Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34966 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yurnila; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Besral, Dien Anshari, Hendri Putra, Eka Putra Pernanda
Abstrak:
Dalam dua tahun terakhir, terjadi peningkatan kasus campak rubella pada anak usia sekolah, yang disebabkan oleh penurunan cakupan imunisasi campak dan rubella. Imunisasi measles rubella perlu mendapat perhatian lebih dari orang tua, khususnya dari ibu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku ibu dalam penolakan imunisasi measles rubella (MR) berdasarkan teori Health Belief Model. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan 200 responden. Terpilih 9 SDN umum dan 3 SD berbasis agama dengan teknik stratified random sampling. Jumlah sampel dihitung dengan rumus proportional sampling dan sampel diambil secara systematic random sampling. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuesioner yang dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 65% ibu menolak pemberian imunisasi MR kepada anak mereka. Persepsi individu yang berhubungan dengan perilaku ibu adalah persepsi kerentanan dan hambatan. Persepsi hambatan merupakan faktor paling dominan yang berhubungan dengan perilaku ibu. Ibu dengan persepsi hambatan tinggi cenderung 2,5 kali lebih besar untuk memiliki perilaku penolakan dalam pemberian imunisasi measles rubella (MR) dibandingkan ibu dengan persepsi hambatan yang rendah, setelah dikontrol oleh persepsi kerentanan. Informasi yang akurat, ketakutan akan efek samping, dan kepercayaan pada informasi yang tidak tepat juga berperan dalam penolakan ini. Edukasi yang efektif, keterlibatan keluarga, komunitas, dan kampanye dengan tokoh masyarakat dan agama sangat diperlukan untuk mengurangi penolakan terhadap imunisasi MR. Dukungan dari tenaga kesehatan juga sangat penting dalam memberikan informasi yang tepat dan meyakinkan para orang tua akan pentingnya imunisasi ini untuk melindungi anak-anak dari penyakit campak dan rubella.

In the past two years, there has been an increase in cases of measles and rubella among school-aged children, caused by a decline in measles and rubella immunization coverage. Measles-rubella immunization needs more attention from parents, especially mothers. This study aims to determine the determinants of mothers' behavior in rejecting measles-rubella (MR) immunization based on the Health Belief Model theory. This research uses a cross-sectional design with 200 respondents. A total of 9 public elementary schools and 3 religion-based elementary schools were selected using stratified random sampling. The sample size was calculated using the proportional sampling formula, and the samples were taken using systematic random sampling. Data were collected through interviews using a questionnaire and analyzed using univariate, bivariate, and multivariate methods. The results showed that 65% of mothers refused to give MR immunization to their children. Individual perceptions related to mothers' behavior were perceived susceptibility and barriers. Perceived barriers were the most dominant factor associated with mothers' behavior. Mothers with high perceived barriers were 2.5 times more likely to exhibit rejection behavior toward MR immunization compared to mothers with low perceived barriers, after controlling for perceived susceptibility. Accurate information, fear of side effects, and trust in inaccurate information also played a role in this rejection. Effective education, family involvement, community engagement, and campaigns with community and religious leaders are essential to reduce rejection of MR immunization. Support from healthcare workers is also crucial in providing accurate information and convincing parents of the importance of this immunization to protect children from measles and rubella.
Read More
T-6987
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Prastiwi Handayani; Pembimbing: Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Penguji: Soekidjo Notoatmodjo, Tri Yunis Miko Wahyono, Chandra Rudyanto
Abstrak:

ABSTRAK
Nama : Prastiwi Handayani
Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat
Judul : Gambaran Respon Ibu Balita dan Petugas Kesehatan Terhadap
Kampanye Imunisasi Measles Rubella (MR) Di Kelurahan
Jakasampurna, Kota Bekasi Tahun 2019
Pembimbing : Dr. drs. Tri Krianto, M.Kes
Salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan dengan imunisasi (PD3I) adalah campak.
Penyakit campak dan rubella adalah penyakit yang mudah menular yang disebabkan oleh
virus dan ditularkan melalui batuk dan bersin. Kampanye imunisasi MR berakhir tanggal
31 Desember 2018. Pencapaian terendah di Jawa Barat, salah satunya kota Bekasi sebesar
85,85 persen. Dari 39 Puskesmas di Kota Bekasi terdapat lima puskesmas yang
cakupannya rendah, salah satunya yaitu Puskesmas Rawa Tembaga dengan cakupan 73%
(Bekasi, 2018). Jumlah anak yang diimunisasi di wilayah kerja Puskesmas Rawa
Tembaga, Kelurahan Jakasampurna sebanyak 12.807 anak dari target sasaran16.529
anak. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran respon ibu terhadap kampanye
imunisasi MR. Jenis penelitian kualitatif dilakukan secara singkat atau Rapid Assesment
Procedures (RAP) dengan metode wawancara mendalam. Pengumpulan data dilakukan
pada bulan Mei sampai Juni 2019 di Kelurahan Jakasampurna, Kota Bekasi. Jumlah
informan adalah 17 orang ibu yang memiliki anak usia 9 sampai 59 bulan dengan teknik
purposive (non probability). Hasil penelitian ini menunjukkan dengan adanya informasi
atau kampanye imunisasi MR baik di media massa maupun fasilitas pelayanan kesehatan
menunjukkan respon positif terhadap informan dengan membawa anaknya untuk
melakukan imunisasi MR. Informan yang bersikap negatif terhadap kampanye tidak
membawa anaknya untuk memberikan imunisasi MR dan cenderung mengabaikan
manfaat yang didapat dari memberikan imunisasi MR serta efek yang terjadi pada anak
jika tidak memberikan imunisasi pada anaknya.
Kata kunci:
Campak dan rubella, imunisasi MR, Kampanye


ABSTRACT
Name : Prastiwi Handayani
Study Program : Health Pormotion
Title : An overview of response of mothers of infants and health workers
to the Measles Rubella immunization campaign (MR) in the
Jakasampurna village, Bekasi city, 2019
Counsellor : Dr. drs. Tri Krianto, M.Kes
One of the diseases that can be prevented by immunization (PD3I) is measles. Measles
and rubella are infectious diseases that are caused by viruses and are transmitted through
coughing and sneezing. The MR immunization campaign ends on December 31, 2018.
The lowest achievement is in West Java, one of which is Bekasi city at 85.85 percent. Of
the 39 Puskesmas in Bekasi City there are five low-coverage puskesmas, one of which is
the Rawa Tembaga Health Center with a coverage of 73% (Bekasi, 2018). The number
of children immunized in the working area of the Rawa Tembaga Community Health
Center, Jakasampurna Subdistrict was 12,807 children from the target target of 16,529
children. The purpose of this study was to obtain an overview of the mother's response to
the MR immunization campaign. This type of qualitative research is carried out briefly
or Rapid Assessment Procedures (RAP) with in-depth interview methods. Data collection
is conducted from May to June 2019 in the Jakasampurna Village, Bekasi City. The
number of informants is 17 mothers who have children aged 9 to 59 months with a
purposive (non probability) technique. The results of this study indicate that with
information or MR immunization campaigns in both the mass media and health care
facilities, they showed a positive response to informants by bringing their children to do
MR immunization. Informants who were negative towards the campaign did not bring
their children to provide MR immunization and tended to ignore the benefits obtained
from providing MR immunization as well as the effects that occur on children if they did
not give immunizations to their children.
Keywords: Measles and rubella, MR Immunization, campaign

Read More
T-5776
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bakhrul Ulum; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Dien Anshari, Ririn Arminsih Wulandari, Mulyati, Rizki Amaliah
Abstrak:
Karies merupakan salah satu penyakit pada rongga mulut yang paling sering terjadi pada semua usia dan disebabkan oleh beberapa faktor yaitu agent, host, substrat dan waktu. Pengalaman karies gigi seseorang dapat dinilai dengan menggunakan indeks DMF-T dengan menjumlahkan gigi yang masuk kedalam kriteria D (Decay), M (Missing) dan F (Filled). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran indeks DMF-T dan determinannya pada murid Sekolah Dasar Negeri di Kota Cimahi tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain cross serctional. Sampel sebesar 290 murid usia 12 tahun di 6 SDN terpilih di Kota Cimahi, dipilih secara cluster random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner yang valid dan reliabel dan pemeriksaan kondisi rongga mulut yang mencakup pemeriksaan DMF-T dan pH saliva. Data dianalisis secara univariat, bivariat (Chi-Square), dan multivariat (regresi logistik ganda). Hasil penelitian menunjukan indeks DMF-T pada murid usia 12 tahun di SDN terpilih di Kota Cimahi sebesar 2,27. Faktor yang memiliki hubungan dengan indeks DMF-T adalah sosial ekonomi (nilai p=0,029), pH saliva (nilai p<0,001) dan perilaku (nilai p=0,001), sedangkan pengetahuan merupakan confounding pada hubungan tersebut. Faktor yang paling dominan adalah sosial ekonomi, siswa dengan sosial ekonomi rendah berisiko untuk memiliki indeks DMF-T tinggi 1,785 kali dibanding yang sosial ekonominya tinggi setelah dikontrol oleh pH saliva, perilaku dan pengetahuan siswa (OR=1,785; 95% CI: 1,061 – 3,003). Untuk itu perlu peningkatan pelaksanaan program UKGS dan UKGM, sehingga semua murid dapat terlayani tanpa memandang sosial ekonomi, disamping terus memberikan edukasi sehingga memiliki perilaku yang kondusif bagi kesehatan gigi dan mulut. 

Caries is one of the most common oral diseases at all ages and is caused by several factors, namely agent, host, substrate and time. A person's dental caries experience can be assessed using the DMF-T index by adding up the teeth that fall into the criteria D (Decay), M (Missing) and F (Filled). The purpose of this study was to determine the description of the DMF-T index and its determinants in elementary school students in Cimahi City in 2024. This study used a cross-sectional design. A sample of 290 students aged 12 years in 6 selected elementary schools in Cimahi City, selected by cluster random sampling. Data collection was carried out by interviews using valid and reliable questionnaires and examination of oral cavity conditions including DMF-T and salivary pH examinations. Data were analyzed univariate, bivariate (Chi-Square), and multivariate (multiple logistic regression). The results showed that the DMF-T index in 12-year-old students in selected elementary schools in Cimahi City was 2,27. Factors that have a relationship with the DMF-T index are socioeconomic (p-value=0,029), salivary pH (p-value<0,001) and behavior (p-value=0,001), while knowledge is confounding in the relationship. The most dominant factor is socioeconomic, students with low socioeconomic are at risk of having a high DMF-T index 1,785 times compared to those with high socioeconomic after being controlled by salivary pH, behavior and student knowledge (OR=1,785; 95% CI: 1,061-3,003). For this reason, it is necessary to improve the implementation of the UKGS and UKGM programs, so that all students can be served regardless of socioeconomic, in addition to continuing to provide education so that they have behavior that is conducive to dental and oral health
Read More
T-7166
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khansa Abistha; Pembimbimbing: Dien Anshari; Penguji: Evi Martha, Eni Ernawati
Abstrak:
Rendahnya cakupan imunisasi MR di Indonesia berdampak pada meningkatnya jumlah kasus PD3I dan terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB PD3I) seperti campak dan rubella di beberapa wilayah. Oleh sebab itu kemenkes RI merancang program BIAN untuk menutup kesenjangan cakupan imunisasi. Namun, masih banyak wilayah yang masih belum mencapai cakupan imunisasi MR pada BIAN. Salah satunya adalah Kelurahan Harjamukti dengan cakupan sebesar 75%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan pemberian imunisasi MR di UPTD Puskesmas Harjamukti Kota Depok Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Responden penelitian berjumlah 110 orang dengan kriteria ibu yang berdomisili di Kelurahan Harjamukti Jawa Barat. Penelitian dilakukan secara langsung menggunakan lembar kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya serta analisis menggunakan uji chi-square untuk melihat antara hubungan 7 variabel independen dengan pemberian imunisasi MR pada BIAN. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel pendidikan (p value=0,049), pekerjaan (p value=0,031), pengetahuan (p value=0,006) , sikap (p value=<0,001), jarak ke sarana kesehatan (p value=<0,001), dukungan keluarga (p value=0,005), dan dukungan petugas kesehatan (p value=<0,001) memiliki hubungan yang signifikan dengan pemberian imunisasi MR pada BIAN. Pemberian edukasi dan promosi kesehatan melalui berbagai metode yang sesuai sangat diperlukan untuk meningkatkan cakupan imunisasi MR pada BIAN.

The low coverage of MR immunization in Indonesia has resulted in an increase in the number of PD3I cases and the occurrence of Extraordinary Events (KLB PD3I) such as measles and rubella in several regions. Therefore, the Indonesian Ministry of Health designed the BIAN program to close the immunization coverage gap. However, there are still many areas that have not reached MR immunization coverage in BIAN. One of them is Harjamukti village with a coverage of 75%. The purpose of this study was to identify the factors associated with the provision of MR immunization at Harjamukti UPTD Health Center, Depok City, West Java. This study used a cross-sectional study design with a quantitative approach. The study respondents totaled 110 people with the criteria of mothers who live in Harjamukti Village, West Java. The research was conducted directly using a questionnaire sheet that had been tested for validity and reliability and analyzed using the chi-square test to see the relationship between the 7 independent variables with the provision of MR immunization in BIAN. The results showed that the variables of education (p value=0.049), occupation (p value=0.031), knowledge (p value=0.006), attitude (p value=<0,001), distance to health facilities (p value=<0.001), family support (p value=0.005), and health worker support (p value=<0.001) had a significant relationship with the provision of MR immunization in BIAN. Providing education and health promotion through various appropriate methods is needed to increase MR immunization coverage in BIAN.
Read More
S-11440
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ovy Olivia Dewi; Pembimbing: Anwar Hassan; Penguji: Besral, Ella N. Hadi, Ramadanura, Widya A. Munggaran
Abstrak: Peranan orang tua terutama ibu sangat penting untuk memotivasi dan membawaanaknya berkunjung ke pelayanan kesehatan gigi dan mulut secara rutin agar dapatmendeteksi lebih dini kerusakan atau kelainan pada gigi anak sehingga dapatmencegah kerusakan lebih lanjut pada gigi anak. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu dalam pemanfaatanpelayanan kesehatan gigi dan mulut di SD/MI Kelurahan Margajaya Kota Bekasi.Penelitian ini menggunakan desain cross sectional, pengumpulan data melaluipengisian kuesioner pada 150 responden ibu siswa di SD/MI kelurahan Margajaya,diambil dengan acak sederhana secara proporsional sesuai dengan jumlah SD dikelurahan Margajaya. Hasil penelitian menunjukkan kebutuhan perawatan gigi danmulut anak merupakan variabel yang signifikan dengan p value < 0.05, dengannilai OR=2.771, ibu yang membutuhkan perawatan pada gigi anaknya berpeluangmemanfaatkan pelayanan kesehatan gigi 2.771 kali lebih tinggi daripada ibu yangtidak membutuhkan perawatan gigi anaknya.
Kata Kunci:Perilaku ibu, Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Gigi, Anak SekolahDasarDaftar Pustaka : 70 ( 1978-2015)
The role of parents, especially the mother is essential to motivate and bring herchild visit to dental and oral health services on a regular basis in order to detectearly damage or abnormalities in the child's teeth so as to prevent further damageto the teeth of children. This study aims to determine the factors associated withmother's behavior in the utilization of dental and oral health services in SD / MIMargajaya Village Bekasi City. This study used cross sectional design, datacollection through questionnaires on 150 respondents mothers of students in SD /MI Margajaya Village, taken with simple random proportionally according to thenumber of elementary schools in Margajaya Village. The results showed dentaland oral care needs of children are significant variables with p value < 0.05, withOR = 2,771, mothers who need dental care in children potentially take advantageof dental health services 2,771 times higher than women who do not need theirchildren dental care.
Keywords: Mother Behavior, Dental Health Care Utilization, Student ElementarySchool.Reference : 70 ( 1978-2015).
Read More
T-4651
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Intan Kusuma Wati; Pembimbing: Adi Sasongko; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Ella Nurlaela Hadi, Arfah Laidiah Razik, Childa
T-4313
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuthia Deni; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Helda, Hendri Putra, Regina Tiolina Sidjabat
Abstrak:
Kusta dapat menyebabkan kecacatan permanen dan mempengaruhi aspek sosial serta ekonomi penderita. Di Kota Pariaman, persentase penderita kusta yang menyelesaikan pengobatan menurun dalam beberapa tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bentuk dukungan sosial yang diterima penderita kusta selama pengobatan berdasarkan Social Support Theory for Health, menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus. Informan penelitian terdiri dari delapan penderita kusta, tujuh petugas Puskesmas, seorang pemegang program kusta di Dinas Kesehatan, dan delapan anggota keluarga penderita. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan Focus Group Discussion pada bulan Maret-April 2024 dan dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan semua penderita kusta menjalani pengobatan selama 12 bulan. Mayoritas penderita konsisten dalam pengobatan meskipun menghadapi efek samping dan motivasi yang rendah. Semua penderita menerima dukungan sosial berupa dukungan emosional, instrumental, informasi, penghargaan, dan jaringan sosial, baik dari keluarga, petugas Puskesmas dan pengelola program kusta Dinas Kesehatan Kota Pariaman. Dukungan emosional meningkatkan motivasi penderita, sementara dukungan instrumental dari keluarga seperti bantuan finansial berperan dalam memfasilitasi proses pengobatan. Puskesmas dan Dinas Kesehatan memberikan dukungan melalui penyuluhan tentang kusta dan deteksi dini ketika melakukan kunjungan rumah dan pengantaran obat. Dinas Kesehatan juga berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk memberikan bantuan materi kepada penderita. Penelitian ini juga menemukan bahwa penderita tetap aktif dalam kegiatan sosial meskipun cenderung menyembunyikan kondisinya. Untuk itu, Kota Pariaman dapat membentuk komunitas khusus bagi penderita kusta sebagai upaya membangun jaringan dukungan yang lebih terstruktur dan menjadi forum pertukaran informasi dan sumber dukungan bagi penderita.

Leprosy can cause permanent disabilities and affect the social and economic aspects of the patients' lives. In the city of Pariaman, the percentage of leprosy patients completing their treatment has decreased in recent years. This study aims to analyze the forms of social support received by leprosy patients during treatment based on the Social Support Theory for Health, using a qualitative method with a case study design. The research informants consisted of eight leprosy patients, seven public health center officers, one leprosy program officer at the Health Office, and eight family members of the patients. Data were collected through in-depth interviews and Focus Group Discussions conducted in March-April 2024 and analyzed thematically. The results of the study showed that all leprosy patients underwent treatment for 12 months. The majority of patients remained consistent in their treatment despite facing side effects and low motivation. All patients received social support in the form of emotional, instrumental, informational, appraisal, and social network support from family, Puskesmas staff, and the leprosy program managers at the Pariaman Health Office. Emotional support helped increase the patients' motivation, while instrumental support from family, such as financial assistance, facilitated the treatment process. The Puskesmas and Health Office provided support through leprosy education and early detection during home visits and medication deliveries. The Health Office also coordinated with the Social Service to provide material assistance to the patients. The study also found that patients remained active in social activities, although they tended to hide their condition. Therefore, it is recommended that the city of Pariaman establish a special community for leprosy patients as an effort to build a more structured support network and become a forum for information exchange and support for the patients.
Read More
T-6986
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulia Ana Wati; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Renti Mahkota, Henny Herlina, Bambang Setiaja
T-4386
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mina Septiani; Pembimbing: Hadi Pratomo; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Trini Sudiarti, Sunersi Handayani, Rita Ismail
Abstrak: Kegemukan dan obesitas merupakan faktor risiko terjadinya Penyakit Tidak Menularutama. Perilaku makan menjadi faktor yang mempengaruhi kegemukan dan obesitas.Hasil Riskesdas tahun 2010 menunjukkan prevalensi kegemukan dan obesitas pada anaksekolah sebesar 9,2 persen. Mengalami peningkatan 2 kali lipat pada Riskesdas tahun2013 yaitu 18,8 persen, terdiri dari gemuk 10,8 persen dan obesitas 8,8 persen.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku makan anak gemuk(overweight) di Sekolah Dasar Negeri wilayah Kecamatan Duren Sawit KotaAdministrasi Jakarta Timur. Metode penelitian adalah cross sectional dengan jumlahsampel 247 anak gemuk, kelas 4 dan 5. Penelitian dilakukan selama bulan Mei-Junitahun 2018. Variabel yang diteliti mencakup perilaku makan anak gemuk (overweight),pengetahuan tentang gizi, sikap tentang gizi, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, jumlahanggota keluarga, kebiasaan membawa bekal, kebiasaan sarapan, kebiasaan jajan, perankeluarga dan guru, keterpaparan informasi, dan uang saku. Hasil penelitianmenunjukkan anak yang memiliki perilaku makan kurang baik sebesar 55,1%. Faktoryang berhubungan dengan perilaku makan anak gemuk adalah pengetahuan tentanggizi, sikap tentang gizi, pendidikan ibu, kebiasaan membawa bekal, kebiasaan sarapan,peran keluarga, dan peran guru. Peran keluarga merupakan faktor dominan yangberhubungan dengan perilaku makan anak gemuk OR 2,942 (95% CI: 1.496-5.785).Kata Kunci: perilaku makan, anak sekolah, kegemukan, pengetahuan tentang gizi, perankeluarga.
Read More
T-5354
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Meilani; Pembimbing : Evi Martha; Penguji : Hadi Pratomo, Anwar Hassan, Anjari Umarjianto, Hakimi
Abstrak: Menurunnya cakupan vaksinasi di Indonesia diantaranya disebabkan oleh adanyakelompok yang menolak vaksinasi (Kemkes, 2014) . Belum banyak penellitiantentang penolakan vaksin pada komunitas media sosial, karenanya penelitian inidilakukan pada dua komunitas anti vaksin di facebook group. Dengan tujuanmengetahui faktor determinan perilaku penolakan vaksin untuk dapat dijadikandasar merumuskan strategi program yang efektif. Penelitian menggunakanmetode kualitatif dan teori Health Belief Model. Hasil penelitian menemukandeterminan sosio demography yang membentuk persepsi informan terhadapvaksin dan risiko penyakit serta faktor penghambat dan faktor pencetus yangmendorong perilaku penolakan vaksin. Peneliti menyarankan kepada KementerianKesehatan untuk meningkatkan kampanye vaksinasi melalui media termasukmedia sosial, melakukan riset berkelanjutan untuk pengembangan vaksin, bagitenaga kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan terkaitvaksin dan teknik komunikasi efektif.Kata Kunci : Perilaku, Penolakan Vaksin, Health Belief Model, Anti Vaksin,Media Sosial
One of the causes of declining vaccination coverage in Indonesia is the group thatrefused immunization (MoH, 2014). Not many studies on vaccine refusal onsocial media community that has been done, so this study was conducted on twoanti-vaccine communities on facebook group. With the aim of knowing thedeterminant factor rejection behavior of vaccines, that can be used as a basis toformulate an effective program strategies. Research using qualitative methodsand theoretical Health Belief Model. The results of the study found, thedeterminants of socio-demography that shape perceptions of informants to thevaccine and the risk of disease and inhibiting factors and precipitating factors thatdrive behavior vaccine refusal. Researchers suggested to the Ministry of Health toincrease the vaccination campaign through the media, including social media,conduct ongoing research on vaccine development, for health personnel toimprove their knowledge and skills related to vaccines and effectivecommunication techniques.Keywords: Behavior, Vaccine Refusal, Health Belief Model, Anti vaccine.Social Media
Read More
T-4806
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive