Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36434 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nawaliah; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Helda, Dhora Yufita N
Abstrak:
Peningkatan tren persalinan caesar menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap praktik menyusui, khususnya pemberian ASI eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persalinan caesar dengan pemberian ASI eksklusif di Indonesia berdasarkan data SKI 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Prevalensi ibu yang memberikan ASI eksklusif adalah 24.7% dan prevalensi ibu yang melahirkan melalui persalinan caesar adalah 30.2%. Adanya hubungan signifikan antara persalinan caesar dan pemberian ASI eksklusif (p < 0.001), ibu yang melahirkan secara normal memiliki peluang 1.579 kali lebih besar untuk memberikan ASI eksklusif (CI 95%: 1.196-2.083). Persalinan caesar yang cukup tinggi berkontribusi terhadap rendahnya cakupan ASI eksklusif. Selain itu, tingkat pendidikan ibu, tempat tinggal, status ekonomi, keinginan kehamilan, tempat persalinan, praktik IMD dan pemberian prelakteal juga menunjukkan hubungan signifikan terhadap keberhasilan pemberian ASI eksklusif.

The increasing trend of cesarean deliveries raises concerns about its impact on breastfeeding practices, particularly exclusive breastfeeding. This study aims to determine the relationship between cesarean delivery and exclusive breastfeeding in Indonesia based on 2023 SKI data. This study uses a cross-sectional design. The prevalence of mothers practicing exclusive breastfeeding is 24.7%, and the prevalence of mothers giving birth via cesarean section is 30.2%. There is a significant association between cesarean delivery and exclusive breastfeeding (p < 0.001), with mothers who gave birth vaginally being 1.579 times more likely to practice exclusive breastfeeding (95% CI: 1.196-2.083). The relatively high rate of cesarean section contributes to the low coverage of exclusive breastfeeding. Additionally, the mother's educational level, place of residence, economic status, desire for pregnancy, place of delivery, practice of immediate skin-to-skin contact (IMD), and pre-lactation feeding also show significant associations with the success of exclusive breastfeeding.
Read More
S-11900
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizqi Firdiana Lubis; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Sandra Fikawati, Dhora Yufita N
Abstrak:
Penelitian ini dilatar belakangi oleh perbedaan proporsi kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) berdasarkan tingkat konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). Kejadian BBLR diketahui lebih tinggi pada ibu hamil yang tidak mengkonsumsi TTD sesuai anjuran, sehingga menimbulkan dugaan adanya hubungan antara konsumsi TTD dengan berat badan lahir bayi. Namun, sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan hasil yang tidak konsisten terkait hubungan ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara konsumsi TTD selama kehamilan dengan berat badan bayi saat lahir. Desain studi yang digunakan adalah cross-sectional dengan pendekatan analisis data sekunder yang bersumber dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Sampel penelitian mencakup 51.797 ibu yang dalam lima tahun terakhir melahirkan bayi hidup dan tercatat pernah menerima atau membeli TTD selama kehamilan. Rata-rata berat badan lahir bayi adalah 3.101 gram, sedangkan rata-rata konsumsi TTD oleh ibu hamil sebanyak 70 tablet, masih di bawah rekomendasi pemerintah. Hasil analisis menunjukkan nilai korelasi (r) sebesar 0,007 dan p-value 0,126, yang menandakan tidak adanya hubungan signifikan antara konsumsi TTD dengan berat badan lahir bayi. Variabel lain seperti kepemilikan jaminan kesehatan dan paparan asap rokok juga tidak menunjukkan hubungan signifikan. Namun, faktor seperti pendidikan ibu, paritas, tempat tinggal, risiko kehamilan, kunjungan ANC, dan usia kehamilan saat pertama kali mendapat TTD menunjukkan hubungan yang signifikan.Kata kunci: Informasi, information literacy, information skills


This study was motivated by differences in the proportion of Low Birth Weight (LBW) cases based on the level of iron supplementation consumption. LBW incidence was found to be higher among pregnant women who did not consume iron supplementation according to recommendations, raising the assumption that there may be a relationship between supplementation consumption and infant birth weight. However, several previous studies have shown inconsistent results regarding this association. The aim of this study was to analyze the relationship between iron supplementation consumption during pregnancy and infant birth weight. The study used a cross-sectional design with a secondary data analysis approach, utilizing data from the 2023 Indonesia Health Survey. The sample included 51,797 mothers who had delivered a live baby in the past five years and were recorded as having received or purchased iron supplementation during pregnancy. The average birth weight of the infants was 3,101 grams, while the average TTD consumption among pregnant women was 70 tablets, still below the government's recommended amount. The analysis results showed a correlation coefficient (r) of 0.007 and a p-value of 0.126, indicating no significant relationship between iron supplementation consumption and infant birth weight. Other variables such as health insurance ownership and exposure to cigarette smoke also showed no significant relationship. However, factors such as maternal education, parity, place of residence, pregnancy risk, ANC visits, and gestational age at first TTD intake showed significant associations.
Read More
S-12070
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitri Latipatul Anshor; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Ahmad Syafiq, Evi Martha, Eko Prihastono, Popy Irawati
Abstrak: ASI merupakan gizi terbaik untuk mengoptimalkan tumbuh kembang bayi dan sistem kekebalan tubuh bayi. WHO menganjurkan untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. IMD merupakan kunci keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Tujuan penelitian mengetahui hubungan antara pelaksanaan IMD dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0-5 bulan di Indonesia menurut SDKI 2017. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional dengan menggunakan SDKI 2017. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh Wanita Usia Subur (WUS) 15-49 tahun di Indonesia, sampel sebanyak 1243 WUS dengan anak usia 0-5 bulan dan masih menyusui serta memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah ASI eksklusif, variabel independen utama yaitu Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan variabel kovariat umur, paritas, pendidikan, status pekerjaan, status ekonomi, daerah tempat tinggal, frekuensi kunjungan ANC, tempat persalinan, metode persalinan dan penolong persalinan. Analisis yang dilakukan yaitu analisis univariat, bivariate dengan chi square dan analisis multivariate dengan regresi logistic ganda model faktor resiko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase ASI eksklusif pada bayi usia 0-5 bulan di Indonesia yaitu sebesar 37,5%, dan IMD (39,5%). Hasil analisis multivariate menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara IMD dengan pemberian ASI eksklusif setelah dikontrol oleh variabel kovariat dengan (p=0,001 dan OR=2,537) artinya ibu yang melaksanakan IMD memiliki peluang 2,537 untuk memberikan ASI eksklusif. Pada penelitian ini tidak ada variabel konfounding dalam hubungan IMD dengan pemberian ASI eksklusif. Berbagai upaya perlu dilakukan untuk meningkatan capaian pemberian ASI eksklusif yaitu optimalisasi proses KIE terkait IMD dan ASI eksklusif, memfasilitasi ibu untuk melakukan IMD sesuai prosedur, pelatihan pelaksanaan IMD untuk setiap tenaga kesehatan yang menjadi penolong persalinan dan adanya kebijakan yang terintegrasi di setiap fasilitas kesehatan dari pusat ke daerah terkait pelaksanaan IMD sesuai flowchart.
Breast milk is the best nutrition to optimize baby growth and development and the baby's immune system. WHO recommends exclusive breastfeeding for 6 months. Early initiation of breastfeeding (EIBF) is the key of exclusive breastfeeding?s success. The purpose of the study was to determine the relationship between EIBF and exclusive breastfeeding for infants 0-5 months in Indonesia according to the 2017 IDHS. This research was a cross-sectional study using the 2017 IDHS. The population of this study were all of fertile women 15- 49 years old in Indonesia, a sample of 1243 women on fertile age who have the children 0-5 months and still breastfeeding and met the inclusion and exclusion criteria. The dependent variable in this study was exclusive breastfeeding, the main independent variable EIBF and the covariates were age, parity, education, employment status, economic status, area of residence, frequency of ANC visits, place of delivery, delivery method and birth attendant. The analysis for this research is univariate analysis, bivariate with chi square and multivariate analysis with logistic regression. The results showed that the percentage of exclusive breastfeeding for infants 0-5 months in Indonesia (37,5%) and EIBF (39,5%). The results of the multivariate analysis showed that there was a significant relationship between early initiation of breastfeeding and exclusive breastfeeding after being controlled by covariate variables with (p=0.001 and OR=2.537) meaning that mothers who carried out early initiation of breastfeeding had a 2.537 chance of exclusive breastfeeding. In this study, there were no confounding variables between early initiation of breastfeeding and exclusive breastfeeding. Various efforts need to be done to increase the achievement of exclusive breastfeeding with optimizing the IEC process related to EIBF and exclusive breastfeeding, facilitating mothers to carry out EIBF according to procedures, training in the implementation of EIBF for every health worker who assists childbirth and the existence of integrated policies in every health facility from the center to areas related to the implementation of EIBF according to the flowchart.
Read More
T-6474
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dini Agustini; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Martya Rahmaniati M., Sandra Fikawati, Anies Irawati, Hikmah Kurniasari
Abstrak:
ASI adalah makanan terbaik bagi bayi. WHO menganjurkan untuk memberikan ASI eksklusif. Ibu dengan kehamilan yang tidak diinginkan berisiko untuk tidak memberikan ASI eksklusif atau bahkan tidak menyusui sama sekali. Tujuan penelitian mengetahui hubungan antara kehamilan tidak diinginkan dengan pemberian ASI eksklusif di Indonesia menurut SDKI 2017. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional dengan menggunakan data SDKI 2017. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh Wanita Usia Subur (WUS) 15-49 tahun di Indonesia, sampel penelitian 1.244 WUS dengan anak usia 0-5 bulan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pemberian ASI eksklusif, variabel independen adalah kehamilan tidak diinginkan dan variabel kovariat yaitu usia, pendidikan, paritas, status ekonomi, pekerjaan, status pernikahan, IMD, kunjungan ANC, dan wilayah tempat tinggal. Analisis yang dilakukan yaitu analisis univariat, bivariate dan multivariate dengan uji regresi logistic ganda model faktor risiko. Hasil penelitian menunjukkan persentase ASI eksklusif di Indonesia yaitu sebesar 59,4% dan persentase kehamilan tidak diinginkan di Indonesia sebesar 19,5%. Hasil analisis multivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan antara status kehamilan tidak diinginkan dengan pemberian ASI eksklusif setelah dikontrol oleh variabel kovariat (p=0,064), namun ditemukan interaksi variabel kehamilan tidak diinginkan dan paritas dengan OR primipara 2,78, artinya ibu primipara dengan kehamilan tidak diinginkan berisiko 2,78 kali lebih tinggi untuk tidak memberikan ASI Eksklusif dibandingkan ibu dengan kehamilan diinginkan setelah dikontrol status ekonomi. Perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan capaian pemberian ASI eksklusif yaitu pelatihan tenaga konselor, peningkatan KIE terkait pemberian ASI eksklusif khususnya pada ibu dengan KTD dan optimalisasi penyediaan ruangan dan fasilitas yang mendukung ibu bekerja untuk tetap melanjutkan pemberian ASI eksklusif.

Breast milk is the best food for babies. WHO recommends exclusive breastfeeding. Mothers with unwanted pregnancies are at risk for not giving exclusive breastfeeding or not even breastfeeding at all. The research objective was to determine the relationship between unwanted pregnancies and exclusive breastfeeding in Indonesia according to the 2017 IDHS. This research was a cross-sectional study using data from the 2017 IDHS. The population of this study was all Women of Reproductive Age (WUS) 15-49 years in Indonesia, the study sample was 1,244 WUS with children aged 0-5 months who met the inclusion and exclusion criteria. The dependent variable in this study was exclusive breastfeeding, the independent variable was unwanted pregnancy and the covariate variables were age, education, parity, economic status, employment, marital status, IMD, ANC visits, and area of residence. The analyzes performed were univariate, bivariate and multivariate analysis with multiple logistic regression tests of the risk factor model. The results showed that the percentage of exclusive breastfeeding in Indonesia was 59.4% and the percentage of unwanted pregnancies in Indonesia was 19.5%. The results of the multivariate analysis showed that there was no relationship between adverse event status and exclusive breastfeeding after being controlled by the covariate variable (p=0.064), however, there was an interaction between the unwanted pregnancies and parity variables with OR primipara 2.78 meaning that primiparous mothers with unwanted pregnancies are at risk of 2.78 times higher for not giving exclusive breastfeeding compared to mothers with wanted pregnancies after controlling for economic status. Efforts need to be made to improve the ability of exclusive breastfeeding, namely counselors, increasing IEC related to exclusive breastfeeding, especially for mothers with unwanted pregnancies and optimizing the provision of rooms and facilities that support working mothers to continue to provide exclusive breastfeeding.
Read More
T-6681
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aisy Dinda Nisrina; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Dadan Erwandi, Uswatun Hasanah
Abstrak:
Kanker payudara merupakan kanker dengan insiden tertinggi pada perempuan di Indonesia, namun pemanfaatan pemeriksaan payudara secara nasional masih rendah. Kepemilikan jaminan kesehatan diduga memengaruhi pemanfaatan layanan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepemilikan jaminan kesehatan dengan pemanfaatan pemeriksaan payudara pada perempuan usia >=30 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data SKI 2023 yang menggunakan desain cross sectional, penetapan sampel secara multistage cluster sampling, sedangkan data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner. Sebanyak 265.987 perempuan usia ≥30 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dijadikan sampel penelitian ini. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan uji regresi logistic ganda. Hasil penelitian mendapatkan hanya sebesar 10,1% perempuan usia ≥30 tahun di Indonesia yang memanfaatkan pemeriksaan payudara, walaupun 75% sudah memiliki jaminan kesehatan. Perempuan usia >=30 tahun di Indonesia yang memiliki jaminan kesehatan berpeluang melakukan pemeriksaan payudara 1,58 kali dibanding yang tidak memiliki jaminan kesehatan setelah dikontrol oleh pendidikannya. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi dan pemanfaatan layanan deteksi dini kanker payudara pada perempuan, serta mengoptimalkan pemanfaatan jaminan kesehatan dalam akses pelayanan kesehatan preventif.

Breast cancer is the most common cancer among women in Indonesia, yet the utilization of breast examinations remains low nationwide. Health insurance coverage is believed to influence the utilization of these services. This study aimed to determine the relationship between health insurance coverage and the utilization of breast examinations among women aged >=30 years in Indonesia. This study used data from the 2023 SKI survey, employing a cross-sectional design with multistage cluster sampling, while data were collected through interviews using a questionnaire. A total of 265,987 women aged ≥30 years who met the inclusion and exclusion criteria were included in this study. Data analysis was performed using univariate, bivariate, and multivariate methods, using multiple logistic regression. The results showed that only 10.1% of women aged >=30 years in Indonesia utilized breast examinations, even though 75% already had health insurance. Women aged >=30 years in Indonesia who have health insurance are 1.58 times more likely to undergo breast examinations than those without health insurance, after controlling for their education level. Therefore, there is a need to improve education and the utilization of breast cancer early detection services among women, as well as to optimize the use of health insurance for access to preventive health services.
Read More
S-12289
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fikriyatul Arifah; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Helda, Yoslien Sopamena, Heny Lestary, Dian Kristiani Irawaty
Abstrak:
Angka Kematian Ibu di Indonesia masih tinggi (189/100.000 KH) dan KB Pasca Persalinan (KBPP) merupakan salah satu intervensi yang efektif untuk menurunkannya. Namun, cakupan KBPP nasional baru mencapai 48,9% dan determinan penggunaannya pada tingkat nasional belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan penggunaan KBPP di Indonesia. Penelitian ini merupakan analisis lanjut data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 70.387 wanita usia subur (15–49 tahun) yang memiliki riwayat persalinan dalam lima tahun terakhir, diambil dengan teknik multistage cluster sampling sesuai prosedur SKI 2023. Analisis data menggunakan regresi Poisson dengan robust variance dan pendekatan complex sample design untuk menghasilkan adjusted Prevalence Ratio (aPR). Hasil penelitian menunjukkan prevalensi KBPP sebesar 28,9%, dengan metode dominan suntikan 3 bulan (46,1%). Tempat melahirkan, paritas, pemanfaatan ANC, dan kepemilikan jaminan kesehatan berhubungan dengan KBPP. Tempat melahirkan menjadi determinan paling dominan; ibu yang melahirkan di fasilitas kesehatan memiliki prevalensi penggunaan KBPP 1,44 kali lebih tinggi dibanding ibu yang melahirkan bukan di fasilitas kesehatan setelah dikontrol oleh paritas, pemanfaatan ANC dan kepemilikan jaminan kesehatan (aPR=1,436; 95% CI: 1,290–1,600). Disarankan kepada Kementerian Kesehatan untuk menerapkan protokol nasional konseling KBPP sebelum pulang dan memperkuat kapasitas tenaga kesehatan; kepada BKKBN untuk memperluas sasaran program ke ibu paritas rendah dan memastikan ketersediaan MKJP; kepada BPJS Kesehatan untuk memperluas cakupan pembiayaan KBPP melalui JKN; serta kepada fasilitas pelayanan kesehatan untuk mengoptimalkan momentum persalinan sebagai titik kontak utama KBPP.

The Maternal Mortality Rate in Indonesia remains high (189/100,000 live births), and Postpartum Family Planning (PPFP) is one of the effective interventions to reduce it. However, the national PPFP coverage has only reached 48.9%, and its determinants at the national level have not been widely studied. This study aimed to identify the determinants of PPFP use in Indonesia. This study is a further analysis of the 2023 Indonesia Health Survey (SKI) data using a cross-sectional design. The study sample consisted of 70,387 women of reproductive age (15–49 years) who had a history of childbirth within the past five years, selected through multistage cluster sampling in accordance with the 2023 SKI procedures. Data were analyzed using Poisson regression with robust variance and a complex sample design approach to produce adjusted Prevalence Ratios (aPR). The results showed that the prevalence of PPFP use was 28.9%, with the 3-month injectable contraceptive as the dominant method (46.1%). Place of delivery, parity, ANC utilization, and health insurance ownership were associated with PPFP use. Place of delivery was the most dominant determinant; mothers who delivered at a health facility had a 1.44 times higher prevalence of PPFP use compared to those who delivered outside a health facility, after controlling for parity, ANC utilization, and health insurance ownership (aPR=1.436; 95% CI: 1.290–1.600). It is recommended that the Ministry of Health implement a national protocol for pre-discharge PPFP counseling and strengthen the capacity of healthcare workers; that BKKBN expand the program target to mothers with low parity and ensure the availability of Long-Acting Reversible Contraceptives (LARCs); that BPJS Kesehatan expand PPFP financing coverage through the National Health Insurance (JKN) scheme; and that healthcare facilities optimize the momentum of childbirth as the primary contact point for PPFP services
Read More
T-7529
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Okta Krisnawati; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Rico Kurniawan, Yoslien Sopamena, Hanny Harjulianti, Eti Rohati
Abstrak:
Kematian ibu masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, dengan komplikasi selama persalinan menjadi faktor penyumbang utama. Penelitian ini mengkaji hubungan antara faktor ibu berisiko tinggi khususnya usia ibu dan paritas dengan kejadian komplikasi persalinan menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Penelitian ini menggunakan studi cross-sectional dilakukan terhadap 64.000 ibu (sampel terbobot: 17.956.052) yang melahirkan antara tahun 2018-2023. Pembobotan sampel kompleks diterapkan untuk memastikan representasi nasional. Analisis bivariabel menggunakan uji chi-square dan regresi logistik multivariabel dilakukan untuk mengidentifikasi faktor risiko independen komplikasi persalinan. Prevalensi komplikasi persalinan adalah 21,22%. Analisis multivariabel menunjukkan bahwa ibu berusia >35 tahun memiliki peluang 1,36 kali lebih tinggi mengalami komplikasi (AOR=1,359; 95% CI: 1,248-1,480) dibandingkan ibu berusia 20-35 tahun. Sebaliknya, ibu nulipara dan primipara menunjukkan angka komplikasi tertinggi (21,01%), sementara ibu multipara memiliki risiko yang lebih rendah (AOR=0,715; 95% CI: 0,629-0,776). Faktor geografis, frekuensi ANC, dan akses ke fasilitas kesehatan juga menunjukkan hubungan signifikan dengan komplikasi persalinan. Usia ibu lanjut (>35 tahun) dan paritas rendah secara signifikan meningkatkan risiko komplikasi persalinan di Indonesia. Penguatan program keluarga berencana, peningkatan kualitas pelayanan antenatal, dan perbaikan akses layanan kesehatan merupakan strategi esensial untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas maternal.

Maternal mortality remains a significant public health challenge in Indonesia, with complications during childbirth being a primary contributing factor. This study examines the relationship between high-risk maternal factors specifically maternal age and parity and the occurrence of childbirth complications using data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). The study is a cross-sectional study was conducted with 64,000 mothers (weighted sample: 17,956,052) who delivered between 2018-2023. Complex sample weighting was applied to ensure national representativeness. Bivariable analysis using chi-square tests and multivariable logistic regression were performed to identify independent risk factors for childbirth complications. The prevalence of childbirth complications was 21.22%. Multivariable analysis revealed that mothers aged >35 years had 1.36 times higher odds of experiencing complications (AOR=1.359; 95% CI: 1.248-1.480) compared to those aged 20-35 years. Conversely, nulliparous and primiparous mothers showed the highest complication rates (21.01%), while multiparous mothers had lower odds (AOR=0.715; 95% CI: 0.629-0.776). Geographic factors, ANC frequency, and access to healthcare facilities also demonstrated significant associations with childbirth complications. Advanced maternal age (>35 years) and low parity significantly increase the risk of childbirth complications in Indonesia. Strengthening family planning programs, enhancing quality antenatal care, and improving healthcare access are essential strategies to reduce maternal morbidity and mortality.
Read More
T-7477
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shelvi Novianita; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Ahmad Syafiq, Kemal Nazaruddin Siregar, Irma Ardiana, Yosnelli
Abstrak:
Sejak tahun 2001 WHO menyarankan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. WHO menargetkan cakupan ASI eksklusif 50% untuk tahun 2025 dan 60% untuk tahun 2030. Indonesia berhasil melakukan percepatan target dengan cakupan ASI eksklusif 66,1% pada tahun 2020. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Data survey serta penelitian-penelitian dari internasional ataupun nasional menunjukkan bahwa prevalensi ASI eksklusif di perkotaan lebih rendah dibandingkan di perdesaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif 6 bulan di wilayah perkotaan Indonesia. Studi cross- sectional ini menggunakan data sekunder SDKI 2017 pada 2.384 ibu dengan bayi berusia 6-24 bulan. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square, dan analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menemukan bahwa proporsi ibu dengan ASI eksklusif 6 bulan sebesar 1.221 (51,2%), sementara ibu yang tidak ASI eksklusif 6 bulan 1.163 (48,8%). Pekerjaan ibu, paritas dan IMD memiliki hubungan yang bermakna dengan pemberian ASI eksklusif 6 bulan di wilayah perkotaan Indonesia (p<0,05). IMD (p=0,001; OR=3,147; 95% CI=2,572–3,852) merupakan faktor dominan diantara faktor- faktor tersebut. Dapat disimpulkan bahwa faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif 6 bulan di wilayah perkotaan Indonesia adalah pekerjaan ibu, paritas dan IMD. Disarankan agar pemerintah dapat melakukan monitoring dan evaluasi terhadap program yang berkaitan dengan pemberian edukasi dan pendampingan menyusui agar proporsi ASI eksklusif 6 bulan di wilayah perkotaan meningkat. Kata Kunci: ASI eksklusif, perkotaan, SDKI

Since 2001 WHO recommends exclusive breastfeeding for 6 months. WHO targets exclusive breastfeeding coverage of 50% for 2025 and 60% for 2030. Indonesia has succeeded in accelerating the target with exclusive breastfeeding coverage of 66.1% in 2020. Many factors affect the success of exclusive breastfeeding. Survey data and researches from international or national show that the prevalence of exclusive breastfeeding in urban areas is lower than in rural areas. This study aims to analyze the factors associated with exclusive breastfeeding for 6 months in urban areas of Indonesia. This cross-sectional study used secondary data from the 2017 IDHS on 2,384 mothers with infants aged 6-24 months. Bivariate analysis using chi-square test, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The research results found that the proportion of mothers with exclusive breastfeeding for 6 months was 1,221 (51.2%), while mothers who were not exclusively breastfed for 6 months were 1,163 (48.8%). Maternal occupation, parity and IMD had a significant relationship with exclusive breastfeeding for 6 months in urban areas of Indonesia (p<0.05). IMD (p=0.001; OR=3.147; 95% CI=2.572-3.852) was the dominant factor among these factors. It can be concluded that the factors associated with exclusive breastfeeding for 6 months in urban areas of Indonesia are maternal occupation, parity and IMD. It is suggested that the government can monitor and evaluate programs related to the provision of education and breastfeeding assistance so that the proportion of exclusive breastfeeding for 6 months in urban areas increases. Keywords: Exclusive breastfeeding, urban, IDHS
Read More
T-7526
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agita Arintiany; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Trisari Anggondowati, Siti Maemun
Abstrak:
Salah satu penyebab utama kematian neonatal di Indonesia adalah prematur.  Selain kematian, komplikasi dari kelahiran prematur merupakan penyebab lamanya rawat inap di rumah sakit yang berdampak pada meningkatkan biaya kesehatan. Salah satu upaya untuk mencegah bayi lahir prematur dengan melakukan deteksi dini selama kehamilan melalui kunjungan antenatal care (ANC). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan  keberlanjutan  kunjungan  ANC dengan  kejadian  kelahiran  prematur  di Indonesia.  Data  berasal  dari  hasil  Survei  Kesehatan  Indonesia (SKI)  tahun 2023 menggunakan desain studi cross sectional. Sampel terdiri dari 63.279 perempuan berusia 10-54 tahun yang pernah melahirkan bayi hidup dalam periode 2018-2023. Analisis statistik menggunakan uji chi square. Hasil penelitian ini menemukan prevalensi kelahiran prematur di Indonesia sebesar 12,4%.  Terdapat hubungan signifikan antara keberlanjutan kunjungan ANC dengan kejadian kelahiran prematur (PR: 1,52; 95% CI: 1,46-1,59). Beberapa faktor lain yang berhubungan dengan kejadian kelahiran prematur di  Indonesia  diantaranya faktor  risiko  kehamilan (PR:  1,71;  95%  CI:  1,64-1,78), kehamilan kembar (PR: 2,49; 95% CI: 2,19-2,84), kelengkapan pemeriksaan ANC (PR: 1,58; 95% CI:1,49-1,66), kepatuhan minum TTD (PR: 1,28; 95% CI:1,22-1,33), dan komplikasi  kehamilan  (PR:  1,27;  95%  CI:  1,2-1,33). Kesimpulan: keberlanjutan kunjungan  ANC memiliki  hubungan  signifikan dengan  kelahiran  prematur,  dimana keberlanjutan ANC yang sesuai program menurunkan risiko lahir prematur. sehingga diharapkan ibu hamil dapat melakukan kunjungan ANC sesuai program yaitu minimal 6 kali selama kehamilan. 

On of the main causes of neonatal death in Indonesia is prematurity.  Apart from death, complications from premature birth are a cause of long hospital stays which have an impact on increasing health costs. One effort to prevent premature births is by carrying out early detection during pregnancy through antenatal care (ANC) visits. The aim of this research is to determine the relationship between the continuity of ANC visits and the incidence of premature birth in Indonesia. Data comes from the results of the 2023 Indonesian  Health  Survey  (IHS)  using  a  cross-sectional  study  design.  The  sample consisted of 63,279 women aged 10-54 years who had given birth to a live baby in the 2018-2023 period. Statistical analysis uses the chi square test. The results of this study found that the prevalence of premature birth in Indonesia was 12.4%.  There is a significant relationship between continuity of ANC visits and the incidence of premature birth (PR: 1.52; 95% CI: 1.46-1.59). Several other factors associated with the incidence of premature birth in Indonesia include pregnancy risk factors (PR: 1.71; 95% CI: 1.64- 1.78), multiple pregnancies (PR: 2.49; 95% CI: 2, 19-2.84), completeness of ANC examination (PR: 1.58; 95% CI: 1.49-1.66), compliance with taking TTD (PR: 1.28; 95% CI: 1.22-1, 33), and pregnancy complications (PR: 1.27; 95% CI: 1.2-1.33). Conclusion: continuity of ANC visits has a significant relationship with premature birth, where continuity of ANC according to the program reduces the risk of premature birth. So it is hoped that pregnant women can make ANC visits according to the program, namely a minimum of 6 times during pregnancy.
Read More
S-11802
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiara Yoga Roza; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Yovsyah, Anggi Osyka, Farsely Mranani
Abstrak:

Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih tinggi di Indonesia. Kehamilan pada usia remaja diduga menjadi salah satu faktor risiko yang berkontribusi terhadap kejadian stunting pada balita. Remaja yang menikah dan hamil di usia muda cenderung lebih rentan mengalami berbagai masalah kesehatan, seperti anemia, kekurangan nutrisi, dan komplikasi selama kehamilan. Kondisi-kondisi tersebut dapat berdampak negatif pada kesehatan bayi, termasuk meningkatkan risiko terjadinya stunting. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kehamilan usia remaja dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi dengan pendekatan cross-sectional, berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Sebanyak 69.247 responden memenuhi kriteria inklusi dan seluruhnya diambil sebagai sampel penelitian. Analisis dilakukan dengan pendekatan kompleks sampling dan menerapkan pembobotan data. Uji chi-square dan regresi logistik digunakan untuk menganalisis hubungan antara kehamilan remaja dan stunting. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kehamilan usia remaja dan kejadian stunting pada anak (p-value= 0,021, OR= 1,261) setelah dikontrol oleh status ekonomi dan berinteraksi dengan tingkat pendidikan. Diperlukan upaya pencegahan kehamilan remaja sebagai bagian dari strategi intervensi penurunan angka stunting di Indonesia. Kata Kunci: kehamilan remaja, stunting, balita, survei kesehatan, Indonesia 


Stunting remains a major public health issue in Indonesia. Adolescent pregnancy is suspected to be one of the risk factors contributing to stunting among children under five. Adolescents who marry and become pregnant at an early age are more vulnerable to various health problems, such as anemia, poor nutrition, and pregnancy complications. These conditions may negatively affect the health of their babies, increasing the risk of stunting. This study aimed to analyze the association between adolescent pregnancy and the incidence of stunting among children under five in Indonesia. This research employed a cross-sectional study design using data from the Indonesia Health Survey Data 2023 (Survei Kesehatan Indonesia/SKI). A total of 69,247 respondents met the inclusion criteria and were included as the study sample. Data analysis was conducted using a complex sampling approach with weight adjustments. Chi-square tests and logistic regression were used to examine the relationship between adolescent pregnancy and stunting. The analysis showed a significant association between adolescent pregnancy and stunting (p-value = 0.021; OR = 1.261), after controlling for economic status and examining interaction with educational level. Adolescent pregnancy is significantly associated with an increased risk of stunting in children. Preventing adolescent pregnancy should be considered a key strategy in reducing stunting rates in Indonesia.

Read More
T-7319
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive