Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35068 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nesya Syahira; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Bambang Wispriyono, Didik Supriyono
Abstrak:
Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis dan utamanya menyerang paru-paru yang dikenal sebagai TB paru. Kota Bogor mengalami peningkatan kasus TB sejak 2020 dan di tahun 2022, TB menduduki peringkat ke-7 dalam data 10 penyakit terbesar di Puskesmas Cipaku Kecamatan Bogor Selatan. Tingginya kejadian TB di Puskesmas Cipaku dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan masyarakatnya yang 68% tinggal di daerah padat hunian karena dapat memperbesar risiko penularan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor risiko rumah sehat, karakteristik individu, dan perilaku hidup sehat terhadap kejadian TB paru di wilayah kerja Puskesmas Cipaku Kota Bogor tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kontrol dengan total sampel 84 responden kasus dan kontrol. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara dan pengukuran lingkungan. Analisis data yang dilakukan meliputi analisis univariat, analisis bivariat dengan uji kai kuadrat, dan analisis multivariat dengan regresi logistik berganda model faktor risiko. Hasil penelitian menunjukkan variabel yang berhubungan signifikan dengan kejadian TB paru adalah usia, jenis kelamin, status gizi, riwayat kontak dengan penderita TB paru, etika batuk dan bersin, status merokok, kebiasaan membuka jendela, kepadatan hunian, ventilasi, suhu, kelembapan, dan pencahayaan. Selain itu, diketahui 77,4% tempat tinggal responden merupakan rumah tidak sehat, sehingga status rumah sehat menunjukkan hubungan signifikan terhadap kejadian TB paru.

Tuberculosis is an infectious disease caused by a bacterial infection of Mycobacterium tuberculosis and primarily attacks the lungs, known as pulmonary TB. Bogor City has experienced an increasing in TB cases since 2020, and in 2022, TB ranked seventh among the top 10 diseases at Cipaku Health Center South Bogor District. The high incidence of TB in Puskesmas Cipaku may be influenced by the environmental conditions of the community, 68% of whom live in densely populated areas, which can increase the risk of transmission. This study aims to analyze the effect of healthy home factors, individual characteristics, and health behaviors on the incidence of pulmonary TB in the working area of Cipaku Health Center, Bogor City, in 2024. This study used a case-control study design with a total sample of 84 case and control respondents. Data were collected by interview and environmental measurement. Data analysis included univariate analysis, bivariate analysis using the chi-square test, and multivariate analysis using the multiple logistic regression risk factor model. The results showed that the variables significantly associated with the incidence of pulmonary TB were age, gender, nutritional status, history of contact with people with pulmonary TB, coughing and sneezing etiquette, smoking status, habit of opening windows, occupancy density, ventilation, temperature, humidity, and lighting. In addition, healthy housing status showed a significant association with the incidence of pulmonary TB. In addition, it was found that 77.4% of respondents residences were unhealthy homes, so that healthy home status showed a significant association with the incidence of pulmonary TB.
Read More
S-11609
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farras Putri Aulia; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Didik Supriyono
Abstrak:
Diare merupakan salah satu penyakit menular berbasis lingkungan yang menjadi peringkat kedua dalam penyebab kematian anak balita di dunia. Di Indonesia sendiri diare masih berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Berdasarkan data tahun 2023, Kabupaten Bogor memiliki prevalensi diare yang cukup tinggi dan berada diatas prevalensi nasional. Salah satu wilayahnya adalah wilayah kerja Puskesmas Leuwisadeng yang mengalami peningkatan kasus diare sebesar 318 kasus pada tahun 2023. Tujuan dari penelitian ini yakni menganalisis faktor risiko (karakteristik balita, karakterstik ibu, dan sarana sanitasi) dengan kejadian diare balita di wilayah kerja Puskesmas Leuwisadeng Kabupaten Bogor tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross-sectional dengan sampel sebanyak 103 responden. Analisis dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik model prediksi. Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan antara pendapatan keluarga (5,05; 1,10-23,20), perilaku pembuangan tinja balita (4,55; 1,81-11,42), sarana jamban sehat (4,35; 1,70-11,16), dan sarana air minum (3,49; 1,41-8,62). Variabel yang diprediksi paling berpengaruh terhadap kejadian diare balita di wilayah kerja Puskesmas Leuwisadeng adalah variabel perilaku pembuangan tinja balita (8,81; 2,72-28,50).

Diarrhea is one of the environmentally-based infectious diseases that ranks second in causing death among children under five worldwide. In Indonesia, diarrhea still has the potential to cause Outbreaks (KLB). According to data from 2023, Kabupaten Bogor has a fairly high prevalence of diarrhea, exceeding the national prevalence. One of its areas is the working area of the Puskesmas Leuwisadeng, which experienced an increase of 318 diarrhea cases in 2023. The purpose of this study is to analyze risk factors (toddler characteristics, maternal characteristics, and sanitation facilities) associated with the incidence of toddler diarrhea in the working area of Puskesmas Leuwisadeng Kabupaten Bogor in 2024. This study uses a cross-sectional design with a sample of 103 respondents. Analysis was conducted using chi-square tests and logistic regression predictive models. The results show a relationship between family income (5.05; 1.10-23.20), toddler feces disposal behavior (4.55; 1.81-11.42), healthy latrine facilities (4.35; 1.70-11.16), and drinking water facilities (3.49; 1.41-8.62). The variable predicted to have the most significant impact on the incidence of diarrhea in children under five in the working area of the Leuwisadeng Community Health Center is toddler feces disposal behavior (8.81; 2.72-28.50).
Read More
S-11712
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agit Christy Rehulina; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Zakianis, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular yang diakibatkan Mycobacterium tuberculosis. DKI Jakarta selalu menempati dua posisi teratas provinsi dengan jumlah kasus tuberkulosis di Indonesia pada tahun 2019-2021. Jakarta Timur menjadi kota yang memiliki kasus TB paru terbanyak di DKI Jakarta, serta kasus TB di Kecamatan Jatinegara merupakan jumlah yang paling tinggi di Kota Jakarta Timur. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis faktor risiko, yaitu karakteristik individu dan lingkungan dengan kejadian TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Jatinegara Jakarta Timur Tahun 2023. Penelitian menggunakan desain studi kasus kontrol dengan total sampel sebesar 70 responden dengan jumlah kasus pasien TB paru positif BTA dan suspek TB paru negatif BTA sebagai kontrol masing-masing sebesar 35 responden. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner dan pengukuran lingkungan. Analisis data yang dilakukan meliputi analisis univariat, analisis bivariat dengan uji kai kuadrat, dan analisis multivariat (regresi logistik). Hasil penelitian ini yang menunjukkan hubungan bermakna dengan kejadian TB paru adalah status gizi (23,27;5,84 – 92,69), riwayat TB paru keluarga (3,57;1,26 – 10,01), kepadatan hunian (5,05; 1,59 – 16,07), suhu (3,78;1,3 – 10,93), kelembaban (7,26; 2,54 – 21,34), dan ventilasi (4,79; 1,74 – 13,19). Faktor risiko yang paling dominan mempengaruhi kejadian TB paru adalah status gizi (16,87;3,45 – 82,35).

Pulmonary TB is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis. DKI Jakarta ranked top 2 province in Indonesia with most pulmonary TB case in 2019-2021. East Jakarta is the city in DKI Jakarta with most pulmonary TB case, Jatinegara is the sub district in East Jakarta with the highest TB case. The purpose of this research is to analyze risk factors, namely individual characteristic and environment with pulmonary tuberculosis in the work area of Jatinegara sub-district health center in 2023. This study used case control study design with a total sample of 70 respondents, with the number of BTA positive pulmonary TB patients as cases and BTA negative pulmonary TB suspects as controls was 35 respondents each. The data was collected through interview using questionnaire and environmental measurement. Data were analyzed using univariate analysis, bivariate analysis with chi-square test and multivariate analysis (logistic regression). The study’s result showed the variables that had a significant relationship with pulmonary TB were nutritional status (23,27;5,84 – 92,69), family history of pulmonary TB (3,57;1,26 – 10,01), household overcrowding (5,05; 1,59 – 16,07), temperature (3,78;1,3 – 10,93), humidity (7,26; 2,54 – 21,34), dan ventilation (4,79; 1,74 – 13,19). The most dominant risk factor influencing pulmonary TB are nutritional status (16,87;3,45 – 82,35).
Read More
S-11526
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiara Ananda; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:
Pneumonia adalah salah satu penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang menyerang alveoli dan disebabkan oleh bakteri, virus, dan jamur. Pneumonia menjadi penyakit utama yang membunuh anak dibawah usia lima tahun (balita). Kelurahan Ancol menunjukkan tren fluktuatif kasus pneumoniaa dan didominasi oleh permukiman padat, menjadikannya wilayah yang rentan terhadap penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor balita, perilaku anggota keluarga dan rumah dengan kejadian pneumonia pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Ancol. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kontrol dengan total sampel 36 responden. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara dan observasi lingkungan. Analisis data yang dilakukan meliputi analisis univariat, analisis bivariat, dan analisis multivariat. Hasil penelitian menunjukkan variabel usia memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian pneumonia dan menjadi faktor yang dipredisksi paling dominan mempengaruhi kejadian pneumonia. Puskesmas Kelurahan Ancol dapat meningkatkan penyuluhan rutin kepada keluarga balita mengenai pentingnya ventilasi dan pencahayaan alami rumah, bahaya asap rokok, dan asap dari obat nyamuk bakar. 


Pneumonia is one of the acute respiratory infections (ARI) that affect the alveoli and is caused by bacteria, viruses, or fungi. Pneumonia remains a leading cause of death among children under five years old. Kelurahan Ancol shows a fluctuating trend of pneumonia cases and is dominated by densely populated settlements, making it a vulnerable area for disease transmission. This study aims to analyze the relationship between child, family behavioral, housing conditions factors with the incidence of pneumonia among children under five in the working area of Puskesmas Kelurahan Ancol. A case-control study design was employed, involving a total of 36 respondents in both case and control groups. Data were collected through interviews and environmental observations. The analysis included univariate, bivariate, and multivariate approaches. The results revealed that age had a significant association with pneumonia incidence and was identified as the dominant predictive factor influencing its occurrence. Puskesmas Kelurahan Ancol can enhance routine health education for families with children under five regarding the importance of home ventilation and natural lighting, as well as the dangers of cigarette smoke and mosquito coil smoke. 
Read More
S-12068
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Rahayu Balebu; Pembimbing: Zakianis; Penguji: I Made Djaja, Laila Fitria, Didik Supriyono
T-4152
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Isna Nur Aeni; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Laila Fitria, Suci Rochayati
Abstrak:
Tuberkulosis (TBC) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Indonesia berada di peringkat kedua di dunia sebagai negara dengan jumlah angka kasus TBC terbanyak secara global. Berdasarkan laporan Puskesmas Cileungsi, angka kasus TBC pada tahun 2022 sebanyak 98 kasus dan meningkat pada tahun 2023 menjadi sebanyak 140 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian TBC BTA positif di wilayah kerja Puskesmas Cileungsi tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan sampel sebanyak 83 responden. Analisis yang dilakukan meliputi analisis univariat dan bivariat (chi square). Angka prevalensi kejadian TBC pada penelitian ini sebesar 33,7%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko yang memiliki hubungan signifikan terhadap kejadian TBC di wilayah kerja Puskesmas Cileungsi yaitu, jenis kelamin (OR=4), status ekonomi (OR=3), riwayat penularan (OR=4,43), dan suhu (OR=6,94). Oleh karena itu, kepada pihak Puskesmas Cileungsi disarankan untuk memberikan edukasi terkait rumah sehat, meningkatkan investigasi kontak serumah, dan menjalankan bantuan program rumah sehat dengan pihak terkait. Masyarakat juga disarankan untuk rajin melakukan hidup bersih dan sehat, membuka jendela di pagi hari, dan memakai masker, khususnya bagi penderita TBC aktif untuk meminimalkan penularan. 

Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis. Indonesia is ranked second in the world as the country with the highest number of TB cases globally. Based on the Cileungsi Health Center report, the number of TB cases in 2022 will be 98 cases and will increase in 2023 to 140 cases. This study aims to analyze factors related to the incidence of positive smear TB in the Cileungsi Community Health Center work area in 2024. This study used a cross-sectional study design with a sample of 83 respondents. The analysis carried out included univariate and bivariate analysis (chi square). The prevalence rate of TB in this study was 33.7%. The results of the study showed that the risk factors that had a significant relationship to the incidence of TB in the Cileungsi Community Health Center working area were, gender (OR=4), economic status (OR=3), history of transmission (OR=4.43), and temperature (OR =6.94). Therefore, it is recommended that the Cileungsi Community Health Center provide education regarding healthy homes, increase household contact investigations, and carry out healthy home program assistance with related parties. The public is also advised to diligently practice clean and healthy living, open windows in the morning, and wear masks, especially for active TB sufferers to minimize transmission
Read More
S-11837
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arifa Rahma Izzati; Pembimbing: R. Budi Hartono; Penguji: Umar Fahmi Achmadi, Daniek Suryaningdiah
Abstrak: Tuberkulosis paru atau TB paru adalah adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini menular dari satu orang ke orang lain melalui droplet yang ditransmisikan melalui udara. Tingginya angka kasus penyakit TB dapat disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah faktor lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor kepadatan penduduk, cakupan rumah sehat, serta iklim (suhu udara, kelembaban udara, dan curah hujan) terhadap angka proporsi kasus TB paru BTA Positif di Kota Surabaya pada tahun 2015-2019. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Badan Pusat Statistika dan Dinas Kesehatan Kota Surabaya dengan metode studi ekologi time trend dan analisis spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara variabel kepadatan penduduk (p = 0,000; r = 0,308), cakupan rumah sehat (p = 0,000; r = -0,363), serta kelembaban udara pada lag time 1 tahun (p = 0,014; r = 0,949) dengan proporsi TB paru BTA positif. Sementara untuk faktor suhu udara serta curah hujan menunjukkan hubungan yang tidak signfikan dengan proporsi TB paru BTA Positif. Berdasarkan peta analisis spasial, didapatkan pola yang jelas bahwa angka proporsi yang tinggi terdapat pada wilayah kecamatan yang memiliki cakupan rumah sehat yang rendah, namun pada faktor kepadatan penduduk tidak terlihat pola yang jelas. Oleh karena itu, disarankan untuk dilakukan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit TB paru terutama pada wilayah kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi dan juga melalui upaya pengembangan rumah sehat yang optimal.
Pulmonary tuberculosis or pulmonary TB is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis. This disease is transmitted from one person to another through droplets that are transmitted through the air. The high number of TB cases can be caused by various factors, one of which is environmental factors. This study aims to determine the relationship between population density, healthy housing coverage, and climate factors (air temperature, relative humidity, and rainfall) to the proportion smear-positive pulmonary TB cases in Surabaya city in 2015-2019. This study uses secondary data from the Central Bureau of Statistics and the Surabaya City Health Office with time trend ecological study methods and spatial analysis. The results showed that there was a significant relationship between population density (p = 0.000; r = 0.308), healthy house coverage (p = 0.000; r = -0.363), and humidity at a 1 year lag time (p = 0.014; r = 0.949) with the proportion of smear-positive pulmonary TB. Meanwhile, the air temperature and rainfall factors showed a non-significant relationship with the proportion of smear-positive pulmonary TB. Based on the spatial analysis map, a clear pattern is found that the high proportion is found in sub-districts that have low coverage of healthy homes, but on the population density factor there is no clear pattern. Therefore, it is recommended to prevent and control pulmonary TB disease, especially in sub-districts that have a high population density and also through efforts to develop optimal healthy homes.
Read More
S-11020
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irwan Agus Timur Ginting; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Ririn Arminsih, Oki Kurniawan
Abstrak: Pneumonia menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia dan Provinsi Jawa Barat menempati urutan pertama sebagai provinsi dengan jumlah balita penderita pneumonia terbanyak. Puskesmas Bogor Utara merupakan salah satu daerah yang memiliki kasus pneumonia pada balita yang cukup banyak di tahun 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko pneumonia balita di wilayah kerja Puskesmas Bogor Utara. Penelitian menggunakan desain studi case control dengan pendekatan retrospektif. Populasi penelitian adalah balita usia 12- 59 bulan yang berada di wilayah kerja Puskesmas Bogor Utara dengan sampel sebanyak 94 responden terdiri dari 47 orang kasus dan 47 orang kontrol. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara berat lahir balita (OR=5,51 ; CI=1,96- 15,48 ); status gizi sebelum sakit (OR=5,06; CI=2,10-12,20); riwayat imunisasi (OR= 4,24; 1,50-11,98); pendidikan ibu (OR=4,76; CI=1,58-14,32; tingkat ekonomi/penghasilan keluarga (OR=9,44 ; CI= 3,57-24,93); kepadatan hunian (OR=18,97; CI=5,80-62,03), dan tingkat kelembaban ruang tidur balita (OR=5,02; CI=1,31-19,21) terhadap kejadian pneumonia pada balita di wilayah Puskesmas Bogor Utara. Variabel yang diprediksi paling dominan mempengaruhi kejadian pneumonia pada balita adalah kepadatan hunian ruang tidur balita (OR=12,90; CI=3,26-50,98). Saran, luas kamar tidur minimal 8 m2 tidak digunakan untuk lebih dari 2 orang, kecuali anak di bawah 5 tahun.

Kata Kunci : Pneumonia, Balita, Faktor Risiko

Pneumonia has become one of the highest mortality contributors in the world and And West Java province ranks the first as the largest number of pneumonia that suffered children under five years. Puskesmas Bogor Utara(health center) is one of the areas that have quite a lot cases of pneumonia in children under five in 2016. This study aimed to determine the risk factors associated with the incidence of pneumonia in children under five in the In The Working Area Of Puskesmas Bogor Utara (Community Health Center). This study uses a case control study design with retrospect approach. The population in this study are all of children aged 12 month until 59 months who lived in the working area of Bogor Utara health center with using 94 respondents consisted of 47 cases and 47 people control.The results of this study indicate that there was a significant correlation between history of low birth weight (OR = 5,51; CI=1,96-15,48 ); nutritional status before illness (OR=5,06; CI=2,10-12,20), immunization history (OR= 4,24; 1,50-11,98), knowledge of mothers (OR=4,76; CI=1,58-14,32), a variable degree of Economics/family income (OR=9,44 ; CI= 3,57-24,93), housing crowdedness (OR=18,97; CI=5,80-62,03) and humidity levels (OR=5,02; CI=1,31-19,21) with the incidence of pneumonia among children under five in the region of Bogor Utara health center. The variable that predicted the most dominant cause of pneumonia is the housing crowdedness (OR=12,90; CI=3,26-50,98).Suggestion, minimum bedroom space is 8m2 and should not be used for more than two people, except children under 5 years old.

Key Words: Pneumonia, Children under five years old, Risk Factors
Read More
S-9372
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Azkiya Zulfa; Pembimbning: I Made Djaja; Penguji: Renti Mahkota, Farida
Abstrak: Kejadian diare terbanyak di Kota Bogor terjadi di Kecamatan Tanah Sareal dimana kondisi sanitasi yang berkaitan dengan air minum berisiko tinggi terdapat di Kelurahan Sukadamai dan Mekarwangi yang termasuk ke dalamwilayah kerja puskesmas Mekarwangi Kota Bogor. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian diare pada balita diwilayah kerja puskesmas Mekarwangi Kota Bogor tahun 2014. Disain penelitian yang digunakan adalah case control dengan jumlah kasus 120 dan jumlah kontrol120. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan pemeriksaan laboratorium sampel air minum. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang berpengaruh terhadap kejadian diare pada balita adalah Escherichiacoli dalam air minum (OR=2,61; 95% CI= 1,32-6,76), perilaku cuci tangan ibuatau pengasuh (OR=2,05; 95% CI= 1,18-3,57), hygiene sanitasi makanan danminuman (OR=2,53; 95% CI= 1,46-4,39) dan pengetahuan ibu atau pengasuh(OR=1,83; 95% CI= 1,01-3,31). Perlu dilakukan upaya pencerdasan kepada masyarakat berupa penyuluhan baik secara langsung maupun tidak langsung melalui media cetak seperti poster, pamflet dan lain sebagainya.
Kata kunci: Diare, balita
The highest incidence of diarrhea in Bogor occurred at Tanah Sarealdistrict where the condition of basic sanitation associated with high risk drinkingwater in Kelurahan Sukadamai and Kelurahan Mekarwangi which belong toPuskesmas Mekarwangi region. This study aims to analyze risks that affectedunderfive years children diarrhea in region of Puskesmas Mekarwangi, Bogor2014. This study used case control design with 120 controls and 120 cases. Theinformation collected by interviews, observation and laboratorium analyze ofdrinking water sample. Result that risk factors that affected diarrhea areEscherichia coli in drinking water (OR=2,61; 95% CI= 1,32-6,76), handwashingbehavior (OR=2,05; 95% CI= 1,18-3,57), hygiene sanitation of food and drink(OR=2,53; 95% CI= 1,46-4,39) and also knowledge of mother about diarrhea(OR=1,83; 95% CI= 1,01-3,31). It should be held an interventions direct orindirectly toward the residents, by printed media,e.g. poster, pamphlet, bulletin,xbanner etc.
Keyword: Diarrhea, underfive years children
Read More
S-8168
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mida Arafina Nurdita; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Budi Hartono, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: Penyakit Diare merupakan penyakit menular dan menempati urutan kedua penyebab kematian anak balita di dunia. Di Indonesia, khususnya Jawa Barat adalah wilayah endemis untuk diare, Kabupaten Bogor merupakan salah satu kabupaten dengan prevalensi diare balita yang cukup tinggi. Puskesmas Purwasari merupakan puskesmas dengan kasus diare balita tertinggi di Kabupaten Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko (karakteristik balita, karakteristik ibu, dan sarana sanitasi) kejadian diare balita di Wilayah Kerja Puskesmas Purwasari Kabupaten Bogor tahun 2022. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kasus-kontrol dengan sampel 53 kasus dan 53 kontrol. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik model prediksi. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pemberian ASI Eksklusif (0,28; 0,11-0,67), pemberian imunisasi campak (0,18; 0,08-0,42), pengetahuan (0,16; 0,07-0,38), perilaku pembuangan tinja balita (0,18; 0,07-0,46), dan sarana jamban (0,32; 0,14-0,72) dengan kejadian diare pada balita. Variabel yang diprediksi paling berpengaruh terhadap terjadinya diare balita di wilayah kerja Puskesmas Purwasari adalah variabel pengetahuan (9,76; 2,78 - 34,21).
Diarrhea is an communicable disease and ranks the second cause of death for children under-five in the world. In Indonesia, especially West Java, which is an endemic area for diarrhea, Bogor is one of the districts with a fairly high prevalence of diarrhea in children under-five. Purwasari Community Health Center is a health center with the highest cases of diarrhea in children under-five in Bogor Regency. This study aims to analyze the risk factors (characteristics of children under-five, characteristics of mothers, and sanitation facilities) for the incidence of diarrhea in children under-five in the Purwasari Public Health Center, Bogor Regency in 2022. This study used a case-control research design with a sample of 53 cases and 53 controls. Data analysis was performed using chi-square test and logistic regression predictive model. The results showed that there was a relationship between exclusive breastfeeding (0,28; 0,11-0,67), measles immunization (0,18; 0,08-0,42), knowledge (0,16; 0,07-0,38), toddler stool disposal behavior (0,18; 0,07-0,46), and latrine facilities (0,32; 0,14-0,72) with the incidence of diarrhea in children under-five. The variable that is predicted to have the most influence on the occurrence of diarrhea under five in the working area of the Purwasari Health Center is the knowledge variable (9,76; 2,78 - 34,21).
Read More
S-11139
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive