Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41901 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Marlina Rully Wahyuningrum; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Sandra Fikawati, Triyanti, Rian Anggraini, Neneng Susanti
Abstrak:
Stunting merupakan rendahnya ukuran antropometri dari panjang atau tinggi badan menurut umur akibat kekurangan gizi dalam jangka waktu lama. Stunting menyebabkan anak gagal mencapai pertumbuhan linear dan potensi kognitif yang optimal. Sumatera Barat menjadi satu-satunya provinsi di Pulau Sumatera yang mengalami peningkatan angka stunting pada tahun 2022, dari 23,3% (2021) menjadi 25,2% (2022). Tingginya stunting di perdesaan dibandingkan di perkotaan berkaitan dengan determinan stunting di tiap karakteristik wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan stunting pada anak usia 6-23 bulan berdasarkan wilayah perdesaan dan perkotaan di Provinsi Sumatera Barat menurut data Survei Status Gizi Indonesia Tahun 2022. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan jumlah sampel 2.011 anak dari total sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel independen meliputi faktor anak, ibu, keluarga, dan lingkungan. Penelitian ini dianalisis secara univariat, bivariat (chi square), dan multivariat (regresi logistik ganda). Hasil menunjukkan prevalensi stunting di Provinsi Sumatera Barat sebesar 18,4%, dengan proporsi stunting di perdesaan (22,1%) lebih tinggi dibanding perkotaan (16,8%). Terdapat perbedaan proporsi stunting berdasarkan jenis kelamin, usia anak, panjang badan lahir, tinggi badan ibu, dan kunjungan ANC di perdesaan. Untuk perkotaan, terdapat perbedaan proporsi stunting berdasarkan pneumonia, jenis kelamin, usia anak, berat badan lahir, panjang badan lahir, tinggi badan ibu, pendidikan ibu, ketahanan pangan rumah tangga, dan sanitasi. Secara keseluruhan di Provinsi Sumatera Barat, terdapat perbedaan proporsi stunting berdasarkan pneumonia, jenis kelamin, usia anak, berat badan lahir, panjang badan lahir, tinggi badan ibu, kunjungan ANC, pendidikan ibu, ketahanan pangan rumah tangga, sanitasi, dan klasifikasi tempat tinggal. Faktor dominan yang berhubungan dengan stunting di perdesaan adalah usia anak (OR=3,181), sedangkan di perkotaan dan Provinsi Sumatera Barat adalah tinggi badan ibu (OR=2,994; 2,960). Peningkatan usia anak perlu mendapatkan perhatian lebih agar kemungkinan terjadinya stunting dapat dicegah atau ditangani lebih dini. Pencegahan dan penanggulangan stunting perlu dimulai dari hulu dengan lebih memerhatikan asupan zat gizi dan kesehatan remaja putri sebagai calon ibu agar memiliki status gizi yang baik.

Stunting is an anthropometric measure of low body length or height according to age due to long-term malnutrition. Stunting causes children to fail to achieve optimal linear growth and cognitive potential. West Sumatra is the only province on the island of Sumatra that will experience an increase in stunting rates in 2022, from 23.3% (2021) to 25.2% (2022). The higher rate of stunting in rural compared to urban areas is related to the determinants of stunting in each characteristic of areas. This study aims to determine the determinants of stunting in children aged 6-23 months based on rural and urban areas in West Sumatra Province according to data from the Indonesian Nutrition Status Survey 2022. The design of this research is cross sectional with a sample size of 2,011 children from the total sampling according to inclusion and exclusion criteria. Independent variables include child, mother, family and environmental factors. This research was analyzed univariate, bivariate (chi square), and multivariate (multiple logistic regression). The results show that the prevalence of stunting in West Sumatra Province is 18.4%, with the proportion of stunting in rural (22.1%) higher than urban areas (16.8%). There are differences in the proportion of stunting based on gender, child's age, birth length, mother's height, and ANC visits in rural areas. For urban, there are differences in the proportion of stunting based on pneumonia, gender, child's age, birth weight, birth length, mother's height, mother's education, household food security, and sanitation. Overall in West Sumatra Province, there are differences in the proportion of stunting based on pneumonia, gender, child's age, birth weight, birth length, mother's height, ANC visits, mother's education, household food security, sanitation, and residence classification. The dominant factor associated with stunting in rural is the child's age (OR=3.181), while in urban and West Sumatra Province it is the mother's height (OR=2.994; 2.960). Increasing the age of children needs more attention so that the possibility of stunting can be prevented or treated earlier. Prevention and control of stunting needs to start from the upstream by paying more attention to the nutritional intake and health of young women as mothers-to-be so that they have good nutritional status.
Read More
T-6939
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nila Febriana Iswara; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Sandra Fikawati, Muhammad Johansyah, Tria Astika Endah Permatasari
Abstrak:
Stunting merupakan masalah gizi kronis yang ditandai dengan pertumbuhan linier yang terhambat dinilai dari panjang badan atau tinggi badan menurut umur <-2 SD berdasarkan standar pertumbuhan anak WHO. Stunting disebabkan langsung oleh asupan gizi yang tidak adekuat dan penyakit infeksi berulang yang terjadi terutama pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Stunting dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas anak, menghambat perkembangan kognitif, meningkatkan risiko penyakit tidak menular saat dewasa, serta menurunkan kapasitas kerja. Prevalensi stunting di Provinsi Nusa Tenggara Barat (32,7%) menduduki urutan tertinggi ke 4 di Indonesia berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan determinan stunting pada anak usia 6-23 bulan di wilayah perdesaan dan perkotaan di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan 858 sampel yang diperoleh dari total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang digunakan adalah data sekunder dari SSGI tahun 2022. Variabel independen meliputi faktor anak, keluarga, dan lingkungan. Analisis bivariat menggunakan uji kai kuadrat dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda model determinan. Hasil penelitian menunjukkan proporsi stunting pada anak usia 6-23 bulan di perdesaan (27,2%) dan perkotaan (28,2%). Proporsi anak dengan status imunisasi tidak lengkap, pendidikan ayah dan ibu rendah, kunjungan ANC ibu < 6 kali, anemia saat hamil, keluarga rawan pangan, sumber air minum dan sanitasi tidak layak lebih tinggi di perdesaan.  Sedangkan proporsi anak dengan riwayat tidak IMD, tidak ASI ekkslusif, waktu pengenalan MPASI < 6 bulan, ISPA, pneumonia dan tuberkulosis paru lebih tinggi di wilayah perkotaan. Proporsi stunting lebih tinggi pada anak usia 11-23 bulan, berat badan lahir < 2.500 gram, panjang badan lahir < 48 cm, tinggi badan ibu < 150 cm di wilayah perdesaan dan perkotaan serta kunjungan ANC ibu < 6 kali di wilayah perkotaan. Faktor dominan yang berhubungan dengan stunting di perdesaan dan perkotaan adalah berat badan lahir.

Stunting is a chronic nutritional problem characterized by impaired linear growth, measured by length or height for age below -2 standard deviations based on WHO child growth standards. Stunting is directly caused by inadequate nutritional intake and recurrent infectious diseases, especially during the first 1000 days of life. Stunting can increase child morbidity and mortality, hinder cognitive development, raise the risk of non-communicable diseases in adulthood, and reduce work capacity. The prevalence of stunting in West Nusa Tenggara Province (32.7%) ranks fourth highest in Indonesia based on the 2022 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI). This study aims to analyze the determinants of stunting in children aged 6-23 months in rural and urban areas of West Nusa Tenggara Province. The research design used is cross-sectional with 858 samples obtained through total sampling based on inclusion and exclusion criteria. The data used are secondary data from the 2022 SSGI. Independent variables include child, family, and environmental factors. Bivariate analysis was conducted using the chi-square test and multivariate analysis using a multiple logistic regression model. The results showed the proportion of stunting in children aged 6-23 months was 27.2% in rural areas and 28.2% in urban areas. The proportion of children with incomplete immunization status, low paternal and maternal education, fewer than six ANC visits, maternal anemia during pregnancy, food insecurity, and inadequate drinking water and sanitation were higher in rural areas. Conversely, the proportion of children with a history of not receiving early initiation of breastfeeding (IMD), not being exclusively breastfed, early introduction of complementary foods (
Read More
T-7051
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rabiatul Adawiyah; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Fathimah Sulistyowati Sigit, Kusharisupeni Djokosujono, Suryani Eka Wijaya
Abstrak:
Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan prevalensi yang relatif tinggi serta adanya perbedaan kondisi sosial, ekonomi, sanitasi, dan akses pelayanan kesehatan antara wilayah perdesaan dan perkotaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis determinan sosial ekonomi, sanitasi, dan layanan kesehatan dasar yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 6–59 bulan di wilayah perdesaan dan perkotaan Provinsi Nusa Tenggara Barat menggunakan desain potong lintang dengan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023. Sampel penelitian sebanyak 1.539 anak yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel yang dianalisis meliputi status ekonomi, ukuran rumah tangga, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, sumber air minum, kepemilikan fasilitas cuci tangan, jenis sanitasi rumah tangga, pemeriksaan antenatal care, dan status imunisasi dasar lengkap. Analisis dilakukan dengan mempertimbangkan desain survei kompleks dan bobot sampel, meliputi analisis univariat, bivariat, dan multivariat yang distratifikasi berdasarkan wilayah tempat tinggal. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting di Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 22,8%, dengan prevalensi lebih tinggi di wilayah perdesaan sebesar 24,7% dibandingkan wilayah perkotaan sebesar 21,1%. Di wilayah perkotaan, fasilitas cuci tangan yang tidak layak merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan stunting. Anak yang tinggal di rumah tangga dengan fasilitas cuci tangan tidak layak memiliki peluang 1,938 kali mengalami stunting dibandingkan anak dengan fasilitas cuci tangan layak (OR=1,938; 95% CI: 1,257–2,989; p=0,003). Di wilayah perdesaan, status ekonomi menengah atas berhubungan dengan stunting (OR=0,409; 95% CI: 0,169–0,991; p=0,048). Pada penelitian ini determinan stunting berbeda antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Intervensi di wilayah perkotaan perlu menekankan peningkatan fasilitas dan praktik cuci tangan, sedangkan di wilayah perdesaan perlu memperhatikan kondisi sosial ekonomi, ketahanan pangan, dan pemenuhan pangan bergizi keluarga.

Stunting remains a public health problem in West Nusa Tenggara Province, with a relatively high prevalence and disparities in socioeconomic conditions, sanitation, and access to healthcare services between rural and urban areas. This study aimed to analyze the socioeconomic, sanitation, and basic healthcare determinants associated with stunting among children aged 6–59 months in rural and urban areas of West Nusa Tenggara Province. This cross-sectional study used secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey. The study included 1,539 children who met the inclusion and exclusion criteria. The variables analyzed included economic status, household size, maternal education, maternal employment, drinking water source, availability of handwashing facilities, household sanitation, antenatal care attendance, and complete basic immunization status. The analyses accounted for the complex survey design and sampling weights and included univariate, bivariate, and multivariate analyses stratified by area of residence. The results showed that the prevalence of stunting in West Nusa Tenggara Province was 22.8%, with a higher prevalence in rural areas than in urban areas, at 24.7% and 21.1%, respectively. In urban areas, inadequate handwashing facilities were the factor most strongly associated with stunting. Children living in households with inadequate handwashing facilities had 1.938 times higher odds of stunting than those living in households with adequate handwashing facilities (OR=1.938; 95% CI: 1.257–2.989; p=0.003). In rural areas, upper-middle economic status was associated with stunting (OR=0.409; 95% CI: 0.169–0.991; p=0.048), indicating lower odds of stunting compared with the highest economic group. This study found that the determinants of stunting differed between urban and rural areas. Interventions in urban areas should emphasize improving handwashing facilities and practices, whereas interventions in rural areas should address household socioeconomic conditions, food security, and access to nutritious foods.
Read More
T-7690
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anida Rahayu Adawiyah; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Ahmad Syafiq, Sintha Fransiske Simanungkalit
Abstrak:
Stunting merupakan merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak usia 0-59 bulan akibat dari kekurangan gizi kronis terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan sehingga anak terlalu pendek untuk kategori usianya dibanding anak lainnya. Kabupaten Tasikmalaya tercatat sebagai wilayah dengan prevalensi balita stunting tertinggi keempat di Jawa Barat yang mengalami kenaikan sebesar 2,8 poin dibandingkan angka stunting di tahun 2021. Penelitian ini membahas determinan stunting anak usia 6-23 Bulan di Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat menggunakan data SSGI 2022. Penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional ini berjumlah 244 sampel subjek. Variabel independen yang diteliti antara lain, usia anak, jenis kelamin, riwayat kecacingan, riwayat diare, IMD, ASI eksklusif, kolostrum, keragaman pangan, konsumsi sayuran, susu formula, protein hewani padat, MPASI komersial, IDL, Suplementasi vitamin A, Pemanfaatan posyandu, usia kandungan saat melahirkan, konsumsi TTD, Tingkat pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, dan kerawanan pangan. Hasil penelitian menunjukkan proporsi stunting sebesar 20,5%. Hasil analisis bivariat menunjukkan variabel yang berhubungan yaitu protein hewani padat (p-value:0,042; OR: 0,448 , CI 95% 0,216-0,928) dan MPASI Komersial (p-value:0,044; OR:0,460; CI 95% 0,226-0,934). Hasil analisis multivariat menunjukkan determinan stunting adalah pendidikan ibu dengan nilai OR: 2,872. Ibu yang berpendidikan rendah berisiko memiliki anak stunting 2,872 lebih tinggi daripada ibu dengan pendidikan yang tinggi setelah dikontrol dengan variabel usia anak, keragaman pangan, usia kandungan, dan konsumsi TTD. Ibu yang mempunyai pendidikan yang baik akan lebih selektif dan kreatif dalam memberikan makanan bergizi bagi anaknya. Disarankan pemerintah menyediakan akses sekolah yang lebih baik untuk masyarakat. Lalu pemerintah juga disarankan untuk mengadakan program promosi kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang gizi anak.

Stunting is a condition of failure to thrive in children aged 0-59 months due to chronic malnutrition, especially in the first 1000 days of life, resulting in children being too short for their age compared to peers. Tasikmalaya Regency in West Java has the fourth highest prevalence of stunted toddlers, with a 2.8 point increase from 2021. This research examines the determinants of stunting in children aged 6-23 months in Tasikmalaya Regency, West Java Province, using SSGI 2022 data. The study, with 244 subject samples, analyzes various factors including maternal education, food diversity, and gestational age. The research found a 20.5% stunting rate, with solid animal protein and commercial MPASI showing significant associations. Maternal education emerged as a key determinant, indicating that mothers with lower education levels have a significantly higher risk of having stunted children. Educated mothers are more likely to provide nutritious food for their children. Recommendations include improving school access and implementing health promotion programs to enhance mothers' knowledge of children's nutrition. Keywords: Stunting, Maternal education, baduta, Tasikmalaya Regency
Read More
S-11768
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Evi Firna; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Diah Mulyawati Utari, Fajrinayanti, Dewi Astuti
Abstrak:
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh baik secara fisik maupun kognitif karena kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Stunting di Provinsi Sulawesi Barat (33,8%) menempati urutan kedua tertinggi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko stunting pada anak usia 6-23 bulan di Provinsi Sulawesi Barat. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan 552 sampel yang diperoleh dari total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang digunakan adalah data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2021. Analisis bivariat menggunakan uji kai kuadrat dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda model determinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi stunting pada anak usia 6-23 bulan sebesar 31,9%. Analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan kejadian stunting adalah usia anak (OR=1,802), berat badan lahir (OR=3,08), dan panjang badan lahir (OR=2,283). Analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting adalah berat badan lahir. Anak yang memiliki riwayat BBLR berisiko 2,6 kali lebih tinggi untuk mengalami stunting dibandingkan dengan yang tidak memiliki riwayat BBLR setelah dikontrol variabel usia anak, panjang badan lahir, dan status menyusui.

Stunting is a condition of failure to thrive both physically and cognitively due to chronic malnutrition and repeated infections. Stunting in West Sulawesi (33,8%) is the second highest in Indonesia. This study aims to analyze the risk factors of stunting in children aged 6-23 months in West Sulawesi Province. The research design used was cross sectional with 552 samples obtained from total sampling based on inclusion and exclusion criteria. The data used is Indonesian Nutrition Status Survey 2021. Bivariate analysis used chi-squared test and multivariate used multiple logistic regression as the determinant model. The results showed that the proportion of stunting in children 6-23 months was 31,9%. Bivariate analysis showed that the variables associated with the incidence of stunting were child’s age (OR=1,802), birth weight (OR=3,08), and birth length (OR=2,283). Multivariate analysis showed that the dominant factor associated with stunting was birth weight. Children with a history of LBW are at risk of stunting 2.6 times higher than those without a history of LBW after being controlled by child’s age, birth length, and breastfeeding status.
Read More
T-6818
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suci Hajati Husma; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Sandra Fikawati, Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Rian Anggraini, Azhari
Abstrak:
Stunting adalah kondisi di mana panjang atau tinggi badan seorang anak tidak sesuai dengan usianya. Hal ini disebabkan oleh malnutrisi kronis dan infeksi berulang, terutama selama 1.000 hari pertama kehidupan. Stunting masih menjadi masalah kesehatan utama di Provinsi Aceh, karena prevalensinya masih tinggi yang menduduki peringkat 7 secara nasional dan sejak tahun 2013-2021 Aceh selalu berada di peringkat lima besar nasional daerah paling tinggi angka stuntingnya. Terdapat 14 dari 23 kabupaten/kota di Provinsi Aceh yang memiliki prevalensi stunting lebih tinggi dibandingkan angka rata-rata provinsi yaitu di atas 29,4%, dengan prevalensi terendah sebesar 29,5% dan tertinggi mencapai 40,2%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor resiko stunting yang meliputi faktor individu ibu, faktor individu balita dan faktor rumah tangga pada balita usia 6-59 bulan berdasarkan wilayah perkotaan dan perdesaan di Provinsi Aceh. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain potong lintang (cross sectional) dengan jumlah sampel 3.589 balita berusia 6-59 bulan dari total sampling sesuai kriteria inklusi dan ekslusi. Data yang digunakan merupakan data sekunder SKI tahun 2023. Proses analisis data dalam penelitian ini meliputi univariat dan bivariat menggunakan chii square serta multivariat menggunakan regresi logistic ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi stunting pada balita usia 6-59 bulan di Provinsi Aceh sebesar 26,2%, dengan proporsi stunting di wilayah perdesaan lebih tinggi yaitu mencapai 27,2% dibandingkan wilayah perkotaan sebesar 25,1%. Hasil analisis bivariat secara keseluruhan di Provinsi Aceh menunjukkan  bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tinggi badan ibu (p-value 0,000), pendidikan ibu (p-value 0,001), jenis kelamin balita ((p-value 0,004), usia balita (p-value 0,000), panjang badan lahir rendah (PBLR) (p-value 0,015) dan berat badan lahir rendah (BBLR) (p-value 0,048), dengan kejadian stunting pada balita usia 6-59 bulan di Provinsi Aceh. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor resiko dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada penelitian ini adalah usia balita untuk ketiga wilayah, baik di wilayah perkotaan, perdesaan maupun secara keseluruhan di Provinsi Aceh dengan OR 2,121 (95% CI: 1,236–3,640) di perkotaan, OR 2,427 (95% CI: 1,583–3,72) di perdesaan dan OR 2,312 (95% CI: 1,653–3,232) secara keseluruhan di Provinsi Aceh. Mengingat dampak stunting pada balita yang sangat besar terhadap beban negara dan mengancam keberlangsungan generasi yang akan datang, maka penentuan faktor risiko stunting pada tahap awal berdasarkan karakteristik wilayah tempat tinggal sangat penting dilakukan untuk mengatasi penurunan kualitas dan produktivitas yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kemiskinan di masa depan.


Stunting is a condition where a child's length or height is not appropriate for their age. It is caused by chronic malnutrition and recurrent infections, especially during the first 1,000 days of life. Stunting is still a major health problem in Aceh Province, as its prevalence is still high, ranked 7th nationally and from 2013-2021 Aceh has always been in the top five national stunting regions. There are 14 out of 23 districts/cities in Aceh Province that have a stunting prevalence higher than the provincial average of over 29.4%, with the lowest prevalence of 29.5% and the highest reaching 40.2%. This study aims to determine the risk factors for stunting which include individual maternal factors, individual factors of toddlers and household factors in toddlers aged 6-59 months based on urban and rural areas in Aceh Province. This study is a quantitative study using a cross sectional design with a sample size of 3,589 toddlers aged 6-59 months from total sampling according to inclusion and exclusion criteria. The data used is secondary data for SKI in 2023. The data analysis process in this study includes univariate and bivariate using chii square and multivariate using multiple logistic regression. The results showed that the prevalence of stunting in children aged 6-59 months in Aceh Province was 26.2%, with a higher proportion of stunting in rural areas reaching 27.2% compared to urban areas at 25.1%. The results of the overall bivariate analysis in Aceh Province showed that there was a significant association between maternal height (p-value 0.000), maternal education (p-value 0.001), gender of toddlers ((p-value 0.004), age of toddlers (p-value 0.000), low birth length (PBLR) (p-value 0.015) and low birth weight (BBLR) (p-value 0.048), with the incidence of stunting in children under 6-59 months of age in Aceh Province. The results of multivariate analysis showed that the dominant risk factor associated with stunting in this study was age under five for all three regions, both in urban, rural and overall in Aceh Province with OR 2.121 (95% CI: 1.236-3.640) in urban areas, OR 2.427 (95% CI: 1.583-3.72) in rural areas and OR 2.312 (95% CI: 1.653-3.232) overall in Aceh Province. Given the enormous impact of stunting in children under five years old on the burden of the state and threatening the sustainability of future generations, determining the risk factors for stunting at an early stage based on the characteristics of the area of residence is very important to overcome the decline in quality and productivity that can hamper economic growth and increase poverty in the future.

Read More
T-7305
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ariani Tri Rahmi; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Triyanti, Muhammad Johansyah, Denas Symond
Abstrak:

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada balita yang diakibatkan karena kekurangan gizi kronis dan terjadi dalam jangka waktu panjang ditandai dengan tinggi/panjang badan anak terhadap usia <-2 SD kurva pertumbuhan WHO. Prevalensi Stunting di Indonesia pada tahun 2022 adalah 21,6%. Provinsi NTB merupakan salah satu provinsi yang mengalami kenaikan prevalensi stunting dari dari 31,4% pada tahun 2021 menjadi 32,7% pada tahun 2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahu faktor risiko penyebab stunting pada anak usia 24-59 bulan di Provinsi NTB. Desain dalam penelitian ini adalah cross-sectional menggunakan data SSGI 2022. Sampel dalam penelitian ini anak anak usia 24-59 bulan di Provinsi NTB yang terpilih menjadi responden SSGI 2022. Analisis data dilakukan menggunakan chi-square dan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan jenis kelamin, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, jumlah balita dalam keluarga, sumber air minum, dan kepemilikan jamban berhubungan dengan kejadian stunting (p<0,05). Faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di Provinsi NTB adalah sumber air minum setelah dipengaruhi oleh variabel jenis kelamin anak dan pendidikan ibu (OR : 1,399 ; 95% CI : 1,168-1,675).

Stunting is a condition of failure to grow in toddlers due to malnutrition over a long period of time characterized by the height/length of the child's body for age <-2 SD on the WHO growth curve. The prevalence of stunting in Indonesia in 2022 is 21.6%. NTB Province is one of the provinces that has experienced an increase in the prevalence of stunting from 31,4%  in 2021 to 32,7% in 2022. This research aims to determine the risk factors that cause stunting in children aged 24-59 months in NTB Province. The design of this study was cross-sectional using SSGI 2022 data. The sample in this study was children aged 24-59 months in NTB Province who were selected as respondents to the SSGI 2022. Data analysis was carried out using chi-square and multiple logistic regression. The results of the study showed that gender, maternal education, maternal occupation, the number of children under five in the family, drinking water sources, and ownership of toilet were related to the incidence of stunting (p<0.05). The dominant factor associated with the incidence of stunting in children aged 24-59 months in NTB Province is drinking water sources which is influences by the sex of the child and maternal education (OR : 1,399 ; 95% CI : 1,168-1,675).  

Read More
T-7022
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nanda Indah Permatasari; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Asih Setiarini, Siti Arifah Pujonarti, Inge Wahyuni, Sugiatmi
Abstrak:
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang ditandai dengan panjang atau tinggi badan menurut umur di bawah -2 SD standar pertumbuhan WHO, disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang banyak terjadi selama periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Seorang anak mengalami masalah stunting diakibatkan oleh multifaktor yang saling berkaitan. Masalah stunting yang dilihat dari SKI 2023 dibandingkan SSGI 2024 ataupun SSGI 2022 dengan SSGI 2024 rovinsi Riau merupakan provinsi yang mengalami peningkatan signifikan sedangkan Provinsi Jawa barat merupakan Provinsi yang menurun signifikan dilihat dari SKI 2023 dibandingkan SSGI 2024 sedangkan dilihat dari SSGI 2022 dibandingkan 2024 merupakan provinsi ke dua yang menurun signifikan di Pulau Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko stunting pada balita usia 6-23 bulan di Provinsi Riau dan Jawa Barat berdasarkan data SSGI tahun 2024. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan jumlah sampel pada masing provinsi sebanyak 1420 anak untuk Provinsi Riau dan 4019 anak untuk Provinsi Jawa Barat. Variabel Independen terdiri dari tiga faktor besar seperti faktor anak yang terdiri dari usia, jenis kelamin, panjang badan lahir, IMD, usia diberikan MP-ASI, keragaman makanan minimum (MDD), frekuensi makanan minimum (MMF), diet minimum yang dapat diterima (MAD), konsumsi sumber protein hewani, diare, pneumonia, tuberkulosis paru, dan status imunisasi; faktor ibu yang terdiri dari pendidikan ibu, tinggi badan ibu, kunjungan ANC dan riwayat ibu hamil minum TTD; dan faktor lingkungan jumlah balita dalam rumah tangga, akses sumber air minum, dan sanitasi. Adapun variabel dependan pada penelitian ini adalah Stunting pada anak usia 6-23 bulan di Provinsi Riau dan Jawa Barat. Analisis yang diguakan dalam penelitian adalah univariat, uji chi square untuk analisis bivariat dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Analisis bivariat di Provinsi Riau menunjukkan adanya perbedaan proporsi stunting berdasarkan usia anak, jenis kelamin, panjang badan lahir, status imunisasi, pendidikan ibu, tinggi badan ibu, jumlah balita dalam rumah tangga dan sanitasi sedangkan faktor dominan yang berpengaruh terhadap kejadian stunting adalah usia anak (OR=3,098). Analisis bivariat di Provinsi Jawa Barat menunjukkan adanya perbedaan proporsi stunting berdasarkan usia anak, jenis kelamin, panjang badan lahir, usia diberikan MP-ASI, MMF, MAD, diare dan TBC paru sedangkan faktor dominan yang berpengaruh terhadap stunting adalah panjang badan lahir (OR=2,469). Faktor dominan yang berbeda pada setiap provinsi perlu menjadi perhatian dalam menetapkan intervensi karena setiap penyebab memiliki pendekatan yang berbeda untuk menyelesaikannya.

Stunting is a failure-to-thrive condition characterized by length or height-for-age below -2 SD of the WHO growth standards, caused by chronic undernutrition and recurrent  infections that predominantly occur during the first 1,000 days of life (1,000 Days). A  child's stunting is caused by multiple interrelated factors. Looking at stunting trends  based on the 2023 Indonesian Health Survey (SKI) compared with the 2024 Indonesian  Nutritional Status Survey (SSGI), as well as the 2022 SSGI compared with the 2024  SSGI, Riau Province experienced a significant increase, whereas West Java Province  experienced a significant decrease when comparing the 2023 SKI with the 2024 SSGI,  and was the province with the second-largest significant decrease on Java Island when  comparing the 2022 SSGI with the 2024 SSGI. This study aimed to identify the risk  factors for stunting among children aged 6–23 months in Riau and West Java  Provinces, based on the 2024 SSGI data. This study used a cross-sectional design with  a sample size of 1,420 children in Riau Province and 4,019 children in West Java  Province. The independent variables consisted of three major factor groups: child  factors, including age, sex, birth length, early initiation of breastfeeding (EIBF), age of  complementary feeding introduction, minimum dietary diversity (MDD), minimum  meal frequency (MMF), minimum acceptable diet (MAD), consumption of animal  source protein, diarrhea, pneumonia, pulmonary tuberculosis, and immunization status;  maternal factors, including maternal education, maternal height, antenatal care (ANC)  visits, and history of iron-folic acid (IFA) tablet consumption during pregnancy; and  environmental factors, including the number of children under five in the household,  access to drinking water sources, and sanitation. The dependent variable in this study  was stunting among children aged 6–23 months in Riau and West Java Provinces. The  analyses used were univariate analysis, chi-square test for bivariate analysis, and  multiple logistic regression for multivariate analysis. Bivariate analysis in Riau  Province showed differences in the proportion of stunting based on child's age, sex,  birth length, immunization status, maternal education, maternal height, number of  children under five in the household, and sanitation, while the dominant factor  associated with the incidence of stunting was child's age (OR=3.098). Bivariate  analysis in West Java Province showed differences in the proportion of stunting based  on child's age, sex, birth length, age of complementary feeding introduction, MMF,  MAD, diarrhea, and pulmonary tuberculosis, while the dominant factor associated with  stunting was birth length (OR=2.469). The differing dominant factors in each province  warrant attention in determining interventions, since each cause requires a different  approach to be addressed.
Read More
T-7679
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Joellyn Sherapine Lumbantobing; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Kusharisupeni Djokosujono
Abstrak: Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai yang ditandai dengan indeks TB/U < -2 SD. Stunting dapat menghambat seorang anak dalam mencapai potensi fisik dan kognitifnya baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 mencatat penurunan prevalensi stunting sebesar 2,8% dari tahun 2021 menjadi 21,8%. Prevalensi stunting di Indonesia masih tergolong kategori tinggi. Sulawesi Barat merupakan provinsi dengan prevalensi stunting tertinggi kedua. Terdapat peningkatan prevalensi secara khusus pada kelompok usia 24-59 bulan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian stunting dan faktor dominan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di Provinsi Sulawesi Barat tahun 2022. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel yang digunakan adalah 2479 sampel menggunakan total sampling. Penelitian ini menggunakan data sekunder SSGI tahun 2022 yang diperoleh sesuai prosedur yang berlaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 34,8% anak usia 24-59 bulan di Provinsi Sulawesi Barat tergolong stunting. Analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara berat badan lahir (p <0,001; OR = 2,537), panjang badan lahir (p <0,001; OR = 2,355), jumlah anggota keluarga (p = 0,037; OR = 1,194), akses air minum (p = 0,004; OR = 1,382), akses sanitasi (p <0,001; OR = 1,942), dan wilayah tempat tinggal (p = 0,003; OR = 1,333) dengan kejadian stunting. Namun, tidak ditemukan adanya hubungan antara riwayat penyakit infeksi, jumlah anak umur 0-59 bulan, ketahanan pangan, status imunisasi dasar, pemanfaatan posyandu, suplementasi vitamin A, dan pemberian obat cacing dengan kejadian stunting. Penelitian ini menemukan bahwa faktor dominan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di Provinsi Sulawesi Barat adalah panjang badan lahir.
Stunting is a growth and development disorder experienced by children due to poor nutrition, recurrent infections, and inadequate psychosocial stimulation which is characterized by a HAZ index < -2 SD. Stunting can prevent a child from reaching his physical and cognitive potential, not only in the short but also in the long term. The 2022 Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) recorded a reduction in stunting prevalence of 2.8% from 2021 to 21.8%. The prevalence of stunting in Indonesia is still in the high category. West Sulawesi is the province with the second-highest prevalence of stunting. There is a particular increase in prevalence in the 24-59 months age group. Therefore, this study aims to determine the description of stunting and the dominant factor in the incidence of stunting in children aged 24-59 months in West Sulawesi Province in 2022. This research is a quantitative study with a cross-sectional approach. The number of samples used was 2479 samples using total sampling. This research uses SSGI secondary data for 2022 which was obtained according to applicable procedures. The research results show that 34.8% of children aged 24-59 months in West Sulawesi Province are classified as stunted. Bivariate analysis showed that there was a significant relationship between birth weight (p < 0.001; OR = 2.537), birth length (p < 0.001; OR = 2.355), number of family members (p = 0.037; OR = 1.194), access to water (p = 0.004; OR = 1.382), access to sanitation (p < 0.001; OR = 1.942), and area of residence (p = 0.003; OR = 1.333) with the incidence of stunting. However, no relationship was found between the history of infectious diseases, number of children aged 0-59 months, food security, basic immunization status, use of integrated service post (posyandu), vitamin A supplementation, and administration of deworming drug (p > 0,05) with the incidence of stunting. This research found that the dominant factor in the incidence of stunting in children aged 24-59 months in West Sulawesi Province is birth length.
Read More
S-11748
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anisya Dwi Yulianti; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Sandra Fikawati, Siti Arifah Pujonarti, Nancy S.H Malonda Dan Mery Bidangan Pasorong
Abstrak:
Obesitas sentral adalah penumpukan lemak perut yang berlebihan yang diukur dengan indikator pengukuran Lingkar Pinggang (LP) dengan kriteria obesitas sentral adalah LP >90 untuk pria dan LP>80 untuk wanita. Obesitas sentral merupakan penumpukan lemak berlebihan di sekitar perut yang berhubungan dengan risiko kardiometabolik, diabetes melitus tipe 2 dan peningkatan sekresi asam lemak bebas, hipersulinemia, risistensi insulin, hipertensi dan dislipidemia pada populasi umum. Provinsi Sulawesi Utara merupakan Provinsi dengan prevalensi obesitas sentral tertinggi di Indonesia pada tahun 2018 dengan angka 42,45%. Dimana setiap kabupaten/kota memiliki prevalensi obesitas sentral sebesar >30% (terendah 31,2% dan tertinggi 48,78%) dan menurut karakteristik wilayah tempat tinggal prevalensi obesitas sentral di wilayah perkotaan lebih tinggi 2,78% dibandingkan wilayah perdesaan atau sebesar 43,81% untuk wilayah perkotaan dan 41,03% untuk wilayah perdesaan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain potong lintang (cross sectional) dengan jumlah sampel 14.911 penduduk usia ≥18 tahun dari total sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel independen meliputi faktor risiko unmodifiable (usia dan jenis kelamin), faktor risiko modifiable status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, pola konsumsi dan life style serta status gizi dan kesehatan mental. Data yang Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder Riskesdas tahun 2018. Proses analisis data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan perangkat lunak statistik. Ada tiga tingkat analisis data yang dilakukan, antara lain secara univariat, bivariat (chi square dan regresi logistik), multivariat (regresi logistik ganda). Hasil menunjukkan prevalensi obesitas sentral pada penduduk usi ≥18 tahun di Provinsi Sulawesi Utara adalah 45,0% dengan prevalensi di perkotaan 46,6% dan di perdesaan 43,5%. Faktor risiko dominan yang berhubungan dengan obesitas sentral pada penelitian ini adalam IMT, baik untuk wilayah perkotaan dan perdesaan serta secara keseluruhan di Provinsi Sulawesi Utara, dengan OR 42,909 (95%CI 23,384-78,737) di perkotaan, OR 23,701 (95%CI 18,324-30,656) di perdesaan, dan OR 43,924 (95%CI 31,162-61,913) di Provinsi Sulawesi Utara. Mengingat dampak obesitas sentral yang sangat besar terhadap beban negara dan mengancam keberlangsungan generasi yang akan datang, maka penentuan faktor risiko obesitas pada tahap awal berdasarkan karakteristik wilayah tempat tinggal sangat penting dilakukan untuk mengatasi penyakit penyerta dan kematian terkait PTM terutama pada penderita penumpukan lemak berlebih di bagian abdominal tubuh.

Central obesity is the excessive accumulation of abdominal fat, measured by the Waist Circumference (WC) indicator with central obesity criteria being WC >90 cm for men and WC >80 cm for women. Central obesity is associated with cardiometabolic risks, type 2 diabetes mellitus, and increased secretion of free fatty acids, hyperinsulinemia, insulin resistance, hypertension, and dyslipidemia in the general population. North Sulawesi Province had the highest prevalence of central obesity in Indonesia in 2018, with a rate of 42.45%. Each district/city had a central obesity prevalence of >30% (lowest 31.2% and highest 48.78%), and according to the characteristics of the residential area, the prevalence of central obesity in urban areas was 2.78% higher than in rural areas, or 43.81% in urban areas and 41.03% in rural areas. This quantitative study used a cross-sectional design with a sample size of 14,911 adults aged ≥18 years from total sampling according to inclusion and exclusion criteria. Independent variables included unmodifiable risk factors (age and gender), modifiable risk factors (marital status, education, occupation, consumption patterns, lifestyle, nutritional status, and mental health). The data used in this study was secondary data from the 2018 Riskesdas. Data analysis was performed using statistical software and included three levels of analysis: univariate, bivariate (chi-square and logistic regression), and multivariate (multiple logistic regression). Results showed the prevalence of central obesity in adults aged ≥18 years in North Sulawesi Province was 45.0%, with an urban prevalence of 46.6% and a rural prevalence of 43.5%. The dominant risk factor associated with central obesity in this study was BMI, for both urban and rural areas, and overall in North Sulawesi Province, with OR 42.909 (95% CI 23.384-78.737) in urban areas, OR 23.701 (95% CI 18.324-30.656) in rural areas, and OR 43.924 (95% CI 31.162-61.913) in North Sulawesi Province. Considering the significant impact of central obesity on the national burden and the threat to the sustainability of future generations, determining the risk factors for obesity at an early stage based on the characteristics of the residential area is crucial for addressing comorbidities and mortality related to NCDs, especially in individuals with excessive abdominal fat accumulation.
Read More
T-7082
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive