Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37955 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Titus Halomoan Mg; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Abdul Kadir, Mufti Wirawan, Widura Imam Mustopo, Agra Mohamad Khaliwa
Abstrak:
Kecelakaan kerja merupakan masalah serius yang berdampak luas pada individu dan organisasi, baik dari segi fisik, psikologis, maupun ekonomi, di mana jutaan pekerja setiap tahun mengalami cedera atau penyakit  akibat kerja yang dapat menurunkan produktivitas serta meningkatkan beban finansial perusahaan. Oleh karena itu, menciptakan iklim keselamatan yang kuat menjadi hal krusial dalam mencegah risiko kecelakaan kerja. Penelitian ini menganalisis pengaruh safety knowledge dan safety leadership terhadap safety climate di Perusahaan X dengan desain cross-sectional dan pendekatan kuantitatif. Sampel sebanyak 104 karyawan dipilih melalui proportionate stratified random sampling, sementara data dikumpulkan dengan kuesioner dan dianalisis menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun tingkat safety knowledge karyawan tergolong baik, variabel ini tidak berpengaruh signifikan terhadap safety climate, yang mengindikasikan bahwa pengetahuan saja tidak cukup dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman. Sebaliknya, safety leadership memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap safety climate, menunjukkan bahwa kepemimpinan yang kuat dalam aspek keselamatan mampu meningkatkan kepatuhan dan kesadaran karyawan terhadap prosedur keselamatan. Oleh karena itu, penguatan kepemimpinan dan pelatihan keselamatan yang berkelanjutan menjadi langkah penting dalam membangun budaya keselamatan yang lebih baik.

 Workplace accidents are a serious problem with far-reaching physical, psychological and economic impacts on individuals and organizations, with millions of workers each year experiencing occupational injuries or illnesses that can reduce productivity and increase the financial burden on companies. Therefore, creating a strong safety climate is crucial in preventing the risk of workplace accidents. This study analyzes the effect of safety knowledge and safety leadership on safety climate in Company X with a cross-sectional design and quantitative approach. A sample of 104 employees was selected through proportionate stratified random sampling, while data was collected by questionnaire and analyzed using multiple linear regression. The results showed that although the level of safety knowledge of employees was good, this variable did not have a significant effect on safety climate, which indicates that knowledge alone is not enough to create a safe work environment. In contrast, safety leadership has a positive and significant effect on safety climate, indicating that strong leadership in safety aspects can increase employee compliance and awareness of safety procedures. Therefore, strengthening leadership and continuous safety training are important steps in building a better safety culture.
Read More
T-7229
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ekin Hagana Imanuel Sembiring; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Yuni Kusminanti
Abstrak: Penelitian cross sectional ini berisi tentang asesmen safety leadership,safety climate dan safety behavior di PT. X tahun 2016. Dibutuhkan gambaranaspek kepemimpinan, iklim serta perilaku pekerja di PT.X yang dapat digunakansebagai dasar pengambilan keputusan dalam pengembangan K3. Terdapat 183item pada kuesioner yang telah diisi oleh 87 responden yang merupakan pekerjaPT.X dengan jabatan pelaksana dan lama kerja minimal 6 bulan. Data yang telahdiperoleh selanjutnya diolah untuk mengetahui nilai rata-rata persepsi respondenterhadap ketiga variabel, yaitu safety leadership, safety climate dan safetybehavior.Berdasarkan pengolahan data yang dilakukan diperoleh hasil bahwa safetyleadership atasan responden yang terdiri atas 5 indikator, yaitu: safety caring,safety cocahing, safety controlling, participative decision making dan leading byexample masuk pada kategori baik dengan nilai mean sebesar 76,34%. Hasilasesmen safety climate yang terdiri dari 6 indikator yaitu: management safetypriority, commitment and competence, safety communication, learning and trustin co-worker safety competence, workers safety commitment, workers safetypriority and risk non acceptance, organizational environment dan work pressuremasuk kedalam kategori baik dengan nilai mean sebesar 75,62%. Selain itu,variabel safety behavior juga masuk kedalam kategori baik dengan nilai meansebesar 75,26% yang terdiri atas 2 indikator yaitu safety compliance dan safetyparticipation.Kata kunci: asesmen;safety behavior;safety climate;safety leaderhip.
Read More
S-9277
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ranti Fitri Agustina; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Bahrain Munir
Abstrak:
Keselamatan kerja merupakan aspek krusial dalam operasional perusahaan, khususnya pada sektor kelistrikan yang memiliki tingkat risiko tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara safety leadership dan safety perception terhadap safety behavior pada pekerja di site PT X tahun 2025. Pendekatan yang digunakan adalah semikuantitatif dengan metode survei menggunakan kuesioner yang diisi oleh 87 responden. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman dan Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara safety leadership dan safety behavior (r = 0,227; p = 0,035), serta antara safety leadership dan safety perception (r = 0,579; p = 0,000). Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara safety perception dan safety behavior (r = 0,149; p = 0,169). Temuan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan keselamatan memiliki peran penting dalam membentuk perilaku keselamatan pekerja, baik secara langsung maupun melalui persepsi terhadap keselamatan. Hasil wawancara dengan key person juga menguatkan bahwa keteladanan dan keterlibatan langsung pimpinan menjadi faktor yang mendorong budaya keselamatan yang positif. Penelitian ini menyarankan agar perusahaan meningkatkan efektivitas kepemimpinan keselamatan melalui pelatihan, keterlibatan aktif pemimpin, serta evaluasi berkelanjutan terhadap program keselamatan. Penelitian lanjutan direkomendasikan untuk mengeksplorasi faktor lain yang dapat memediasi atau memoderasi hubungan antarvariabel.


Occupational safety is a crucial aspect of company operations, especially in the electricity sector which carries a high level of risk. This study aims to examine the relationship between safety leadership and safety perception on safety behavior among workers at the PT X site in 2025. A semi-quantitative approach was employed using a survey method with questionnaires completed by 87 respondents. Data were analyzed using Spearman and Pearson correlation tests. The results indicate a positive and significant relationship between safety leadership and safety behavior (r = 0.227; p = 0.035), as well as between safety leadership and safety perception (r = 0.579; p = 0.000). However, no significant relationship was found between safety perception and safety behavior (r = 0.149; p = 0.169). These findings suggest that safety leadership plays an important role in shaping workers’ safety behavior, both directly and indirectly through safety perception. Interviews with key persons also support the conclusion that leadership engagement and role modeling are key drivers of a positive safety culture. The study recommends that the company improve the effectiveness of safety leadership through targeted training, active leadership involvement, and continuous evaluation of safety programs. Future research is encouraged to explore other variables that may mediate or moderate the relationships among these constructs.
Read More
S-12082
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Naura Khashia Cyrilla; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Akbar Satria Bakti
Abstrak:
Sektor konstruksi merupakan salah satu sektor dengan tingkat risiko kecelakaan kerja yang tinggi, di mana iklim keselamatan organisasi diyakini berperan penting dalam membentuk perilaku keselamatan pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan melalui pengetahuan keselamatan dan motivasi keselamatan pada pekerja Proyek Y PT X tahun 2026, menggunakan kuesioner yang diadaptasi dari Griffin dan Neal (2000, 2006) sebagai data utama. Penelitian dilakukan pada 218 responden dengan desain cross sectional, dan data dianalisis menggunakan path analysis serta uji Sobel untuk menguji peran mediasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklim keselamatan berada pada kategori tinggi (mean = 3,45), dengan dimensi management values sebagai kontributor tertinggi (3,52) dan safety training sebagai yang terendah (3,39). Pengetahuan keselamatan (3,43) dan motivasi keselamatan (3,46) juga berada pada kategori tinggi, dengan motivasi keselamatan menjadi nilai rata-rata tertinggi dan pengetahuan keselamatan menjadi nilai rata-rata terendah di antara seluruh variabel. Perilaku keselamatan berada pada kategori tinggi (3,44) dengan dimensi safety compliance (3,48) lebih tinggi dibandingkan safety participation (3,38). Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa baik pengetahuan keselamatan (z = 9,134; p < 0,001) maupun motivasi keselamatan (z = 11,276; p < 0,001) sama-sama terbukti memediasi secara signifikan hubungan antara iklim keselamatan dan perilaku keselamatan. Berdasarkan demografi, terdapat variasi yang menarik: responden perempuan menilai keempat variabel keselamatan lebih positif dibandingkan laki-laki, kelompok usia 17–25 tahun menunjukkan iklim dan perilaku keselamatan tertinggi sementara kelompok usia 46–55 tahun memperoleh pengetahuan keselamatan terendah dan masuk kategori cukup baik, kelompok manajemen menilai seluruh variabel paling positif, dan kelompok berpendidikan SD/Sederajat berada pada kategori cukup baik untuk seluruh variabel. Temuan kunci penelitian ini menunjukkan bahwa baik pengetahuan keselamatan maupun motivasi keselamatan sama-sama berperan sebagai jalur mediasi yang signifikan dalam membentuk perilaku keselamatan pekerja. Temuan ini menyarankan agar PT X terus memperkuat program-program yang membangun pengetahuan keselamatan maupun motivasi keselamatan pekerja secara seimbang, sebagai bagian integral dari strategi peningkatan perilaku keselamatan di proyek konstruksi.

Construction is one of the sectors with a high risk of work-related accidents, in which organizational safety climate is believed to play an important role in shaping workers' safety behavior. This study aims to analyze the relationship between safety climate and safety behavior through safety knowledge and safety motivation among workers at Project Y of PT X in 2026, using a questionnaire adapted from Griffin and Neal (2000, 2006) as the primary data source. The study was conducted on 218 respondents using a cross-sectional design, with data analyzed using path analysis and the Sobel test to examine the mediating role of the variables. The results show that safety climate falls into the high category (mean = 3.45), with the management values dimension as the highest contributor (3.52) and safety training as the lowest (3.39). Safety knowledge (3.43) and safety motivation (3.46) also fall into the high category, with safety motivation recording the highest mean score and safety knowledge the lowest mean score among all variables. Safety behavior falls into the high category (3.44), with safety compliance (3.48) higher than safety participation (3.38). Hypothesis testing results indicate that both safety knowledge (z = 9.134; p < 0.001) and safety motivation (z = 11.276; p < 0.001) significantly mediate the relationship between safety climate and safety behavior. Based on demographics, interesting variations were found: female respondents rated all four safety variables more positively than males; the 17–25 age group showed the highest safety climate and safety behavior scores while the 46–55 age group recorded the lowest safety knowledge score (falling into the moderately good category); the management group rated all variables most positively; and the SD/equivalent education group fell into the moderately good category across all variables. The key findings of this study indicate that both safety knowledge and safety motivation serve as significant mediating pathways in shaping workers' safety behavior. These findings suggest that PT X should continue to strengthen programs that build both safety knowledge and safety motivation in a balanced manner, as integral components of the strategy to enhance safety behavior in construction projects.
Read More
S-12453
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Emylina Manurung; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Fatma Lestari, Doni Hikmat Ramadhan, Yuni Kusminanti, Nevi Setyasih
Abstrak: Penelitian ini dilakukan di perusahaan tambang batu bara yang memiliki konsep penambangan terbuka. Fluktuasi angka kecelakaan dari tahun 2011-2017 menyebabkan PT XYZ memiliki potensi resiko kecelakaan yang tinggi. Hasil investigasi kecelakaan menyebutkan bahwa faktor utama yang menyebabkan kejadian kecelakaan yaitu faktor pengawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan antara safety leadership dengan safety performance di PT XYZ. Metode yang digunakan dalam penelitian kuantitatif ini adalah analisis komperatif dan analisis korelasi. Gaya kepemimpinan yang akan diidentifikasi melalui pendekatan persepsi dari manajemen (top dan middle management) serta dari karyawan (staff atau front line) dengan menggunakan kuesioner yang akan diberikan kepada 240 karyawan sehingga dapat diketahui gambaran gaya kepemimpianan yang saat ini menjadi budaya di PT XYZ. Gaya kepemimpinan akan dihubungkan dengan safety performance (safety inspection, safety motivation dan incident investigation). Berdasarkan hasil analisa data diperoleh bahwa kepemimpinan transformasional yang saat ini menjadi budaya di PT XYZ memiliki pengaruh positif yang siginifikan terhadap safety performance (safety inspection, safety motivation dan incident investigation).
Read More
T-5547
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sakti Puruboyo; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Mufti Wirawan, Daris Hendarko, Adhie Vieky Novrianto
Abstrak:
Perusahaan konstruksi memegang peranan penting dalam memberikan kontribusi terhadap jumlah pekerja yang mengalami kecelakaan kerja. Perusahaan konstruksi memiliki risiko kecelakaan kerja yang tinggi. Beberapa jenis pekerjaan dengan kategori risiko tinggi adalah pekerjaan di ketinggian, penggalian, ruang tertutup, dan operasi pengangkatan (lifting operations). Kecelakaan kerja di konstruksi negara berkembang, pertambangan, dan industri minyak dan gas telah meningkat setiap tahunnya. Kecelakaan kerja ini terjadi karena perilaku pekerja terkait keselamatan masih rendah. Dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan BBM nasional maka melalui proyek migas dengan tujuan meningkatkan kapasitas kilang migas di Indonesia. Tesis ini menganalisis hubungan antara safety climate dan safety behaviour dengan mediasi dari gaya kepemimpinan transformasional dan transaksional pada proyek migas di Indonesia. Uji hipotesis diajukan dengan total 7 uji hipotesis langsung dan tidak langsung dengan 675 pekerja sebagai responden. Untuk menguji hipotesis, penelitian ini menggunakan metode structural equation modelling. Dari penelitian yang dilakukan diketahui bahwa beberapa uji hipotesis diterima atau terdapat hubungan yang positif antar variabel. Beberapa hasil uji hipotesis ditolak atau tidak terbukti secara empiris berpengaruh positif dan signifikan antar variabel.

Construction companies play an important role in contributing to the number of workers who experience work accidents. Construction companies have a high risk of work accidents. Some jobs with a high-risk category are working at heights, digging, confined spaces, and lifting operations. Occupational accidents in developing countries' construction, mining, and oil and gas industries have increased yearly. These work accidents occur because the behaviour of workers related to safety is still low. To meet the national demand for fuel oil through the oil and gas project by increasing the capacity of oil and gas refineries in Indonesia. Occupational accidents at one of the projects in Indonesia have increased quite a bit. This study analyses the relationship between safety climate on worker safety behaviour with mediation of transformational and transactional leadership styles. The hypothesis test was proposed with a total of 7 direct and indirect hypotheses tests with 675 workers as respondents. To test the hypothesis, this study uses the structural equation modelling method. From the research conducted, it was found that several hypothesis tests were accepted or that there was a positive relationship between variables. Several hypothesis test results were rejected or not empirically proven to have a positive and significant effect between variables.
Read More
T-6741
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cesilia Bunga Tampubolon; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguj: Laksita Ri Hastiti, Ade Kurdiman
Abstrak:
Kecelakaan kerja masih menjadi persoalan serius di sektor pertambangan karena industri ini tergolong berisiko tinggi, sementara safety performance kerap digunakan sebagai indikator kinerja keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Penelitian yang ada masih relatif menguji safety performance dari satu faktor secara terpisah. Oleh karena penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh praktik manajemen K3 terhadap safety performance melalui safety knowledge pada pekerja industri pertambangan tahun 2026. Desain yang digunakan adalah cross-sectional dengan metode survei yang diisi oleh 769 pekerja di dua perusahaan pertambangan di Indonesia. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara bivariat dengan uji Chi-Square serta secara multivariat menggunakan Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia (p=0,01) dan posisi pekerjaan (p=0,029) memiliki hubungan yang signifikan dengan safety performance, sedangkan masa kerja (p=0,801) dan pendidikan (p=0,97) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa praktik manajemen K3 berpengaruh positif dan signifikan terhadap safety performance, praktik manajemen K3 juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap safety knowledge, serta safety knowledge berpengaruh positif dan signifikan terhadap safety performance. Selain itu, safety knowledge terbukti memediasi secara parsial pengaruh praktik manajemen K3 terhadap safety performance. Penelitian ini menyarankan agar perusahaan memperkuat konsistensi implementasi praktik manajemen K3, terutama aspek safety training dan safety communication and feedback, serta safety performance dalam aspek safety participation.

Workplace accidents remain a serious issue in the mining sector because the industry is considered high-risk, while safety performance is often used as an indicator of occupational safety and health (OHS) performance. Previous studies have relatively examined safety performance from a single factor separately. Therefore, this study aimed to analyze the relationship between OHS management practices and safety performance through safety knowledge among mining workers in 2026. This study used a cross-sectional design with a survey method involving 769 workers from two mining companies in Indonesia. Data were collected using a questionnaire and analyzed bivariately using the Chi-Square test and multivariately using Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The results showed that age (p = 0.01) and job position (p = 0.029) were significantly associated with safety performance, whereas years of service (p = 0.801) and education level (p = 0.97) were not significantly associated. The results also showed that OHS management practices had a positive and significant effect on safety performance, OHS management practices had a positive and significant effect on safety knowledge, and safety knowledge had a positive and significant effect on safety performance. In addition, safety knowledge was proven to partially mediate the effect of OHS management practices on safety performance. This study suggests that companies should strengthen the consistency of implementing OHS management practices, especially in safety training and safety communication and feedback, as well as improve safety performance in the aspect of safety participation.
Read More
S-12432
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Schehan Al Azhar; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Galuh Ayu Ekaprastika
Abstrak:
Tingginya angka kecelakaan di sektor manufaktur, korelasi antara safety climate dengan kejadian kecelakaan, serta tingkat safety climate pada unit produksi di perusahaan yang cenderung lebih rendah dibanding unit lain, menunjukan bahwa perusahaan perlu berupaya menciptakan suasana kerja yang baik agar dapat menghasilkan safety climate yang positif khususnya pada unit produksi di perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis safety climate di unit produksi PT X dimana PT X belum pernah melakukan pengukuran safety climate sebelumnya. Penelitian ini merupakan studi cross-sectional dengan metode analisis deskriptif dan inferensial. Sampel sebanyak 114 responden menggunakan teknik simple random sampling pada pekerja di divisi produksi dan packing. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah NOSACQ-50. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor safety climate di unit produksi PT X adalah 3,15. Seluruh dimensi yang diukur mendapatkan skor rata rata antara 3,06 sampai 3,26. Skor rata-rata safety climate pada kelompok jenis kelamin, masa kerja, dan status kepegawaian menunjukkan perbedaan signifakan pada dimensi worker's safety priority and risk non-acceptance dan tidak ada perbedaan signifikan pada dimensi lainnya. Seluruh dimensi safety climate di unit produksi PT X masuk ke dalam kategori cukup baik. Upaya peningkatan dapat dilakukan dengan meningkatkan efektifitas program terkait persepsi keselamatan dan mengupayakan keaktifan para pekerja serta menyamakan persepsi akan risiko dan bahaya untuk para pekerja.

The high rate of accidents in the manufacturing sector, the correlation between safety climate and accidents, and the level of safety climate in the production unit in the company which tends to be lower than other units, show that companies need to strive to create a good working atmosphere in order to produce a positive safety climate, especially in the production unit in the company. This study aims to analyze the safety climate in the production unit of PT X where PT X has never measured safety climate before. This research is a cross-sectional study with descriptive and inferential analysis methods. A sample of 114 respondents using simple random sampling technique on workers in the production and packing division. The instrument used in this study is NOSACQ-50. The results showed that the average safety climate score in the PT X production unit was 3.15. All dimensions measured get an average score between 3.06 to 3.26. The average score of safety climate in groups of gender, length of service, and employment status shows significant differences in the dimensions of worker's safety priority and risk non-acceptance and there are no significant differences in other dimensions. All dimensions of safety climate in the PT X production unit fall into the fairly good category. Improvement can be carried out by increasing the effectiveness of programs related to safety perceptions and seeking the activeness of workers and equalizing perceptions of risks and hazards for workers.
Read More
S-11652
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Afian Titov; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Soehatman Ramli, Krisnajaya
Abstrak:

Kepemimpinan atau lebih dikenal dengan istilah Leadership sudah ada sejak dahulu kala, bcrbagai teori daxfi Stogdil di em tahun 40 an sampai dengan teori txansfomnal masa kini membahas untuk menjadi leadership yang baik dan efcktiti Leadershgn yang baik sangat tergantung dengan leader atau manajer, dimana saat ini manajer-manajer di parusahaan-perusahaanjuga merupakan leader. Leader-shy: juga merupakan salah satu elemen dari Health and Safety Management Sysrem di sini content sistem tersebut adalah sajeny leadership yang digerakkan oleh manajemen yang ujung tombaknya merupakan para manajer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kompetensi safezy leadershp para manajer proyek/lapangan pada perusahaaan jazingan telekomunikasi X di Indonesia berdasarkan pola safety leadership Krause. Desain penelitian ini dalam bentuk deskriptif analitik.. Populasi pcnelitian adalah seluruh manajer proyek/iapangan pada perusahaaan jaringan telekomunikasi X di Indonesia yang bezjumlah 66 orang. Pengukuran data menggunakan kuesioner dan observasi lapangan sena diskusi/wawancara. Dalam mengukur karakteristik safely leadership tersebut menggunakan tiga (3) dimensi; yaitu personalizy, leadership sryle dan best practices, dimana skor dazi seluruh indikator dihitung kemudian menghasilkan suatu gambaran kompetensinya. Analisa data dilakukan secara univariat dan multi variat. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa gambaran safety leadership para manajer proyek/Iapangan perusahaan jaringan telekomunikasi mempunyai tiga karakteristik personality, transformational leadership dan best practices yang merupakan pola pembentuk safety leadership. Kornpetensi dari pola safety leadership tersebut di atas untuk para manajer proyek/lapangan mempunyai kelemahan pada karakteristik personality dan best practices, sedangkan karakteristik transjbrrnational Ieadershqz sangat kuat hal ini bisa kita lihat dari variabei dominan yaitu iryluencing dimana hasil penelitian juga memberikan nilai yang sangat menonjol. Faktor paling dominan dari pembentuk safety leadership adalah best practices. Membuat usulan kepada pcrusahaan jaringan tclekomunikasi X Indonesia, pada saat awal penerimaan manajer proyek/lapzmgan diharapkan tidak hanya memcntingkan skill dan pengetahuan tetapijuga melihat kemampuan personality dan diharapkan mereka yang diterima mempunyai faktor-fakior kestabilan emosi yang baik, bersifat ekstrovert, learning orientation yang kuat dan mudah berkomunikasi, Sena perusahaan diharapkan mempunyai sistem manqemen keselamatan dan kesehatan kelja yang mempunyai strong commitment terhadap safety.

Read More
T-2811
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dihartawan; Pembimbing: Chandra Satrya, Ridwan Zahdi Syaaf; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Bagus B. Edvantoro, Yudhi Indharto
T-4530
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive