Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39836 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Listya Tresnanti Mirtha; Pembimbuing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Ede Surya Darmawan, Purnawan Junadi, Astuti Giantini, Fathema Djan Rachmat
Abstrak:
Rumah sakit di Indonesia belum melihat aspek kedokteran olahraga sebagai komponen penting dalam upaya pencegahan maupun tata laksana penyakit, walaupun semakin banyak masyarakat Indonesia memilih gaya hidup baik secara individu maupun komunitas yang berpaut dengan kegiatan latihan fisik dan olahraga demi mencapai kondisi tubuh yang lebih sehat. Peningkatan kebutuhan akan layanan kedokteran olahraga menjadikan peluang untuk dapat merumuskan Pusat Layanan Komprehensif Berbasis Kedokteran Olahraga dan Keafiatan (Sports and Wellness Center) di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) yang tergabung dalam Academic Health System bersama dengan Fakultas Kedokteran dan pusat-pusat penelitian di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan peta rencana dan model bisnis Sports and Wellness Center di RSUI sebagai salah satu layanan unggulan yang berdaya manfaat dan menguntungkan bagi banyak pihak sesuai dengan Rencana Strategi Bisnis (RSB) RSUI periode tahun 2020–2024. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kualitatif dengan integrasi metode Design Thinking dan Business Model Canvas untuk mendapatkan hasil inovasi yang lebih baik. Sumber data terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer didapatkan dari obeservasi, informasi hasil diskusi kelompok terarah, dan dokumentasi. Sementara data sekunder merupakan hasil telaah dokumen RSUI. Narasumber dipilih sesuai dengan kriteria untuk mewakili kelompok pemangku kebijakan, tenaga profesional pelaksana, dan pengguna layanan. Hasil analisis situasi dan pemetaan posisi RSUI pada kuadran “hold and maintain”, sehingga dapat menerapkan strategi “integration & development”. Berdasarkan hasil diskusi kelompok terarah didapatkan sebuah kebutuhan atas layanan komprehensif Sports and Wellness Center, sehingga dapat disusun sebuah peta rencana pengembangan Sports and Wellness Center dan proses rencana bisnis sebagai layanan unggulan one-stop service di RSUI pada tahun 2024 dengan proyeksi pengembangan secara bertumbuh dalam trimester sesuai dengan kemampulaksanaan yang dimiliki serta berorientasi pada aspek kualitas pelayanan rumah sakit berbasis Tri Dharma Perguruan Tinggi, pemanfaatan sumber daya manusia, pemenuhan sarana prasarana, dan strategi pengelolaan keuangan.

Hospitals in Indonesia currently do not recognize the significance of the sports medicine as a crucial element in the efforts to prevent and manage diseases. This is despite the fact that an increasing number of Indonesians are adopting lifestyles, both individually and communally, that involve physical exercise and sports activities with the aim of achieving better physical well-being. Recognizing the growing demand for sports medicine services, there is an opportunity to establish a Sports and Wellness Center at the Hospital of Universitas Indonesia, which is integrated into the Academic Health System in collaboration with the Faculty of Medicine and other research centers in Indonesia. This research project aims to formulate roadmap and business model for the Sports and Wellness Center at RSUI, positioning it as center of excellence that is advantageous and profitable for various stakeholders, aligning with the RSUI Business Strategy Plan for the 2020–2024 period. The study adopts a qualitative research approach, integrating Design Thinking and Business Model Canvas methods to enhance innovation outcomes. Data sources include both primary and secondary data. Primary data is gathered through observations, information derived from focus group discussions, and documentation. Secondary data comprises the examination of RSUI documents. Key informants were carefully selected to represent policy stakeholder groups, professional staff involved in implementation, and loyal customer groups. The analysis of RSUI's current situation and its positioning reveals that it falls within the "hold and maintain" quadrant, prompting the adoption of the "integration & development" strategy. The outcomes from focus group discussions underscore the demand for comprehensive services from the Sports and Wellness Center. As a result, a roadmap and a business model have been formulated to establish the Sports and Wellness Center as a leading one-stop service at RSUI by 2024. The projected growth is structured over trimesters, aligning with the hospital's implementation capabilities. The plan is oriented towards enhancing aspects such as the quality of hospital services based on the Tri Dharma Perguruan Tinggi, effective utilization of human resources, fulfillment of infrastructure needs, and financial management strategies.
Read More
B-2447
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kristian Darmasaputra; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Mieke Savitri, Yulia Peapanca Satar
Abstrak:

Rumah sakit perlu menetapkan strategi pengembangan berdasarkan situasi pasar untuk: meningkatkan mutu pelayanannya. RS Mediros yang mengunggulkan unit Jayanan Penyakit Dalam Ginjal Hipertensi (PDGH) harus menjaga dan meningkatkan kualitas jasa pelayanan agar tetap bertahan dan berkembang di tengah perkembangan layanan kesehatan yang pesat. Untuk mempertahankan pangsa pasar RS Mediros harus menycdiakan layanan tingkat tinggi atau menjadi rumah sakit pertama yang mengeluarkan inovasi barn. Oleh karena itu, diperlukan berbagai strategi yang mengacu pada keinginim dan nilai-nilai yang dianggap penting oieh· konsumen untuk meningkatkan jumlah kunjungan unit layanan PDGH sehingga dapat mencapai target yang telah ditetapkan. Unit layanan PDGH RS Mediros harus memiliki inovasi-inovasi yang mampu memberikan peJayanan secara optimal kepada pasien serta mempunyai clri khas yang membedakan dengan unit pelayanan yang sama di rumah sakit lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis strategi samudra biru pada unit layanan unggulan PDGH di RS Mediros dengan mengetahui faktor-faktor yang dinilai utama/penting oleh konsumen, serta mengetahui posisi eksternal dan internal eksisting unit layanan unggulan PDGH RS Mediros dan posisi rumah sakit pesaing tahun hingga akhirnya didapatkan pemetaan posisi unit layanan unggulan PDGH terhadap strategi samudra biru. Penelitian ini adalah penelitian operasional yang dilakukan dengan menggunakan analisis data kuantitatif yang diperoleh dari data dokumentasi berupa informasi sebagai data sekunder serta analisis data kualitatif dari hasil wawancara terstroktur sehagai data primer yang berasal dari inforrnan dan responden. Faktor-faktor yang dinilai penting oleh pasien pada unit Jayanan PDGH RS Mediros ada!all tarif perawatan, kualitaslkemarnpuan SDM dan jumlah staf medis, kualitas dan kelengkapan pelayanan, kualitas fasililas fisik dan penunjang, serta kelengkapan fasilitas dan peralatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi samudera biru adalah relevan dan dapat diterapkan sebagai sttategi pemasaran unit layanan PDGH RS Mediros, yang mana RS Mediros perlu meningkatkan kondisi fasiHtas fisik dan penunjang meningkatkan kelengkapan fasilitas fisik dan penunjang, meningkatkan kenyamanan ruangan, meningk:atkan kapasitas ruangan, meningkatkan jumlah alat dan layanan reuse, menyesuaikan tarif unit layanan, meningkatkan pelayanan homecare, melakukan modifikasi mesin hemodialisis bagi pasien anak-anak, mengadakan seminar penyuluhan dan kesehatan PDGH, mengadakan perkumpulan untuk memotivasi penderita gagal glnjal, mengadakan program pemotongan harga untuk medical check-up bagi pelanggan, mengadak:an kunjungan kepada pasien saat hemodialisis oleh ketua tim PDGH. Diharapkan pihak manajerial RS Mediros dapat menerapkan stra.tegi samudera biru dalam bidang pernasarannya sehingga dapat meningkatkan kepuasan pelanggan serta melakukan pengawasan rutin untuk mempertahankan kinerja pelayanan pada unit Iayanan PDGH. Selain itu juga perlu dilakukan penelitian lanjutan yang lebih mendalam dan spesifik mengenai strategi pemasaran pada unit layanan lain yang ada di RS Mediros maupun rumah sakit lain dengan menggunakan strategi samudra biru.


Hospital needs to create a development strategy based on market situation to improve service quality. Mediros Hospital, which accomplished in kidney hypertension internal disease service unit, must maintain and improve the service quality to survive and to grow in the middle rapid health service development.To sustain the market Mediros Hospital must provide a high 1cve1 of service or even be the first hospital that creates new innovation. Thereforeit is needed many strategy that give important value for the customer. Mediros Hospital should have some unique innovations that make difference with other hospital. The objective of this researeh is to analyze the blue ocean strategy in Kidney Hypertension Internal Disease (KHID) in Mediros Hospital by identifying some factors with important value for customers, by identifying externa and internal existing condition in KHID Mediros Hospital and other hospitals, until getting the map of KHID through blue ocean strategy. This research is an operationalresearch, which be acquired with quantitative analysis and qualitative analysis. Data are obtained from primary and secondary through documentation, informant and respondent. Factors that have important value for costomers in KHID are tariff, quality/ability of human resource and number of medical staff, quality and completeness of services, quality of physical and supporting facilities, and completeness of facilities and tools. The result of this research shows that blue ocean strategy is relevant and can be implemented in marketing strategy, Mediros Hospital needs improve its physical and supporting facilities, its room quality and capacity; increasing the number of tools, equipments, and reuse service; adjusting its service fees; increasing the homecareservice; modifying the hemodialysis machine for children; creating counseling seminar in KHID issues, creating motivating group fur kidney failure patients, giving discount fees in medical check-up for ongoing patients and visiting hemodialysis patient. Hopefully Mediros Hospital manager can implement blue ocean strategy in marketing so that the hospital can improve customer satisfaction and having routine control to improve the service in KHID unit. It also needs to have more specific researches related to blue ocean strategy in other unit ofMediros Hospital or other hospitals.

Read More
B-1150
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bunga Listia Paramita; Pembimbing: Ayuningtyas Dumilah; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Adik Wibowo, Ari Setyaningrum, Erni Yustisiani
Abstrak:
Pijakan kebijakan tentang layanan kedokteran olahraga di rumah sakit di Indonesia masih bersifat umum sehingga butuh adanya pedoman. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun rancangan pedoman penyelenggaraan pelayanan kedokteran olahraga di rumah sakit umum kelas B di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif di 4 lokasi rumah sakit, yang berlangsung pada bulan September sampai Desember 2020 dengan teknik triangulasi dan metode Delphi 2 tahap, kemudian dianalisis. Saat ini pada lokasi penelitian masih terlihat adanya variasi pelayanan, mulai dari alur, ketenagaan, prasarana, peralatan, dan proses penyelenggaraan layanan. Begitupula pada metode Delphi dimana terdapat 59 topik yang tidak berhasil mencapai konsensus sehingga perlu dianalisis dan dicari penguatan dari sumber lainnya. Adapun rekomendasi rancangan pedomannya pada kondisi yang ideal (gold standard) yaitu layanan dilakukan secara tim yang dipimpin dokter spesialis kedokteran olahraga dan anggota yang terdiri dari manajer, tenaga klinisi dan tenaga sains olahraga dengan konsep multidisiplin dan interdisiplin; prasarana dan peralatan gold standard seperti CT-Scan, DXA Scan, Echocardiography, dan CPET perlu disediakan lengkap di dalam satu area; optimalisasi alur layanan; upaya promotif diberikan kepada seluruh pasien, pelatih, dan tenaga kesehatan; MCU yang melibatkan unit kedokteran olahraga dari awal hingga akhir; dilakukannya program exercise is medicine sesuai FITT; pengawasan terhadap doping; coding diagnostik spesifik; serta pasien atlet yang perlu ditangani secara kolaboratif sejak awal sampai return to sports, sedangkan pasien non atlet, alih rawat pasien dari dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi kepada dokter spesialis kedokteran olahraga dilakukan setelah pasien bebas cedera. Rekomendasi ini diharapkan menjadi awal dari disusunnya naskah akademik dan kemudian ditetapkan sebagai kebijakan guna mewujudkan pelayanan terintegrasi, one stops services, athlete /patient centered-care, dan paripurna.

The policy foundation for sports medicine services in hospitals in Indonesia is still general in nature, so guidelines are needed. This study aims to develop guidelines of sports medicine services in class B general hospitals in Indonesia. This research is a qualitative study in 4 hospital locations, which took place from September to December 2020 with triangulation techniques and the 2-stage Delphi method, then analyzed. Currently, at the research location there are still variations in services, starting from the flow, workforce, infrastructure, equipment, and service delivery processes. Likewise in the Delphi method where there were 59 topics that failed to reach a consensus so that it needed to be analyzed and sought reinforcement from other sources. The recommendations for draft guidelines in ideal conditions (gold standard), namely services are carried out in a team led by sports medicine specialists and members consisting of managers, clinicians and sports science personnel with multidisciplinary and interdisciplinary concepts; gold standard infrastructure and equipment such as CT-Scan, DXA Scan, Echocardiography, and CPET need to be fully provided in one area; optimization of service flow; promotive efforts are given to all patients, trainers, and health workers; MCU involving the sports medicine unit from start to finish; doing exercise is medicine program according to FITT; supervision against doping; specific diagnostic coding; as well as athletic patients who need to be handled collaboratively from the start to return to sports, while non-athletic patients, transfer of patient care from a physical medicine specialist and rehabilitation to a sports medicine specialist is carried out after the patient is free of injury. This recommendation is expected to be the beginning of the preparation of an academic paper and then set as a policy to realize integrated services, one stop services, athlete /patient centered-care, and plenary.
Read More
B-2200
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yofen Dhamigus; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Pujiyanto, Taufik Santoso, Melanie Husna
Abstrak:
Penelitian ini mengkaji analisis capaian casemix dan casemix index rawat inap di Rumah Sakit Kelas B Grup Primaya Hospital. Data dikumpulkan dari lima rumah sakit (PH1-PH5) dalam kelompok Primaya Hospital. Penelitian mengevaluasi sumber daya manusia, anggaran, material, metode, dan proses terkait capaian casemix dan casemix index. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi clinical pathways (PPK-CP) di PH1, PH2, PH3, dan PH5 efektif dalam meningkatkan standar klinis dan efisiensi operasional. Kelengkapan rekam medis di PH1 tertinggi (93.3%) dibandingkan dengan PH lainnya. Meskipun demikian, tingkat klaim tertunda masih menjadi tantangan, terutama di PH4. Ketepatan koding di PH5 terbaik dengan hanya 14.6% data klaim yang tertunda. Verifikasi klaim di PH1 mencapai 98.2%, menunjukkan kualitas pengajuan klaim yang baik. Hasil penelitian ini memberikan wawasan tentang hubungan antara input, proses, dan output dalam manajemen capaian casemix dan casemix index di rumah sakit tersebut. Implikasi dari temuan ini berpotensi untuk merumuskan strategi korporasi yang efektif dalam meningkatkan kualitas layanan dan efisiensi operasional di rumah sakit kelompok Primaya Hospital.

This research examines the analysis of casemix achievement and casemix index inpatient care at Primaya Hospital Class B. Data were collected from five hospitals (PH1-PH5) within the Primaya Hospital group. The study evaluates human resources, budgets, materials, methods, and processes related to casemix achievement and casemix index. The results show that the implementation of clinical pathways (PPK-CP) in PH1, PH2, PH3, and PH5 is effective in improving clinical standards and operational efficiency. The completeness of medical records in PH1 is the highest (93.3%) compared to other hospitals. However, the level of delayed claims remains a challenge, especially in PH4. Coding accuracy in PH5 is the best with only 14.6% of delayed claim data. Claim verification in PH1 reaches 98.2%, indicating good quality of claim submission. The findings provide insights into the relationship between inputs, processes, and outputs in managing casemix achievement and casemix index at these hospitals. The implications of these findings have the potential to formulate effective corporate strategies to improve service quality and operational efficiency in Primaya Hospital group.
Read More
B-2483
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Karlina; Pembimbing: Amal C. Sjaaf, Herry Mardani; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Wahyu Sulistiadi
Abstrak:
ICU Rumah Sakit Pusat Pertamina merupakan salah satu ICU dengan kapasitas besar yang terdapat di Indonesia. Fasilitas yang dimilikinya cukup lengkap, standar operasional prosedur maupun jumlah serta kompetensi tenaga kerja yang bekerja didalamnya membuat instalasi ini dapat disetarakan dengan ICU tersier yaitu ICU pada level tertinggi yang biasanya terdapat pada rumah sakit rujukan atau pendidikan yang mampu mengatasi berbagai macam kondisi kritis pasien karena lengkapnya fasilitas yang dimiliki. Akan tetapi ICU RSPP ini masih perlu mendapatkan perhatian lebih demi tujuan pelayanan yang optimal kepada pasien sesuai dengan visi dan misi RSPP kedepan. Melihat sumber daya dan kesempatan yang ada, maka pilihan model open pada sistem tata laksana pasien di ICU yang diterapkan selama ini dinilai sudah kurang sesuai hal ini disebabkan karena masih tingginya angka mortalitas, dokter intensivis maupun anestesi yang masih membagi waktunya dengan pembiusan di ruang operasi, panjangnya rantai pengambilan keputusan terapi dan masih bercampurnya antara pasien yang sungguh-sungguh membutuhkan ICU dengan pasien yang belum sepenuhnya memerlukan tindakan intensive. Oleh karena itu peneliti mencoba menemukan model manajemen pasien yang dianggap lebih sesuai, efisien dan efektif bagi pasien maupun untuk rumah sakit. Metoda yang dipilih adalah Focus Group Discussion (FGD), indepth interview dan observasi karena topik yang diangkat merupakan topik yang sangat khusus dan belum banyak penelitian tentang ICU di Indonesia, juga karena sedikitnya waktu responden untuk dapat berkumpul serta metoda ini dapat memberikan jawaban yang lebih kaya karena adanya interaksi responden. Peneliti juga melakukan studi banding di 2 (dua) rumah sakit top referral di Jakarta dan Surabaya. ICU RSPP memiliki sumber daya yang cukup besar yaitu 1 orang tenaga intensivis dan 3 orang tenaga anestesi yang siap mengikuti pelatihan intensivis, tenaga paramedis yang telah mendapat sertifikat intensive care sebanyak 75% dan terdapat 19 macam keahlian spesialis serta kapasitas jumlah tempat tidur sebanyak 22 buah membuat ICU RSPP pantas disetarakan dengan ICU tersier. Bukan hanya itu, standar prosedur tata laksana pasien telah disusun sesuai dengan semi-close model, hanya pelaksanaannya yang belum sesuai. Dari hasil FGD dan indepth interview didapatkan bahwa sebagian besar peserta FGD menyatakan komposisi tempat tidur ICU saat ini masih kurang dan perlu adanya pemisahan fungsi ICU seperti ICCU dan ICU anak. Sedangkan dari hasil indepth interview menyatakan sebagian besar jumlah tempat tidur ICU sudah cukup dan sebagian kecil menyatakan kurang, dengan terbanyak menyatakan perlu adanya pemisahan. Tentang jumlah dan kompetensi tenaga kerja sebagian besar peserta FGD menyatakan jumlah tenaga kerja dan kompetensinya dinyatakan cukup, sedangkan sebagian kecil menyatakan kurang. Untuk pertanyaan ini sengaja hanya ditanyakan pada kelompok FGD dikarenakan kelompok FGD adalah personil yang bekerja di unit ICU RSPP. Sedangkan kelompok indepth interview adalah kelompok dokter spesialis yang mengirimkan pasien ke ICU, sehingga penilaian atas kebutuhan jumlah tenaga kerja di kelompok ini kurang relevansinya. Pertanyaan selanjutnya adalah tentang siapakah yang berwenang menentukan penilaian kritis pasien yang masuk ke ICU, pada kelompok FGD seluruhnya menyatakan dokter intensivis yang berwenang sekaligus mengukuhkan perlunya kehadiran dokter intensivis tersebut di ICU. Sedangkan kelompok indepth interview sebagian besar menyatakan dokter intensivis yang berwenang, dan sebagian kecil menyatakan dokter ruangan-lah yang berwenang. Untuk menemukan jawaban pada pertanyaan apa yang lebih baik antara open model atau close-model pada kelompok FGD peneliti menggunakan teknik bertanya melalui bagaimana penentuan pasien masuk dan siapa yang bertanggung jawab, seluruh informan FGD menyatakan dokter intensivis dalam semi-close model ICU-lah yang terbaik. Sedangkan kelompok indepth interview sebagian besar menyatakan close model atau paling tidak semi-close adalah yang lebih baik dan sebagian kecil menyatakan open model-lah yang lebih cocok. Pada jawaban responden yang sebagian kecil tersebut ketika digali tentang kompetensi dokter yang merawat pasien kritis, keseluruhannnya menjawab dokter intensivis-lah yang lebih berkompeten akan tetapi pemilihan manajemen di ICU tetap diinginkan open model dengan asumsi dokter yang merawat sejak awal lebih memahami penyakitnya. Selanjutnya harapan dan saran untuk perbaikan ICU mendatang seluruh dari informan FGD maupun responden pada indepth interview menyatakan perlu adanya perbaikan yang didukung oleh adanya kebijakan dari manajemen rumah sakit. Sedangkan hasil studi banding yang telah peneliti lakukan di 2 (dua) rumah sakit top referral didapatkan hasil indikator yang lebih rendah dari hasil di Rumah Sakit Pusat Pertamina dikarenakan sebagai rumah sakit rujukan terakhir, kondisi pasien yang dirujuk seringkali berada dalam keadaan terminal atau sangat buruk. Tentu saja kondisi ini membuat angka harapan hidup pasien menjadi lebih kecil. Bila melihat kondisi kegawatan pasien yang dirawat di ICU kiranya perlu suatu nilai standar yang disepakati bersama oleh persatuan dokter intensive care sebagai tolok ukur hasil kinerja medis yang dapat dievaluasi setiap bulan atau setiap tahun. Nilai standar ini dapat pula dijadikan sebagai target pencapaian keberhasilan suatu upaya pertolongan kritis pasien. Nilai standar dapat diambil dari nilai skor kritis pasien yang digunakan untuk menilai keadaan awal pasien sebelum pasien masuk ICU. Dari keseluruhan hasil kegiatan penelitian ini di dapatkan kesimpulan bahwa pilihan semi-close model ICU menjadi pilihan yang paling sesuai yaitu dengan menempatkan dokter spesialis intensivis sebagai captain di ICU yang bekerja sama berkolaborasi dengan dokter spesialis yang merawat pasien tersebut sebelumnya. File Digital: 1
Read More
B-1129
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ade Margaretha L.T; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Ede Surya Darmawan, Purnawan Junadi, Amal Chalik Sjaaf, Friana Asmely
Abstrak:
Latar belakang: Layanan onkologi di RSUD Pasar Minggu memegang peranan penting sebagai salah satu pusat rujukan utama di Jakarta Selatan dan telah ditetapkan ditetapkan sebagai Rumah Sakit Jejaring Pengampuan Kanker Strata Utama oleh Kementerian Kesehatan RI pada pelaksanaannya masih menghadapi tantangan pengembangan layanan dan kelengkapan infrastruktur hingga sehigga diperlukan rencana strategi. Tujuan: Membuat strategi pengembangan layanan onkologi RSUD Pasar Minggu untuk mengetahui gambaran situasi layanan onkologi, dan secara khusus adalah teridentifikasi analisis situasi dengan pendekatan Ginter, Duncan, dan Swayne, yaitu dengan melakukan analisa eksternal (aspek ekonomi, sosiodemografi, epidemiologi, legislatif politik, teknologi, dan pesaing yang ditempatkan ke dalam lingkungan umum, sistem pelayanan kesehatan, atau area layanan) dan yang akan menghasilkan strategi terpilih yang kemudian diturunkan menjadi program kerja strategis. Metodologi: P deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode action research, menggunakan data primer (wawancara mendalam, observasi, dan diskusi terarah/CDMG) dan data sekunder (regulasi Kemenkes, BPS, data rekam medis RSUD Pasar Minggu). Hasil Penelitian: Layanan onkologi pada posisi kuadran Growth (Pertumbuhan), dengan pemilihan strategi adaptif yaitu pengembangan produk dan penetrasi pasar. Strategi ini dijabarkan ke dalam penguatan layanan onkologi komprehensif melalui penambahan SDM onkologi, fasilitas radioterapi LINAC, penguatan Tim Multidisiplin (MDT), menambah kelengkapan teknologi serta digitalisasi sistem navigasi pasien untuk meningkatkan aksesibilitas dan kepuasan pasien. Kesimpulan: Rencana strategi yang telah disusun ini diharapkan akan menjadi pedoman bagi manajemen RSUD Pasar Minggu dalam mewujudkan layanan onkologi yang terpadu, bermutu tinggi, dan mencapai strata utama. Kata Kunci: Rencana Strategis, Layanan Onkologi, RSUD Pasar Minggu, Manajemen Strategis, Jejaring Pengampuan Kanker.

Background: Oncology services at RSUD Pasar Minggu play a pivotal role as a primary referral center in South Jakarta and designated as Main Stratum Cancer Network Hospital, thus precise strategic planning is imperative. This thesis discusses the strategic plan for the development of oncology services at RSUD Pasar Minggu, as mandated by the Indonesian Ministry of Health. Objective: To formulate a development strategy for oncology services at RSUD Pasar Minggu by elucidating the current service landscape. Specifically, it identifies a situational analysis employing the Ginter, Duncan, and Swayne approach, comprising an external analysis and an internal analysis. These analyses yield selected strategies that are subsequently translated into strategic work programs. Methodology: A descriptive qualitative research design with a action reserch method utilizes primary data (in-depth interviews, observations, and Consensus Decision Making Group/CDMG discussions) and secondary data (Ministry of Health regulations, Statistics Indonesia/BPS, and RSUD Pasar Minggu medical records). Results: Oncology services within the Growth quadrant, selecting adaptive strategies of product development and market penetration. These strategies are elaborated into the strengthening of comprehensive oncology services through the addition of oncology human resources, LINAC radiotherapy facilities, the reinforcement of Multidisciplinary Teams (MDT), technological enhancement, and the digitalization of patient navigation systems to improve accessibility and patient satisfaction. Conclusion: Expected to serve as a guideline for the management of RSUD Pasar Minggu in realizing integrated, high-quality oncology services that meet the standards of the Main Stratum. Keywords: Strategic Plan, Oncology Services, RSUD Pasar Minggu, Strategic Management, Cancer Network.
Read More
B-2580
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Pratiwi Suwandi; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Anhari Achadi, Ede Surya Darmawan, Astuti Giantini, Rakhmad Hidayat
Abstrak:
Employee Engagement yang baik menggambarkan pegawai yang memiliki komitmen, motivasi, dukungan dari organisasi secara positif sehingga dapat bekerja dengan efektif maupun efisien dalam meningkatkan organisasi tempat bekerjanya. Pengukuran Employee Engagement penting dilakukan salah satunya untuk Dokter Umum yang merupakan salah satu bagian yang secara langsung dari segi performa atau kinerjanya akan memberikan dampak pada kualitas pelayanan rumah sakit ke pasien. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis determinan Employee Engagement Dokter Umum di Rumah Sakit Universitas Indonesia pada Tahun 2023. Penelitian melalui survei Employee Engagement dan wawancara mendalam dengan menganalisis data determinan yang dapat memengaruhi Employee Engagement pada Dokter Umum di Rumah Sakit Universitas Indonesia. Survei Employee Engagement dihasilkan sebanyak 20 Dokter Umum kategori “Engaged”, 30 Dokter Umum kategori “Not Engaged” dan tidak ada Dokter Umum kategori “Disengaged”. Hasil wawancara mendalam menunjukkan persepsi respons positif pada pertanyaan terkait Status Kepegawaian, Pengembangan Kompetensi, Penghargaan, Lokasi Penempatan, Hubungan Rekan Kerja, dan Kesesuaian Harapan. Hasil wawancara mendalam menunjukkan persepsi respons negatif pada pertanyaan terkait Kompensasi, Pengembangan Karir, Beban Kerja, dan Program Peningkatan Employee Engagement. Oleh karena itu, manajemen rumah sakit perlu melakukan evaluasi strategi perbaikan determinan Employee Engagement Dokter Umum untuk mempertahankan engagement yang baik kedepannya dan memberikan dampak positif bagi rumah sakit. Beberapa strategi diantaranya adalah sosialisasi pembekalan pada awal rekrutmen Dokter Umum di rumah sakit secara lengkap, pendataan kompetensi yang dibutuhkan di setiap penempatan kerja Dokter Umum sebagai dasar penetapan capaian kompetensi penempatan hingga remunerasi, pendataan Analisis Beban Kerja Dokter Umum sesuai dengan jenis dan jumlah beban kerja, serta monitoring secara rutin tingkatan engagement Dokter Umum di Rumah Sakit Universitas Indonesia.

Good Employee Engagement describes employees who have positive commitment, motivation and support from the organization. Therefore, they can work effectively and efficiently to improve organization which they work in. It is important to measure Employee Engagement, including for General Practitioners, who are one of the departments whose performance will directly impact the quality of hospital services to patients. This research aims to conduct an analysis of the determinants of Employee Engagement for General Practitioners at the Universitas Indonesia Hospital in 2023. The research uses an Employee Engagement survey and in-depth interviews by analyzing determinant data that can influence Employee Engagement for General Practitioners at the Universitas Indonesia Hospital. The Employee Engagement Survey resulted in 20 General Practitioners in the "Engaged" category, 30 General Practitioners in the "Not Engaged" category and no General Practitioners in the "Disengaged" category. The results of in-depth interviews show a positive response perception to questions related to Employment Status, Competency Development, Awards, Placement Locations, Colleague Relations, and Matching Expectations. The results of in-depth interviews show a perception of negative responses to questions related to Compensation, Career Development, Workload, and Employee Engagement Improvement Program. Therefore, hospital management needs to evaluate strategies for improving the determinants of General Practitioner Employee Engagement to maintain good engagement in the future and have a positive impact on the hospital. Some of the strategies include providing complete outreach at the beginning of the recruitment of General Practitioners in hospitals, data collection on the competencies required for each General Practitioner work placement as a basis for determining competency achievements for placements and remuneration, data collection on General Practitioner Workload Analysis according to the type and amount of workload, as well as regularly monitoring the level of engagement of General Practitioners at the Universitas Indonesia Hospital.
Read More
B-2419
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sandry Tri Sumarni; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Masyitoh Bashabih, Prastuti Soewondo, Mohammad Kurniawan, Achmad Harjadi
Abstrak:
Rumah Sakit (RS) Kramat 128 Jakarta Pusat merupakan salah satu rumah sakit tipe B yang telah lama memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat melalui fasilitas pelayanan rawat inap. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan layanan rawat inap di RS Kramat 128. Masalah yang menjadi fokus penelitian ini adalah fluktuasi tingkat Bed Occupancy Rate (BOR) setiap tahunnya yang masih jauh dari target Kementerian Kesehatan. Penelitian ini akan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang berhubungan dengan pemanfaatan layanan rawat inap di RS Kramat 128 untuk mengoptimalkan upaya peningkatan pemanfaatan layanan tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi langsung untuk data primer serta telaah dokumen untuk data sekunder. Data yang dikumpulkan meliputi angka BOR, data kunjungan rawat jalan dan inap, serta faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pemanfaatan layanan rawat inap. Pada tahap input, analisis data dilakukan dengan menggunakan metode thematic content analysis untuk mengidentifikasi, menganalasis, dan menyajikan pola berdasarkan data yang telah terkumpul. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang pemanfaatan layanan rawat inap di RS Kramat 128 serta memberikan sumbangan dalam pengembangan kebijakan dan manajemen pelayanan kesehatan yang lebih efektif di Rumah Sakit Kramat 128 dan RS lain.
Kramat 128 Hospital in Central Jakarta is type B hospital that has long provided healthcare services to the community, including through its inpatient care facilities. This study aims to analyze the utilization of inpatient services at Kramat 128 Hospital. The problem focused on in this research is the fluctuation in the Bed Occupancy Rate (BOR) each year, which is far from the target set by the Ministry of Health. This is a qualitative study where data collection is conducted through in-depth interviews and direct observations for primary data, as well as document review for secondary data. The collected data includes BOR figures, outpatient and inpatient visit data, as well as internal and external factors influencing the utilization of inpatient services. During the input phase, data analysis is carried out using the thematic content analysis method to identify, analyze, and present patterns based on the collected data. The results of this study are expected to provide a deeper understanding of the utilization of inpatient services at Kramat 128 Hospital. The findings of this research can also contribute to the development of more effective healthcare policies and management in Kramat 128 Hospital and potentially benefit other hospitals.
Read More
B-2336
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Etik Retno Wiyati; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Sumijatun, Puput Oktamianti
B-1600
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shinta Putri Widyani; Pembimbing: Puput Oktamianti Penguji: Pujyanto, Ignatia Wurangian, Henny Krishnawati
Abstrak:

Rekam medis merupakan suatu hal yang mutlak ada pada setiap pelayanan kesehatan. Sesuai dengan perkembangan jaman, sistem rekam medis yang ada di rumah sakit sudah mengalami perubahan dari sistem pengelolaan manual berubah menjadi komputerisasi. RSGM FKG UPDM (B) masih melakukan pengelolaan berkas rekam medis secara manual sehingga pelayanan penyediaan berkas rekam medis menjadi lama dan keberadaan berkas rekam medis sulit ditelusuri karena sering terselip bahkan hilang. Untuk dapat memberikan jasa pelayanan yang memuaskan, maka perlu dibuat sistem informasi yang baik. Perlu digunakan sistem informasi berbasis komputer yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan data dan untuk mencari data dengan cepat, mudah dan aman sehingga kualitas pelayanan dapat ditingkatkan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Informan dalam penelitian ini adalah petugas pengelola rekam medis di loket dan tiap laboratorium, direktur utama dan wakil direktur bidang pelayanan medik sebagai pihak manajemen. Penelitian ini menghasilkan desain sistem informasi rekam medis untuk Rumah Sakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama). Hasil penelitian menunjukkan bahwa unit rekam medis masih memerlukan banyak perbaikan. Jumlah petugas di bagian loket masih kurang dan pendidikannya tidak sesuai dengan Standar Profesi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan. Pengelolaan rekam medis yang masih menggunakan sistem manual, belum adanya Standar Operasional Prosedur tentang pengelolaan rekam medis dan analisis pekerjaan untuk petugas pengelola rekam medis menjadi penyebab lamanya dan belum teraturnya pelayanan rekam medis. Desain sistem informasi rekam medis yang sesuai untuk RSGM FKG UPDM (B) adalah sistem informasi yang online baik di loket maupun di tiap laboratorium. Desain sistem informasi rekam medis yang dibuat masih dalam bentuk prototipe, sehingga perlu dikembangkan lebih lanjut sebelum diimplementasikan. Kepustakaan 26 (1992- 2010), Gambar 21, Tabel 3, Lampiran 9 Kata Kunci: Rekam medis, Sistem Informasi


 

Medical records is a must in every healthcare service. Nowadays, medical records systems in hospitals are change from conventional systems to electronic based. Dental Hospital of The Dental Faculty of Prof. DR. Moestopo (Beragama) University still manages medical record  manually, so the service provision of medical record file takes times and difficult to searched even it is often tucked and disappear. To be able to provide satisfactory services, they have to design a good medical record information system. They need to use computer-based information system that can serves a good storage system which can find data quickly, easily and securely so the service quality can be improved. This research is descriptive with qualitative approached. Informants are the officer of the medical record unit at counter and each laboratory, and CEO (Chief Executive Officer) of Medic Division as a representative of the management. This research produces the design of medical record information system in Dental Hospital of The Dental Faculty of Prof. DR. Moestopo (Beragama) University. The results showed that the medical records unit still requires a lot of improvement. The number of officers at the counter is still lacking and under education and are not in accordance to Professional Standards Medical Recorder and Health Information. Management of medical records still using manual systems, they have no Standard Operating Procedure and no job description for medical records staff cause a long and unregulated of medical records services. Medical record information system design that is suitable for Dental Hospital of The Dental Faculty of Prof. DR. Moestopo (Beragama) University is an online information system both at the counter and in each laboratory. Design of medical record information system that created in this research still in the prototype form, so need to be developed further before being implemented. Literatur 26 (1992- 2010), Picture 21, Table 3, Attachment 9 Key Word: Medical Record, Information System

Read More
B-1331
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive