Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40099 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dini Kurniawati; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Ahmad Syafiq, Christa Dewi, Siti Masitoh
Abstrak:

Obesitas merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat, termasuk di Indonesia. Pada anak dan remaja, obesitas dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti genetik, lingkungan, pola makan, dan status sosial ekonomi. Namun, penelitian yang secara khusus mengkaji obesitas pada kelompok usia ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan determinan obesitas pada anak dan remaja di Indonesia menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Desain penelitian ini adalah potong lintang, dengan sampel terdiri dari 115.053 anggota rumah tangga berusia 5–19 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil menunjukkan prevalensi obesitas sebesar 7,9% (95% CI 7,6–8,1). Faktor-faktor yang secara signifikan berhubungan dengan peningkatan risiko obesitas meliputi: jenis kelamin laki-laki [AOR 1,56; 95% CI 1,451–1,678], pendidikan ibu tinggi [AOR 1,197; 95% CI 1,106–1,296], ibu bekerja [AOR 1,14; 95% CI 1,063–1,223], tinggal di perkotaan [AOR 1,27; 95% CI 1,176–1,370], status ekonomi teratas [AOR 1,791; 95% CI 1,548–2,032], aktivitas fisik rendah [AOR 1,534; 95% CI 1,230–1,913], konsumsi makanan olahan lebih dari satu kali sehari [AOR 1,27; 95% CI 1,009–1,242], serta konsumsi buah dan sayur minimal satu porsi per hari [AOR 1,142; 95% CI 1,060–1,227]. Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi promosi kesehatan yang menargetkan faktor-faktor tersebut penting untuk mencegah dan mengendalikan obesitas pada anak dan remaja di Indonesia.

Obesity is a global health problem with a steadily increasing prevalence, including in Indonesia. Among children and adolescents, obesity is influenced by various factors such as genetics, environment, dietary patterns, and socioeconomic status. However, research specifically focusing on obesity within this age group remains limited. This study aims to examine the prevalence and determinants of obesity among children and adolescents in Indonesia using data from the 2023 Indonesia Health Survey (SKI). A cross-sectional study design was employed, with a total sample of 115,053 household members aged 5–19 years who met the inclusion and exclusion criteria. The results showed an obesity prevalence of 7.9% (95% CI: 7.6–8.1). Factors significantly associated with increased obesity risk included: male gender [AOR 1.56; 95% CI: 1.451–1.678], higher maternal education [AOR 1.197; 95% CI: 1.106–1.296], working mothers [AOR 1.14; 95% CI: 1.063–1.223], urban residence [AOR 1.27; 95% CI: 1.176–1.370], highest socioeconomic status [AOR 1.791; 95% CI: 1.548–2.032], low physical activity [AOR 1.534; 95% CI: 1.230–1.913], consumption of processed food more than once a day [AOR 1.27; 95% CI: 1.009–1.242], and fruit and vegetable intake of at least one portion per day [AOR 1.142; 95% CI: 1.060–1.227]. These findings underscore the importance of targeted health promotion interventions addressing these factors to prevent and control obesity among children and adolescents in Indonesia.  


 

Read More
T-7372
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Miftahun Najah; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Kemal Nazaruddin Siregar, Rico Kurniawan, Sudibyo Alimoeso, Yeni
Abstrak: Gangguan pertumbuhan pada awal kehidupan termasuk stunting berdampak negatif jangka panjang pada banyak aspek kehidupan. Kelahiran ”4 Terlalu” diduga berisiko gangguan pertumbuhan dini. Tujuan penelitian ini adalah untuk  menyediakan bukti baru keterkaitan antara kelahiran “4 Terlalu” dan risiko stunting menurut SKI 2023. Metode penelitian ini kuantitatif-analitik dengan desain cross sectional. Sumber data SKI 2023 dengan populasi keluarga balita, jumlah sampel sebesar 61870 responden. Analisis data menggunakan uji chi-square, regresi logistik sederhana dan berganda complex sample. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan antara “4 Terlalu” meliputi kelahiran wanita terlalu muda (< 20 tahun), terlalu dekat (jarak kehamilan < 24 bulan), terlalu banyak (paritas >=4) terhadap stunting dan stunting berat. Lebih lanjut, kelahiran dari wanita terlalu muda (< 20 tahun) berisiko lebih tinggi stunting [(AOR=1,24(95%CI=1,07 – 1,44)] setelah dikontrol status ekonomi, kelahiran dari wanita terlalu muda (< 20 tahun) berisiko lebih tinggi stunting berat [(AOR=1,65(95%CI=1,27 – 2,15)] setelah dikontrol tinggi badan dan LILA wanita dan kelahiran terlalu banyak [AOR=0,88 (95%CI=0,78 – 0,99)] berisiko lebih rendah stunting berat setelah dikontrol wilayah. Diperlukan kampanye edukasi perencanaan kehamilan sehat sebelum pra-konsepsi bagi calon pengantin dan remaja putri memanfaatkan peer-educator khusus di daerah replecement rate tinggi dan prevalensi stunting tinggi, peningkatan akses dan kualitas layanan KB serta penguatan intervensi gizi dengan memperkuat implementasi program makan bergizi gratis bagi wanita hamil dan menyusui.
Early life growth disorders, including stunting, have long-term negative impacts on many aspects of life. The birth of "4 Too" is thought to be at risk of disrupting early life growth. The purpose of this study was to provide new evidence of the association between the birth of "4 Too" and the risk of stunting according to SKI 2023. This research method is quantitative-analytical with a cross-sectional design. The data source is SKI 2023 with a population of toddler families; the number of samples is 61870 respondents. Data analysis using the chi-square test, simple logistic regression, and complex multiple samples. The results of the study showed that there was a relationship between "4 Too", including the birth of a mother who is too young (<20 years), too close (birth spacing <24 months), too many (parity >=4) to stunting and severe stunting. Furthermore, births from mothers who are too young (<20 years) have a higher risk of stunting [(AOR=1.24(95%CI=1.07 - 1.44)] after controlling for economic status, births from too young mothers (<20 years) have a higher risk of severe stunting [(AOR=1.65(95%CI=1.27 - 2.15)] after controlling for maternal height and MUAC and too many births [AOR=0.88 (95%CI=0.78 - 0.99)] lower risk of severe stunting after controlling for region. A pre-conception healthy pregnancy planning education campaign is needed for prospective brides and young women utilizing special peer educators in areas with high replacement rates and high stunting prevalence, increasing access to and quality of family planning services, and strengthening nutritional interventions by strengthening the implementation of makan bergizi gratis (MBG) program for pregnant and lactating women.
Read More
T-7288
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gita Maharani; PembimbingL: Milla Herdayati; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Dion Zein Nuridzin
Abstrak:
Latar Belakang.  Kabupaten Bogor merupakan salah satu daerah di Jawa Barat dengan beban kasus TB tertinggi yang dilaporkan pada Tahun 2022 yaitu berjumlah 15.433 kasus serta prevalensi yang mencapai 413/100.000 penduduk. Hal ini menunjukan upaya penurunan prevalensi TB di daerah Jawa Barat masih kurang baik. Metode. Metode yang digunakan meliputi uji korelasi Spearman dan analisis spasial overlay terhadap data sekunder tahun 2022 dari 40 kecamatan di Kabupaten Bogor. Variabel yang dianalisis meliputi proporsi tenaga kesehatan, rasio puskesmas cakupan imunisasi BCG, proporsi penduduk miskin, pendidikan rendah, PHBS, balita gizi buruk, kepadatan penduduk, pengelolaan air dan makanan, pengelolaan sampah, serta kualitas udara dalam rumah tangga. Kesimpulan. Variabel yang memiliki hubungan signifikan secara statistik dengan kasus TB adalah penduduk miskin (R = 0.492) (P = 0.001). Sementara variabel lain menunjukkan korelasi lemah dan tidak signifikan. Analisis spasial overlay mengungkapkan pola sebaran TB yang cenderung tinggi di wilayah dengan kombinasi kerentanan sosial dan lingkungan yang juga tinggi, seperti Jonggol, Sukaraja, dan Parung.


Background. Bogor regency is one of the regions in West Java with the highest reported TB burden in 2022, totaling 15,433 cases with a prevalence of 413 per 100,000 population. Indicating that TB prevalence reduction efforts in West Java remain suboptimal. Methods. This study employed Spearman correlation test and spatial overlay analysis on secondary data from 2022, covering 40 sub-districts in Bogor Regency. The analyzed variables included the proportion of healthcare workers, ratio of health facilities, BCG immunization coverage, proportion of poor population, low education levels, PHBS, malnourished children, population density, hygienic management of water and food, household waste management, and indoor air quality. Conclusion. The variable significantly associated with TB cases was the proportion of poor population (R = 0.492; P = 0.001) The spatial overlay analysis revealed that TB distribution tended to be higher in areas with a combination of high social and environmental vulnerability, such as Jonggol, Sukaraja, and Parung.
Read More
S-12142
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Farhan Ramadhan; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Trisari Anggondowati, Kamaluddin Latief
Abstrak:
Peningkatan prevalensi diabetes melitus melitus tipe 2 (DMT2) yang disertai dengan peningkatan angka kematian akibat komplikasi menjadi tantangan besar bagi kesehatan masyarakat di berbagai negara termasuk di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir. Kondisi DMT2 tidak terkendali meningkatkan risiko komplikasi pada penderita DMT2. Penelitian terdahulu di Indonesia menunjukkan proporsi DMT2 tidak terkendali sebesar 67%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko DMT2 tidak terkendali di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang dengan jumlah sampel sebanyak 553 orang. Penelitian menggunakan data sekunder hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Hasil penelitian ini menunjukkan proporsi DMT2 tidak terkendali sebesar 77,8%. Kurang aktivitas fisik (PR 1,24; 95% CI 1,00-1,53), konsumsi makanan tinggi gula (PR 1,44; 95% CI 1,10-1,89), dan konsumsi makanan tinggi lemak (PR 1,49; 95% CI 1,10-2,00) berhubungan dengan meningkatnya risiko DMT2 tidak terkendali. Penelitian ini menunjukkan bahwa DMT2 tidak terkendali merupakan masalah yang perlu ditangani lebih lanjut. Modifikasi gaya hidup seperti meningkatkan aktivitas fisik dan diet rendah gula serta lemak perlu dilakukan dalam upaya menurunkan angka DMT2 tidak terkendali.

The increasing prevalence of type 2 diabetes mellitus (T2DM) accompanied by an increase in the number of deaths due to complications has become a major challenge for public health in various countries including Indonesia in recent decades. Uncontrolled T2DM increases the risk of complications in people with T2DM. Previous research in Indonesia has shown that the proportion of uncontrolled T2DM is 67%. This study aims to determine the risk factors for uncontrolled T2DM in Indonesia. This study used a cross-sectional study design with a sample size of 553 people. The study used secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). The results of this study showed that the proportion of uncontrolled T2DM was 77.8%. Lack of physical activity (PR 1.24; 95% CI 1.00-1.53), consumption of high-sugar foods (PR 1.44; 95% CI 1.10-1.89), and consumption of high-fat foods (PR 1.49; 95% CI 1.10-2.00) were associated with increasing uncontrolled T2DM. This study shows that uncontrolled T2DM is a problem that needs to be addressed further. Lifestyle modifications such as increasing physical activity and a low-sugar and low-fat diet need to be done in an effort to reduce the number of uncontrolled DMT2.

Read More
T-7350
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sabila Nur Lailiah; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Trisari Anggondowati, Retno Henderiawati
Abstrak:
Penelitian terkait premature mortality yaitu kematian usia 30-70 tahun akibat PTM di Indonesia masih terbatas. Penelitian bertujuan menganalisis tren premature mortality akibat 4NCD, meliputi kardiovaskular (CVD), kanker, diabetes, dan respirasi kronis (CRD) di DKI Jakarta tahun 2020-2024 menggunakan desain potong lintang berdasarkan data sekunder Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Analisis univariat mengkaji tren premature mortality 4NCD berdasarkan distribusi umur, jenis kelamin, wilayah domisili, dan laporan fasilitas kesehatan. Hasil penelitian menyatakan premature mortality 4NCD diakibatkan CVD (78%), diabetes (17%), kanker (14%), dan CRD (9%). Kematian CVD disebabkan blok penyakit jantung lain (47,4%) dan serebrovaskular (19,4%). Kanker ganas primer di lokasi spesifik (88,7%), DM tipe 2 (77%). Kematian CRD didominasi blok penyakit lain pada sistem pernapasan (34%) dan penyakit pernapasan bawah kronis (27,8%). Premature mortality tertinggi terjadi di usia dewasa paruh baya (49%), lansia muda (46%), dan dewasa muda (5%). Kematian laki-laki (58%) lebih tinggi daripada perempuan (42%). Domisili angka kematian tertinggi terjadi di Jakarta Timur (30%), Jakarta Selatan (19%), Jakarta Utara (17%), dengan sumber laporan tertinggi puskesmas (56%). Kasus kematian tidak spesifik menggambarkan tantangan proses surveilans yang akurat. Penelitian ini menitikberatkan vitalitas kualitas data sebagai penunjang intervensi dan kebijakan yang efektif dan tepat sasaran dalam mengurangi morbiditas dan mortalitas PTM.


Research related to premature mortality, deaths aged 30-70 years due to NCDs in Indonesia, is still limited. This study aims to analyze the trend of premature mortality due to 4NCD, including CVD, cancer, diabetes, and CRD in DKI Jakarta in 2020-2024 using a cross-sectional design based on secondary data from DKI Jakarta Health Department. Univariate analysis examined 4NCD premature mortality trends based on age distribution, gender, domicile area, and health facility reports. The results showed 4NCD premature mortality was caused by CVD (78%), diabetes (17%), cancer (14%), and CRD (9%). CVD mortality due to other heart disease (47.4%) and cerebrovascular (19.4%). Site-specific primary malignant cancer (88.7%), type 2 DM (77%). CRD mortality by other respiratory system disease block (34%) and chronic lower respiratory disease (27.8%). Premature mortality was highest in middle-aged adults (49%), young elderly (46%), young adults (5%). Male mortality (58%) was higher than female mortality (42%). Domicile of death was highest in East Jakarta (30%), South Jakarta (19%), North Jakarta (17%), the highest source of report being puskesmas (56%). Unspecified death cases illustrate the challenges of accurate surveillance processes. This study emphasizes the vitality of data quality to support effective and targeted interventions and policies in reducing morbidity.
Read More
S-12141
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zumardi Agus; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Ascobat Gani, Dumilah Ayuningtyas, Emirald Isfihan, Zakiah
Abstrak:

Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan di dunia, Negara Indonesia menempati peringkat kedua kasus TB terbanyak di dunia. Provinsi Jawa Barat menempati peringkat satu kasus TB terbanyak di Indonesia dan Kota Depok menempati peringkat 10 besar kasus TB di Provinsi Jawa Barat. Pemerintah Kota Depok telah membentuk inovasi Kampung Peduli Tuberkulosis (KAPITU) sebagai wadah komunikasi antara masyarakat, lintas program dan lintas sektor dalam melakukan penanggulangan tuberkulosis melalui kegiatan penemuan, pendampingan pengobatan, dan sosialisasi tuberkulosis. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana implementasi kebijakan Kampung Peduli Tuberkulosis yang sudah dijalankan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek input (sumber daya manusia, anggaran, fasilitas, kebijakan), aspek proses (komunikasi, disposisi, struktur birokrasi), serta aspek output (hasil implementasi KAPITU) sudah berjalan baik di Kelurahan Mampang dan Suka Maju Baru. Implementasi KAPITU sempat tidak berjalan pada Kelurahan Sawangan Baru dan Sawangan Lama karena adanya pergantian petugas dan petugas yang pindah kerja. Pada Kelurahan Cilodong dan Pasir Putih masih kurangnya sumber daya manusia, tidak tersedianya anggaran, belum optimalnya komunikasi dan disposisi sehingga menyebabkan implementasi KAPITU belum berjalan optimal. Selanjutnya faktor lingkungan sosial, ekonomi, dan politik juga mempengaruhi implementasi KAPITU. Kesimpulan implementasi KAPITU yang berjalan dengan baik berbanding lurus dengan capaian indikator program TB yang juga baik. Kelurahan yang menunjukkan implementasi program KAPITU yang baik, seperti Mampang dan Suka Maju Baru, memiliki capaian yang lebih baik, Selanjutnya Kelurahan Sawangan Baru dan Sawangan Lama juga menunjukkan adanya peningkatan capaian program setelah satgas KAPITU mulai berjalan kembali. Kelurahan yang belum mengimplementasikan KAPITU dengan baik, seperti Cilodong dan Pasir Putih, juga menunjukkan capaian program TB yang belum baik.


Tuberculosis is still a health problem in the world, Indonesia ranks second in the world  for the most TB cases. West Java Province ranks first in the number of TB cases in  Indonesia and Depok City ranks in the top 10 for TB cases in West Java Province. The  Depok City Government has formed the Kampung Peduli Tuberkulosis (KAPITU)  innovation as a means of communication between the community, across programs and  across sectors in preventing and controlling tuberculosis through discovery activities,  treatment assistance, and tuberculosis socialization. This study aims to analyze how the  implementation of the Kampung Peduli Tuberkulosis policy has been carried out. This  study uses qualitative methods and data collection is carried out through in-depth  interviews and document reviews. The results of the study indicate that the input aspects  (human resources, budget, facilities, policies), process aspects (communication,  disposition, bureaucratic structure), and output aspects (results of KAPITU  implementation) have been running well in Mampang and Suka Maju Baru Sub-districts.  The implementation of KAPITU was not running in Sawangan Baru and Sawangan Lama  Sub-districts due to changes in officers and officers who moved jobs. In Cilodong and  Pasir Putih Sub-districts, there was still a lack of human resources, unavailability of  budget, suboptimal communication and disposition, which caused the implementation of  KAPITU to not run optimally. Furthermore, social, economic, and political  environmental factors also influenced the implementation of KAPITU. The conclusion is  that the implementation of KAPITU that is running well is directly proportional to the  achievement of TB program indicators which are also good. Sub-districts that show good  implementation of the KAPITU program, such as Mampang and Suka Maju Baru, have  better achievements. Furthermore, Sawangan Baru and Sawangan Lama Sub-districts  also show an increase in program achievements after the KAPITU task force started  operating again. Sub-districts that have not implemented KAPITU properly, such as  Cilodong and Pasir Putih, also show poor achievement of TB program indicators.

Read More
T-7314
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alfian Wahyu Utama; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Baiduri Widanarko, Mufti Wirawan, Muthia Ashifa, Bimo Prasetyo
Abstrak:
Sektor industri konstruksi merupakan salah satu sektor yang memiliki risiko tertinggi terkait keselamatan dan kesehatan kerja. Tingkat kematangan budaya keselamatan dari suatu proyek dan lokasi kerja memiliki peran penting untuk terciptanya budaya kerja yang aman sehingga risiko kecelakaan kerja dapat diminimalisir dan dicegah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kematangan budaya keselamatan di salah satu proyek PT. T yang merupakan proyek ekspansi pabrik pembuatan pelumas desesuaikan dengan konsep safety culture , serta menganalis bagaimana budaya keselamatan diterapkan antara karyawan direct dan indirect, karyawan Main contractor dan karyawan subcontractor, antara karyawan dengan rentan usia dibawah 25 tahun dan karyawan dengan rentan usia diatas 25 tahun dan karyawan dengan masa kerja kurang dari 1 tahun dan karyawan dengan masa kerja lebih dari 1 tahun spesifik di proyek. Penelitian dilakukan secara kuantitatif dengan desain cross-sectional, menggunakan kuisioner, terhadap sampel 273 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Profil tingkat penerapan budaya keselamatan kerja yang diukur menunjukkan bahwa secara umum, budaya keselamatan di proyek PT. T berada pada tingkat baik dengan level generative. Tingkat kematangan budaya keselamatan antara karyawan direct dan indirect yang berlokasi di lapangan menunjukkan perbedaan signifikan, sedangkan hasil Analisis terhadap golongan kerja (main contractor dan subcontractor), usia, dan masa kerja tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik. Meskipun dari hasil analisis menyebutkan lokasi kerja sudah di level budaya keselamatan yang generative, dan kategori tersebut menjelaskan bahwa lingkungan kerja positif, pekerja harus selalu aktif mendukung program-program keselamatan yang sudah diatur oleh organisasi. Selanjutnya, pekerja perlu proaktif dalam mengimplementasi program-program safety culture yang sudah di tetapkan agar angka pencapaian program dapat terlihat dalam statistik. Statistik dan tren keselamatan inilah yang nantinya penting sebagai indikator terhadap penentuan budaya keselamatan yang lebih baik. 

The construction industry is one of the sectors with the highest risks related to occupational safety and health. The maturity level of safety culture at a project and worksite plays a crucial role in establishing a safe working environment, thereby minimizing and preventing work-related accidents. This study aims to assess the safety culture maturity profile at one of PT. T’s projects (specifically the expansion of a lubricant manufacturing plant) based on the safety culture concept. Additionally, the study analyzes how safety culture is implemented among direct and indirect workers, main contractor and subcontractor employees, employees aged under 25 and those over 25, as well as those with less than one year of service and those with more than one year of service at the project site. A quantitative research approach was employed using a cross-sectional design and questionnaire distributed to 273 respondents. The results show that the overall safety culture maturity profile at PT. T’s project is classified as good, falling into the generative level. A significant difference was found in the safety culture maturity level between direct and indirect employees working on site, while analysis of employee group (main contractor vs. subcontractor), age, and length of service showed no statistically significant differences. Although the project was classified as having a generative level of safety culture—indicating a positive work environment—workers are expected to actively support safety programs established by the organization. Furthermore, workers need to be proactive in implementing safety culture initiatives so that program achievements are reflected in safety statistics. These safety statistics and trends will be essential indicators in shaping and improving future safety culture development.
Read More
T-7323
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aulia Afifah Asmin Sandagang; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Besral, Ujang Lukman
Abstrak:
Berdasarkan Global Adult Tobacco Survey (GATS), prevalensi perokok elektronik di Indonesia meningkat hingga 10 kali lipat dalam kurun waktu 10 tahun. Hasil Riskesdas tahun 2018 juga menunjukkan bahwa remaja adalah kelompok umur tertinggi pada angka perokok elektronik dengan SMA menjadi penyumbang kedua teratas dalam penggunaan rokok elektronik. Provinsi Jawa Barat menunjukkan proporsi konsumen rokok elektronik terbesar kedua di Indonesia. Tingginya penggunaan rokok elektronik di kalangan remaja SMA dan juga menjadi masalah bagi Provinsi Jawa Barat, serta Kota Depok dengan pelaporan tingginya remaja yang merokok. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap remaja SMA “X” Kota Depok dengan Praktik Merokok Elektronik. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan studi cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik stratified random sampling yang diikuti sebanyak 154 responden. Analisis data yang digunakan adalah uji chi square untuk mengetahui hubungan antara variabel kategorik. Hasil penelitian didapatkan bahwa gambaran pengetahuan responden mengenai rokok elektronik termasuk kategori kurang sebesar 82.5%, sikap positif terhadap rokok elektronik sebesar 62.3% dan sebesar 39% responden menggunakan rokok elektronik. Selain itu, tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan (p-value 1.000) dengan praktik merokok elektronik. Namun, ada hubungan yang signifikan antara sikap (p-value 0.0001) dengan praktik merokok elektronik. Oleh karena itu diperlukan kerjasama antara pihak sekolah, Bidang Pembinaan SMA Dinas Pendidikan, dan puskesmas untuk memperkuat kegiatan penyuluhan terkait bahaya rokok elektronik secara intensif sehingga timbul kesadaran terutama kepada remaja agar memandang bahwa rokok elektronik sama berbahayanya dengan rokok konvensional. Disarankan juga bagi SMA “X” Kota Depok mengadakan program peer educator dalam upaya pencegahan penggunaan rokok elektronik.

According to Global Adult Tobacco Survey (GATS), the prevalence of electronic smoking (e-smoking) in Indonesia had escalated tenfold in the past 10 years. The 2018 Riskesdas results also show that adolescents are among the highest age group in the number of e-cigarette smokers, with high school seniors being the second highest contributor of e-cigarette smoking. Research shows that West Java Province itself had contributed as the second-largest proportion of electronic cigarette consumers in Indonesia. The high use of e-cigarettes among high school adolescents is also a problem for West Java Province and Depok City, with reports of high levels of adolescent smoking. The main reason of this study consists of determining the relationship between the knowledge and attitudes of adolescents at SMA "X" in Depok City in the practice of e-smoking. This research uses quantitative methods with a cross-sectional study. Sampling was carried out using a stratified random sampling technique involving 154 respondents. The data analysis used a chi-square test to determine the relationship between categorical variables. Research results showed that the majority of respondents' knowledge regarding e-cigarettes lies in the poor category at 82.5%, proving that many still possess minimum knowledge on this part. Other results include positive attitudes towards e-cigarettes with a number of 62.3%, where around 39% of them smoked e-cigarettes. Apart from that, there was no significant relationship between knowledge (p-value 1.000) and the practice of e-smoking. However, there is a significant relationship between attitude (p-value 0.0001) and the practice of e-smoking. Therefore, cooperation is needed between schools, the Education Department's High School Development Division, and community health centers to intensively strengthen outreach activities related to the dangers of electronic cigarettes in order to raise awareness; especially among adolescents. Electronic cigarettes brings perils just as much as conventional cigarettes do, and it is highly recommended that SMA "X" Depok City hold a peer educator program to prevent the use of e-cigarettes.
Read More
S-11605
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jesslyn Valentina; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Masyitoh, Puput Oktamianti, Anthony Jayaprana, Melanie Vandauli Fabiola
Abstrak:

Latar Belakang: Proses pre-registrasi pasien rawat inap di RS Mayapada Tangerang terdiri dari tiga fase utama, yaitu penerimaan berkas admission, review asuransi, serta konfirmasi jadwal dan persiapan pasien. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi proses pre-registrasi dan mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki guna meningkatkan efisiensi pelayanan dengan.
Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan Lean six sigma dengan metode DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control). Data dikumpulkan melalui observasi langsung, pencatatan waktu proses, dan diskusi kelompok terfokus (FGD) bersama tim terkait. Analisis dilakukan menggunakan Value Stream Mapping (VSM) untuk mengidentifikasi aktivitas bernilai tambah, serta Pareto Analysis dan Problem Tree Analysis untuk menemukan akar penyebab pemborosan dan keterlambatan.
Hasil: Analisis terhadap alur dan capaian waktu proses menunjukkan adanya ketidakefisienan, dengan total waktu mencapai 26 jam 1 menit 48 detik. Proporsi aktivitas bernilai tambah (Value added) tercatat sebesar 71%, sementara 29% lainnya tergolong Non-Value added, dengan pemborosan terbesar terjadi pada fase review asuransi akibat waktu tunggu yang panjang dan aktivitas berulang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi berbasis Lean six sigma efektif dalam meningkatkan efisiensi, ditandai dengan penurunan lead time pada fase post-intervensi. Pada fase I dan II terjadi perbaikan signifikan, seperti penyederhanaan proses konfirmasi DPJP, percepatan verifikasi dokumen, serta pengurangan waktu tunggu pada proses review asuransi.
Kesimpulan: Penerapan Lean six sigma mampu memberikan dampak positif terhadap optimalisasi proses pre-registrasi pasien rawat inap di RS Mayapada Tangerang.


Background        : The inpatient pre-registration process at Mayapada Hospital Tangerang consists of three main phases: admission document submission, insurance review, and confirmation of schedule and patient preparation. This study aims to evaluate the pre-registration process and identify areas that need improvement to enhance service efficiency. Method        : This research uses the Lean six sigma approach with the DMAIC method (Define, Measure, Analyze, Improve, and Control). Data were collected through direct observation, process time tracking, and focus group discussions (FGDs) with relevant teams. The analysis was conducted using Value Stream Mapping (VSM) to identify value-added activities, along with Pareto Analysis and Problem Tree Analysis to determine the root causes of waste and delays. Results        : Analysis of the process flow and time achievements revealed inefficiencies, with a total duration of 26 hours, 1 minute, and 48 seconds. The proportion of Value-Added (VA) activities was recorded at 71%, while the remaining 29% were classified as Non-Value added (NVA), with the most significant waste occurring during the insurance review phase due to long waiting times and repetitive tasks. The results showed that Lean six sigma-based interventions were effective in improving efficiency, as indicated by a reduction in lead time during the post-intervention phase. Significant improvements were observed in Phases I and II, including the simplification of DPJP (attending physician) confirmation, acceleration of document verification, and reduction in waiting time during the insurance review process. Conclusion        : The implementation of Lean six sigma has a positive impact on optimizing the inpatient pre-registration process at Mayapada Hospital Tangerang

 

Read More
B-2526
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rini Fatihatun Nisa; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Dewi Kristanti, Nenden Hikmah Laila
Abstrak:

Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama kematian dini global dan prevalensinya masih tinggi di Indonesia. Obesitas sentral diidentifikasi sebagai faktor risiko yang signifikan terhadap hipertensi, termasuk pada kelompok berisiko tinggi seperti jemaah haji. Analisis ini bertujuan mengetahui risiko obesitas sentral terhadap hipertensi derajat satu pada jemaah haji Provinsi Banten tahun 2024.
Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cros-sectional) pada data Siskohatkes hasil pemeriksaan kesehatan jemaah haji Provinsi Banten tahun 2024 berusia 20-70 tahun dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi (N=4.650). Uji cox regression yang dimodifikasi dilakukan untuk memperoleh Prevalence Ratio (PR) dan 95% CI yang diestimasi dari nilai Hazard Ratio (HR).
Prevalensi hipertensi derajat satu pada jemaah haji provinsi Banten tahun 2024 sebesar 34,37%. Jemaah haji dengan hipertensi derajat satu pada kelompok obesitas sentral lebih tinggi (38,11%) dibandingkan yang tidak obesitas sentral. Setelah dikontrol IMT, obesitas sentral dapat meningkatkan risiko hipertensi derajat satu sebesar 1,12 kali (95% CI: 1,00–1,27). Risiko obesitas sentral terhadap kejadian hipertensi derajat satu pada subpopulasi umur dan jenis kelamin meningkat seiring bertambahnya usia. Dibandingkan laki-laki, risiko obesitas sentral terhadap hipertensi derajat satu pada perempuan terjadi lebih awal di usia muda pada 20-29 tahun, sedangkan pada laki-laki dimulai usia 40-59 lansia.
Obesitas sentral memiliki hubungan signifikan dan meningkatkan risiko hipertensi derajat satu pada jemaah haji Provinsi Banten tahun 2024. Hal ini menegaskan pentingnya deteksi dini dan intervensi obesitas sentral dalam upaya pencegahan hipertensi, khususnya pada populasi berisiko tinggi.

Hypertension is one of the leading causes of premature death globally, and its prevalence remains high in Indonesia. Central obesity has been identified as a significant risk factor for hypertension, including among high-risk groups such as Hajj pilgrims. This study aimed to analyze the association between central obesity and stage 1 hypertension in Hajj pilgrims from Banten Province in 2024. A cross-sectional design was conducted using Siskohatkes RI health examination data from Hajj pilgrims aged 20–70 years in Banten Province in 2024 who met the inclusion and exclusion criteria (N=4,650). A modified Cox regression analysis was conducted to estimate the Prevalence Ratio (PR) and 95% Confidence Interval (CI) derived from the Hazard Ratio (HR). The prevalence of stage 1 hypertension among Hajj pilgrims in Banten Province in 2024 was 34.37%. The proportion of stage 1 hypertension was higher among pilgrims with central obesity (38.11%) compared to those without central obesity. After controlling for Body Mass Index (BMI), central obesity was found to increase the risk of stage 1 hypertension by 1.12 times (95% CI: 1.00–1.27). Central Obesity increases the risk of stage one hypertension with age appearing earlier in younger females and later in pre-elderly males. Central obesity has a significant association with an increased risk of stage 1 hypertension among Hajj pilgrims from Banten Province in 2024. These findings show that the importance of early detection and intervention of central obesity in the prevention of hypertension, especially in high-risk populations.

 

Read More
T-7333
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive