Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37984 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Maulani Pratiwi; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: Popy Yuniar, Nuke Aliyya Tama
Abstrak: Salah satu penyebab kematian bayi di Indonesia adalah infeksi. Imunisasi merupakan salah satu cara yang efektif untuk memberikan kekebalan tambahan pada bayi agar terlindungi dari infeksi. Rendahnya cakupan imunisasi dapat berpotensi menyebabkan terjadinya KLB PD3I. Untuk itu perlu adanya strategi dalam mengejar ketertinggalan, pemulihan dan penguatan sistem yang berkelanjutan sehingga terjadi peningkatan cakupan imunisasi dasar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan status imunisasi dasar lengkap pada anak di Indonesia. Desain penelitian yang digunakan adalah Cross Sectional, menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Analisis statistik menggunakan uji chi square. Hasil penelitian ini menemukan proporsi cakupan imunisasi dasar lengkap di Indonesia hanya sebesar 32,4%. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa umur ibu (PR: 1,958; 95% CI: 1,15-3,33), tingkat pendidikan ibu (PR: 1,30; 95% CI: 1,18-1,44), kepemilikan jaminan kesehatan (PR: 1,25; 95% CI: 1,41-1,38), tempat bersalin ibu (PR: 2,25; 95% CI: 1,77-2,86), frekuensi kunjungan ANC (PR: 1,61; 95% CI: 1,47-1,77), lokasi tempat tinggal (PR: 1,52; 95% CI: 1,38-1,67) dan tingkat pendidikan ayah (PR: 1,20; 95% CI: 1,09-1,32) berhubungan dengan status imunisasi dasar lengkap di Indonesia
One of the causes of infant mortality in Indonesia is infection. Immunization is an effective way to provide additional immunity to infants, protecting them from infections. Low immunization coverage can potentially lead to outbreaks of vaccine-preventable diseases (VPD). Therefore, strategies are needed to catch up, recover, and strengthen the system sustainably, thereby increasing basic immunization coverage. The objective of this study was to identify factors associated with the status of complete basic immunization among children in Indonesia. The study design used was cross-sectional, utilizing data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). Statistical analysis was performed using the chi-square test. The study results found that the proportion of complete basic immunization coverage in Indonesia was only 32.4%. Statistical analysis showed that mother’s age (PR: 1,958; 95% CI: 1,15-3,33), maternal education level (PR: 1.30; 95% CI: 1.18–1.44), ownership of health insurance (PR: 1.25; 95% CI: 1.41–1.38), place of delivery (PR: 2.25; 95% CI: 1.77–2.86), frequency of ANC visits (PR: 1.61; 95% CI: 1.47–1.77), residence location (PR: 1.52; 95% CI: 1.38–1.67), and paternal education level (PR: 1.20; 95% CI: 1.09–1.32) were associated with the status of complete basic immunization in Indonesia.
Read More
S-11821
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sinurtina Sihombing; Pembimbing: Mieke Savitri, Evi Martha
T-1860
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Allisa Amelia Santoso; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Ella Nurlaella Hadi, Yovsyah, Rien Pramindari, Elimarnis
Abstrak:
Imunisasi merupakan upaya untuk mencegah penyakit menular mulai dari bayi baru lahir hingga dewasa. Hingga saat ini imunisasi merupakan cara yang efektif untuk mencegah penyebaran dan eradikasi penyakit menular. Pandemi COVID-19 memberikan dampak pada berbagai sektor, termasuk pelayanan imunisasi anak. Berdasarkan data tahun 2021, Kecamatan Limo memiliki cakupan imunisasi dasar lengkap sebesar 78,5%. Berbagai faktor berkontribusi pada ibu untuk melakukan imunisasi dasar bagi bayi mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu dalam melakukan imunisasi dasar lengkap pada bayi di Kecamatan Limo Kota Depok menggunakan teori Health Belief Model (HBM). Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan teknik quota sampling. Data didapatkan dengan melakukan wawancara pada 212 ibu yang memiliki anak usia 13-24 bulan yang datang ke Posyandu di Kecamatan Limo Kota Depok menggunakan kuesioner dan selanjutnya dianalisis dengan uji logistik regresi ganda. Hasil penelitian menunjukkan proporsi ibu yang memberikan imunisasi dasar lengkap pada bayi mereka sebesar 74,5% dan persepsi hambatan merupakan faktor paling berhubungan dengan perilaku ibu. Ibu yang tidak memiliki persepsi hambatan berpeluang melakukan imunisasi dasar lengkap 3,5 kali dibandingkan ibu yang memiliki hambatan dalam melakukan imunisasi bagi anaknya setelah dikontrol dengan persepsi keparahan (nilai p = 0,048, OR = 3.496, 95%CI = 1.010-12.104).

Immunization is an effort to prevent infectious diseases from newborns to adults. Until now, immunization has been an effective way to prevent spreading and eradicate infectious diseases. The COVID-19 pandemic has impacted various sectors, including child immunization services. Based on data for 2021, Limo District has complete basic immunization coverage of 78.5%. Various factors contribute to mothers carrying out basic immunization for their babies. This study aims to determine the factors related to maternal behaviour in completing the basic immunization of infants in Limo District, Depok City using the theory of the Health Belief Model (HBM). This study used a cross-sectional design with a quota sampling technique. Data were obtained by conducting interviews with 212 mothers with children aged 13-24 months in Limo District, Depok City using a questionnaire and then analyzed with multiple regression logistic. The results showed that 74,5% of mothers gave complete basic immunization to their babies, and the perceived barriers was the factor most related to the mother's behavior. Mothers who did not have perceived barriers had the opportunity to carry out complete basic immunization 3.5 times compared to mothers who had barriers in immunizing their children after being controlled by perceived severity (p-value=0.048, OR=3,496, 95% CI=1,010-12,104).
Read More
T-6740
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Purwi Hastuti; Pembimbing: Endang Laksminingsih Achadi; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Mudjianto, Harni, Asih Setiorini
Abstrak:

Angka kematian bayi dan anak usia dibawah dua tahun (baduta) merupakan indikator kualitas hidup suatu bangsa. Salah satu upaya yang ditetapkan untuk mencegah kematian bayi dan baduta adalah melalui program peningkatan pemberian ASI. Namun tampaknya praktik pemberian ASI belum menunjukkan perubahan yang nyata. Antara lain, inisiasi ASI tidak segera diberikan oleh sebagian besar ibu yang baru melahirkan. Paling tidak 50% dari ibu-ibu yang baru melahirkan tidak segera memberikan ASI kepada bayinya dalam waktu 1 jam setelah persalinan (SDKI 1991, 1994 dan 1997).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara inisiasi ASI dan faktor faktor lainnya di wilayah Jawa Bali dengan menggunakan data SDKI 1997. Populasi penelitian ini adalah baduta yang pernah mendapat ASI. Jumlah sampel yang ada untuk analisis Inisiasi ASI adalah 1979 baduta, sedangkan jumlah sampel yang ada untuk analisis Lama Menyusui adalah 534 baduta. Analisis bivariat dilakukan dengan uji chi square (X 2) sedangkan analisis multivariat menggunakan analisis regresi logistik.Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar (54,01%) ibu segera menyusui bayinya dalam waktu 1 jam setelah lahir (inisiasi ASI cepat) dan sebesar 45, 99% ibu tidak segera menyusui bayinya (inisiasi ASI lambat). Sebesar 22, 10 % ibu menyusui bayinya cukup lama ³ 2 tahun/24 bulan. Dan 77, 90.% ibu menyusukan bayinya kurang dari 2 tahun/24 bulan.Dari analisis bivariat variabel yang mempunyai hubungan bermakna dengan inisiasi ASI adalah pekerjaan ibu dan tempat tinggal (rural/urban), sedangkan yang mempunyai hubungan yang bermakna dengan Lama Menyusui adalah tempat persalinan, penolong persalinan dan tempat tinggal (rural/urban).Analisis multivariat menunjukkan tiga variabel independen yang menjadi faktor yang mempengaruhi Lama Menyusui adalah tempat persalinan dan pendidikan SLTA, SLTP dan SD. Ibu yang melahirkan di bukan fasilitas kesehatan berpeluang menyusui selama ³ 2 tahun/24 bulan 2,53 kali dibandingkan dengan ibu yang melahirkan di fasilitas kesehatan. Ibu yang berpendidikan SLTA, SLTP dan SD, berturut-turut berpeluang menyusui selama ³ 2 tahun/24 bulan 11 kali, 7 kali dan 8 kali dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan universitas. Sementara itu Inisiasi ASI tidak mempengaruhi Lama Menyusui secara bermakna. Dari ketiganya yang paling dominan adalah faktor pekerjaan. Variabel independen yang mempengaruhi Inisiasi ASI adalah pekerjaan ibu dan umur ibu yang berusia lebih dari 30 tahun. Ibu yang bekerja mempunyai peluang untuk memulai inisiasi ASI dini 0,58 kali dibanding ibu yang tidak bekerja, dipihak lain ibu yang berusia lebih dari 30 tahun mempunyai peluang memulai inisiasi ASI 0,80 kali dibanding ibu yang berumur kurang dari 30 tahun. Faktor yang paling dominan adalah pekerjaan ibu.Dalam rangka meningkatkan pemberian ASI perlu dilakukan upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan mengenai ASI dan cara melakukan penyuluhan atau konseling yang baik, melalui pelatihan penyegaran. Pemantauan terhadap pelaksanaan program peningkatan pemberian ASI dan pembinaan secara intensif terhadap petugas kesehatan perlu dilakukan sebagai bagian dari program peningkatan praktik pemberian ASI.


 

Mortality rates of infant and under two years old children are indicators of life quality of a nation. Breastfeeding is an effort launched to prevent infant and under two mortalities. Based on SDKI 1991, 1994, and 1997, increased percentage of breastfeeding within the first day was followed by the increase of duration of breastfeeding. This study aimed to know the association between breastfeeding initiation and breastfeeding duration in Jawa and Bali islands and factors related to both practices in the SDKI 1997 data.This study is secondary data analysis of SDKI 1997 data that was cross-sectional study. The population of the study is under two children who ever breastfeed. Number of sample for breastfeeding initiation is 1979 under two children and number of sample for breastfeeding duration is 534 under two children.Bivariate analysis was conducted using chi square test, multivariate analysis using logistic regression analysis. The study shows that more than half of the mothers immediately breastfeed their infant (54.01%). Mothers with long breastfeeding duration is 22.10%, and 77.90% breastfeed their infant only for a short duration. Bivariate analyses shows that variables related significantly with breastfeeding initiation are mother's type of work and mother's living area (rural/urban) and variables related significantly with breastfeeding duration are place of delivery, helper of delivery and place of home (rural/urban).Multivariate analyses showed three independent variables that influenced the duration of breastfeeding, that is mother's status of work, place of delivery, and living area (rural/urban). The most dominant factor for breastfeeding initiation is mother's status of work and for breastfeeding duration is place of delivery.To improve breastfeeding practices, the health personnel should be trained both in breastfeeding mechanism and in counseling skills. It is also important to intensively monitor the health personnel regarding their practices to encourage mother's breastfeeding practices.

Read More
T-1382
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fatimmah Denalian; Pembimbing: Besral; Penguji: Kemal Nazaruddin Siregar, Irwan Panca Wariaseno, Irma Ardiana
Abstrak:

Abstrak
Setiap tahunya diperkirakan 289.000 ibu dan 2,62 Juta neonatal meninggal di seluruh dunia. Indonesia sendiri menduduki peringkat ke lima sebagai negara di wilayah Asia Tenggara dengan tingkat kematian neonatal dengan 11.7 kematian per 1000 kelahiran. Penyebab utamanya adalah BBLR, Afiksia, dan infeksi. Upaya pemerintah Indonesia dalam mengurangi kematian neonatal adalah salah satunya dengan cakupan kunjungan neonatal ke pelayanan kesehatan. Namun cakupan kunjungan neonatal belum mampu mencapai target RENSTRA (88 %). Berdasarkan Riskesdas 2018 Provinsi Papua (19.2 %) dan Provinsi Papua Barat (14.7 %) merupakan dua provinsi dengan cakupan kunjungan neonatal terendah di Indonesia. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui factor yang berhubungan dengan ketidaklengkapan kunjungan neonatal di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang untuk menganalisis data Riskesdas 2018 pada 1.956 ibu yang memiliki anak usia 0 – 59 bulan dan dianalisis menggunakan analisis regresi logistic ganda. Hasil dari penelitian ini didapatkan 3 faktor dominan yang berhubungan dengan ketidaklengkapan kunjungan neonatal yaitu penolong persalinan, pendidikan ibu, dan riwayat ANC setelah dikontrol oleh variabel pekerjaan, tempat persalinan, pemanfaatan buku KIA.


Every year an estimated 289,000 mothers and 2.62 million neonatal deaths occur worldwide. Indonesia alone ranks fifth as a country in the Southeast Asian region with a neonatal mortality rate of 11.7 deaths per 1000 births. The main causes are LBW, Afiksia, and infection. The Indonesian government's effort to reduce neonatal mortality is one of them with the coverage of neonatal visits to health services. However, the coverage of neonatal visits has not been able to reach the RENSTRA target (88%). Based on Riskesdas 2018, Papua Province (19.2%) and West Papua Province (14.7%) are the two provinces with the lowest coverage of neonatal visits in Indonesia. Therefore, this study aimed to determine the factors associated with incomplete neonatal visits in Papua and West Papua Provinces. This study used a cross-sectional design to analyze Riskesdas 2018 data on 1,956 mothers with children aged 0 - 59 months and analyzed using multiple logistic regression analysis. The results of this study obtained 3 dominant factors associated with incomplete neonatal visits, namely delivery assistants, maternal education, and ANC history after being controlled by variables of employment, place of delivery, utilization of the MCH book in pregnancy history and in newborn history (AOR = 16.41 95% CI 7.65-35.22). 

Read More
T-7171
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zakiyah; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Ella Nurlella Hadi, Helda, Syahmida S. Arsyad, Irwan Panca Wariaseno
Abstrak: Komplikasi persalinan menyebabkan morbiditas dan mortalitas ibu, kejadiannya meningkat dari 46% pada tahun 2012 menjadi 71,1% pada tahun 2017. Penelitian analisis lanjut menggunakan data SDKI 2017 dengan desain cross sectional, bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan komplikasi persalinan di 34 Provinsi di Indonesia tahun 2012-2017. Sampel dalam penelitian ini adalah wanita usia subur (WUS) yang melahirkan dalam dalam periode 2012-2017 yaitu sebanyak 14.996 orang. Hasil penelitian ini membuktikan adanya hubugan yang signifikan antara status ekonomi, umur, paritas, komplikasi kehamilan, riwayat komplikasi persalinan, penolong persalinan dan tempat persalinan dengan komplikasi persalinan. Hasil analisis regresi logistik ganda didapatkan faktor yang paling dominan berhubungan dengan komplikasi persalinan adalah riwayat persalinan. Responden yang pernah mengalami komplikasi persalinan berisiko hampir 4 kali (OR 3,585; 95% CI: 2,760-4,656) mengalami komplikasi persalinan setelah dikontrol oleh faktor umur, paritas, komplikasi hamil, penolong persalinan, dan tempat persalinan. Komplikasi kehamilan, dan tempat persalinan berinteraksi dengan riwayat komplikasi persalinan terhadap komplikasi persalinan. Disarankan Kementerian Kesehatan dan BKKBN dapat memberikan pelatihan ANC, INC, dan metode kontrasepsi kepada petugas yang memiliki wewenang untuk memberikan perawatan antenatal, intranatal dan pascanatal. Serta memberikan KIE khususnya pada ibu yang mempunyai riwayat komplikasi persalinan untuk mencegah terulangnya komplikasi.
Kata kunci: Komplikasi persalinan, wanita usia subur
Read More
T-5531
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khairunisa Cikal Adilah; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Yovsyah, Dewi Safitri
Abstrak:
Latar belakang: Penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang merupakan salah satu strategi penting dalam upaya pencegahan kehamilan berisiko. Wanita usia subur pascapersalinan sectio caesarea merupakan kelompok yang memerlukan pengaturan jarak kehamilan yang optimal, namun pemanfaatan MKJP pada kelompok ini masih belum optimal di Indonesia dan berkaitan dengan perbedaan faktor sosiodemografi. Tujuan: untuk mengetahui hubungan faktor sosiodemografi yang bersalin Sectio Caesarea dengan penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) di Indonesia. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional, menggunakan data sekunder dari data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Hasil: Proporsi penggunaan MKJP pada wanita usia subur yang melahirkan melalui sectio caesarea sebesar 51,3%. Hasil uji bivariat menunjukan terdapat hubungan signifikan (p<0,001) pada usia reproduksi berisiko (OR=2,45; 95% CI: 2,27–2,65), tingkat pendidikan (OR=0,59; 95% CI: 0,53–0,65), pekerjaan (OR=1,39; 95% CI: 1,29–1,49), paritas (OR=2,60; 95% CI: 2,37–2,85), tempat tinggal (OR=0,83; 95% CI: 0,77–0,89), kepemilikan jaminan kesehatan (OR=0,75; 95% CI: 0,67–0,84) dengan penggunaan MKJP. Kesimpulan: Faktor sosiodemografi wanita usia 15-49 tahun yang bersalinan sectio caesarea berhubungan signifikan secara statistik dengan penggunaan MKJP di Indonesia, di mana wanita usia subur yang melahirkan melalui Sectio Caesarea memiliki peluang lebih besar untuk menggunakan MKJP.

Background: The use of long-term contraception methods is an important strategy in preventing risky pregnancies. Women of childbearing age who have undergone cesarean section are a group that requires optimal spacing between pregnancies, but the use of long-term contraception methods in this group is still not optimal in Indonesia and is related to differences in sociodemographic factors. Objective: To determine the relationship between sociodemographic factors of women who gave birth via cesarean section and the use of long-acting contraceptive methods in Indonesia. Methods: This study is a quantitative cross-sectional study using secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). Results: The proportion of LCM use among women of reproductive age who gave birth via cesarean section was 51.3%. Bivariate analysis showed a significant association (p<0.001) with reproductive age at risk (OR=2.45; 95% CI: 2.27–2.65), education level (OR=0.59; 95% CI: 0.53–0.65), occupation (OR=1.39; 95% CI: 1.29–1.49), parity (OR=2.60; 95% CI: 2.37–2.85), place of residence (OR=0.83; 95% CI: 0.77–0.89), and health insurance coverage (OR=0.75; 95% CI: 0.67–0.84) with the use of long-term contraceptive methods. Conclusion: Sociodemographic factors of women aged 15-49 years who gave birth by cesarean section were statistically significantly associated with the use of long-acting reversible contraception in Indonesia, where women of childbearing age who gave birth by cesarean section were more likely to use long-acting contraceptive methods.
Read More
S-12178
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vita Yulia; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Putri Bungsu, Dhora Yufita Nurfitriani
Abstrak:

Pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kematian balita di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi pneumonia pada balita di Indonesia sebesar 15%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita usia 12–59 bulan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan data sekunder dari SKI 2023. Sampel berjumlah 33.132 balita usia 12–59 bulan. Analisis data dilakukan dengan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kejadian pneumonia adalah umur balita 24–59 bulan (OR=0,72; 95%CI: 0,57–0,90), jenis kelamin laki-laki (OR=1,36; 95%CI: 1,09–1,69), riwayat BBLR (OR=1,70; 95%CI: 1,15–2,53), status imunisasi DPT-HB-Hib lengkap (OR=1,79; 95%CI: 1,00–3,21), dan riwayat penyakit sebelumnya (OR=10,28; 95%CI: 8,27–12,77). Pada karakteristik ibu, pendidikan tinggi berhubungan dengan kejadian pneumonia (OR=1,41; 95%CI: 1,10–1,81). Faktor lingkungan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan, sedangkan balita dari keluarga dengan status sosial ekonomi atas memiliki risiko lebih tinggi terkena pneumonia (OR=1,50; 95%CI: 1,05–2,13). Kesimpulan: Pencegahan pneumonia perlu difokuskan pada kelompok risiko seperti balita laki-laki, usia 24–59 bulan, riwayat BBLR, riwayat penyakit sebelumnya, dan peningkatan edukasi pada ibu serta keluarga dengan status ekonomi tinggi.

Kata kunci: Pneumonia, Balita, Faktor Risiko, SKI 2023


Pneumonia is one of the leading causes of mortality among children under five in Indonesia. Based on the 2023 Indonesia Health Survey (SKI), the prevalence of pneumonia among children under five was 15%. This study aims to identify the factors associated with pneumonia among children aged 12–59 months in Indonesia. This research employs a cross-sectional design using secondary data from the 2023 SKI. The sample consisted of 33,132 children aged 12–59 months. Data were analyzed using the chi-square test. The results show that factors associated with pneumonia include being aged 24–59 months (OR=0.72; 95%CI: 0.57–0.90), male gender (OR=1.36; 95%CI: 1.09–1.69), a history of low birth weight (OR=1.70; 95%CI: 1.15–2.53), incomplete DPT-HB-Hib immunization (OR=1.79; 95%CI: 1.00–3.21), and a history of previous illnesses (OR=10.28; 95%CI: 8.27–12.77). Among maternal characteristics, a higher education level was associated with pneumonia incidence (OR=1.41; 95%CI: 1.10–1.81). Environmental factors were not significantly associated, while children from families with higher socioeconomic status had a greater risk of pneumonia (OR=1.50; 95%CI: 1.05–2.13). In conclusion, pneumonia prevention efforts should focus on high-risk groups, including male children, those aged 24–59 months, those with a history of low birth weight or previous illnesses, and families with higher maternal education and higher socioeconomic status.  Keywords: Pneumonia, Under-Five Children, Risk Factors, SKI 2023

Read More
S-12062
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Fauzia; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Sandra Fikawati, Lilysiana
Abstrak: Angka komplikasi persalinan di Indonesia sendiri mengalami kenaikan hal ini dapat dilihat dari data SDKI tahun 2002-2003 sampai SDKI 2012.Berdasarkan data SDKI 2002 dan SDKI 2007, kejadian komplikasi persalinan di Indonesia naik sebesar 11%. Jika dibandingkan dengan kejadian komplikasi persalinan berdasarkan data SDKI tahun 2007 dan SDKI tahun 2012, angka komplikasi persalinan naik sebesar 19,4%.

Penelitian ini bertujuan untuk diketahuinya gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi komplikasi persalinan di Indonesia.Penelitian ini merupakan penelitian jenis deskriptif analitik dengan desain cross sectional. Pengambilan sampel penelitian adalah total sampling. Sampel dalam penelitian ini wanita yang pernah kawin usia 15-49 tahun, pernah melahirkan dan yang dianalisis adalah kelahiran anak terakhir yang tercakup dalam data SDKI 2012 sebesar 14.023 ibu.

Hasil determinan yang berhubungan dengan kejadian komplikasi persalinan adalah paritas, komplikasi kehamilan, penolong persalinan, tempat persalinan, dan pendidikan.

Kata Kunci : Komplikasi Persalinan, Kematian Maternal

The complication rate of births in Indonesia increased, this can be seen from the data in the 2002-2003 to IDHS 2012.Based on IDHS data is IDHS 2002 and 2007, the incidence of complications of childbirth in Indonesia increase 11%. When we compared with the incidence of complications of labor based on data IDHS IDHS 2007 and 2012, the number of delivery complications increased by 19.4%.

This research aims to know description of the factors that influence the delivery complications in this Indonesia. This research is a descriptive analytic research with cross sectional design. Sample in this research is total sampling. The sample in this study ever married women aged 15-49 years, had given birth and the birth of the last child is analyzed is included in the data IDHS 2012 of 14.023 mothers.

Results determinant incidence of complications related to are parity, complications of pregnancy, birth attendants, birth place, and education levels.

Keywords: Complications of Childbirth, Maternal Mortality
Read More
S-8559
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yusrina Hidayati; Pembimbing: Sabarinah Prasetyo; Penguji: Evi Martha, Toha Muhaimin, Teti Tejayanti, Valentina Gintings
Abstrak: Kejadian kekerasan paling tinggi yaitu kekerasan dalam rumah tangga, perempuan yang mempunyai sikap tidak setuju terhadap tindak kekerasan mampu melawan dan melaporkan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh suami. Sikap pada istri terhadap kekerasan dipengaruhi oleh faktor individu, keluarga dan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap istri terhadap tindak kekerasan suami dalam rumah tangga di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 dengan desain studi cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 19.418 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 19.418 wanita usia 15-49 tahun di Indonesia terdapat 71,1% istri mempunyai sikap tidak setuju terhadap tindak kekerasan suami. Wanita yang mempunyai sikap tidak setuju dipengaruhi oleh faktor usia, pendidikan, daerah tempat tinggal, status ekonomi dan jumlah anak. Usia memiliki pengaruh yang besar dengan nilai OR 1,5 ibu dengan usia ≥35 memiliki sikap tidak setuju terhadap tindak kekerasan suami dari pada ibu yang memiliki usia 15-24 tahun. Masalah kekerasan dapat diselesaikan dengan upaya kampanye isu KDRT kepada masyarakat dilakukan secara intensif dengan pola pendekatan individu, keluarga, kelompok masyarakat dan sesuai budaya masyarakat setempat
The highest incidence of violence is domestic violence, women who have an attitude of disapproval of violence are able to fight and report acts of violence committed by their husbands. Attitudes towards wives towards violence are influenced by individual, family and community factors. This study aims to determine the factors related to the attitudes of wives towards violence against husbands in household in Indonesia. This study used secondary data from the 2017 Indonesian Health Demographic Survey (IDHS) with a cross sectional study design. The number of samples was 19,418 people. The results of this study indicate that out of 19,418 women aged 15-49 years in Indonesia, 71.1% of wives have a disagreement with husband's violence. Women who have a disagreement attitude are influenced by factors of age, education, area of residence, economic status and number of children. Education has a great influence with an OR value of 1.5 mothers with higher education have more disagreement with husband's violence than mothers who have low education. The problem of violence can be resolved by campaigning the issue of domestic violence to the community which is carried out intensively with a pattern of approaching individuals, families, community groups and according to the culture of the local community
Read More
T-6029
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive