Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 44112 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ahmad Saepu Bahril Ulum; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Puput Oktamianti, Laksmi Damaryanti
Abstrak:
Gagal ginjal kronis (GGK) merupakan penyakit kronik yang memerlukan pengobatan jangka panjang dan menimbulkan beban biaya kesehatan yang tinggi, khususnya dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Beban biaya tersebut berpotensi meningkat apabila pasien GGK disertai dengan komorbiditas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis cost of illness kasus gagal ginjal kronis dengan dan tanpa komorbiditas pada peserta JKN di Indonesia tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Data yang digunakan merupakan data sekunder sampel BPJS Kesehatan tahun 2024 yang merepresentasikan pelayanan kesehatan peserta JKN tahun 2023. Populasi penelitian adalah seluruh peserta JKN dengan diagnosis gagal ginjal kronis, baik dengan maupun tanpa komorbiditas. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan komparatif terhadap biaya pelayanan rawat jalan dan rawat inap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien gagal ginjal kronis merupakan pasien dengan komorbiditas. Kelompok usia terbanyak berada pada rentang usia 45–64 tahun. Biaya pelayanan rawat jalan relatif rendah dan stabil, sedangkan biaya rawat inap menunjukkan variasi yang lebih besar. Perbedaan yang signifikan ditemukan pada lama rawat inap antara pasien GGK dengan dan tanpa komorbiditas, sementara perbedaan biaya total tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan komorbiditas tidak selalu meningkatkan biaya pelayanan kesehatan per episode pada pasien gagal ginjal kronis. Oleh karena itu, pengelolaan penyakit kronik secara terintegrasi serta penguatan upaya promotif dan preventif perlu terus ditingkatkan untuk menekan beban biaya pelayanan GGK dalam sistem JKN.

Chronic kidney disease (CKD) is a chronic condition that requires long-term treatment and imposes a substantial financial burden on the healthcare system, particularly within Indonesia’s National Health Insurance (JKN) scheme. This burden may increase when CKD patients have comorbid conditions. This study aimed to analyze the cost of illness of chronic kidney disease with and without comorbidities among JKN participants in Indonesia in 2023.  This study employed a cross-sectional design with a quantitative approach. The data used were secondary sample data from BPJS Kesehatan in 2024, representing healthcare services for JKN participants in 2023. The study population consisted of all JKN participants diagnosed with chronic kidney disease, both with and without comorbidities. Data analysis was conducted descriptively and comparatively to assess outpatient and inpatient healthcare costs.  The results showed that the majority of CKD patients had comorbidities, with the largest proportion found in the 45–64 age group. Outpatient costs were relatively low and stable, while inpatient costs showed greater variation. A significant difference was observed in the length of hospital stay between CKD patients with and without comorbidities, whereas total healthcare costs did not show a statistically significant difference.  In conclusion, the presence of comorbidities does not always lead to higher healthcare costs per episode among CKD patients. Therefore, strengthening integrated chronic disease management as well as promotive and preventive efforts is essential to reduce the financial burden of CKD within the JKN system.
Read More
S-12176
[s.l.] : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Savira Zain Laeli; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Laksmi Damaryanti
Abstrak:
Gagal Ginjal Kronik merupakan penyakit katastropik yang progresif dan irreversible dengan beban biaya tinggi dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran biaya serta faktor-faktor yang mempengaruhi biaya pelayanan kesehatan penyakit GGK di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain studi non-eksperimental kuantitatif yang dengan data sekunder dari data sampel BPJS Kesehatan tahun 2024. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat non-parametrik menggunakan uji Spearman, Mann-Whitney, dan Kruskal wallis dengan total sampel sebanyak 22.619 peserta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total beban biaya pelayanan GGK di DKI Jakarta tahun 2023 sebesar Rp555.265.832.525 dengan biaya per peserta sebesar Rp3.250.400. Variabel jenis kelamin laki-laki, usia 15-59 tahun, status perkawinan belum kawin, segmentasi kepesertaan PBI APBN, hak kelas rawat II, frekuensi RJTL, frekuensi RITL, dan lama hari rawat memiliki hubungan atau perbedaan median yang signifikan terhadap biaya pelayanan kesehatan (p-value<0,001). Kesimpulannya, seluruh variabel yang diteliti menunjukkan hubungan atau perbedaan median yang signifikan terhadap biaya pelayanan kesehatan penyakit GGK pada peserta JKN di Provinsi DKI Jakarta tahun 2023.


Chronic Kidney Disease (CKD) is a progressive and irreversible catastrophic illness with a high financial burden in the National Health Insurance (JKN) program. This study aims to describe the cost and identify factors affecting healthcare costs for CKD services among JKN participants in DKI Jakarta Province in 2023. This research employed a non-experimental quantitative design using secondary data from the 2024 BPJS Kesehatan sample dataset. Data were analyzed using univariate and non-parametric bivariate tests, including Spearman, Mann-Whitney, and Kruskal-Wallis tests, with a total sample of 22,619 participants. The results showed that the total healthcare expenditure for CKD in DKI Jakarta in 2023 was IDR 555,265,832,525, with an average cost per participant of IDR 3,250,400. The variables of male gender, age 15–59 years, unmarried status, PBI APBN membership segment, class II inpatient rights, frequency of outpatient and inpatient visits, and length of stay were significantly associated with differences in healthcare costs (p-value < 0.001). In conclusion, all studied variables showed a statistically significant relationship or difference in median costs for CKD healthcare services among JKN participants in DKI Jakarta in 2023.
Read More
S-12034
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Savira Zain Laeli; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Laksmi Damaryanti
Abstrak:
Gagal Ginjal Kronik merupakan penyakit katastropik yang progresif dan irreversible dengan beban biaya tinggi dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran biaya serta faktor-faktor yang mempengaruhi biaya pelayanan kesehatan penyakit GGK di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain studi non-eksperimental kuantitatif yang dengan data sekunder dari data sampel BPJS Kesehatan tahun 2024. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat non-parametrik menggunakan uji Spearman, Mann-Whitney, dan Kruskal wallis dengan total sampel sebanyak 22.619 peserta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total beban biaya pelayanan GGK di DKI Jakarta tahun 2023 sebesar Rp555.265.832.525 dengan biaya per peserta sebesar Rp3.250.400. Variabel jenis kelamin laki-laki, usia 15-59 tahun, status perkawinan belum kawin, segmentasi kepesertaan PBI APBN, hak kelas rawat II, frekuensi RJTL, frekuensi RITL, dan lama hari rawat memiliki hubungan atau perbedaan median yang signifikan terhadap biaya pelayanan kesehatan (p-value<0,001). Kesimpulannya, seluruh variabel yang diteliti menunjukkan hubungan atau perbedaan median yang signifikan terhadap biaya pelayanan kesehatan penyakit GGK pada peserta JKN di Provinsi DKI Jakarta tahun 2023.


Chronic Kidney Disease (CKD) is a progressive and irreversible catastrophic illness with a high financial burden in the National Health Insurance (JKN) program. This study aims to describe the cost and identify factors affecting healthcare costs for CKD services among JKN participants in DKI Jakarta Province in 2023. This research employed a non-experimental quantitative design using secondary data from the 2024 BPJS Kesehatan sample dataset. Data were analyzed using univariate and non-parametric bivariate tests, including Spearman, Mann-Whitney, and Kruskal-Wallis tests, with a total sample of 22,619 participants. The results showed that the total healthcare expenditure for CKD in DKI Jakarta in 2023 was IDR 555,265,832,525, with an average cost per participant of IDR 3,250,400. The variables of male gender, age 15–59 years, unmarried status, PBI APBN membership segment, class II inpatient rights, frequency of outpatient and inpatient visits, and length of stay were significantly associated with differences in healthcare costs (p-value < 0.001). In conclusion, all studied variables showed a statistically significant relationship or difference in median costs for CKD healthcare services among JKN participants in DKI Jakarta in 2023.
Read More
S-12087
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salsabila Meirinsyah; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Amila Megraini
Abstrak:
Penyakit kardiovaskuler atau yang lebih dikenal dengan istilah Cardio Vascular Disease (CVD) merupakan kelompok penyakit yang berhubungan dengan jantung dan pembuluh darah. Kematian di Indonesia yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler mencapai 651.481 penduduk per tahun. Prevalensi penyakit jantung di Indonesia berdasarkan diagnosis dokter adalah 0,85%, dengan Provinsi DI Yogyakarta memiliki angka tertinggi sebesar 1,67%. Dengan biaya untuk pelayanan kesehatan penyakit kardiovaskuler dan penyakit katastropik sangat besar. Penelitian ini bertujuan untuk Menganalisis dan mengetahui nilai besaran rata-rata Cost of Illness pada pasien kardiovaskular serta faktor-faktor yang mempengaruhi Cost of Illness peserta JKN khususnya di wilayah Provinsi DI Yogyakarta berdasarkan Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2022. Penelitian dilakukan dengan pendekatan Cross Sectional menggunakan data sampel BPJS Kesehatan tahun 2022 dengan pelayanan kardiovaskular sesuai inklusi dan eksklusi. Terdapat beberapa karakteristik peserta yang memiliki hubungan yang signifikan dengan Cost of Illness Peserta JKN dengan pelayanan kardiovaskular adalah variabel lama hari rawat, jenis kepemilikan FKTP dan jumlah kunjungan FKTP.  Variabel yang paling dominan berhubungan dengan Cost of Illness  pada pelayanan kardiovaskular adalah lama hari rawat . Berdasarkan hasil analisis pada Odds Ratio (OR), peserta yang dirawat lebih dari 3 hari memiliki kemungkinan 9.597 kali lebih besar dibandingkan peserta yang tidak dirawat (0 Hari). Penguatan program promotif dan preventif di FKTP bisa mengurangi total biaya per peserta yang tinggi. Langkah ini bertujuan untuk mendeteksi dan menangani lebih awal.

Cardiovascular disease (CVD) refers to a group of disorders affecting the heart and blood vessels. In Indonesia, cardiovascular diseases cause approximately 651,481 deaths annually. The prevalence of heart disease based on doctor diagnoses is 0.85%, with D.I. Yogyakarta Province recording the highest prevalence at 1.67%. The healthcare costs associated with cardiovascular and catastrophic diseases are notably high. This study aims to analyze and determine the average Cost of Illness (COI) for cardiovascular patients and identify the factors influencing COI among JKN participants in D.I. Yogyakarta Province, based on BPJS Kesehatan sample data from 2022. The research employed a cross-sectional approach using BPJS Kesehatan sample data from 2022, focusing on cardiovascular services that met inclusion and exclusion criteria. The findings revealed several participant characteristics significantly associated with COI, including the length of hospital stay, the type of FKTP ownership, and the number of FKTP visits. Among these factors, the length of hospital stay was the most dominant variable affecting COI for cardiovascular services. According to the Odds Ratio (OR) analysis, participants hospitalized for more than three days were 9.597 times more likely to incur high costs compared to those who were not hospitalized (0 days). Strengthening promotive and preventive programs at FKTP could help reduce the high per-participant costs by enabling early detection and intervention.
Read More
S-11846
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Made Della Riskita Dewi; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Mardiati Nadjib, Reza Rahman
Abstrak:

Penelitian ini menganalisis Cost of Illness (COI) peserta JKN dengan penyakit kanker serviks di Indonesia dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Desain penelitian yang digunakan adalah studi observasional deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Data Sampel BPJS Kesehatan dan Data Upah Rata-Rata per Jam menurut Provinsi Tahun 2022-2023. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling sehingga sampel merupakan seluruh peserta JKN dengan penyakit kanker serviks di Indonesia sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa total Cost of Illness peserta JKN dengan penyakit kanker serviks adalah sebesar Rp105.507.876.365 dengan rata-rata COI per peserta adalah sebesar Rp4.582.340. Nilai COI tersebut belum termasuk dengan klaim obat terpisah yang dibayarkan BPJS Kesehatan diluar paket INA-CBG. Faktor usia, status perkawinan, segmentasi kepesertaan, hak kelas rawat, jumlah kunjungan RJTL, jumlah kunjungan RITL, lama hari perawatan, dan tingkat keparahan berpengaruh signifikan secara statistik terhadap Cost of Illness. Hasil penelitian ini menggambarkan beban ekonomi yang disebabkan oleh penyakit kanker serviks sehingga program deteksi dini sangat penting untuk dilakukan demi tercapainya efisiensi biaya kesehatan.


This study analyzed the Cost of Illness (COI) of JKN participants with cervical cancer in Indonesia and the factors that influence it. The research design used was a descriptive observational study with a cross sectional approach. The data used in this study are BPJS Kesehatan Sample Data and Average Hourly Wage Data by Province in 2022-2023. The sampling technique used total sampling so that the sample was all JKN participants with cervical cancer in Indonesia according to the specified inclusion and exclusion criteria. The result of this study indicates that the total Cost of Illness of JKN      participants with cervical cancer is Rp105.507.876.365 with an average COI per participant of Rp4.582.340. The COI value doesn’t include separate drug claims paid by BPJS Kesehatan outside the INA-CBG package. The factors of age, marital status, membership segmentation, class of care, number of RJTL visits, number of RITL visits, length of treatment days, and severity have a statistically significant effect on the Cost of Illness. The results of this study illustrate the economic burden caused by cervical cancer so that early detection programs are very important to do in order to achieve health cost efficiency. 

Read More
S-11950
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aghata Fisca Fatya Prasasti; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Kurnia Sari, Laksmi Damaryanti
Abstrak:
Penelitian ini membahas terkait analisis utilisasi dan biaya pelayanan kesehatan pasien diabetes mellitus (DM) pada peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Provinsi DKI Jakarta berdasarkan Data Sampel BPJS Kesehatan Tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode pengumpulan data melalui rancangan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel penelitian ini menggunakan total sampling dari sampel seluruh data peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Provinsi DKI Jakarta dengan diagnosis penyakit diabetes mellitus (DM). Data sampel menunjukkan bahwa dari populasi 46.348 peserta, 3.598 di antaranya mengidap diabetes mellitus (DM). Hasil penelitian diperoleh bahwa rata-rata peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan diabetes mellitus (DM) di Provinsi DKI Jakarta mengakses layanan rawat jalan tingkat lanjut (RJTL) sebanyak 8,36 kali per tahun dan rawat inap tingkat lanjut (RITL) sebanyak 4,07 kali per tahun. Total biaya pelayanan kesehatan untuk peserta diabetes mellitus (DM) di RITL 86,67% dan di RJTL 13,33%. Karakteristik peserta yang paling banyak mengakses layanan kesehatan adalah lansia, perempuan, pilihan FKTP di Puskesmas, peserta segmen PBPU dan PBI APBD, serta hak rawat kelas III. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan diabetes mellitus (DM) di Provinsi DKI Jakarta memiliki tingkat utilisasi layanan kesehatan yang cukup tinggi, terutama untuk RJTL. Biaya pelayanan kesehatan untuk pasien diabetes mellitus (DM) di RITL tinggi, yang menunjukkan bahwa penyakit diabetes mellitus (DM) memberikan beban biaya yang signifikan bagi program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

This study discusses the analysis of utilization and costs of health service for diabetes mellitus (DM) patients among National Health Insurance (JKN) participants in DKI Jakarta Province based on the 2023 BPJS Health Sample Data. This research is a quantitative study with data collection method through a cross-sectional design. This research’s sampling technique uses total sampling from a sample of all National Health Insurance (JKN) participants data in DKI Jakarta Province with a diagnosis of diabetes mellitus (DM). Sample data shows that out of a population of 46,348 participants, 3,598 have diabetes mellitus (DM). The research results show that on average, participants of the National Health Insurance (JKN) with diabetes mellitus (DM) in DKI Jakarta Province access outpatient advanced care (RJTL) 8.36 times per year and inpatient advanced care (RITL) 4.07 times per year. The total healthcare service costs for diabetes mellitus (DM) participants are 86.67% in RITL and 13.33% in RJTL. Characteristics of participants who access healthcare services the most include the elderly, females, choosing FKTP in Community Health Centers (Puskesmas), participants in the PBPU and PBI APBD segments, and entitled to class III care. The research concludes that National Health Insurance (JKN) participants with diabetes mellitus (DM) in DKI Jakarta Province have a relatively high healthcare service utilization rate, especially for RJTL. Healthcare service costs for diabetes mellitus (DM) patients in RITL are high, indicating that diabetes mellitus (DM) imposes a significant cost burden on the National Health Insurance (JKN) program.
Read More
S-11770
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yoana Samuela; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Atik Nurwahyuni, Khaterina Kristina Manurung
Abstrak:
Latar belakang: Penyakit jantung iskemik merupakan salah satu penyakit dengan beban biaya katastropik secara global. Pada tahun 2022, penyakit jantung iskemik di Indonesia masih menjadi penyumbang terbesar pengeluaran anggaran BPJS Kesehatan dengan jumlah 15,5 juta kasus dan menghambiskan dana sebesar 12 triliun. Tujuan: Melalui hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk membahas analisis Cost of Illness (COI) peserta JKN dari perspektif BPJS Kesehatan Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi observasional dengan pendekatan cross-sectional dengan analisis univariat dan bivariat. Sampel penelitian adalah peserta JKN dengan diagnosis primer penyakit jantung iskemik (I20-I25). Hasil: Pada tahun 2022, rata-rata biaya akibat sakit (cost of illness) adalah sebesar Rp11.963.200,-, melalui hasil ini, biaya peserta kemudian dikategorikan menjadi rendah dan tinggi. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa yang menjadi pemicu tingginya biaya penyakit jantung iskemik peserta JKN Tahun 2022 di antaranya adalah peserta JKN dengan usia 50 – 74 tahun (p-value<0,05), peserta dengan Jenis Kelamin laki-laki (p-value<0,05), wilayah Regional 1 FKRTL (p-value<0,05), Status Perkawinan yaitu status kawin (p-value<0,05), Lama Hari Rawat di atas rata-rata hari rawat (3,8 hari) (p-value<0,05), Diagnosis Primer dari Infark Miokard Akut (p value<0,05), Tingkat Keparahan (Ringan, Sedang, dan Berat) (p-value<0,05), Kepemilikan FKRTL (p-value<0,05), Kelas Perawatan (p-value<0,05), dan adanya Intervensi Koroner Perkutan (p-value<0,05).

Background: Ischemic heart disease is one of the most catastrophic diseases globally. In 2022, ischemic heart disease in Indonesia is still the largest contributor to BPJS Health budget expenditure with 15.5 million cases and 12 trillion in funds. Objective: Through this, this study aims to discuss the Cost of Illness (COI) analysis of JKN participants from the perspective of BPJS Health Methods: This study used an observational study design with a cross-sectional approach with univariate and bivariate analysis. The study sample was JKN participants with a primary diagnosis of ischemic heart disease (I20-I25). Results: In 2022, the average cost of illness was IDR 11,963,200, Through these results, participants' costs were then categorized into low and high. Conclusion: Based on the results of the study, it was found that the triggers of high costs of ischemic heart disease for JKN participants in 2022 included JKN participants aged 50 - 74 years (p-value <0.05), participants with male gender (p-value <0.05), FKRTL Regional 1 region (p value <0.05), marital status, namely married status (p-value <0, 05), Length of Stay above the average length of stay (3.8 days) (p-value<0.05), Primary Diagnosis of Acute Myocardial Infarction (p-value<0.05), Severity Level (Mild, Moderate, and Severe) (p value<0.05), FKRTL Ownership (p-value<0.05), Treatment Class (p-value<0.05), and presence of Percutaneous Coronary Intervention (p-value<0.05).
Read More
S-11680
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Luthfiatul Annisa; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Rien Pramindari
Abstrak:
Nama : Luthfiatul Annisa Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat Judul : Analisis Cost of Illness (COI) Peserta JKN dengan Pelayanan Penyakit Stroke Di Wilayah Provinsi Kalimantan Timur (Data Sampel BPJS Kesehatan Tahun 2019-2020) Pembimbing : Dr. Atik Nurwahyuni, S.K.M, M.K.M Bersamaan dengan meningkatnya jumlah peserta maka jumlah biaya pelayanan kesehatan yang dikeluarkan oleh BPJS juga mengalami peningkatan, termasuk pembiayaan penyakit katastropik. Seperti diketahui bahwa beban pembiayaan katastropik termasuk penyakit stroke masih menjadi salah satu penyebab defisitnya biaya JKN. Selain itu, prevalensi penyakit stroke di Indonesia masih berada pada posisi ketiga setelah jantung dan kanker dan angka kasusnya masih terus meningkat terutama pada provinsi Kalimantan Timur. Oleh Sebab itu, dalam penelitian ini dibahas mengenai analisis Cost Of Illness (COI) dari perspektif BPJS Kesehatan selaku pembayar (payer) klaim dari pasien Stroke yang menjadi pasien JKN di Provinsi Kalimantan Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahun 2019-2020, rata-rata total biaya akibat sakit (Cost of Illness) sebesar Rp70.118.244,00 pertahun, dimana dikategorikan menjadi rendah dan tinggi dengan masing-masing proporsi sebesar 63,7% dan 36,3%. Hasil penelitian juga mengungkapkan bahwa variabel yang berhubungan dengan Cost of Illness peserta JKN dengan pelayanan Stroke di Wilayah Kalimantan Timur adalah Tipe stroke, Kelas Hak Rawat, Segmen kepesertaan serta Kunjungan Fasilitas Kesehatan Tingkat pertama (FKTP). Juga dari hasil analisis didapatkan nilai Adjusted Odds Ratio (AOR) terbesar yaitu pada peserta yang tidak melakukan kunjungan pada FKTP dengan (95% CI: 0,010 – 0,048), 0,022 yang artinya Peserta yang tidak melakukan kunjungan pada FKTP akan mempunyai nilai Cost of Illness tinggi sebesar 0,022 kali lebih besar dibandingkan dengan Peserta yang melakukan kunjungan pada FKTP. Hasil penelitian menyimpulkan bahawa variabel yang paling berpengaruh kepada nilai Cost of Illness peserta JKN dengan pelayanan Stroke di Wilayah Kalimantan Timur adalah Kunjungan FKTP.

Name : Luthfiatul Annisa Study Program : Public Health Science Title : Analysis of Cost of Illness (COI) of JKN Participants with Stroke Disease Services in the Province of East Kalimantan (Sample Data BPJS Health for 2019-2020) Supervisor : Dr. Atik Nurwahyuni, S.K.M, M.K.M Along with the number of participants, the cost of health services issued by BPJS has also increased, including the financing of catastrophic diseases. As it is known that the burden of charitable financing, including stroke, is still one of the causes of the deficit in JKN costs. In addition, the prevalence of stroke in Indonesia is still in the third position after heart disease and cancer and the number of cases is still increasing, especially in the province of East Kalimantan. Therefore, this study discusses the Cost Of Illness (COI) analysis from the perspective of BPJS Health as a claim payer for Stroke patients who become JKN patients in East Kalimantan Province. The results showed that in 2019-2020, the average total cost of illness (Cost of Illness) was Rp. 70,118,244.00 per year, which were grouped into low and high with proportions of 63.7% and 36.3% respectively. The results also revealed that the variabels related to the Cost of Illness of JKN participants with stroke services in the East Kalimantan Region were Stroke Type, Class of Care Rights, Membership Segment, and First Level Health Facility Visits (FKTP). Also the analysis results obtained the largest Adjusted Odds Ratio (AOR) value, namely participants who did not visit FKTP with (95% CI: 0.010 – 0.048), 0.022 which means Participants who did not visit FKTP will get a high Cost of Illness score. by 0.022 times greater than the Participants who visited the FKTP. The results of the study concluded that the most influential variabel for the cost of JKN participants with stroke services in the East Kalimantan region was FKTP visits.
Read More
S-11195
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Athifa Asha Calista; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Pujiyanto, Erfan Chandra Nugraha
Abstrak:
Latar Belakang: Osteoarthritis (OA) merupakan salah satu penyakit muskuloskeletal kronis yang berdampak pada kualitas hidup dan fungsi gerak, terutama pada kelompok usia lanjut. Fisioterapi menjadi salah satu layanan penting dalam penanganan OA, khususnya di fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan (FKRTL). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis utilisasi pelayanan rawat jalan fisioterapi pada peserta BPJS Kesehatan dengan diagnosis Osteoarthritis. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian non-eksperimental dengan pendekatan kuantitatif berdasarkan data sekunder dari sampel BPJS Kesehatan tahun 2024. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar peserta dengan osteoarthritis (OA) memanfaatkan fisioterapi di FKRTL dengan frekuensi rendah (<8 sesi), yakni sebesar 88,6%. Seluruh variabel independen (karakteristik peserta dan pelayanan) memiliki hubungan signifikan terhadap pemanfaatan layanan fisioterapi. Faktor dominan adalah variabel usia, terutama pada kelompok dewasa akhir (36–45 tahun) dengan OR 1,90 (95% CI: 1,81–2,01). Kesimpulan: Temuan ini menunjukkan perlunya peningkatan edukasi dan intervensi promotif-rehabilitatif secara lebih aktif, khususnya pada kelompok yang memiliki risiko tinggi osteoarthritis, guna mendorong pemanfaatan fisioterapi secara optimal dalam pengelolaan osteoarthritis.


Background: Osteoarthritis (OA) is one of the most common chronic musculoskeletal disorders that affects quality of life and physical function, particularly among the elderly. Physiotherapy plays an essential role in OA management, especially in advanced referral health facilities (FKRTL). Objective: This study aims to analyze the utilization of outpatient physiotherapy services among BPJS Kesehatan participants diagnosed with osteoarthriti. Methods: This research employed a non-experimental study design with a quantitative approach, using secondary data from the 2024 BPJS Kesehatan sample. Results: The results show that the majority of osteoarthritis (OA) participants utilized physiotherapy services at advanced referral health facilities (FKRTL) with low frequency (<8 sessions), accounting for 88.6%. All independent variables comprising both participant and service characteristics were significantly associated with physiotherapy utilization. The dominant factor was age, particularly in the late adulthood group (36–45 years), with an odds ratio (OR) of 1.90 (95% CI: 1.81–2.01). Conclusion: These findings highlight the need for increased education and more active promotive-rehabilitative interventions, especially among groups at high risk of osteoarthritis, to encourage optimal physiotherapy utilization in OA management.


Read More
S-12035
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Resa Lisardi Dwiranti; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Pujiyanto, Khaterina Kristina Manurung
Abstrak:
Low Back Pain merupakan salah satu penyebab utama disabilitas yang membutuhkan penanganan rehabilitasi medik jangka panjang. Namun, frekuensi kunjungan rehabilitasi medik pada pasien LBP peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran frekuensi kunjungan dan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan frekuensi kunjungan rehabilitasi medik pada pasien Low Back Pain peserta JKN di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non-eksperimental dengan desain cross sectional yang dilakukan pada Februari–Juni 2025 menggunakan data sekunder dari Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien Low Back Pain (65,1%) melakukan kunjungan rehabilitasi medik dengan frekuensi rendah, yang mencerminkan ketidakpatuhan terhadap terapi. Variabel usia, jenis kelamin, status perkawinan, wilayah dan jenis wilayah tempat tinggal peserta, kelas hak rawat, segmentasi peserta, tipe FKRTL, dan status kepemilikan FKRTL memiliki hubungan yang signifikan terhadap frekuensi kunjungan rehabilitasi medik (p < 0,05). Temuan ini menunjukkan perlunya penguatan sistem pemantauan terhadap utilisasi layanan rehabilitasi medik, baik untuk menangani ketidakpatuhan maupun mengidentifikasi potensi overutilization pada fasilitas atau segmen pasien tertentu.


Low Back Pain is one of the leading causes of disability that often requires long-term medical rehabilitation. However, the frequency of rehabilitation visits among Low Back Pain patients enrolled in the National Health Insurance (JKN) program remains suboptimal. This study aims to describe the visit frequency and analyze the factors associated with the frequency of medical rehabilitation visits among JKN participants with Low Back Pain at referral health facilities (FKRTL). This is a non-experimental quantitative study with a cross-sectional design conducted from February to June 2025, using secondary data from the 2024 BPJS Kesehatan Sample Data. The results showed that the majority of LBP patients (65,1%) had a low frequency of rehabilitation visits, indicating poor adherence to therapy. Variables such as age, gender, marital status, residential region and area type, class of care entitlement, participant segmentation, type of FKRTL, and ownership status of FKRTL were significantly associated with the frequency of rehabilitation visits (p < 0.05). These findings highlight the need to strengthen monitoring systems for the utilization of medical rehabilitation services, both to address non-adherence and to identify potential overutilization in specific facilities or patient segments.
Read More
S-12092
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive