Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35380 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Aulia Husna Hamidah; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Salimar
Abstrak:
Emotional eating, kecenderungan mengonsumsi makanan sebagai respons terhadap emosi negatif, dapat memiliki dampak negatif pada kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara emotional eating dengan stres akademik dan faktor-faktor lain pada mahasiswa non-kesehatan. Metode penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan 169 responden. Temuan menunjukkan hubungan signifikan antara stres akademik dan emotional eating (p-value 0,025), serta penggunaan media sosial dan emotional eating (p-value 0,000). Meskipun demikian, tidak ditemukan hubungan dengan jenis kelamin, pengetahuan gizi, durasi tidur, dan kebiasaan berolahraga. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran bahwa faktor psikologis juga berperan penting terhadap kesehatan gizi individu.

Emotional eating, the tendency to consume food in response to negative emotions, can have adverse effects on health. This research aims to explore the relationship between emotional eating and academic stress along with other factors in non-health major students. The research employed a cross-sectional design with 169 respondents. Findings indicated a significant relationship between academic stress and emotional eating (p-value 0,025) as well as social media usage and emotional eating (p-value 0,000). However, no associations were found with gender, nutritional knowledge, sleep duration, and exercise habits. The results of this study are expected to raise awareness that psychological factors also play a crucial role in individual nutritional health.
Read More
S-11547
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muthia Syifa Rahmadina; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Trini Sudiarti, Fajrinayanti
Abstrak: Emotional eating merupakan perilaku makan berlebih sebagai mekanisme koping terhadap emosi negatif yang dirasakan. Emotional eating mulai muncul sejak fase remaja. Emotional eating dapat menyebabkan obesitas, eating disorder, dan penyakit tidak menular. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara stres, citra tubuh, pengaruh teman sebaya, pola asuh orang tua, penggunaan media sosial, jenis kelamin, kualitas tidur, dan regulasi emosi dengan perilaku emotional eating pada remaja di SMA Sejahtera 1 Kota Depok tahun 2022. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Pengambilan data dilakukan pada bulan Maret 2022 dengan cara menyebarkan kuesioner online. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dan didapatkan 174 responden yang merupakan siswa/i kelas X dan XI SMA Sejahtera 1 Kota Depok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 52,3% responden melakukan emotional eating. Terdapat hubungan yang signifikan antara stres dengan emotional eating (p-value=0,026) dan terdapat perbedaan rata-rata skor pengaruh teman sebaya yang signifikan pada kelompok dengan dan tanpa emotional eating (p-value=0,025). Stres berat berisiko 6,476 kali lebih besar untuk melakukan emotional eating. Peneliti menyarankan agar Dinas Kesehatan dan pihak sekolah dapat memberikan edukasi cara koping stres yang baik. Orang tua dapat lebih memperhatikan kesehatan mental remaja dan memberikan pola asuh yang baik kepada anaknya.
Emotional eating is an overeating behavior as a coping mechanism for negative emotions that emerges in adolescents. Emotional eating cause obesity, eating disorders, and non-communicable diseases. This study aims to determine the relationship between stress, body image, peer influence, parental rearing styles, social media use, sex, sleep quality, and emotion regulation with emotional eating behavior among adolescents at SMA Sejahtera 1 Depok in 2022. Data for this cross-sectional quantitative study were collected in March 2022 by distributing online questionnaires. The samples were grade X and XI students from SMA Sejahtera 1 who were chosen by using purposive sampling techniques (n=174). The result of this study showed that there are about 52,3% of respondents who has an emotional eating tendency. There is a significant relationship between stress and emotional eating (p-value=0,026) and there is a significant difference in the mean of peer influence score in the group with and without emotional eating (p-value=0,025). Severe stress increases the risk of emotional eating by 6.476 times more than moderate and mild stress. Teachers and the Department of Health can teach adolescents how to effectively control their stress. Parents can utilize effective parental rearing styles and pay closer attention to their children's mental health.
Read More
S-11037
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hafla Hadissa; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Fathimah Sulistyowati Sigit, Dieta Nurrika
Abstrak:
Stres merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang umum dialami mahasiswa dan dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis maupun performa akademik. Berbagai faktor gaya hidup, seperti konsumsi probiotik, asupan serat, konsumsi ultra-processed food (UPF), aktivitas fisik, dan kualitas tidur diduga berperan terhadap kejadian stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsumsi probiotik dan faktor lainnya dengan tingkat stres pada mahasiswa FKM UI tahun 2026. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional pada 138 mahasiswa FKM UI. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 58% mahasiswa mengalami stres tinggi. Terdapat hubungan yang signifikan antara tahun studi (p=0,002), konsumsi UPF (p=0,003; OR=2,9; 95% CI=1,4–6,0), dan kualitas tidur (p<0,001; OR=4,3; 95% CI=1,9–9,6) dengan kejadian stres. Sementara itu, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi probiotik, jenis kelamin, asupan serat, dan aktivitas fisik dengan kejadian stres (p>0,05). Meskipun demikian, aktivitas fisik menunjukkan kecenderungan. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan menerapkan pola hidup sehat, terutama dengan menjaga kualitas tidur untuk membantu mengurangi risiko stres. Fakultas juga diharapkan mendukung upaya promosi kesehatan mental dan perilaku hidup sehat di lingkungan kampus. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan desain longitudinal serta analisis multivariat untuk memahami hubungan faktor gaya hidup dan stres secara lebih mendalam. Kata kunci: stres, konsumsi UPF, kualitas tidur, tahun studi, mahasiswa.

Stress is a common mental health problem among university students and may affect both psychological well-being and academic performance. Various lifestyle factors, including probiotic consumption, dietary fiber intake, ultra-processed food (UPF) consumption, physical activity, and sleep quality, are believed to be associated with stress. This study aimed to examine the relationship between probiotic consumption and other factors with stress among students of the FKM UI, in 2026. A quantitative study with a cross-sectional design was conducted among 138 students. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the Chi-square test. The results showed that 50.7% of students experienced high stress. Significant associations were found between year of study (p=0,002), UPF consumption (p=0,003; OR=2,9; 95% CI=1,4–6,0), and sleep quality (p<0,001; OR=4,3; 95% CI=1,9–9,6) and stress. Meanwhile, no significant associations were found between probiotic consumption, sex, dietary fiber intake, physical activity, and stress (p>0.05). Nevertheless, physical activity showed a tendency toward an association with stress. Therefore, students are encouraged to adopt healthy lifestyle behaviors, particularly by maintaining good sleep quality to reduce the risk of stress. The faculty is also expected to support mental health promotion and healthy lifestyle programs within the campus environment. Future studies are recommended to employ longitudinal designs and multivariate analyses to further explore the relationship between lifestyle factors and stress. Keywords        :        stress, UPF consumption, sleep quality, year of study, college students.
Read More
S-12380
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rif`ah Mawaddati; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Fajrinayanti
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara stres, penggunaan media, tingkat kebosanan, dan faktor lainnya dengan eating styles pada mahasiswi selama masa pandemi COVID-19. Dengan melibatkan 285 mahasiswi S1 Reguler Universitas Indonesia didapatkan bahwa stres dan kecenderungan gangguan perilaku makan berhubungan dengan restrained eating (p-value=0,018 dan 0,0005), emotional eating (p-value=0,002 dan 0,0005), dan external eating (p-value=0,0005 dan 0,004). Sedangkan durasi penggunaan media sosial dan tingkat kebosanan hanya berhubungan dengan emotional eating (p-value=0,001 dan 0,0005) dan external eating (p-value=0,009 dan 0,0005). Sedangkan durasi penggunaan media sosial dan tingkat kebosanan hanya berhubungan dengan emotional eating (p-value=0,001 dan 0,0005) dan external eating (p-value=0,009 dan 0,0005) tidak dengan restrained eating (p-value=0,480 dan 0,053).
Read More
S-10618
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dhea Shavira; Pembimbing: Wahyu Kurnia Yusrin Putra; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Nindhita Priscillia Muharrani
Abstrak: Emotional eating merupakan kecenderungan seseorang untuk makan secara berlebihdalam menanggapi emosi negatif. Kecenderungan emotional eating erat hubungannyadengan konsumsi makanan tinggi gula, garam dan lemak, makanan bertekstur renyah,dan minuman berpemanis. Apabila pola konsumsi ini dilakukan secara terus menerus,akan meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler dan Diabetes Mellitus tipeII. Kecenderungan emotional eating dapat terjadi karena berbagai faktor seperti tingkatstres, stresor perkuliahan, status gizi, dan eating dysregulation. Untuk melihat hubunganemotional eating dengan faktor-faktor tersebut dilakukan penelitian cross-sectionalpada mahasiswi S1 Reguler FKM UI. Pengambilan sampel dalam penelitian dilakukandengan metode stratified random sampling. Analisis data dalam penelitian ini dilakukandengan dua cara, yaitu uji chi square dan uji t independen. Hasil uji t independenmenunjukkan adanya perbedaan rata-rata yang signifikan skor eating dysregulationberdasarkan kecenderungan emotional eating (p value = 0.011). Pada penelitian ini,tidak ada perbedaan proporsi yang signifikan kejadian emotional eating berdasarkanstatus gizi, namun ditemukan bahwa variabel eating dysregulation juga dapat menjadivariabel confounding yang mempengaruhi hubungan antara status gizi denganemotional eating (p value = 0.035).

Kata Kunci:Emotional eating, stres, status gizi, eating dysregulation, eating disorder.
Read More
S-10508
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cintia Cresna Simanjuntak; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Fathimah Sulistyowati Sigit, Fajrinayanti
Abstrak:

Eating disorders merupakan gangguan perilaku makan yang terjadi secara terus-menerus dan menyebabkan perubahan asupan oral, yang secara signifikan dapat mengganggu kesehatan fisik atau fungsi psikososial (American Psychiatric Association, 2013). Setiap tahunnya, eating disorders diperkirakan menyebabkan morbiditas pada lebih dari 3,3 juta orang di seluruh dunia, dan sekitar 20% penderitanya meninggal dunia (Miskovic-Wheatley et al., 2023). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan proporsi dan hubungan tingkat stres, citra tubuh, pengaruh teman sebaya, pengaruh media sosial, status tinggal, tingkat aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan konsumsi alkohol dengan kecenderungan eating disorders pada mahasiswa kesehatan dan non-kesehatan Universitas Indonesia tahun 2025. Desain studi dalam penelitian ini adalah cross-sectional dengan menggunakan data primer yang diambil dari 200 responden mahasiswa kesehatan dan non-kesehatan Universitas Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan proporsi kecenderungan eating disorders, yaitu 84% pada mahasiswa kesehatan dan 77% pada mahasiswa non-kesehatan. Terdapat hubungan yang signifikan antara citra tubuh, pengaruh teman sebaya, dan pengaruh media sosial dengan kecenderungan eating disorders pada kedua kelompok, serta tingkat stres dan kebiasaan merokok hanya pada mahasiswa kesehatan. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status tinggal, tingkat aktivitas fisik, dan konsumsi alkohol dengan kecenderungan eating disorders pada kedua kelompok. Dibutuhkan peningkatan kesadaran mahasiswa terkait eating disorders, yang dapat dilakukan dengan penyebarluasan informasi terkait eating disorders melalui video edukasi, infografis, flyer, dan media lain, serta informasi terkait layanan konseling oleh pihak kampus.

Eating disorders are persistent eating behaviour disturbances that negatively affect both physical health and psychosocial functioning. According to the World Health Organization (2019), an estimated 14 million cases of eating disorders occurred globally, with 3 million affecting children and adolescents. This study aims to examine the relationship between celebrity worship, body image, and other influencing factors with the risk of eating disorders among female adolescents who are K-Pop fans in Daerah Khusus Jakarta in 2025. A quantitative approach was used with a cross-sectional study design. Data were collected online through a questionnaire completed by 160 respondents. Results showed that 85% of respondents were at risk for eating disorders, comprising 33.8% at risk for anorexia nervosa, 1.9% for bulimia nervosa, 2.5% for binge-eating disorder, and 46.9% for other specified feeding or eating disorders (OSFED). Bivariate analysis revealed significant associations between body image, peer influence, family influence, social media exposure, and stress levels with the risk of eating disorders. On the other hand, celebrity worship, self-esteem, and nutritional knowledge were not significantly associated with eating disorder risk. To reduce the risk of eating disorders, educational interventions are needed to promote healthy body perception, effective stress management, and critical awareness in social media use, including discerning the influence of K-Pop trends, which are highly prevalent among adolescents.

Read More
S-11894
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Romauli Sihombing; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Ahmad Syafiq, Nindhita Priscillia Muharrani
Abstrak:
Emotional eating merupakan kecenderungan mengkonsumsi makanan secara belebih sebagai respon terhadap emosi negatif. Emotional eating dapat menyebabkan obesitas, eating disorder, diabetes melitus, dan penyakit kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara stres, jenis kelamin, premenstrual syndrome (PMS), aktivitas fisik, citra tubuh, harga diri, kualitas tidur, penggunaan media sosial, tempat tinggal, dan culture shock dengan perilaku emotional eating pada mahasiswa UI angkatan 2022. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juni 2023 melaui kuesioner online, dengan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan chi-square dan uji t-independent. Hasil dari penelitian ini menunjukkan sebanyak 19% responden mengalami emotional eating. Terdapat hubungan yang signifikan antara emotional eating dengan stres (p-value = 0,003), dan terdapat perbedaan rata-rata skor citra tubuh yang signifikan pada kelompok dengan dan tanpa emotional eating (p-value = 0,005). Pada penelitian ini, terdapat 7 variabel yang berhubungan signifikan dan 3 varibel yang tidak berhubungan signifikan dengan perilaku emotional eating. Harapannya mahasiswa UI maupun kelompok usia dewasa muda mampu memperhatikan jenis stressor yang dialami dan mencari coping stres yang sesuai dengan karakteristik masing-masing individu.

Emotional eating is the tendency to overeat in response to negative emotions. Emotional eating can lead to obesity, eating disorders, diabetes mellitus, and cardiovascular disease. This study aims to look at the relationship between stress, gender, premenstrual syndrome (PMS), physical activity, body image, self-esteem, sleep quality, social media use, residence, and culture shock with emotional eating behavior in UI student batch 2022. This study uses a quantitative approach with a cross-sectional design. Data collection was carried out in June 2023 through an online questionnaire, with purposive sampling technique. Data analysis was performed using chi-square and independent t-test. The results of this study showed that 19% of respondents experienced emotional eating. There is a significant relationship between emotional eating and stress (p-value = 0.003), and there is a significant difference in average body image scores in groups with and without emotional eating (p-value = 0.005). In this study, there are 7 variables that are significantly related and 3 variables that are not significantly related to emotional eating behavior. It is hoped that UI students and young adults will be able to pay attention to the types of stressors experienced and find stress coping that suits the characteristics of each individual.
Read More
S-11395
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Abraham Theodore; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Fajrinayanti
Abstrak:
Emotional eating merupakan perilaku konsumsi makanan secara berlebihan sebagai respons terhadap emosi negatif, dan dapat terjadi baik pada individu dengan berat badan normal maupun yang mengalami obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat stres, kualitas tidur, aktivitas fisik, jenis kelamin, uang saku, beban akademik, persepsi body image, dan self-esteem dengan perilaku emotional eating pada mahasiswa S1 Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sebanyak 164 responden terlibat dalam penelitian melalui pengisian kuesioner daring menggunakan teknik quota sampling pada April–Mei 2025. Analisis dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 59,1% responden memiliki kecenderungan Emotional eating, lalu sebagian besar responden memiliki kualitas tidur buruk (82,3%), stres sedang (53,7%), aktivitas fisik rendah (61,0%), jenis kelamin perempuan (56,1%), uang saku >Rp400.000 per minggu (62,8%), serta beban akademik tinggi (57,9%). Mayoritas juga memiliki persepsi body image positif (68,3%) dan self-esteem baik (64,6%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa semua variabel independen yang diteliti memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku emotional eating (p < 0,05). Di antara variabel-variabel tersebut, beban akademik dikonsiderasi sebagai faktor dominan yang berhubungan dengan estimasi paling presisi, nilai odds ratio (OR) menunjukkan sebesar 0,023 (95% CI: 0,002–0,257), yang menunjukkan bahwa mahasiswa dengan beban akademik tinggi berisiko 97,7% lebih besar mengalami emotional eating dibandingkan mahasiswa dengan beban akademik rendah.

Emotional eating is an effort to cope with distressing emotions is a common eating pattern in which people often consume large amounts of food even when their physical hunger is not present. This behavior can occur in individuals with normal weight and those who are overweight or obese. This study explored the relationship between stress levels, sleep quality, physical activity, gender, weekly allowance, academic workload, body image perception, and self-esteem with emotional eating among undergraduate students at the Department of Architecture, Faculty of Engineering, Universitas Indonesia. A quantitative approach with a cross-sectional design was used. Data were collected through an online questionnaire between April and May 2025 using a quota sampling technique. Data analysis was performed using chi-square tests and logistic regression. The findings The results showed that 59.1% of respondents demonstrated tendencies toward emotional eating. Most participants reported poor sleep quality (82.3%), moderate stress levels (53.7%), low physical activity (61.0%), were female (56.1%), had a weekly allowance above IDR 400,000 (62.8%), and experienced high academic workload (57.9%). In addition, the majority had a positive body image perception (68.3%) and good self-esteem (64.6%). Bivariate analysis revealed that all independent variables were significantly associated with emotional eating (p < 0.05). Among these, academic workload emerged as the most dominant factor, with a precise estimate and an odds ratio (OR) of 0.023 (95% CI: 0.002–0.257), indicating that students with a high academic workload were 97.7% more likely to experience emotional eating compared to those with a low workload.
Read More
S-11917
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fadia Ramadhanti Taufani; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Evi Fatimah
Abstrak: Energi yang berasal dari zat gizi makro dibutuhkan untuk melakukan metabolisme tubuh, kegiatan fisik, dan pertumbuhan. Kebiasaan konsumsi energi dan zat gizi yang tidak seimbang dengan pola makan yang tidak tepat akan menyebabkan masalah gizi. Sebaliknya, asupan energi dan zat gizi seimbang serta berkualitas dapat mempertahankan kesehatan fisik dan stabilitas mental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran asupan energi serta apakah terdapat hubungan dengan mindful eating dan faktor lainnya pada mahasiswa S1 Reguler Gizi FKM UI tahun 2022. Variabel independen pada penelitian ini adalah mindful eating, pengetahuan gizi, uang jajan untuk membeli makanan dan minuman, stress, konsumsi makanan selingan, konsumsi minuman manis, dan durasi tidur. Variabel dependen penelitian ini adalah asupan energi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan desain studi cross-sectional. Pengambilan data dilakukan pada bulan Maret-Juni 2022 kepada 136 mahasiswi tahun angkatan 2019-2021. Data yang digunakan didapatkan dari pengisian kuesioner serta food record weekday dan weekend yang diisi mandiri oleh responden. Sebesar 8.1% mahasiswi S1 Reguler Gizi FKM UI memiliki asupan energi tinggi yaitu > 80% AKG. Analisis statistik menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara stres, konsumsi makanan selingan, dan konsumsi minuman manis dengan asupan energi. Peneliti menyarankan kepada pihak universitas untuk dapat memberikan edukasi terkait pedoman gizi seimbang.
Energy derived from macronutrients is needed to carry out body metabolism, physical activity, and growth. Nutritional problems brought on by inappropriate eating patterns or unbalanced energy and nutrient consumption habits. On the other hand, a balanced and quality intake of energy and nutrients can maintain a person's physical health and mental stability. The aim of this study was to analyze the relationship between mindful eating and other factors with energy intake in Students of Nutritional Programs at FKM UI. The dependent variable of this study was energy intake, while the independent variables were mindful eating, nutritional knowledge, allowance, stress level, snack consumption and Sugar-sweetened beverages (SSBs) and sleep duration. This research is a quantitative study with a cross-sectional design. Data were collected from March to June 2022 for 136 nutrition students of class 2019 to 2021. Data was obtained from food record 2x24 hours and online questionnaire. The result show that as many as 8.1% of student consumed high energy intake (fulfilled > 80% of Recommended Dietary Allowances). The result also showed that stress level, snack consumption and SSBs were related to students? energy intake. Researcher suggest to university to provide education related to balanced nutrition guidelines.
Read More
S-11007
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yasyfa Mutiara; Pembimbing; Fathimah Sulistyowati Sigit; Penguji: Sandra Fikawati, Triyanti, Wardina Humayrah, Riri Indriyanti
Abstrak:
Adaptasi terhadap lingkungan baru dan tuntutan akademik yang meningkat drastis dibanding masa sekolah membuat mahasiswa baru termasuk kelompok yang rawan stres akademik. Ada dugaan bahwa stres semacam ini mengganggu regulasi perilaku makan, dan pada gilirannya mendorong munculnya perilaku makan berisiko. Pertanyaan yang coba dijawab dalam studi ini sederhana: benarkah persepsi stres akademik berhubungan dengan perilaku makan berisiko pada mahasiswa baru UI angkatan 2025? Untuk menjawabnya, digunakan data sekunder berdesain potong lintang dari 399 mahasiswa baru UI angkatan 2025. Instrumen PASS (Perceived Academic Stress Scale) dipakai untuk menangkap persepsi stres akademik, sedangkan TFEQ-R18 (Three-Factor Eating Questionnaire-Revised 18) menangkap perilaku makan berisiko. Chi-square lebih dulu menguji hubungan kedua variabel secara bivariat; setelahnya regresi logistik masuk untuk mengendalikan delapan variabel lain sekaligus — jenis kelamin, rumpun fakultas, pendapatan orang tua, status gizi, aktivitas fisik, kualitas tidur, depresi, dan kecemasan. Dari 399 responden, 35,8% tergolong mengalami perilaku makan berisiko dan 31,8% melaporkan stres akademik tinggi. Uji bivariat memang menangkap hubungan bermakna antara keduanya (p = 0,013), tapi begitu delapan variabel perancu tadi dikendalikan, hubungan ini rontok — AOR turun ke 1,26 dengan interval kepercayaan 95% yang melebar dari 0,69 sampai 2,28, artinya secara statistik stres akademik gagal berdiri sendiri sebagai prediktor. Yang justru bertahan adalah faktor lain. Aktivitas fisik rendah meningkatkan risiko hampir dua setengah kali lipat (AOR 2,33; CI 1,33–4,10), status gizi kurus bahkan lebih besar lagi, hampir tiga setengah kali lipat (AOR 3,53; CI 1,56–7,98). Kecemasan tampil paling konsisten: risikonya naik seiring tingkat keparahan, dari kecemasan ringan (AOR 2,23; CI 1,28–3,91), sedang (AOR 2,49; CI 1,24–4,99), hingga berat yang risikonya melonjak empat kali lipat (AOR 4,03; CI 1,80–9,03). Pola ini menunjukkan sesuatu yang penting: stres akademik saja bukan penjelas yang cukup untuk perilaku makan berisiko pada mahasiswa baru. Begitu faktor-faktor lain diperhitungkan bersamaan, perannya memudar, dan kecemasanlah yang tampil sebagai faktor psikologis paling menentukan. Implikasinya cukup jelas bagi kampus: skrining kesehatan mental, terutama untuk kecemasan, layak masuk sebagai bagian dari program kesehatan mahasiswa baru, berdampingan dengan promosi gaya hidup sehat yang selama ini sudah berjalan.

First-year university students constitute a population vulnerable to academic stress, owing to the adaptation required by an unfamiliar environment and academic demands that differ markedly from secondary school. This stress is hypothesized to disrupt eating behavior regulation, thereby increasing the risk of risky eating behavior. This study aimed to examine the association between perceived academic stress and risky eating behavior among first-year students at Universitas Indonesia in 2025.This cross-sectional study used secondary data from 399 first-year students at Universitas Indonesia in 2025. Perceived academic stress was assessed using the Perceived Academic Stress Scale (PASS), while risky eating behavior was measured using the Three-Factor Eating Questionnaire-Revised 18 (TFEQ-R18). Bivariate associations were tested using the chi-square test, followed by multivariate logistic regression to adjust for sex, faculty cluster, parental income, nutritional status, physical activity, sleep quality, depression, and anxiety. Risky eating behavior was identified in 35.8% of respondents, and 31.8% reported high perceived academic stress. Bivariate analysis showed a significant association between perceived academic stress and risky eating behavior (p = 0.013); however, this association was no longer statistically significant after adjustment for confounding variables (AOR = 1.26; 95% CI: 0.69–2.28). Factors independently associated with risky eating behavior included low physical activity (AOR = 2.33; 95% CI: 1.33–4.10) and underweight nutritional status (AOR = 3.53; 95% CI: 1.56–7.98). Anxiety showed a consistent dose-response association across severity levels: mild (AOR = 2.23; 95% CI: 1.28–3.91), moderate (AOR = 2.49; 95% CI: 1.24–4.99), and severe (AOR = 4.03; 95% CI: 1.80–9.03). Perceived academic stress was not independently associated with risky eating behavior after adjusting for confounding variables. Anxiety emerged as the most dominant psychological factor associated with risky eating behavior. These findings suggest that prevention efforts targeting risky eating behavior among new students should incorporate mental health screening—particularly for anxiety—alongside the promotion of healthy lifestyle behaviors within campus health programs.
Read More
T-7579
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive