Ditemukan 35135 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Akbar Hanifanur Prayitno; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Hendrick Warman, Sarah Safira
Abstrak:
Read More
Paparan panas kerja (heat stress) merupakan risiko penting pada pekerjaan teknisi menara telekomunikasi, terutama pada aktivitas luar ruang yang terpapar panas lingkungan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh paparan panas kerja yang diukur dengan Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) terhadap tingkat dehidrasi yang diukur melalui urine specific gravity (USG), serta mengevaluasi peran suhu tubuh sebagai respons fisiologis dalam hubungan WBGT–USG. Penelitian menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) pada pekerja PT X yang mencakup teknisi menara (outdoor) dan pekerja kantor (indoor) sebagai pembanding, dengan total 76 responden; analisis indikator inti WBGT–suhu tubuh–USG dilakukan pada 67 responden dengan data lengkap (9 responden tidak lengkap). Hasil menunjukkan perbedaan paparan panas yang jelas antara kelompok: rerata WBGT outdoor 30,3°C (rentang 28,80–31,50°C) dan indoor 22,04°C (rentang 21,70–23,80°C), dengan perbedaan bermakna (p < 0,001). Suhu tubuh pekerja outdoor lebih tinggi (rerata 37,14°C) dibanding indoor (36,74°C) dan perbedaannya sangat bermakna (p < 0,001). Status hidrasi menunjukkan rerata USG keseluruhan 1,0146 (rentang 1,005–1,030); kelompok outdoor memiliki USG lebih tinggi (1,0157) dibanding indoor (1,0128) dan perbedaan rerata bermakna (p = 0,012). Mayoritas responden berada pada kategori dehidrasi ringan (USG 1,010–1,020) sebesar 92,5%. Pada analisis regresi linear, setiap kenaikan WBGT 1°C diikuti kenaikan USG sekitar 0,00059 (p < 0,001), mengindikasikan bahwa peningkatan paparan panas berasosiasi dengan meningkatnya kepekatan urin. Analisis mediasi menunjukkan efek total WBGT terhadap USG signifikan, namun jalur suhu tubuh → USG setelah mengontrol WBGT tidak bermakna; dengan demikian, peran suhu tubuh sebagai mediator dinyatakan eksploratif dan belum memberikan bukti mediasi yang kuat. Kesimpulannya, paparan panas kerja yang lebih tinggi berasosiasi dengan peningkatan kepekatan urin (USG) pada pekerja, terutama pada kelompok outdoor, sehingga diperlukan pengendalian paparan panas dan manajemen hidrasi yang lebih sistematis pada pekerjaan menara telekomunikasi.
Occupational heat exposure (heat stress) is an important risk in telecommunication tower technician work, especially for outdoor activities directly exposed to environmental heat. This study aimed to analyze the effect of workplace heat exposure measured by the Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) on dehydration level measured by urine specific gravity (USG), and to evaluate the role of body temperature as a physiological response in the WBGT–USG relationship. A cross-sectional design was conducted among PT X workers, including outdoor tower technicians and indoor office workers as a comparison group, with a total of 76 respondents; the core WBGT–body temperature–USG analysis was performed on 67 respondents with complete data (9 had incomplete data). The results showed a clear difference in heat exposure between groups: the mean outdoor WBGT was 30.3°C (range 28.80–31.50°C) and the mean indoor WBGT was 22.04°C (range 21.70–23.80°C), with a significant difference (p < 0.001). Outdoor workers had a higher mean body temperature (37.14°C) than indoor workers (36.74°C), and the difference was highly significant (p < 0.001). Hydration status showed an overall mean USG of 1.0146 (range 1.005–1.030); the outdoor group had a higher USG (1.0157) than the indoor group (1.0128), and the mean difference was significant (p = 0.012). Most respondents were classified as mildly dehydrated (USG 1.010–1.020), accounting for 92.5%. In linear regression analysis, each 1°C increase in WBGT was associated with an approximately 0.00059 increase in USG (p < 0.001), indicating that higher heat exposure is associated with more concentrated urine. Mediation analysis showed that the total effect of WBGT on USG was significant, but the body temperature → USG pathway after controlling for WBGT was not significant; therefore, the mediating role of body temperature was considered exploratory and did not provide strong evidence of mediation. In conclusion, higher occupational heat exposure is associated with increased urine concentration (USG), particularly among outdoor workers, highlighting the need for systematic heat-exposure control and hydration management in telecommunication tower work.
T-7469
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Muhammad Iqbal; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Windi; Hendra
Abstrak:
Sektor ketenagalistrikkan menjadi salah satu pekerjaan yang berisiko dengan gangguan akibat paparan tekanan panas. Tekanan panas terjadi akibat dari kombinasi faktor-faktor lingkungan kerja, faktor-faktor pekerjaan dan faktor-faktor individu. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional yang dilakukan pada bulan Maret-Juni 2022 dengan 58 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa apparent temperature yang dihasilkan berkisar antara 26oC - 42oC, dengan kelembaban relatif berkisar antara 38,1% hingga 58,2% dan dry bulb antara 24,8oC hingga 37,7oC. Setelah dinilai dengan menggunakan basic thermal risk assessment ditemukan bahwa mayoritas responden tergolong ke dalam kategori low- moderate yaitu 28 responden (48,3%), kemudian very high sebanyak 15 responden (43,1%) dan high sebanyak 5 responden (8,6%). Hasil pengukuran menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara faktor individu yaitu usia, indeks massa tubuh, ketersediaan air minum, status aklimatisasi dan status kesehatan dengan tingkat risiko heat stress (nilai p <0,05). Berdasarkan hal tersebut, perusahaan disarankan untuk melakukan upaya lebih lanjut untuk pengendalian tekanan panas berupa pengendalian teknik, pengendalian administratif dan juga personal untuk meminimalisasi risiko heat stress.
The electricity sector is one of the riskiest jobs with disruptions due to exposure to heat stress. Heat stress occurs as a result of a combination of work environment factors, work factors and individual factors. This study is a quantitative study with a cross-sectional study design conducted in March-June 2022 with 58 respondents. The results showed that the apparent temperature ranged from 26oC - 42oC, with relative humidity ranging from 38.1% to 58.2% and dry bulb between 24.8oC to 37.7oC. After being assessed using a basic thermal risk assessment, it was found that the majority of respondents belonged to the low-moderate category, namely 28 respondents (48.3%), then very high as many as 15 respondents (43.1%) and high as many as 5 respondents (8.6% ). The measurement results show that there is no significant relationship between individual factors, namely age, body mass index, availability of drinking water, acclimatization status and health status with the level of risk of heat stress (p value <0.05). Based on this, the company is advised to make further efforts to control heat stress in the form of technical control, administrative control and also personal control to minimize the risk of heat stress.
Read More
The electricity sector is one of the riskiest jobs with disruptions due to exposure to heat stress. Heat stress occurs as a result of a combination of work environment factors, work factors and individual factors. This study is a quantitative study with a cross-sectional study design conducted in March-June 2022 with 58 respondents. The results showed that the apparent temperature ranged from 26oC - 42oC, with relative humidity ranging from 38.1% to 58.2% and dry bulb between 24.8oC to 37.7oC. After being assessed using a basic thermal risk assessment, it was found that the majority of respondents belonged to the low-moderate category, namely 28 respondents (48.3%), then very high as many as 15 respondents (43.1%) and high as many as 5 respondents (8.6% ). The measurement results show that there is no significant relationship between individual factors, namely age, body mass index, availability of drinking water, acclimatization status and health status with the level of risk of heat stress (p value <0.05). Based on this, the company is advised to make further efforts to control heat stress in the form of technical control, administrative control and also personal control to minimize the risk of heat stress.
S-11101
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Novriadi Kurniawan; Pembimbing: Syahrul Meizar Nasri; Penguji: Chandra Satrya, Rusbani Kurniawan, Priyo Djatmiko
Abstrak:
Indonesia merupakan daerah tropis yang sering mengalami musim kemarau panjang dan panas telah dianggap bahaya yang umum dan harus dihadapi oleh masyarakat. Beberapa masalah kesehatan yang dapat timbul akibat panas yaitu dehidrasim heat syncope, heat exhaustion hingga heat stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pajanan heat stress pada pekerjerja di PT N pada tahun 2019 melaui penilaian keluhan subjektif yang dialami pekerja dengan menggunakan desain cross-sectional. Data dikumpulkan melalui 2 cara yaitu primer dan sekunder. Hasil analisis menunjukan pekerja pada area pengukuran memiliki beban kerja ringan dan sedang sebesar 42.9% dan 57.1%. Pekerja di PT N juga termasuk pada pola kerja 75%-100% dan koreksi pakaian ± 0. Umur pekerja yg menjadi responden lebih banyak diisi oleh pekerja dengan umur dari 35 tahun sebesar 61%. IMT pekerja juga terdapat beberapa responden dengan IMT berlebih sebesar 29.9%. Beberapa responden tidak pernah mendapatkan pelatihan atau materi mengenai heat stress sebesar 63.6% dan tingkat konsumsi air kurang dari 4 liter sebesar 70.1%. Responden mengalami keluhan kerja ringan dengan persentase 97,4% dan 2 orang dengan keluhan subjektif berat. Hampir disemua area pengukuran melampui nilai ambang batas, namun tidak begitu besar. Kedua responden dengan keluhan subjektif berat dianalissi melalui data karakteristiknya dan dikeathui bahwa kedua responden mengkonsumsi air kurang dari 4 liter dan berumur cukup tua yaitu 44 tahun dan 54 tahun. Sangat disarankan untuk melakukan beberapa tindakan pengendalian seperti engineering control dan pengendalian administrasi untuk mengurangi pajanan dan mengindari munculnya heat strain pada pekerja di PT N.
Read More
T-5747
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ida Ayu Indira Dwika Lestari; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Agung Suranto
Abstrak:
PT American Standard Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak di bidang sanitary manufactur yang memproduksi peralatan sanitasi seperti closetdan wastafel. Salah satu tahapan produksinya yaitu pencetakan (casting) sertapembakaran yang suhunya dapat mencapai 20000C. Hasil menunjukkan indeks WBGT in rata-rata area Kiln dan Cast Shop antara 30.710C-33.80C dengan polakerja pekerja 50%-75% serta beban kerja yang masuk dalam katagori sedang halini dapat menyebabkan pekerja mengalami heat stress. Heat stress dapatdipengaruhi oleh faktor suhu lingkungan yang tinggi, kelembaban, kecepatan angin, pola kerja, beban kerja, serta pakaian kerja. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain penelitian cross-sectional. Penelitian ini bertujuan untuk mengethuipengendalian heat stres yang telah dilakukan perusahaan terhadap pekerja di areaKiln dan Cast shop di PT American Standard Indonesia. Hasil Penelitian berupaanalisis faktor penyebab heat stress dan pengendalian heat stress yang telahdilakukan di area Kiln dan Cast Shop PT American Standard Indonesia serta evaluasi terhadap program pengendalian yang telah dilakukan. Kata Kunci : Evaluasi Pengendalian, Heat Stress
PT American Standard Indonesia is a company engaged in the field ofsanitary manufactur -producing sanitary equipment, such as closets and sinks. Oneof the stages of production that is printing ( casting ) as well as the combustiontemperature can reach 20000C . Results showed WBGT index in the average areabetween Kiln and Cast Shop 30.710C - 33.80C with work patterns 50 % -75 % ofworkers as well as the workload in the category of being this may cause workersto experience heat stress. Heat stress can be influenced by high ambienttemperatures, humidity, wind speed, work patterns, workload, and work clothes.This study is a descriptive cross-sectional study design. This study aims todetermine heat stress control company that has been done in the area of workersand Kiln Cast shop in PT American Standard Indonesia . Research results formthe analysis of the causes of heat stress and heat stress control has been done inthe area of Kiln and Cast Shop PT American Standard Indonesia and evaluation ofcontrol programs that have been carried out.Keywords: Evaluation control, Heat Stress
Read More
PT American Standard Indonesia is a company engaged in the field ofsanitary manufactur -producing sanitary equipment, such as closets and sinks. Oneof the stages of production that is printing ( casting ) as well as the combustiontemperature can reach 20000C . Results showed WBGT index in the average areabetween Kiln and Cast Shop 30.710C - 33.80C with work patterns 50 % -75 % ofworkers as well as the workload in the category of being this may cause workersto experience heat stress. Heat stress can be influenced by high ambienttemperatures, humidity, wind speed, work patterns, workload, and work clothes.This study is a descriptive cross-sectional study design. This study aims todetermine heat stress control company that has been done in the area of workersand Kiln Cast shop in PT American Standard Indonesia . Research results formthe analysis of the causes of heat stress and heat stress control has been done inthe area of Kiln and Cast Shop PT American Standard Indonesia and evaluation ofcontrol programs that have been carried out.Keywords: Evaluation control, Heat Stress
S-8154
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Tri Indra Adithia; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Erdy Techrisna Satyadi, Marina Kartikawati
Abstrak:
Kondisi pekerjaan yang tidak nyaman dapat menimbulkan stres pada pekerja sehingga mempengaruhi kesejahteraan pekerja dan meningkatkan gejala kecemasan dan depresi. Stres yang dialami oleh pekerja dipengaruhi oleh hubungan beberapa faktor seperti faktor psikososial, faktor pekerjaan, lingkungan kerja dan individu pekerja. Gangguan kesehatan terkait dengan stres diantaranya adalah penyakit hipertensi, penyakit kardiovaskular, penyakit maag, musculoskeletal symptoms. PT. XYZ merupakan perusahaan yang bergerak di bidang logistik pangan. Tingginya intensitas pekerjaan di PT. XYZ yang melebihi batas kemampuan pekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya dapat menimbulkan stres kerja. Stres kerja seringkali tidak menjadi perhatian dari pihak manajemen perusahaan karena pencapaian yang utama adalah target yang diusahakan oleh pekerja untuk memenuhi target perusahaan, sehingga dapat mengakibatkan bahaya yang serius bagi keselamatan dan kesehatan pekerja. Dalam penelitian ini, peneliti berupaya mencari faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada pekerja di perusahaan logistik pangan. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data langsung melalui survey dengan menggunakan kuisioner. Kuesioner yang telah melewati uji validasi dan reliabiliti digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja yaitu faktor psikososial (organisasi dan budaya kerja, hubungan interpersonal, kepemimpinan, pengembangan karir dan manajemen), faktor pekerjaan (desain kerja, waktu istirahat, beban kerja, kontrol pekerjaan dan bidang pekerjaan), faktor fisik lingkungan kerja dan faktor individu (umur, jenis kelamin, status perkawinan, masa kerja dan gaya hidup). Hasil penelitian dengan analisis statistik multivariat regresi linier ganda faktor yang paling dominan menunjukkan bahwa stres kerja berdasarkan indikator emosi yaitu Organisasi dan Budaya Kerja (p value = 0,004 & B = 0,24), stres kerja berdasarkan indikator fisik yaitu Lingkungan Kerja (p value = 0,01 & B = 0,19) dan stres kerja berdasarkan indikator perilaku yaitu Gaya Hidup Tidak Sehat (p value = 0,00 & B = 0,27).
Read More
T-5697
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mochammad Faried Karesya; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdham; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Abdul Kadir, Marina Kartikawati, Hairuddin Bangun Prasetyo
Abstrak:
Read More
Tingginya dampak fisiologis akibat tekanan panas telah terjadi pada pekerja Proyek Jabodebek LRT Depo Jatimulya salah satunya adalah gangguan pada fungsi organ tertentu dalam tubuh (heat related illness) dimana pekerja mengeluhkan cuaca panas jika di siang hari yang menyebabkan 7 (tujuh) pekerja diantaranya pusing dan 3 (tiga) pekerja lainnya mengeluhkan cepat haus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tekanan panas dan keluhan subjektif pada pekerja proyek LRT Jabodebek Depo Jatimulya, baik outdoor (area lintasan) maupun indoor (OCC Building) sebanyak 185 responden. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan menggunakan desain studi cross sectional dan menggunakan data sekunder yang dikumpulkan selama periode Agustus-Desember 2021. Hasil penelitian didapatkan bahwa mayoritas responden bekerja dengan nilai WBGT lebih dari NAB (67,0%) dan mengalami keluhan subyektif berat (73,5%). Dimana variabel temperatur udara (p-value = 0,000), kelembaban udara (p-value = 0,000), beban kerja (p-value = 0,001), pakaian kerja (p-value = 0,001), dan indeks tekanan panas (p-value = 0,000), memiliki hubungan yang signifikan dengan keluhan subyektif. Sedangkan kecepatan aliran udara (p-value = 0,240) tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan keluhan subyektif. Didukung dengan hasil pemodelan akhir, bahwa variabel indeks tekanan panas merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan keluhan subyektif (OR 4,191). Diharapkan kedepannya perusahaan melakukan pengendalian teknik, pengendalian administratif, dan pengendalian personal, untuk meminimalisir risiko kejadian keluhan subyektif kepada para pekerja.
Heat stress has had a large physiological impact on workers in Jabodebek Depo Jatimulya Light Rail Transit (LRT) Construction Project, one of which is a disruption in the function of certain organs in the body, where workers complain of hot weather during the day, which leads 7 (seven) workers had dizziness and 3 (three) other workers complain of thirst. The purpose of this study is to examine the association between workers' subjective complaints due to heat exposure among 185 workers, both outdoors and indoors. This study is quantitative research using a cross-sectional study design, secondary data gathered between August and December 2021. The results showed that the majority of respondents worked with WBGT values of more than threshold values (67.0%) and experienced severe subjective complaints (73.5%). The air temperature (p-value = 0,000), air humidity (p-value = 0,000), workload (p-value = 0.001), workwear (p-value = 0.001), and heat pressure index (p-value = 0,000) have a significant relationship with subjective complaints, while the velocity of air flow (p-value = 0.240) does not. It is supported by the results of the final modeling that the heat pressure index variable is the most dominant factor related to subjective complaints (OR 4,191). It is hoped that in the future, the corporation will implement technical, administrative, and personal controls to reduce the likelihood of subjective complaints from employees
T-6571
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ade Purnama Ning Cahya; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Hendra, Suningrat
Abstrak:
Skripsi ini membahas tingkat konsentrasi debu PM2,5 dan keluhan saluran pernapasan pada pekerja di PT. X Plant Kasablanka Tahun 2016. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif. Hasil penelitian menyarankan bahwa PT. X Plant Kasablanka dengan uji statistik yang tidak ditemukan hubungan antara kadar PM2,5 dengan keluhan pernafasan, namun perlu dilakukan evaluasi terhadap kesehatan pekerjaan dan pencegahan terhadap timbulnya gangguan kesehatan yang disebabkan bahan-bahan kimia berbahaya dikarenakan kadar PM2,5 yang tinggi pada dua area di tempat kerja PT. Ready Mix Plant Kasablanka. Pekerja dengan keluhan pernafasan lebih banyak dari pada yang tidak ada keluhan, usia para pekerja yang kebanyakan lebih dari 30 tahun, yang merupakan usia yang rentan dengan gangguan saluran pernafasan, banyak pekerja yang memiliki masa kerja lebih dari 6 bulan dan terpapar > 8 jam perhari dan banyaknya keluhan pernafasan pada pekerja yang tidak menggunakan masker. Pengendalian terhadap bahaya faktor-faktor yang ada atau timbul dilingkungan kerja dimaksudkan untuk menciptakan atau memelihara lingkungan kerja agar tetap sehat dan aman atau memenuhi persyaratan kesehatan dan norma keselamatan, sehingga tenaga kerja terbebas dari ancaman gangguan kesehatan dan keamanan atau tenaga kerja tidak menderita akibat kerja dan tidak mendapatkan kecelakaan kerja. Kata Kunci: Partikulat PM2,5, Industri ready mix, keluhan saluran pernapasan This thesis discuss dust concentration levels of PM2,5 and respiratory tract complaints for worker at PT. X Plant Kasablanka year 2016. this study is quantitative research with the descriptive design. The result of study suggest that PT. X Plant Kasablanka statistical test that no relationship was found between the levels of PM2,5 with respiratory complaints, but need to be evaluated and to the health of the job and the prevention of the onset of health problems caused by harmful chemicals due to high levels of PM2,5 in two areas workplace PT. Ready Mix Plant Kasablanka. Workers with respiratory complaints more than that no complaints, the age of the workers were mostly over 30 years, which is a vulnerable age with respiratory disorders, many workers who have a work period of more than 6 months and exposed to > 8 hours per day and, the number of respiratory symptoms in workers who are not wearing masks. Control of the danger factors that exist or arise in the work environment is intended to create or maintain a working environment in order to remain healthy and safe or meets the requirements of health and safety norms, so that labor is free from the threat of disruption of health and safety or workers do not suffer as a result of the work and do not get a work accident. Key Word: Particulate PM2,5, Industry ready mix, respiratory tract complaints
Read More
S-9311
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Refiani Fitri Ardiyanti; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Afid Yusthi Ghozali
Abstrak:
Read More
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan pada pekerja di PT X. Iklim keselamatan mencerminkan persepsi pekerja terhadap komitmen dan praktik keselamatan di lingkungan kerja, sementara perilaku keselamatan mencerminkan tindakan nyata pekerja dalam mendukung keselamatan kerja. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disusun berdasarkan indikator iklim keselamatan dan perilaku keselamatan, yang masing-masing diukur menggunakan skala ordinal. Responden penelitian ini adalah seluruh pekerja bagian produksi di PT X. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif yang kuat antara iklim keselamatan dan perilaku keselamatan (ρ = 0,551). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi persepsi pekerja terhadap iklim keselamatan, maka semakin baik pula perilaku keselamatan yang ditunjukkan. Temuan ini menegaskan pentingnya membangun iklim keselamatan yang positif sebagai strategi untuk meningkatkan perilaku keselamatan di tempat kerja.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan pada pekerja di PT X. Iklim keselamatan mencerminkan persepsi pekerja terhadap komitmen dan praktik keselamatan di lingkungan kerja, sementara perilaku keselamatan mencerminkan tindakan nyata pekerja dalam mendukung keselamatan kerja. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disusun berdasarkan indikator iklim keselamatan dan perilaku keselamatan, yang masing-masing diukur menggunakan skala ordinal. Responden penelitian ini adalah seluruh pekerja bagian produksi di PT X. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif yang kuat antara iklim keselamatan dan perilaku keselamatan (ρ = 0,551). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi persepsi pekerja terhadap iklim keselamatan, maka semakin baik pula perilaku keselamatan yang ditunjukkan. Temuan ini menegaskan pentingnya membangun iklim keselamatan yang positif sebagai strategi untuk meningkatkan perilaku keselamatan di tempat kerja.
S-11992
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Adhelina Zulfiana; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Aulia Rahmi
Abstrak:
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan fatigue pada pekerja wanita di PT. X. Penelitian ini dilakukan pada bulan juni-juli 2021 dengan melibatkan 5 orang pekerja dari PT. X yaitu 2 orang pekerja di bagian manajemen dan 3 orang pekerja di bagian produksi. Desain penelitian yang digunakan adalah desain studi deskriptif kualitatif dengan pengambilan data berupa data primer yang dilakukan dengan wawancara mendalam dan data sekunder dari PT.X. Faktor risiko fatigu yang diteliti terdiri dari faktor risiko terkait kerja dan faktor risiko tidak terkait kerja.
Read More
S-10680
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Agfa Al-Latief Hadi Putra; Pembimbing:Dadan Erwandi; Penguji: Mila Tejamaya, Chairul Sabat
Abstrak:
Read More
Seiring dengan berkembangnya teknologi, kini pegawai dituntut untuk bekerja dan menghabiskan sebagian waktunya duduk fokus memandang komputer dan menggunakan mouse. Penggunaan komputer memiliki risiko ergonomic yang apabila dilakukan secara terus menerus dapat menyebabkan masalah kesehatan salah satunya gangguan muskoloskeletal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara risiko ergonomi dengan gangguan muskoloskeletal pada pekerja kantoran di PT. X. Metode yang digunakan adalah desain studi cross sectional dengan menggunakan instrument penelitian berupa Nordic Body Map dan Rapid Office Strain Assessment (ROSA). Penelitian ini dilakukan kepada 48 pekerja kantoran di PT. X. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini yaitu usia, jenis kelamin, masa kerja, tingkat risiko ergonomi, dan keluhan muskoloskeletal dengan analisis univariat, dan bivariat. Dari 48 responden didapatkan 39 orang mengalami keluhan muskoloskeletal dengan keluhan terbanyak ada pada bagian leher atas, punggung, dan pinggang. Hasil penelitian menunjukan tidak adanya hubungan antara risiko ergonomi dengan usia, masa kerja dan jenis kelamin (p-value=1). Akan tetapi, terdapat hubungan yang berarti antara risiko ergonomic dengan gangguan muskoloskeletal (p-value=0,039).
Along with the development of technology, employees are now required to work and spend some of their time sitting focused on looking at computers and using mouse. The use of computers has ergonomic risks which if done continuously can cause health problems, one of which is musculoskeletal disorders. This study aims to analyze the relationship between ergonomic risks and musculoskeletal disorders in office workers at PT. X. The method used is a cross-sectional study design using research instruments in the form of Nordic Body Map and Rapid Office Strain Assessment (ROSA). This research was conducted on 48 office workers at PT. X. The variables studied in this study were age, gender, length of service, level of ergonomic risk, and musculoskeletal complaints with univariate, and bivariate analysis. From 48 respondents, 39 people experienced musculoskeletal complaints with the most complaints in the upper neck, back, and waist. The results showed no relationship between ergonomic risk with age, length of service and gender (p-value = 1). However, there was a significant association between ergonomic risk and musculoskeletal disorders (p-value = 0.039).
S-11380
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
