Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34660 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Risma Oktaria; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dian Ayubi, Tri Krianto, Susmita, Ida Kurniawati
Abstrak:
Setiap remaja berhak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan reproduksi sesuai dengan tumbuh kembangnya melalui pelayanan klinis, konseling dan KIE pada pendidikan formal dan non formal. Berdasarkan penelitian awal melalui wawancara dengan siswa di salah satu sekolah di Kab. Ogan Ilir, diperoleh informasi bahwa siswa belum mendapatkan pengetahuan yang baik tentang kesehatan reproduksi di sekolah maupun dari orang tua, guru menuturkan bahwa siswa terkesan malu dan merasa tabuh ketika membahas masalah pernikahan dan kesehatan reproduksi, siswa menganggap materi yang disampaikan oleh guru kurang pantas untuk disampaikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan analisis terhadap program pendidikan kesehatan reproduksi remaja tingkat SMA sederajat di Kab. Ogan Ilir pada tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Pengambilan data melalui wawancara mendalam pada 10 orang informan utama guru, tenaga kesehatan Puskesmas dan penyuluh KB dan 2 orang informan kunci dari Dinas Kesehatan dan Dinas P3AP2KB, Focus Group Discussion pada 4 kelompok siswa dengan total 40 orang siswa dari 4 sekolah dan telaah dokumen. Hasil penelitian ini yaitu semua sekolah telah menerapkan kebijakan pendidikan kesehatan reproduksi remaja melalui pendidikan kesehatan reproduksi remaja oleh guru di sekolah, program PKPR oleh tenaga Puskesmas dan Program PIK-R oleh penyuluh KB. SDM yang terlibat sebagian besar memiliki latar belakang yang sesuai dengan kesehatan reproduksi namun masih memerlukan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, serta telah memiliki panduan dalam pelaksanaan kegiatan namun dalam pelaksanaannya terdapat beberapa penyesuaian. Terdapat beberapa kendala yang menghambat proses pelaksanaan kegiatan diantaranya adalah ketersediaan anggaran, sarana dan alat pendukung yang belum memadai, serta tidak semua remaja dapat di jangkau dalam pelaksanaan kegiatan. Pendidikan kesehatan reproduksi remaja melalui pendidikan oleh guru di sekolah, program PKPR dan PIK-R sudah sesuai dengan kebutuhan dan sangat bermanfaat bagi remaja, namun masih perlu dioptimalkan lagi dalam hal pelaksanaannya.

Every teenager has the right to receive reproductive health services in accordance with their growth and development through clinical services, counseling and information in formal and non-formal education. Based on initial research through interviews with students at one of the schools in Ogan Ilir, information was obtained that students had not received good knowledge about reproductive health at school or their parents, the teacher said that students seemed embarrassed and felt timid when discussing marriage and reproductive health issues, students considered the material presented by the teacher to be inappropriate to convey. The aim of this research is to conduct an analysis of the adolescent reproductive health education program at high school and equivalent levels in Ogan Ilir in 2023. This research is qualitative research with a phenomenological approach. Data were collected through in-depth interviews with 10 main informants, teachers, health workers at the Community Health Center and family planning instructors and 2 key informants from the Health Service and P3AP2KB Service, Focus Group Discussions on 4 groups of students with a total of 40 students from 4 schools and document review. The results of this research are that all schools have implemented adolescent reproductive health education policies through adolescent reproductive health education by school teachers, the PKPR program by Community Health Center staff and the PIK-R Program by family planning counselors. Most of the human resources involved have a background that is relevant to reproductive health but still require training to increase their knowledge and skills, and already have guidelines for implementing activities, but in implementation there are several adjustments. There are several obstacles that hamper the process of implementing activities, including inadequate budget availability, supporting facilities and equipment, and not all teenagers can be reached in implementing activities. Adolescent reproductive health education through education by teachers in schools, the PKPR and PIK-R programs are in accordance with needs and are very beneficial for adolescents, but still need to be optimized further in terms of implementation.
Read More
T-6928
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Isnawati; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Ascobat Gani, Jaslis Ilyas, Intan Widayati, Doni Aria Candra
Abstrak: Penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya pencegahan kematian ibu melalui kebijakan program ANC. Hal ini dilakukan dengan menganalisis komponen masukan yang terdiri dari pedoman antenatal care, sumber daya manusia, sarana prasarana dan dana. Komponen proses di lihat dari proses pelaksanaan program antenatal care dan komponen keluaran adalah upaya penguatan kebijakan program untuk pencapaian indikator dan standar pelayanan dalam pencegahan kematian ibu yang dilakukan di Puskesmas Pamijahan Kabupaten Bogor. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus, dimana data primer diperoleh dari hasil wawancara mendalam dan data skunder diperoleh dari hasil telaah dokumen. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.Kesenjangan antara kebijakan daerah dengan standar nasional, 2. Keterbatasan SDM, 3. Kurang Optimalnya sarana prasarana, 4. Penyerapan dan penggunaan dana program belum optimal, 5. Belum tercapainya target program dan masih adanya kasus kematian ibu, 6. Perlu adanya upaya penguatan program dalam mendukung kebijakan program kesehatan ibu khususnya antenatal care. Di usulkan adanya penguatan kelembagaan, SDM, fasilitas dan teknologi, akses dan layanan, pembiayaan, edukasi dan promosi kesehatan serta penguatan partisipasi dan keterlibatan publik.
This research aims to understand the efforts to prevent maternal deaths through ANC program policies. It involves analyzing input components such as antenatal care guidelines, human resources, infrastructure, and funding. The process component is viewed from the implementation of the antenatal care program, and the output component includes efforts to strengthen program policies in achieving indicators and service standards for preventing maternal deaths conducted at Puskesmas Pamijahan, Bogor Regency. This qualitative research uses a case study method, where primary data is obtained from in-depth interviews and secondary data is obtained from document reviews. The results of this research are as follows: 1. Discrepancy between local policies and national standards, 2. Limited human resources, 3. Suboptimal infrastructure, 4. Inefficient absorption and use of program funds, 5. Failure to meet program targets and persistent maternal deaths, 6. There is a need for program reinforcement to support maternal health policies, particularly antenatal care. It is proposed to strengthen institutions, human resources, facilities and technology, access and services, financing, health education, promotion, and public participation and involvement.
Read More
T-6940
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fenny Etrawati; Pembimbing: Evi Martha, Rita Damayanti; Penguji: Anwar Hassan, Nurul Agustina, Childa Maisni
T-3993
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Silvi Enggar Budiarti; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dien Anshari, Ryksa Raharja
Abstrak: Pengetahuan kesehatan reproduksi sangat penting bagi remaja. Saat ini internet merupakan media yang paling dekat dan digemari oleh remaja. Melalui internet remaja dapat mengakses informasi dengan cepat dan mudah. Tetapi informasi kesehatan yang tidak difiltrasi dapat membahayakan dan mempengaruhi perilaku kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan internet untuk informasi kesehatan, persepsi penggunaan internet untuk informasi kesehatan, dan pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional melalui pengisian sendiri dari kuesioner yang diberikan pada 131 siswa SMA Pro An Nizhomiyah Depok. Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata frekuensi dan durasi mengakses internet untuk informasi kesehatan reproduksi dalam seminggu yaitu 1,54 kali dan 43,71 menit; 63,4% siswa mempersepsikan internet berguna, 40,6% mudah diakses, dan 53,5% merasa internet memberikan privasi ketika mencari informasi kesehatan reproduksi; pengetahuan pada siswa yang memakai internet tergolong baik dan yang tidak memakai tergolong rendah; dan terdapat perbedaan signifikan (p=0,007) antara pengetahuan siswa yang menggunakan internet dengan yang tidak menggunakan, sehingga potensi internet dalam pendidikan dan promosi kesehatan reproduksi dapat dipertimbangkan dan dimanfaatkan oleh sekolah. Kata kunci : internet; kesehatan reproduksi remaja; pengetahuan; persepsi; sekolah islam Knowledge of reproductive health is very important for teenagers. Currently the internet is the media closest and popular by teenagers. Through the internet teens can access information quickly and easily. Unfiltered health information can be harmful and effect health behavior. This study aimed to describe of internet use for health information, perceptions of internet use for reproductive health information, and knowledge of reproductive helath in adolescents. This research was conducted by descriptive quantitative method with cross sectional approach through self-filling from questionnaire given at 131 students of Pro An Nizhomiyah Depok. The results of this study are the average frequency and duration of internet access for reproductive health information in a week that is 1,54 times and 43,71 minutes; 63.4% of students perceive internet is useful, 40.6% easily accessible, and 53.5% feel the internet provides privacy when seeking information on reproductive health; and there are significant differences (p=0.007) between the knowledge of students who use internet and those wo do not use, so that the potential of internet in education and promotion of reproductive health can be considered and utilized by school. Keywords: internet, adolescent reproductive health, knowledge, perceive, islamic school
Read More
S-9586
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dhefi Ratnawati; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dian Ayubi, Baharudin, Esti Widiastuti
T-5341
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fajrin Violita; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi, Hadi Pratomo; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Linda Siti Rohaeti, Sri Lilestina Nasution
T-5322
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hilda Khairani; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dien Anshari, Siti Arifah Pujonarti, Mutia Arida S, Ira Monellia
Abstrak:
Misinformasi diet di media sosial berpotensi memengaruhi perilaku kesehatan remaja, terutama pada kelompok yang aktif mencari informasi terkait diet. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan literasi kesehatan digital, minat terhadap topik diet, penggunaan media sosial, dan sumber informasi diet dengan kerentanan terhadap misinformasi diet pada siswi SMA/sederajat di Kota Bandung. Penelitian menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan melibatkan 265 siswi SMA/sederajat di Kota Bandung. Kerentanan terhadap misinformasi diet diukur menggunakan instrumen yang diadaptasi dari Online Misinformation Susceptibility Scale (OMISS), sedangkan literasi kesehatan digital diukur menggunakan Digital Health Literacy Competencies (DHLC). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi dan regresi linier berganda. Rerata skor indeks literasi kesehatan digital responden sebesar 72,71 (0-100), sedangkan rerata skor kerentanan terhadap misinformasi diet sebesar 25,15 (9-45). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa literasi kesehatan digital berhubungan negatif secara signifikan dengan kerentanan terhadap misinformasi diet (B = -0,126; p < 0,001), sedangkan minat terhadap topik diet juga berhubungan signifikan dengan kerentanan terhadap misinformasi diet (B = -3,893; p < 0,001), setelah dikendalikan oleh waktu penggunaan media sosial dan sumber informasi diet. Penguatan literasi kesehatan digital perlu menjadi salah satu strategi untuk mengurangi kerentanan remaja terhadap misinformasi diet di media sosial.

Diet-related misinformation on social media has the potential to influence  adolescents' health behaviors, particularly among those who actively seek diet related information. This study aimed to analyze the association between digital  health literacy, interest in diet-related topics, social media use, and diet information  sources with susceptibility to diet-related misinformation among female senior high  school students in Bandung City. This study employed a cross-sectional design  involving 265 female senior high school students in Bandung City. Susceptibility  to diet-related misinformation was measured using an instrument adapted from the  Online Misinformation Susceptibility Scale (OMISS), while digital health literacy  was assessed using the Digital Health Literacy Competencies (DHLC) instrument.  Data were analyzed using correlation tests and multiple linear regression. The mean  digital health literacy index score was 72.71 (0-100), while the mean susceptibility  score to diet-related misinformation was 25.15 (9-45). Multivariable analysis  showed that digital health literacy was significantly and negatively associated with  susceptibility to diet-related misinformation (B = -0.126; p < 0.001). Interest in diet related topics was also significantly associated with susceptibility to diet-related  misinformation (B = -3.893; p < 0.001), after adjusting for social media use and  diet information sources. Strengthening digital health literacy may serve as an  important strategy to reduce adolescents' susceptibility to diet-related  misinformation on social media.
Read More
T-7695
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Royyan Mursyidan; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dian Ayubi, Fitra Yelda
Abstrak: Rentang perilaku pacaran mulai dari berciuman bibir hingga hubungan seks pranikah merupakan tahapan dari kontak seksual yang menyebabkan remaja untuk melakukan perilaku seksual berisiko bersama pacar sehingga dapat menyebabkan remaja yang baru mengenal pacaran untuk memiliki perilaku pacaran yang berisiko (BKKBN, 2018). Menurut SKAP KKBPK tahun 2019, terdapat 3,8% remaja pria dan 1% remaja wanita di DKI Jakarta yang mengaku pernah melakukan hubungan seksual pranikah ketika berpacaran. Hal ini menyebabkan daerah perkotaan memiliki tantangan yang lebih besar dalam menghadapi masalah perilaku seks pranikah. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pola pacaran berisiko remaja adalah pengetahuan kesehatan reproduksi, sikap permisif, dan pergaulan teman sebaya. Desain penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bersifat analitik dengan pendekatan cross-sectional yang bertujuan mengetahui peran pengetahuan kesehatan reproduksi, sikap permisif serta faktor pergaulan teman sebaya dengan pola pacaran remaja SMA di DKI Jakarta pada tahun 2023. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas 10 dan 11 di SMAN 38 Jakarta dan SMAN 90 Jakarta dengan pengambilan sampel secara stratified proportional random sampling. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan kesehatan reproduksi terhadap pola pacaran beresiko remaja. Selain itu, peran sikap permisif terhadap pola pacaran remaja juga tidak memiliki hubungan yang signifikan. Namun, terdapat hubungan yang signifikan antara pergaulan teman sebaya terhadap pola pacaran remaja. Oleh sebab itu, disarankan bagi institusi pendidikan untuk meningkatkan pendekatan dan pemahaman kepada siswa terkait pergaulan yang negatif guna mencegah siswa memiliki pola pacaran berisiko.
The range of dating behavior from kissing on the lips to premarital sex is a stage of sexual contact that causes teenagers to engage in risky sexual behavior with their boyfriends, which can cause teenagers who are new to dating to have risky dating behavior (BKKBN, 2018). According to the SKAP KKBPK 2019, there were 3.8% of male teenagers and 1% of female teenagers in DKI Jakarta who admitted to having had premarital sexual relations while dating. This causes urban areas to have greater challenges in dealing with the problem of premarital sexual behavior. Factors that can influence teenagers' risky dating patterns are reproductive health knowledge, permissive attitudes, and peer interactions. The design of this research is quantitative, analytical research with a cross-sectional approach which aims to determine the role of reproductive health knowledge, permissive attitudes and peer interaction factors in the dating patterns of high school teenagers in DKI Jakarta in 2023. The population in this study is 10th and 11th grade students at SMAN 38 Jakarta and SMAN 90 Jakarta using stratified proportional random sampling. The results of the study showed that there was no significant relationship between reproductive health knowledge and risky dating patterns among adolescents. Apart from that, the role of permissive attitudes on adolescent dating patterns also does not have a significant relationship. However, there is a significant relationship between peer interactions and adolescent dating patterns. Therefore, it is recommended for educational institutions to improve their approach and understanding of negative relationships with students in order to prevent students from having risky dating patterns.
Read More
S-11549
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dastya Yusufina; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dian Ayubi, Zeba Evolusi
Abstrak:
Pada remaja perilaku pacaran erat kaitannya dengan pengalaman romantis yang berguna bagi perkembangan psikologis, terutama pengembangan keintiman. Namun, perilaku pacaran dapat menjadi berisiko apabila melakukan kontak seksual yang dimulai dari berciuman bibir hingga melakukan hubungan seks pranikah. Menurut data SKAP KKBPK tahun 2019, 3.8% remaja laki-laki dan 1% remaja perempuan mengaku pernah melakukan hubungan seks pranikah selama berpacaran. Dalam melakukan perilaku seksual berisiko remaja dipengaruhi oleh faktor individu dan lingkungan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan kesehatan reproduksi, sikap permisif, pergaulan teman serta pola asuh orang tua terhadap perilaku seksual berisiko pada remaja SMA di DKI Jakarta yang distratifikasi berdasarkan jenis kelamin dan pola asuh keluarga positif. Penelitian menggunakan desain kuantitatif yang bersifat analitik dengan pendekatan cross-sectional. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa data Survey Perilaku Remaja Siswa Sekolah Menengah di DKI Jakarta dengan sampel sejumlah 873 yang berasal dari seluruh kelas 10 dan 11 di SMAN 38 dan SMAN 90 Jakarta dengan pengambilan sampel secara total sampling. Hasil penelitian menunjukkan sikap permisif (p-value 0.036, OR=2.076 Cl 95%= 1.036-4.161) dan pergaulan teman sebaya (p-value 0.001, OR=8.500 Cl 95%= 3.950-18.293) memiliki hubungan yang signifikan terhadap perilaku seksual berisiko sedangkan pengetahuan kesehatan reproduksi (p-value 0.149, OR=0.618 Cl 95%=0.320-1.195) dan pola asuh orang tua positif (p-value 0.241, OR=1.480 Cl 95%=0.766-2.862) tidak memiliki hubungan terhadap perilaku seksual berisiko. Analisis stratifikasi menunjukkan bahwa jenis kelamin berpengaruh pada hubungan pergaulan teman sebaya terhadap perilaku seksual berisiko, namun pada hubungan sikap permisif terhadap perilaku seksual berisiko hanya berpengaruh pada jenis kelamin laki-laki saja. Pola asuh keluarga positif juga berpengaruh pada hubungan teman sebaya terhadap perilaku seksual berisiko. Oleh karena itu, disarankan untuk melakukan seminar serta secara rutin terkait kesehatan reproduksi kepada siswa sekolah. Kemudian disarankan kepada instansi kesehatan dan sekolah untuk berkolaborasi dan memberikan pembekalan edukasi kesehatan reproduksi kepada orang tua yang ikut andil dalam mendidik dan memonitoring perilaku pacaran remaja di lingkungan rumah.

In adolescent, dating behavior is closely related to romantic experiences that are useful for psychological development, especially the development of intimacy. However, dating behavior can be risky if it involves sexual contact that starts from kissing lips to having premarital sex. According to SKAP KKBPK data in 2019, 3.8% of male adolescents and 1% of female adolescents admitted to having had premarital sex during dating. Adolescent risky sexual behavior is influenced by individual and environmental factors. Therefore, this study aims to determine the relationship between reproductive health knowledge, permissive attitudes, peer association, and parenting patterns on risky sexual behavior among high school adolescents in DKI Jakarta stratified by gender and positive family parenting. The study used a quantitative design that was analytic in character with a cross-sectional approach. The data used were secondary data in the form of data from the Youth Behavior Survey High School Students in DKI Jakarta with a sample of 873 from all grades 10 and 11 at SMAN 38 and SMAN 90 Jakarta with total sampling. The results showed that permissive attitude (p-value 0.036, OR=2.076 Cl 95%= 1.036-4.161) and peer association (p-value 0.001, OR=8.500 Cl 95%= 3.950-18.293) had a significant relationship with risky sexual behavior while reproductive health knowledge (p-value 0.149, OR=0.618 Cl 95%=0.320-1.195) and positive parenting (p-value 0.241, OR=1.480 Cl 95%=0.766-2.862) had no relationship with risky sexual behavior. Stratification analysis showed that gender had an effect on the relationship between peer association and risky sexual behavior, but only male gender had an effect on the relationship between permissive attitudes and risky sexual behavior. Positive family parenting also had an effect on peer association on risky sexual behavior. Therefore, it is recommended to conduct seminars and regularly related to reproductive health to school students. It is also recommended for health agencies and schools to collaborate and provide reproductive health education to parents who take part in educating and monitoring adolescents dating behavior in their homes.
Read More
S-11665
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Delta Fitriana; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Tiara Amelia, Lilis Suryani, Imam Supingi
Abstrak:

Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) merupakan pendekatan promotif dan preventif yang strategis dalam mendukung kesehatan remaja di satuan pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kerangka evaluasi Input-Process-Output (IPO) dan fungsi manajerial Planning, Organizing, Actuating, Controlling (POAC). Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pelaksanaan program UKS di tiga SMA Negeri di Kota Tangerang Selatan tahun 2025, yaitu SMAN X (stratifikasi minimal), SMAN Y (stratifikasi standar), dan SMAN Z (stratifikasi optimal). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan guru penanggung jawab UKS, penanggung jawab program UKS di puskesmas pembina dan pemegang kebijakan, serta FGD dengan pengelola kantin dan siswa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah dengan dukungan input yang memadai, serta perencanaan (planning) dan pengorganisasian (organizing) yang terstruktur, cenderung mampu melaksanakan (actuating) Trias UKS secara lebih optimal. Output kegiatan juga terlihat lebih maksimal apabila ditunjang oleh sistem monitoring dan evaluasi (controlling) internal yang kuat. Temuan ini konsisten dengan kondisi pada sekolah berstratifikasi UKS optimal, yang menunjukkan sinergi antara ketersediaan input, pelaksanaan yang efektif, dan monev yang berkelanjutan.
Kepemimpinan sekolah dan peran aktif Tim Pembina UKS (TP UKS) memiliki elemen penting dalam memastikan keberhasilan dan keberlanjutan program UKS. Oleh karena itu, diperlukan penguatan peran kepala sekolah dan TP UKS di seluruh tingkatan, mulai dari tingkat nasional hingga kecamatan, yang didukung oleh komitmen kepala daerah dalam bentuk penganggaran, pembinaan, serta monitoring lintas sektor yang terintegrasi.


School Health Efforts (UKS) serve as a strategic promotive and preventive approach to support adolescent health within educational institutions. This study employed a descriptive qualitative approach using the Input-Process-Output (IPO) evaluation framework and the managerial functions of Planning, Organizing, Actuating, and Controlling (POAC). The aim of the study was to examine the implementation of the UKS program in three public senior high schools (SMAs) in South Tangerang City in 2025: SMAN X (minimal stratification), SMAN Y (standard stratification), and SMAN Z (optimal stratification). Data were collected through in-depth interviews with UKS teacher coordinators, UKS program officers at the affiliated community health centers (puskesmas), policymakers, as well as focus group discussions with canteen managers and students. The findings indicate that schools with adequate input support, along with well-structured planning and organizing, tend to implement the Trias UKS more optimally. Program outputs are also more effective when supported by a strong internal monitoring and evaluation (controlling) system. These results are consistent with conditions observed in optimally stratified schools, which demonstrate synergy between sufficient resources, effective implementation, and continuous monitoring. School leadership and the active role of the UKS Development Team (TP UKS) are essential elements in ensuring the success and sustainability of the UKS program. Therefore, it is necessary to strengthen the roles of school principals and TP UKS teams at all levels, from national to sub-district supported by strong commitments from local government leaders through adequate budgeting, capacity-building, and integrated cross-sectoral monitoring.

Read More
T-7425
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive