Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 25976 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ariasih, Rr. Arum; Promotor: Besral; Kopromotor: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Evi Martha, Fidiansjah, Eunike Sri Tyas Suci, Erwinsyah Harahap
Abstrak:
Depresi selama kehamilan dapat terjadi pada sekitar 10-15% ibu. Risiko depresi pascamelahirkan lebih tinggi pada ibu yang mengalami depresi selama kehamilan. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan strategi edukasi pencegahan depresi pascamelahirkan pada kelas ibu hamil dengan pendekatan Impelementation Science (IS).Penelitian ini adalah operational research yang menggunakan mixed methods exploratory sequential design dengan 4 tahapan yaitu eksplorasi, instalasi, implementasi dan keberlanjutan. Penelitian dilakukan di Kota Tangerang Selatan dengan kelompok intervensi (kecamatan Pamulang, Pondok Aren, dan Ciputat Timur); dan kontrol (kecamatan Ciputat, Seru, Serpong dan Serpong Utara). Waktu penelitian November 2022 hingga April 2024. Sampel penelitian adalah ibu hamil dengan kehamilan trimester akhir sebanyak 280 orang (intervensi=137 dan kontrol=143). Pada kelompok intervensi dilakukan pelatihan edukasi depresi pascamelahirkan terhadap fasilitator kemudian mereka melakukannya di kelas ibu hamil. Kelompok kontrol tidak dilakukan intervensi. Skrining dilakukan pada kedua kelompok sebanyak empat kali. Analisis data menggunakan univariat, bivariat, dan multivariat Generalized Estimating Equations (GEE). Hasil tahap eksplorasi didapatkan dukungan dari Dinas Kesehatan dan tim pelaksana untuk strategi edukasi. Tahap instalasi terlaksananya pelatihan dan tersusun pedoman, modul, booklet dan lembar balik pencegahan depresi pascamelahirkan. Strategi edukasi secara signifikan efektif menurunkan skor SRQ 56,14%, skor EPDS 16,88% dan meningkatkan skor pengetahuan 11,27% dan sikap 5,51% dari pengukuran awal hingga akhir. Variabel karakteristik respoden, suami/keluarga, dan fasilitator terbukti sebagai variabel perancu. Riwayat depresi merupakan variabel perancu yang memiliki efek paling besar dalam meningkatkan skor SRQ dan EPDS.

Depression during pregnancy can occur in approximately 10-15% of mothers. The risk of postpartum depression is higher in mothers who experience depression during pregnancy. This study aims to develop a strategy for postpartum depression prevention education in antenatal classes using the Implementation Science (IS) approach. This operational research employs a mixed methods exploratory sequential design through four stages: exploration, installation, implementation, and sustainability. The study was conducted in South Tangerang City with control groups (Pamulang, Pondok Aren, and East Ciputat sub-districts) and intervention groups (Ciputat, Serpong, Serpong, and North Serpong sub-districts). The research period was from November 2022 to April 2024. The sample consisted of 280 pregnant women in their late trimester (intervention = 137 and control = 143). In the intervention group, postpartum depression education training was conducted for facilitators and then they did it in the pregnant women's class. The control group did not receive any intervention. Screening was conducted in both groups four times. Data analysis was performed using univariate, bivariate, and multivariate GeneralizeEstimating Equations (GEE). The results from the exploration stage indicated support from the Health Office and the implementation team for the education strategy. The installation stage included the execution of training and the development of guidelines, modules, booklets, and flipcharts for postpartum depression prevention. The education strategy was significantly effective in reducing SRQ scores by 56.14%, EPDS scores by 16.88%, and increasing knowledge scores by 11.27% and attitudes by 5.51% from the initial to the final measurement. Variables related to respondent characteristics, spouse/family and facilitators were identified as confounding variables. A history of depression was the most significant confounding variable in increasing SRQ and EPDS scores.
Read More
D-537
Depok : FKM UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Purnamawati; Promotor: Ratna Djuwitna; Ko Promotor I: Sudijanto Kamso; Kopromotor II: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Budi Utomo, Hadi Pratomo, Elizabeth Jane Soepardi, Soewarta Kosen, Toha Muhaimin
D-317
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yusef Dwi Jayadi; Promotor: Robiana Modjo; Penguji: Fatma Lestari, Mila Tejamaya; Penguji: Sabarinah, Sandra Fikawati, Sudi Astono, Sugiarti, Heny Mayawati
Abstrak:

Pada tahun 2023 industri perkebunan kelapa sawit tercatat sebagai sektor dengan angka
kecelakaan kerja tertinggi nasional (60,5%) dengan tren kenaikan sebesar 18–20 % per
tahun. Dua faktor utama penyebab kecelakaan dan penyakit pada pekerja di sektor ini
adalah kurangnya pengawasan dari manajemen (lack of management control) dan
rendahnya tingkat pengetahuan pekerja (human factor). Untuk mengatasi hal tersebut,
penelitian ini mengembangkan Model Edukasi K3 melalui penyusunan Modul Edukasi
K3 dan pembentukan Kader Sawit, yang bertujuan meningkatkan literasi dan praktik
keselamatan kerja pekerja sawit. Penelitian menggunakan pendekatan mix-method
exploratory yang dilakukan selama 6 bulan dengan tahapan penelitian: (1) analisis
penyelenggaraan K3 dan mengidentifikasi status gizi pekerja, (2) penyusunan Modul
Edukasi K3 melalui studi literatur dan expert judgement serta pembentukan Kader Sawit,
dan (3) uji coba/menilai dampak intervensi dengan Quasi Experiment Design (Wilcoxon
Test). Hasil intervensi menunjukkan peningkatan signifikan pada skor pengetahuan (dari
38,68 menjadi 50,60), sikap (61,87 menjadi 68,13), dan perilaku (25,38 menjadi 30,53).
Peningkatan skor Pengetahuan, Sikap dan Perilaku pada kelompok intervensi rata-rata
7.4 kali lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Selain itu, kecelakaan kerja menurun dari
66,7 % menjadi 10 %, dan angka kejadian penyakit turun dari 43,3 % menjadi 33,3 %
setelah intervensi. Dengan demikian, intervensi melalui Modul Edukasi K3 dan Kader
Sawit terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku K3 serta
menurunkan angka kecelakaan dan penyakit, sehingga dapat menjadi langkah strategis
dan efektif untuk meningkatkan literasi dan praktik K3 di industri perkebunan kelapa
sawit di Indonesia.


In 2023, the palm oil plantation industry was recorded as the sector with the highest
national rate of occupational accidents (60.5%), with an annual increasing trend of 18
20%. The two main contributing factors to accidents and occupational illnesses in this
sector are lack of management control and low levels of worker knowledge (human
factor). To address these issues, this study developed an Occupational Safety and Health
(OSH) Education Model through the formulation of an OSH Education Module and the
establishment of “Kader Sawit” (Palm Cadres), aimed at improving workers’ safety
literacy and practices. This research applied an exploratory mixed-method approach over
a six-month period, with the following phases: (1) analysis of OSH implementation and
identification of workers’ nutritional status, (2) development of the OSH Education
Module through literature review and expert judgment, along with the training of Kader
Sawit, and (3) trial and evaluation of the intervention impact using a Quasi-Experimental
Design (Wilcoxon Test). The intervention resulted in a significant increase in knowledge
scores (from 38.68 to 50.60), attitudes (from 61.87 to 68.13), and safety behavior (from
25.38 to 30.53). The average increase in knowledge, attitude, and behavior scores in the
intervention group was 7.4 times higher than in the control group. Furthermore, the
incidence of occupational accidents decreased from 66.7% to 10%, while the occurrence
of work-related illnesses declined from 43.3% to 33.3% after the intervention. These
findings demonstrate that the implementation of the OSH Education Module and the
involvement of Kader Sawit are effective strategies for enhancing OSH-related
knowledge, attitudes, and behaviors, and for reducing the incidence of accidents and
diseases, thereby offering a strategic and impactful approach to improving OSH literacy
and practices in Indonesia’s palm oil plantation industry.

Read More
D-577
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alfi Munawir; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Masyitoh, Ade Erma Suprijatin
Abstrak: Proses pelayanan dan penerbitan sertifikat vaksinasi internasional di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Soekarno-Hatta belum berjalan secara optimal. Hal tersebut ditunjukkan dengan terjadinya penumpukan pasien pada beberapa aktivitas tertentu serta lead time pelayanan yang terlalu bervariasi. Proses pelayanan dan penerbitan vaksinasi internasional dilakukan secara cepat mengingat jumlah kunjungan pasien vaksinasi dapat mencapai 400 kunjungan. Kegiatan tersebut dikerjakan secara monoton dan dilakukan berulang-ulang secara cepat akan berpotensi menimbulkan masalah dan mengancam keselamatan pasien apabila proses pelayanan bermasalah. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan hasil analisis proses pelayanan dan penerbitan sertifikat vaksinasi internasional di KKP Kelas I Soekarno Hatta dengan pendekatan metode lean six sigma. Jenis penelitian ini adalah operational research, dengan desain penelitian kualitatif dan bantuan statistic dasar. Hasil penelitian digambarkan melalui value stream mapping yang memperlihatkan lead time proses pelayanan dan penerbitan sertifikat vaksinasi internasional selama 14 menit 56 detik dengan aktivitas VA sebesar 6 menit 22 detik (42,63%) dan aktivitas NVA sebesar 8 menit 34 detik (57,37%), proses paling lama terjadi pada langkah anamnesa dan pemeriksaan kesehatan karena menunggu panggilan dokter untuk melakukan anamnesa dan pemeriksaan kesehatan. Waste paling besar adalah waiting waste sebesar 8 menit 23 detik atau 97,85% dari total seluruh waste yang ditemukan. Berdasarkan analisis fishbone diagram ditemukan bahwa akar penyebab masalah paling banyak berasal dari kategori process. Usulan perbaikan yang diberikan berdasarkan penyebab masalah yang ditemukan berupa pembatas antar pasien pada meja anamnesa dan pemeriksaan kesehatan, komunikasi pasien geriatri, pembuatan standarisasi kerja, pembuatan visual management, membuat pelatihan dan motivasi, melakukan penelitian serupa saat peak season, menghitung beban kerja, serta menerapkan 5S.
Read More
S-9992
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fenita Purnama Sari Indah; Promotor: Tris Eryando; Kopromotor: Kemal Nazaruddin Siregar, Lely Wahyuniar; Penguji: Besral, Meiwita Paulina Budiharsana, Zubairi Djoerban, Trihono, Muchlis Achsan Udji Sofro
Abstrak:
Indonesia memiliki Pengidap HIV Terbanyak di Asia Tenggara. Pada target 95% ARV, hingga Maret 2023 Indonesia masih mencapai kurang dari setengah target (42%) yang masih di dalam pengobatan ARV. Tujuan utama penelitian ini adalah mengembangkan model edukasi digital m-Health OMA untuk meningkatkan pengetahuan, sikap ODHIV mengenai HIV/AIDS dan ARV dan kepatuhan mengonsumsi pada ODHIV. Penelitian ini adalah penelitian analitik operational research yang terdiri atas 5 (lima) tahap dengan metode campuran atau mixed methods. Tahap penelitian tersebut adalah 1) Identifikasi faktor determinan kepatuhan mengonsumsi ARV (Antiretroviral) pada ODHIV (n=142 ODHIV); 2) Menyusun konten dan desain aplikasi m-Health OMA (n=9 informan Focus Group Discussion); 3) Pengembangan aplikasi m-Health OMA. Peneliti bekerja sama dengan tim IT membentuk model aplikasi m-Health OMA dengan muatan konten dan desain berdasarkan hasil FGD pada tahap sebelumnya; 4) Uji coba konten dan desain m-Health OMA dengan melakukan penilaian user experience aplikasi m-Health OMA (n=33 ODHIV). Analisis hasil pengukuran User Experience (UEQ Data Analysis Tool melalui excel Microsoft Office 365) ; 5) Mengevaluasi model dan sistem aplikasi m-Health OMA. Hasil penelitian mengemukakan bahwa determinan yang paling terkait dengan kepatuhan mengonsumsi ARV pada ODHIV adalah status ekonomi (berkaitan juga dengan biaya transportasi), pengetahuan tentang HIV/AIDS dan ARV, dan stres. Faktor determinan ini menjadi landasan dalam penyusunan konten dan desain aplikasi. Fitur aplikasi yang disusun yaitu kotak obat; pengingat minum obat (mengetikkan kata penyemangat); pantun jenaka; mitos/fakta; poster dan komik; jurnal dan buku HIV/AIDS, ARV; Media Audio Visual. Keseluruhan fitur dapat menambah semangat, memotivasi dan mengingatkan untuk terus konsumsi ARV agar ODHIV tidak lupa dan jenuh. Desain yang diciptakan dibuat menarik dengan tampilan full color dilengkapi dengan media audio visual, komik, poster, kotak obat, pantun yang lucu dan memberikan semangat. Aplikasi m-Health OMA dan video tutorial penggunaan aplikasi telah didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Uji coba konten dan desain m-Health OMA dengan melakukan penilaian user experience aplikasi m-Health OMA menunjukkan hasil excellent pada aspek daya tarik, kejelasan, efisiensi, ketepatan, stimulasi, dan kebaruan. Pada evaluasi m-Health OMA dan pemberian leaflet pada ODHIV untuk pengukuran perubahan pengetahuan, sikap dan kepatuhan mengonsumsi ARV. m-Health OMA telah terbukti dapat meningkatkan pengetahuan (p value <0,001), sikap (p value <0,001) dan kepatuhan mengonsumsi ARV (p value = 0,001).

Indonesia has the most HIV sufferers in Southeast Asia. With a target of 95% ARVs, until March 2023 Indonesia has still reached less than half of the target (42%) on ARV treatment. The main objective of this project is to develop a new m-Health digital education model for OMA in order to improve PLHIV's attitudes, knowledge, and adherence to taking ARVs and HIV/AIDS. This research project is an analytical operational study with five (five) stages and an assortment of approaches. The research proceeded in three stages: 1) determining the factors that influence PLHIV (those living with HIV) to use ARVs (antiretrovirals; n = 142 PLHIV); 2) developing the OMA m-Health application's design and content (n = 9 focus group discussion informants); and 3) developing the OMA m-Health application. For the purpose of to test the content and design of m-Health OMA, researchers collaborated with the IT team to create the OMA m-Health application model, with content and design based on the results of the FGD in the previous stage; 4) evaluate the m-Health OMA application's user experience (n=33 PLHIV). 5) Assess the OMA m-Health application model and system; 5) Analyze User Experience measurement data (UEQ Data Analysis Tool using Excel Microsoft Office 365). The results of the research indicate that stress, knowledge about HIV/AIDS and ARVs, and economic status—which is also related to transportation expenses—are the factors most associated with PLHIV adherence to taking ARVs. This important factor creates the basis for content and application design development. The components of the application are arranged as a result: a medicine box; a rhyme; myth/fact; posters and comics; HIV/AIDS journals and books; ARVs; audio visual media; and a reminder to take medication (type messages of motivation). All of these features assist PLHIV remain motivated, enthusiastic, and reminded to keep taking ARVs to prevent forgetting or getting fatigued. The full color display of the exquisite designs is further developed with visual and audio material, comics, posters, medication boxes, and humorous and inspirational lyrics. The intellectual property rights (HKI) have been registered for the OMA m-Health application and the video tutorials that complement it. The OMA m-Health content and design trial produced great results in terms of attractiveness, clarity, efficiency, input, stimulation, and originality when the user experience of the OMA m-Health application was evaluated. Providing PLHIV leaflets and evaluating m-Health OMA are two ways to assess how PLHIV's knowledge, attitudes, and adherence to taking ARVs have changed. It has been established that m-Health OMA increases adherence to taking ARVs (p value = 0.001), knowledge (p value <0.001), and attitudes (p value <0.001).
 
Read More
D-507
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jumhati, Siti; Promotor: Sabarinah; Kopromotor: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Agustin Kusumayati, Artha Prabawa, Kemal Nazaruddin Siregar, Sabarinah, Sudarto Ronoatmodjo, Maryati, Arietta Pusponegoro, Ade Jubaedah, Trihono
Abstrak:
Hasil Long Form sensus penduduk 2020 (LF SP 2020) AKI di Indonesia sebesar 189 per 100.000 KH, sementara AKI di Provinsi Banten sebesar 127/100.000 KH. Penurunan angka kematian ibu dari hasil LF SP2020 mencapai 45 persen. Meskipun AKI pada tahun 2020 sudah ada penurunan dibanding dengan AKI pada tahun 2015, akan tetapi masih perlu usaha keras untuk mencapai target SDGs. Deteksi dini preeklampsi pada ibu hamil adalah bagian dari asuhan antenatal yang merupakan salah satu kunci intervensi utama untuk menurunkan angka kematian ibu dan mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) yang telah diterapkan diberbagai Negara. Tujuan penelitian ini untuk menguatkan keaktifan bidan dan kader Kesehatan di Puskesmas dalam mempengaruhi ibu hamil melakukan deteksi dini preeklampsia menggunakan mHealth. Metode penelitian ini menggunakan desain Mixs Methods Exploratory Sequential. Penelitian kualitatif dilakukan untuk pengembangan intervensi. Informan pada penelitian kualitatif terdiri dari Dinas Kesehatan, Ibu hamil, keluarga ibu hamil, bidan Puskesmas, kader kesehatan dan masyarakat. Penelitian kuantitatif menggunakan desain Quasi eksperimental. Penelitian dilakukan di Kecamatan Angsana, Kaduhejo (intervensi) dan Cikupa Pandeglang, Cadasari (kontrol) di Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten. Populasi penelitian seluruh ibu hamil umur 15-49 tahun, di Kabupaten Pandeglang. Sampel penelitian yaitu Ibu hamil umur 15-49 tahun, usia kehamilan ≤ 34 minggu yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, besar sampel 100 orang. Teknik pengambilan sampel dengan Purposive sampling. Pada kelompok intervensi dilakukan edukasi menggunakan mHealth untuk penguatan pemeriksaan deteksi dini preeklampsi pada ibu hamil oleh bidan dan kader, pada kelompok kontrol tidak dilakukan intervensi. Analisa data dengan menggunakan analisa univariat, bivariat, multivariat: Risk Ratio (RR), Attributable Risk (AR), AR% (absolute) dan Difference in Difference (DiD). Hasil studi kualitatif Ibu hamil mempersepsikan bahwa tidak sulit untuk mengakses pelayanan kesehatan terkait deteksi dini preeklampsi, dan orang tua adalah orang yang paling banyak memberikan saran dan masukan selama kehamilan. Meskipun demikian mayoritas ibu hamil masih belum melakukan pemeriksaan deteksi dini preeklampsi dengan baik, dan masih ada beberapa ibu hamil yang tidak ingin memeriksakan kehamilannya ke bidan maupun ke dokter kandungan. Hasil studi kuantitatif variabel yang paling dominan mempengaruhi perilaku deteksi dini preeklampsi adalah Intervensi bidan dan kader kesehatan, sikap dan dukungan tenaga kesehatan terhadap deteksi dini preeklampsi dengan nilai (p-value < 0,05). Intervensi edukasi menggunakan mHealth oleh bidan dan kader secara signifikan (p value < 0,05) memberikan dampak meningkatkan perilaku well detection terhadap preeklampsi pada ibu hamil sebesar 47,1 % (AR) dan 38% (DiD).


The results of the Long Form Population Census 2020 (LF SP 2020) showed that the MMR in Indonesia was 189 per 100,000 KH, while the MMR in Banten Province was 127/100,000 KH. The reduction in maternal mortality from the LF SP2020 results reached 45 per cent. Although the MMR in 2020 has decreased compared to the MMR in 2015, it still needs hard efforts to achieve the SDGs target. Early detection of preeclampsia in pregnant women is part of antenatal care which is one of the key interventions to reduce maternal mortality and achieve Sustainable Development Goals (SDGs) targets that have been implemented in various countries. The purpose of this study was to strengthen the activeness of midwives at Puskesmas in influencing pregnant women to do early detection of preeclampsia using mHealth. This research method uses Mixs Methods Exploratory Sequential design. Qualitative research was conducted for intervention development. Informants in qualitative research consisted of the Health Office, pregnant women, families of pregnant women, Puskesmas midwives, health cadres and the community. Quantitative research used a Quasi-experimental design. The study was conducted in Angsana, Kadu Hejo (intervention) and Cikupa, Cadasari (control) sub-districts in Pandeglang Regency, Banten Province. The study population was all pregnant women aged 15-49 years, in Pandeglang Regency. The study sample was pregnant women aged 15-49 years, gestational age ≤ 34 weeks who met the inclusion and exclusion criteria, a sample size of 100 people. Purposive sampling technique. In the intervention group, education using mHealth was carried out to strengthen the early detection of preeclampsia in pregnant women by midwives and cadres, in the control group no intervention was carried out. Data analysis using univariate, bivariate, multivariate: Risk Ratio (RR), Attributable Risk (AR), AR% (absolute) and Difference in Difference (DiD). Qualitative study results Pregnant women perceive that it is not difficult to access health services related to early detection of preeclampsia, and parents are the people who provide the most advice and input during pregnancy. However, the majority of pregnant women still do not perform early detection of preeclampsia properly, and there are still some pregnant women who do not want to check their pregnancy with a midwife or obstetrician. The results of the quantitative study of the most dominant variable affecting the early detection of preeclampsia was the Educational interventions using mHealth by midwives and , and health worker support. Educational interventions using mHealth by midwives and CHWs significantly (p value <0.05) had an impact on improving the early detection behaviour of preeclampsia in pregnant women by 47,1% (AR) and 38% (DiD).
 
Read More
D-536
Depok : FKM UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Slamet Budiarto; Promotor: Anhari Achadi; Kopromotor: Sutanto Priyo Hastono, Pujiyanto; Penguji: Purnawan Junadi, Andi Arus Vector, Syafiq A. Mughni, Mahlil Ruby, Hasbullah Thabrany
Abstrak:
Stunting anak 0-23 bulan di Indonesia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh berbagai faktor langsung dan tidak langsung. Penelitian menggunakan data Riset Kesehatan Dasar, Survey Sosial Ekonomi Nasional dan Produk Domestik Regional Bruto per kapita tahun 2018 dengan pendekatan potong lintang bertujuan mengetahui model jalur hubungan langsung dan tidak langsung berbagai faktor risiko stunting dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota. Pengolahan data sekunder dilakukan pada Januari-April 2022. Sampel adalah 106 kabupaten/kota prevalensi stunting <20% dan 403 kabupaten/kota prevalensi stunting ≥20% (20%-<30%, 30%-40% dan >40%) yang diagregratkan pada tingkat kabupaten/kota dari 32.095 data individu anak usia 0-23 bulan yang diukur panjang badannya. Pemodelan menggunakan analisis jalur. Model jalur pencegahan risiko stunting memperlihatkan akses terhadap makanan (r=-0,31) dan pemeriksaan kehamilan (r=-0,29) berhubungan langsung dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota di kabupaten/kota prevalensi stunting <20%. Keluarga Berencana (r=-0,15), pemeriksaan kehamilan (r=-0,13) dan cuci tangan pakai sabun (r=-0,11) berhubungan langsung dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota di kabupaten/kota prevalensi stunting ≥20%. Tablet tambah darah ibu hamil (r=-0,02) dan inisiasi menyusu dini (r=-0,03) berhubungan tidak langsung melalui ASI eksklusif dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota di kabupaten/kota prevalensi stunting 20%-<30%. ASI eksklusif (r=-0,15) berhubungan langsung dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota di kabupaten/kota prevalensi stunting 20%-<30%. Cuci tangan pakai sabun berhubungan signifikan langsung dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota di kabupaten/kota prevalensi stunting 30%-40% (r=-0,22) dan >40% (r=-0,45). Model jalur menyimpulkan bahwa kabupaten/kota dapat memainkan peran penting dalam upaya pencegahan risiko stunting dengan memodifikasi sejumlah faktor risiko terutama pada keluarga anak 0-23 bulan.

Stunting in children 0-23 months in Indonesia is a public health problem caused by various direct and indirect factors. This study uses data from Basic Health Research, National Socio-Economic Survey and Gross Regional Domestic Product per capita in 2018 with a cross-sectional approach. Secondary data processing was carried out in January-April 2022. The samples were 106 districts/cities with stunting prevalence <20% and 403 districts/cities with stunting prevalence 20% (20%-<30%, 30%-40% and >40%) Aggregated at the district/city level from 32,095 individual data for children aged 0-23 months, whose body length was measured. The modeling uses path analysis. The stunting risk prevention pathway model shows that access to food (r=-0.31) and prenatal care (r=-0.29) is directly related to the prevalence of stunting at the district/city level in districts/cities with stunting prevalence <20%. Family planning (r=-0.15), pregnancy check-ups (r=-0.13) and hand washing with soap (r=-0.11) were directly related to the prevalence of stunting at the district/city level in districts/cities stunting prevalence 20 %. Blood supplement tablets for pregnant women (r=-0.02) and early initiation of breastfeeding (r=-0.03) were indirectly related through exclusive breastfeeding with the prevalence of stunting at the district/city level in districts/cities stunting prevalence of 20%-<30% . Exclusive breastfeeding (r=-0.15) was directly related to the prevalence of stunting at the district/city level in the district/city stunting prevalence of 20%-<30%. Hand washing with soap is directly related to stunting prevalence at district/city level in districts/cities, stunting prevalence is 30%-40% (r=-0.22) and >40% (r=-0.45). The pathway model concludes that districts/cities can play an important role in preventing stunting risk by modifying a number of risk factors, especially in families of children 0-23 months.
Read More
D-474
Depok : FKM UI, 2023
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dhian Probhoyekti Dipo; : Budi Utomo; Kopromotor: Endang L Achadi, Elvina Karyadi; Penguji: Ratna Djuwita, Tris Eryando, Minarto, Anies Irawati, Toto Sudargo
D-339
Depok : FKM-UI, 2016
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mery Ramadani; Promotor: Budi Utomo; Kopromotor: Endang Laksminingsih Achadi, Hartono Gunardi; Penguji: Anhari Achadi, Faisal Yunus, Besral, Bambang Wispriyono, Soewarta Kosen, Abas Basuni Jahari,
Abstrak: Rokok merupakan masalah global dan menjadi ancaman serius bagi kesehatan ibu hamil dan janin. Studi kohor prospektif ini, dilakukan untuk menilai pengaruh pajanan pasif asap rokok ibu hamil terhadap gangguan pertumbuhan janin. Melibatkan 128 ibu hamil trimester 3, hamil janin tunggal, tidak memiliki riwayat penyakit kronis, bukan perokok aktif, bukan mantan perokok, dan bersedia terlibat dalam penelitian. Penilaian pajanan asap rokok ibu berdasarkan pemeriksaan nikotin darah tali pusat (cut off ≥1ng/ml). Pengukuran menggunakan nikotin plasma adalah metode yang paling akurat karena dapat mengukur kondisi sebenarnya dan membantu mengurangi misklasifikasi. Gangguan pertumbuhan janin dinilai dengan pengukuran berat lahir, panjang lahir, lingkar kepala, dan berat plasenta. Pengukuran dilakukan segera setelah lahir untuk menjamin ketepatan pengukuran. Analisis uji beda dua mean digunakan untuk mengetahui perbedaan rata rata ukuran gangguan pertumbuhan janin antara kelompok ibu terpajan asap rokok dan tidak terpajan asap rokok. Analisis regresi linier untuk melihat pengaruh pajanan asap rokok terhadap berat lahir, panjang lahir, lingkar kepala dan berat plasenta dengan memperhatikan variabel pengganggu seperti penambahan berat badan ibu selama hamil, BMI ibu, paritas ibu, usia dan kadar hemoglobin ibu. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar nikotin tali pusat sebesar 1,3±2,5 ng/ml. Berat lahir dan berat plasenta bayi dari ibu yang mendapat pajanan asap rokok lebih rendah dibandingkan ibu yang tidak mendapat pajanan asap rokok. Pajanan asap rokok secara signifikan mengurangi berat lahir bayi sebesar 205,6 gram (pvalue = 0,005) dan berat plasenta sebesar 51 gram (p value=0,010).
 

This cohort study examined the effect of secondhand smoke exposure in pregnant women on fetal growth restriction. The study recruited 128 pregnant women in the third trimester pregnancy, single pregnancy, no chronic illness, non-active smokers, non-exsmokers, and who were willing to participate in the study. Pregnant women with the secondhand smoke exposure referred to those with the umbilical cord blood nicotine level of 1ng/ml or higher. Fetal growth disorder was assessed according to the newborn weight, length, head circumference, and palcental weight measured immediately after birth. The independent t-test analysis was used to determine the difference in average size of fetal growth between two groups of pregnant women: exposed and the notexposed to the secondhand smoke. A multiple linear regression analysis was employed to find out the effect of secondhand smoke exposure on birth weight, length, head circumference, and palcental weight controlling for the birth size confounders including weight gain during pregnancy, body mass index, parity, maternal age, and maternal hemoglobin. The study found that mean of nicotine in umbilical cord blood was 1.3±2.5 ng/ml, the birth weight and the placental weight of infants were lower among mothers who exposed than among mothers who did not expose to the secondhand smoke. Exposed to the secondhand smoke reduced the birth weight by 205.6 grams (p value = 0.005) and placental weight by 51 grams (p value=0.010).
Read More
D-395
Depok : FKM-UI, 2019
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive