Ditemukan 35626 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Firlando Anugerah Laude Ansyari; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Ema Hermawati, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:
Read More
Tingginya frekuensi lalu lintas kereta di Stasiun Manggarai berpotensi terhadap risiko gangguan pendengaran di pemukiman sekitar Stasiun Manggarai. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara paparan kebisingan (pengukuran nilai desibel), jarak rumah ke stasiun manggarai, lama tinggal di pemukiman, dan umur responden terhadap gangguan pendengaran ibu rumah tangga menggunakan uji Chi-Square. Penelitian dilakukan di Pemukiman Warga sekitar Stasiun Manggarai pada 40 Orang Ibu Rumah Tangga di RW 02 dan 04. Hasil uji Chi-Square menunjukkan ibu rumah tangga yang terpapar kebisingan > 55 dB(A) dan jarak rumah ≤ 100 meter signifikan terhadap gangguan pendengaran. Peneliti menyarankan agar paparan kebisingan dari aktivitas kereta api berkurang dengan cara menambah tanaman vegetatif di sekitar rumah dan menutup pintu serta jendela saat tidak diperlukan.
The high frequency of train traffic at Manggarai Station has the potential to increase the risk of hearing loss in the neighborhoods around Manggarai Station. This study aims to look at the relationship between noise exposure (decibel value measurement), distance of house to Manggarai station, length of stay in residential areas, and age of respondents to the prevalence of hearing loss in housewives using the Chi-Square test. The research was conducted in residential areas around Manggarai Station on 40 housewives in RW 02 and 04. The results of the Chi-Square test showed that housewives who were exposed to noise > 55 dB(A) and a distance of ≤ 100 meters from home were significant to the prevalence of hearing loss. Researchers suggest that noise exposure from train activity be reduced by adding vegetative plants around the house and closing doors and windows when not needed.
S-12192
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Devina Lenggo Putri; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Ririn Arminsih, Laila Fitria, Satria Pratama, Diah Wati
Abstrak:
Gangguan fungsi paru merupakan penyakit tidak menular yang diperkirakan menjadi penyebab ketiga kematian di dunia pada Tahun 2030. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan panjanan partikulat (PM2,5) terhadap gangguan fungsi paru pada ibu rumah tangga di sekitar kawasan pabrik semen Desa Citeuruep, Kabupaten Bogor. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 100 orang ibu rumah tangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 57 orang ibu rumah tangga memiliki gangguan fungsi paru, 55% berumur lebih dari 40 tahun, 58% memiliki status gizi tidak normal, 59% memiliki ventilasi rumah tidak memenuhi syarat, 70% anggota keluarga merupakan perokok aktif, 67% menetap dirumah dengan jarak dari pabrik semen memiliki risko akan paparan debu, 100% Kelembaban rumah ibu rumah tangga tidak memenuhi syarat. Ibu rumah tangga yang terpajanan partikulat (PM2,5) tidak memenuhi syarat sebanyak 56,4% mengalami gangguan fungsi paru. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa semua varibel yang diteliti pada penelitian ini tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap gangguan fungsi paru pada ibu rumah tangga. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah melakukan sosialisasi kepada ibu rumah tangga untuk melakukan pola hidup bersih dan sehat. Selain itu, pihak puskesmas dapat melakukan penyuluhan terkait rumah sehat, pola konsumsi gizi seimbang serta inspeksi snaitasi rumah secara berkala.
Read More
T-5837
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Linardita Ferial; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Budi Hartono, Didik Supriyono, Heri Nugroho
Abstrak:
Aktivitas di terminal berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan antaralain kebisingan. Tingkat kebisingan yang tinggi berpotensi untuk terjadinya gangguankesehatan bagi manusia khususnya gangguan pendengaran. Penelitian ini bertujuanuntuk mengidentifikasi hubungan antara tingkat kebisingan terhadap gangguanpendengaran penduduk di lokasi pemukiman sekitar Terminal Pakupatan. Penelitian inimenggunakan desain studi cross sectional pada enam pemukiman di sekitar TerminalPakupatan, Kota Serang, Provinsi Banten pada Januari-Mei 2018. Besar sampelsebanyak 100 orang dengan metode proposional random sampling. Hasil penelitianmenunjukkan tingkat kebisingan di lokasi pemukiman sekitar Terminal Pakupatanmencapai 81,09 dB dimana telah melewati baku mutu kebisingan yang mengacu padaKeputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 48 Tahun 1996 sebesar 55 dB. Variabelconfounding yaitu umur, riwayat penyakit, status bekerja, konsumsi rokok, konsumsialkohol dan lamanya tinggal. Masyarakat yang tinggal di lokasi dengan tingkatkebisingan lebih dari 55 dB memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan denganyang tinggal di lokasi dengan tingkat kebisingan kurang dari 55 dB (3,39; 0,61-26,91),setelah dikontrol oleh jenis pekerjaan dan lama tinggal sehingga perlu adanya upayapencegahan rambatan bising kepemukiman dengan menerapkan jalur hijau ataupenanaman pohon.Kata Kunci :Kebisingan, Gangguan Pendengaran,Pemukiman.
Activities in the terminal have the potential to cause environmental pollution,such as noise. High noise levels have the potential to cause health problems for humansespecially hearing loss. This study aimed to identify the relationship between noise levelto hearing loss in residential locations around Pakupatan Bus Station. This study usedcross sectional study design in six settlements around Pakupatan Bus Station, SerangCity, Banten Province conducted in January-May 2018. The number of samples is 100people with proportional random sampling method. The results of the analysis showedthat the noise level at the residential area around Pakupatan Bus Station reached 81.09dB where it has passed the noise quality standard based on the Decree of the Minister ofthe Environment Number 48 Year 1996 of 55 dB and found that people exposed tonoise ≥ 55dB have lower risk compared to people exposed to noise <55dB, with OR0.606. Confounding variables are age, history of disease, work status, cigaretteconsumption, alcohol consumption and length of stay. People living in locations withnoise levels greater than 55 dB have a higher risk than those living in locations withnoise levels of less than 55 dB (3.39, 0.61-26.91), after being controlled by occupationsand length of stay so that the need for efforts to prevent noise residential noise byapplying green path or tree planting.Key words: Noise, Hearing Loss, Residential.
Read More
Activities in the terminal have the potential to cause environmental pollution,such as noise. High noise levels have the potential to cause health problems for humansespecially hearing loss. This study aimed to identify the relationship between noise levelto hearing loss in residential locations around Pakupatan Bus Station. This study usedcross sectional study design in six settlements around Pakupatan Bus Station, SerangCity, Banten Province conducted in January-May 2018. The number of samples is 100people with proportional random sampling method. The results of the analysis showedthat the noise level at the residential area around Pakupatan Bus Station reached 81.09dB where it has passed the noise quality standard based on the Decree of the Minister ofthe Environment Number 48 Year 1996 of 55 dB and found that people exposed tonoise ≥ 55dB have lower risk compared to people exposed to noise <55dB, with OR0.606. Confounding variables are age, history of disease, work status, cigaretteconsumption, alcohol consumption and length of stay. People living in locations withnoise levels greater than 55 dB have a higher risk than those living in locations withnoise levels of less than 55 dB (3.39, 0.61-26.91), after being controlled by occupationsand length of stay so that the need for efforts to prevent noise residential noise byapplying green path or tree planting.Key words: Noise, Hearing Loss, Residential.
T-5241
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Johan Iswara; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Budi Hartono, Ririn Arminsih Wulandari, Adang Mulyana, Norlia Restihani Sri Wahyuni
Abstrak:
Read More
Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat dengan prevalensi tinggi di Kecamatan Klapanunggal, wilayah dengan konsentrasi partikulat halus (PM2,5) melebihi rekomendasi WHO dan berdekatan dengan pabrik semen berskala besar. Pajanan PM2,5 di udara dalam rumah berpotensi meningkatkan risiko hipertensi, terutama pada ibu rumah tangga yang sebagian besar beraktivitas di dalam rumah. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara konsentrasi PM2,5 di udara dalam rumah dengan hipertensi pada ibu rumah tangga di sekitar pabrik semen di Kecamatan Klapanunggal. Penelitian potong lintang ini melibatkan 87 ibu rumah tangga di Desa Nambo, Kembangkuning, dan Klapanunggal yang memenuhi kriteria inklusi. Data dikumpulkan melalui wawancara serta pengukuran konsentrasi PM2,5 di udara dalam rumah dan tekanan darah, kemudian dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil menunjukkan median konsentrasi PM2,5 sebesar 81 µg/m³ dan 67,8% responden mengalami hipertensi. Tidak ditemukan hubungan signifikan antara konsentrasi PM2,5 di udara dalam rumah dengan hipertensi (p = 0,647). Namun, status obesitas (p = 0,001; OR = 8,621) dan riwayat hipertensi keluarga (p = 0,033; OR = 3,094) berhubungan signifikan dengan hipertensi dan berperan sebagai variabel perancu bersama riwayat penyakit lainnya. Diperlukan upaya promotif dan preventif terintegrasi untuk pengendalian hipertensi dan obesitas serta penguatan pemantauan kualitas udara secara rutin melalui kerjasama lintas sektor.
Hypertension is a major public health problem in Klapanunggal District, an area with fine particulate matter (PM2.5) concentrations exceeding World Health Organization (WHO) recommendations and located near a large-scale cement factory. Indoor PM2.5 exposure may increase the risk of hypertension, particularly among housewives who spend most of their time indoors. This study aimed to examine the association between indoor PM2.5 concentration and hypertension among housewives living near a cement factory in Klapanunggal District. A cross-sectional study was conducted among 87 eligible housewives from Nambo, Kembangkuning, and Klapanunggal Villages. Data were collected throµgh interviews and measurements of indoor PM2.5 concentration and blood pressure, and analyzed using univariate, bivariate, and multivariate logistic regression. The median indoor PM2.5 concentration was 81 µg/m³, and 67.8% of respondents were hypertensive. No significant association was found between indoor PM2.5 concentration and hypertension (p = 0.647). However, obesity (p = 0.001; OR = 8.621) and a family history of hypertension (p = 0.033; OR = 3.094) were significantly associated with hypertension and acted as confounding factors, along with a history of other non-communicable diseases. Integrated promotive and preventive efforts are needed to control hypertension and obesity and to strengthen routine air quality monitoring throµgh multisectoral collaboration.
T-7465
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Andi Fildza Rafiza; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Dewi Susanna, Agus Sudarman
Abstrak:
Kebisingan merupakan risiko kerja yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen, salah satu nya adalah kebisingan dari kegiatan konstruksi di Dok kapal. Dok kapal memiliki kegiatan perbaikan dan pembuatan kapal yang dapat menimbulkan kebisingan tinggi dan terbukti memiliki hubungan yang signifikan dengan gangguan pendengaran pada pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara tingkat kebisingan dengan gangguan pendengaran yang terjadi pada pekerja lapangan di Dok kapal Tanjung Priok tahun 2019. Desain studi yang digunakan adalah desain studi cross sectional dengan subjek pekerja lapangan PT. Dok & Perkapalan Kodja Bahari galangan II terdiri dari bagian produksi, fasilitas galangan, dan QHSE. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 70 responden dan 31 titik kebisingan. Hasil analisa bivariat menghasilkan hubungan yang signifikan antara tingkat kebisingan dengan gangguan pendengaran dengan p value 0,02, OR=5,44, dan CI 95%=1,263- 23,464. Hasil analisis multivariat menunjukan bahwa pekerja yang terpajan kebisingan memiliki risiko 21 kali terkena gangguan pendengaran dibandingkan yang tidak terpajan setelah di kontrol variabel riwayat penyakit telinga dan usia. Temuan ini menyarankan untuk adanya pengendalian kebisingan dengan eliminasi alat kerja yang menimbulkan bising, melakukan penanaman pohon untuk mereduksi kebisingan, kontrol administrasi dengan melakukan rotasi kerja dan kegiatan edukasi pada pekerja bahaya kebisingan
Read More
S-10121
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aisha Adila Mamuaya; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Sheli Azalea
Abstrak:
Read More
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama penyakit kardiovaskular dan kematian dini di Indonesia. Salah satu faktor lingkungan yang berpotensi memengaruhi tekanan darah adalah kebisingan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara intensitas kebisingan dari rel kereta api dengan kejadian hipertensi pada masyarakat RW 06 Kelurahan Kebon Baru, Jakarta Selatan, yang merupakan kawasan padat penduduk yang berbatasan langsung dengan jalur kereta api. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 90 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran langsung intensitas kebisingan pada 6 titik, pengukuran tekanan darah, serta wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data meliputi uji bivariat dengan chi-square dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 60 responden (66,7%) mengalami hipertensi dan 75 responden (83,3%) responden terpapar kebisingan di atas nilai ambang batas (≥55 dBA). Variabel yang menunjukkan hubungan signifikan dengan hipertensi adalah intensitas kebisingan (p=0,003; OR=5,500), umur (p=0,011; OR=3,763), dan Riwayat keluarga hipertensi (p=0,001; OR=6,081). Analisis multivariat mengidentifikasi intensitas kebisingan (p=0,008; OR=5,764) dan riwayat keluarga hipertensi (p=0,003; OR=6,290) sebagai variable risiko yang dominan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kebisingan kereta api dan Riwayat keluarga hipertensi merupakan faktor risiko dominan terhadap hipertensi di wilayah tersebut. Oleh karena itu, intervensi kesehatan lingkungan seperti pemantauan kebisingan dan perencanaan wilayah berbasis kesehatan sangat diperlukan.
Hypertension is one of the most common non-communicable diseases and a leading cause of cardiovascular disease and premature death in Indonesia. One of the environmental factors that potentially affects blood pressure is noise. This study aimed to analyze the relationship between railway noise intensity and the incidence of hypertension among residents of RW 06, Kebon Baru Subdistrict, South Jakarta—an area with high population density located directly adjacent to a railway line. A cross-sectional study design was used with a total of 90 respondents. Data were collected through direct noise measurements at six different points, blood pressure measurements, and interviews using a structured questionnaire. Data were analyzed using chi-square tests for bivariate analysis and logistic regression for multivariate analysis. The results showed that 60 respondents (66.7%) had hypertension and 75 respondents (83.3%) were exposed to noise levels exceeding the threshold (≥55 dBA). Variables that showed a significant association with hypertension were noise intensity (p=0.003; OR=5.500), age (p=0.011; OR=3.763), and family history of hypertension (p=0.001; OR=6.081). Multivariate analysis identified noise intensity (p=0.008; OR=5.764) and family history of hypertension (p=0.003; OR=6.290) as the dominant risk factors. The study concludes that railway noise and family history of hypertension are dominant risk factors for hypertension in the area. Therefore, environmental health interventions such as noise monitoring and health-based spatial planning are urgently needed.
S-11978
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Anis Fitriyani; Pemb. Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Sri Tjahjani Budi Utami, Rina Hasriana, Jajat Nugraha
T-3972
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mega Utami Basra; Pembimbing: R. Budi Haryanto, Laila Fitria; Penguji: Budi Hartono, Didik Supriyono
Abstrak:
Pencemaran udara yang berasal dari sektor transportasi, industri, dan aktivitas domestikmenjadi masalah bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. Pengolahan semen banyakmelepaskan partikulat di udara, ditambah dengan kegiatan transportasi untukdistribusinya. Menurut data yang diperoleh dari laporan tahunan PuskesmasKlapanunggal dari tahun 2016-2018, penyakit gangguan pernapasan terbanyak berada didesa sekitar industri semen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungankonsentrasi PM2,5 di dalam rumah dengan gangguan fungsi paru pada ibu rumah tanggadi sekitar industri semen, Kecamatan Klapanunggal. Penelitian ini menggunakan studicross-sectional yang dilaksanakan pada Bulan April-Mei 2018. Jumlah sampelsebanyak 97 orang ibu rumah tangga usia 20-55 tahun. Pengukuran konsentrasi PM2,5dilakukan dengan menggunakan alat Haz-Dust EPAM 5000 dan pengukuran fungsi parudilakukan dengan uji spirometri menggunakan alat spirometer. Hasil penelitianmenunjukkan rata-rata konsentrasi PM2,5 di udara rumah adalah 70,51 μg/m3. Semuasampel mengalami gangguan fungsi paru restriktif dan 8,2% diantaranya mengalamigangguan fungsi paru obstruktif. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak adahubungan signifikan antara konsentrasi PM2,5 dengan gangguan fungsi paru restriktifpada ibu rumah tangga di Kecamatan Klapanunggal dengan nilai p=0,199. Perludilakukan monitoring dan penyuluhan kepada masyarakat mengenai cara menjagakualitas udara rumah sekaligus bekerja sama dengan perguruan tinggi atau lembagakesehatan lingkungan daerah setempat serta mengupayakan pemeriksaan fungsi parusecara berkala bagi masyarakat.
Kata kunci: PM2,5; gangguan fungsi paru, ibu rumah tangga
Air pollution from the transportation, industrial and domestic activities are problems forpublic health in Indonesia. Cement processing releases many particulates in the air, evenwith transport activities for its distribution. According to data obtained from the annualreport of Klapanunggal Puskesmas from 2016-2018, most respiratory diseases are in thevillages around the cement industry. This study aims to analyze the correlation of PM2.5concentration in household with impaired lung function among housewife aroundcement industry area, Klapanunggal sub-district. This study used a cross-sectional studyconducted in April-May 2018. The sample size is 97 housewives aged 20-55 years.Measurement of PM2.5 concentration was done by using Haz-Dust EPAM 5000 andpulmonary function measurement was done by spirometry test using spirometer tool.The results showed that the average concentration of PM2.5 in the house air was 70.51μg/m3. All samples had impaired restrictive lung function and 8.2% of them hadimpaired obstructive lung function. The result of bivariate analysis showed that therewas no significant correlation between PM2.5 concentration with restrictive lungfunction disorder in housewife in Kecamatan Klapanunggal with p value = 0,199.Monitoring and counseling needs to be done to the public about how to maintain thequality of house air as well as working with local universities or environmental healthagencies and seek fo regular lung function checks for the community.
Key words: PM2.5, impaired lung function, housewive.
Read More
Kata kunci: PM2,5; gangguan fungsi paru, ibu rumah tangga
Air pollution from the transportation, industrial and domestic activities are problems forpublic health in Indonesia. Cement processing releases many particulates in the air, evenwith transport activities for its distribution. According to data obtained from the annualreport of Klapanunggal Puskesmas from 2016-2018, most respiratory diseases are in thevillages around the cement industry. This study aims to analyze the correlation of PM2.5concentration in household with impaired lung function among housewife aroundcement industry area, Klapanunggal sub-district. This study used a cross-sectional studyconducted in April-May 2018. The sample size is 97 housewives aged 20-55 years.Measurement of PM2.5 concentration was done by using Haz-Dust EPAM 5000 andpulmonary function measurement was done by spirometry test using spirometer tool.The results showed that the average concentration of PM2.5 in the house air was 70.51μg/m3. All samples had impaired restrictive lung function and 8.2% of them hadimpaired obstructive lung function. The result of bivariate analysis showed that therewas no significant correlation between PM2.5 concentration with restrictive lungfunction disorder in housewife in Kecamatan Klapanunggal with p value = 0,199.Monitoring and counseling needs to be done to the public about how to maintain thequality of house air as well as working with local universities or environmental healthagencies and seek fo regular lung function checks for the community.
Key words: PM2.5, impaired lung function, housewive.
T-5242
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Adelia Hanita Dewi; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Ema Hermawati, Suparjiyono
Abstrak:
PT X merupakan salah satu industri tekstil di Indonesia yang memiliki berbagai mesin dan peralatan yang dapat menimbulkan kebisingan dengan intensitas tinggi di beberapa area kerjanya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kebisingan yang lebih dari 85 dBA dengan keluhan gangguan pendengaran pada pekerja di departemen spinning, weaving, dan dyeing PT X. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 84 pekerja di departemen spinning, weaving, dan dyeing yang dipilih menggunakan teknik sampling proportionate stratified random sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah tingkat kebisingan dan variabel dependen adalah keluhan gangguan pendengaran, dengan variabel konfounding meliputi karakteristik dan perilaku pekerja.
Hasil penelitian menunjukan sebanyak 37 pekerja (44%) mengalami keluhan gangguan pendengaran tinggi. Berdasarkan uji chi square, terdapat hubungan yang signifikan antara kebisingan > 85 dBA (p value=0,039, OR=2,8), usia (p value=0,012, OR=3,457) dan penggunaan alat pelindung telinga (APT) (p value=0,046, OR=2,761) dengan keluhan gangguan pendengaran. Sedangkan variabel masa kerja, riwayat penyakit telinga, riwayat hipertensi, riwayat diabetes, merokok, dan hobi terpajan bising tidak menunjukan hubungan yang signifikan.
Hasil analisis multivariat menunjukan pekerja yang terpajan kebisingan diatas NAB memiliki risiko 4,512 kali lebih tinggi dibandingkan pekerja yang terpajan kebisingan dibawah NAB setelah dikontrol oleh variabel usia. Pekerja yang terpajan kebisingan berisiko untuk mengalami keluhan gangguan pendengeran. Pekerja yang berusia lebih dari 40 tahun dan tidak menggunakan APT saat berkeja memiliki risiko lebih besar untuk mengalami keluhan gangguan pendengaran.
Kata kunci: Industri Tekstil, Kebisingan, Keluhan Gangguan Pendengaran
PT X is a textile industry in Indonesia with a variety of machinery and equipment generating high-intensity noise in several areas. This study aimed to analyze the relationship between noise intensity higher than 85 dBA with hearing loss complain on workers of spinning, weaving, and dyeing department at PT X. The method used in this study was quantitative analysis with a cross-sectional study design. The number of samples in this study was 84 workers chosen by proportionate stratified random sampling method. The independent variable in this study was noise level while the dependent variable was hearing loss complaints, with confounding variables included characteristic and worker behavior.
The study result shows that 37 workers (44%) experienced hearing loss complaints. Based on the chi-square test, there was a significant relationship between noise > 85 dBA (p value = 0.039, OR = 2.8), age (p value = 0.012, OR = 3.457) and hearing protection device (HPD) utilization (p value = 0.046, OR = 2.761) with hearing loss complaints. Meanwhile, variables of the working period, ear disease history, hypertension history, diabetes history, smoking history, and noise exposure do not show a significant relationship.
The multivariate result shows that workers exposed to noise above TLV possess 4.512 times higher risk than the workers exposed to noise under TLV after being controlled by age variable. Noise-exposed workers are at risk of experiencing complaints of hearing loss. Workers who are over 40 years old and do not use HPD while working have a greater risk of experiencing hearing loss complaints.
Keywords: Hearing Loss Complain, Noise, Textile Industry
Read More
Hasil penelitian menunjukan sebanyak 37 pekerja (44%) mengalami keluhan gangguan pendengaran tinggi. Berdasarkan uji chi square, terdapat hubungan yang signifikan antara kebisingan > 85 dBA (p value=0,039, OR=2,8), usia (p value=0,012, OR=3,457) dan penggunaan alat pelindung telinga (APT) (p value=0,046, OR=2,761) dengan keluhan gangguan pendengaran. Sedangkan variabel masa kerja, riwayat penyakit telinga, riwayat hipertensi, riwayat diabetes, merokok, dan hobi terpajan bising tidak menunjukan hubungan yang signifikan.
Hasil analisis multivariat menunjukan pekerja yang terpajan kebisingan diatas NAB memiliki risiko 4,512 kali lebih tinggi dibandingkan pekerja yang terpajan kebisingan dibawah NAB setelah dikontrol oleh variabel usia. Pekerja yang terpajan kebisingan berisiko untuk mengalami keluhan gangguan pendengeran. Pekerja yang berusia lebih dari 40 tahun dan tidak menggunakan APT saat berkeja memiliki risiko lebih besar untuk mengalami keluhan gangguan pendengaran.
Kata kunci: Industri Tekstil, Kebisingan, Keluhan Gangguan Pendengaran
PT X is a textile industry in Indonesia with a variety of machinery and equipment generating high-intensity noise in several areas. This study aimed to analyze the relationship between noise intensity higher than 85 dBA with hearing loss complain on workers of spinning, weaving, and dyeing department at PT X. The method used in this study was quantitative analysis with a cross-sectional study design. The number of samples in this study was 84 workers chosen by proportionate stratified random sampling method. The independent variable in this study was noise level while the dependent variable was hearing loss complaints, with confounding variables included characteristic and worker behavior.
The study result shows that 37 workers (44%) experienced hearing loss complaints. Based on the chi-square test, there was a significant relationship between noise > 85 dBA (p value = 0.039, OR = 2.8), age (p value = 0.012, OR = 3.457) and hearing protection device (HPD) utilization (p value = 0.046, OR = 2.761) with hearing loss complaints. Meanwhile, variables of the working period, ear disease history, hypertension history, diabetes history, smoking history, and noise exposure do not show a significant relationship.
The multivariate result shows that workers exposed to noise above TLV possess 4.512 times higher risk than the workers exposed to noise under TLV after being controlled by age variable. Noise-exposed workers are at risk of experiencing complaints of hearing loss. Workers who are over 40 years old and do not use HPD while working have a greater risk of experiencing hearing loss complaints.
Keywords: Hearing Loss Complain, Noise, Textile Industry
S-10477
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Denissa Rahayu Ningtyas; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Budi Hartono, Sri Tjahjani Budi Utami, Heri Nugroho, Sofwan
T-4995
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
