Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35748 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Erika Yulita Ichwan; Promotor: Dian Ayubi; Kopromotor: Rita Damayanti; Penguji: Mardiati Nadjib, Martya Rahmaniati M., Lucia RM Royanto, Irwanto, Indra Supradewi, Maria Gayatri
Abstrak:
Latar Belakang : Remaja merupakan aset bagi pembangunan bangsa. Perubahan fisik dan biologis, termasuk berkembangnya ciri-ciri seksual sekunder dan perubahan hormonal pada organ-organ seksual, menyebabkan ketidaksiapan remaja dalam menghadapi dampak perilaku seksual yang mereka lakukan. Hal ini mempengaruhi kualitas kehidupan remaja selanjutnya. Untuk mengatasi permasalahan sosial akibat perilaku seksual pada remaja, diperlukan faktor protektif untuk mengontrol dan mencegah perilaku seksual melalui Developmental Assets yang dimiliki remaja. Tujuan : Penelitian ini untuk mengembangkan model pencegahan perilaku seksual remaja dengan pendekatan Developmental Assets pada remaja di DKI Jakarta. Metode : Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Pengumpulan data dilakukan pada 1048 remaja SMA usia 17-19 di DKI Jakarta secara purposive sampling. Menggunakan Developmental Asset Profile (DAP) Questionnaire yang telah diadaptasi dan dianalisis faktor dengan CFA sebelum digunakan. Analisa data menggunakan SEM PLS. Hasil : Penelitian menemukan masih terdapat 4,2% remaja dengan perilaku seksual pranikah berisiko, 7 komponen yang mendukung developmental assets remaja di DKI Jakarta, yaitu Family support and expectation, Constructive use of time in community dan School boundaries and expectation sebagai aset eksternal. Sementara Social competencies, Positives values, Personal identity, dan Commitment to learning merupakan aset internal. Variabel yang berhubungan langsung dengan perilaku seksual adalah Self efficacy, Family support and expectation dan Personal identity dengan nilai SRMR estimated model 0,073 (perfect fit) Kesimpulan : Masih ditemukan remaja dengan perilaku seksual pranikah berisiko meskipun dalam jumlah yang rendah, model yang didapatkan tidak menunjukkan bahwa developmental assets merupakan faktor protektif utama, namun developmental assets melalui aset eksternal berhubungan dengan semua aset internal untuk meningkatkan self efficacy terhadap perilaku seksual berisiko. Implementasi program pendidikan seksual diperlukan dengan memperkuat kolaborasi antar lembaga, dan penguatan aset eksternal dan internal untuk mendukung perkembangan remaja yang sehat dengan pendekatan yang mengintegrasikan dukungan keluarga, lingkungan sekolah, dan kegiatan komunitas. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami lebih dalam jalur tidak langsung ini dan mengembangkan intervensi yang efektif.

Background: Adolescents are a vital asset for national development. However, the physical and biological changes, including the development of secondary sexual characteristics and hormonal changes in sexual organs, often leave them unprepared to face the consequences of their sexual behavior. This lack of preparedness can significantly affect their future quality of life. To address social issues arising from adolescent sexual behavior, protective factors are needed to control and prevent such behavior through the Developmental Assets that adolescents possess. Objective: This study aims to develop a model for preventing adolescent sexual behavior using a Developmental Assets approach among adolescents in DKI Jakarta. Methods: This research employs a quantitative approach with a cross-sectional design. Data were collected from 1,048 high school students aged 17-19 in DKI Jakarta using purposive sampling. The Developmental Asset Profile (DAP) Questionnaire was adapted and validated using Confirmatory Factor Analysis (CFA) for data collection. Data analysis was conducted using Structural Equation Modeling (SEM) with Partial Least Squares (PLS). Results: The research found that there are still 4.2% of teenagers with risky premarital sexual behavior. Seven components support the developmental assets of teenagers in DKI Jakarta: Family support and expectations, Constructive use of time in the community, and School boundaries and expectations as external assets. Meanwhile, internal assets include social competencies, Positive values, Personal identity, and Commitment to learning. Variables that are directly related to sexual behavior are Self-efficacy, Family support and expectations, and Personal identity, with an SRMR estimated model value of 0.073 (perfect fit) Conclusion: There are still teenagers with risky premarital sexual behavior, although, in low numbers, the model obtained does not show that developmental assets are the main protective factor; developmental assets through external assets are related to all internal assets to increase self-efficacy for risky sexual behavior. Implementation of sexual education programs requires strengthening collaboration between institutions and strengthening external and internal assets to support healthy adolescent development with an approach that integrates family support, the school environment, and community activities. Further research is needed to understand these indirect pathways better and develop effective interventions.
 
 
Read More
D-529
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Petriana Ekklesia Mahmud; Promotor: Kemal Nazaruddin Siregar; Kopromotor: Tri Krianto, Mus Huliselan; Penguji: Asri C. Adisasmita, Besral, Ira Nurmala, Raditya Wratsangka, Sudibyo Alimoeso
Abstrak:
Perilaku seksual berisiko pada remaja puteri merupakan masalah kesehatan reproduksi yang dapat meningkatkan risiko kehamilan tidak diinginkan serta berdampak pada aspek kesehatan, sosial, dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan menguji Strategi Holistik Intervensi Nilai dan Edukasi (SHINE) dengan pendekatan Tiga Batu Tungku sebagai model peningkatan determinan protektif perilaku seksual berisiko kehamilan pada remaja puteri di Kota Ambon. Penelitian menggunakan mixed-methods exploratory sequential design yang terdiri atas tahap eksplorasi budaya dan kebutuhan intervensi, pengembangan model, serta pengujian efektivitas intervensi melalui desain kuasi-eksperimen. Tahap kualitatif melibatkan 53 informan, terdiri atas remaja, orang tua, tokoh agama, tokoh adat, guru/kepala sekolah, dan petugas kesehatan. Tahap kuantitatif melibatkan remaja usia 12–15 tahun, dengan 85 responden pada kelompok intervensi di Negeri Hative Kecil dan 83 responden pada kelompok kontrol di Negeri Passo. Data kuantitatif dianalisis menggunakan Difference-in-Differences (DiD). Analisis DiD menunjukkan bahwa kelompok intervensi mengalami peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan asertif yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol, dengan selisih masing-masing sebesar 32,24 poin, 23,26 poin dan 16,56 poin. Efek intervensi pada ketiga variabel signifikan secara statistik dengan nilai p<0,05. Temuan ini menunjukkan bahwa Strategi Holistik Intervensi Nilai dan Edukasi  (SHINE) dengan pendekatan Tiga Batu Tungku berpotensi meningkatkan determinan protektif pengetahuan, memperbaiki sikap, dan memperkuat keterampilan asertif remaja puteri dalam menolak tekanan seksual, mempertahankan keputusan, serta menghindari situasi berisiko. Model ini dapat dipertimbangkan sebagai strategi intervensi berbasis budaya lokal untuk pencegahan perilaku seksual berisiko kehamilan pada remaja puteri di Kota Ambon.

Risky sexual behavior among adolescent girls is a reproductive health problem that can increase the risk of unintended pregnancy and affect health, social, and economic aspects. This study aimed to develop and test the Holistic Strategy for Value Intervention and Education (SHINE) using the Tiga Batu Tungku approach as a model to improve protective determinants against pregnancy-related risky sexual behavior among adolescent girls in Ambon City. This study employed a mixed-methods exploratory sequential design consisting of cultural exploration and intervention needs assessment, model development, and intervention effectiveness testing through a quasi-experimental design. The qualitative phase involved 53 informants, consisting of adolescents, parents, religious leaders, traditional leaders, teachers/school principals, and health workers. The quantitative phase involved adolescents aged 12-15 years, with 85 respondents in the intervention group in Negeri Hative Kecil and 83 respondents in the control group in Negeri Passo. Quantitative data were analyzed using Difference-in-Differences (DiD). The DiD analysis showed that the intervention group experienced greater increases in knowledge, attitudes, and assertive skills than the control group, with differences of 32.24 points, 23.26 points, and 16.56 points, respectively. The intervention effects on the three variables were statistically significant with p < 0.05. These findings indicate that the Holistic Strategy for Value Intervention and Education (SHINE) using the Tiga Batu Tungku approach has the potential to improve protective determinants of knowledge, enhance attitudes, and strengthen assertive skills among adolescent girls in refusing sexual pressure, maintaining their decisions, and avoiding risky situations. This model may be considered a local culture-based intervention strategy for preventing pregnancy-related risky sexual behavior among adolescent girls in Ambon City
Read More
D-645
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rita Damayanti; Promotor: Hadi Pratomo; Ko-promotor: Sarlito Wirawan Sarwono; Penguji: Soekidjo Notoatmodjo, Adang Bachtiar, Ali Nina Liche Chairy, Seniaty, Irwanto, Purnawan Junadi, Sidijanto Kamso
D-198
Depok : FKM-UI, 2007
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
R. Kintoko Rochadi; Pembimbing: Soekidjo Notoatmodjo; Adang Bachtiar; Sudijanto Kamso
D-95
Depok : FKM UI, 2004
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farhati; Promotor: Sabarinah; Kopromotor: Agustin Kusumayati, Umaimah Wahid; Penguji: Evi Martha, Kemal Nazaruddin Siregar, Milla Herdayati, M.Yani, Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
Abstrak: Latar Belakang: Remaja di Aceh menghadapi tantangan perilaku berisiko seperti penyalahgunaan narkoba, merokok, perilaku seksual pranikah, kehamilan remaja serta paparan HIV/AIDS yang berdampak pada kesehatan, sosial dan kualitas SDM. Rendahnya pengetahuan dan ketahanan diri remaja serta keterbatasan program yang ada menjadi tantangan serius. Di sisi lain Aceh memiliki kekuatan sosial dan religius melalui peran Teungku Inong  dan tradisi Seumeubeut sebagai ruang edukasi yang dekat dengan remaja, namun belum dimanfaatkan sebagai pendekatan edukasi kesehatan remaja secara optimal. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model edukasi kesehatan reproduksi dan life skills  berbasis komunitas melalui peran Teungku Inong dan praktik Seumeubeut dalam pencegahan perilaku berisiko kesehatan remaja di Provinsi Aceh. Metode: Penelitian ini menggunakan Mixed Method Exploratory Sequential Design dalam tiga tahap: kualitatif fenomenologi, pengembangan model edukasi berbasis komunitas, dan kuantitatif kuasi-eksperimen. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh dari bulan Oktober 2024 hingga November 2025 dengan sampel penelitian Teungku Inong  sejumlah 62 pada kelompok intervensi dan 61 pada kelompok kontrol, serta remaja sejumlah 186 orang. Analisis data menggunakan Generalized Estimating Equations (GEE) dan Difference in Difference (DiD). Hasil: Teungku Inong  memiliki legitimasi moral dan sosial yang kuat sebagai mediator sosial dalam komunitas, namun memerlukan penguatan kapasitas konseptual terkait kesehatan reproduksi dan life skills . Model Seumeubeut Terpadu yang dikembangkan mengintegrasikan edukasi kesehatan reproduksi, kecakapan hidup psikososial, serta nilai-nilai Islam dan budaya Aceh dalam format pengajian komunitas. Analisis GEE menunjukkan interaksi pada post-test 1 meningkatkan skor peran sebesar β = 3,465 (95% CI: 1,711–5,218; p < 0,001) dan β = 2,578 (95% CI: 0,458 - 4,697 p = 0,01) pada post-test 2. Hasil analisis DiD terdapat peningkatan skor peran pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok kontrol dengan koefisien sebesar 15,19 (p < 0,001). Intervensi model berkontribusi terhadap peningkatan peran sebesar 44% pada post-test pertama (1 bulan) dan 49% pada post-test kedua (2 bulan pasca intervensi). Kesimpulan dan saran: Model Seumeubeut Terpadu terbukti secara signifikan meningkatkan peran Teungku Inong sebagai agent of change sekaligus memperkuat faktor protektif remaja terhadap perilaku berisiko. Model Seumeubeut Terpadu dapat direkomendasikan sebagai pendekatan promotif-preventif berbasis komunitas yang kontekstual, aplikatif, dan berpotensi berkelanjutan dalam sistem perlindungan remaja di Aceh.
Background: Adolescents in Aceh face challenges related to risky behaviors such as drug abuse, smoking, premarital sexual activity, teenage pregnancy, and exposure to HIV/AIDS, which impact their health, social well-being, and the quality of human resources. Low levels of knowledge and resilience among adolescents, as well as the limitations of existing programs, pose serious challenges. On the other hand, Aceh possesses social and religious strengths through the role of Teungku Inong and the Seumeubeut tradition as educational spaces close to adolescents, yet these have not been optimally utilized as an approach to adolescent health education. This study aims to develop a community-based reproductive health and life skills  education model through the role of Teungku Inong and Seumeubeut practices in preventing risky health behaviors among adolescents in Aceh Province. Methods: This study employs a mixed-methods exploratory sequential design in three phases: phenomenological qualitative analysis, development of a community-based educational model, and quasi-experimental quantitative analysis. The study was conducted in Bireuen Regency, Aceh Province, from October 2024 to November 2025, with a sample of 62 Teungku Inong in the intervention group and 61 in the control group, as well as 186 adolescents. Data analysis utilized Generalized Estimating Equations (GEE) and Difference-in-Differences (DiD). Results: Teungku Inong possess strong moral and social legitimacy as social mediators within the community; however, they require capacity building regarding reproductive health and life skills . The Integrated Seumeubeut Model developed integrates reproductive health education, psychosocial life skills , as well as Islamic values and Acehnese culture into a community study group format. GEE analysis revealed that the interaction term in Post-test 1 increased role scores by β = 3.465 (95% CI: 1.711–5.218; p < 0.001) and by β = 2.578 (95% CI: 0.458–4.697; p = 0.01) in Post-test 2. Results of the DiD analysis showed an increase in role scores in the intervention group compared to the control group with a coefficient of 15.19 (p < 0.001). The model intervention contributed to a 44% increase in role scores at the first post-test (1 month) and a 49% increase at the second post-test (2 months post-intervention). Conclusions and recommendations: The Integrated Seumeubeut Model was proven to significantly enhance the role of Teungku Inong as agents of change while strengthening protective factors for adolescents against risky behaviors. The Integrated Seumeubeut Model can be recommended as a community-based, contextually relevant, practical, and potentially sustainable promotive-preventive approach within the adolescent protection system in Aceh.
Read More
D-635
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diana Hartaty Anggraini; Promotor: Evi Martha; Kopromotor: Besral, Farida Kurniawati; Penguji: Agustin Kusumayati, Sutanto Priyo Hastono, Asep Supena, R. Harry Hikmat, Nasyith Forefry, Nana Mulyana
Abstrak:
Remaja dengan disabilitas intelektual ringan memiliki kerentanan tinggi terhadap risiko kesehatan reproduksi dan kekerasan seksual, sementara kapasitas orang tua sebagai pendidik utama masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengembangkan Model Edukasi Parent as Teacher (PAT) dan menilai efeknya dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan efikasi diri orang tua dalam memberikan pendidikan seksual kepada remaja dengan disabilitas intelektual ringan. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed methods) dengan desain sequential exploratory yang terdiri atas tiga tahap. Tahap pertama adalah eksplorasi pemahaman, hambatan, dan kebutuhan orang tua melalui studi kualitatif dengan wawancara mendalam. Tahap kedua adalah pengembangan model PAT berbasis kebutuhan dengan mengacu pada kerangka ADDIE. Tahap ketiga adalah pengujian efek model melalui desain kuasi-eksperimental one-group pretest-posttest pada 50 orang tua, dengan tiga kali pengukuran dan analisis menggunakan General Linear Model Repeated Measures. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kapasitas orang tua yang bermakna pada seluruh variabel (p<0,05). Skor pengetahuan meningkat dari 48,00 menjadi 78,10; skor sikap meningkat dari 64,07 menjadi 91,17; dan skor efikasi diri meningkat dari 58,54 menjadi 91,81 Ukuran efek berada pada kategori besar dengan rentang Partial η² = 0,173–0,365, dan peningkatan bertahan hingga pengukuran tindak lanjut. Model PAT menunjukkan efek positif dalam meningkatkan kapasitas orang tua dan berpotensi menjadi pendekatan pendidikan seksual berbasis keluarga yang terstruktur, kontekstual, dan berkelanjutan bagi remaja dengan disabilitas intelektual ringan.

Adolescents with mild intellectual disabilities are highly vulnerable to reproductive health risks and sexual violence, while the capacity of parents as primary educators remains limited. This study aimed to develop the Parent as Teacher (PAT) Educational Model and evaluate its effect on improving parents’ knowledge, attitudes, and self-efficacy. A mixed-methods approach with a sequential exploratory design was employed, consisting of three stages: exploration of parents’ understanding, barriers, and needs through a qualitative study involving in-depth interviews with informants; development of a needs-based educational model guided by the ADDIE framework; and evaluation of the model’s effect. The quantitative phase used a one-group pretest–posttest quasi-experimental design involving 50 parents, with three measurement points and analysis using General Linear Model Repeated Measures. The results showed a significant improvement in parental capacity across all variables (p<0.05). Knowledge scores increased from 48.00 to 78.10, attitude scores from 64,07  to 91,17, and self-efficacy scores from 58,54 to 91,81. The effect sizes were in the large category, with Partial η² ranging from 0.173 to 0.365, and the improvements were sustained at follow-up. The PAT Educational Model was proven effective in improving parental capacity and has the potential to serve as a structured, contextual, and sustainable family-based approach to sexual education for adolescents with mild intellectual disabilities.
Read More
D-624
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Atikah Adyas; Promotor: Ascobat Gani; Ko-promotor: Azrul Azwar; Penguji: Sudijanto Kamso, Hasbullah Thabrany, Soekidjo Notoatmodjo, Soewarta Kosen, Sudarsono Hardjo Soekarta, Mardiati Nadjib, Prastuti C. Soewondo
D-204
Depok : FKM-UI, 2007
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chaerin Nabila Fitriyah; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Syahrizal Syarif, Trisari Anggondowati
S-10406
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Selvi Ramadhenisa; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Mohammad Baharuddin
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran serta faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan telekonsultasi dokter di masa pandemik COVID-19 pada penduduk DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan pengumpulan data melalui survei. Penelitian dilakukan pada bulan April-Mei 2021 dengan unit analisis penelitian adalah individu berusia 20-29 tahun yang berkedudukan di wilayah DKI Jakarta. Diperoleh bahwa 74,9% penduduk DKI Jakarta tergolong memanfaatkan layanan telekonsultasi dokter di masa pandemic COVID-19, dengan 63,4% pengguna memanfaatkan lebih dari satu kali. Sebagian besar pengguna menggunakan layanan telekonsultasi dokter yang disediakan oleh platform teknologi kesehatan (Halodoc merupakan platform yang telekonsultasi dokternya paling sering digunakan) dan sisanya klinik, rumah sakit, dan dokter langganan.
Read More
S-10699
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nanik Prasetyoningsih; Promotor: Ascobat Gani; Kopromotor: Besral, Rahajuningsih Dharma; Penguji: Meiwita Paulina Budiharsana, Ratna Djuwita, Satria Pratama; Lia Gardenia Partakusuma
Abstrak:
Identifikasi awal pasien berisiko tinggi dari hasil pemeriksaan klinis yang kurang baik sangat diperlukan untuk menurunkan risiko mortalitas akibat COVID-19. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prediktor mortalitas pada pasien COVID-19 di Provinsi DKI Jakarta. Studi kohort retrospektif ini dilakukan dengan cara mengambil 730 sampel pasien COVID-19 di rumah sakit rujukan COVID-19 terpilih (RSUD Pasar Minggu, RSUP Fatmawati, dan RSPAD Gatot Subroto). Analisis Survival Cox Regression digunakan untuk mengetahui hubungan dan pengaruh variabel karakteristik umum pasien (usia, jenis kelamin, IMT, gejala COVID-19, komorbid, dan lama dirawat), pemeriksaan laboratorium pasien (D-Dimer, CRP, NLR, Hb, trombosit, dan leukosit), radiologi rontgen foto thoraks, saturasi oksigen (SpO2), serta response time terhadap mortalitas pasien COVID-19. Dihasilkan bahwa usia >58 tahun (RR 2,01 ; 1,20 – 3,52 95% CI), CRP >10 mg/dL (RR 1,98; 1,48 – 2,63 95% CI), D-Dimer >2500 ng/mL (RR 1,93; 1,10 – 3,17 95% CI), saturasi oksigen <95% (RR 1,84; 1,41 – 2,40 95% CI), response time

Early identification of high-risk patients from destitute clinical results is essential to lower the risk of mortality from COVID-19. The aim of this study is to find the predictors of mortality in COVID-19 patients in the DKI province of Jakarta. A Cohort Retrospective study was conducted by taking 730 samples of COVID-19 patients at selected COVID-19 referral hospitals (RSUD Pasar Minggu, RSUP Fatmawati, dan RSPAD Gatot Subroto). Survival Cox Regression analysis used to determine the relationship and influence of general patient characteristic variables (age, gender, IMT, symptoms of COVID-19, comorbid, and length of stay), laboratory examination of patients (D-Dimer, CRP, NLR, Hb, thrombocyte, and leukocytes), photo-thorax x-rays, oxygen saturation (SpO2), and response time after adminission of COVID-19 patients. The result found that age >58 years (RR 2,01 ; 1,20 – 3,52 95% CI), CRP >10 mg/dL (RR 1,98; 1,48 – 2,63 95% CI), D-Dimer >2500 ng/mL (RR 1,93; 1,10 – 3,17 95% CI), oxygen saturation <95% (RR 1,84; 1,41 – 2,40 95% CI), response time
Read More
D-501
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive