Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36611 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yuniko Ibnu Latif; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dien Anshari, Martya Rahmaniati Makful, Maria Gayatri, Agustin Kusumayati
Abstrak:

Penggunaan kondom di Indonesia masih sangat rendah meskipun tingkat pengetahuan masyarakat terhadap kontrasepsi ini cukup tinggi. Kondisi tersebut juga ditemukan pada kelompok berpendidikan tinggi, termasuk mahasiswa pascasarjana. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran kesetaraan gender, afeksi, dan kognisi terhadap intensi penggunaan kondom pada mahasiswa pria pascasarjana Universitas Indonesia. Penelitian menggunakan desain potong lintang dengan 251 responden yang dipilih melalui teknik sampel sukarela. Data dikumpulkan secara daring menggunakan instrumen Condom Use Attitude Scale (CUAS) dan Gender Equitable Men Scale (GEMS), lalu dianalisis dengan regresi multivariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa afeksi, kognisi, rumpun ilmu, dan status pekerjaan berhubungan signifikan dengan intensi penggunaan kondom. Kesetaraan gender tidak terbukti berhubungan langsung, namun tetap relevan dalam memengaruhi dinamika sikap. Faktor afeksi merupakan prediktor dominan, menegaskan bahwa aspek emosional lebih kuat memengaruhi intensi dibandingkan aspek kognitif. Temuan ini menekankan pentingnya strategi promosi kesehatan reproduksi yang menyeimbangkan pendekatan rasional dan emosional serta mempertimbangkan latar belakang sosial-akademik mahasiswa untuk meningkatkan keterlibatan pria dalam penggunaan kontrasepsi.


Condom use in Indonesia remains very low despite the population’s high level of  knowledge about this contraceptive method. A similar condition is found among highly  educated groups, including postgraduate students. This study aimed to analyze the role  of gender equality, affect, and cognition on condom use intention among male  postgraduate students at Universitas Indonesia. A cross-sectional design was applied,  involving 251 respondents selected through voluntary sampling. Data were collected  online using the Condom Use Attitude Scale (CUAS) and the Gender Equitable Men Scale  (GEMS), and analyzed with multivariable regression. The findings revealed that affect,  cognition, academic discipline, and employment status were significantly associated with  condom use intention. Gender equality was not directly significant but remained relevant  in shaping attitudes. Affect emerged as the dominant predictor, indicating that emotional  factors influence intention more strongly than cognitive aspects. These results highlight  the need for reproductive health promotion strategies that balance rational and  emotional approaches while considering students socio-academic backgrounds to  strengthen male participation in contraceptive use. 

Read More
T-7444
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadya Hanna Talitha Sidabutar; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Pranti Sri Mulyani, Yemima Ester
Abstrak:
Sejak epidemi pertama pada 1980-an, HIV masih menjadi masalah kesehatan global hingga kini. Di Indonesia, epidemi HIV terkonsentrasi di populasi kunci, terutama pada lelaki seks lelaki (LSL). Meskipun prevalensi HIV pada LSL tinggi, masih sangat sedikit hal yang diketahui terkait kelompok LSL usia muda (15-24 tahun) di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan konsistensi penggunaan kondom dengan status HIV setelah dikontrol variabel kovariat pada 1.357 LSL usia muda yang menjadi responden STBP 2018/2019 di 19 kabupaten/kota di Indonesia. Konsistensi penggunaan kondom oleh LSL usia muda di Indonesia sebesar 37,7%. Sebanyak 15% LSL usia muda positif antibodi HIV; angka ini 50 kali lebih besar dari prevalensi HIV nasional di populasi umum. Terdapat hubungan antara konsistensi penggunaan kondom dengan status HIV setelah dikontrol umur (p=0,013). LSL usia muda yang tidak konsisten menggunakan kondom berisiko 1,56 kali untuk terinfeksi HIV dibandingkan LSL yang konsisten menggunakan kondom setelah dikontrol oleh umur (95% CI: 1,1-2,22); dimana LSL berumur 20-24 tahun yang tidak konsisten menggunakan kondom lebih berisiko terinfeksi HIV dibandingkan LSL berumur 15-19 tahun yang tidak konsisten menggunakan kondom. Tindakan segera diperlukan untuk merespon fenomena ini dan mengurangi kontribusi signifikan LSL usia muda terhadap epidemi HIV di Indonesia. Pesan pencegahan HIV harus menekankan bahaya penggunaan kondom tidak konsisten, terutama ketika sering berganti pasangan seksual. Program intervensi HIV yang ditujukan bagi LSL usia muda juga sebaiknya mengeksplorasi sikap mereka terhadap penggunaan kondom, melatih keterampilan bernegosiasi dengan pasangan, menjelaskan cara mengurangi rasa takut/malu dalam membeli serta mengajak pasangan menggunakan kondom, dan mempromosikan tes HIV secara berpasangan.

Since the first epidemic in the 1980s, HIV remains a global health issue today. In Indonesia, the HIV epidemic is concentrated in key populations, particularly among men who have sex with men (MSM). Despite the high prevalence of HIV among MSM, very little is known about young MSM (ages 15-24) in Indonesia. This study aimed to analyze the relationship between condom use consistency and HIV status, controlling for covariates among 1,357 young MSM respondents from the IBBS 2018/2019 in 19 districts/cities in Indonesia. Consistent condom use among young MSM in Indonesia is 37.7%. A total of 15% of young MSM tested positive for HIV antibodies; this rate is 50 times higher than the national HIV prevalence in general population. There is an association between consistent condom use and HIV status after controlling for age (p=0.013). Young MSM who do not consistently use condoms are 1.56 times more likely to be infected with HIV compared to those who do, after controlling for age (95% CI: 1.1-2.22). Among those aged 20-24, inconsistent condom use poses a higher risk of HIV infection compared to those aged 15-19. Immediate action is needed to address this phenomenon and reduce the significant contribution of young MSM to the HIV epidemic in Indonesia. HIV prevention messages must emphasize the dangers of inconsistent condom use, especially with frequent partner changes. HIV intervention programs for young MSM should explore their attitudes towards condom use, train negotiation skills with partners, explain how to reduce fear/shame in purchasing and encouraging partners to use condoms, and promote couple-based HIV testing.
Read More
T-6929
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Risiya Sunarni; Pembimbing: Tiara Amelia; Penguji: Evi Martha, Arustiyono
Abstrak: Penelitian ini menjelaskan tentang gambaran pengetahuan, sikap, dan perilaku penggunaan produk pencerah kulit pada mahasiswa Universitas Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Penelitian ini menggunakan teknik Proportional Stratified Random Sampling yang diikuti sebanyak 200 responden dengan mengisi kuesioner daring berbasis google form. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (10%) mahasiswa UI pernah menggunakan produk pencerah kulit dan (70,5%) menggunakan produk pencerah kulit setahun terakhir. Selain itu, (42,5%) mahasiswa UI memiliki pengetahuan yang rendah tentang kandungan bahan aktif produk pencerah kulit, (61,5%) mahasiswa UI memiliki sikap yang positif yang tinggi terhadap kulit yang cerah cerah dan produk pencerah kulit.
Read More
S-10718
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lisa Maisyurah; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Dien Anshari, Evita Rosdiana Hutapea
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran sikap, norma subjektif, dan intensi mahasiswa S1 reguler Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia tentang pemeriksaan kesehatan pranikah. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif yang bersifat deskriptif. Desan studi penelitian ini adalah cross sectional. Besar proporsi sampel dihitung menggunakan rumus proportionate stratified random sampling. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode simple random sampling. Responden pada penelitian ini berjumlah 294 orang yang mengisi kuesioner menggunakan google form dengan kriteria: mahasiswa S1 reguler FKM UI angkatan 2017-2020 dan belum menikah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 58,8% mahasiswa S1 reguler FKM UI memiliki sikap positif tentang pemeriksaan kesehatan pranikah, 52% mahasiswa S1 reguler FKM UI memiliki norma subjektif yang negatif terhadap pemeriksaan kesehatan pranikah, dan 70,1% mahasiswa S1 reguler FKM UI memiliki intensi yang tinggi untuk melakukan pemeriksaan kesehatan pranikah.
Read More
S-10726
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Wahyuni; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih, Anwar Hassan; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Ratu Nur`aini Solihah, Lilis Qouliyah
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor (faktorpredisposisi yaitu umur, pengetahuan tentang HIV AIDS, sikap terhadappenggunaan kondom, faktor pendukung yaitu keterpaparan program HIV AIDSdan ketersediaan kondom, faktor penguat yaitu adanya kelompok dukungansebaya yang berhubungan dengan praktek penggunaan kondom pada kelompokwaria di Kota Tangerang tahun 2015. Penelitian ini menggunakan desain crosssectional dengan sampel berjumlah 151 waria yang diambil dari seluruh totalsampel dan kuesioner sebagai alat ukur penelitian. Hasil penelitian inimenunjukan bahwa 55,6% responden selalu menggunakan kondom, 56,3%berumur sama dengan 30 tahun, 57,6% berpengetahuan baik, 51,7% bersikapnegatif terhadap penggunaan kondom, 53,6% terpapar program HIV AIDS, 62,3%tersedia kondom, 76,2% ada Kelompok dukungan sebaya. Menurut uji chi squareterdapat 4 variabel yang memiliki hubungan signifikan terhadap praktekpenggunaan kondom pada waria yaitu pengetahuan mengenai HIV AIDS,keterpaparan program HIV AIDS, ketersediaan kondom, dan dukungan kelompoksebaya. Faktor yang paling dominan adalah keterpaparan program HIV AIDSterhadap praktek penggunaan kondom pada waria.Kata kunci : waria, kondom, HIV AIDS
The purpose of this study was to determine the factors (predisposing factors suchas age, knowledge about HIV AIDS, attitudes towards condom use, enablingfactors are exposure to HIV AIDS program and the availability of condoms,reinforcing factor is the existence of peer support groups associated with thepractice of the use of condoms on transsexuals in Tangerang city in 2015. Thisstudy used cross sectional design with a sample totaling 151 transvestites taken ofthe total sample and questionnaire as a measuring tool of the study. The results ofthis study showed that 55.6% of respondents always use a condom, 56.3 % of thesame age to 30 years, 57.6% good knowledge, 51.7% negative attitudes towardcondom use, 53.6% are exposed to HIV AIDS program, 62.3% providedcondoms, 76.2% no peer support groups. According to chi square test there arefour variables that have a significant relation to the practice of condom use ontranssexuals that knowledge about HIV AIDS, exposure to HIV AIDS program,the availability of condoms, and peer support. The most dominant factor is theexposure of HIV-AIDS program to the practice of the use of condoms on atranssexual.Keywords: transvestites, condoms, HIV AIDS
Read More
T-4343
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aulia Anisya; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dian Ayubi, Annisa Marlin Masbar Rus
Abstrak: Latar Belakang: Rokok elektronik saat ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Selama 10 tahun terakhir terdapat peningkatan signifikan pengguna rokok elektronik di Indonesia antara tahun 2011 hingga 2021 yaitu dari 0,3% menjadi 3,0%. Penelitian terdahulu di Universitas Indonesia menunjukkan bahwa frekuensi penggunaan rokok elektronik secara rutin mencapai 50%. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku penggunaan rokok elektronik pada mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan studi cross-sectional. Hasil: Hasil uji chi square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara faktor-faktor jenis kelamin (p=0,021), pengetahuan (p=0,027), perceived susceptibility (p=<0,001), perceived severity (p=<0,001), perceived benefits (p=<0,001), perceived barriers (p=<0,001), self-efficacy (p=<0,001), dan cue to action (p=<0,001) dengan perilaku penggunaan rokok elektronik. Namun pada faktor umur ditemukan tidak ada hubungan yang signifikan (p=0,062). Diskusi: Faktor-faktor dalam Health Belief Model seperti faktor demografi (jenis kelamin dan pengetahuan), perceived susceptibility, perceived severity, benefits, barriers, self-efficacy, dan cue to action terbukti berpengaruh terhadap perilaku penggunaan rokok elektronik pada mahasiswa.
Background: Electronic cigarettes have now become part of the lifestyle. Over the past 10 years, there has been a significant increase in electronic cigarette users in Indonesia between 2011 and 2021, from 0.3% to 3.0%. Previous research at the University of Indonesia showed that the frequency of regular use of electronic cigarettes reached 50%. Objectives: This study aims to analyze the factors associated with electronic cigarette use behavior among students of the Faculty of Engineering, University of Indonesia. Methods: This research uses a quantitative design with a cross-sectional study. Results: The results of the chi-square test showed a significant relationship between the factors of gender (p = 0.021), knowledge (p = 0.027), perceived susceptibility (p = <0.001), perceived severity (p = <0.001), perceived benefits (p = <0.001), perceived barriers (p = <0.001), self-efficacy (p = <0.001), cue to action (p = <0.001) with the behavior of using electronic cigarettes. However, the age factor found no significant relationship (p=0.062). Conclusion: Factors in the HBM such as demographic factors, perceived susceptibility, perceived severity, benefits, barriers, self-efficacy, and cue to action are proven to influence the behavior of using electronic cigarettes in college students. 
Read More
S-11863
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Fadhlan Perdana Vitra; Pembiming: Tri Krianto; Penguji: Rita Damayanti, Muhammad Syaeful Mujab
Abstrak:
Latar Belakang: Kecemasan adalah kondisi psikologis yang ditandai oleh kekhawatiran berlebihan dan ketegangan mendalam, seringkali tanpa pemicu jelas. Fenomena ini menjadi perhatian serius, khususnya di kalangan mahasiswa. Kemunculan tagar Indonesia Gelap di media sosial mencerminkan keresahan publik, terutama generasi muda, terhadap ketidakpastian sosial, politik, dan ekonomi. Kondisi ini dapat memicu tekanan psikologis, termasuk kecemasan. Mahasiswa, sebagai kelompok usia dewasa muda yang aktif di media social. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dan melibatkan 191 responden yang merupakan mahasiswa aktif Universitas Indonesia angkatan 2022 dari berbagai fakultas dan program studi. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik proportional cluster random sampling. Instrumen penelitian terdiri dari tiga kuesioner yaitu persepsi terhadap tagar Indonesia Gelap (disusun peneliti), IUS-12 untuk mengukur intoleransi ketidakpastian, dan skala kecemasan DASS-21. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil.: Mayoritas responden memiliki persepsi negatif terhadap tagar Indonesia Gelap (55 %) dan tingkat intoleransi ketidakpastian yang tinggi (55,5%). Hasil uji bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara persepsi terhadap tagar Indonesia Gelap dengan kecemasan (p = 0,007), intoleransi ketidakpastian dengan kecemasan (p < 0,001) dan kecemasan dengan intoleransi ketidakpastian (p < 0.001) Kesimpulan: Persepsi narasi tagar Indonesia Gelap dan intoleransi ketidakpastian memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kecemasan mahasiswa.


Background: Anxiety is a psychological condition characterized by excessive worry and profound tension, often without a clear trigger. This phenomenon has become a serious concern, particularly among university students. The emergence of the  Indonesia Gelap hashtag on social media reflects public unease, especially among the younger generation, regarding social, political, and economic uncertainty. This situation can trigger psychological distress, including anxiety. University students, as a young adult age group active on social media, are particularly susceptible. Method: This study employed a cross-sectional design and involved 191 active University of Indonesia students from the 2022 cohort, spanning various faculties and study programs. Sampling was conducted using a proportional cluster random sampling technique. Research instruments consisted of three questionnaires: perception towards the Indonesia Gelap hashtag (developed by the researcher), the IUS-12 to measure intolerance of uncertainty, and the DASS-21 anxiety scale. Data were analyzed univariately and bivariately using the chi-square test. Result: The majority of respondents had a negative perception of the Indonesia Gelap hashtag (55%) and a high level of intolerance of uncertainty (55.5%). Bivariate test results showed a significant relationship between perception of the Indonesia Gelap hashtag and anxiety (p = 0.007), intolerance of uncertainty and anxiety (p < 0.001), anxiety and intolerance of anxiety (p < 0.001) Conclusion: Perception of the Indonesia Gelap hashtag narrative and intolerance of uncertainty have a significant relationship with students' anxiety levels.
Read More
S-12081
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sarah Fahira Faza; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Yoslien Sopamena, Ratna Tri Hari Safariningsih
Abstrak:
Penyakit Tidak Menular (PTM), terutama hipertensi dan penyakit kardiovaskular masih menjadi beban utama kesehatan masyarakat di Indonesia. Salah satu upaya yang dapat dilakukan sebagai langkah pencegahan adalah dengan membatasi asupan natrium harian dengan mengurangi konsumsi pangan tinggi natrium. Akan tetapi, kebiasaan konsumsi pangan tinggi natrium pada usia muda (15-24 tahun), termasuk mahasiswa masih tergolong tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pengetahuan dan sikap, serta karakteristik sosiodemografis yang mencakup jenis kelamin, tempat tinggal, dan uang saku dengan praktik konsumsi pangan tinggi natrium pada mahsiswa FKM UI tahun 2026. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian berjumlah 108 mahasiswa dari 4 program studi yang ada di FKM UI (Kesehatan Masyarakat, Kesehatan Lingkungan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Gizi) yang dipilih menggunakan teknik quota sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan realibilitasnya. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan praktik (p=0,123). Namun, terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara sikap dengan praktik konsumsi pangan tinggi natrium (p=0,037). Karakteristik sosiodemografis berupa jenis kelamin tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan praktik konsumsi pangan tinggi natrium (p=0,442). Sementara karakteristik sosiodemografis berupa tempat tinggal memiliki hubungan signifikan secara statistik dengan praktik konsumsi pangan tinggi natrium (p=0,013). Karakteristik sosiodemografis berupa uang saku tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan praktik konsumsi pangan tinggi natrium (p=0,053). Berdasarkan hasil tersebut, diketahui bahwa sikap dan tempat tinggal berhubungan dengan praktik konsumsi pangan tinggi natrium pada mahasiswa FKM UI tahun 2026. Oleh karena itu, diperlukan upaya intervensi berbasis sikap, bukan sekedar edukasi pengetahuan, yang berfokus pada penguatan motivasi internal, persepsi risiko jangka pendek, dan pembentukan lingkungan yang supportif untuk mengurangi konsumsi pangan tinggi natrium.

Non-communicable diseases (NCDs), particularly hypertension and cardiovascular disease, remain a major public health burden in Indonesia. One preventive measure that can be undertaken is limiting daily sodium intake by reducing the consumption of highsodium foods. However, the habit of consuming high-sodium foods among young people aged 15–24 years, including university students, remains relatively high. This study aims to analyze the relationship between knowledge and attitudes, as well as sociodemographic characteristics including sex, place of residence, and allowance, with high-sodium food consumption practices among students of the Faculty of Public Health, Universitas Indonesia (FKM UI), in 2026. This study employed a cross-sectional design with a quantitative approach. The research sample consisted of 108 students from four study programs at FKM UI (Public Health, Environmental Health, Occupational Health and Safety, and Nutrition), selected using quota sampling. Data were collected through a questionnaire that had been tested for validity and reliability. Data analysis employed univariate and bivariate analyses using the chi-square test. The results indicated no significant relationship between knowledge and consumption practices (p=0.123). However, a statistically significant relationship was found between attitudes and highsodium food consumption practices (p=0.037). The sociodemographic characteristic of sex showed no significant relationship with high-sodium food consumption practices (p=0.442), whereas place of residence demonstrated a statistically significant relationship (p=0.013). Allowance showed no significant relationship with high-sodium food consumption practices (p=0.053). Based on these findings, it is evident that attitudes and place of residence are associated with high-sodium food consumption practices among FKM UI students in 2026. Therefore, attitude-based intervention strategies are required, rather than mere knowledge education, with a focus on strengthening internal motivation, short-term risk perception, and the creation of a supportive environment to reduce highsodium food consumption.
Read More
S-12303
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Firda Azizah Ahmad; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Dien Anshari, Syarah Desvania
Abstrak:
Latar belakang: Pemerintah DKI Jakarta melakukan berbagai upaya untuk mengatasi HIV/AIDS melalui berbagai inisiatif: layanan tes HIV, pengobatan PrEP, dan kondom gratis. LSL di wilayah ini masih menghadapi tantangan dalam mengakses kondom gratis. Perilaku berganti-ganti pasangan melalui aplikasi meningkatkan risiko hubungan seksual tanpa kondom, yang berpotensi menyebabkan penularan HIV/AIDS yang lebih tinggi. Penelitian ini membahas faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pencegahan HIV/AIDS, khususnya konsistensi penggunaan kondom pada LSL di DKI Jakarta. Metode: Studi cross-sectional melalui kuesioner pada bulan November 2023 melibatkan 208 responden, mengetahui konsistensi penggunaan kondom, pengetahuan tentang HIV, dan persepsi pencegahan HIV/AIDS. Pengetahuan terkait HIV dinilai dengan menggunakan kuesioner HIV-K18 dan teori Health Belief Model. Menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan p-value <0,05 dianggap signifikan. Hasil: Di antara 189 responden yang memenuhi syarat, tingkat seks aman dengan menggunakan adalah 54,5%. Responden yang memiliki persepsi keparahan (p-value 0,035), persepsi manfaat (p-value 0,006), persepsi hambatan (p-value 0,039), dan efikasi diri (p-value 0,015) yang lebih tinggi lebih cenderung menerapkan perilaku seks aman menggunakan kondom. Kesimpulan: Sebagian besar LSL di DKI Jakarta masih berisiko tinggi terinfeksi HIV/AIDS karena tidak menerapkan perilaku seks aman. Pemerintah perlu merancang program edukasi yang lebih spesifik dan relevan dengan konteks LSL, serta memastikan distribusi kondom gratis yang mudah diakses untuk mengatasi masalah ini.

Background: Despite the Jakarta government's efforts to address HIV/AIDS through various initiatives: HIV testing services, availability of PrEP treatment, and distribution of free condoms. MSM in the region still face challenges in accessing free condoms. The common practice of changing partners through applications increases the risk of unprotected sexual encounters, potentially leading to higher HIV/AIDS transmission. This study examined the factors influencing HIV/AIDS prevention behaviour, specifically condom use among MSM in DKI Jakarta. Methods: A cross-sectional survey was conducted in November 2023 with 208 respondents to assess condom use consistency, HIV knowledge, and perceptions of HIV/AIDS prevention. HIV-related knowledge was assessed using the HIV-K18 questionnaire and the Health Belief Model theory. Univariate and bivariate analyses were used and p-value < 0,05 was considered significant. Result: Among the 189 qualified respondents, the rate of safe sex with the use of a condom was 54.5%. Participants with higher scores on perceived susceptibility (p-value 0,035), perceived benefit (p-value 0,006), perceived barrier (p-value 0,039) and self-efficacy (p-value 0,015) were more likely to report adopting safe sex by using condoms. Conclusion: A significant number of MSM in DKI Jakarta remain at high risk of HIV/AIDS infection due to unsafe sex. The government should design more specific and contextualised education programmes for MSM and ensure that free condoms are easily accessible to address this public health concern.
 
Read More
S-11516
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Fitriani; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dien Anshari, Ika Malika
Abstrak:
Ide bunuh diri menjadi salah satu komponen penting dalam memprediksi upaya bunuh diri serta diasumsikan sebagai indikator dari masalah kesehatan mental lainnya. Mahasiswa salah satu kelompok yang rentan memiliki ide bunuh diri dikarenakan adanya tekanan hidup dan sumber stres lainnya. Peranan coping styles menjadi penting bagi individu dalam menghadapi masalah dalam hidupnya. Tujuan penelitian mengetahui hubungan antara coping styles (problem-focused coping, emotion-focused coping, dan avoidant coping) dengan ide bunuh diri pada mahasiswa program sarjana di Universitas Indonesia. Desain penelitian kuantitatif Cross-Sectional dengan data primer melalui Kobo ToolBox didapatkan sejumlah 570 responden mahasiswa dari 14 fakultas. Pengumpulan data dengan metode Incidental sampling dan Quota Sampling. Alat ukur Brief COPE dipakai untuk mengukur coping styles dan Beck Scale for Suicide Ideation untuk mengukur ide bunuh diri. Dari hasil uji statistik Spearman Correlation menunjukkan ada hubungan antara problem-focused coping (r = -0,453, p<0,05), emotion-focused coping (r = -0,210, p<0,05), dan avoidant coping (r = 0,593; p<0,05) dengan ide bunuh diri pada pada mahasiswa program sarjana di Universitas Indonesia. Arah hubungan negatif pada problem-focused coping dan emotion-focused coping dengan ide bunuh diri, sedangkan avoidant coping memiliki hubungan positif. Semakin sering mahasiswa menggunakan problem-focused coping dan emotion-focsed coping akan semakin rendah ide bunuh diri yang dimiliki. Serta, semakin sering penggunaan avoidant coping akan semakin tinggi ide bunuh diri yang dimiliki. Maka itu, peneliti merekomendasikan mahasiswa untuk mengkombinasikan penggunaan problem-focused coping dan emotion-focused coping yang adaptif ketika mengatasi tekanan hidup dibandingkan avoidant coping atau penghindaran terhadap masalah.

Suicidal ideation is essential in predicting suicide attempts, also assumed to be an indicator of other mental health problems. Undergraduate students are one of the groups most vulnerable to suicidal ideation due to life pressures and other sources of stress. Coping styles is a crucial role for individuals in dealing with life problems. The aim of this study is to examine the relationship between coping styles (problem-focused coping, emotion-focused coping, and avoidant coping) with suicidal ideation on undergraduate students at University of Indonesia. This study using quantitative cross-sectional design with distributed online questionnaires via Kobo ToolBox to collected 570 student respondents from 14 faculties. The sampling techniques used are incidental sampling and quota sampling. The Brief COPE was used to measurement coping styles, and the Beck Scale for Suicide Ideation was used to measurement suicidal ideation. The result of study using Spearman correlation statistical tests indicated coping styles significantly correlated between problem-focused coping (r = -0.453, p<0.05), emotion-focused coping (r = -0.210, p<0.05), and avoidant coping (r = 0.593, p<0.05) with suicidal ideation on undergraduate students at University of Indonesia. Problem-focused coping and emotion-focused coping has negative correlation with suicidal ideation, inverse avoidant coping has a positive correlation. The more frequently students use problem-focused coping and emotion-focused coping, the lower their suicidal ideation. Conversely, the more frequently avoidant coping is used, the higher the suicidal ideation. Recommendation that undergraduate students to combine the use of adaptive problem-focused coping and emotion focused coping when dealing with life pressures rather than resorting to avoidant coping.
Read More
S-11635
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive