Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32541 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Siti Yuliani; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Abdul Kadir, Ali Syahrul Chairuman, Bimo Prasetyo
Abstrak:
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan aspek vital dalam proyek konstruksi jalan tol yang memiliki risiko tinggi dan kompleksitas pekerjaan besar. Meskipun Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) telah diwajibkan melalui Permen PUPR No. 10 Tahun 2021, implementasinya di lapangan masih belum optimal, ditunjukkan oleh tingginya angka kecelakaan kerja pada proyek infrastruktur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor individu berdasarkan Model Green—yang mencakup faktor predisposisi (pengetahuan keselamatan, sikap terhadap keselamatan, kesadaran terhadap bahaya), faktor pemungkin (pelatihan keselamatan, fasilitas dan dukungan keselamatan, penerapan SOP dan kepatuhan), serta faktor penguat (kepemimpinan dan pengawasan K3, pengalaman kerja dan sharing session)—terhadap perilaku aman pekerja dalam implementasi SMKK pada proyek Jalan Tol Trans Sumatera ruas Palembang–Betung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional, melibatkan 138 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert 1–5 dan dianalisis dengan uji korelasi Pearson serta regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan, seluruh faktor individu memiliki hubungan signifikan dengan perilaku aman (F = 4,462; p < 0,001). Namun secara parsial, hanya variabel pelatihan keselamatan yang berpengaruh signifikan (β = 0,373; p < 0,001). Faktor sikap terhadap keselamatan dan kesadaran terhadap bahaya menunjukkan korelasi positif signifikan pada uji korelasi (p < 0,05), tetapi belum cukup kuat dalam regresi parsial. Faktor lain, seperti pengetahuan keselamatan, fasilitas dan dukungan keselamatan, SOP dan kepatuhan, kepemimpinan dan pengawasan K3, serta pengalaman kerja dan sharing session tidak menunjukkan pengaruh signifikan dalam model regresi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa efektivitas implementasi SMKK sangat dipengaruhi oleh pelatihan keselamatan yang efektif, didukung komunikasi dua arah, kepemimpinan yang kuat, serta internalisasi nilai-nilai keselamatan untuk menciptakan budaya kerja yang aman dan berkelanjutan.

Occupational health and safety (OHS) is a vital aspect in toll road construction projects, which involve high risks and complex activities. Although the Construction Safety Management System (SMKK) is mandated by Ministry of Public Works Regulation No. 10 of 2021, its implementation in the field remains suboptimal, as indicated by the high number of occupational accidents in infrastructure projects. This study aimed to analyze the influence of individual factors based on the Green Model—including predisposing factors (safety knowledge, safety attitude, hazard awareness), enabling factors (safety training, safety facilities and support, SOP implementation and compliance), and reinforcing factors (leadership and OHS supervision, work experience and sharing session)—on safe behavior within SMKK implementation in the Trans Sumatera Toll Road Project, Palembang–Betung section. This research used a quantitative approach with a cross-sectional design involving 138 respondents selected through purposive sampling. Data were collected using a Likert scale (1–5) questionnaire and analyzed using Pearson correlation and multiple linear regression. The results showed that simultaneously, all individual factors had a significant relationship with safe behavior (F = 4.462; p < 0.001). However, partially, only safety training had a significant effect (β = 0.373; p < 0.001). Safety attitude and hazard awareness showed positive correlations with safe behavior (p < 0.05), but their effects were not strong enough in partial regression analysis. Other factors, such as safety knowledge, safety facilities and support, SOP implementation and compliance, leadership and OHS supervision, and work experience and sharing session did not show significant effects in the regression model. This study concludes that the effectiveness of SMKK implementation is highly influenced by effective safety training, supported by two-way communication, strong leadership, and internalization of safety values to establish a safe and sustainable construction work culture.
Read More
T-7351
Depok : FKMUI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ainun Azizah Tasmira Salwa; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Budi Haryanto, Noni Chrissuda Anggraini
Abstrak:

Rumah sakit sebagai fasilitas pelayanan kesehatan menghasilkan limbah medis dan non-medis. Data menunjukkan limbah medis/B3 bersifat infeksius dan toksik, berisiko tinggi jika tidak dikelola dengan baik. Di Indonesia, banyak fasilitas kesehatan masih belum sepenuhnya sesuai standar pengelolaan limbah medis. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengelolaan limbah medis padat di Rumah Sakit Pendidikan Kota Depok, Jawa Barat, menggunakan desain studi kasus melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen.
Hasil penelitian menunjukkan rumah sakit menghasilkan total 138.370,3 kg limbah medis padat B3 pada tahun 2024. Secara keseluruhan, tingkat kesesuaian implementasi mencapai 72,2% ("Sesuai Sebagian"). Namun, kesenjangan masih ditemukan pada pemilahan di sumber (33,3%) dan pewadahan/pengumpulan (25%), seperti masih ditemukannya limbah medis tercampur limbah non-medis, yang dapat menyebabkan risiko luka tusuk jarum atau penyebaran infeksi nosokomial. Meskipun petugas memiliki pemahaman baik, penggunaan APD oleh semua petugas belum sepenuhnya konsisten. Tahap pengurangan, penyimpanan, pengangkutan internal, pengolahan, dan pemusnahan akhir menunjukkan kepatuhan tinggi (100%). Oleh karena itu, perbaikan berkelanjutan diperlukan, terutama pada tahapan hulu yang bergantung pada faktor manusia. Tenaga Kesehatan Lingkungan berperan penting dalam pengawasan, edukasi, dan pemutusan rantai penularan untuk menjaga keselamatan petugas, pasien, dan pengunjung. Penelitian ini berkontribusi untuk mengoptimalkan sistem pengelolaan limbah medis di rumah sakit pendidikan.


Hospitals, as healthcare service facilities, generate both medical and non-medical waste. Data show that medical waste, classified as hazardous (B3), is infectious and toxic, posing a high risk if not properly managed. In Indonesia, many healthcare facilities still do not fully comply with medical waste management standards. This study aims to evaluate the solid medical waste management system at a Teaching Hospital in Depok, West Java, using a case study design through observation, interviews, and document analysis. The findings indicate that the hospital produced a total of 138,370.3 kg of B3 solid medical waste in 2024. Overall, the compliance level of implementation reached 72.2% (“Partially Compliant”). However, gaps were still identified in segregation at source (33.3%) and in containment/collection (25%), such as the mixing of medical and non-medical waste, which can lead to risks like needlestick injuries or the spread of nosocomial infections. Although staff demonstrated a good understanding of procedures, the use of personal protective equipment (PPE) among all workers was not fully consistent. The stages of waste reduction, temporary storage, internal transport, treatment, and final disposal showed high compliance (100%). Therefore, continuous improvement is needed, particularly in the upstream stages that depend on human factors. Environmental Health personnel play a crucial role in supervision, education, and breaking the chain of transmission to ensure the safety of healthcare workers, patients, and visitors. This study contributes to strengthening medical waste governance in teaching hospitals.

Read More
S-12102
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vivin Desy Kurniawati; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Trisari Anggondowati, Agus Handito, Sri Ridha Hasanah
Abstrak:
Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat dengan prevalensi yang tinggi di Kota Palembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan kejadian hipertensi berdasarkan jenis kelamin pada penduduk usia ≥18 tahun di wilayah dengan prevalensi tinggi. Penelitian ini menggunakan desain observasional kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data sekunder skrining Penyakit Tidak Menular dari Aplikasi Sehat IndonesiaKu (ASIK) tahun 2025. Sampel penelitian adalah seluruh populasi eligible sebanyak 27.464 responden. Analisis data dilakukan secara deskriptif, bivariat, dan multivariat menggunakan Stata. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi hipertensi lebih tinggi pada laki-laki (43,85%) dibandingkan perempuan (42,28%). Pada analisis multivariat, faktor yang berhubungan secara independen dengan kejadian hipertensi pada laki-laki adalah usia, status gizi, konsumsi garam, aktivitas fisik, konsumsi buah dan sayur, dan status pernah merokok. Sementara pada perempuan, determinan yang berhubungan adalah usia, status gizi, konsumsi garam, dan aktivitas fisik. Usia merupakan determinan paling kuat pada kedua kelompok, dengan risiko meningkat seiring bertambahnya usia. Status gizi di luar batas normal dan konsumsi garam berlebih juga konsisten meningkatkan prevalensi hipertensi. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa determinan hipertensi relatif konsisten antara laki-laki dan perempuan, dengan variasi pada beberapa faktor perilaku. Intervensi pencegahan hipertensi perlu difokuskan pada pengendalian faktor risiko utama, terutama usia lanjut, status gizi, dan konsumsi garam.

Hypertension is a major public health problem with a high prevalence in Palembang City. This study aimed to identify the determinants of hypertension by sex among individuals aged ≥18 years in high-prevalence areas. This study employed a quantitative observational design with a cross-sectional approach using secondary data from Non-Communicable Disease screening in the Sehat IndonesiaKu (ASIK) application in 2025. The sample included all eligible populations, totaling 27.464 respondents. Data were analyzed using descriptive, bivariate, and multivariate methods with Stata.         The results showed that the prevalence of hypertension was higher in males (43,85%) than in females (42,28%). Multivariate analysis indicated that the determinants independently associated with hypertension in males were age, nutritional status, salt consumption, physical activity, fruit and vegetable consumption, and ever smoking status. In females, the associated determinants were age, nutritional status, salt consumption, and physical activity. Age was the strongest determinant in both groups, with increasing risk observed with advancing age. Non-normal nutritional status and excessive salt consumption consistently increased the prevalence of hypertension.          In conclusion, the determinants of hypertension were relatively consistent between males and females, with variations in certain behavioral factors. Hypertension prevention efforts should focus on controlling key risk factors, particularly older age, nutritional status, and salt consumption.
Read More
T-7549
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Clara Nisa Fanegi; Pembimbing: Hendra; Penguji: Abdul Kadir, Mufti Wirawan, Izzatu Milla, Tubagus Dwika Yuantoko
Abstrak:
Industri manufaktur kimia merupakan salah satu sektor industri yang memiliki potensi bahaya tinggi dan kompleksitas proses kerja yang menuntut implementasi sistem keselamatan kerja yang kuat. Salah satu aspek yang perlu dikaji secara mendalam adalah tingkat kematangan budaya keselamatan (safety culture maturity) yang dimiliki oleh perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kematangan budaya keselamatan di PT. XYZ serta mengidentifikasi perbedaan persepsi dan keterlibatan karyawan. Pengukuran dilakukan dengan instrument kuesioner yang terdiri dari berbagai dimensi dan elemen budaya keselamatan, serta didukung dengan data wawancara , diskusi kelompok dan tinjauan dokumen. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh bahwa tingkat kematangan budaya keselamatan PT. XYZ berada pada level 3 atau Calculative. Hasil ini menunjukkan bahwa Perusahaan telah memiliki sistem K3 yang terstruktur dan terdokumentasi, namun nilai – nilai keselamatan belum sepenuhnya diinternalisasi dalam perilaku kerja sehari – hari. Selain itu, ditemukan adanya perbedaan persepsi antar jabatan dan unit kerja, di mana keterlibatan pekerja lapangan dalam evaluasi dan pembelajaran keselamatan masih terbatas. Beberapa hal yang perlu ditingkatkan antara lain efektivitas komunikasi keselamatan, partisipasi pekerja dalam analisis insiden kecelakaan, serta konsistensi pelaksanaan tindak lanjut dari temuan dan evaluasi risiko. 
The chemical manufacturing industry is one of the industrial sectors with high hazard potential and complex work processes, requiring the implementation of a strong occupational safety system. One critical aspect that must be explored in depth is the level of safety culture maturity within a company. This study aims to analyze the maturity level of safety culture at PT. XYZ and identify the differences in perception and engagement among employees. The assessment was conducted using a questionnaire instrument consisting of various safety culture dimensions and elements, supported by data from interviews, focus group discussions, and document reviews. Based on the analysis results, the overall safety culture maturity level at PT. XYZ was found to be at level 3 or Calculative. This indicates that while the company has a structured and well-documented safety management system, safety values have not yet been fully internalized into daily work behaviors. In addition, the study found significant differences in perceptions across job levels and departments, where workers in operational roles had limited involvement in safety evaluation and organizational learning. Areas that require improvement include safety communication effectiveness, employee participation in incident analysis, and consistency in follow-up actions from findings and risk evaluations.
Read More
B-2546
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayutia Syarifati Arista; Pembimbing: Izhar M. Fihir; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Gloria Doloressa
S-7917
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shafira Agustina Rachmat; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, M Helmy Ilhamsyah
Abstrak:
Pekerja konstruksi merupakan profesi dengan tingkat risiko yang tinggi. Banyak dijumpai kasus pekerja konstruksi mengalami stres akibat pekerjaannya, bahkan hingga terjadi kecelakaan kerja. Faktor yang berkontribusi pada kejadian stres kerja ini meliputi bahaya fisik dan faktor psikososial, namun tidak menutup adanya kemungkinan pengaruh dari karakteristik individu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan stres kerja dengan kecelakaan kerja pada pekerja konstruksi proyek pembangunan Jalan Tol Yogyakarta – Bawen Paket 1 (Seksi 1) pada tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Faktor-faktor yang diteliti di antaranya yaitu tingkat stres kerja, faktor bahaya fisik berupa iklim kerja, faktor psikososial yang meliputi konten pekerjaan (desain tugas, beban kerja, dan jadwal kerja) dan konteks pekerjaan (peran dalam organisasi, hubungan interpersonal, dan kepuasan kerja), serta karakteristik individu yang dihubungkan dengan kejadian kecelakaan kerja. Sebanyak 260 pekerja konstruksi berpartisipasi dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 234 pekerja konstruksi (90%) mengalami tingkat stres sedang dan 154 pekerja (59.2%) mengalami kecelakaan kerja. Ditemukan hubungan antara stres kerja dan kecelakaan kerja. Berdasarkan hasil yang didapatkan, perlu dilakukan upaya pengendalian terhadap pajanan stres kerja dan faktor-faktornya yang terdapat pada proyek pembangunan Jalan Tol Yogyakarta – Bawen untuk meminimalisasi terjadinya stres pada pekerja hingga kecelakaan kerja.

Construction workers are a job with high level of risk. There are many cases of construction workers experiencing stress due to their work, even until accident occurs. Factors that contribute to the occurrence of work stress include physical hazards and psychosocial factors, but it does not rule out the possibility of influence from individual characteristics. This study aims to analyze the correlation between occupational stress and workplace accidents in construction workers at Yogyakarta – Bawen Toll Road Construction Project Package 1 (Section 1) in 2023. This research is a quantitative study with a cross-sectional study design. The factors studied included work stress levels, physical hazards in the form of work climate, psychosocial factors which were job content (task design, workload, and work schedule) and job context (role in the organization, interpersonal relationships, and job satisfaction), as well as individual characteristics that are associated with the occurrence of work accidents. A total of 260 construction workers were participated in this study. The results showed that 234 construction workers (90%) experienced moderate levels of stress and 154 workers (59.2%) experienced work accidents. A relationship was found between occupational stress and workplace accidents. Based on the results obtained, it is necessary to control the exposure to occupational stress and its factors at Yogyakarta – Bawen Toll Road Construction development project to minimize the occurrence of stress on workers and workplace accidents.
Read More
S-11404
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayu Amalia; Pembimbing: Hendra; Penguji: Robiana Modjo, Padang Purwosusilo
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan pada pekerja konstruksi proyek pembangunan jalan tol layang Y oleh PT X khususnya pada saat pekerjaan pier head. Faktor risiko yang menjadi fokus pada penelitian ini adalah faktor risiko terkait pekerjaan (durasi kerja, durasi lembur, masa kerja dan heat index) dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, indeks masa tubuh, status merokok, konsumsi air minum, konsumsi minuman berkafein, kuantitas tidur, kualitas tidur, pekerjaan sampingan, waktu tempuh). Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain studi cross-sectional menggunakan kuesioner gejala kelelahan subjektif Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW).
Read More
S-10162
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kusworo; Pembimbing: Zulkifli Djunaedi; Penguji: Fatma Lestari, I Made Sudarta, Deddy Syam
Abstrak:

Berbagai cara dan pendekatan penerapan sistim menejemen K3 telah dikembangkan, akan tetapi kecelakaan kerja masih terus terjadi terutama dalam dunia kerja Industri. Dalam kurun waktu 10 tahun terahir angka Kecelakaan Kerja dunia masih tidak berubah secara signifikan . Konstruksi merupakan sektor industri yang mempunyai tingkat bahaya dan risiko kecelakaan kerja yang tinggi. Data menunjukkan bahwa selama berlangsungnya kegiatan pekerjaan pada tahun 2010-2011 di PT. XM telah terjadi peningkatan kejadian Kecelakaan Kerja dari 46 kejadian (2010) menjadi 98 kejadian (2011) atau terjadi peningkatan sebesar 52 kasus (113%). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui asosiasi faktor-faktor kecelakaan kerja proyek konstruksi pada PT. XM selama periode waktu 20102011. Metodologi penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan sumber data sekunder yang didapat dari laporan investigasi kecelakaan yang tercatat di PT. XM selama tahun 2010-2011. Jumlah sampel yang digunakan dari data sekunder yaitu seluruh sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan seteah mengalami proses cleaning yaitu sebanyak 98 sampel. Sampel penelitian dianalisis secara univariat (distribusi frekuensi) dan bivariat (uji chi-quare). Analisis hubungan dilakukan dengan melihat nilai p terhadap α untuk melihat tingkat kemaknaan hubungan. Dari 98 sampel yang diteliti, sebagian besar kecelakaan yang terjadi merupakan kecelakaan jenis medical treatment accident (48%), disusul kemudian oleh jenis first aid accident (46,9%), dan lost time accident (5,1%). Adapun factor penyebab yang diduga menjadi penyebab terjadinya kecelakaan dengan frekuensi terbanyak yaitu factor briefing yang tidakcukup untuk bekerja (88) dan kurang pengawasan (81). Secara signifikan diketahui tidak ada factor yang diketahui berhubungan secara signifikan dengan timbulnya kecelakaan kerja di PT. XM selama tahun 2010-2011 (p val > 0,05). Berdasarkan hasil tersebut diatas maka sebaiknya pihak manajemen terkait lebih aktif berperan khususnya dalam fungsi pengawasan, mengoptimalkan sosialisasi dan pembinaan yang terkait dengan safety di tempat kerja, dilain pihak pekerja juga diharapkan dapat turut serta dalam menciptakan suasana yang aman dan sehat di tempat kerja, disiplin dalam menggunakan APD dan meningkatkan pengetahuan penerapan safety dilokasi kerja Kata kunci: Faktor-faktor penyebab kecelakaan kerja, konstruksi.


 Various ways and approaches to Ocupational Health and Safety application management system has been developed, but accidents still occur, especially in the industrial workforce. In the last 10 years the world's number of Accidents still did not change significantly. Construction of an industrial sector that has the level of danger and high risk of work accidents. The data show that during work activities in 2010-2011 at PT. XM has been an increased incidence of Occupational Accidents met 46 events (2010) to 98 events (2011) or an increase of 52 cases (113%). The research was conducted to determine the association of these factors on the construction project work accident  at PT. XM during the time period 2010-2011. Methodology of This study uses cross-sectional study design with secondary data sources are obtained from accident investigation reports are recorded in the PT. XM during the years 2010-2011. The number of samples used secondary data from the entire sample that met the inclusion criteria and had established after the cleaning process as many as 98 samples. The samples were analyzed by univariate (frequency distribution) and bivariate (chi-quare test). Relationship analysis done by looking at the p value of significance level α to see the relationship. Of the 98 samples studied, the majority of the accidents was the crash accident type of medical treatment (48%), followed by first aid type of accident (46.9%), and lost time accident (5.1%). The factors causing the alleged cause of the accident with the highest frequency factor insufficient briefing for work (88) and lack of supervision (81). Significantly there are no known factors that are known to be significantly associated with incidence of occupational accidents in the PT. XM during the years 2010-2011 (val p> 0.05). Based on the above it should be related to more active management role in the oversight function in particular, to optimize socialization and training related to safety in the workplace, Supervision to practical safety on site also need to enforcing by management to ensure occupational health and safety at all of the works, on the other workers are also expected to participate in creating a safe and healthy workplace, discipline in the using PPE and enhance the application of knowledge of safety on work place Key words: The factors that cause workplace accidents, construction

Read More
T-3650
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erina Wahyu Rahma Wati; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Robiana Modjo, Dani Yudi Susanto
S-7027
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Osaegi Restu Amrulloh; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Dadan Erwandi, Mufti Wirawan, Supandi, Rozzaq Alhanif Islamudin
Abstrak:
Partisipasi pekerja merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan implementasi Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP). Tingkat partisipasi pekerja dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah safety leadership yang diterapkan oleh pimpinan unit kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh gaya safety leadership terhadap partisipasi pekerja dalam implementasi keselamatan pertambangan di PT XYZ. Penelitian menggunakan desain explanatory sequential mixed methods. Tahap kuantitatif dilakukan dengan rancangan cross-sectional terhadap 699 responden yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman dan regresi linear berganda. Tahap kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, focus group discussion, dan telaah dokumen untuk menjelaskan dan memperdalam hasil kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh dimensi safety leadership memiliki hubungan positif dan signifikan dengan partisipasi pekerja, dengan hubungan terkuat pada task-centred leadership (r=0,673; p<0,001). Analisis multivariat menunjukkan bahwa democratic leadership dan task-centred leadership merupakan dua dimensi yang paling berpengaruh terhadap partisipasi pekerja (masing-masing β=0,318 dan β=0,292; p<0,001), diikuti relationship-centred leadership (β=0,187; p=0,004), sedangkan authoritarian leadership tidak berpengaruh signifikan (p=0,168). Model penelitian mampu menjelaskan 48,7% variasi partisipasi pekerja (Adjusted R²=0,487). Hasil pendalaman kualitatif menunjukkan bahwa kejelasan arahan kerja, konsistensi pengawasan keselamatan, komunikasi dua arah, keterlibatan pekerja dalam pengambilan keputusan, dan tindak lanjut terhadap masukan pekerja merupakan faktor yang mendukung peningkatan partisipasi pekerja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa safety leadership berperan penting dalam meningkatkan partisipasi pekerja dalam implementasi keselamatan pertambangan, dengan democratic dan task-centred leadership sebagai dua dimensi yang paling dominan memengaruhi partisipasi pekerja.

Worker participation is a critical factor in the successful implementation of the Mining Safety Management System. The level of worker participation is influenced by various factors, one of which is the safety leadership practiced by supervisors and managers. This study aimed to analyze the influence of safety leadership styles on worker participation in the implementation of mining safety at PT XYZ. An explanatory sequential mixed-methods design was employed. The quantitative phase used a cross-sectional approach involving 699 respondents selected through proportionate stratified random sampling. Data were analyzed using Spearman correlation and multiple linear regression. The qualitative phase was conducted through in-depth interviews, observations, focus group discussions, and document review to explain and enrich the quantitative findings. The results showed that all dimensions of safety leadership were positively and significantly associated with worker participation, with the strongest relationship observed in task-centred leadership (r = 0.673; p < 0.001). Multivariate analysis revealed that democratic leadership and task-centred leadership were the two most influential dimensions affecting worker participation (β = 0.318 and β = 0.292, respectively; p < 0.001), followed by relationship-centred leadership (β = 0.187; p = 0.004), while authoritarian leadership was not significantly associated with worker participation (p = 0.168). The regression model explained 48.7% of the variance in worker participation (Adjusted R² = 0.487). Qualitative findings indicated that clear work instructions, consistent safety supervision, two-way communication, worker involvement in decision-making, and follow-up on worker feedback were key factors supporting increased worker participation. This study concludes that safety leadership plays an important role in enhancing worker participation in mining safety implementation, with democratic and task-centred leadership being the two most dominant dimensions influencing worker participation.
Read More
T-7666
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive