculating the direct costs and indirect costs. This research type is operational research and descriptive analysis by using secondary data from hospital X Jakarta for the year 2010. Methods of cost calculation are ABC (Activity Based Costing) and simple distribution. ABC method is used for allocating direct costs by calculating the cost of activities that occur using time-based cost driver activity. Simple distribution method is used for allocating indirect costs that are not directly involved in appendectomy service by distribution of unit costs which supports the production unit (operating room). Actual unit cost of appendectomy surgery is Rp. 5.344.551,48, - and normative unit cost is Rp. 5.312.912, -. Operational costs of medical and paramedical consumable materials become the largest consumption.

Read More
B-1399
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Teguh Peristiana; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Adang Bachtiar, Prastuti Soewondo CHusnun, E.A. Sani, Nurul Huda
Abstrak:

Penanganan program kesehatan bagi masyakat tidak mampu adalah tanggung jawab Pemerintah. Melalui subsidi diharapkan penanganan tersebut menjadi optimal sesuai dengan kebutuhan pengobatan. Agar subsidi yang ada tepat, baik secara ukuran kuantitatif maupun kualitatif maka periu dilakukan perhitungan biaya yang rill dan evaluasi terhadap penerimaan subsidi tersebut kepada pihak yang memang membutuhkan.Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kecukupan subsidi pasien tidak mampu di lnstalasi Rawat Jalan RSUD Koja berdasarkan perhitungan biaya satuan dan bagaimana evaluasi penerimaan subsidi tersebut untuk pasien yang benar-benar tidak mampu (validasi). Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus, yang pengumpulan datanya dilakukan melalui wawancara, pengumpulan data sekunder dan survei lapangan untuk validasi pasien tidak mampu.Hasil penelitian menyimpulkan besarnya biaya satuan pelayanan rawat jalan untuk pasien tidak mampu adalah sebesar Rp. 104.000,- termasuk biaya obat, yang diperoleh dengan perhitungan analisis biaya Activity Based Costing. Evaluasi ketepatan subsidi kepada Pasien tidak mampu yang berhak menerima dengan kriteria yang telah ditetapkan memiliki validitas ketidakmampuan sebesar 96 %. Sebanyak 4 % sisanya merupakan pasien tidak mampu yang berasal dari luar Jakarta Utara sehingga tidak diperhitungkan.Untuk mendapatkan angka subsidi yang mencukupi kebutuhan pengobatan pasien tidak mampu maka pemerintah perlu memperhitungkan besar biaya satuan. Dan untuk pelaksanaan prosedur dan ketepatan pemberian subsidi tersebut perlu dilakukan pengawasan dari pihak terkait.Daftar bacaan : 35


 

Analysis on Cost Subsidy for the Poor at Ambulatory Care Service unit, Koja General District HospitalProtecting the poor is Government's responsibilities. Implementation of subsidy policy seems to be the important strategy to meet the medical treatment need for the poor effectively. To ensure appropriateness of the subsidy, calculation on the unit cost is needed.The objective of this study is to obtain information on subsidy for Ambulatory in Unit of Koja General District Hospital based on the unit cost and validation of those who entitled to obtain the subsidy.The study showed that the cost was Rp. 104.000,- based on Activity Based Costing analysis. It is also confirmed that 96% subsidy provided is distributed to the entitled person. The remaining 4% was dedicated for those who reside outside North Jakarta.Based on the study result, the Government need to calculate the unit cost of subsidy for the poor. To ensure the appropriateness and sufficient subsidy, control to the subsidy disbursement is needed.References: 35

Read More
B-609
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Djazuly Chalidyanto; Pembimbing: Hasbullah Thabrany
B-470
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fenny Hamka; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Budi Hidayat, Kurnia Sari, Atiek S. Asmawati
B-1277
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novia Afdhila; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Mardiati Nadjib, Budi Hartono
S-5946
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hermien W. Moeryono; Pembimbing: Amal C. Sjaaf; Penguji: Prastuti Chusnun Soewondo, Mardiati Nadjib, R. Fresley Hutapea, Suranto, Mangapul Bakara
B-1595
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Prihatin; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Puput Oktamianti, Yulisar Khiat
Abstrak:
Rumah Sakit merupakan komponen penting dari sistem kesehatan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu untuk masyarakat, namun menjadi sistem dengan biaya kesehatan yang paling mahal. Peningkatan populasi usia lanjut, kemajuan teknologi, prevalensi kesalahan pengobatan, dan peningkatan pengeluaran untuk pengobatan dari tahun ke tahun menjadi alasan biaya kesehatan meningkat di seluruh dunia. Apoteker memiliki peran utama dalam menurunkan biaya melalui peninjauan aspek farmakoterapi pada pasien. Instalasi Farmasi merupakan salah satu penyumbang pendapatan terbesar di Rumah Sakit namun juga menghabiskan anggaran yang lebih tinggi dari pada biaya lain di Rumah Sakit melalui biaya obat. Sehingga kinerja Instalasi Farmasi menjadi salah satu kinerja yang harus diperhatikan, salah satunya melalui persentase Rasio Biaya Obat. Rasio Biaya Obat merupakan nilai persentase perbandingan antara total biaya obat dan BMHP Rumah Sakit dibandingkan dengan nilai pendapatan Rumah Sakit. Penelitian bertujuan untuk menganalisa pengendalian biaya obat di Rumah Sakit Hermina yang merupakan bagian dari perpektif keuangan dengan pendekatan Balanced Scorecard (BSC). Penelitian ini dilakukan menggunakan penelitian kualitatif jenis deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan data primer dengan wawancara mendalam berdasarkan pemetaan strategis yang timbul dari tiga perspektif lain yaitu perspektif pertumbuhan dan pembelajaran, perspektif bisnis internal, dan perspektif pelangggan serta menggunakan data sekunder dari laporan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Hermina. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata RS Hermina di tahun 2022 nilai rasio biaya obatnya masih belum mencapai standar yang ditentukan oleh korporasi. Perspektif pertumbuhan dan pembelajaran berkontribusi pada ketercapaian rasio biaya obat RS Hermina tahun 2022 secara tidak langsung. Perspektif proses bisnis internal berkontribusi pada ketercapaian rasio biaya obat RS Hermina tahun 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa parameter menunjukkan hasil yang baik, seperti kepatuhan penggunaan formularium, persentase biaya obat kadaluwarsa dan rusak, dan kejadian medication error terkait obat. Perspektif pelanggan kurang berkontribusi pada ketercapaian rasio biaya obat. Peningkatan pertumbuhan pelanggan lebih berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan pendapatan. Semua rumah sakit yang diteliti memiliki kinerja yang sesuai standar pada ketercapaian rata-rata diskon obat dan pendapatan farmasi, namun tidak ada yang mencapai target rasio biaya obat dan target profit margin. Sehingga diketahui bahwa standar rasio biaya obat yang ditetapkan saat ini belum menyesuaikan kemampuan dan beban rumah sakit.

Hospitals are an important component of the health system to provide quality health services to the community, yet they are the most costly health system. The increase in the elderly population, technological advances, prevalence of medication errors, and year-on-year increase in expenditure on medication are the reasons why healthcare costs are increasing worldwide. Pharmacists have a major role to play in reducing costs through reviewing pharmacotherapy aspects in patients. The Pharmacy Department is one of the largest contributors to the hospital's revenue but also spends more than any other department in the hospital through drug costs. So that the performance of the Pharmaceutical Installation is one of the performances that must be considered, one of which is through the percentage of the Drug Cost Ratio. Drug Cost Ratio is the percentage value of the ratio between the total cost of drugs and BMHP of the Hospital compared to the value of Hospital revenue. The study aims to analyze drug cost control at Hermina Hospital which is part of the financial perspective with the Balanced Scorecard (BSC) approach. This research was conducted using descriptive qualitative research with a case study approach. The data collection technique used primary data with in-depth interviews based on strategic mapping arising from three other perspectives, namely the growth and learning perspective, internal business perspective, and customer perspective and using secondary data from reports in the Hermina Hospital Pharmacy Installation. The results showed that on average Hermina Hospital in 2022 the value of its drug cost ratio still did not reach the standards set by the corporation. The growth and learning perspective contributes to the achievement of Hermina Hospital's drug cost ratio in 2022 indirectly. The internal business process perspective contributes to the achievement of the medicine cost ratio of Hermina Hospital in 2022. The results showed that several parameters showed good results, such as compliance with the use of formularies, the percentage of expired and damaged drug costs, and the incidence of drug-related medication errors. The customer perspective contributed less to the achievement of the drug cost ratio. Increased customer growth contributed more to increased revenue growth. All the hospitals studied performed within the standard on the achievement of average drug discount and pharmacy revenue, but none achieved the drug cost ratio target and profit margin target. Thus, it is known that the current drug cost ratio standard has not adjusted the ability and burden of the hospital.
Read More
B-2363
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive