Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40578 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Putri Permatasari; Promotor: Mardiati Nadjib; Kopromotor: Besral; Penguji: Adang Bachtiar, Dumilah Ayuningtyas, Pujiyanto, Hikmat Permana, Fachmi Idris, Mahlil Ruby, Eva Susanti
Abstrak:
Latar belakang. Manajemen penyakit dari sisi peserta dan jejaring fasilitas kesehatan pada implementasi pelayanan rujuk balik terhadap pengendalian diabetes mellitus belum bejalan dengan efektif. Masalah terbesar yang ditemukan dalam PRB adalah manajemen pelayanan rujuk balik yang kurang, sering terjadinya kekosongan obat dan koordinasi klinis belum berjalan dengan baik antar Fasilitas Kesehatan, dan Penderita dengan diagnosis DM tipe masih banyak yang belum terdaftar pada kegiatan Prolanis. Tujuan penelitian untuk membuktikan kontribusi prolanis terhadap keterkendalian gula darah peserta PRB setelah dikontrol faktor individu, faktor fasilitas Kesehatan dan faktor di tingkat kabupaten/kota. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain kohort retrospektif. Pengumpulan data dilakukan dengan data primer yang berupa hasil pengisian kuesioner dan data dari faskes. Sampel penelitian ini merupakan penderita DM yang berkunjung ke jejaring faskes dalam 6 bulan terakhir yang terpilih dalam survei. Pengujian data dilakukan melalui analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Analisis dilakukan dengan analisis multilevel regressi logistic. Hasil. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya perbedaan kontribusi program rujuk pada penderita DM peserta Prolanis dengan peserta Non Prolanis setelah dikontrol faktor individu dan faktor kontekstual pada penyedia layanan kesehatan terhadap keterkendalian gula darah pada Penderita diabetes melitus tipe 2. Hal ini terlihat dari penderita DM peserta PRB kelompok Prolanis memiliki peluang 5,63 kali lebih besar dapat meningkatkan keterkendalian gula darah. Kelompok penderita DM yang hanya mengikuti PRB memiliki kontribusi 3,85 kali lebih besar dapat meningkatkan keterkendalian gula darah. Diskusi. Prolanis berkontribusi terhadap keterkendalian gula darah pada Penderita diabetes mellitus tipe 2 peserta PRB. Peserta PRB yang mengikuti kegiatan Prolanis dapat lebih meningkatkan keterkendalian gula darah dibandingkan dengan peserta PRB yang tidak mengikuti kegiatan prolanis. Faktor individu dan faktor kontekstual pada penyedia layanan Kesehatan akan berdampak pada keterkendalian gula darah. Kesimpulan. Program rujuk balik memiliki kontribusi terhadap keterkendalian gula darah penderita DM namun kontribusinya akan lebih besar jika penderita DM peserta PRB juga aktif mengikuti kegiatan Prolanis. Saran. Keikutsertaan kegiatan Prolanis menjadi anjuran bagi penderita DM peserta program rujuk balik agar mendapatkan edukasi yang kesehatan yang memadai dalam rangka meningkatkan keterkendalian gula darah.

Background. Disease management from the participant side and the network of health facilities in the implementation of referral services for controlling diabetes mellitus have not been effective. The biggest problems found in PRB are poor management of referral services, frequent drug shortages and clinical coordination not yet running well between Health Facilities, and many sufferers diagnosed with type DM are still not registered with Prolanis activities. The aim of the research is to prove the contribution of prolanis to the control of blood sugar in PRB participants after controlling for individual factors, health facility factors and factors at the district/city level. Method. This research is a quantitative study with a retrospective cohort design. Data collection was carried out using primary data in the form of questionnaire results and data from health facilities. The sample for this study was DM sufferers who visited the health facility network in the last 6 months who were selected in the survey. Data testing was carried out through univariate, bivariate and multivariate analysis. Analysis was carried out using multilevel logistic regression analysis. Results. The results of this study show that there is a difference in the contribution of the referral program for DM sufferers who participated in Prolanis and non-Prolanis participants after controlling for individual factors and contextual factors in health service providers on controlling blood sugar in type 2 diabetes mellitus sufferers. This can be seen from DM sufferers participating in the PRB group. Prolanis has a 5.63 times greater chance of improving blood sugar control. The group of DM sufferers who only participated in PRB had a 3.85 times greater contribution to improving blood sugar control. Discussion. Prolanis contributes to blood sugar control in people with type 2 diabetes mellitus in PRB participants. PRB participants who took part in Prolanis activities were able to improve blood sugar control more compared to PRB participants who did not take part in Prolanis activities. Individual factors and contextual factors among health service providers will have an impact on blood sugar control. Conclusion. The referral program contributes to the control of blood sugar in DM sufferers, but the contribution will be greater if DM sufferers who are PRB participants also actively participate in Prolanis activities. Suggestion. Participating in Prolanis activities is a recommendation for DM sufferers participating in the referral program to receive adequate health education in order to improve blood sugar control.
Read More
D-517
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hanum Wulandari; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Reza Rahman
Abstrak: Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan penyebab utama global dan terdapat kenaikan prevalensi PTM di Indonesia. PTM mendominasi pola penyakit penderita rawat jalan rumah sakit menurut golongan umur 45-75 tahun di Kota Depok. Program Rujuk Balik (PRB) dimaksudkan sebagai alat kendali mutu dan biaya oleh BPJS Kesehatan dalam menangani peserta penyakit kronis yang sudah dinyatakan stabil dengan merujuk kembali pasien ke faskes primer. Tujuan penelitian ini ingin mengetahui implementasi pelaksanaan PRB di wilayah kerja BPJS Kesehatan KC Depok. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan wawancara mendalam kepada pelaksana PRB. Hasil penelitian menunjukan bahwa implementasi program rujuk balik masih belum optimal dilihat dari angka capaian yang masih dibawah target/potensi, hambatan ketersediaan obat, serta sistem aplikasi yang kurang terintegrasi antara BPJS, faskes, maupun apotek.
Read More
S-10184
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syifa Adzannur Dzuhuria; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Pujiyanto, Susi Gunawan
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Wilayah Kerja BPJS Kesehatan KCU Kota Bogor Tahun 2018. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara mendalam dan observasi dengan menggunakan pedoman wawancara serta daftar tilik observasi. Data sekunder diperoleh dari hasil telaah dokumen.
Penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat masalah dalam sisi sumber daya manusia, sumber daya keuangan, dan peraturan. Empat dari lima kegiatan Prolanis sudah rutin dilaksanakan pada FKTP wilayah kerja BPJS Kesehatan KCU Kota Bogor. Peneliti menyarankan agar BPJS membuat adanya peninjauan ulang dalam keuangan serta melibatkan peran serta peserta dalam megelola kekurangan dana, melengkapi SOP yang ada dengan rincian jadwal kegiatan pada masing-masing kegiatan prolanis, dan pembuatan sistem reward pada pencapaian target Prolanis.
Read More
S-10213
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annissa Fariidah Nur Ainni; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Ayuningtyas Dumilah, Rena Octora Pasuria
Abstrak: Peningkatan jumlah penyakit kronis mengakibatkan terjadinya peningkatan pada biaya kesehatan, termasuk biaya kesehatan yang harus ditanggung oleh Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. BPJS Kesehatan sejak berdirinya pada tahun 2014, menyelenggarakan Program Rujuk Balik (PRB) sebagai upaya efisiensi biaya kesehatan serta memudahkan peserta penderita penyakit kronis dalam memperoleh akses ke pelayanan kesehatan demi terwujudnya efektivitas dalam pengelolaan peserta penderita penyakit kronis. Dalam pelaksanaan PRB masih belum berjalan dengan optimal, faktor yang dapat memengaruhi diantaranya ialah kolaborasi antar profesi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kolaborasi antar profesi yang terlibat dalam pelaksanaan Program Rujuk Balik Jaminan Kesehatan Nasional di wilayah kerja BPJS Kesehatan KC Depok tahun 2019. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan mengunakan metode wawancara mendalam kepada beberapa informan, observasi dilapangan, dan telaah dokumen terkait pelaksanaan PRB di wilayah kerja BPJS Kesehatan KC Depok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan PRB di wilayah kerja BPJS Kesehatan KC Depok masih jauh di bawah target dimana capaian peserta yang berhasil di rujuk balik pada bulan Januari dan Februari tahun 2019 hanya mencapai 0,06% dari target peserta PRB tahun 2019. Seluruh profesi yang terlibat dalam pelaksanaan PRB menyadari bahwa kerjasama antar profesi penting untuk diterapkan demi tercapainya optimalisasi PRB. Kolaborasi antar profesi dalam pelaksanaan PRB belum berjalan dengan efektif karena adanya kendala pada faktor-faktor yang memengaruhi kolaborasi yang efektif: pertimbangan sosial, pertimbangan intrapersonal, lingkungan fisik, organisasional dan institusional, faktor perilaku, dan faktor interpersonal. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kolaborasi antar profesi yang belum efektif dalam pelaksanaan PRB berdampak pada angka rujukan balik rendah sehingga tidak tercapainya target perserta PRB di tahun 2019.
Read More
S-10053
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendriyanto; Promotor: Meiwita P. Budiharsana; Ko Promotor: Mardiati Nadjib; Penguji: Pujiyanto; Julianty Pradono, Rita Damayanti, Dumilah Ayuningtyas, Besral, Trihono
Abstrak: Program pengendalian penyakit kronis (Prolanis) dan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan dua program yang berupaya untuk mengendalikan hipertensi di kalangan masyarakat Indonesia. Dalam implementasinya kedua program ini terlihat tidak saling terkoordinasi antara satu dan lainnya, baik BPJS Kesehatan dan Kementerian Kesehatan RI. Penelitian ini bertujuan untuk melihat keterkaitan prolanis dan Posbindu PTM terhadap hipertensi terkontrol di Provinsi Jambi. Hasil penelitian memperlihatkan proporsi hipertensi terkontrol pada kedua kelompok ini masih tergolong rendah yaitu 18% pada prolanis dan 10 % pada kelompom posbindu PTM , sedangkan control hanya 9%. Kondisi tersebut dimungkinkan berkontribusi terhadap turunnya kinerja program PTM menurut Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM). Dari hasil analisis multilevel terbukti bahwa level individu lebih dominan mempengaruhi tekanan darah yang terkontrol dibandingkan level kelompok. Keunggulan prolanis terlihat pada variabel yang bersifat individu, artinya individu yang ada di kelompok prolanis lebih efektif dibandingkan posbindu PTM. Sedangkan posbindu PTM memiliki pengaruh lebih besar secara statistik pada level kelompok dibandingkan prolanis. Kondisi ini memberi peluang besar untuk melakukan integrasi program prolanis dan posbindu PTM agar lebih efektif dan efisien.
Read More
D-441
Depok : FKM-UI, 2021
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Astriani Rakhamadina Nurhapsari; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Andi Wiradarma
Abstrak: Skripsi ini membahas status kesehatan pasien prolanis di wilayah kerja BPJS Jakarta Timur pada Laboratorium Klinik Kimia Farma Duren Sawit. penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain kohort. Melihat terjadinya penurunan dan peningkatan terhadap hasil tahun 2017 dan 2018. Hasil penelitian menunjukan hasil HbA1c pasien mengalami penurunan. Hasil pemeriksaan kolesterol total terjadi peningkatan. Hasil pemeriksaan kolesterol HDL terjadi penurunan. Hasil pemeriksaan kolesterol LDL terjadi peningkatan. Hasil trigliserida menunjukan terjadi penurunan. Hasil ureum menunjukan peningkatan. Kreatinin menunjukan penurunan. Dan mikroalbumin urin menunjukan penurunan. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat diajadikan acuan untuk penelitian selanjutkan sebagai pengukur status kesehatan peserta prolanis
Read More
S-10065
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mugi Wahidin; Promotor: Anhari Achadi; Kopromotro: Besral, Soewarta Kosen; Penguji: Atik Nurwahyuni, Mardiati Nadjib, Sudarto Ronoatmodjo, Ekowati Rahajeng; Masdalina Pane
Abstrak:
Latar belakang: Diabetes Melitus (DM) menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat terbesar di dunia dan di Indonesia yang menjadi target pengendalian secara global dan nasional. Penelitian tentang proyeksi beban DM dengan memasukkan pengaruh faktor risiko dan program pencegahan dan pengendalian DM di Indonesia sangat terbatas. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat model proyeksi beban penyakit Diabetes Melitus di Indonesia berdasarkan faktor risiko dan program pencegahan dan pengendalian DM. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non-experiment menggunakan desain cross sectional study melalui pembuatan model regresi linier ganda dan system dynamics. Model proyeksi prevalens baseline dibuat berdasarkan faktor risiko, program pencegahan dan pengendalian DM. Proyeksi sampai 2045 melibatkan dinamisasi faktor risiko dan program DM, proyeksi penduduk, case fatality rate DM, unit cost DM, standar tarif pemeriksaan gula darah, dan inflasi kesehatan. Faktor risiko termasuk overweight, obesitas sentral, obesitas, konsumsi makanan manis, konsumsi minuman manis, konsumsi makanan berlemak, kurang konsumsi buah dan sayur, kurang aktivitas fisik, hipertensi, dan merokok. Program DM meliputi rasio Posbindu PTM, Desa Ber Posbindu PTM, Pemeriksaan di Posbindu PTM, Puskesmas dengan Pelayanan Terpadu PTM, pemeriksaan rutin gula darah, standar pelayanan minimal (SPM) pelayanan kesehatan DM, dan SPM skrining usia produktif. Model dibuat berdasarkan data dari 205 kabupaten/kota di 33 provinsi di Indonesia. Proyeksi dibuat secara nasional, provinsi, dan kabupaten/kota berupa prevalens, kematian, biaya langsung, dan jumlah dan biaya skrining gula darah. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007-2018, BPJS Kesehatan 2016-2020, program P2PTM 2016-2020, dan Pusdatin Kemkes 2019-2021. Unit analisis adalah kabupaten/kota. Hasil: Model proyeksi DM menggunakan regresi linier ganda dengan formula prevalensi DM = -2,212 + 0.216 prevalens overweight +0,017 prevalens obesitas + 0,112 prevalens obesitas sentral +0,019 prevalens konsumsi makanan berlemak – 0,001 Persentase Desa Ber-Posbindu PTM + 0,003 Persentasi Pandu PTM + 1,510 prevalensi rutin diperiksa gula darah – 0.012 cakupan SPM yankes DM + 0,008 cakupan SPM skrining usia produktif. Prevalensi DM di Indonesia diperkirakan meningkat dari 9,19% pada 2020 (18,69 juta kasus) menjadi 16,09% pada 2045 (40,7 juta kasus), naik 75,1% selama 25 tahun, atau 3% per tahun. Prevalensi DM akan lebih rendah menjadi 15,68% atau 39,6 juta kasus (berkurang 5,54%) pada 2045 jika dilakukan intervensi peningkatan cakupan desa ber-posbindu dan SPM yankes DM menjadi 100%, dan menjadi 9,22% atau 23,2 juta kasus (berkurang 42,69%) jika intervensi program tersebut ditambahkan dengan pencegahan laju faktor risiko (overweight, obesitas, obesitas sentral dan konsumsi makanan berlemak). Di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, prevalensi dan jumlah kasus meningkat dan sangat bervariasi. Proyeksi jumlah kematian akibat DM di Indonesia meningkat dari 433.752 pada 2020 menjadi 944.468 pada 2045, naik 117% selama 25 tahun atau 4,7% per tahun. Kematian akibat strok pada DM meningkat dari 52,397 pada 2020 menjadi 114,092 pada 2045. Kematian akibat IHD pada DM meningkat dari 35.351 pada 2020 menjadi 76.974 pada 2045. Sedangkan kematian akibat penyakit ginjal kronik pada DM meningkat dari 29.061 pada 2020 menjadi 63.279 pada 2045. Jumlah kematian pada 2045 lebih rendah menjadi 919.206 jika dilakukan intervensi program dan menjadi 537.190 jika dilakukan intervensi program dan menahan laju faktor risiko. Jumlah kematian akibat DM dan komplikasinya di provinsi dan kabupaten/kota meningkat dan sangat bervariasi. Biaya langsung (direct cost) DM meningkat dari Rp 37,36 triliun pada 2020 menjadi Rp 81,38 triliun pada 2045, meningkat 117,76% selama 25 tahun atau 4,71% per tahun. Jika dilakukan intervensi peningkatan program maka dapat diturunkan menjadi Rp 79,31 triliun (berkurang 2,54%) dan menjadi Rp 46,53 triliun (berkurang 42,82%) jika intervensi ditambah menahan laju faktor risiko. Di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, biaya langsung DM mengalami kenaikan dan bervariasi antara daerah. Jumlah penduduk berusia 15-39 tahun dengan obesitas dan usia 40 tahun ke atas yang perlu diskrining gula darah di Indonesia pada 2020 diperkirakan 116.387.801 menjadi 171.913.086 orang pada 2045, meningkat 47,8% selama 25 tahun atau 1,9% per tahun. Biaya skrining Rp 2,39 trilliun pada 2020 meningkat menjadi Rp 3,53 trilliun pada 2045. Di provinsi dan kabupaten/kota, jumlah dan biaya skrining meningkat dan bervariasi. Proyeksi DM di Indonesia dan aplikasi perhitungan proyeksi dapat dilihat di www.diabetes-ina.com. Hasil proyeksi sudah dinyatakan sudah baik setelah dibahas dengan para ahli dan mempunyai Mean Absolute Percentage Error (MAPE) sebesar 13% (baik) untuk proyeksi provinsi dan nasional serta 22% (layak) untuk proyeksi kabupaten/kota. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk bahan perencanaan SDM, skrining, dan biaya pengobatan DM di Indonesia baik tingkat pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota.

Background: Diabetes Mellitus (DM) is one of the biggest public health problems in the world and in Indonesia which is targeted for control globally and nationally. Research on DM burden projection by including the influence of risk factors and DM prevention and control programs in Indonesia is very limited. The purpose of this study is to make a projection model of the burden of Diabetes Mellitus in Indonesia based on risk factors and DM prevention and control programs. Method: The study was a quantitative non-experiment study using cross sectional study design through the creation of multiple linear regression models and system dynamics. The baseline prevalence projection model is based on risk factors, DM prevention and control programs. Projections until 2045 involved the dynamization of risk factors and DM programs, population projections, DM case fatality rate, DM unit costs, tariffs standard of blood glucose screening, and health inflation. Risk factors included overweight, central obesity, obesity, consumption of sugary foods, consumption of sugary drinks, consumption of fatty foods, lack consumption of fruits and vegetables, lack of physical activity, hypertension, and smoking. The DM program included the ratio of NCD Post (Posbindu), percentage of Village had Posbindu, Examination at Posbindu, Puskesmas with Integrated NCD Services (Pandu), routine blood glucose checks, minimum service standards (SPM) of DM health services, and SPM of productive age screening. The model was created based on data from 205 districts/cities in 33 provinces in Indonesia. Projections was made nationally, provincially, and districts in terms of prevalence, mortality, direct costs, and the number and cost of blood glucose screening. This study used secondary data from Basic Health Research (Riskesdas) 2007-2018, BPJS Kesehatan 2016-2020, NCD programs 2016-2020, and Pusdatin Ministry of Health 2019-2021. The analysis unit is the district/city. Results: DM projection model using multiple linear regression with DM prevalence formula = -2.212 + 0.216 overweight prevalence + 0.017 obesity prevalence + 0.112 central obesity prevalence + 0.019 prevalence of fatty food consumption – 0.001 percentage of villages with Posbindu + 0.003 NCD integrated services percentage + 1.510 prevalence of routine blood glucose checks – 0.012 SPM coverage of DM services + 0.008 SPM of productive age screening coverage. The prevalence of DM in Indonesia is estimated to increase from 9.19% in 2020 (18.69 million cases) to 16.09% in 2045 (40.7 million cases), increase 75.1% over 25 years, or 3% per year. The prevalence of DM will be lower to 15.68% or 39.6 million cases (reduced by 5.54%) in 2045 if interventions are carried out to increase the coverage of Posbindu villages and SPM DM services to 100%, and to 9.22% or 23.2 million cases (reduced by 42.69%) if the program interventions are added with prevention of risk factor rates (overweight, obesity, central obesity and consumption of fatty foods). At the provincial and district/city levels, the prevalence and number of cases are increasing and vary greatly. The projected number of deaths due to DM in Indonesia increases from 433,752 in 2020 to 944,468 in 2045, increase 117% over 25 years or 4.7% per year. Deaths due to stroke among DM increases from 52,397 in 2020 to 114,092 in 2045. Deaths from IHD among DM increases from 35,351 in 2020 to 76,974 in 2045. Meanwhile, deaths from chronic kidney disease among DM increases from 29,061 in 2020 to 63,279 in 2045. The number of deaths in 2045 could be lower to 919,206 if program interventions are carried out and to 537,190 if program interventions are carried out and halt the rate of risk factors. The number of deaths due to DM and its complications in provinces and districts / cities is increasing and varies greatly. DM direct costs increased from Rp 37.36 trillion in 2020 to Rp 81.38 trillion in 2045, an increase of 117.76% over 25 years or 4.71% per year. If the program improvement intervention is carried out, it can be reduced to Rp 79.31 trillion (reduced by 2.54%) and to Rp 46.53 trillion (reduced by 42.82%) if the intervention is added to halt the rate of risk factors. At the provincial and district/city levels, DM direct costs have increased and vary between regions. The number of people aged 15-39 years with obesity and aged 40 years and above who need to be screened for blood glucose in Indonesia in 2020 is estimated at 116,387,801 to 171,913,086 people in 2045, an increase of 47.8% over 25 years or 1.9% per year. Screening costs of Rp 2.39 trillion in 2020 will increase to Rp 3.53 trillion in 2045. In provinces and districts, the number and cost of screening are increasing and varying. DM projections in Indonesia and projection calculation applications can be seen at www.diabetes-ina.com. The projection results have been declared good after discussion with experts and have an Absolute Mean Percentage Error (MAPE) of 13% (good) for provincial and national projections and 22% (feasible) for district/city projections. The results of this study can be used for human resource planning, screening, and DM treatment costs in Indonesia at the central, provincial, and district / city levels.
Read More
D-478
Depok : FKM-UI, 2023
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aqsha Azhary Nur: Promotor: Adang Bachtiar; Kopromotor: Dante Saksono Harbuwono, Sri Ratna Laksmiastuti; Penguji: Dwi Gayatri, Ratna Djuwita, Purnawan Junadi, Wisnu Jatmiko, Ali Ghufron Mukti, Rizanda Machmud
Abstrak:
Beban Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) semakin tinggi di Indonesia dengan prevalensi 11,7% menurut Survei Kesehatan Indonesia 2023. Lebih dari 70% penyandang DMT2 belum terdiagnosis, yang menyebabkan keterlambatan pengobatan dan peningkatan risiko komplikasi. Teknologi pembelajaran mesin (machine learning) berpotensi digunakan untuk deteksi dini risiko DMT2 secara efisien dan berbasis data. Penelitian ini bertujuan mengembangkan, memvalidasi, dan menguji kelayakan model skrining risiko DMT2 berbasis pembelajaran mesin untuk populasi Indonesia. Studi ini menggunakan desain observasional dan dilaksanakan dari Oktober 2024 hingga Januari 2025. Penelitian terdiri dari tiga fase. Fase pertama mencakup pengembangan model prediksi menggunakan algoritma pembelajaran mesin dengan data dari dua sumber Kementerian Kesehatan, yakni kohor Penyakit Tidak Menular (PTM) (n=5.010) dan Aplikasi Sehat Indonesiaku (ASIK) (n=8.147.932). Fase kedua adalah validasi eksternal model menggunakan data ASIK tahun 2023 (n=24.735.050). Fase ketiga merupakan uji coba lapangan di dua Puskesmas di DKI Jakarta yang mencakup uji diagnostik (n=100) serta penilaian kelayakan sistem tenaga kesehatan (n=30) menggunakan instrumen System Usability Scale (SUS). Fase 1 menunjukkan bahwa model LightGBM pada data ASIK memiliki performa terbaik (AUC 0,90; sensitivitas 0,70; spesifisitas 0,88), sementara model CatBoost pada data kohor PTM menunjukkan AUC 0,76. Seleksi fitur mengidentifikasi lima variabel utama (usia, tekanan darah sistolik, aktivitas fisik, riwayat keluarga DMT2, konsumsi sayur/buah) sebagai penentu utama risiko. Fase 2 mencakup validasi eksternal dengan data ASIK 2023 menghasilkan AUC 0,90 (LightGBM) dan AUC 0,73 (CatBoost). Fase 3 uji coba lapangan menunjukkan hasil diagnostik yang sejalan dengan skor risiko model, dengan sensitivitas 0,80 dan spesifisitas 0,39 pada cut-off HbA1c 6,5% dan sensitivitas 0,79 dan spesifisitas 0,54 pada cutoff HbA1c 5,7%. Evaluasi oleh tenaga kesehatan menghasilkan skor SUS sebesar 72,5. Sebagai kesimpulan, Model skrining DMT2 berbasis pembelajaran mesin terbukti akurat dan layak diimplementasikan.

Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) burden is increasing in Indonesia, with a national prevalence of 11.7% according to the 2023 Indonesia Health Survey. More than 70% of individuals with T2DM remain undiagnosed, leading to delayed treatment and increased complications. Machine learning has the potential to enhance early detection of T2DM through an efficient, data-driven risk screening process. This study aims to develop, validate, and assess the feasibility of a machine learning-based T2DM risk screening model tailored for the Indonesian population. This study employed an observational design and was conducted from October 2024 to January 2025. The study consisted of three phases. The first phase involved the development of predictive models using machine learning algorithms with two datasets from the Ministry of Health: the PTM Cohort (n=5,010) and the ASIK registry (n=8,147,932). The second phase was an external validation using the ASIK 2023 dataset (n=24,735,050). The third phase was a field trial at two primary health centers (Puskesmas) in Jakarta, which included diagnostic testing of patients (n=100) and usability assessment by healthcare workers (n=30) using the System Usability Scale (SUS). In Phase 1, the LightGBM model trained on ASIK data achieved the best performance (AUC 0.90; sensitivity 0.70; specificity 0.88), while the CatBoost model trained on PTM Cohort data yielded an AUC of 0.76. Feature selection identified five main predictors (age, systolic blood pressure, physical activity, family history of T2DM, and fruit/vegetable consumption). In Phase 2, external validation with ASIK 2023 data confirmed high model performance with AUC 0.90 (LightGBM) and AUC 0.73 (CatBoost). In Phase 3, field testing showed diagnostic performance consistent with model-based risk scores, with sensitivity 0.80 and 0.39 at the HbA1c cut-off of 6.5% and sensitivity 0.79 and specificity 0.54 at the HbA1c cut-off of 5.7%. Usability testing by healthcare workers resulted in an average SUS score of 72.5. In conclusion, the machine-learning-based T2DM screening model has demonstrated high accuracy and is feasible for implementation.
Read More
D-574
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Dinuna; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Sabarinah B. Prasetyo, Dicky Luvenus Tahapary
S-10089
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Melania Hidayat; Prmotor: Budi Utomo; Ko-Promotor: Sabarinah Prasetyo; Penguji: Endang L. Achadi, Sri Moertiningsih Adioetomo, Tris Eryando, Wendy Hartanto, Rina Herarti
D-320
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive