Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 23133 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Minawati; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Wahyu Septiono, Iqbal Ridzi Fahdri Elyazar
Abstrak:
Malnutrisi menjadi masalah kesehatan dunia, termasuk di Indonesia. Malnutrisi berkontribusi menyebabkan hilangnya kesempatan hidup sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran beban masalah gizi dan potensi hilangnya kesempatan hidup sehat pada balita terkait masalah gizi di Indonesia pada level provinsi. Studi ini menggunakan metode analisis sistematik review Global Burden of Disease (GBD) 2021 untuk menganalisis beban penyakit akibat masalah kekurangan gizi. Indikator masalah gizi yang dianalisis yaitu berat badan lahir rendah (BBLR) dan kelahiran prematur, kegagalan pertumbuhan balita, defisiensi zat besi, dan defisiensi vitamin A. Wilayah prioritas ditentukan berdasarkan besaran DALYs dan tren periode 1990-2021. Tren DALYs dianalisis menggunakan uji Mann Kendall, besaran potensi hilangnya kesempatan hidup sehat dengan mengidentifikasi faktor risiko atribusi. Maluku, Maluku Utara, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan NTT, menjadi wilayah prioritas. BBLR dan kelahiran prematur menjadi faktor risiko utama, dan gangguan neonatal menjadi penyebab utama. Seluruh indikator masalah kekurangan gizi menunjukkan tren penurunan yang signifikan. BBLR dan kelahiran prematur berpotensi menyebabkan hilangnya kesempatan hidup sehat akibat gangguan neonatal sebesar 2.974.493,1. Kegagalan pertumbuhan balita menyebabkan hilangnya kesempatan hidup sehat akibat diare sebesar 558.743,0 dan infeksi saluran pernafasan 449.285,6. Menyelesaikan BBLR dan kelahiran prematur serta kegagalan pertumbuhan anak menjadi prioritas untuk menurunkan beban penyakit pada balita.

Malnutrition is a global health issue, including Indonesia. Malnutrition potentially causes loss of healthy life. This research aims to identify priority areas with a burden of disease and provide descriptions, trends and potential lost of healthy life attributed to risk factors related to malnutrition. This study used Global Burden of Disease (GBD) 2021 systematic analysis method. Indicators that analyzed were low birth weight (LBW) and preterm birth, child growth failure (CGF), iron and vitamin A deficiency. Priority areas are determined by rate of DALYs and trend since 1990-2021. Trends were analyzed with Mann Kendall test, potential lost of healthy life is done by identifying attributable risk factors. Maluku, North Maluku, Gorontalo, Southeast Sulawesi, West Sulawesi and NTT were selected as priority areas. LBW and preterm birth are the leading risk factors, and neonatal disorders are the leading cause. All indicators of malnutrition show significant downward trend. LBW and preterm birth was potentially caused loss a healthy life due to neonatal disorders by 2,974,493.1. CGF was potentially caused loss a healthy life due to diarrhea by 558,743.0 and respiratory infections by 449,285.6. Resolving LBW and preterm birth and CGF, should be prioritized to reduce the burden of disease among under five.
Read More
T-7001
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elfys Ferdynan; Pembimbing: Besral; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Milla Herdayati, Eva Sulistiowati, Budi Setyawati
Abstrak:
Minimum Dietary Diversity (MDD) merupakan indikator penting kualitas pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang mencerminkan kucukupan keragaman konsumsi pangan anak usia 6–23 bulan. Capaian MDD di Indonesia masih rendah, sementara determinannya belum banyak dianalisis dengan mempertimbangkan pengaruh faktor individu dan konteks wilayah secara simultan. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang melibatkan 70.561 anak usia 6–23 bulan dari 412 kabupaten/kota. Analisis dilakukan menggunakan regresi logistik multilevel dua tingkat untuk mengidentifikasi determinan MDD pada tingkat individu dan kabupaten/kota. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 48,3% anak memenuhi MDD. Faktor tingkat individu yang berhubungan dengan pemenuhan MDD meliputi usia anak, usia ibu, pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, status sosial ekonomi rumah tangga, jumlah anggota rumah tangga, dan pemanfaatan layanan kesehatan anak. Sekitar 13,0% variasi pemenuhan MDD dijelaskan oleh perbedaan antar kabupaten/kota. Pada tingkat wilayah, indikator ketahanan pangan yang mencerminkan dimensi ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan berhubungan signifikan dengan pemenuhan MDD. Temuan ini menegaskan bahwa pemenuhan MDD pada anak usia 6–23 bulan di Indonesia dipengaruhi oleh faktor individu serta faktor kontekstual wilayah. Peningkatan capaian MDD memerlukan penguatan intervensi gizi spesifik dan sensitif melalui pendekatan multisektor yang mempertimbangkan karakteristik wilayah.

Minimum Dietary Diversity (MDD) is a key indicator of the quality of complementary feeding practices that reflects the adequacy of dietary diversity among children aged 6–23 months. The achievement of MDD in Indonesia remains low, while its determinants have rarely been examined by simultaneously considering individual- and area-level contextual factors. This study employed a cross-sectional design using data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey (Survei Status Gizi Indonesia/SSGI), involving 70,561 children aged 6–23 months from 412 districts/municipalities. Data were analyzed using a two-level multilevel logistic regression model to identify the determinants of MDD at the individual and district/municipality levels. The results showed that 48.3% of children met the MDD criteria. At the individual level, MDD was significantly associated with the child's age, maternal age, maternal education, maternal employment status, household socioeconomic status, household size, and utilization of child health services. Approximately 13.0% of the variation in MDD was attributable to differences between districts/municipalities. At the area level, food security indicators representing the dimensions of food availability, food accessibility, and food utilization were significantly associated with MDD. These findings indicate that MDD among Indonesian children aged 6–23 months is influenced by both individual characteristics and area-level contextual factors. Improving MDD requires strengthening nutrition-specific and nutrition-sensitive interventions through a multisectoral approach that takes regional characteristics into account.
Read More
T-7576
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tyra Septi Diana; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Sudijanto Kamso, Popy Yuniar, Misti, Ananda
Abstrak:
Diabetes melitus tipe 2 meningkat pada usia 15-24 tahun akibat perubahan gaya hidup, pola makan yang cepat berkembang. Hal ini disebabkan oleh peningkatan glukosa darah akibat kurangnya produksi insulin oleh pankreas (International Diabetes Federation, 2023). Usia 15-24 tahun dengan diabetes tipe 2 memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi dan mempengaruhi kesehatan di usia dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan diabetes melitus tipe 2 pada kelompok usia 15-24 tahun usia 15-24 tahun di Provinsi DKI Jakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional menggunakan data SIPTM pada penduduk usia 15-24 tahun di Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tahun 2022. Hasil: Prevalensi diabetes melitus pada usia 15-24 tahun di Provinsi DKI Jakarta tahun 2022 sebesar 2,0%. Faktor risiko yang paling dominan terhadap kejadian diabetes melitus tipe 2 pada kelompok usia 15-24 tahun adalah riwayat keluarga DM (AOR = 8,171). Faktor-faktor terhadap kejadian diabetes melitus tipe 2 pada kelompok usia 15-24 tahun adalah hipertensi (AOR=5,227), konsumsi gula berlebih (AOR=1,342), merokok (AOR=1,327), indeks massa tubuh (AOR= 1,303), obesitas sentral (AOR=1,204), dan konsumsi buah dan sayur (AOR=0,854). Saran: Merencanakan program untuk meningkatkan dukungan keluarga dalam menerapkan pola hidup sehat sejak dini. Perlu memperdetail pertanyaan kuesioner pada variabel konsumsi buah dan sayur, konsumsi gula garam lemak berlebih dan aktivitas fisik. Penelitian dengan analisis lanjut diperlukan dalam penelitian ini.

Type 2 diabetes mellitus increases at the age of 15-24 years due to fast-growing changes in lifestyle and diet. This is caused by an increase in blood glucose due to a lack of insulin production by the pancreas (International Diabetes Federation, 2023). Ages 15-24 with type 2 diabetes have a higher risk of complications and affect health in adulthood. This study aims to determine the risk factors related to type 2 diabetes mellitus in the age group of 15-24 years and 15-24 years in DKI Jakarta Province. Methods: This study used a cross-sectional design using SIPTM data in the population aged 15-24 years at the DKI Jakarta Provincial Health Office in 2022. Results: The prevalence of diabetes mellitus at the age of 15-24 years in DKI Jakarta Province in 2022 was 2.0%. The most dominant risk factor for the incidence of type 2 diabetes mellitus in the age group of 15-24 years was a family history of DM (AOR = 8.171). Results: The prevalence of diabetes mellitus at the age of 15-24 years in DKI Jakarta Province in 2022 was 2.0%. The most dominant risk factor for the incidence of type 2 diabetes mellitus in the age group of 15-24 years was a family history of DM (AOR = 8.171). The factors for the incidence of type 2 diabetes mellitus in the age group of 15-24 years were hypertension (AOR=5.227), excess sugar consumption (AOR=1.342), smoking (AOR=1.327), body mass index (AOR=1.303), central obesity (AOR=1.204), and fruit and vegetable consumption (AOR=0.854). Suggestion: Plan a program to increase family support in implementing a healthy lifestyle from an early age. It is necessary to detail the questionnaire questions on the variables of fruit and vegetable consumption, sugar consumption, salt, excess fat and physical activity. Research with further analysis is needed in this study.
Read More
T-6979
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Aulia Rahman; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Sudijanto Kamso, Sutanto Priyo Hastono, Mugi Wahidin, Najmi Komariyah
Abstrak:
Ibadah haji merupakan ibadah yang dilaksanakan oleh umat Islam di seluruh dunia pada waktu dan tempat yang telah ditentukan. Pada tahun 2023, sebanyak 1.845.045 orang dari berbagai negara mengikuti ibadah ini dan Jemaah haji dari Indonesia sendiri berjumlah 211.386 orang. Sebagian besar aktivitas dalam ibadah haji bersifat fisik dan ditambah dengan stresor eksternal seperti cuaca panas dan terik matahari, sehingga faktor kesehatan menjadi sangat penting untuk kelancaran ibadah haji. Kriteria kesehatan jemaah haji ditentukan berdasarkan istithaah kesehatan. Pada tahun 2023, terdapat peningkatan signifikan dalam angka kematian jemaah haji dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yaitu mencapai 798 orang, dengan 42% di antaranya disebabkan oleh penyakit kardiovaskular atau berjumlah 336 jiwa. Oleh karena itu, penelitian potong-lintang dilakukan dengan menggunakan data sekunder dari Sistem Komputerisasi Haji Terpadu Bidang Kesehatan (SISKOHATKES) untuk mengetahui pengaruh faktor risiko terhadap kematian jemaah haji Indonesia akibat penyakit kardiovaskular. Hasil uji analisis regresi logistik berganda menunjukkan bahwa usia, Jenis kelamin, indeks massa tubuh, status hipertensi, status diabetes melitus secara signifikan mempengaruhi kematian jemaah haji akibat penyakit kardiovaskular, sedangkan status merokok dan pendidikan tidak memiliki pengaruh yang signifikan.

Hajj is a pilgrimage carried out by Muslims worldwide at a specified time and place. In 2023, a total of 1,845,045 people from various countries participated in this pilgrimage, including 211,386 pilgrims from Indonesia. Most of the activities during Hajj are physical, coupled with external stressors such as hot weather and intense sunlight, making health a critical factor for the smooth conduct of the pilgrimage. The health criteria for pilgrims are determined based on health feasibility (istithaah kesehatan). In 2023, there was a significant increase in the mortality rate of pilgrims compared to previous years, reaching 798 people, with 42% of these deaths (336 individuals) caused by cardiovascular diseases. Therefore, a cross-sectional study was conducted using secondary data from the Integrated Hajj Health Computerization System (SISKOHATKES) to determine the influence of risk factors on the mortality of Indonesian Hajj pilgrims due to cardiovascular diseases. The results of the multiple logistic regression analysis showed that age, gender, body mass index, hypertension status, and diabetes mellitus status significantly affected the mortality of pilgrims due to cardiovascular diseases, while smoking status and education level did not have a significant influence.
Read More
T-7103
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Masnauli Pratiwi Sitompul; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Dian Ayubi, Sutanto Priyo Hastono, Maria Gayatri
Abstrak:
Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat dunia. Prevalensi Stunting di Indonesia pada tahun 2022 adalah 21,6%. Prevalensi stunting pada balita di Provinsi Sulawesi Barat pada tahun 2019 sebesar 39,3 persen dan turun pada tahun 2021 namun mengalami kenaikan dari tahun 2021 sebesar 1,2 persen yaitu dari 33,8 persen menjadi 35,0 persen atau sebanyak 479.699. Prevalensi stunting terendah tahun 2019, 2021 dan 2022 adalah di provinsi Bali dengan nilai berturut-turut adalah 14,3 persen lalu turun menjadi 10,9 persen dan turun 2,9 persen pada tahun 2022 menjadi 8 persen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komparasi determinan stunting pada anak usia 6-23 bulan di Provinsi Sulawesi Barat dan Provinsi Bali berdasarkan data SSGI Tahun 2022. Desain dalam penelitian ini adalah cross-sectional menggunakan data SSGI 2022. Sampel dalam penelitian ini anak usia 6-23 bulan di Provinsi Sulawesi Barat dan Bali yang terpilih menjadi responden SSGI 2022. Analisis data dilakukan menggunakan chi-square dan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan variabel yang berhubungan bermakna dengan stunting pada anak usia 6 – 23 bulan di Provinsi Sulawesi Barat, yakni Jenis kelamin dan berat bayi lahir rendah. Status IMD merupakan variabel counfounding. Variabel yang paling dominan berhubungan dengan stunting di Provinsi Sulawesi Barat adalah riwayat BBLR. Hasil analisis didapatkan odds ratio (OR) dari variabel BBLR adalah 2,640 (95% CI: 1,286-5,420), artinya peluang anak dengan riwayat BBLR lebih besar 2,64 kali lebih besar untuk mengalami stunting daripada anak dengan riwayat tidak BBLR setelah dikontrol variabel jenis kelamin sedangkan di Provinsi Bali, Jenis Kelamin, Berat Bayi Lahir Rendah, Pendidikan Ayah, Tinggi Badan Ibu, Umur Ibu, dan IMD yang berhubungan dengan stunting (p<0,05). Faktor yang paling dominan berhubungan dengan stunting di Provinsi Bali adalah IMD. Variabel jenis kelamin, BLLR, pekerjaan ibu dan sumber air minum, Riwayat pneumonia merupakan variabel counfounding. Anak yang tidak IMD (=1 jam) setelah dikontrol variabel, Pendidikan Ayah, Umur Ibu, dan Tinggi ibu.

Stunting is a global public health concern. The prevalence of stunting in Indonesia in 2022 is 21.6%. The prevalence of stunting among young children in West Sulawesi province was 39.3% in 2019 and decreased in 2021, but increased by 1.2% from 2021, from 33.8% to 35.0% or 479,699. The lowest prevalence of stunting in 2019, 2021 and 2022 was in Bali province with consecutive values of 14.3 percent, then decreased to 10.9 percent and decreased by 2.9 percent to 8 percent in 2022. This study aims to analyze the comparative determinants of stunting in children aged 6-23 months in West Sulawesi Province and Bali Province based on SSGI data in 2022. The design in this study was cross-sectional using SSGI 2022 data. The sample in this study were children aged 6-23 months in West Sulawesi and Bali provinces who were selected as SSGI 2022 respondents. The data were analyzed using chi-squared and multiple logistic regression. The results showed that the variables significantly associated with stunting in children aged 6-23 months in West Sulawesi Province were gender and low birth weight. IMD status is a cofounding variable. The most dominant variable associated with the incidence of stunting in West Sulawesi Province is a history of LBW. The results of the analysis obtained the odds ratio (OR) of the LBW variable is 2.640 (95% CI: 1.286-5.420), meaning that the chances of children with a history of LBW are 2.64 times greater to experience stunting than children with a history of not LBW after controlling for gender variables, while in Bali Province, The most dominant factor associated with the incidence of stunting in Bali Province was early initiation of breastfeeding. Gender, BLLR, maternal occupation and drinking water source, and history of pneumonia were cofounding variables. Children who did not initiate early breastfeeding (=1 hour) after controlling for the variables of father's education, mother's age, and mother's height.
Read More
T-6936
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Izzatul Mardiah Saini; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Nining Mularsih, Tiopan Sipahutar
Abstrak:
Penanggulangan dan pengobatan tuberkulosis semakin sulit dan menantang dengan munculnya varian mycrobacterium tuberculosis yang resisten terhadap obat. Tuberkulosis yang resisten terhadap obat merupakan risiko kesehatan global dan dapat mmenyebabkan tingginya angka kematian. DKI Jakarta merupakan salah satu provinsi yang tercatat sebagai provinsi dengan angka kejadian tuberkulosis dan TB-RO tertinggi di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan diabetes mellitus dan HIV dengan ketahanan hidup pasien TB-RO selama masa pengobatan di Provinsi DKI Jakarta. Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif pada 1100 pasien TB-RO yang menjalani pengobatan pada Januari 2021-Desember 2023 dan tercatat pada Sistem Informasi Tuberkulosis. Analisis yang dilakukan analisis univariat, kaplan-meier, bivariat menggunakan regresi cox dan multivariat dengan cox proportional hazard. Hasil penelitian ini menunjukkan 18,8% pasien TB-RO mengalami kematian dengan incidence rate kematian 15 per 1000 orang-bulan dengan probabilitas survival kumulatif sebesar 79,69%. Status HIV positif (HR 2,17; 95% CI: 1.14 – 4,12) berhubungan dengan ketahanan hidup pasien TB-RO. Status HIV positif pada pasien tuberkulosis yang resistan terhadap obat dapat mempercepat kematiannya. Pentingnya peningkatan kolaborasi program terutama TB-HIV agar pasien TB-RO dengan HIV mendapatkan pengobatan dan pemantauan yang tepat

The prevention and treatment of tuberculosis have become increasingly complicated and challenging with the emergence of drug-resistant variants of Mycobacterium tuberculosis. Drug-resistant tuberculosis poses a global health risk and can lead to high mortality rates. DKI Jakarta is one of the provinces in Indonesia with the highest incidence of tuberculosis and drug-resistant TB (TB-DR). The objective of this study is to investigate the relationship between diabetes mellitus and HIV with the survival of TB-DR patients during treatment in DKI Jakarta Province. The study design is a retrospective cohort study involving 1100 TB-DR patients who underwent treatment from January 2021 to December 2023 and were registered in the Tuberculosis Information System. The analysis included univariate analysis, Kaplan-Meier analysis, bivariate analysis using Cox regression, and multivariate analysis with Cox proportional hazard. The results of the study showed that 18.8% of TB-DR patients experienced mortality, with an incidence rate of 15 per 1000 person-months and a cumulative survival probability of 79.69%. HIV-positive status (HR 2.17; 95% CI: 1.14 – 4.12) was associated with the survival of TB-DR patients. Being HIV-positive in drug-resistant tuberculosis patients can accelerate their mortality. The importance of enhancing collaborative programs, especially TB-HIV programs, is crucial to ensure that TB-DR patients with HIV receive appropriate treatment and monitoring.
Read More
T-7011
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dini Kurniawati; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Ahmad Syafiq, Christa Dewi, Siti Masitoh
Abstrak:

Obesitas merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat, termasuk di Indonesia. Pada anak dan remaja, obesitas dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti genetik, lingkungan, pola makan, dan status sosial ekonomi. Namun, penelitian yang secara khusus mengkaji obesitas pada kelompok usia ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan determinan obesitas pada anak dan remaja di Indonesia menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Desain penelitian ini adalah potong lintang, dengan sampel terdiri dari 115.053 anggota rumah tangga berusia 5–19 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil menunjukkan prevalensi obesitas sebesar 7,9% (95% CI 7,6–8,1). Faktor-faktor yang secara signifikan berhubungan dengan peningkatan risiko obesitas meliputi: jenis kelamin laki-laki [AOR 1,56; 95% CI 1,451–1,678], pendidikan ibu tinggi [AOR 1,197; 95% CI 1,106–1,296], ibu bekerja [AOR 1,14; 95% CI 1,063–1,223], tinggal di perkotaan [AOR 1,27; 95% CI 1,176–1,370], status ekonomi teratas [AOR 1,791; 95% CI 1,548–2,032], aktivitas fisik rendah [AOR 1,534; 95% CI 1,230–1,913], konsumsi makanan olahan lebih dari satu kali sehari [AOR 1,27; 95% CI 1,009–1,242], serta konsumsi buah dan sayur minimal satu porsi per hari [AOR 1,142; 95% CI 1,060–1,227]. Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi promosi kesehatan yang menargetkan faktor-faktor tersebut penting untuk mencegah dan mengendalikan obesitas pada anak dan remaja di Indonesia.

Obesity is a global health problem with a steadily increasing prevalence, including in Indonesia. Among children and adolescents, obesity is influenced by various factors such as genetics, environment, dietary patterns, and socioeconomic status. However, research specifically focusing on obesity within this age group remains limited. This study aims to examine the prevalence and determinants of obesity among children and adolescents in Indonesia using data from the 2023 Indonesia Health Survey (SKI). A cross-sectional study design was employed, with a total sample of 115,053 household members aged 5–19 years who met the inclusion and exclusion criteria. The results showed an obesity prevalence of 7.9% (95% CI: 7.6–8.1). Factors significantly associated with increased obesity risk included: male gender [AOR 1.56; 95% CI: 1.451–1.678], higher maternal education [AOR 1.197; 95% CI: 1.106–1.296], working mothers [AOR 1.14; 95% CI: 1.063–1.223], urban residence [AOR 1.27; 95% CI: 1.176–1.370], highest socioeconomic status [AOR 1.791; 95% CI: 1.548–2.032], low physical activity [AOR 1.534; 95% CI: 1.230–1.913], consumption of processed food more than once a day [AOR 1.27; 95% CI: 1.009–1.242], and fruit and vegetable intake of at least one portion per day [AOR 1.142; 95% CI: 1.060–1.227]. These findings underscore the importance of targeted health promotion interventions addressing these factors to prevent and control obesity among children and adolescents in Indonesia.  


 

Read More
T-7372
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Leila Ramadhani: Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: R. Sutiawan, Rico Kurniawan, Muhammad Syukri
Abstrak:
Epidemi HIV di Indonesia masih terkonsentrasi pada populasi kunci, namun dalam satu dekade terakhir tren penularannya cenderung bergeser ke populasi umum. Perbedaan karakteristik epidemiologi kedua kelompok tersebut menunjukkan perlunya pendekatan spasial dalam pengendalian HIV. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola spasial dan faktor-faktor yang berhubungan dengan distribusi penemuan ODHIV baru pada populasi kunci dan populasi umum di 35 kabupaten/kota Provinsi Jawa Tengah tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan data sekunder dari Sistem Informasi HIV/AIDS (SIHA) Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2024, Profil Kesehatan, serta Badan Pusat Statistik. Analisis dilakukan menggunakan Global Moran's I, Local Indicators of Spatial Association (LISA), dan Spatial Autoregressive Model (SAR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi ODHIV baru pada populasi kunci tidak memiliki autokorelasi spasial yang signifikan, sedangkan pada populasi umum ditemukan autokorelasi spasial positif yang signifikan (Global Moran's I = 0,2215; p = 0,016). Analisis LISA mengidentifikasi Kabupaten Karanganyar sebagai satu-satunya klaster high-high pada populasi umum. Model SAR merupakan model terbaik untuk populasi umum dan menunjukkan adanya ketergantungan spasial antarwilayah (ρ = 0,696; p < 0,001). Kepadatan penduduk merupakan satu-satunya faktor yang berhubungan signifikan dengan peningkatan penemuan ODHIV baru (p < 0,001), sedangkan faktor demografi lainnya, sosial ekonomi, dan akses pelayanan kesehatan tidak berhubungan signifikan. Penelitian ini menunjukkan bahwa distribusi penemuan ODHIV baru pada populasi umum dipengaruhi oleh faktor spasial, sedangkan pada populasi kunci tidak ditemukan pola spasial yang bermakna. Temuan ini mendukung pemanfaatan pendekatan spasial untuk mengidentifikasi wilayah prioritas, khususnya klaster high high, sehingga dapat menjadi dasar dalam perencanaan deteksi dini, penguatan layanan HIV dan alokasi sumber daya kesehatan yang lebih efektif di Provinsi Jawa Tengah.

transmission has increasingly expanded to the general population over the past decade.  The distinct epidemiological characteristics of these two populations underscore the  importance of adopting a spatial approach to HIV prevention and control. This study  aimed to examine the spatial distribution and factors associated with the distribution of  newly identified people living with HIV (ODHIV) among key populations and the general  population across the 35 districts and municipalities of Central Java Province in 2024. An  ecological study design was employed using secondary data obtained from the 2024  HIV/AIDS Information System (SIHA) of the Central Java Provincial Health Office, the  Central Java Provincial Health Profile, and Statistics Indonesia. Spatial analysis were  performed using Global Moran's I, Local Indicators of Spatial Association (LISA), and  the Spatial Autoregressive (SAR) model. The findings indicated that the spatial  distribution of newly identified ODHIV among key populations did not exhibit significant  spatial autocorrelation. In contrast, significant positive spatial autocorrelation was  observed among the general population (Global Moran's I=0.2215; p=0.016). LISA  identified Karanganyar District as the only statistically significant high-high cluster.  Based on spatial diagnostic tests, the SAR model provided the best fit for explaining the  spatial variation in newly identified ODHIV among the general population and  demonstrated significant spatial dependence across neighboring areas (ρ=0.696;  p<0.001). Population density was the only area-level factor significantly associated with  an increased rate of newly identified ODHIV (p<0.001), whereas other demographic,  socioeconomic, and healthcare access variables were not significantly associated. These  findings suggest that the spatial distribution of newly identified ODHIV in the general  population is influenced by spatial dependence, whereas no meaningful spatial pattern  was identified among key populations. The results highlight the value of spatial analytical  approaches in identifying priority areas, particularly high-high clusters, to support  targeted HIV screening, strengthen HIV service delivery, and improve the allocation of  public health resources in Central Java Province.
Read More
T-7587
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Helmi Safitri; Pembimbing: Kemal N. Siregar; Penguji: Tris Eryando, Milla Herdayati, Rahmadewi, Dian Kristiani Irawaty
Abstrak:
Penelitian ini membahas begaimana pengaruh pemberian payanan KB terhadap unmet need pada wanita menikah usia 15-49 tahun di Indonesia. Penelitian ini merupakan analisis lanjutan SDKI 2017 dengan menggunakan desain penelitian potongl lintang pada wanita menikah atau tinggal bersama usia 15-49 tahun sebanyak 35.681 wanita yang dianalisis menggunakan uji chi square dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian layanan KB yang kurang terakses memiliki kejadian unmet need (11,5%) lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian layanan KB yang terakses (6,9%). Kurang teraksesnya pemberian layanan KB dalam memberikan informasi tentang KB kepada wanita menikah usia 15-49 tahun memiliki peluang 2,269 lebih tinggi untuk mengalami unmet need setelah di kontrol oleh variabel status pekerjaan, wilayah tempat tinggal dan jumlah anak hidup (IK 95%= 1,948-2,642). Oleh karena itu, perlu dilakukan peningkatan pemberian layanan KB dalam pemberian informasi KB agar masyarakat sebagai klien dapat dengan mudah mengakses informasi mengenani KB terutama bagi wanita yang bekerja, tinggal diperkotaan dan memiliki beberapa anak, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran untuk menggunakan KB dengan pilihan KB yang sesuai dengan kebutuhan.

This study was conducted to assess the extent of the effect of family planning services delivery on unmet needs in married women aged 15-49 years in Indonesia. Unmet need is a phenomenon in the area of ​​population that requires serious and immediate handling because it can hamper the increase in CPR and decrease TFR, population growth rate, MMR, and IMR. The provision of family planning services delivery is important in meeting one's needs for using family planning by selecting the right family planning tool according to their needs, to overcome unmet need. This study is an advanced analysis of the 2017 IDHS by using a cross-sectional study design of married or living women aged 15-49 as many as 35,681 women analyzed using the chi-square test and multiple logistic regression, with unmet need as the dependent variable and KB service delivery as a variable independent, as well as several confounding variables. The results showed that the provision of family planning services delivery that were less accessible by respondents had a risk of 2.269 to experience unmet needs compared to those accessed (95% CI = 1.948- 2,642). Therefore, it is necessary to increase the provision of family planning services in providing family planning information so that clients can easily access information about family planning, especially for women who work, live in urban areas and have several children, to increase knowledge and awareness to use family planning according to needs.

Read More
T-5891
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Risma; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Iwan Ariawan, Tris Eryando, Dian Sidiq Arsyad, Argianto
Abstrak:
Lansia adalah kelompok yang rentan di masa pandemi COVID-19. Oleh karena itu diperlukan pemetaan vaksinasi untuk masyarakat lansia, terutama di Pulau Jawa, sehingga dapat menganalisis cakupan vaksinasinya di tiap Kab/Kota. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah melakukan analisis spasial cakupan vaksinasi COVID-19 dosis 1 dan dosis 2 pada sasaran prioritas lansia di Pulau Jawa sejak awal diadakan vaksinasi pada bulan Januari tahun 2021 sampai bulan Mei tahun 2022.Analisis spasial sebagai metode peneltian yang memetakan objek berdasarkan posisi geografis menjadi alat bantu yang tepat dalam Decision Support System dalam menganalisis pemetaan cakupan vaksinasi COVID-19 dosis 1 dan dosis 2 di Pulau Jawa. Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya autokorelasi spasial antar wilayah di Pulau Jawa. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa persentase jumlah lansia yang dilakukan Vaksin dosis 1 dan Vaksin dosis 2 di 118 kabupaten/kota di Pulau Jawa cenderung berkelompok (cluster) pada lokasi yang berdekatan. Hasil ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi pemerintah daerah dan dinas kesehatan dalam mengambil langkah selanjutnya dalam memastikan cakupan vaksinasi COVID-19 yang merata untuk tiap Kab/Kota di Pulau Jawa.

The elders are a vulnerable group during the COVID-19 pandemic. Therefore, it is necessary to map out vaccinations for the elderly, especially in Java, to analyze the vaccination coverage in each district/city. The purpose of this study is to conduct a spatial analysis of the coverage of COVID-19 vaccination doses one and dose two at the elderly priority targets on Java Island since the initial vaccination was held from January 2021 until May 2022. Spatial analysis is research method that maps objects based on geographical position. This method becomes the suitable tool in the Decision Support System to analyze the mapping of COVID-19 vaccination coverage doses one and two on the island of Java. The results obtained indicate that there is a spatial autocorrelation between regions in Java. Therefore, it can be concluded that the percentage of the elderly who received dose one and dose two vaccines in 118 districts/cities on the island of Java tended to be clustered in adjacent locations. This result is expected to be a consideration for local governments and health offices in taking the next step in ensuring equitable COVID-19 vaccination coverage for each district/city on the island of Java.
Read More
T-7527
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive