Ditemukan 34360 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Dwi Pradina Budiarti; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Zakiah
Abstrak:
Transformasi sistem kesehatan sangat penting untuk meningkatkan pemberian layanan kesehatan. Studi ini menyelidiki layanan laboratorium di Puskesmas Depok Jaya, dengan fokus pada keadaan sumber daya, fasilitas, dan kebijakan serta tantangan yang dihadapi dalam operasi laboratorium, terutama dalam konteks keterbatasan fasilitas. Pendekatan metode campuran digunakan, menggabungkan observasi dan wawancara dengan staf laboratorium untuk menilai alur kerja dan proses pemberian layanan. Data arus pasien dan pemanfaatan layanan juga dikumpulkan untuk mengevaluasi efisiensi operasional layanan laboratorium. Temuan menunjukkan bahwa integrasi area laboratorium infeksius dan non-infeksius yang tidak terpisah menghadirkan risiko yang signifikan, menyoroti perlunya protokol yang ketat dan tindakan pemisahan. Rekomendasi termasuk menetapkan alur kerja yang jelas, meningkatkan penggunaan alat pelindung diri (APD), dan memberikan pelatihan rutin bagi staf tentang protokol keselamatan untuk meminimalkan risiko kontaminasi. Studi ini mengungkapkan alur pasien yang terstruktur di dalam laboratorium, dengan langkah khusus untuk pengumpulan sampel dan verifikasi identitas untuk mencegah kesalahan. Tantangan operasional terkait dengan infrastruktur yang tidak memadai dan perlunya pelatihan staf berkelanjutan. Peningkatan pelayanan laboratorium di Puskesmas Depok Jaya membutuhkan pendekatan yang komprehensif, termasuk perbaikan infrastruktur, pelatihan staf, dan kepatuhan terhadap protokol keselamatan. Mengatasi bidang yang dapat secara signifikan meningkatkan pemberian layanan dan berkontribusi pada hasil kesehatan yang lebih baik di masyarakat
Health system transformation is critical to improving health service delivery. This study investigates laboratory services at the Depok Jaya Community Health Center, focusing on the state of resources, facilities, and policies and the challenges faced in laboratory operations, especially in the context oflimited facilities. A mixed methods approach combined observations and interviews with laboratory staff to assess workflow and service delivery processes. Patient flow and service utilization data are also collected to evaluate the operational efficiency of laboratory services. Findings suggest that the integration of non-separate infectious and non-infectious laboratory areas presents significant risks, highlighting the need for strict protocols and separation measures. Recommendations include establishing clear workflows, increasing the use of personal protective equipment (PPE), and providing regular training for staff on safety protocols to minimize the risk of contamination. The study revealed a structured patient flow within the laboratory, with specific steps for sample collection and identity verification to prevent errors. Operational challenges relate to inadequate infrastructure and the need for ongoing staff training. Improving laboratory services at the Depok Jaya Community Health Center requires a comprehensive approach, including infrastructure improvements, staff training, and compliance with safety protocols. Address areas that can significantly improve service delivery and contribute to better health outcomes in the community.
Read More
Health system transformation is critical to improving health service delivery. This study investigates laboratory services at the Depok Jaya Community Health Center, focusing on the state of resources, facilities, and policies and the challenges faced in laboratory operations, especially in the context oflimited facilities. A mixed methods approach combined observations and interviews with laboratory staff to assess workflow and service delivery processes. Patient flow and service utilization data are also collected to evaluate the operational efficiency of laboratory services. Findings suggest that the integration of non-separate infectious and non-infectious laboratory areas presents significant risks, highlighting the need for strict protocols and separation measures. Recommendations include establishing clear workflows, increasing the use of personal protective equipment (PPE), and providing regular training for staff on safety protocols to minimize the risk of contamination. The study revealed a structured patient flow within the laboratory, with specific steps for sample collection and identity verification to prevent errors. Operational challenges relate to inadequate infrastructure and the need for ongoing staff training. Improving laboratory services at the Depok Jaya Community Health Center requires a comprehensive approach, including infrastructure improvements, staff training, and compliance with safety protocols. Address areas that can significantly improve service delivery and contribute to better health outcomes in the community.
S-11827
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Zahra Alyani Fauhan; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Septiara Putri, Marisa Aristiawati
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan desain cetak biru layanan terkait dengan gambaran alur pelayanan rawat jalan poli umum dan kendala yang terjadi dalam prosesnya serta hasil survey kepuasan pasien yang didapatkan. desain penelitian ini menggunakan metode observasi pasien dengan pendekatan kualitatif. telaah dokumen dan wawancara mendalam dengan para informan.
Read More
S-10743
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Arief Rachman; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Purnawan Jumadi, Budi Wibowo
Abstrak:
Read More
Laboratorium merupakan salah satu bagian penting dalam dunia kesehatan. Dalam kegiatan di laboratorium tentunya tidak lepas dari banyaknya risiko mulai dari pra-anaitik hingga pasca-analitik. Selama beberapa dekade terakhir,fase praanalitik telah menjadi perhatian utama dalam mengidentifikasi penyebab utama tingginya tingkat kesalahan dalam diagnosis. Sebagian besar kesalahan disebabkan oleh faktor-faktor praanalitik yaitu sebesar 46–68,2%. Salah satu tujuan utama dari program patient safety adalah mencegah kejadian yang tidak diinginkan terulang kembali. Dengan menjalankan program patient safety yang efektif, rumah sakit dan fasilitas kesehatan dapat memastikan bahwa pasien mereka menerima perawatan yang aman, berkualitas, dan sesuai dengan standar. Untuk itu diperlukan manajemen risiko agar dapat menurunkan kesalahan yang terjadi di laboratorium. Salah satu tools yang dapat digunakan untuk manajemen risiko tersebut adalah HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect and Analysis). Penelitian ini membahas proses pembuatan desain Healthcare Failure Mode Effect and Analysis (HFMEA) pada proses pelayanan UKP di Labkesda DKI Jakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah diperoleh desain HFMEA sebagai upaya perbaikan atau pencegahan dalam manajemen risiko proses pelayanan laboratorium di Labkesda DKI Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan operational research. Adapun Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu wawnacara mendalam, observasi, telaah dokumen, dan telaah data sekunder. Hasil penelitian ini adalah ditemukannya beberapa risiko yang mungkin terjadi di laboratorium berdasarkan faktor lab, faktor pasien, dan faktor alat. Desain HFMEA dibuat berdasarkan hasil penelitian yang kemudian dilakukan skoring untuk masing-masing risiko dengan pihak terkait untuk mengetahui probabiltas dan keparahannya. Kemudian didapatkan rekomendasi perbaikan atau perbaikan yang daat dilakukan oleh Labkesda DKI Jakarta.
Laboratory is one of the important parts in the world of health. In laboratory activities, of course, it cannot be separated from the many risks starting from pre-analytics to post-analytics. Over the past few decades, the preanalytic phase has become a major concern in identifying the main cause of the high rate of errors in diagnosis. Most errors are caused by preanalytic factors, which amount to 46-68.2%. One of the main goals of a patient safety program is to prevent unwanted events from recurring. By implementing an effective patient safety program, hospitals and healthcare facilities can ensure that their patients receive safe, quality, and standardized care. For this reason, risk management is needed in order to reduce errors that occur in the laboratory. One of the tools that can be used for risk management is HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect and Analysis). This study discusses the process of making a Healthcare Failure Mode Effect and Analysis (HFMEA) design in the UKP service process at the DKI Jakarta Labkesda. The purpose of this study is to obtain an HFMEA design as an effort to improve or prevent the risk management of the laboratory service process at the DKI Jakarta Labkesda. This research is a qualitative study using an operational research approach. The methods used in this research are in-depth interviews, observation, document review, and secondary data review. The results of this study were the discovery of several risks that might occur in the laboratory based on lab factors, patient factors, and equipment factors. HFMEA design is made based on the results of the study which is then scored for each risk with related parties to determine the probability and severity. Then obtained recommendations for improvements or improvements that can be made by the Labkesda DKI Jakarta.
S-11690
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Grace Melissa; Pemimbing: Septiara Putri; Penguji: Jaslis Ilyas, Nurwidyawati Purnaningrum
Abstrak:
Read More
Pembangunan kesehatan nasional Indonesia, melalui Program Indonesia Sehat, bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan tiga pilar utama: paradigma sehat, penguatan pelayanan kesehatan, dan jaminan kesehatan nasional. Namun, produktivitas sumber daya manusia (SDM) di sektor kesehatan, khususnya perawat, masih menghadapi berbagai tantangan yang perlu diatasi untuk mencapai tujuan program kesehatan serta target Indonesia Sehat 2025. Penelitian ini menyoroti pentingnya peningkatan kualitas dan kompetensi SDM di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) Depok yaitu perawat karena perawat memiliki peran sentral dalam pelayanan kesehatan dengan jumlah SDM terbanyak di RSUI. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan produktivitas kerja dan kualitas pelayanan pada perawat di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) Depok Tahun 2024. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional yang mengambil subjek populasi perawat di lokasi penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa produktivitas kerja dan kualitas pelayanan perawat di RSUI sudah baik dan faktor-faktor yang berhubungan signifikan dengan produktivitas kerja dan kualitas pelayanan adalah motivasi kerja, manajemen, dan kesempatan berprestasi dengan nilai p < 0,05. Namun, untuk faktor lingkungan kerja, disiplin kerja, dan gaji tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan produktivitas kerja dan kualitas pelayanan keperawatan karena nilai p > 0,05.
Indonesia's national health development, through the Healthy Indonesia Program, aims to improve the welfare of the community with three main pillars: a healthy paradigm, strengthening health services, and national health insurance. However, the productivity of human resources (HR) in the health sector, particularly nurses, still faces various challenges that need to be addressed to achieve the program's goals and the targets of Healthy Indonesia 2025. This research highlights the importance of improving the quality and competence of HR at Universitas Indonesia Hospital (RSUI) Depok, specifically nurses, as they play a central role in health services and represent the largest HR group at RSUI. The purpose of this study is to identify and analyze the factors related to work productivity and service quality among nurses at Universitas Indonesia Hospital (RSUI) Depok in 2024. This research uses a quantitative approach with a cross-sectional study design, taking the population of nurses at the research site as subjects. The results show that nurse work productivity at RSUI is good, and the factors significantly related to work productivity and service quality are work motivation, management, and opportunities for achievement, with p-values < 0.05. However, the factors of work environment, work discipline, and salary do not have a significant relationship with work productivity and nursing service quality, as their p-values are > 0.05.
S-11628
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Quenela Mutiara Cantika; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Adang Bachtiar, Eti Rohati
Abstrak:
Read More
Mutu pelayanan kesehatan sangat berdampak terhadap seluruh upaya pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh fasilitas pelayanan kesehatan. Indikator Nasional Mutu (INM) merupakan standar yang digunakan untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan implementasi mutu pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk Puskesmas. Berdasarkan laporan INM Puskesmas oleh Dinas Kesehatan Kota Depok tahun 2022 diketahui bahwa ratarata capaian INM Puskesmas masih fluktuatif dan belum konsistem melaporkan setiap bulannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis capaian Indikator Nasional Mutu (INM) di Puskesmas Kemiri Muka dan Puskesmas Ratu Jaya tahun 2022. Jenis penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa capaian INM di Puskesmas Kemiri Muka dan Puskesmas Ratu Jaya pada tahun 2022 belum sepenuhnya sesuai dan menggambarkan kondisi sebenarnya yang ditinjau dari pendekatan sistem input, proses, dan output. Saran yang dapat diberikan yaitu mengajukan usulan pengadaan sarana dan prasarana, melakukan monitoring dan evaluasi perencanaan kebutuhan SDM Kesehatan, menetapkan sanksi dan reward untuk hasil capaian INM, serta proaktif mempelajari pelaksanaan pengukuran dan pelaporan INM.
The quality of health service greatly impacts all health service efforts carried out by healthcare facilities. The National Quality Indicator (INM) is a standard used to evaluate the achievement of quality implementation in healthcare facilities, including public health centers (Puskesmas). Based on the INM Puskesmas report by the Depok City Health Office in 2022, it is known that the average achievement of INM Puskesmas is still fluctuating and has not been consistently reported every month. This study aims to analyze the achievement of the National Quality Indicators (INM) at Kemiri Muka and Ratu Jaya Public Health Centers in 2022. The research method used a qualitative approach. Methods of data collection included in-depth interviews, observations, and document review. The results indicate that the achievements of the INM at Kemiri Muka and Ratu Jaya Public Health Centers in 2022 were not fully appropriate and described accurately the actual conditions in terms of the input, process, and output system approach. Recommendations include proposing the procurement of facilities and infrastructure, monitoring and evaluating the planning of healthcare human resource needs, implementing sanctions and rewards for achieving the INM targets, and proactively learn the implementation of INM measurement and reporting processes.
S-11332
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Zahra Putri Zharfani Miftah; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Sri Wulandah Fitriani
Abstrak:
Read More
Berdasarkan data Global Burden of Disease (GBD) tahun 1990 sampai 2017, diketahui terjadi peningkatan insiden keselamatan pasien sebesar 42% khususnya pada efek samping pengobatan. Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) menyatakan persentase KNC dan KTC di Indonesia pada tahun 2015-2019 meningkat, masing-masing meningkat sebanyak 5%. Berdasarkan PMK 72 tahun 2016 penyelenggaraan pelayanan kefarmasian harus mengutamakan keselamatan pasien. Kejadian medication error merupakan salah satu insiden keselamatan pasien yang dapat berdampak pada kondisi pasien, kondisi tenaga kesehatan yang terlibat, dan ekonomi pada fasilitas kesehatan. Untuk menghindari kejadian medication error maka pelayanan kefarmasian perlu melakukan manajemen risiko. Tujuan dari penelitian ini yaitu memperoleh pencegahan medication error menggunakan desain Healthcare Failure Mode and Effect Analysis (HFMEA) pada Unit Farmasi Rumah Sakit X tahun 2024. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian operational research. Hasil dari penelitian ini yaitu mengetahui faktor organisasi dan faktor tenaga kesehatan yang dapat menyebabkan medication error. Desain HFMEA dari penelitian ini menyimpulkan terdapat 7 penyebab kegagalan pelayanan kefarmasian dan 9 rencana aksi yang dapat diimplementasikan pada Unit Farmasi RS X untuk mencegah insiden medication error.
Based on Global Burden of Disease (GBD) data from 1990 to 2017, patient safety incidents increased 42%, especially in treatment side effects. Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) states that the percentage of KNC and KTC in Indonesia in 2015-2019 increased 5%. Minister of Health regulations of 2016 Standards pharmaceutical services must prioritize patient safety. Medication errors are one of the patient safety incidents that can have an impact on the patient's condition, the condition of the health workers involved, and the economy of the health facility. To prevent medication errors, pharmacy services need to manage the risk. The objective of this research is to conclude prevention of medication errors using the Healthcare Failure Mode and Effect Analysis (HFMEA) design at the Pharmacy Unit of Hospital X in 2024. This study employs a qualitative approach within the operational research framework. The findings reveal organizational dan healthcare staff factors that contribute to medication errors. The HFMEA design from this study concludes with identifying 7 failure causes in pharmacy services dan recommend 9 action plans that can be implemented in the Pharmacy Unit of Hospital X to prevent medication error incidents.
S-11646
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sarah At Tauhidah; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Anhari Achadi, Vetty Yulianty Permanasari, Dakhlan Choeron, Dewi Damayanti
Abstrak:
Permasalahan gizi di Indonesia masih merupakan pekerjaan rumah yang besar, dimana menurut Riskesdas tahun 2018 menunjukkan 17,7% balita di Indonesia masih bermasalah dengan status gizinya. Pada tahun 2020, pandemi Covid-19 yang terjadi berdampak secara langsung terhadap pelayanan kesehatan, salah satunya pelayanan gizi. Dengan berbagai regulasi maupun kebijakan yang bergulir di masa pandemi, salah satunya pembatasan pelayanan, evaluasi pada pelaksanaannya harus ada dan sigap untuk disikapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pelayanan gizi pada bayi dan balita di masa pandemi Covid-19 di wilayah kerja UPTD Puskesmas Cinere. Desain penelitian yang digunakan ialah penelitian kualitatif dengan metode wawancara mendalam dan telaah dokumen. Kerangka konsep mengacu pada model proses implementasi kebijakan Van Matter dan Van Horn dengan pendekatan critical thinking analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja implementasi pelayanan gizi pada bayi dan balita belum terlaksana dengan optimal. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan masalah gizi yang cukup signifikan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Cinere selama masa pandemi. Selain itu mayoritas programnya pun belum memenuhi capaian target tahunan. Hasil analisa kausalitas di masing-masing variabel ditemukan jika ketakutan dan kekhawatiran ibu, kurangnya sumber daya, baik tenaga kesehatan dan sarana prasarana, serta kurangnya pemahaman para pelaksana merupakan faktor paling menonjol yang mempengaruhinya. Namun dengan segala keterbatasan yang ada, Kader Posyandu Pangkalan Jati Baru dinilai sebagai pelaku positive deviance dan Posyandu Keliling sebagai creative action yang selanjutnya memungkinkan untuk diaplikasikan di daerah lain. Penelitian ini menghasilkan 3 rekomendasi utama. Untuk jangka pendek, rekomendasi rekruitmen tenaga kesehatan. Untuk jangka menengah, rekomendasi pemanfaatan teknologi informasi. Untuk jangan Panjang, rekomendasi pembangunan penambahan Puskesmas baru (Unit Pelaksana Fungsional)
Read More
T-6065
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Cinta Callissta Anggraeni; Pembimbing: Septiara Putri; Penguji: Adang Bachtiar, Rikza Anaupal Dahri
Abstrak:
Read More
Membangun kesadaran terhadap budaya merupakan langkah pertama menuju keselamatan pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran budaya keselamatan pasien di Puskesmas Duren Sawit. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dan kuesioner hasil adaptasi dari HSOPSC 2.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi pembelajaran organisasi dan perbaikan berkelanjutan memperoleh persentase tertinggi (88,3%) dan dimensi pelaporan kejadian keselamatan pasien memperoleh persentase terendah (57,7%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah budaya keselamatan pasien di Puskesmas Duren Sawit tergolong cukup baik (73,9%) sehingga Puskesmas perlu meningkatkan pelatihan, sosialisasi, dan sumber daya, memberikan reward bagi tenaga kesehatan yang melapor, serta melaksanakan monitoring dan evaluasi.
Construct awareness of culture is the first phase towards patient safety. The purpose of this study to obtain the patient safety culture overview at the Duren Sawit Public Health Center. This study is quantitative research with a cross-sectional approach using questionnaires adapted from HSOPSC 2.0. The results showed organizational learning and continuous improvement had the highest percentage (88,3%) and reporting patient safety events had the lowest percentage (57,7%). The conclusion of this study patient safety culture relatively good (73,9%). Therefore, needs to increase coaching, socialization, and resources, give rewards for healthcare workers who has reported, and implement monitoring and evaluation.
S-11645
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Trisla Isliani; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Jaslis Ilyas, Zulaiha
S-9794
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Prasetyaning Jati; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Atna Permana
Abstrak:
Read More
Ahli Teknologi Labotatorium Medik (ATLM) merupakan tenaga kesehatan yang berperan penting dalam menunjang pemeriksaan medis. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 43 tahun 2019 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), standar minimal tenaga ATLM Puskesmas adalah 1 (satu) baik di Puskesmas Perkotaan, Pedesaan, Terpencil, maupun Sangat Terpencil. Ketersediaan ATLM Puskesmas yang belum memenuhi standar ketenagaan minimal masih menjadi masalah besar di dunia kesehatan. Maka, penelitian ini akan menganalisis ketersediaan tenaga ATLM Puskesmas dengan standar ketenagaan minimal yang ditinjau pada tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota. Penelitian ini dilakukan dengan desain penelitian cross-sectional study dengan metode kuantitatif. Data yang digunakan adalah data sekunder dari Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Kesehatan (SISDMK) pada tahun 2021. Analisis dilakukan dengan menghitung gap antara data existing dengan kebutuhan minimal tenaga ATLM Puskesmas pada tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota pada tahun 2021. Analisis ketersediaan tenaga ATLM Puskesmas tersebut dihubungkan dengan Kapasitas Fiskal Daerah (KFD) untuk mengidentifikasi kemampuan daerah provinsi dan kabupaten/kota dalam mengelola urusan kesehatan termasuk pemenuhan tenaga ATLM Puskesmas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara nasional, tidak terjadi kekurangan tenaga ATLM Puskesmas. Namun, apabila ditinjau pada tingkat provinsi, 10 provinsi (29,41%) di Indonesia masih mengalami kekurangan tenaga ATLM Puskesmas. Sementara itu, pada tingkat kabupaten/kota, 173 kabupaten/kota (33,66%) masih mengalami kekurangan tenaga ATLM Puskesmas dan 6 kabupaten/kota (1,17%) tidak memiliki tenaga ATLM Puskesmas. KFD provinsi dan kabupaten/kota yang mengalami kekurangan dan/atau tidak memiliki tenaga ATLM Puskesmas bervariasi mulai dari kategori sangat rendah hingga sangat tinggi.
Medical Laboratory Technologists Experts (ATLM) are health workers who play an important role in supporting medical examinations. Minister of Health Regulation Number 43 of 2019 concerning Primary Health Centers (Puskesmas), the minimum standard for ATLM Puskesmas is 1 (one) both in Urban, Rural, Remote and Very Remote Primary Health Centers. Availability of ATLM Puskesmas that do not meet minimum standards is still a big problem in the world of health. Thus, this study will analyze the availability of ATLM Puskesmas with a minimum workforce standard reviewed at the national, provincial and district/city levels. This research was conducted using a cross-sectional study design with quantitative methods. The data used is secondary data from the Health Human Resources Information System (SISDMK) in 2021. The analysis is carried out by calculating the gap between the existing data and the minimum requirement for ATLM health workers at the national, provincial and district/city levels in 2021. Availability analysis The ATLM at the Puskesmas are connected with the Regional Fiscal Capacity (KFD) to identify the capacity of the provincial and district/city regions in managing health affairs including the fulfillment of ATLM Puskesmas personnel. The results of this study indicate that nationally, there is no shortage of ATLM Puskesmas personnel. However, when viewed at the provincial level, 10 provinces (29.41%) in Indonesia still experience a shortage of ATLM Puskesmas personnel. Meanwhile, at the district/city level, 173 districts/cities (33.66%) still experienced a shortage of ATLM staff at the Puskesmas and 6 districts/cities (1.17%) did not have ATLM staff at the Puskesmas. KFD of Province and district/city that experience a shortage and/or do not have ATLM Puskesmas personnel vary from very low to very high categories.
S-11177
Depok : FKMUI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
