Ditemukan 36476 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Syafrijal Fajri; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Abdul Kadir, Ahmad Wildan, Jonter Sitohang
Abstrak:
Read More
Mengemudi bus merupakan salah satu jenis pekerjaan yang mempunyai risiko tinggi terhadap kecelakaan lalu lintas. Seorang pengemudi harus selalu mengharapkan sesuatu yang tidak diharapkan, sehingga akan selalu waspada dan sadar serta berhati-hati dalam bertingkah laku saat mengemudikan kendaraan. Safety driving merupakan dasar perilaku mengemudi yang lebih memperhatikan keselamatan khususnya bagi pengemudi itu sendiri dan orang disekitarnya. Safety driving didesain untuk meningkatkan kesadaran pengemudi terhadap segala kemungkinan yang tejadi selama mengemudi. Pentingnya safety driving pada saat berkendara merupakan salah satu pilar dalam mewujudkan keamaan dan keselamatan berlalu lintas dan sangat berpeluang untuk mengurangi kecelakaan yang terjadi. Desain penelitian pada penelitian ini adalah cross sectional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan perilaku berkendara selamat dengan pendekatan kuantitatif. Sampel pada penelitian ini berjumlah 308 pengemudi bus di PT XYZ. Adapun metode pengambilan data dilakukan dengan melakukan pengisian kuesioner kepada responden. Selanjutnya data yang didapatkan diolah secara deskriptif dan inferensial menggunakan software statistik untuk melihat gambaran dan hubungan dari setiap variabel. Variabel independen pada penelitian ini adalah usia, masa kerja, status kebugaran, komunikasi dengan atasan, komunikasi dengan rekan kerja, kondisi jalan, kondisi kendaraan, waktu kerja pengemudi, jarak tempuh, SOP, kebijakan, pengawasan, kompensasi, status kepegawaian, training improvement, dan pemberian reward & punishment. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status kebugaran (POR=6.203 (3.649 – 10.547)), komunikasi dengan atasan (POR=4.025 (2.500–6.478)), kondisi kendaraan (POR=2.602 (1.622-4.173)), waktu kerja pengemudi (POR=2.287 (1.447-3.614)), jarak tempuh (POR=1.904 (1.209-2.998)), SOP (POR=1.850 (1.175-2.913)), kebijakan (POR=1.860 (1.182-2.925)), pengawasan (POR=1.904 (1.209-2.998)), kompensasi (POR=2.570 (1.622-4.072)), training improvement (POR=8.069 (4.790-13.593)), dan pemberian reward & punishment (POR=2.199 (1.384-3.493)) dengan perilaku berkendara selamat. Sedangkan variabel usia, masa kerja, komunikasi dengan rekan kerja, kondisi jalan, dan status kepegawaian tidak menunjukan adanya hubungan dengan perilaku berkendara selamat. Status kebugaran menjadi faktor dominan yang mempengaruhi perilaku berkendara selamat pada pengemudi bus di PT. XYZ.
Driving a bus is one of the types of jobs that carries a high risk of traffic accidents. A driver must always expect the unexpected, so they remain vigilant, aware, and cautious in their behavior while driving. Safety driving is a driving behavior foundation that focuses on safety, especially for the driver themselves and those around them. Safety driving is designed to raise driver awareness of all potential events that may occur during driving. The importance of safety driving while driving is one of the pillars in achieving road safety and can significantly reduce the occurrence of accidents. The design of this research is cross-sectional. The aim of this study is to analyze factors associated with safe driving behavior using a quantitative approach. The sample in this study consisted of 308 bus drivers at PT XYZ. Data collection was done by administering questionnaires to the respondents. The data obtained were processed descriptively and inferentially using statistical software to examine the relationships and patterns of each variable. The independent variables in this study include age, years of service, health status, communication with superiors, communication with coworkers, road conditions, vehicle conditions, driving duration, travel distance, SOP, policies, supervision, compensation, employment status, training improvement, and reward & punishment. The results showed a significant relationship between health status (POR = 6.203 (3.649 – 10.547)), communication with superiors (POR = 4.025 (2.500 – 6.478)), vehicle conditions (POR = 2.602 (1.622 – 4.173)), driving duration (POR = 2.287 (1.447 – 3.614)), travel distance (POR = 1.904 (1.209 – 2.998)), SOP (POR = 1.850 (1.175 – 2.913)), policies (POR = 1.860 (1.182 – 2.925)), supervision (POR = 1.904 (1.209 – 2.998)), compensation (POR = 2.570 (1.622 – 4.072)), training improvement (POR = 8.069 (4.790 – 13.593)), and reward & punishment (POR = 2.199 (1.384 – 3.493)) with safe driving behavior. On the other hand, the variables of age, years of service, communication with coworkers, road conditions, and employment status did not show any relationship with safe driving behavior. Health status is a dominant factor that influences safe driving behavior of bus drivers at PT. XYZ.
T-7225
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yuda Rizky; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Zulkifli Djunaidi, M. Afdal
S-5805
Depok : FKM-UI, 2009
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Cahyo Adhi Kusumo; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Abdul Kadir, Mufti Wirawan, Sigit Wijayanto, Wahyu Hidayat
Abstrak:
Read More
Kecelakaan lalu lintas masih menjadi permasalahan serius, khususnya pada pengemudi truk pengangkut bahan bakar minyak (BBM) yang memiliki tingkat risiko kerja tinggi. Faktor manusia, terutama perilaku berkendara tidak aman, merupakan penyumbang terbesar terjadinya kecelakaan lalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi perilaku berkendara pada pengemudi truk pengangkut BBM di PT. XYZ tahun 2025, meliputi faktor internal, faktor eksternal, dan faktor manajemen. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 1.764 pengemudi dengan jumlah sampel sebanyak 105 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji statistik untuk mengetahui hubungan antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 51,4% pengemudi memiliki perilaku safety driving yang aman, sedangkan 48,6% masih tergolong tidak aman. Faktor internal yang berhubungan signifikan dengan perilaku berkendara meliputi pengetahuan, masa kerja, dan lama tidur. Pada faktor eksternal, kondisi kendaraan dan durasi mengemudi berhubungan signifikan dengan perilaku safety driving, sedangkan kondisi jalan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Pada faktor manajemen, SOP, pengawasan, sistem reward and punishment, serta pelatihan berhubungan signifikan dengan perilaku berkendara, sementara status kepegawaian dan kompensasi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perilaku berkendara pengemudi truk BBM dipengaruhi oleh kombinasi faktor individu, lingkungan kerja, dan sistem manajemen keselamatan. Oleh karena itu, perusahaan perlu memperkuat penerapan K3 melalui pelatihan berkelanjutan, pengawasan yang efektif, pengaturan jam kerja dan waktu istirahat, serta penerapan sistem penghargaan dan sanksi yang konsisten guna menurunkan risiko kecelakaan lalu lintas
Road traffic accidents remain a serious public health issue, particularly among fuel tank truck drivers who are exposed to high occupational risks. Human factors, especially unsafe driving behavior, are recognized as the leading contributors to traffic accidents. This study aimed to analyze factors affecting driving behavior among fuel tank truck drivers at PT. XYZ in 2025, including internal factors, external factors, and management factors. This study employed a quantitative method with a cross-sectional design. The study population consisted of 1,764 drivers, with a sample of 105 respondents. Data were collected using structured questionnaires and analyzed using statistical tests to determine the relationships between variables. The results showed that 51.4% of drivers demonstrated safety driving behavior, while 48.6% were categorized as having unsafe driving behavior. Internal factors significantly associated with driving behavior included knowledge, length of service, and sleep duration. Regarding external factors, vehicle condition and driving duration were significantly associated with safety driving behavior, whereas road conditions showed no significant association. Management factors such as standard operating procedures (SOP), supervision, reward and punishment systems, and training were significantly associated with driving behavior, while employment status and compensation were not significantly related. This study concludes that driving behavior among fuel tank truck drivers is influenced by a combination of individual characteristics, work environment conditions, and safety management systems. Therefore, companies are encouraged to strengthen occupational health and safety implementation through regular safety training, effective supervision, proper vehicle maintenance, adequate work–rest scheduling, and consistent enforcement of reward and punishment systems to reduce the risk of traffic accidents
T-7482
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Raha Dwi Purwa; Pembimbing: Baiduri; Penguji: Ridwan Z. Sjaaf, Syahrul Effendi
T-2643
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mulyo Santoso; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Doni Hikmat Ramadhan, Devie Fitri Octaviani
S-8139
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Raih Zenita Imami; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Hendra, Mayarni
S-8349
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Januardi Putra; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Dicky W. Rahmawan
S-8432
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Andi Nani Siti Mardiyanti; Pembimbing: Hendra; Penguji: Dadan Erwandi, Doni Hikmat Ramdhan, Iting Shofwati, Dimas J Zahid A
Abstrak:
Read More
Terdapat 3 faktor utama penyebab kecelakaan lalu lintas, 90% disebabkan oleh faktor manusia terkait perilakunya saat berkendara. Perilaku mengemudi berisiko mencakup pelanggaran (violations), kesalahan (errors), dan kelalaian (lapses). Pengemudi angkutan barang dipenuhi dengan berbagai bahaya yang berisiko, seperti kompleksitas armada, tingginya intensitas pengiriman barang, jarak tempuh panjang, serta kondisi jalan yang bervariasi. Kombinasi dari faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi munculnya perilaku mengemudi berisiko. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku mengemudi berisiko dari faktor motivation, ability, role perception, situational factor pada pengemudi angkutan barang PT XYZ Cabang Makassar. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan responden kuesioner sebanyak 50 pengemudi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner standar Driving Behavior Questionnaire (DBQ) dan kuesioner yang dikembangkan dalam penelitian ini. Analisis data menggunakan Chi Square. Penelitian ini melibatkan pengemudi dengan mayoritas usia produktif 30 – 39 tahun (94,6%), memiliki pendidikan SMP (44,0%), dan 88,0% sudah menikah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku mengemudi berisiko seimbang antara tinggi dan rendah (50,0%). Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku tersebut dapat diketahui dari faktor motivasi; sistem reward & punishment (p=0,005), faktor ability; pengalaman mengemudi (p=0,024), situational factor; jenis muatan (p=0,046).
There are three main factors contributing to road traffic accidents, with approximately 90% being caused by human factors related to driving behavior. Risky driving behavior includes violations, errors, and lapses. Truck drivers are exposed to various occupational hazards, such as fleet complexity, high delivery demands, long driving distances, and varying road conditions. The combination of these factors may influence the occurrence of risky driving behavior. This study aimed to determine the determinants of risky driving behavior based on motivation, ability, role perception, and situational factors among freight transport drivers at PT XYZ Makassar Branch. A cross-sectional study design was employed, involving 50 drivers as respondents. Data were collected using the standardized Driving Behavior Questionnaire (DBQ) and a questionnaire developed specifically for this study. Data analysis was conducted using the Chi-Square test. The study participants were predominantly within the productive age group of 30–39 years (94,6%), had a junior high school education level (44,0%), and were mostly married (88,0%). The results showed that the proportion of drivers with high and low risky driving behavior was equal (50,0%). Factors associated with risky driving behavior included motivation factors, namely the reward and punishment system (p = 0,005); ability factors, namely driving experience (p = 0,024); and situational factors, including type of cargo (p = 0,046).
T-7663
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rani Sulastri; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Abdul Kadir, Hanny Harjulianti, Neni Herlina
Abstrak:
Read More
Perilaku mengemudi berisiko merupakan salah satu faktor utama penyebab kecelakaan lalu lintas, terutama pada pengemudi transportasi umum yang memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan penumpang dalam jumlah besar. Pada periode libur Idul Fitri, peningkatan mobilitas masyarakat dan kepadatan lalu lintas berpotensi meningkatkan tekanan kerja, distres psikologis, serta mempengaruhi perilaku pengemudi. Faktor psikologis dan kondisi kesehatan pengemudi diperkirakan berperan terhadap munculnya perilaku mengemudi berisiko pada pengemudi bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP). Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku mengemudi berisiko pada pengemudi bus AKAP di Terminal Kampung Rambutan selama periode libur Idul Fitri tahun 2026. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif pada 97 pengemudi bus AKAP. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner untuk menilai faktor sosiodemografi, distres (aggresif, ketidaksukaan mengemudi, pemantauan bahaya, dan pencarian sensasi), kesehatan fisik, serta perilaku mengemudi berisiko berdasarkan dimensi pelanggaran, kesalahan dan kelalaian. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dan Fisher Exact. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden berusia ≥40 tahun (67%), memiliki masa kerja ≥10 tahun (58,8%), mengalami agresivitas tinggi (54,6%), serta dinyatakan laik mengemudi (77,3%). Perilaku mengemudi berisiko tinggi ditemukan pada dimensi pelanggaran sebesar 21,6%, kesalahan sebesar 7,2%, dan kelalaian sebesar 6,2%. Faktor psikologis menunjukkan hubungan bermakna terhadap perilaku mengemudi berisiko, terutama aggresif (OR=24,03; 95%CI=3,06–186,54; p=0,001), ketidaksukaan mengemudi (RR=2,818; 95%CI=1,753–4,530; p=0,001), dan mencari sensasi berkendara (OR=29,77; 95%CI=3,785–234,11; p=0,001). Variabel pemantauan bahaya tidak menunjukkan hubungan bermakna (p=0,054). Faktor kesehatan fisik dan status laik mengemudi tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan perilaku mengemudi berisiko (p>0,05). Disimpulkan bahwa faktor distress memiliki kontribusi lebih besar terhadap perilaku mengemudi berisiko dibandingkan faktor kesehatan fisik dan sosiodemografi pada pengemudi bus AKAP. Intervensi berupa skrining psikologis berkala, manajemen stres kerja, pelatihan keselamatan berkendara, dan penguatan program kesehatan kerja perlu dikembangkan untuk menurunkan risiko kecelakaan lalu lintas pada pengemudi transportasi umum. Kata kunci: perilaku mengemudi berisiko, pengemudi bus AKAP, distres psikologis, keselamatan berkendara, kesehatan kerja
Risky driving behavior is one of the major contributing factors to traffic accidents, particularly among public transportation drivers who bear responsibility for the safety of a large number of passengers. During the Eid al-Fitr holiday period, increased population mobility and traffic congestion may intensify work-related pressure, psychological distress, and consequently influence drivers’ behavior. Psychological factors and drivers’ physical health conditions are considered to contribute to the occurrence of risky driving behavior among intercity and interprovincial (AKAP) bus drivers. This study aimed to analyze factors associated with risky driving behavior among AKAP bus drivers at Kampung Rambutan Terminal during the 2026 Eid al-Fitr holiday period. A cross-sectional study with a quantitative approach was conducted among 97 AKAP bus drivers. Data were collected using questionnaires to assess sociodemographic factors, psychological distress (aggression, dislike of driving, hazard monitoring, and thrill seeking), physical health conditions, and risky driving behavior based on the dimensions of violations, errors and lapses. Data analysis was conducted using univariate and bivariate analyses through Chi-square and Fisher Exact tests. The results showed that the majority of respondents were aged ≥40 years (67%), had work experience of ≥10 years (58.8%), experienced high levels of aggression (54.6%), and were considered fit to drive (77.3%). High-risk driving behavior was found in the violations dimension (21.6%), , errors (7.2%), and lapses (6.2%). Psychological factors demonstrated significant associations with risky driving behavior, particularly aggression (OR=24.03; 95% CI=3.06–186.54; p=0.001), dislike of driving (RR=2.818; 95% CI=1.753–4.530; p=0.001), and thrill seeking (OR=29.77; 95% CI=3.785–234.11; p=0.001). The hazard monitoring variable did not show a significant association (p=0.054). Physical health factors and driving fitness status also did not show significant associations with risky driving behavior (p>0.05). It can be concluded that psychological distress factors contribute more substantially to risky driving behavior than physical health and sociodemographic factors among AKAP bus drivers. Interventions such as periodic psychological screening, occupational stress management, road safety training, and strengthening occupational health programs should be developed to reduce the risk of traffic accidents among public transportation drivers. Keywords: risky driving behavior, AKAP bus drivers, psychological distress, road safety, occupational health
T-7615
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rizki Iwari Saputra; Pembimbing: Hendra; Penguji: Dadan Erwandi, Robiana Modjo, Yuni Kusminanti, Muhamad Fertiaz
Abstrak:
Read More
Berdasarkan data BPJS Ketenagakerjaan tahun 2021 terdapat kasus 234.370 kasus, dengan kontribusi terbesar dari sektor manufaktur dan konstruksi sebesar 22,3%, Sebagian besar kecelakaan kerja dan perilaku yang tidak aman disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mengidentifikasi bahaya dan kesalahan persepsi terhadap penerapan K3. penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi terhadap penerapan K3 pada karyawan PT XYZ tahun 2024. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah desain cross-sectional. Studi ini melibatkan 143 karyawan yang diminta untuk mengisi kuisioner yang diberikan kepada mereka. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian karyawan mempunyai persepsi yang baik terhadap penerapan K3 yaitu sebesar 50,3%, sedangkan 49,7% responden mempunyai persepsi yang buruk terhadapa penerapan K3. Nilai p dari hasil uji korelasi antara faktor-faktor yang berhubungan dengan penerpan K3 antara lain masa kerja (0,507), Pendidikan (0,131), sikap K3(<0,001), Pengetahuan K3 (0,001), Pelatihan K3 (0,004), dan Ketersediaan sarana dan prasarana K3(0,04). Kesimpulan disimpulkan faktor yang berhubungan dengan persepsi terhadap penerpan K3 pada karyawan di PT XXY adalah sikap K3, pengtahuan K3, pelatihan K3, ketersedian sarana dan prasarana sehingga perusahaan perlu meningkatkan pemahaman dan pelatihan kepada karyawan dengan program-program K3 yang lebih efektif
Based on BPJS Employment data in 2021, there were 234,370 cases, with the largest contribution from the manufacturing and construction sector at 22.3%, Most work accidents and unsafe behavior are caused by the inability to identify hazards and misperceptions of OHS implementation. This research aims to identify factors related to perceptions of OHS implementation among PT XYZ employees in 2024. The method used in this research is a cross-sectional design. This research involved 143 employees who were asked to fill out a questionnaire given to them. Data analysis was carried out using the Chi-square test. The research results show that some employees have a good perception of the implementation of K3, namely 50.3%, while 49.7 respondents had a Badperception of the implementation of OHS. The p-value from the correlation test results between factors related to the implementation of OHS includes work experience (0.507), education (0.131), OHS attitude (<0.001), OHS knowledge (0.001), OHS training (0.004), and availability of facilities. and OHS infrastructure (0.04). In conclusion, the factors related to the perception of OHS implementation among PT XXY employees are OHS attitudes, OHS knowledge, OHS training, availability of facilities and infrastructure so that the company needs to increase employee understanding and training more effectively OHS programs.
T-7143
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
