Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40915 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Alifa Ayuni Prasetyo; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Ema Hermawati, Muhammad Riedha
Abstrak:
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang dapat menghambat kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Tujuan utama dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan higiene dan sanitasi terhadap stunting dengan mempertimbangkan faktor individu balita dan faktor keluarga pada anak berusia bawah lima tahun (0-60 bulan) atau balita di Kelurahan Bidara Cina, Jakarta Timur tahun 2024. Penelitian ini menggunkan desain cross-sectional dengan jumlah sampel sebanyak 126 responden. Penelitian ini menggunakan data primer melalui observasi dan wawancara. Hasil analisis bivariat menunjukkan stunting berhubungan signifikan dengan higiene dan sanitasi (mencuci tangan dengan sabun (p-value = 0,01 & OR = 9,828); kepemilikan jamban pribadi (p-value = <0,001 & OR = 9,750); dan kualitas fisik air (p-value = <0,001 & OR = 4,713)); faktor individu balita (usia balita 49-60 bulan (p-value = <0,001 & OR = 0,350) dan riwayat penyakit atau infeksi (p-value = <0,001 & OR = 4,631)); serta faktor keluarga (sosial ekonomi keluarga (p-value = 0,003 & OR = 6,00) dan perilaku merokok keluarga (p-value = 0,004 & OR = 4,245)). Kesimpulan dari penelitian ini adalah berdasarkan analisis multivariat (uji Multiple Logistic Regression), terdapat hubungan signifikan antara variabel kepemilikan jamban (p-value = 0,004 & OR = 5,068) dan usia balita rentang 49–60 bulan (p-value = 0,011 & OR = 1,528) dengan stunting. Dua variabel tersebut menyumbangkan 33,2% kasus kejadian stunting pada balita di Kelurahan Bidara Cina, Jakarta Timur tahun 2024.

Stunting is a condition of impaired growth in toddlers due to chronic malnutrition, particularly during the first 1000 days of life, which can decrease the quality of human resources in Indonesia. The main objective of this study was to determine the relationship between hygiene and sanitation towards stunting, considering individual and family factors in children under five years old (0-60 months) in Bidara Cina Village, East Jakarta, in 2024. This study used a cross-sectional design with 126 respondents. This study collected primary data through observation and interviews. The bivariate analysis results showed that stunting was significantly associated with hygiene and sanitation practices (handwashing with soap (p-value = 0,01 & OR = 9,828); ownership of personal toilet facilities (p-value = < 0,001 & OR = 9,750); and physical quality of water (p-value = < 0,001 & OR = 4,713)); individual factors of toddlers (age 49-60 months (p-value = < 0,001 & OR = 0,350) and history of illness or infection (p-value = < 0,001 & OR = 4,631)); and family factors (family socioeconomic status (p-value = 0,003 & OR = 6,00) and family smoking behavior (p-value = 0,004 & OR = 4,245)). The conclusion of this study is based on multivariate analysis (Multiple Logistic Regression test) that there was a significant relationship between the variables of toilet ownership (p-value = 0,004 & OR = 5,068) and the age range of 49-60 months (p-value = 0,011 & OR = 1,528) with stunting. Those two variables contributed to 33,2% of stunting cases among toddlers in Bidara Cina Subdistrict, East Jakarta, in 2024.
Read More
S-11759
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Patience Mia Chiotha; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Budi Hartono, Laila Fitria, Save Kumwenda, ria Kusuma
Abstrak:
Diare pada anak masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting di Malawi. Survei Demografi dan Kesehatan Malawi (MDHS) tahun 2015–2016 dan 2024 sama-sama melaporkan prevalensi diare sekitar 22%, yang menunjukkan belum adanya penurunan yang berarti selama satu dekade terakhir. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara faktor air, sanitasi, dan higiene rumah tangga (WASH) dengan diare pada anak balita di Malawi. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan data Malawi Demographic and Health Survey (MDHS) 2024, yang mencakup 23.070 rumah tangga dan 12.312 anak balita. Setelah penerapan kriteria inklusi dan eksklusi, sebanyak 11.514 anak balita diikutsertakan dalam analisis. Analisis dilakukan menggunakan Complex Samples Logistic Regression (CSLOGISTIC) dengan mempertimbangkan faktor anak, ibu, rumah tangga, dan geografis.Prevalensi diare dalam dua minggu terakhir adalah 22,4%. Akses terhadap sumber air minum layak tergolong tinggi, namun cakupan sanitasi layak, pengolahan air minum rumah tangga, dan fasilitas cuci tangan dengan sabun dan air masih rendah. Setelah penyesuaian, sanitasi tidak layak dan tidak adanya pengolahan air minum rumah tangga berhubungan dengan peningkatan peluang diare pada anak. Usia anak, usia ibu, pendidikan ibu, dan status pekerjaan ibu juga berhubungan signifikan dengan kejadian diare. Hubungan antara sanitasi dan diare lebih kuat pada anak yang tinggal di daerah perdesaan dibandingkan daerah perkotaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan sanitasi, pengolahan air minum rumah tangga, dan intervensi yang berfokus pada kelompok rentan berpotensi mengurangi beban diare pada anak di Malawi.

Childhood diarrhoea remains a major public health problem among children under five years of age in Malawi. The Malawi Demographic and Health Surveys (MDHS) 2015–2016 and 2024 both reported a diarrhoea prevalence of approximately 22%, indicating limited progress in reducing the burden of the disease over the past decade. This study examined the association between household water, sanitation, and hygiene (WASH) factors and childhood diarrhoea among children under five years of age in Malawi. A cross-sectional study was conducted using data from the 2024 Malawi Demographic and Health Survey, which surveyed 23,070 households and identified 12,312 children under five years of age. After applying the inclusion and exclusion criteria, 11,514 children were included in the analysis. Complex Samples Logistic Regression (CSLOGISTIC) was used to assess the association between household WASH factors and childhood diarrhoea while accounting for child, maternal, household, and geographic factors. The two-week prevalence of childhood diarrhoea was 22.4%. Access to improved drinking water sources was high, but coverage of improved sanitation facilities, household water treatment, and handwashing facilities with soap and water remained low. After adjustment, unimproved sanitation facilities and lack of household water treatment were independently associated with higher odds of childhood diarrhoea. Child age, maternal age, maternal education, and maternal employment status were also significant predictors. The association between sanitation facilities and childhood diarrhoea was stronger among rural children than among urban children. Childhood diarrhoea remains a persistent public health challenge in Malawi. Improving sanitation infrastructure, promoting household water treatment, and strengthening interventions targeting vulnerable children and mothers may contribute to reducing the burden of childhood diarrhoeal disease.
Read More
T-7672
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Uli Rohati Siregar; Pembimbing: Dewi Susanna, Ema Hermawati; Penguji: Budi Hartono, Ridho S. Yudyantoro, Agus Sudarman
Abstrak: Disarankan untuk melakukan tindakan penyehatan lingkungan dengan mengurangi kepadatan lalat di sekitar rumah dengan melenyapkan tempat-tempat pembiakan lalat baik secara fisik, biologi maupun kimia. Selain itu penyediaan sarana sanitasi yang layak dan peningkatan pengetahuan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Read More
T-5634
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahma Yunita; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Budi Haryanto, Agustin
Abstrak:
Keamanan pangan pada makanan siap saji merupakan aspek penting dalam pencegahan foodborne disease. Pangan yang aman harus terbebas dari cemaran biologis seperti Escherichia coli serta Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Kontaminasi B3 dapat menyebabkan gangguan kesehatan akibat paparan zat kimia, sedangkan Escherichia coli dapat memicu penyakit bawaan pangan akibat cemaran biologis. DKI Jakarta sebagai wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi dan perkembangan usaha kuliner yang pesat memiliki risiko keamanan pangan yang kompleks. Pada tahun 2023, DKI Jakarta menjadi provinsi dengan kasus keracunan makanan tertinggi di Indonesia yaitu sebanyak 370 kasus (31,78%), serta terjadi peningkatan kasus diare sebesar 3,35% pada tahun 2024. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan sanitasi dan perilaku higiene penjamah terhadap keamanan pangan pada gerai makanan siap saji di Lima Kota Administrasi DKI Jakarta tahun 2023. Penelitian menggunakan pendekatan observasional analitik dengan menggunakan data sekunder dari Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Jakarta. Sampel penelitian berjumlah 138 gerai makanan siap saji. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 76,8% gerai memenuhi syarat keamanan pangan. Faktor risiko yang paling banyak tidak memenuhi syarat adalah higiene penjamah (86,2%), metode pencucian alat makan dan masak (84,8%), tempat sampah (76,1%), dan penggunaan sumber air bersih non-perpipaan (55,1%). Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan (p-value >0,05) antara seluruh faktor higiene penjamah dan sanitasi dengan keamanan pangan. Meskipun demikian, penerapan higiene dan sanitasi pangan tetap perlu ditingkatkan untuk mencegah risiko cemaran biologis maupun kimia pada makanan siap saji.

Food safety in ready-to-eat foods is a crucial component in the prevention of foodborne diseases. Safe food must be free from biological contaminants, such as Escherichia coli, as well as hazardous and toxic substances (B3). Exposure to hazardous chemicals in food may lead to adverse health effects due to chemical toxicity, whereas contamination by Escherichia coli may result in foodborne illnesses caused by biological hazards. DKI Jakarta, characterized by its high population density and rapid growth of the culinary industry, faces increasingly complex food safety challenges. In 2023, DKI Jakarta recorded the highest number of food poisoning cases in Indonesia, totaling 370 cases (31.78%), accompanied by a 3.35% increase in diarrhea cases in 2024. This study aimed to analyze the association between sanitation and food handler hygiene behavior and food safety among ready-to-eat food stalls across the Five Administrative Cities of DKI Jakarta in 2023. An analytical observational study was conducted using secondary data obtained from the Center for Public Health Laboratory (BBLKM) Jakarta. The study involved 138 ready-to-eat food stalls as research samples. Data analysis was performed using univariate and bivariate methods with the chi-square test. The findings indicated that 76.8% of food stalls met food safety standards. The most prevalent risk factors that failed to meet the required standards included food handler hygiene (86.2%), washing practices of eating and cooking utensils (84.8%), waste bin conditions (76.1%), and the use of non-piped clean water sources (55.1%). Statistical analysis demonstrated no significant association (p-value >0.05) between sanitation and food handler hygiene factors and food safety. Nevertheless, strengthening food hygiene and sanitation practices remains essential to minimize the risk of biological and chemical contamination in ready-to-eat foods.
Read More
S-12246
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Emilia Annisa; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Ema Hermawati, Wakhyono Budianto
Abstrak:
Depot Air Minum (DAM) merupakan tempat usaha untuk melakukan pengolahan air baku menjadi air minum atau biasa disebut dengan Air Minum Isi Ulang (AMIU). AMIU banyak dijadikan alternatif sebagai pemenuhan kebutuhan air minum dimasyarakat. Namun, tidak semua DAM terjamin produknya, terutama dari ancaman kontaminasi biologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas bakteriologis AMIU berdasarkan keberadaan E.coli dan mengetahui gambaran higiene sanitasi Depot Air Minum (DAM) di Kelurahan Aren Jaya Bekasi Timur tahun 2018. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional. Sampel penelitian berasal dari seluruh DAM dan AMIU hasil produksi DAM di Kelurahan Aren Jaya dengan jumlah 23 DAM. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi menggunakan lembar formulir penilaian laik higiene sanitasi DAM. Keberadaan E.coli dalam sampel air diketahui melalui pengujian di laboratorium menggunakan metode MPN E.coli. Diketahui sebanyak 14 (60.9%) DAM telah memenuhi syarat pada variabel Tempat. Semua DAM (100%) telah memenuhi syarat pada variabel Peralatan produksi dan variabel Peralatan sterilisasi. Hanya terdapat 1 (4.3%) DAM yang memenuhi syarat pada variabel Higiene penjamah. Semua AMIU bebas dari kontaminasi bakteri E.coli. Terdapat 20 dari 23 sampel DAM yang dinyatakan memenuhi syarat higiene sanitasi. Sedangkan DAM kode M, O, dan R tidak memenuhi syarat dalam aspek higiene sanitasi. Semua AMIU hasil produksi DAM memenuhi syarat untuk diminum berdasarkan analisis kualitas bakteri E.coli. Perlu dilakukan peningkatan terhadap aspek sanitasi tempat dan higiene penjamah, serta pemenuhan fasilitas yang mendukung kegiatan higiene sanitasi DAM.

Water Refill station is a place of business to process raw water into drinking water or commonly known as Refill Drinking Water. Refill drinking water is widely used as an alternative of drinking water in the community. However, not all Water Refill station products are guaranteed, especially from the threat of biological contamination. This research aims to determine the bacteriological quality of Refill drinking water based on the presence of E.coli and to description of the sanitation hygiene of the Water Refill station in Aren Jaya Village, East Bekasi in 2018. This research used a descriptive observational method. Samples came from all Water Refill station and water produced by Water Refill stations in Aren Jaya Village with a total of 23. Data collection is carried out through observation using form sheet of hygiene sanitary Water Refill Station. The presence of E.coli in water samples was determined through laboratory testing using the MPN E.coli method. It is known that 14 (60.9%) DAMs have fulfilled the requirements for the place variable. All Water Refill stations (100%) fulfilled the requirements for the variable Production Equipment and Sterilization Equipment Variables. There was only 1 (4.3%) Water Refill station that met the requirements for handler hygiene. All Refill Drinking Water are free from contamination by E.coli bacteria. There were 20 out of 23 samples of DAM that met the sanitation hygiene requirements. Whereas Water Refill Station codes M, O, and R do not meet the requirements in terms of sanitation hygiene. All Refill Drinking Water produced by Water Refill station meet the requirements for drinking based on an analysis of the quality of E.coli bacteria. It is necessary to improve the aspects of place sanitation and handler hygiene, as well as the fulfillment of facilities that support Water Refill Station sanitation hygiene activities.
Read More
S-11431
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Prima Gita Pradapaningrum; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Dewi Susanna, Margareta Maria Sintorini Moerdjoko
Abstrak:
Tengkes (stunting) merupakan salah satu permasalahan gizi kurang pada balita yang ada di Indonesia. Pengelolaan sampah yang belum maksimal di TPA dapat menimbulkan pencemaran sanitasi lingkungan yang menjadi faktor penyebab tidak langsung tengkes (stunting) dan perilaku hidup bersih yang kurang. TPA Cipeucang menjadi satu-satunya TPA untuk wilayah Tangerang Selatan dengan 2 kelurahan yang berada dekat dengan TPA mengalami kenaikan kasus tengkes (stunting) pada tahun 2021-2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan sanitasi dasar rumah sehat dan personal higiene rumah tangga dengan kejadian tengkes tengkes (stunting) pada balita di pemukiman sekitar TPA Cipeucang Kota Tangerang Selatan. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional melalui pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh balita yang ada di pemukiman sekitar TPA meliputi 2 Kelurahan dengan 4 RT dan 2 RW. Sampel penelitian berjumlah 86 dengan menggunakan teknik total dan purposive sampling. Penelitian dilaksanakan bulan April hingga Juni 2023. Analisis data menggunakan univariat, bivariat (uji Chi Square) dan multivariat (uji regresi logistik). Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan antara sarana air minum dengan tengkes (stunting) (p=0,05, POR=1,89) dan menjadi faktor dominan penyebab tengkes (stunting) (p=0,054). Sedangkan sarana air bersih (p=0,374, POR=1,44), sarana jamban (p=0,613, POR=1,22), sarana pembuangan air limbah (p=1,000, POR=1,54), kebersihan kulit (p=1,000, POR=1,24) serta kebersihan kuku dan tangan (p=0,625, POR=1,22) tidak berhubungan dengan tengkes (stunting) namun berpotensi menjadi risiko tengkes (stunting). Sarana pengelolaan sampah padat rumah tangga (p=0,310) tidak ada hubungan dengan tengkes (stunting) dan bukan merupakan faktor risiko. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah sarana sanitasi dasar air minum memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian tengkes (stunting) dan menjadi faktor dominan yang mempengaruhi kejadian tengkes (stunting) pada balita di pemukiman sekitar TPA Cipeucang Kota Tangerang Selatan Tahun 2023.

Stunting is one of malnutrition problems towards toddlers in Indonesia. Environmental sanitation has an important role against stunting. Waste management that has not been maximized at landfill can cause environmental sanitation pollution and lack of healthy hygiene behavior. Cipeucang Landfill is the only landfill for South Tangerang City with 2 sub-districts that are close to the landfill and have an increase stunting case in 2021-2022. This study aims to determine the relationship between basic healthy home sanitation and household personal hygiene with stunting case towards toddlers in settlements around Cipeucang Landfill, Tangerang Selatan City. This type of research is observational analytic through a cross sectional approach. The study population was all toddlers in settlements around Cipeucang Landfill with 2 Sub-Districts (4 RTs and 2 RWs). The research sample was 86 using a total and purposive sampling technique. The research was conducted from April to June 2023. Data analysis used univariate, bivariate (Chi Square test) and multivariate (logistic regression test). The results showed that there was relation between drinking water facilities and stunting (p=0.05, POR=1.89) and became a dominant factor causing stunting (p=0.054). While clean water facilities (p=0.374, POR=1.44), latrines (p=0.613, POR=1.22), waste water disposal facilities (p=1.000, POR=1.54), skin hygiene (p=1.000, POR=1.24) and hand and nail hygiene (p=0.625, POR=1.22) were not related to stunting but were potentially a risk of stunting. Household solid waste management facilities (p=0.310) have no relation with stunting and is not a risk factor. The conclusion in this study is basic sanitation facility for drinking water has a significant relationship with stunting case and is the dominant factor influencing stunting case towards toddlers in the settlements around TPA Cipeucang, South Tangerang City, 2023.
Read More
T-6751
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hera Agustina; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Laila Fitria, Dewi Susanna, Yasni Rufaidah, Rini Sekartini
T-2720
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Safira Aisyah; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Susilo Heni Setyaningsih
Abstrak:
Rumah makan sebagai salah satu jenis TPP Olahan Siap Saji merupakan sarana produksi pengelolaan pangan. Untuk menjamin kebersihan dan keamanan pangan, dalam proses produksinya rumah makan harus melakukan higiene sanitasi sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui penerapan higiene sanitasi yang dilakukan pada rumah makan di Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi. Pengumpulan data untuk penelitian ini dilakukan dengan observasi menggunakan lembar observasi dan wawancara dengan kuesioner. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 4 rumah makan golongan A1 yang tersebar di kelurahan yang berada di Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi tidak memenuhi persyaratan kesehatan dan prinsip higiene sanitasi sesuai dengan acuan peraturan yang berlaku.

Restaurants as one type of ready-to-eat food processing place is one of the food management production facilities. To ensure food hygiene and safety, in the production process, restaurants must implement food hygiene sanitary according to the regulation of The Minister of Health number 2 of 2023. This study aims to determine the application of food hygiene sanitary carried ot in restaurants in East Bekasi sub-district, Bekasi City. Data collection for this study was carried out by observation using observation sheets and interviews with questionnaires. The result of this study show that of the 4 class A1 restaurants scattered in the East Bekasi sub-district area, Bekasi City does not meet the health requirements and sanitary hygiene principles by applicable regulatory references.
Read More
S-11633
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mohammad Ihsan; Pembimbing: Haryoto Kusno Putranto; Penguji: Al Asyary, Widya Utami
Abstrak:
Higiene dan sanitasi dasar yang tidak memadai dapat menjadi salah satu faktor risiko penyakit menular lingkungan seperti diare. Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang paling banyak ditemui di daerah pesisir seperti di Kelurahan Pulau Harapan. Selain higiene dan sanitasi, lantai yang merupakan bagian dari bangunan rumah, dapat menjadi faktor risiko lain dari penularan penyakit diare. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kondisi higiene dan sanitasi dasar serta kondisi lantai rumah dengan kejadian diare di Kelurahan Pulau Harapan, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta Desain studi yang digunakan adalah pada penelitian ini adalah cross-sectional, dengan metode pengambilan data berupa wawancara menggunakan instrumen kuesioner dan observasi langsung pada kondisi higiene dan sanitasi dasar serta kondisi lantai rumah rumah tangga penduduk. Dari total 96 responden pada penelitian ini, ditemukan kasus kejadian diare dalam sebulan terakhir, sebanyak 25 orang dan yang tidak mengalami kasus kejadian diare sebanyak 71 orang. Dengan kelompok anak-anak (dibawah 17 tahun) menjadi yang terbanyak yaitu berjumlah 13 kasus. Hasil analisis uji chi square menyatakan bahwa, terdapat hubungan yang signifikan pada variabel: jamban sehat (p-value 0,005), kualitas air (fisik) (p-value 0,005), dan fasilitas tempat sampah (p-value 0,019). Penentuan variabel yang paling dominan terhadap kejadian diare menggunakan uji regresi logistik didasarkan dari nilai Exp (B) atau Odds Ratio pada pemodelan multivariat akhir, yang terbesar adalah 6,389 pada variabel kondisi jamban (p-value 0,002), sehingga variabel kondisi jamban memiliki kecenderungan paling dominan yang berhubungan dengan penyakit diare. Dari penelitian ini, diharapkan pemerintah dan masyarakat dapat berkolaborasi untuk saling memperhatikan kebersihan lingkungan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Kemudian, untuk penelitian selanjutnya dapat menggali lebih dalam terkait variabel lain yang mungkin berhubungan dengan kejadian diare di pulau lainnya dalam wilayah Kecamatan Kepulauan Seribu Utara.

Inadequate basic hygiene and sanitation can be a risk factor for environmental infectious diseases such as diarrhea. Diarrhea is one of the diseases most commonly found in coastal areas such as Pulau Harapan Village. Apart from hygiene and sanitation, the floor which is part of the house building, can be another risk factor for transmitting diarrheal diseases. This study aims to determine the relationship between basic hygiene and sanitation conditions and the condition of house floors with the incidence of diarrhea in Harapan Island Village, North Seribu Islands District, Seribu Islands Administrative Regency, DKI Jakarta Province. The study design used in this research is cross-sectional, with data collection methods in the form of interviews using questionnaire instruments and direct observation of basic hygiene and sanitation conditions as well as the condition of the floors of residents' households. The number of total respondent in this research (96), 25 people found cases of diarrhea in the last month and 71 people did not experience cases of diarrhea. Children (under 17 years) are the most group by age (13 cases) found cases of diarrhea. The research analysis with chi square test stated that there was a significant relationship with the variables: healthy latrines (p-value 0.005), water quality (physical) (p-value 0.005), and waste bin facilities (p-value 0.019). Determining the most dominant variable in the incidence of diarrhea using the logistic regression test was based on the Exp (B) or Odds Ratio score in the final multivariate modeling, the biggest score was 6.389 in the latrine condition variable (p-value 0.002), that conclude the latrine condition variable is the most dominant to the relationship of diarrhea case. From this research, hopefully the government and the people can collaborate to pay attention to environmental cleanliness to improve the level of public health in Kelurahan Pulau Harapan. Then, for further research, hopefully other researcher can dig deeper into other variables that may be related to the incidence of diarrhea on other islands in North Seribu Islands District.
Read More
S-11580
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rilla Fahimar; Pembimbing: Dewi Susana; Penguji: Sri Tjahyani Budi Utami, Endah Kusumowardani
Abstrak: Pneumonia merupakan penyakit mematikan nomor satu di dunia dengan prevalensi 44%. Di Indonesia, pneumonia balita merupakan penyebab kematian nomor dua setelah diare dengan proporsi 15,5%. Pneumonia merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan bakteri yang dipengaruhi oleh pencemar fisik dankimia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kualitas udara rumah dengan kejadian pneumonia balita dengan metode cross sectional. Hasil penelitian menunjukan hubungan signifikan terjadi pada PM10 dan PM2.5 (p < 0.05) dengan nilai risiko 4,40 dan 3,20. Hubungan tidak signifikan terjadi antara kepadatan hunian rumah dan kamar, ventilasi rumah dan lubang penghawaan dapur, perokok dalam rumah dan penggunaan obat nyamuk bakar, SO2, NO2 dan CO (p > 0.05)dengan pneumonia.Kata kunci : Pneumonia, Balita, PM10, PM2.5
Pneumonia is number one deadly disease in the world with the prevalance of 44%.In Indonesia, pneumonia in toodler is the leading cause of death after diarrheawith proportion of 15,5%. Pneumonia is a disease caused by a virus and bacteriathat is influence by physical and chemical contaminants. Cross sectional methodused in this research to analyze the indoor air quality and incidence of pneumonia.Significant correlation occur between PM10 and PM2.5 (p < 0.05) with odd ratio4.40 and 3.24. The results of this research showing absence of the relationbetween the density of a dwelling house and room, ventilation in the house and inthe kitchen, smokers in the house and the use of mosquito coil, SO2, NO2 and CO(p > 0.05) with pneumonia.Keyword :Pneumonia, Toodler, PM10, PM2.5
Read More
S-7594
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive