Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35014 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Winda Sofvina; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Putri Bungsu, Anna Rozaliyani, Elyn Dohar Idarin Aritonang
Abstrak:

Latar belakang: Kasus aspergilosis paru kronik di Indonesia diperkirakan semakin meningkat seiring dengan peningkatan kasus TB paru. Keterlambatan mendapatkan pengobatan akan memengaruhi kualitas hidup pasien Aspergilosis Paru Kronik (APK). Data mengenai APK pada pasien dengan riwayat TB masih terbatas di Indonesia, penelitian mengenai APK yang pernah dilakukan hanya terbatas pada populasi yang berasal dari rumah sakit di Jakarta. Diperlukan studi mengenai kualitas hidup dan APK dengan mempertimbangkan faktor penyakit lain, terutama penyakit kronis yang dapat memperburuk kualitas hidup pasien, khususnya penyakit dengan prevalens tinggi di Indonesia, yaitu diabetes melitus dan hipertensi. Penyakit pernapasan lain yang juga harus dipertimbangkan adalah penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
Matode: Penelitian ini berdisain potong lintang, yang merupakan bagian dari penelitian sebelumnya mengenai Aspergilosis Paru Kronik pada pasien dengan Riwayat TB paru di beberapa area di Indonesia. Data penelitian berasal dari rekrutmen penelitian sebelumnya periode Juni 2023-Maret 2024. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara APK dan kualitas hidup pasien riwayat TB paru.
Hasil: Subjek terbanyak berada pada kelompok usia 50-59 tahun, dan subjek paling sedikit berada pada kelompok usia <=29 tahun. Proporsi kejadian APK pada subjek dengan riwayat TB paru pada studi ini sebesar 67,83%. Proporsi subjek dengan riwayat TB paru yang memiliki kualitas hidup buruk sebesar 53,04%
Kesimpulan: Pasien riwayat TB paru yang mengalami APK memiliki risiko 1,45 kali kualitas hidup buruk dibandingkan pasien yang bukan APK. Tidak ada faktor kovariat yang memengaruhi hubungan antara APK dan kualitas hidup pada studi ini.
Kata kunci: Aspergilosis, kualitas hidup, APK


Background: Cases of chronic pulmonary aspergillosis in Indonesia are expected to increase along with the increase in cases of pulmonary TB. Delays in getting treatment will affect the quality of life of chronic pulmonary aspergillosis (CPA) patients. Data on CPA in patients with a history of TB is still limited in Indonesia; research on CPA that has been conducted is limited to the population from hospitals in Jakarta. A study is needed on the quality of life and CPA by considering other disease factors, especially chronic diseases that can worsen the quality of life of patients, especially diseases with a high prevalence in Indonesia, namely diabetes mellitus and hypertension. Another respiratory disease that must also be considered is chronic obstructive pulmonary disease (COPD). Method: This study is a cross-sectional design, which is part of a previous study on chronic pulmonary aspergillosis in patients with a history of pulmonary TB in several areas in Indonesia. The research data comes from the recruitment of previous studies from June 2023 to March 2024. This study aims to determine the relationship between APK and the quality of life of patients with a history of pulmonary TB. Results: The largest number of subjects were in the 50-59 year age group, and the fewest subjects were in the <=29 year age group. The proportion of APK incidence in subjects with a history of pulmonary TB in this study was 67.83%. The proportion of subjects with a history of pulmonary TB who had poor quality of life was 53.04%. Conclusion: Patients with a history of pulmonary TB who experienced APK had a 1.45 times risk of poor quality of life compared to patients who were not APK. There were no covariate factors that influenced the relationship between APK and quality of life in this study. 

Read More
T-7200
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fran Desmon; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Nasrin Kodim, Sulistyo, Fredy M. Komalig
Abstrak:

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakil infeksi bersifat kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Tabun 2003 Word Health Organisation (WHO) mencanangkan kedaduratan global penyakit tuberkulosis karena pada sebagian besar negara di dunia penyakil ini tidak terkendali. Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus TB paru terbanyak dengan menyumbang kasus sebesar 10% dari seluruh kasus TB paru di dunia, setelah India dan China, Menurut 1-I.L Blum, faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan seseorang adalah 1ingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan. Beberapa penelitian di beberapa negara lain menunjukkan bahwa perilaku mcrokok, polusi udara di dalam rumah yang berasal dari penggunaan bahan bakar kayo dan kondisi runlah mempunyai hbungan yang bermakna dengan kejadian TB para. Studi ini merupakan penelitian analitik dengan ra ncangan desain kasus kontrol menggunakan data sekunder basil Survci Sosial Ekonom Nasional (SUSENAS) tahun 2004. Kasus adalah responden yang telah beruimir 15 tahun ke alas telah diciiagnosa secara klinis dan laboratorium dengan basil BTA positif sebanyak 156 orang. Studi ini menggunakan dug jenis kelompok kontrol yakni : kontrol kelompok pertama adalah responden yang telah benrmur 15 tahun ke alas yang babas dari gejala utama TB paru sebanyak 624 orang dan kontrol kelompok kedua adalah responden yang telab berumur 15 tahun ke alas yang basil pemeriksaan menunjukkan basil BTA negatif sebanyak 156 orang. Analisis data yang dilakukan meliputi deskriptif, chi square, regresi logistik multivariat dan ukuran dampak. Model akhir basil analisis regresi logistik multivariat pada kelompok kasus kontrol pertama mendapatkan perilaku merokok mempunyai peluang 1,91 kali (95% CI 1,18 ; 3,09) untuk menderita penyakit tuberkulosis paru dibandingkan dengan yang tidak merokok setelah dikontrol oleh jenis kelamin dan mar, Responder yang menggunakan bahan bakar kayu dirumahnya mempunyai peluang 2,02 kali (95% CI 1,38 ; 2,97) untuk menderita penyakit tuberkulosis paiir dibandingkan dengan yang tidak menggunakan bahan bakar kayu setelah dikontrol oleh umwu- dan kondisi rurnali. Responden yang tinggal pada kondisi rumahnya tidak sehat mempunyai peluang 1,93 kali (95% CI 1.32 ; 2,84) untuk menderita penyakit tuberkulosis paru clibandingkan dengan yang tinggal di kondisi rumah yang sehat setelah dikontrol oleh variahel amnia Pada kelompok kasus kontrol yang kedua responden yang merokok mempunyai peluang 1,77 kali (95% CI 1,11 ; 2,82) untuk menderita penyakit tuberkulosis paru dibandingkan dengan yang tidak merokok setelah dikontrol oleh umur. Responden yang menggunakan bahan bakar kayu dirumahnya mempunyai peluang 3,96 kali (95% CI 2,36 ; 6,32) untuk menderita penyakit tuberkulosis paru dibandingkan dengan yang tidak setelah dikontrol oleh perilaku merokok. Responden yang tinggal pada kondisi rumah yang tidak sehat mempunyai peluang 1,79 kali (95% CI 1,12 ; 2,86) untuk menderita penyakit tuberkulosis pare dibandingkan dengan yang tinggal diiumah dengan kondisi yang sehat setelah dikontrol oleh pendapatan. Disarankan untuk melakukan komunikasi, informasi dan edukasi tentang bahaya merokok bagi kesehatan terutarna terhadap penyakit tuberkulosis paru kepada generasi muda, sosialisasi rnengenai pentingnya saluran pembuangan asap dari dapur atau membangun dapur yang terpisah dari rumah bagi yang menggunakan bahan bakar kayu untuk keperluan memasak untuk keschatan dan pcningkatan kondisi pcrumahan melalui sosialisasi rumah sehat.


 

Tuberculosis is a cronic infection diseases which because of mycobacterium tuberculosis. In 2003 Word Health Organisation ( W1-lO) cymbal the global emergency of lung tuberculosis because in most countries in the world lung tuberculosis don't in control. Indonesia representing country with the most amount cases of lung tuberculosis by contributing 10% cases from all cases of lung tuberculosis in the world, after India and China. According to I-I.L Blum, factors playing a part and influencing degree of health of someone is environment, behavioral, health service and hercditcry. Some former research in some other countries indicate that smoking, indoor pollution from usage solid fuel and house condition have relation with lung tuberculosis. This study is an analytical research with case control study and using raw data National Survey of Social Economics (SUSI:NAS) 2004. Case is responder which [5 year or more with positive result in clinical and laboratory diagnosed. Amount of case is 156 responders. Two groups of control is, first, responder which have 15 year or more and don't have especial symptom of lung tuberculosis, amount of control is 624 responders and second is responder which have 15 year or more and pursuant to result of inspection show result of negative BTA amount of control is 156 responders. Data analysis which is descriptiv, chi square test, logistics regretion of multivariate and impact fraction. Final model result of analysis of regresi logistics of multivariat at first control case group get behavior smoke to have opportunity 1,9] times (95% Cl 1,18 ; 3,09) to suffer from lung tuberculosis compared to which don't smoke after controlled by gender and age. Using its house wood fuel have opportunity 2,02 times ( 95% CI 1,38 ; 2,97) to suffer from lung tuberculosis compared to which don't use wood fuel after controlled by age and condition of house and who live in house which condition of its under the way house have opportunity 1,93 times ( 95% CI 1,32 ; 2,84) to suffer from lung tuberculosis compared to who live in house of is condition of healthy house after controlled by age. At second control case group is one who smoke to have opportunity 1,77 times ( 95% CI 1,11 ; 2,82) to suffer from lung tuberculosis compared to which don't smoke after controlled by age, who use its house wood fuel have opportunity 3,96 times ( 95% CI 2,36 ; 6,32) to suffer from lung tuberculosis compared to which don't use wood fuel after controlled by variable smoke and one who live in indisposed house have opportunity 1,79 times ( 95% CI 1,12 ; 2,86) to suffer from lung tuberculosis compared to which remain at home with condition of healthy after controlled by earnings. Is suggested to do communications, information and education about danger smoke to disease of lung tuberculosis to the rising generation, socialization about important hitting of channel him dismissal of smoke of kitchen or build separated from kitchen is house to using wood fuel for cooking for healthy and make-up of condition of housing through healthy house socialization.

Read More
T-2462
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Umi Kalsum Supardi; Pembimbing: Mondastri Korip Sudaryo; Penguji: Tri Yunis Miko, Suhardini. Diah Wati Soetojo
Abstrak: Kolaborasi jangka panjang (Subdit TB dengan Dinas PUPNR) mengenai kebijakan dan pemberian (IMB) diperlukan untuk mengurangi pembangunan tanpa didahului studi kelayakan berwawasan lingkungan rumah sehat seperti penerapan (AMDAL), rancangan Plan Of Action/framework dan Kolaborasi layanan di tingkat kader TB yang selanjutnya ke tingkat FKTP semakin diperkuat, serta perlu dipertimbangkan kembali untuk melaksanakan program penemuan active case finding khususnya pada individu yang memiliki lingkungan rumah tidak sehat.
Read More
T-5576
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ika Dewi Subandiyah; Pembimbing: Sudaryo, Mondastri Korib; Wahyono, Tri Yunis Miko; Wahyono; Penguji: Indah Raksi Padmasari, Henti Helpita
Abstrak: Pengobatan TB- HIV memerlukan pengobatan sekaligus yakni OAT dan ARV untukmencegah progresivitas TB. Penelitian sebelumnya, kepatuhan terhadap kedua pengobatanmasih kurang. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepatuhan minum OAT danARV dengan progresivitas TB paru pada koinfeksi TB-HIV di Jakarta Selatan. Desain yangdigunakan adalah Kohort Retrospektif dengan menggunakan data yang berasal dari kartupengobatan TB dan ikhtisar perawatan HIV yang dimiliki pasien TB-HIV di puskesmas danRSUD di Jakarta Selatan tahun 2015-2017. Hasilnya adalah responden yang patuh minumkedua obat 56,8% , patuh ARV 13,5% ,patuh OAT 14,2 % dan tidak patuh keduanya 15,5 %.29,7% penderita koinfeksi TB HIV menunjukkan progresivitas sedangkan 70,3% tidak.Analisis cox regresi menunjukkan bahwa ada hubungan antara kepatuhan dengan progresivitasTB paru pada koinfeksi TB-HIV (p.0.000).Probabilitas survival pada responden yang tidakpatuh minum keduanya 17.4 %, patuh minum ARV saja 30,6%,patuh OAT saja 69,7% danpatuh keduanya 88,4%. Resiko untuk progresif pada responden yang tidak patuh minum keduaobat adalah 24 kali(HR 24.56;95 % CI 9.49-63.53). Resiko responden yang patuh minum ARVsaja 8,6 kali(HR 8,59; 95 % CI 3.15-23.42) dan resiko yang patuh minum OAT saja 3,3 kali(HR3.3; 95% CI 1.01-10.97).
Read More
T-5169
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
R Evi Sofia Riani; Pembimbing : Putri Bungsu, Wahyono, Tri Yunis Miko; Penguji : Ritanenny ; Tjahjandi, Andang
Abstrak: Penelitian ini menggunakan disain case control untuk melihat besar risiko anak yang tidak diimunisasi BCG untuk terkena TB Paru. Kasus dan kontrol adalah anak kota Sukabumi usia 0-5 tahun yang diperoleh dari laporan rutin program TB, imunisasi, KIA dan Gizi di dinas kesehatan kota Sukabumi. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa anak yang tidak diimunisasi BCG memiliki risiko 3,270 kali lebih besar untuk terkena TB paru dibandingkan anak yang diimunisasi BCG. Sedangkan hasil analisis multivariat yang memasukkan variabel kunjungan neonatal sebagai variabel interaksi dan variabel berat badan lahir sebagai confounding menunjukkan bahwa anak yang tidak diimunisasi BCG dan kunjungan neonatal < 3 kali memiliki tingkat Risiko sebesar 5,63 kali lebih tinggi untuk terkena TB paru dibandingkan anak yang diimunisasi BCG dan kunjungan neonatal =3 kali (kelompok referens). Adapun tingkat risiko anak yang tidak diimunisasi BCG dan kunjungan neonatal = 3 kali adalah sebesar 1,13 kali lebih besar untuk terkena TB paru dibandingkan kelompok referens dan anak yang diimunisasi BCG namun kunjungan neonatal<3 memiliki tingkat risiko 4,99 kali lebih besar dari kelompok referens. Dari hasil tersebut diketahui bahwa efikasi vaksin BCG tanpa interaksi adalah dengan 67% sedangkan efikasi vaksin BCG dengan interaksi adalah 82%. ini berarti, efikasi vaksin di Kota Sukabumi mengalami peningkatan dengan adanya interaksi variabel kunjungan neonatal dengan imunisasi BCG. Kata kunci: Imunisasi BCG, TB Paru anak, Tuberculosis This study used case control design to look at the risk of children not immunized with BCG for pulmonary tuberculosis. Case and control are children under 5 years old in Sukabumi City obtained from regular reports of TB program, immunization, KIA and Nutrition at health office in Sukabumi city. The result of bivariate analysis showed that children who were not immunized with BCG had a risk at 3.270 times higher to have pulmonary TB than children were immunized with BCG. While the results of multivariate analysis that included neonatal visit variables as interaction variables and born weight variables as confounding showed that children were not immunized with BCG and neonatal visits < 3 times had a Risk level at 5.63 times higher for pulmonary tuberculosis than immunized children BCG and neonatal visits = 3 times (reference group). The risk of children not immunized by BCG and neonatal visits = 3 times was 1.13 times higher for pulmonary tuberculosis than the referent group and children immunized with BCG but neonatal visits <3 had a risk level 4.99 times greater than the group Referens. From these results it is known that the efficacy of BCG vaccine without interaction is 67 % while the efficacy of BCG vaccine with interaction is 82 %. This means, the efficacy of vaccine BCG in Sukabumi City has increased with the interaction between neonatal visit variable and BCG immunization Key words: BCG Immunization, Pulmonary tuberculosis at Children, tuberculosis
Read More
T-4967
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ike Silviana; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono, Syahrizal Syarif; Penguji: Ririn A. Wulandari, Irawan Kosasih, Sulistyo
Abstrak:

Latar belakang: Penyakit TB Paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Lebih dari 90% kasus TB Paru ditemukan di negara berkembang. Di Indonesia penyakit TB Paru masih menjadi masalah utama kesehatan masyarakat. Di Kabupaten Muaro Jambi jumlah penderita TB Paru pada tahun 2003 adalah 61.84 per 100.000 meningkat menjadi 106.16 per 100.000 penduduk pada tahun 2004. Peranan faktor lingkungan fisik dalam rumah menentukan penyebaran penyakit TB Paru, sehingga dalam penanggulangan TB Paru yang komprehensif harus melibatkan faktor lingkungan fisik dalam rumah. Pada tahun 2004, cakupan rumah sehat di Kabupaten Muaro Jambi hanya 36.9%, hal ini di duga memperbesar timbulnya penularan TB Paru. Tujuan: Penelitian ini untuk melihat hubungan lingkungan fisik dalam rumah dengan kejadian TB Paru BTA (+) di Kabupaten Muaro Jambi tahun 2005. Metode: Desain studi kasus kontrol dengan 95 kasus yang diambil dari penderita TB Paru BTA (+) dari 18 Puskesmas di wilayah Kabupaten Muaro Jambi dan 95 kontrol yang diambil dari tetangga kasus dengan BTA (-). Hasil: Analisis multivariat lingkungan fisik dalam rumah yang berhubungan dengan kejadian TB Paru BTA (+) adalah: kelembaban rumah <40% atau >70% (OR:4,87;95%CI:1,58-15,04),ventilasi kamar <10% (OR:3,83 ; 95%C1:1,23-11,93), pencahayaan rumah


Background: Pulmonary TB, is an infective-contagious disease caused by Mycobacterium Tuberculosis. More than 90% of global pulmonary TB cases occur in the developing countries. TB remains an important public health problem in Indonesia. The occurrence of pulmonary TB in Muaro Jambi District in the year of 2003 is 61,84 per 100.000 population and increased to 106,16 per 100.000 population in 2004. Physical Environment condition of the house is one factor that playing important role in Pulmonary TB spreading, especially the coverage of healthy housing in Muaro Jambi District only 36,9% in 2004. Objectives: to investigate the relation between physical environment of the house with occurrence of pulmonary TB in Muaro Jambi District. Methods: This case-control study design used 95 cases and 95 controls. Those respondents had been taken from 18 Primary Health Centers in Muaro Jambi District. Results: Based on multivariate analysis housing conditions that influenced the risk of pulmonary TB are : the level of humidity of the house less than 40% or more than 70% (OR:4,87;95%Cl: 1,58-15,04), bedroom ventilation less than 10% (OR;3,83;95% CI:1,23-11,93), house with low level of light exposure / less than 60 luks (OR:2,47;95%CI:0,55-11,16), kitchen ventilation less than 10% (OR:2,21;95%CI:0,8-6,13), house ventilation less than 10% (OR:2,2;95%C1:0,63-7,81), and bedroom with low level of light exposure/less than 60 luks (OR:1,61;95% CI: 0,37-7). Suggestion: TB control program in Muaro Jambi District should coordinates with other departments to improve housing designs and give health promotion activities about healthy house.

Read More
T-2226
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salam; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Suhardini, Hanung Wikantono
Abstrak: Latar Belakang dan Tujuan: Tuberkulosis masih menjadi 10 besar penyebab kematian di seluruh dunia. Indonesia menjadi negara dengan jumlah kasus TB paru terbesar ketiga setelah India dan China. Prevalensi TB paru di Indonesia pada Tahun 2018 sebesar 193/100.000 penduduk dengan jumlah kasus mencapai 845.000 dan 24.000 diantaranya merupakan kasus kebal obat. Salah satu penyebab TB resisten obat adalah tidak teratur minum obat. Kepatuhan minum obat sangat mempengaruhi kesembuhan pasien TB paru. Salah satu penyebab terjadinya kasus putus obat adalah pengawas menelan obat. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2018 menunjukan bahwa 30,8% penderita TB paru tidak rutin/patuh minum obat sementara penderita TB paru yang tidak memiliki PMO mencapai 33,8%. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan PMO dengan kepatuhan minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT) pada penderita TB paru sensitif obat di Indonesia Tahun 2018. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan kasus kontrol, populasi sumber merupakan penderita TB paru hasil riskesdas 2018, populasi studi berjumlah 933 orang diambil dari populasi eligible yang memenuhi kriteria inklusi: berumur >15 tahun, didiagnosis TB <6 bulan dan mengetahui fasyankes, kriteria eksklusi:data tidak lengkap. Hasil: Analisis bivariat menunjukan hubungan yang bermakana antara PMO dengan ketidakpatuhan minum obat POR=1,79 (95% CI:1,31-2,35) p=0,000, analisis multivariat menunjukan POR=1,43 (95% CI:1,03-1,99) p=0,0183. Kesimpulan: Ada hubungan yang bermakna antara keberadaan PMO dengan kepatuhan minum obat pada penderit TB paru
Read More
T-5940
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reni; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Prnguji: Mondastri Korib Sudaryo, Yulismar, Dra Deksa Presiana
T-4662
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Miptah Farid Thariqulhaq; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Ratna Djuwita, Neni Sawitri, Meilina Farikha
Abstrak:
Penyakit TB MDR merupakan salah satu penyakit infeksi yang prevalensinya semakin meningkat dari tahun ke tahun di Indonesia dengan angka keberhasilan pengobatan 45%. Konversi kultur sputum merupakan suatu prediktor kuat dari awal keberhasilan terapi. Waktu konversi yang lambat akan memperpanjang periode penularan dan memprediksi tingkat kegagalan pengobatan yang tinggi. Terdapat beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan konversi kultur sputum pasien TB MDR. Penelitian terkait faktor risiko kadar albumin dengan waktu konversi kultur sputum masih sangat terbatas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kadar albumin dengan waktu konversi kultur sputum di poli MDR terpadu RS Paru Dr M Goenawan Partowidigdo tahun 2022. Penelitian ini menggunakan studi cohort retrospektif dengan sampel yang diambil dari catatan rekam medis dan SITB pasien poli MDR. Variabel yang diteliti adalah kadar albumin < 3,5 gram/dl dan ≥ 3,5 gram/dl dengan variabel covariat usia, jenis kelamin, pendidikan, index masa tubuh, status merokok, gradasi sputum bta, komorbid, regimen pengobatan, dan kepatuhan minum obat . Hasil penelitian berdasarkan analisis multivariat menunjukkan kadar albumin < 3,5 mg/dl memiliki kecepatan waktu konversi 41,8% lebih lambat dengan (HR=0,582, 95% CI 0.344-0.984) untuk mengalami konversi dibanding dengan pasien TB MDR dengan kadar albumin ≥ 3,5 mg/dl setelah memperhitungkan status merokok dan kepatuhan minum obat. Perlunya memperbaiki kadar albumin yang rendah pada pasien TB MDR di rumah sakit dan memberikan penyuluhan kepada keluarga pasien agar turut berpartisipasi memantau asupan makan pasien yaitu makanan yang mengandung tinggi protein seperti ikan gabus serta ekstra putih telur untuk membantu meningkatkan kadar albumin pasien yang dapat berguna untuk terjadinya konversi kultur sputum.

MDR TB disease is an infectious disease whose prevalence is increasing from year to year in Indonesia with a treatment success rate of 45%. Sputum culture conversion is a strong predictor of initial therapeutic success. Slow conversion time will prolong the period of transmission and predict a high rate of treatment failure. There are several risk factors associated with sputum culture conversion in MDR TB patients. Research related to risk factors for albumin levels and sputum culture conversion time is still very limited. The aim of this study was to determine the relationship between albumin levels and sputum culture conversion time at the integrated MDR polyclinic at Dr M Goenawan Partowidigdo Pulmonary Hospital in 2022. This study used a retrospective cohort study with samples taken from medical records and SITB patients at poly MDR. The variables studied were albumin levels < 3.5 mg/dl and ≥ 3.5 mg/dl with the covariate variables age, sex, education, body mass index, smoking status, sputum gradation, co-morbidities, medication regimens, and drinking adherence drug . The results of the study based on multivariate analysis showed that albumin levels < 3.5 mg/dl had a 41.8% slower conversion time (HR=0.582, 95% CI 0.344-0.984) to experience conversion compared to MDR TB patients with albumin levels ≥ 3.5 mg/dl after taking into account smoking status and medication adherence. It is necessary to improve low albumin levels in MDR TB patients at the hospital and provide counseling to the patient's family to participate in monitoring the patient's food intake, namely foods that contain high protein such as snakehead fish and extra egg whites to help increase the patient's albumin levels which can be useful for the occurrence of sputum culture conversion.
Read More
T-6801
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siska Primasari; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Cucu Cakrawati Kosim. Sulistyo
Abstrak: ABSTRAK TB merupakan masalah darurat global karena menyebabkan lebih banyak kematian dibandingkan penyakit menular lainnya. Berdasarkan WHO Global Tuberculosis 2016 menyatakan bahwa Indonesia dengan jumlah penduduk 254.831.222, menempati posisi kedua dengan beban TB tertinggi didunia.Timbulnya penyakit tuberculosis (TBC) di masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor resiko determinan, salah satunya kurangnya sinar matahari masuk kedalam rumah. Tujuan Penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara pencahayaan alami dalam rumah dengan kejadian TB paru BTA positif pada usia ≥15 tahun keatas di Kota Solok Sumatera Barat pada tahun 2017. Desain Penelitian ini adalah case control dengan melakukan wawancara, obeservasi dan pengukuran terhadap pencahayaan dan kelembaban. Penelitian ini dilakukan pada bulan April s/d Mei 2018. Hasil Peneilitian ini Pencahayaan yang dalam rumahyang < 60 lux beresiko terkena TB Parur 3,732 kali (95% CI 1,584-8,793) setelah di kontrol oleh variabel Kepadatan Hunian dan Status Gizi. . Kata kunci:Pencahayaan, TB Paru, ≥15 Tahun ABSTRACT Tuberculosis is a global emergency issue because it causes more deaths than other infectious diseases.According to WHO Global Tuberculosis 2016 states that Indonesia with a population of 254,831,222, occupies the second position with the highest burden of TB in the world. The incidence of tuberculosis (TB) in the community is influenced by several determinant risk factors, one of which is the lack of sunlight into the house. The purpose of this research is to know the relationship between natural light in the house with the incidence of positive smear pulmonary tuberculosis at age ≥15 years and above in Solok city of West Sumatera in 2017. Design This research is case control by conducting interview, obeservasi and measurement to lighting and humidity. This study was conducted from April to May 2018. The results of this study The in-house lightings <60 lux were at risk for TB Parur 3,732 times (95% CI 1,584-8,793) after being controlled by the Residential Density and Nutrition Status variables. . Keywords: Natural Lighting, Pulmonary TB, ≥15 Years
Read More
T-5146
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive