Ditemukan 32782 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Salwa Anfa ; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Laila Fitria, Debbie Valonda
Abstrak:
Read More
Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat signifikan, khususnya pada balita. Salah satu upaya penanggulangannya di Indonesia adalah melalui program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang mencakup lima pilar. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pelaksanaan lima pilar STBM terhadap kejadian diare balita di Pulau Jawa tahun 2023. Penelitian menggunakan desain studi ekologi dengan pendekatan kuantitatif dan analisis regresi negatif binomial. Data sekunder diambil dari Profil Kesehatan Provinsi empat provinsi di Pulau Jawa (Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur), mencakup 99 kabupaten/kota. Variabel yang dianalisis adalah persentase capaian lima pilar STBM dan jumlah kasus diare balita terkonfirmasi. Hasil analisis menunjukkan tiga pilar—SBABS (Stop Buang Air Besar Sembarangan), PSRT (Pengelolaan Sampah Rumah Tangga), dan PLCRT (Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga)—berpengaruh signifikan terhadap kejadian diare balita (p < 0,05). Peningkatan pelaksanaan SBABS dan PLCRT menurunkan risiko diare masing-masing sebesar 1,65% dan 2,57%, sedangkan PSRT justru meningkatkan risiko sebesar 3,37%. Pilar CTPS dan PAMMRT menunjukkan arah negatif, namun tidak signifikan. Pemerintah perlu menguatkan lintas sektor serta evaluasi berkala agar pelaksanaan STBM lebih efektif.
Diarrhea remains a major public health issue, particularly among children under five. One of Indonesia’s strategies to address this is the Community-Based Total Sanitation (STBM) program, which consists of five pillars. This study aims to analyze the influence of the five STBM pillars on the incidence of diarrhea among children under five in Java Island in 2023. An ecological study design with a quantitative approach and negative binomial regression analysis was used. Secondary data were obtained from the Provincial Health Profiles of four provinces in Java (Banten, West Java, Central Java, and East Java), covering 99 districts/cities. Variables analyzed included the percentage implementations of the five STBM pillars and the number of confirmed diarrhea cases in children under five. The results showed that three pillars—SBABS (Stop Open Defecation), PSRT (Household Waste Management), and PLCRT (Household Wastewater Management)—had a statistically significant effect on diarrhea incidence (p < 0.05). Increased implementation of SBABS and PLCRT reduced diarrhea risk by 1.65% and 2.57%, respectively, while PSRT was associated with a 3.37% increase. CTPS (Handwashing with Soap) and PAMMRT (Drinking Water and Food Management) showed a negative but non-significant association. Strengthened cross-sector efforts and regular evaluations are recommended to enhance STBM effectiveness.
S-11962
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Selfi Octaviani Lestari; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Dewi Susanna, Laila Fitria, Agus Setyo Widodo, Kuat Prabowo
Abstrak:
Penyakit diare merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di negara-negara berkemban. Diare ditandai dengan terjadinya tiga atau lebih episode buang air besar yang encer dari biasanya, umumnya disertai kram perut dalam waktu 24 jam. Insiden diare di Asia Tenggara cenderung lebih tinggi di bandingkan di Afrika. Berbagai negara telah memiliki program dalam rangka menurunkan diare yaitu Community Led Total Sanitation. Di Indonesia juga memiliki program untuk menurunkan kejadian diare yaitu Sanitasi Total Berbasis Masyarakat.Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui korelasi STBM yaitu stop buang air besar sembarangan (Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBABs)), cuci tangan pakai sabun (CTPS), pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga (PAMMRT), pengelolaan sampah rumah tangga (PSRT) dan pengelolaan limbah cair rumah tangga (PLCRT) dengan kejadian diare di Kota Metro Provinsi Lampung Tahun 2020-2022. Disain studi ekologi dan analisis spasial sebanyak 22 kelurahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari kelima pilar hanya 2 pilar yang berhubungan dengan kejadian diare di Kota Metro tahun 2020-2022 yaitu PSRT (p=0,012, B=0,557) dan PLCRT (p= 0,017, B=-0,529).
Diarrheal disease is a major public health problem in developing countries. Diarrhea is characterized by the occurrence of three or more episodes of loose stools than usual, generally accompanied by abdominal cramps within 24 hours. The incidence of diarrhea in Southeast Asia tends to be higher than in Africa. Various countries already have programs to reduce diarrhea, namely Community Led Total Sanitation. Indonesia also has a program to reduce the incidence of diarrhea, namely Community-Based Total Sanitation. The aim of this study was to determine the correlation between STBM, namely Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBABs), hand washing with soap (CTPS), and management of drinking water and household food. (PAMMRT), household waste management (PSRT) and household liquid waste management (PLCRT) with the incidence of diarrhea in Metro City, Lampung Province, 2020-2022. Ecological studies and spatial analysis studies of 22 sub-districts. The results showed that of the five pillars, only 2 pillars were related to the incidence of diarrhea in Metro City in 2020-2022, namely PSRT (p=0,012, B=0,557) and PLCRT (p= 0,017, B=-0,529).
Read More
Diarrheal disease is a major public health problem in developing countries. Diarrhea is characterized by the occurrence of three or more episodes of loose stools than usual, generally accompanied by abdominal cramps within 24 hours. The incidence of diarrhea in Southeast Asia tends to be higher than in Africa. Various countries already have programs to reduce diarrhea, namely Community Led Total Sanitation. Indonesia also has a program to reduce the incidence of diarrhea, namely Community-Based Total Sanitation. The aim of this study was to determine the correlation between STBM, namely Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBABs), hand washing with soap (CTPS), and management of drinking water and household food. (PAMMRT), household waste management (PSRT) and household liquid waste management (PLCRT) with the incidence of diarrhea in Metro City, Lampung Province, 2020-2022. Ecological studies and spatial analysis studies of 22 sub-districts. The results showed that of the five pillars, only 2 pillars were related to the incidence of diarrhea in Metro City in 2020-2022, namely PSRT (p=0,012, B=0,557) and PLCRT (p= 0,017, B=-0,529).
T-6760
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aisyah Kharisma Khan Pamrih; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Bambang Wispriyono, Mutmainah Indriyati
Abstrak:
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh yang menyebabkan anak terlalu pendek untuk umurnya sebagai akibat dari kerkurangan gizi kronis. Stunting dapat diidentifikasi dengan menilai panjang atau tinggi badan anak sesuai umurnya dimana balita dikatakan stunting jika hasil penilaian tersebut memiliki Z score <-2 standar deviasi. Pada tahun 2023 prevalensi stunting Kota Depok mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya. Stunting dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya higiene dan sanitasi masyarakat. Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) merupakan program pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan higiene dan sanitasi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara STBM dengan kejadian stunting di Kota Depok pada tahunn 2023. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan unit analisis 63 kelurahan di Kota Depok menggunakan data sekunder dari Dinas Kesehatan Kota Depok. Analisis data dilakukan baik secara statistik menggunakan uji korelasi dan spasial menggunakan metode overlay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara capaian pilar 5 STBM Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga dengan kejadian stunting di Kota Depok tahun 2023. Sementara, keempat pilar STBM lainnya tidak menunjukkan adanya hubungan dengan kejadian stunting di Kota Depok tahun 2023.
Stunting is a condition of failure to thrive that causes a child to be too short for his/her age as a result of chronic malnutrition. Stunting can be identified by assessing the length or height of a child according to his/her age where a child is said to be stunted if the assessment results have a Z score <-2 standard deviations. In 2023, the prevalence of stunting in Depok City increased from the previous year. Stunting is influenced by several factors, one of which is community hygiene and sanitation. Community-Led Total Sanitation (CLTS) is a government program that aims to improve community hygiene and sanitation. This study aims to analyze the relationship between STBM and the incidence of stunting in Depok City in 2023. This study used ecological study design with an analysis unit of 63 sub-districts in Depok City using secondary data from the Depok City Health Office. Data analysis was carried out both statistically using correlation tests and spatially using the overlay method. The results of this study showed that there was a significant relationship between the achievement of pillar 5 CLTS Household Liquid Waste Management and the incidence of stunting in Depok City in 2023. Meanwhile, the other four CLTS pillars did not show any relationship with the incidence of stunting in Depok City in 2023.
Read More
Stunting is a condition of failure to thrive that causes a child to be too short for his/her age as a result of chronic malnutrition. Stunting can be identified by assessing the length or height of a child according to his/her age where a child is said to be stunted if the assessment results have a Z score <-2 standard deviations. In 2023, the prevalence of stunting in Depok City increased from the previous year. Stunting is influenced by several factors, one of which is community hygiene and sanitation. Community-Led Total Sanitation (CLTS) is a government program that aims to improve community hygiene and sanitation. This study aims to analyze the relationship between STBM and the incidence of stunting in Depok City in 2023. This study used ecological study design with an analysis unit of 63 sub-districts in Depok City using secondary data from the Depok City Health Office. Data analysis was carried out both statistically using correlation tests and spatially using the overlay method. The results of this study showed that there was a significant relationship between the achievement of pillar 5 CLTS Household Liquid Waste Management and the incidence of stunting in Depok City in 2023. Meanwhile, the other four CLTS pillars did not show any relationship with the incidence of stunting in Depok City in 2023.
S-11920
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rafika Syulistia; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Ema Herawati, Didi Purnama, Didik Supriyono
Abstrak:
Buruknya kondisi sanitasi dapat berdampak negatif pada kehidupan masyarakat dan meningkatkan jumlah penyakit lingkungan seperti kejadian diare. Dalam hal ini, balita memiliki resiko jauh lebih besar dibandingkan orang dewasa karena dipengaruhi beberapa faktor seperti, status pemberian asi eksklusif maupun imunisasi campak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan sanitasi total berbasis masyarakat terhadap kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tambang Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional, sampelnya adalah rumah tangga yang memiliki balita dengan besar sampel 186. Hasil penelitian menunjukkan ada enam variabel yang berhubungan terhadap kejadian diare pada balita yaitu : variabel buang air besar sembarangan (OR= 3,333 CI=95% 1,733-6,267), cuci tangan pakai sabun (OR= 3,928 CI=95% 1,981-7,789), pengelolaan air minum & makanan rumah tangga (OR= 6,613 CI=95% 3,483-12,558), pengamanan limbah cair rumah tangga (OR= 3,609 CI=95% 1,894-6,876), pendapatan keluarga (OR= 6,827 CI=95% 3,541-13,162), dan asi eksklusif (OR= 2,455 CI=95% 1,095-5,505). Hasil analisis multivariat menggunakan uji regresi logistic ganda didapatkan variabel pengelolaan air minum & makanan rumah tangga yang dominan/berpengaruh terhadap kejadian diare pada balita dengan nilai OR = 13,568 yang artinya adalah rumah tangga yang memiliki balita dan pengelolaan air minum & makanan rumah tangganya buruk beresiko untuk menderita diare 13,568 lebih besar dibandingkan dengan rumah tangga yang memiliki balita dan pengelolaan air minum & makanan rumah tangganya baik.
Kata kunci: Diare, Balita, Sanitasi, STBM, Kampar, Riau
Poor sanitation conditions can have a negative impact on people's lives and increase the number of environmental diseases such as diarrhea. In this case, toddlers have a much greater risk than adults because it is influenced by several factors such as, exclusive breastfeeding status and measles immunization. The purpose of this study was to determine the relation of total community based sanitation on the incidence of diarrhea in under-five children in the working area of Puskesmas Tambang Kabupaten Kampar Riau Province. The research method used is cross sectional, the sample is household with toddler with big sample 186. Result of research indicate there are six variables that related to diarrhea occurrence in balita that is: indiscriminate defecation (OR = 3,333 CI = 95% 1,733-6,267), hand washing with soap (OR= 3,928 CI=95% 1,981-7,789), drinking water management & household food(OR= 6,613 CI=95% 3,483-12,558),household wastewater safety (OR = 3,609 CI = 95% 1,894-6,876), family income (OR = 6,827 CI = 95% 3,541-13,162), and exclusive ation (OR = 2,455 CI = 95% 1,095-5,505). The result of multivariate analysis using multiple logistic regression test showed that the dominant / influential variable of drinking water and household food management on the occurrence of diarrhea in underfives with OR = 13,568 which means that households with toddlers and drinking water and household food management are at risk for suffering from diarrhea 13,568 larger than households with toddlers and good drinking water and food housekeeping. Key words: Diarrhea, Toddler, Sanitation, STBM, Kampar, Riau
Read More
Kata kunci: Diare, Balita, Sanitasi, STBM, Kampar, Riau
Poor sanitation conditions can have a negative impact on people's lives and increase the number of environmental diseases such as diarrhea. In this case, toddlers have a much greater risk than adults because it is influenced by several factors such as, exclusive breastfeeding status and measles immunization. The purpose of this study was to determine the relation of total community based sanitation on the incidence of diarrhea in under-five children in the working area of Puskesmas Tambang Kabupaten Kampar Riau Province. The research method used is cross sectional, the sample is household with toddler with big sample 186. Result of research indicate there are six variables that related to diarrhea occurrence in balita that is: indiscriminate defecation (OR = 3,333 CI = 95% 1,733-6,267), hand washing with soap (OR= 3,928 CI=95% 1,981-7,789), drinking water management & household food(OR= 6,613 CI=95% 3,483-12,558),household wastewater safety (OR = 3,609 CI = 95% 1,894-6,876), family income (OR = 6,827 CI = 95% 3,541-13,162), and exclusive ation (OR = 2,455 CI = 95% 1,095-5,505). The result of multivariate analysis using multiple logistic regression test showed that the dominant / influential variable of drinking water and household food management on the occurrence of diarrhea in underfives with OR = 13,568 which means that households with toddlers and drinking water and household food management are at risk for suffering from diarrhea 13,568 larger than households with toddlers and good drinking water and food housekeeping. Key words: Diarrhea, Toddler, Sanitation, STBM, Kampar, Riau
T-5238
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dian Moranti; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto, Budi Hartono; Penguji: Zakianis; Nurlaila; Casuli
T-5441
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ryan Warjito; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Read More
Diare merupakan penyakit menular yang sangat banyak ditemukan khusus nya pada negara berkembang, Diare menyebabkan kondisi individu yang terinfeksi mengalami perubahan peningkatan frekuensi buang air besar dengan kekentalan yang sangat cair. Penyakit diare di kota depok menjadi 10 penyakit dengan angka terbanyak berjumlah 17,985 kasus dan merupakan penyakit menular berbasis lingkungan yang cukup sering dijumpai di kota Depok. Pada penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan penerapan program sanitasi lingkungan berbasis masyarakat ( stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan makanan dan minuman rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga, pengelolaan limbah cair serta kasus diare berdasarkan kategori umur dengan jumlah kasus diare di kota depok pada tahun 2022-2024. Penelitian ini menggunakan studi ekologi dengan menganalisis menggunakan uji korelasi antar variabel. Pada hasil penelitian ini didapatkan terdapat hubungan yang bermakna pada variabel CTPS (r=-0,948), PAMMRT (r=-0,404), PSRT (r=-0,436), PLCRT (r=-0,307) dan terdapat hubungan yang kuat dan bermakna pada variabel semua umur (r=0,704) dan balita (r=0,599), Sedangkan pada variabel STOP BABS memiliki angka yang konstan karna tidak ada variasi dalam data tersebut. Kesimpulan pada penelitian ini bahwa CTPS,PAMMRT,PSRT,PCLRT memiliki hubungan yang tidak searah,pada kategori umur dan balita memiliki hubungan yang searah namun pada variabel STOP BABS tidak ditemukan adanya hubungan yang berkesinambungan dengan jumlah kejadian diare.
Diarrhea is a highly prevalent infectious disease, particularly in developing countries. It causes an increase in the frequency of bowel movements and a very watery consistency in infected individuals. Diarrhea is among the 10 most prevalent diseases in Depok, with 17,985 cases. It is a highly prevalent environmental infectious disease in the city. This study aims to analyze the relationship between the implementation of community-based environmental sanitation programs (stop open defecation, washing hands with soap, household food and beverage management, household waste management, liquid waste management and diarrhea cases based on age categories with the number of diarrhea cases in Depok City in 2022-2024. This study uses an ecological study by analyzing using a correlation test between variables. The results of this study found that there was a significant relationship in the CTPS variable (r = -0.948), PAMMRT (r = -0.404), PSRT (r = -0.436), PLCRT (r = -0.307) and there was a strong and significant relationship in the variables of all ages (r = 0.704) and toddlers (r = 0.599), while the STOP BABS variable had a constant number because there was no variation in the data. The conclusion of this study is that CTPS, PAMMRT, PSRT, PCLRT have a non-unidirectional relationship, in the age category and toddlers have a unidirectional relationship but in the STOP BABS variable there was no significant relationship. continuous with the number of diarrhea incidents.
S-12169
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nur Ariati Mukharomah; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Bambang Wispriyono, Budi Hartono, Medita Ervianti, Ikha Purwandari
Abstrak:
Read More
Diare adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada balita, terutama di daerah dengan keterbatasan akses air bersih seperti kepulauan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kualitas lingkungan dengan status kesehatan balita dalam hal ini kejadian diare di Pulau Kelapa. Desain penelitian yang digunakan adalah studi kasus-kontrol dengan melibatkan responden dari kelompok kasus (balita diare) dan kelompok kontrol (balita tidak diare). Pengambilan data melalui wawancara dan uji laboratorium terhadap kualitas air bersih dan feses balita untuk mendeteksi keberadaan diarrheagenic E.coli. Periode penelitian selama tiga bulan dengan sampel kasus sebesar 20 sampel dan sampel kontrol sebesar 74 sampel. Analisis bivariat menunjukkan bahwa perilaku cuci tangan pakai sabun dan sumber air minum berhubungan signifikan dengan kejadian diare pada balita (OR = 3.789; OR = 5,914). Analisis multivariat menunjukkan bahwa sumber air minum adalah faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian diare balita (OR = 5,393). Temuan ini menunjukkan pentingnya intervensi pada perilaku higienis dan penyediaan air minum yang aman untuk mencegah diare pada balita khususnya di wilayah kepulauan.
Diarrhea is a major cause of morbidity and mortality in toddlers, especially in areas with limited access to clean water such as islands. This study aims to analyze the relationship between environmental quality and the health status of toddlers in this case the incidence of diarrhea on Kelapa Island. The research design used was a case-control study involving respondents from the case group (toddlers with diarrhea) and the control group (toddlers without diarrhea). Data collection through interviews and laboratory tests on the quality of clean water and toddler feces to detect the presence of diarrheagenic E. coli. The study period was three months with a case sample of 20 samples and a control sample of 74 samples. Bivariate analysis showed that handwashing behavior with soap and drinking water sources were significantly associated with the incidence of diarrhea in toddlers (OR = 3.789; OR = 5.914). Multivariate analysis showed that drinking water sources were the most influential factor in the incidence of diarrhea in toddlers (OR = 5.393). These findings indicate the importance of interventions on hygienic behavior and the provision of safe drinking water to prevent diarrhea in toddlers, especially in island areas.
T-7235
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yudi Iskandar; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Budi Hartono, Umar Fahmi Achmadi, Sonny Priajaya Warouw, Inswiasri
Abstrak:
Penyakit infeksi seperti diare dapat menyebar melalui transmisi oral fecal. Menurut WHO, lebih dari 1,4 juta anak di bawah usia lima tahun di seluruh dunia meninggal akibat penyakit diare dapat dicegah dan diperkirakan bahwa 88% dari kasus-kasus ini terkait dengan air yang tidak aman atau sanitasi yang buruk. Di wilayah Asia Tenggara, hampir 48% atau diperkirakan 3.070.000 kematian setiap tahun yang dikaitkan dengan infeksi saluran pernapasan akut dan penyakit diare dengan beban tertinggi penyakit diare di lima negara: Bangladesh, India, Indonesia, Myanmar, dan Nepal dimana penyakit ini menyebabkan 60.000 kematian setiap tahunnya. Tujuan dalam penelitian ini untuk menganalisis pengaruh faktor-faktor sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) terhadap kejadian diare pada balita di Kabupaten Tebo Provinsi Jambi Indonesia tahun 2017. Dalam penelitian ini menggunakan analisis cross sectional. Data variabel mengenai sarana pembuangan tinja, jarak sumber air dengan tangki septik, kebiasaan membuang tinja balita, cuci tangan pakai sabun, sumber air minum, pengelolaan air minum, penyimpanan air minum, pengelolaan sampah rumah tangga, pengelolaan limbah cair rumah tangga dan pendidikan ibu dikumpulkan dengan wawancara dan observasi serta dikategorikan dan disaring dengan chi square. Hasil dalam penelitian ini didapat enam variabel dengan nilai p < 0,25 yang masuk kedalam analisis regresi logistik yang menghasilkan 2 variabel yang signifikan dengan nilai p < 0,05 (kebiasaan ibu membuang tinja anak balitanya dan cuci tangan pakai sabun). Uji regresi logistik didapatkan kebiasaan membuang tinja anak (OR) 1,59 dan cuci tangan pakai sabun (OR) 1,48. Studi ini memyimpulkan bahwa kebiasaan ibu membuang tinja anak balitanya secara sembarangan dan aktivitas cuci tangan pakai sabun yang tidak memenuhi syarat mempunyai pengaruh terhadap terjadinya diare
Read More
T-5525
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mohammad Ihsan; Pembimbing: Haryoto Kusno Putranto; Penguji: Al Asyary, Widya Utami
Abstrak:
Read More
Higiene dan sanitasi dasar yang tidak memadai dapat menjadi salah satu faktor risiko penyakit menular lingkungan seperti diare. Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang paling banyak ditemui di daerah pesisir seperti di Kelurahan Pulau Harapan. Selain higiene dan sanitasi, lantai yang merupakan bagian dari bangunan rumah, dapat menjadi faktor risiko lain dari penularan penyakit diare. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kondisi higiene dan sanitasi dasar serta kondisi lantai rumah dengan kejadian diare di Kelurahan Pulau Harapan, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta Desain studi yang digunakan adalah pada penelitian ini adalah cross-sectional, dengan metode pengambilan data berupa wawancara menggunakan instrumen kuesioner dan observasi langsung pada kondisi higiene dan sanitasi dasar serta kondisi lantai rumah rumah tangga penduduk. Dari total 96 responden pada penelitian ini, ditemukan kasus kejadian diare dalam sebulan terakhir, sebanyak 25 orang dan yang tidak mengalami kasus kejadian diare sebanyak 71 orang. Dengan kelompok anak-anak (dibawah 17 tahun) menjadi yang terbanyak yaitu berjumlah 13 kasus. Hasil analisis uji chi square menyatakan bahwa, terdapat hubungan yang signifikan pada variabel: jamban sehat (p-value 0,005), kualitas air (fisik) (p-value 0,005), dan fasilitas tempat sampah (p-value 0,019). Penentuan variabel yang paling dominan terhadap kejadian diare menggunakan uji regresi logistik didasarkan dari nilai Exp (B) atau Odds Ratio pada pemodelan multivariat akhir, yang terbesar adalah 6,389 pada variabel kondisi jamban (p-value 0,002), sehingga variabel kondisi jamban memiliki kecenderungan paling dominan yang berhubungan dengan penyakit diare. Dari penelitian ini, diharapkan pemerintah dan masyarakat dapat berkolaborasi untuk saling memperhatikan kebersihan lingkungan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Kemudian, untuk penelitian selanjutnya dapat menggali lebih dalam terkait variabel lain yang mungkin berhubungan dengan kejadian diare di pulau lainnya dalam wilayah Kecamatan Kepulauan Seribu Utara.
Inadequate basic hygiene and sanitation can be a risk factor for environmental infectious diseases such as diarrhea. Diarrhea is one of the diseases most commonly found in coastal areas such as Pulau Harapan Village. Apart from hygiene and sanitation, the floor which is part of the house building, can be another risk factor for transmitting diarrheal diseases. This study aims to determine the relationship between basic hygiene and sanitation conditions and the condition of house floors with the incidence of diarrhea in Harapan Island Village, North Seribu Islands District, Seribu Islands Administrative Regency, DKI Jakarta Province. The study design used in this research is cross-sectional, with data collection methods in the form of interviews using questionnaire instruments and direct observation of basic hygiene and sanitation conditions as well as the condition of the floors of residents' households. The number of total respondent in this research (96), 25 people found cases of diarrhea in the last month and 71 people did not experience cases of diarrhea. Children (under 17 years) are the most group by age (13 cases) found cases of diarrhea. The research analysis with chi square test stated that there was a significant relationship with the variables: healthy latrines (p-value 0.005), water quality (physical) (p-value 0.005), and waste bin facilities (p-value 0.019). Determining the most dominant variable in the incidence of diarrhea using the logistic regression test was based on the Exp (B) or Odds Ratio score in the final multivariate modeling, the biggest score was 6.389 in the latrine condition variable (p-value 0.002), that conclude the latrine condition variable is the most dominant to the relationship of diarrhea case. From this research, hopefully the government and the people can collaborate to pay attention to environmental cleanliness to improve the level of public health in Kelurahan Pulau Harapan. Then, for further research, hopefully other researcher can dig deeper into other variables that may be related to the incidence of diarrhea on other islands in North Seribu Islands District.
S-11580
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fathonah Sholihah Farizal; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Al Asyary, Wuhgini
Abstrak:
Read More
Penyakit diare berada di posisi peringkat tertinggi ke-8 penyebab kematian di kelompok semua umur, dan peringkat ke-5 pada kelompok umur balita. Diare merupakan penyakit endemis berbasis lingkungan yang berpotensi menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Cengkareng Jakarta tahun 2022. Penelitian ini menggunakan desain penelitian potong lintang dengan analisis univariat dan bivariat. Sumber data penelitian merupakan data primer yang diambil langsung oleh peneliti menggunakan kuesioner mewawancarai ibu atau pengasuh yang membawa balita berkunjung ke Poli Balita Sakit di Puskesmas Kecamatan Cengkareng Jakarta. Sampel yang didapatkan sebanyak 100 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor balita yaitu variabel status imunisasi (p-value 0,007) memiliki hubungan signifikan dengan kejadian diare pada balita. Kemudian faktor perilaku ibu yang terdiri dari 3 variabel, perilaku cuci tangan pakai sabun (p-value 0,002) memiliki hubungan signifikan dengan kejadian diare pada balita, sedangkan perilaku pembuangan tinja balita (p-value 0,299) dan pengelolaan sampah (p-value 0,382) tidak berhubungan dengan kejadian diare pada balita. Selanjutnya faktor sanitasi yang terdiri dari 3 variabel, tempat sampah (p-value 0,000) memiliki hubungan signifikan dengan kejadian diare pada balita, sedangkan sumber air minum (p-value 1,000) dan jamban keluarga (p-value 0,717) tidak berhubungan dengan kejadian diare pada balita. Pemerintah diharapkan terus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya imunisasi.
Diarrheal disease ranks as the 8th highest cause of death in the all-age group, and ranks 5th in the toddler age group. Diarrhea is an environmentally based endemic disease that has the potential to become an Extraordinary Event (KLB). The purpose of this study was to determine the risk factors associated with the incidence of diarrhea in toddlers in the work area of the Cengkareng District Community Health Center in 2022. This study used a cross-sectional research design with univariate and bivariate analysis. The source of the research data is primary data taken directly by researchers using questionnaires interviewing mothers or caregivers who bring toddlers to visit the Sick Toddler Poly at the Cengkareng District Community Health Center, Jakarta. The sample obtained was 100 respondents. The results showed that the toddler factor, namely the immunization status variable (p-value 0.007) had a significant relationship with the incidence of diarrhea in toddlers. Then the mother’s behavior factor consisting of 3 variables, handwashing behavior with soap (p-value 0.002) has a significant relationship with the incidence of diarrhea in toddlers, while the behavior of toddler fecal disposal (p-value 0.299) and waste management (p-value 0.382) is not related to the incidence of diarrhea in toddlers. Furthermore, the sanitation factor consisting of 3 variables, the trash can (p-value 0.000) has a significant relationship with the incidence of diarrhea in toddlers, while the source of drinking water (p-value 1,000) and family latrine (p-value 0.717) are not related to the incidence of diarrhea in toddlers. The government is expected to continue to increase public awareness of the importance of immunization.
S-11197
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
