Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34055 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Kristanti Diliasari; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Pujiyanto, Purnawan Junadi, Yuliana dan Martha ML Siahaan
Abstrak:
Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan Lean Six Sigma sebagai strategi untuk mengurangi waktu tunggu di klinik anak Rumah Sakit X, yang merupakan aspek kritis dalam memengaruhi kepuasan pasien dan mutu layanan rawat jalan. Waktu tunggu yang berkepanjangan telah menjadi isu utama yang perlu diperbaiki, terutama di klinik anak yang memiliki kunjungan tertinggi namun belum mencapai target Indikator Nasional Mutu (INM). Penelitian ini menggunakan pendekatan action research selama satu minggu dengan mengamati 60 pasien yang memiliki janji temu di klinik tersebut. Perbaikan seperti peningkatan waktu pemeriksaan dokter, pengaturan ulang ruang pengkajian dan pengurangan pemborosan telah signifikan dalam mengurangi waktu tunggu dari 55.94 menit menjadi 29.60 menit. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi Lean Six Sigma berhasil meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan di Klinik Anak Rumah Sakit X. Langkah-langkah ini diharapkan dapat terus meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas pelayanan di lingkungan Klinik Anak Rumah Sakit X serta menunjukkan potensi Lean Six Sigma dalam konteks pelayanan kesehatan.

This study aims to evaluate the implementation of Lean Six Sigma as a strategy to reduce waiting times at the pediatric clinic at X Hospital, which is a critical aspect in influencing patient satisfaction and the quality of outpatient services. Prolonged waiting times have become a major issue that needs to be improved, especially in pediatric's clinic which have the highest number of visits but have not yet reached the National Quality Indicator (INM) target. This study used an action research approach for one week by observing 60 patients who had appointments at the clinic. Improvements such as increasing doctor examination times, reorganizing assesment rooms, and reducing waste have been significant in reducing waiting times from 55.94 minutes to 29.60 minutes, The results of this research show that the implementation of Lean Six Sigma has succeeded in increasing the efficiency and quality of services at the pediatric's clinic at X Hospital. It is hoped that these steps will continue to improve operational efficiency and service quality in the pediatric clinic environment at X Hospital and demonstrate the potential of Lean Six Sigma in the context of heath services
Read More
B-2466
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jesslyn Bernadette; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Irene Girsang, Dini Handayani
Abstrak:

Latar Belakang : Waktu tunggu sering kali dijadikan indikator untuk menilai kualitas pelayanan rumah sakit oleh pasien. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah waktu tunggu untuk pemulangan pasien. Data RS Mitra Keluarga Bintaro tahun 2023 menunjukkan rata-rata waktu tunggu pasien adalah 87 menit dengan perbedaan yang cukup signifikan antara pasien dengan penjaminan pribadi (66 menit) dan penjaminan asuransi (121 menit). Data rata-rata waktu tunggu tersebut terhitung sejak dokter memberikan instruksi pulang hingga pasien melakukan billing akhir. Data tersebut belum terhitung hingga pasien meninggalkan ruang rawat inap. Standar pelayanan minimal waktu tunggu pemulangan pasien rawat inap yang ditetapkan oleh Kemenkes yaitu kurang dari 120 menit. Pencapaian waktu tunggu pasien yang keluar dalam waktu ≤ 2 jam tercatat sebesar 88%, meskipun masih belum memenuhi target korporat yang ditetapkan sebesar 100%.
Metode : Penelitian ini mengadopsi desain operational research yang mengintegrasikan metode kuantitatif dan kualitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling, dengan total sampel sebanyak 38 pasien yang pulang setelah menjalani rawat inap. Pemilihan sampel didasarkan pada distribusi hari, jam kepulangan, dan jenis metode penjaminan yang telah ditetapkan.
Hasil : Hasil penelitian dengan pendekatan lean six sigma berhasil mengidentifikasi lead time pemulangan pasien rawat inap di RS Mitra Keluarga Bintaro sebesar 5 jam 10 menit 54 detik dimana 69% merupakan kegiatan non value added yang didominasi oleh waste tipe waiting sebesar 3 jam 14 menit 23 detik. Akar masalah dari memanjangnya waktu tunggu pemulangan pasien rawat inap berada di fase III pada kegiatan menunggu pasien meninggalkan ruang rawat inap. Penerapan lean six sigma dalam proses pemulangan pasien rawat inap di RS Mitra Keluarga Bintaro berhasil mengurangi lead time sebesar 16%, dari 5 jam 10 menit 54 detik menjadi 4 jam 21 menit 25 detik. Pengurangan lead time ini diikuti dengan penurunan waste di seluruh tahapan pemulangan pasien, dengan penurunan waste terbesar terjadi pada fase I, yaitu sebesar 44%, dari 1 jam 3 menit 27 detik menjadi 35 menit 46 detik.
Kesimpulan : Terdapat penurunan waktu tunggu pemulangan pasien rawat inap di RS Mitra Keluarga Bintaro setelah penerapan lean six sigma. Penurunan waktu tunggu pemulangan pasien rawat inap masih diatas target standar pelayanan minimal yang ditetapkan oleh Kemenkes.


Background                : Waiting time is often used as an indicator to assess the quality of hospital services by patients. One aspect of concern is the waiting time for patient discharge. Data from Mitra Keluarga Bintaro Hospital in 2023 showed that the average patient waiting time was 87 minutes with a significant difference between patients with personal guarantees (66 minutes) and insurance guarantees (121 minutes). The average waiting time data is calculated from when the doctor gives instructions to go home until the patient makes the final billing. The data does not include until the patient leaves the inpatient room. The minimum service standard for inpatient discharge waiting time set by the Ministry of Health is less than 120 minutes. The achievement of waiting time for patients who leave within ≤ 2 hours was recorded at 88%, although it still does not meet the corporate target set at 100%. Method                : This study adopted an operational research design that integrates quantitative and qualitative methods. The sampling technique used was simple random sampling, with a total sample of 38 patients who returned home after undergoing inpatient care. Sample selection was based on the distribution of days, hours of discharge, and types of guarantee methods that had been determined. Hasil                        : The results of the study using the lean six sigma approach successfully identified the lead time for inpatient discharge at Mitra Keluarga Bintaro Hospital of 5 hours 10 minutes 54 seconds, where 69% were non-value added activities dominated by waiting type waste of 3 hours 14 minutes 23 seconds. The root of the problem of the long waiting time for inpatient discharge is in phase III in the activity of waiting for the patient to leave the inpatient room. The application of lean six sigma in the inpatient discharge process at Mitra Keluarga Bintaro Hospital successfully reduced the lead time by 16%, from 5 hours 10 minutes 54 seconds to 4 hours 21 minutes 25 seconds. This reduction in lead time was followed by a decrease in waste in all stages of patient discharge, with the largest decrease in waste occurring in phase I, which was 44%, from 1 hour 3 minutes 27 seconds to 35 minutes 46 seconds. Kesimpulan                : There is a decrease in the waiting time for discharge of inpatients at Mitra Keluarga Bintaro Hospital after the implementation of lean six sigma. The decrease in the waiting time for discharge of inpatients is still above the minimum service standard target set by the Ministry of Health.

Read More
B-2507
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aurelianne; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Masyitoh, Novita D. Istanti, Suriadi
Abstrak:
Standar Pelayanan Minimal di rumah sakit menjadi acuan dalam mencapai mutu yang baik di sebuah institusi ataupun rumah sakit. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 129 tahun 2008 telah mengatur SPM waktu tunggu yang diperlukan oleh pasien sejak mendaftar hingga mendapatkan pelayanan dokter yaitu tidak lebih dari 60 menit. Dalam pelayanannya Tzu Chi Hospital tentu tidak terlepas dari beberapa kendala yang terjadi selama pelayanan baik kendala yang disebabkan oleh sarana dan prasarana, administratif maupun yang berasal dari SDM. Data waktu kedatangan dokter spesialis anak, waktu keterlambatan mencapai 1 jam 15 menit dan telah melebihi aturan SPM waktu tunggu pelayanan < 60 menit. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab lamanya waktu tunggu rawat jalan serta mengembangkan usulan perbaikan waktu tunggu poliklinik rawat jalan spesialis anak Tzu Chi Hospital. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode pengumpulan data yang didapatkan melalui pengamatan dan pencatatan waktu tunggu rawat jalan spesialis anak, serta menggali informasi secara mendalam dan rinci kepada infroman baik informan dalam maupun pasien penerima layanan rawat jalan spesialis anak di Tzu Chi Hospital dan melakukan telaah dokumen. Dilakukan observasi dan wawancara mendalam terhadap 33 pasien di shift yang berbeda setiap harinya sehingga didapatkan value perspektif customer sesuai dengan prinsip metode Lean Six Sigma. Data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk mendapat faktor penyebab adanya keterlambatan pelayanan menggunakan fishbone diagram yang dikelompokkan ke dalam kategori Man, Machine, Method, Money dan Environment sehingga penyebab masalah teridentifikasi dan dapat dirumuskan prioritas usulan perbaikan yang perlu dilakukan. Hasil penelitian yang dilakukan di bulan Oktober-November 2023 didapatkan rata – rata total waktu yang dibutuhkan untuk satu pasien melakukan pemeriksaan rawat jalan di poliklinik spesialis anak yaitu dari proses pendaftaran hingga pasien mengambil obat di instalasi farmasi adalah sebanyak 161,25menit atau sebanyak 2 jam 41 menit 15 detik. Beberapa faktor yang menjadi penyebab adanya non value added dan waste yang terjadi adalah keterlambatan dokter spesialis yang masih melakukan memeriksa pasien rawat inap atau menangani pasien di fasilitas kesehatan lain. Selain itu kemampuan dan kurangnya petugas di pelayanan rawat jalan spesialis anak juga menyebabkan adanya waste yang terjadi, dan ketersediaan alat, BHP dan fasilitas pendukung kegiatan yang terbatas turut mendukung adanya waste dan mengakibatkan banyaknya non value added yang teridentifikasi tentunya menyebabkan pasien menunggu. Kedepannya peneliti mengharapkan strategi perbaikan yang telah diberikan dapat terus diterapkan untuk memperbaiki dan mengeliminasi kegiatan non value added yang terjadi yaitu dengan menambah SDM yang mendukung dan membuat platform yang dapat dimanfaatkan untuk menyimpan data saat SIMRS mengalami gangguan.

Minimum Service Standards in hospitals are a reference in achieving good quality in an institution or hospital. Minister of Health Decree Number 129 of 2008 has regulated the SPM for the waiting time required by patients from registering to receiving doctor's services, namely no more than 60 minutes. In its services, Tzu Chi Hospital certainly cannot be separated from several obstacles that occur during the service, both obstacles caused by facilities and infrastructure, administrative and those originating from human resources. From the data on the arrival time of pediatricians, the delay time reached 1 hour 15 minutes and this specialist doctor's delay certainly exceeded the SPM rule for waiting time for service < 60 minutes. Therefore, this study aims to identify the causes of long waiting times for outpatient care and develop proposals for improving the waiting time for Tzu Chi Hospital's pediatric specialist outpatient clinic. This research is a qualitative research with data collection methods obtained through observing and recording waiting times for pediatric specialist outpatient care, as well as digging in-depth and detailed information from informants at Tzu Chi Hospital and reviewing documents. Observations and in-depth interviews were carried out on 33 patients in different shifts every day to obtain customer perspective values in accordance with the principles of the Lean Six Sigma method. Data is analyzed to determine the factors causing service delays using a fishbone diagram which is grouped into the categories Man, Machine, Method, Money and Environment so that the causes of the problems identified can prioritize recommendations for improvements that are suitable and need to be formulated. The results of research conducted in October-November 2023 showed that the average total time required for one patient to undergo an outpatient examination at a pediatric specialist polyclinic, namely from the registration process until the patient picks up the medicine at the pharmacy installation, was 161.25 minutes or as much as 2 hours 41 minutes 15 seconds. Several factors that cause non-value added and waste that occur are delays in specialist doctors who are still examining inpatients or treating patients in other health facilities, the capacity and lack of staff in specialist pediatric outpatient services also causes waste to occur, and the limited availability of equipment, BHP and activity support facilities also supports the existence of waste and results in a large number of non-value added being identified in which causes patients to wait. In the future, researcher hope that the improvement strategies that have been provided can continue to be implemented to improve and eliminate non-value added activities that occur, namely by adding supporting human resources and creating a platform that can be used to store data when SIMRS experiences problems.
Read More
B-2484
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratna Ningsih; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Puput Oktamianti, Iing Ichsan Hanafi, Balgis Alzagladi
Abstrak:
Latar Belakang: Waktu tunggu radioterapi merupakan salah satu indikator mutu penting dalam pelayanan onkologi karena keterlambatan memulai terapi dapat memengaruhi luaran klinis, pengalaman pasien, dan mutu layanan rumah sakit. RS Hermina Bekasi mengalami peningkatan kebutuhan layanan radioterapi yang tidak sepenuhnya diimbangi oleh kapasitas pelayanan sehingga menimbulkan antrean dan waktu tunggu yang panjang. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan Lean Six Sigma dalam mengurangi waktu tunggu radiasi pertama di RS Hermina Bekasi. Metode: Penelitian menggunakan desain operational research dengan pendekatan mixed methods explanatory sequential. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan melalui time-motion study terhadap pasien BPJS dengan seluruh diagnosis kanker yang menjalani pelayanan radioterapi sejak konsultasi dokter onkologi radiasi hingga radiasi pertama. Sampel terdiri atas 55 pasien periode pre-intervensi, 55 pasien periode post-intervensi, dan 50 pasien periode control. Data kualitatif diperoleh melalui observasi, telaah dokumen, wawancara, dan Focus Group Discussion. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan Lean Six Sigma melalui tahapan DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control), pemetaan alur proses, Value Stream Mapping, identifikasi aktivitas value added dan non-value added, analisis Pareto, Five Whys, serta Statistical Process Control. Hasil: Sebelum intervensi, total lead time pelayanan radioterapi mencapai 70,05 hari, dengan waktu terpanjang pada tahap konsultasi dokter onkologi radiasi hingga CT Simulator sebesar 61,44 hari. Aktivitas value added sebesar 5,87 hari (8,38%), sedangkan aktivitas non-value added sebesar 64,18 hari (91,62%). Waste dominan adalah waiting, terutama menunggu jadwal CT Simulator akibat keterbatasan kapasitas layanan dan ketersediaan slot LINAC. Intervensi yang dilakukan meliputi penambahan LINAC kedua, penambahan dokter spesialis onkologi radiasi, pengembangan dashboard monitoring antrean radioterapi terintegrasi SIMRS, perbaikan SPO penjadwalan pasca CT Simulator menggunakan kartu kontrol pasien, serta standarisasi pelaksanaan PSQA sebelum radiasi pertama. Setelah intervensi, total lead time menurun menjadi 31,05 hari, sedangkan pada tahap control menurun lebih lanjut menjadi 19,60 hari. Aktivitas value added meningkat menjadi 6,15 hari (19,81%) dan aktivitas non-value added menurun menjadi 24,88 hari (80,13%). Hasil control chart menunjukkan variasi proses yang lebih stabil dibandingkan sebelum intervensi. Kesimpulan: Penerapan Lean Six Sigma mampu mengurangi waktu tunggu radiasi pertama dan meningkatkan efisiensi alur pra-terapi radioterapi di RS Hermina Bekasi. Perbaikan terutama terjadi pada tahapan konsultasi hingga CT Simulator sebagai bottleneck utama pelayanan. Kombinasi peningkatan kapasitas, standarisasi proses, penguatan sistem monitoring, dan pengendalian berkelanjutan terbukti efektif dalam mendukung pencapaian indikator mutu prioritas rumah sakit berupa waktu tunggu radiasi pertama ≤30 hari.
Background: Waiting time for radiotherapy is an important quality indicator in oncology services because delays in treatment initiation may adversely affect clinical outcomes, patient experience, and hospital service quality. Hermina Bekasi Hospital has experienced increasing demand for radiotherapy services that has not been fully matched by service capacity, resulting in long waiting lists and prolonged waiting times. This study aimed to analyze the implementation of Lean Six Sigma in reducing waiting time to first radiation treatment at Hermina Bekasi Hospital. Methods: An operational research design with a mixed-methods explanatory sequential approach was employed. Quantitative data were collected through a time-motion study involving BPJS-insured patients with all cancer diagnoses undergoing radiotherapy services from radiation oncology consultation to first radiation treatment. The study included 55 patients in the pre-intervention phase, 55 patients in the post-intervention phase, and 50 patients in the control phase. Qualitative data were obtained through observation, document review, interviews, and focus group discussions. Data were analyzed using the Lean Six Sigma DMAIC framework, process mapping, Value Stream Mapping, value-added and non-value-added analysis, Pareto analysis, Five Whys analysis, and Statistical Process Control. Results: Before the intervention, total radiotherapy service lead time was 70.05 days, with the longest delay occurring between radiation oncology consultation and CT simulation (61.44 days). Value-added activities accounted for 5.87 days (8.38%), while non-value-added activities accounted for 64.18 days (91.62%). The dominant waste was waiting, particularly for CT simulation scheduling, primarily caused by limited service capacity and LINAC slot availability. Interventions included the addition of a second LINAC, recruitment of an additional radiation oncologist, development of a radiotherapy queue monitoring dashboard integrated with the hospital information system, revision of post-CT simulation scheduling procedures using patient control cards, and standardization of PSQA implementation before first radiation treatment. Following the intervention, total lead time decreased to 31.05 days and further decreased to 19.60 days during the control phase. Value-added activities increased to 6.15 days (19.81%), while non-value-added activities decreased to 24.88 days (80.13%). Control chart analysis demonstrated improved process stability compared with the pre-intervention period. Conclusion: Lean Six Sigma implementation successfully reduced waiting time to first radiation treatment and improved the efficiency of the radiotherapy pre-treatment process at Hermina Bekasi Hospital. The most substantial improvement occurred in the consultation-to-CT simulation stage, which was identified as the primary service bottleneck. A combination of capacity expansion, process standardization, monitoring system enhancement, and continuous control proved effective in supporting the hospital’s priority quality indicator of maintaining waiting time to first radiation treatment within 30 days.
Read More
T-7604
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arini Cyndwiana Prastiwi; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Masyitoh, Pujiyanto, Erwindo Rinaldo, Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Rumah sakit sebagai pelayanan kesehatan harus memenuhi standar pelayanan sesuai dengan Indikator Nasional Mutu Pelayanan Kesehatan. Salah satu komponen indikator mutu rumah sakit adalah waktu tunggu rawat jalan. Waktu tunggu yaitu waktu yang dibutuhkan mulai saat pasien kontak dengan petugas pendaftaran sampai mendapat pelayanan dokter/dokter spesialis. Menurut PMK No. 129 tahun 2008, Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit untuk waktu tunggu di unit rawat jalan yaitu ≤ 60 menit. RSUI merupakan RS-PTN kelas B yang berlokasi di Kota Depok dan memiliki pelayanan mencapai 30 klinik. Poli penyakit dalam termasuk kedalam Indikator minimal ketersediaan pelayanan di unit rawat jalan yang harus dimiliki oleh rumah sakit dan memiliki jumlah pasien yang cukup besar di RSUI. Berdasarkan studi pendahuluan menggunakan data rekam medik, waktu tunggu di poli tersebut belum memenuhi standar dan sering mendapat laporan keluhan waktu tunggu yang lama. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif menggunakan metode Lean Six Sigma dengan tahapaan Define, Measure, Analyse, dan Improve. Metode pengambilan data dengan observasi, telaah dokumen, wawancara, dan Consensus Making Disscusion Group (CDMG). Penghitungan Value Added, Non Value Added, Cycle Time, dan Lead Time didasarkan pada perspektif pasien. Waktu yang dibutuhkan pasien dari mulai pendaftaran sampai bertemu dengan dokter spesialis penyakit dalam belum mencapai standar yang telah ditentukan yaitu rata-rata lead time 149 menit. Pada Value Stream Mapping proses pelayanan terlihat beberapa waste, yaitu Over Processing, Waiting dan Defect dengan akar masalah dibagi menjadi Man, Machine, Methode, dan Environment. Waste waiting terbesar ada di proses menunggu tahapan. Rekomendasi yang dapat diberikan kepada rumah sakit sebagai langkah strategi perbaikan pelayanan di rawat jalan dibagi menjadi jangka pendek, jangka panjang, dan Future State Value Stream Mapping.

Hospitals as health services must have service standards in accordance with the National Health Service Quality Indicators. One component of hospital quality indicators is outpatient waiting time. Waiting time is the time required from the time the patient meets the registration officer until he receives the services of a doctor/specialist. According to PMK No. 129 of 2008, Minimum Hospital Service Standards for waiting time in outpatient units is ≤ 60 minutes. RSUI is a class B PTN Hospital located in Depok City and has services for up to 30 clinics. Internal medicine poly is included in the minimum indicators of service availability in the outpatient unit that must be owned by the hospital and has many patients in RSUI. Based on a preliminary study using medical record data, the waiting time at the poly did not meet the standards and there were often reports of complaints of long waiting times. This research is qualitative research using the Lean Six Sigma method with the Define, Measure, Analyze, and Improve stages. Data collection methods are observation, document review, interviews, and the Consensus Making Discusion Group (CDMG). Calculation of Value Added, Non Value Added, Cycle Time, and Lead Time is based on the patient's perspective. The time needed by patients from registration to meeting with specialists in internal medicine has not reached the predetermined standard, namely the average lead time is 149 minutes. In Value Stream Mapping, the service process shows several wastes, namely Over Processing, Waiting and Defects with the root causes divided into Man, Machine, Method, and Environment. The biggest waste waiting is in the process of waiting for stages. Recommendations that can be given to hospitals as a strategic step to improve outpatient services are divided into short term, long term, and Future State Value Stream Mapping.
Read More
B-2379
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Osi Ramadia; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Pujiyanto, Wachyu Sulistiadi, Indro Chayadi Saleh dan Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Proses pemulangan pasien rawat inap adalah pelayanan rumah sakit untuk yang melibatkan DPJP, keperawatan, farmasi, administrasi dan pasien. Proses ini berimplikasi pada kepuasan pasien, penumpukan pasien IGD hingga efisiensi pelayanan. Metode lean merupakan metode yang dapat meningkatkan kualitas dan efisiensi pelayanan proses ini. Penelitian riset operasional dengan metode lean ini bertujuan untuk menganalisa proses pemulangan pasien rawat inap di RS Restu Kasih. Hasil penelitian: lead time pasien jaminan BPJS yaitu 5 jam 30 menit, jaminan asuransi 5 jam 10 menit dan non-jaminan 4 jam 1 menit. Persentase kegiatan NVA DPJP: 11% jaminan asuransi, 25% jaminan BPJS; keperawatan: 52% non-jaminan, 64% jaminan asuransi, 53% jaminan BPJS; farmasi: 16% non-jaminan, 22% jaminan asuransi, 23% jaminan BPJS; administrasi: 11% non-jaminan, 57% jaminan asuransi, 14% jaminan BPJS; pasien: 51% non-jaminan, 75% jaminan asuransi, 85% jaminan BPJS. Waste pada pasien non-jaminan yaitu 89% motion, 11% waiting; jaminan asuransi yaitu 42% waiting, 32% motion, 16% deffects, 11% inventory; jaminan BPJS yaitu 50% motion, 43% waiting, 7% inventory. Implementasi visual management dan berkoordinasi dengan unit terkait penugasan pada pasien jaminan BPJS menghasilkan penurunan lead time 45% menjadi 3 jam 3 menit dan penurunan kegiatan NVA sebesar 48% dari 2 jam 5 menit menjadi 1 jam 5 menit.

Process of discharging inpatients is hospital service that involves doctors, nurses, pharmacy, administration and patient. This process have implications for patient satisfaction, stagnancy of ER patients and efficiency of services. Lean method could improve quality and efficiency of this process. This operational research study using a lean method approach aims to analyze the discharge process of inpatients at Restu Kasih Hospital. The results show, lead time for BPJS coverage is 5 hours 30 minutes, insurance coverage 5 hours 10 minutes and non-insurance 4 hours 1 minute. The percentage of non-value added activities of doctors: 11% insurance coverage, 25% BPJS coverage; nurses: 52% non-insurance, 64% insurance coverage, 53% BPJS coverage; pharmacy: 16% non-insurance, 22% insurance coverage, 23% BPJS coverage; administration: 11% non-insurance, 57% insurance coverage, 14% BPJS coverage; patient: 51% non-insurance, 75% insurance coverage, 85% BPJS coverage. Waste for non-insurance: 89% motion, 11% waiting; insurance coverage: 42% waiting, 32% motion, 16% defects, 11% inventory; BPJS coverage: 50% motion, 43% waiting,7% inventory. Visual management and coordinating with each unit implementation for BPJS coverage resulting on reducing lead time by 45% to 3 hours 3 minutes and reducing non-value added activity by 48% from 2 hours 5 minutes to 1 hour 5 minutes
Read More
T-6990
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elina Waiman; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Masyitoh, Wahyu Sulistiadi, Jocelyn Adrianto, Noer Triyanto Rusli
Abstrak:
Rumah sakit perlu menjaga mutu layanan yang diberikan kepada pasien. Waktu tunggu rawat jalan merupakan salah satu indikator mutu yang diukur oleh rumah sakit. Rerata waktu tunggu di Klinik Penyakit Dalam Charitas Hospital Palembang yang mencapai target hanya sebesar 54%. Penelitian ini merupakan penelitian operasional eksperimental untuk melihat bagaimana upaya perbaikan dengan penerapan Metode Lean Six Sigma (LSS) dapat mereduksi waktu tunggu pasien rawat jalan. Upaya perbaikan berupa penerapan sistem perjanjian dan simplifikasi alur pasien rawat jalan sesuai future state map dilakukan rumah sakit pada April 2021 sampai dengan Januari 2022. Data waktu tunggu pasien rawat jalan sebelum upaya perbaikan diambil dari sistem informasi dan manajemen rumah sakit (SIMRS) pada Maret 2021, sedangkan data sesudah upaya perbaikan diambil dari Februari sampai Maret 2022, dengan 222 subjek pada masingmasing kelompok. Terdapat reduksi waktu tunggu pasien rawat jalan sesudah upaya perbaikan, yaitu secara keseluruhan subjek sebesar 11% dari 79 menit menjadi 69 menit meskipun tidak bermakna secara statistik (p=0,110). Pada subjek tanpa pemeriksaan penunjang terdapat reduksi waktu tunggu pasien rawat jalan sebesar 16% dari 77 menit menjadi 65 menit (p=0,016), pada subjek dengan pemeriksaan laboratorium dari 151 menit menjadi 124 menit (p=0,176), dan pada subjek dengan pemeriksaan radiologi dari 120 menit menit menjadi 90 menit. Terdapat reduksi waktu tunggu rawat jalan berdasarkan definisi SPM sebesar 29%, yaitu dari 58 menit menjadi 41 menit (p=0,002). Terdapat 26% subjek dengan sistem perjanjian yang datang terlambat. Subjek yang datang terlambat dilakukan relokasi slot, yaitu mengisi slot kosong sesuai antrian pasien yang sudah datang. Apabila dilakukan analisis terhadap subjek yang datang tepat waktu saja, didapatkan adanya reduksi median waktu tunggu pasien rawat jalan sebesar 13%, yaitu dari 79 menit menjadi 69 menit (p=0,014) dan reduksi waktu tunggu rawat jalan berdasarkan SPM sebesar 36%, yaitu dari 58 menit menjadi 37 menit (p=0,000). Khusus pada kelompok pasien dengan pemeriksaan laboratorium, terjadi pengurangan variasi alur cabang dan proporsi pasien yang menjalani alur cabang (p=0,000), serta pengurangan frekuensi kunjungan ke kasir lebih dari satu kali. Rancangan upaya perbaikan yang disusun berdasarkan metode LSS bermanfaat dalam mereduksi waktu tunggu pasien rawat jalan, mengurangi variasi alur cabang di rawat jalan, dan menurunkan defek, dengan komitmen dari pimpinan rumah sakit, dokter, staf, dan pasien. Evaluasi berkala dan perbaikan berkesinambungan perlu dilakukan agar kontinuitas reduksi waktu tunggu pasien rawat jalan dapat berlangsung

Hospital should maintain good quality of care for its patients. Outpatient waiting time is a quality indicator measured by hospital. Only 54% of outpatient waiting time in Internal Medicine Clinic of Charitas Hospital Palembang meets the standard. An experimental study was conducted to examine how Lean Six Sigma (LSS) Methodology would reduce outpatient waiting time. Improvement project comprised of appointment system and outpatient flow simplification was conducted from April 2021 to January 2022. Pre-implementation data was taken from hospital information system on March 2021 and post- implementation data from February to March 2022, with a sample size of 222 subjects in each group. There was an 11% reduction in overall median outpatient waiting time i.e, from 79 minutes to 69 minutes eventhough statistically insignificant (p=0.110), with 16% reduction from 77 minutes to 65 minutes in subjects without ancillary examination (p=0.016), 18% reduction from 151 minutes to 124 minutes in those with laboratory examination (p=0.176), and 25% reduction from 120 minutes to 90 minutes in those with radiology examination. There was a 29% reduction from 58 minutes to 41 minutes in median outpatient waiting time as defined by government minimal standard of care (p=0.002). As many as 26% subjects with appointment system came late, which were then relocated to the available slots. Comparison was conducted between waiting time before intervention and after intervention in groups of appointment patients who came on-time and resulted in a 13% reduction of median outpatient waiting time from 79 minutes to 69 minutes (p=0,014) as well as a 36% reduction in waiting time as defined by government minimal standard of care from 58 minutes to 36 minutes (p=0,000). In subjects with laboratory examination, there was a reduction in the number of patients undergoing branch lines flow (p=0.000). Improvement project designed using LSS methodology is beneficial in reducing outpatient waiting time, variation in outpatient flow, and defect, especially when supported by commitment of hospital leaders, doctors, staffs, and patients. Regular evaluation and continuous improvement are needed to ensure sustainable reduction of outpatient waiting time. Key words: waiting time, outpatient department, hospital
Read More
B-2294
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sherly Purnama Dewi; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Rakhmi Savitri
Abstrak:
Latar belakang: Medical Check Up rutin sangat penting untuk deteksi dini masalah kesehatan akibat kerja, sejalan dengan regulasi K3 yang mewajibkan medical check up. Waktu tunggu yang lama dalam layanan medical check up dapat mengurangi efisiensi dan kepuasan pasien. Deteksi dini membantu mencegah risiko kesehatan serius, namun efisiensi waktu tunggu perlu diperbaiki untuk menjaga kualitas layanan. Pengelolaan waktu tunggu menjadi kunci menciptakan lingkungan kerja yang aman dan pelayanan yang optimal. Tujuan penelitian: penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hasil analisis waktu tunggu pada Medical Check Up menggunakan metode Lean Six Sigma di Klinik X Sudirman tahun 2024. Metodologi penelitian: penelitian ini menggunakan observasi dengan teknik time motion study, wawancara mendalam, dan telaah dokumen dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Sampel penelitian diambil menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah 30 responden. Hasil penelitian: hasil penelitian ini menunjukkan non value added terbanyak pada tahapan treadmill selama 41 menit 44 detik (71%) pada jenis waste waiting dan transportation. Kedua pada tahapan EKG dengan non value added selama 34 menit 13 detik (70%) dengan jenis waste waiting.  Ketiga pada tahapan urine selama 7 menit 53 detik (68%) dengan jenis waste waiting dan transportation dari keseluruhan kegiatan value-added sebesar 2 jam 10 menit 20 detik atau 56% dan kegiatan non value-added sebesar 2 jam 1 menit 20 detik atau 44%.

**Background:** Routine medical check-ups are essential for the early detection of health issues caused by work-related factors, in alignment with occupational health and safety (OHS) regulations that mandate medical check-ups. Long waiting times during medical check-up services can reduce efficiency and patient satisfaction. Early detection helps prevent serious health risks; however, waiting time efficiency needs improvement to maintain service quality. Managing waiting times is crucial to creating a safe working environment and delivering optimal services.  **Research Objective:** This study aims to analyze waiting times during medical check-ups using the Lean Six Sigma method at Clinic X Sudirman in 2024.  **Research Methodology:** The study uses observation with time-motion study techniques, in-depth interviews, and document review, adopting both quantitative and qualitative approaches. The research sample was selected using purposive sampling, consisting of 30 respondents.  **Research Results:** The study found the highest non-value-added activity occurred in the treadmill phase, lasting 41 minutes and 44 seconds (71%) due to waiting and transportation waste. The second-highest was in the EKG phase, with 34 minutes and 13 seconds (70%) of non-value-added activities due to waiting waste. The third was in the urine phase, with 7 minutes and 53 seconds (68%) of non-value-added activities due to waiting and transportation waste. Overall, value-added activities accounted for 2 hours, 10 minutes, and 20 seconds (56%), while non-value-added activities totaled 2 hours, 1 minute, and 20 seconds (44%).
Read More
S-11862
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tulus Kurnia Indah; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Helen Andriani, Rakhmat Hidayat, Nugraharti, Erwien Sri Ujianto
Abstrak:
Latar Belakang: Proses perawatan di rumah sakit didukung oleh berbagai aktivitas operasional diantaranya pengelolaan logistik dan distribusi perbekalan farmasi. Biaya perbekalan kesehatan merupakan pengeluaran terbesar kedua di rumah sakit setelah belanja pegawai, oleh sebab itu pimpinan rumah sakit perlu mengidentifikasi peluang untuk meningkatkan proses logistik untuk menurunkan biaya dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Untuk meningkatan proses logistik diperlukan pemahaman terkait kinerja rantai pasokan yang saat ini berjalan, sehingga melakukan analisa kinerja rantai pasokan merupakan hal mendasar untuk mengatasi kekurangan dalam aktivitas logistik. Tujuan: Studi ini bertujuan melakukan analisa terkait waste yang ada pada proses perencanaan dan pengadaan obat di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, kemudian mencari penyebab dan akar masalah timbulnya pemborosan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Lokasi penelitian di RSUPN Dr. Cipto Mangunkumo bulan April-Mei 2024. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan key specialist informan yang terkait dengan kegiatan perencanaan dan pengadaan dan observasi lapangan. Data sekunder diperoleh dari telaah data realisasi pemakaian obat tahun 2022, data usulan perencanaan dari unit kerja dan hasil rekapitulasi instalasi farmasi tahun 2023, data daftar barang dalam kontrak tahun 2023, datapenerimaan dan data pemakaian obat tahun 2023. Tahapan penelitian disusun berdasarkan lean six sigma dari mulai define, measure, analyze dan improve. Hasil: Jenis waste yang terjadi diantaranya penyedia tidak mengirimkan obat terhadap item perencanaan yang telah memiliki kontrak, obat yang dipesan dan dikirim tetapi tidak memiliki realisasi penggunaan, penyedia bersedia mengirimkan obat tetapi tidak mau berkontrak dengan rumah sakit, penyedia tidak bersedia mengirimkan obat dan tidak mau berkontrak dengan rumah sakit dan adanya pengadaan lain di luar jalur kontrak utama. Dari seluruh waste yang ada terjadinya pengadaan di luar jalur kontrak utama merupakan jumlah waste yang paling sering terjadi sehingga menjadi area improvement pada penelitian ini. Penyebab dari pemborosan yang masih dapat dikontrol oleh internal rumah sakit adalah keterlambatan penerbitan kontrak. Akar masalahnya karena tiap unit kerja yang terkait dengan kegiatan perencanaan dan pengadaan menyelesaikan proses kerja tanpa mempertimbangkan waktu penyelesaian proses sesudahnya, sehingga tujuan dari perencanaan dan pengadaan yang berupa penerbitan kontrak sebelum tahun anggaran menjadi tidak terlaksana. Kesimpulan: Dalam proses yang berjalan secara berkelanjutan diperlukan proses kerja yang terintegrasi berdasarkan komitmen setiap anggota rantai agar tujuan proses tersebut dapat tercapai.

Introduction: The hospital care process is supported by various operational activities including logistics management and distribution of pharmaceutical supplies. The cost of health supplies is the second largest expenditure in hospitals after personnel expenditure, therefore hospital leaders need to identify opportunities to improve logistics processes to reduce costs and improve the quality of health services. To improve logistics processes, an understanding of current supply chain performance is required, so analyzing supply chain performance is fundamental to overcoming deficiencies in logistics activities. Objective: This study aims to analyze waste in the drug planning and procurement at RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, then looked for the causes and root causes of waste. Method: This research uses qualitative methods with a case study approach. The research location is at RSUPN Dr. Cipto Mangunkumo on April-May 2024. Primary data was obtained through interviews with key specialist informants related to planning and procurement activities and field observations. Secondary data was obtained from a review of drug use in 2022, drug planning proposals from units and results of drug planning recapitulation by pharmaceutical installations in 2023, list of drugs in contracts 2023, drug receive order and drug use in 2023. The research stages were arranged based on lean six sigma method from define, measure, analyze and improve. Results: Types of waste that occur include supplier not sending drugs from planning items that already have a contract, drugs ordered and sent but not having actual use, suppliers willing to send drugs but refusev to contract with the hospital, suppliers refuse to send drugss and refuse to contracts with hospitals and procurements that come from another its main contracts. The procurements that come from another its main contract occurs most frequently, so it is an area of improvement in this research. The cause of waste that can still be internally controlled by the hospital is delays in issuing contracts. The root of the problem is because each unit related to planning and procurement activities completes the process without considering the completion time of the process afterwards, so that the aim of planning and procurement to complete all the procurement contract before end of the year do not achieved. Conclusion: In a process that runs continuously, an integrated work process is needed based on the commitment of each member of the chain so that the process objectives can be achieved.
Read More
B-2469
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elizabeth Indah PSP; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Mieke Savitri, Vetty Yulianty Permanasari, Endang Andriyani
Abstrak: Studi pelayanan farmasi di rumah sakit dilaksanakan di Rumah Sakit PMI Bogor dengan indikasi awal masih rendahnya nilai inventory turn over. Pendekatan action research dengan fokus pada pendistribusian dan penyimpanan perbekalan farmasi dipilih sebagai jenis penelitian yang digunakan. Metodologi yang digunakan untuk melakukan perbaikan adalah kombinasi Lean dan Six Sigma. Studi dilakukan terhadap proses pendistribusian, periode permintaan barang, buffer stock, besaran permintaan, kondisi-kondisi permintaan barang, ROP, indikator farmasi, kesesuaian jumlah stok barang, barang dan obat kadaluwarsa, penanganan kadaluwarsa, penanganan barang di gudang. Rendahnya nilai inventory turnover dapat disebabkan belum dipahaminya dengan baik makna persediaan perbekalan farmasi bagi pengelola perbekalan farmasi. Data pendukung menunjukkan besarnya jumlah permintaan barang farmasi pada setiap kali periode permintaan barang yaitu data standar deviasi kelipatan permintaan barang farmasi sebesar 54.8 dan standar deviasi kelipatan pemenuhan barang farmasi adalah 50.4. Nilai Six Sigma Deffect Per Million Opportunities untuk ketepatan pemenuhan permintaan barang farmasi sesuai perkiraan permintaan barang yang tertera di dokumen surat permintaan barang farmasi adalah 0.09. Pada proses pendistribusian barang farmasi terdapat 47.6% merupakan proses tidak mempunyai nilai tambah dan menimbulkan variasi dalam langkah proses tersebut. Faktor yang mendukung terjadinya hal ini adalah waktu permintaan barang yang panjang, belum tepatnya peramalan yang dilakukan oleh ruang perawatan, tidak dipahaminya standar perkiraan permintaan yang tertera di surat permintaan barang farmasi, pemakaian barang farmasi yang belum terdata dengan akurat, bottleneck proses distribusi terdapat pada Instalasi Farmasi belum melakukan secara optimal pengendalian permintaan barang farmasi dari ruang perawatan, belum dilakukan pemantauan terhadap perputaran, persediaan, belum rincinya prosedur. Belum optimalnya pemanfaatan teknologi sistem inventori. Belum memiliki standar maksimum dan minimum setiap jenis barang farmasi dan belum menerapkan standar penyimpanan dan manajemen pergudangan. Untuk meningkatkan produktivitas dan profitabilitas Rumah Sakit PMI Bogor perlu dilakukan beberapa perbaikan pendistribusian dan penyimpanan perbekalan farmasi antara lain: Perbaikan kebijakan dan prosedur secara rinci dan operasional. Mengembangkan otomasi sistem inventori untuk mengurangi kesalahan. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan SDM pengelola melalui pelatihan. Mengembangkan Key Performance Indicator seperti Inventory Turn Over, kesesuaian jumlah barang, penataan 5-S.
Read More
B-1579
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive