Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 27341 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Niesha Alifia Zahra; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Yoslien Sopamena, Yudianto
Abstrak:
Anemia masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang banyak dialami oleh remaja putri di Indonesia. Salah satu upaya pencegahan anemia adalah melalui program konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). Namun, kepatuhan remaja putri dalam mengonsumsi TTD sesuai anjuran masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku konsumsi Tablet Tambah Darah pada siswi SMA Negeri 3 Kota Bandung tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian berjumlah 90 siswi yang dipilih menggunakan teknik quota sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square dan Fisher’s Exact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara pengetahuan dengan perilaku konsumsi Tablet Tambah Darah (p<0,001). Sementara itu, sikap terhadap TTD tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan perilaku konsumsi TTD (p=0,301). Faktor pemungkin berupa aksesibilitas dalam mendapatkan TTD juga tidak berhubungan secara signifikan dengan perilaku konsumsi TTD (p=0,242). Pada faktor penguat, dukungan keluarga (p=0,035) dan dukungan teman sebaya (p=0,021) memiliki hubungan yang bermakna dengan perilaku konsumsi TTD, sedangkan dukungan guru tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik (p=0,212). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumsi Tablet Tambah Darah pada siswi SMA Negeri 3 Kota Bandung dipengaruhi oleh faktor pengetahuan serta dukungan keluarga dan teman sebaya. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi yang berkelanjutan untuk meningkatkan pengetahuan siswi, serta penguatan peran keluarga dan teman sebaya dalam mendukung kepatuhan konsumsi TTD.

Anemia remains a public health problem that commonly affects adolescent girls in Indonesia. One of the strategies to prevent anemia is the iron tablet supplementation program. However, adherence to iron tablet consumption according to recommendations remains low among adolescent girls. This study aimed to determine the factors associated with iron tablet consumption behavior among female students at SMA Negeri 3 Bandung in 2025. This study employed a cross-sectional design with a quantitative approach. The sample consisted of 90 female students selected using quota sampling. Data were collected through an online questionnaire that had been tested for validity and reliability. Data analysis was conducted using univariate and bivariate analyses with the chi-square test and Fisher’s Exact test. The results showed a statistically significant association between knowledge and iron tablet consumption behavior (p<0.001). In contrast, attitude toward iron tablets was not significantly associated with consumption behavior (p=0.301). Enabling factors in the form of accessibility to iron tablets were also not significantly associated with consumption behavior (p=0.242). Regarding reinforcing factors, family support (p=0.035) and peer support (p=0.021) were significantly associated with iron tablet consumption behavior, while teacher support was not statistically significant (p=0.212). Based on these findings, it can be concluded that iron tablet consumption behavior among female students at SMA Negeri 3 Bandung is influenced by knowledge, family support, and peer support. Therefore, continuous health education is needed to improve students’ knowledge, as well as to strengthen the role of families and peers in supporting adherence to iron tablet consumption.
Read More
S-12199
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aliyah Az-Zahra; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Triyanti, Suparini
Abstrak:
Tingginya angka kejadian anemia pada remaja putri, tentu berhubungan dengan perilaku konsumsi tablet tambah darah (TTD). Di Provinsi DKI Jakarta, angka prevalensi anemia sebesar 23% dan proporsi remaja putri (10-19 tahun) yang mengonsumsi TTD dari sekolah sesuai anjuran hanya sebesar 1,8%. Prevalensi anemia pada remaja putri sebesar 40,63% di Jakarta Timur, sebesar 37,85% di Kecamatan Duren Sawit, dan sebesar 70,68% di Kelurahan Malaka Jaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku konsumsi TTD pada siswi SMA Negeri 103 Jakarta tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain studi cross-sectional. Penelitian dilakukan pada 90 siswi yang dipilih secara acak dengan menggunakan metode simple random sampling dan dilakukan pada bulan Januari-Juni tahun 2024 dengan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar siswi SMA Negeri 103 Jakarta memiliki perilaku tidak patuh dalam mengonsumsi TTD (76,2%). Hasil uji bivariat didapatkan hubungan yang signifikan antara faktor predisposisi (pengetahuan (p-value = 0,000), sikap (p-value = 0,027), dan efek samping TTD (p-value = 0,011)) dan faktor penguat (dukungan teman sebaya (p-value = 0,02) dan dukungan keluarga (p-value = 0,023)) dengan perilaku konsumsi TTD pada siswi SMA Negeri 103 Jakarta. Oleh karena itu, perlu diadakan penyuluhan terkait pentingnya konsumsi TTD pada siswi, termasuk edukasi kesehatan dengan metode peer-group (grup antar teman sebaya) dan sosialisasi kepada orang tua atau wali siswi terkait manfaat dan keamanan mengonsumsi TTD, serta pentingnya memberikan dukungan kepada siswi untuk meningkatkan kepatuhan siswi dalam mengonsumsi TTD.

The high incidence of anemia among female adolescents is certainly related to the consumption behavior of iron supplements. In DKI Jakarta Province, the prevalence rate of anemia is 23% and the proportion of female adolescents (10-19 years old) who consume iron supplements from school as recommended is only 1,8%. The prevalence of anemia among female adolescents was 40,63% in East Jakarta, 37,85% in Duren Sawit Subdistrict, and 70,68% in Malaka Jaya Village. This study aims to determine the determinants of iron supplement consumption behavior among female students at SMA Negeri 103 Jakarta in 2024. This research is a quantitative study using a cross-sectional study design. The study was conducted on 90 female students who were randomly selected using the simple random sampling method and conducted in January-June 2024 using a questionnaire. The results showed that most of the female students of SMA Negeri 103 Jakarta had non-adherent behavior in taking iron supplements (76,2%). The results of the bivariate test showed a significant relationship between predisposing factors (knowledge (p-value = 0,000), attitude (p-value = 0,027), and side effects of iron supplement (p-value = 0,011)) and reinforcing factors (peer support (p-value = 0,02) and family support (p-value = 0,023)) with the consumption behavior of iron supplement among female students at SMA Negeri 103 Jakarta. Therefore, it is necessary to conduct counseling related to the importance of consuming iron supplements in female students, including health education using the peer-group method and socialization to parents or guardians of female students regarding the benefits and safety of taking iron supplements, as well as the importance of providing support to female students to increase their compliance in taking iron supplements.
Read More
S-11571
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novia Kusuma Wardani; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Rita Damayanti, A. Firman Syah Madjid
Abstrak:
Anemia pada remaja putri masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berdampak pada status kesehatan dan prestasi belajar. Salah satu upaya pencegahan anemia yang dilakukan pemerintah adalah melalui program pemberian tablet tambah darah (TTD) secara rutin di sekolah. Namun, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kepatuhan remaja putri dalam mengonsumsi TTD. Hingga saat ini kepatuhan konsumsi TTD masih tergolong rendah, sehingga upaya pencegahan anemia belum berjalan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara komponen Health Belief Model (HBM) dengan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah pada siswi MTs Negeri Kota Depok tahun 2025. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah siswi kelas VIII dan IX MTs Negeri 1 Kota Depok dengan jumlah sampel 185 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 49,2% siswi memiliki tingkat kepatuhan konsumsi TTD yang rendah. Analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi kerentanan (p = 0,213), persepsi keparahan (p = 0,219), persepsi manfaat (p = 0,530), serta isyarat untuk bertindak (p = 0,921) dengan kepatuhan konsumsi TTD. Namun, terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi hambatan (p = 0,004) dan efikasi diri (p = 0,001) dengan kepatuhan konsumsi TTD. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi hambatan dan efikasi diri berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan konsumsi TTD pada siswi. Oleh karena itu, sekolah disarankan untuk mengoptimalkan edukasi penanganan efek samping serta memperkuat efikasi diri siswi guna meningkatkan kepatuhan konsumsi TTD secara berkelanjutan.

Anemia among adolescent girls remains a public health problem that adversely affects health status and academic achievement. One of the government’s efforts to prevent anemia is the implementation of an iron supplementation program in schools; however, its success is highly dependent on student adherence to iron supplementation tablet consumption. To date, adherence among adolescent girls remains low, resulting in suboptimal anemia prevention outcomes. This study aimed to analyze the relationship between the components of the Health Belief Model (HBM) and adherence to iron supplementation tablet consumption among female students at MTs Negeri 1 Kota Depok in 2025. This quantitative study employed a cross-sectional design. The study population consisted of female students in grades VIII and IX at MTs Negeri 1 Kota Depok, with a total sample of 185 respondents selected using purposive sampling. Data were collected using a structured questionnaire and analyzed through univariate and bivariate analyses using the Chi-Square test. The results showed that 49,2% of the students had a low level of adherence to iron supplementation tablet consumption. Bivariate analysis revealed there was no significant relationship between perceived susceptibility (p = 0,213), perceived severity (p = 0,219), perceived benefits (p = 0,530), and cues to action (p = 0,921) with adherence to iron supplementation tablet consumption. However, there was a significant relationship between perceived barriers (p = 0,004) and self-efficacy (p = 0,001) with adherence to iron supplementation tablet consumption. The conclusion of this study shows that perceived barriers and self-efficacy are significantly associated with adherence among female students. Therefore, schools are recommended to optimize education on managing side effects and strengthen student self-efficacy to improve sustained adherence to iron supplementation tablet consumption.
Read More
S-12208
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erika; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Zakiah
Abstrak:
Anemia merupakan masalah kesehatan yang sering dialami oleh remaja putri. Data Riskesdas menunjukkan peningkatan kasus anemia pada remaja putri dari 26,40% pada 2013, menjadi 32% pada tahun 2018. Meskipun Kementerian Kesehatan telah mengupayakan penurunan angka anemia pada remaja putri dengan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD), tetapi Riskesdas 2018 menunjukkan hanya 2,13% remaja putri yang rutin konsumsi TTD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mendalam mengenai persepsi remaja putri di SMA X dan SMA Y terhadap perilaku konsumsi TTD melalui pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan pada siswi kelas 10, kepala sekolah, kesiswaan, orang tua siswi, serta penanggung jawab program pemberian TTD di Puskesmas Sukmajaya. Hasil penelitian menunjukkan kepatuhan siswi di SMA X dan SMA Y dalam konsumsi TTD masih rendah. Sebagian besar siswi di SMA X memiliki persepsi kerentanan rendah dan persepsi keseriusan tinggi, sementara di SMA Y sebaliknya. Seluruh siswi merasa TTD bermanfaat untuk menambah zat besi pada tubuh, namun sebagian besar belum pernah merasakan manfaatnya secara langsung. Persepsi hambatan yang dialami siswi cukup bervariasi, tetapi tidak semuanya menghalangi intensi konsumsi TTD. Ditemukan cues to action eksternal seperti dukungan orang tua, guru, dan teman, serta cues to action yang banyak akan cenderung lebih mempengaruhi perilaku konsumsi TTD. Direkomendasikan bagi pihak sekolah untuk mengimplementasikan atau memperkuat kegiatan konsumsi TTD bersama, serta meningkatkan edukasi internal terkait anemia. Puskesmas juga diharapkan dapat mendorong sekolah untuk mengadakan atau memperkuat kegiatan konsumsi TTD serta rutin memantau pelaksanaannya.

Anemia is a common health issue among adolescent girls. Data from Riskesdas shows an increase in anemia cases among adolescent girls from 26.40% in 2013 to 32% in 2018. Despite efforts by the Ministry of Health to reduce anemia rates among adolescent girls through the provision of iron supplement tablets, Riskesdas 2018 indicates that only 2.13% of adolescent girls consistently consume iron supplement tablets. This study aims to provide an in-depth understanding of the perceptions of adolescent girls at SMA X dan SMA Y regarding iron supplement tablets consumption through a qualitative approach. Data collection was conducted with 10th-grade students, school principals, student affairs staff, parents, and the person in charge of the iron supplement tablets program at the Sukmajaya Health Center. The results show that adherence to iron supplement tablets consumption among students at SMA X and SMA Y is still low. Most students at SMA X have a low perceived susceptibility and a high perceived seriousness, while at SMA Y, it is the opposite. All students understand the benefits of iron supplement tablets for increasing iron levels in the body, but most have not experienced these benefits directly. The perceived barriers to iron supplement tablets consumption vary, but not all of them hinder the intention to consume iron supplement tablets . External cues to action, such as support from parents, teachers, and friends, as well as a higher number of cues, tend to have a greater influence on iron supplement tablets consumption. It is recommended that schools implement or strengthen collective iron supplement tablets consumption activities and improve internal education on anemia. Sukmajaya Health Centers are also expected to encourage schools to conduct or reinforce collective iron supplement tablets consumption programs and regularly monitor their implementation.
Read More
S-11584
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yolanda Safitri; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Besral, Diah Mulyawati Utari, Frima Elda, Elfa Syoeib
Abstrak:

Latar Belakang: Distorsi citra tubuh adalah persepsi negatif terhadap bentuk dan ukuran tubuh sendiri, yang sering dialami oleh remaja putri dan dapat berdampak pada kesehatan mental dan perilaku makan. Masa remaja merupakan periode rentan terhadap pengaruh sosial dan media yang dapat memperkuat ketidakpuasan terhadap tubuh.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi determinan yang memengaruhi distorsi citra tubuh pada remaja putri di SMA Negeri 3 dan SMA Negeri 14 Kota Padang tahun. 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel diambil secara purposif sebanyak 457 responden dari dua sekolah tersebut. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang telah divalidasi, meliputi variabel body image, status gizi, pengetahuan gizi, perilaku makan, percaya diri, sosial ekonomi, pengaruh media sosial, orang tua, teman sebaya dan peranan sosial. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak memiliki distorsi citra tubuh (68,7%), terdapat hubungan antrara status gizi, percaya diri dan teman sebaya dengan distorsi citra tubuh. Kesimpulan: Berdasarkan p-value dan nilai OR, status gizi menjadi variabel yang paling signifikan berhubungan dalam memengaruhi distorsi citra tubuh. Artinya, remaja putri yang memiliki status gizi kurang berpeluang 3.40 kali lebih tinggi untuk mengalami distorsi citra tubuh dibandingkan dengan remaja dengan status gizi baik, begitu juga remaja putri yang memiliki status gizi lebih berpeluang 39,19 kali lebih tinggi untuk mengalami distorsi citra tubuh dibandingkan dengan remaja putri yang memiliki status gizi baik. Nilai R-Square (41,6%) menunjukkan bahwa variasi dalam variabel distorsi citra tubuh dapat dijelaskan oleh variabel status gizi dan kepercayaan diri.


Background: Body image distortion is a negative perception of one's own body shape and size, which is often experienced by adolescent girls and can have an impact on mental health and eating behavior. Adolescence is a period of vulnerability to social and media influences that can reinforce body dissatisfaction. Objective: This study aims to identify the determinants influencing body image distortion among adolescent girls at State High School 3 and State High School 14 in Padang City in 2025. Method: This study used an analytical design with a cross-sectional approach. A purposive sample of 457 respondents was selected from the two schools. Data were collected through a validated questionnaire, including variables such as body image, nutritional status, nutritional knowledge, eating behavior, self-confidence, socioeconomic status, social media influence, parental influence, peer influence, and social role. Data analysis was performed using chi-square tests and logistic regression. Results: The results showed that the majority of respondents did not have body image distortion (68.7%), and there was a relationship between nutritional status, self-confidence, and peers with body image distortion. Conclusion: Based on p-values and odds ratios (OR), nutritional status was the most significant variable associated with body image distortion. This means that adolescent girls with poor nutritional status are 3.40 times more likely to experience body image distortion than those with good nutritional status, and adolescent girls with overweight nutritional status are 39.19 times more likely to experience body image distortion than those with good nutritional status. The R-Square value (41.6%) indicates that variations in the body image distortion variable can be explained by the nutritional status and self-confidence variables.

Read More
T-7334
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novia Angela; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dian Ayubi, Benedictus Aji Subekti
Abstrak:
Program suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) telah diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sejak tahun 2014 sebagai salah satu upaya pencegahan dan penanggulangan anemia pada remaja putri. Namun, kepatuhan dalam mengkonsumsi TTD yang dibagikan masih sangat rendah. Sebanyak 99,5% remaja putri di Kalimantan Barat yang memperoleh TTD dari sekolah mengaku mengkonsumsi kurang dari 52 tablet dalam setahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku konsumsi TTD pada remaja putri di SMP Pangudi Luhur Santo Albertus Ketapang tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Data yang dikumpulkan merupakan data primer yang diperoleh dari hasil pengisian kuesioner oleh 86 siswi. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan uji chi-square untuk melihat hubungan antara variabel independen dan dependen. Hasil penelitian menemukan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan (p=0,003) dan sikap (p<0,001) dengan perilaku konsumsi TTD remaja putri. Sementara itu, efek samping TTD, dukungan orang tua, dukungan teman, dukungan guru, dan dukungan tenaga kesehatan diketahui tidak berhubungan signifikan secara statistik dengan perilaku konsumsi TTD remaja putri. Oleh karena itu, edukasi kesehatan perlu diberikan agar remaja putri memahami pentingnya konsumsi TTD secara teratur, termasuk sosialisasi kepada guru dan orang tua agar dapat turut serta dalam mendorong konsumsi TTD.

The iron supplementation initiative, implemented by the Ministry of Health of the Republic of Indonesia since 2014, constitutes a proactive measure aimed at mitigating and managing anemia among female adolescents. However, there persists a substantial deficiency in compliance with the prescribed iron supplement regimen. A staggering 99.5% of female adolescents in West Kalimantan, recipients of iron supplements through school channels, acknowledge consuming fewer than 52 tablets annually. This research endeavors to identify the determinants influencing iron supplement consumption behavior among young women at SMP Pangudi Luhur Santo Albertus Ketapang in the year 2023. The study adopts a cross-sectional design, with primary data garnered through questionnaire responses from 86 female students. Subsequent to data collection, a chi-square test is employed to explore the association between independent and dependent variables. The findings of the research indicate a noteworthy association between knowledge (p=0.003) and attitudes (p<0.001) and the consumption behavior of iron tablets among female adolescents. Conversely, factors such as side effects, parental support, peer support, teacher support, and assistance from healthcare professionals were not observed to have statistically significant associations with the iron tablets consumption. Consequently, there arises an imperative for health education initiatives to convey the significance of consistent iron tablet consumption among young women. This necessitates outreach efforts directed towards educators and parents, fostering their involvement in encouraging the regular intake of iron tablets.
Read More
S-11498
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Citra Br Aritonang; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Zakianis, Rita Ramayulis, Ramadanura
Abstrak: Asupan gula, garam dan lemak melebihi batas yang direkomendasikan beresikomenyebabkan obesitas dan terjadinya penyakit tidak menular seperti diabetes melitus,penyakit jantung, hipertensi, stroke dan kanker. Penyakit tidak menular merupakanpenyebab kematian utama di dunia dan juga di indonesia yang disebabkan salah satunyaoleh perilaku makan yang tidak sehat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuifaktor dominan asupan gula, garam dan lemak pada siswa-siswi SMA Negeri 3 KotaDepok tahun 2018. Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Juni 2018 dengan desaincross sectional dan jumlah sample sebanyak 205 responden. Maka diperoleh hasilanalisis asupan tinggi gula, garam dan lemak sebesar 62,4% dimana asupan gula, garamdan lemak saling berkorelasi. Responden yang obesitas sebesar 4,9% dan kegemukansebesar 14,6%. Sedangkan analisis bivariat ada hubungan yang signifikant antara citratubuh (p value = 0,002, OR = 2,611), emotional eating (p value = 0,001, OR = 3,763),alasan pemilihan makanan (p value = 0,001, OR = 4,646), sikap terhadap perilaku (pvalue = 0,03, OR = 2,011) dan pengaruh keluarga (p value = 0,004, OR = 2,505) denganasupan tinggi gula, garam dan lemak. Pada analisis multivariat maka variabel yangpaling dominan adalah emotioanl eating dengan nilai OR 3,35 yang artinya emotionaleating berpeluang 3,35 kali mengonsumsi asupan tinggi gula, garam dan lemak setelahdi kontrol oleh variabel citra tubuh, alasan pemilihan makanan, sikap terhadap perilakudan pengaruh keluarga. Oleh karena itu perlu mengendalikan emotional eatingresponden dengan promosi kesehatan tentang asupan gula, garam dan lemak padakeluarga dan ketersediaan makanan yang sehat baik dirumah dan kantin sekolahsehingga asupan gula, garam lemak dapat dibatasi dan pentingnya memperhatikankomposisi dan zat gizi yang terkandung dalam makanan yang dikonsumsi.Kata kunci:Asupan gula, garam dan lemak, remaja, perilaku makan, emotional eating.
Intake of sugar, salt and fat exceeds the recommended limits at risk of causingobesity and the occurrence of non-communicable diseases such as diabetes mellitus,heart disease, hypertension, stroke and cancer. Non-communicable diseases are themain cause of death in the world and also in Indonesia caused by one of them byunhealthy eating behavior. The purpose of this study was to determine the dominantfactors of sugar, salt and fat intake in students of senior high school in Depok City. Thisresearch was conducted on April-June 2018 with cross sectional design and 205respondents. Analysis results showed high intake of sugar, salt and fat by 62.4% wherethe intake of sugar, salt and fat are correlated. Obese respondents were 4.9% and obesitywas 14.6%. While bivariate analysis there is significant relation between body image (pvalue = 0,002), emotional eating (p value = 0,001), food selection (p value = 0,001),attitude toward behavior (p value = 0,03) and family influence (p value = 0.004) withhigh intake of sugar, salt and fat. In multivariate analysis, the most dominant variable isemotional eating with OR 3.35, which means emotional eating 3.35 times consuminghigh intake of sugar, salt and fat after control by body image variable, food selectionreason, attitude toward behavior and influence of family. Therefore it is necessary tocontrol the emotional eating of respondents with the promotion of health about theintake of sugar, salt and fat in the family and the availability of healthy foods both athome and school canteen so that sugar intake, fat salt can be limited. The importance ofpaying attention to the composition and the nutrients contained in the food consumed.Keywords: Intake of sugar, salt and fat, adolescents, emotional eating.
Read More
T-5317
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amalia Mahmudah; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Marjuki
Abstrak:
Saat ini, Indonesia tengah menghadapi tiga permasalahan utama terkait gizi, yaitu kekurangan gizi, kelebihan gizi, serta kekurangan mikronutrien. Anemia masih menjadi salah satu isu kesehatan yang perlu mendapat perhatian. Remaja putri, khususnya siswi sekolah, merupakan kelompok yang rentan mengalami anemia defisiensi besi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti menstruasi yang berlangsung setiap bulan dan pola diet yang kurang tepat. Oleh karena itu, perilaku pencegahan anemia harus mulai diterapkan sejak dini agar tidak menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi perilaku pencegahan anemia pada siswi SMKN 37 Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan metode cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 110 orang yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan uji chi square untuk mengetahui hubungan antara variabel-variabel dengan perilaku pencegahan anemia di SMKN 37 Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 54,5% responden memiliki perilaku pencegahan anemia yang baik. Pengetahuan (p = 1,00), sikap (p = 0,001), norma subyektif (p = 0,47), dan persepsi perilaku terkontrol (p = 0,001) diuji dalam penelitian ini. Sikap dan persepsi perilaku terkontrol terbukti memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku pencegahan anemia. Oleh karena itu, diperlukan dukungan dari berbagai pihak untuk meningkatkan promosi pencegahan anemia guna menumbuhkan kesadaran dan perilaku pencegahan anemia di kalangan remaja putri.


Currently, Indonesia is facing three major nutritional challenges: undernutrition, overnutrition, and micronutrient deficiencies. Anemia remains a significant public health issue that requires attention. Female adolescents, especially school-aged girls, are particularly susceptible to iron deficiency anemia. This vulnerability is due to several factors, including monthly menstruation and improper dietary habits. Therefore, it is important to instill preventive behaviors against anemia from an early age to avoid long-term health consequences. This study aims to analyze the determinants influencing anemia prevention behaviors among female students at SMKN 37 Jakarta. The research employed a quantitative approach with a cross-sectional design. A total of 110 participants were selected using purposive sampling. Data analysis was conducted using the chi-square test to examine the relationship between various factors and anemia prevention behaviors at SMKN 37 Jakarta. The results showed that 54.5% of respondents demonstrated good anemia prevention behaviors. The study assessed knowledge (p = 1.00), attitude (p = 0.001), subjective norms (p = 0.47), and perceived behavioral control (p = 0.001). Attitude and perceived behavioral control were found to have a significant relationship with anemia prevention behaviors. Therefore, support from various stakeholders is needed to promote anemia prevention and raise awareness among female adolescents.
Read More
S-12132
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Atidira Dwi Hanani; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Triyanti; Heni Rudiyanti, Enny Ekasari
Abstrak: Aktivitas fisik memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, termasuk pencegahan berbagaipenyakit. Namun, masih banyak pelajar di Indonesia tidak melakukan aktivitas fisiksecara rutin. Hasil Riskesdas 2013 menunjukkan 33,4% remaja usia 15-19 tahun di JawaBarat kurang aktif dalam melakukan aktivitas fisik, dan Kota Depok merupakan kotadengan proporsi penduduk kurang aktif tertinggi di Provinsi Jawa Barat (40,5%).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan aktivitas fisik pada siswa SMANegeri di Kota Depok Jawa Barat tahun 2018. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional, data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner secara mandiri oleh 358 siswayang dipilih secara acak dari lima SMA Negeri di Depok, dan dianalisis menggunakanuji chi-square dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan 54,2% siswaaktif dalam aktivitas fisik. Penelitian ini membuktikan pengetahuan (p=0,002OR=2,379, 95% CI 1,383-4,091), sikap (p=0,005 OR=1,888, 95% CI 1,209-2,949), danfasilitas (p=0,036 OR=1,673, 95% CI 1,035-2,704) berhubungan dengan aktivitas fisiksiswa, sedangkan dukungan keluarga sebagai variabel konfonding. Pengetahuanmerupakan faktor dominan yang berhubungan dengan aktivitas fisik, siswa yangmemiliki pengetahuan tinggi berpeluang 2 kali untuk aktif secara fisik dibandingkandengan siswa yang berpengetahuan rendah setelah dikontrol oleh sikap, fasilitas, dandukungan keluarga. Untuk itu, penyampaian informasi kesehatan mengenai aktivitasfisik, sosialisasi gerakan masyarakat hidup sehat di masyarakat, dan anjuran untukberaktivitas fisik di sekolah perlu dilakukan sebagai upaya untuk mendorong siswamenjadi lebih aktif.Kata kunci : aktivitas fisik, siswa, SMA
Physical activity has many health benefits, including the prevention of various diseases.However, many students in Indonesia were not physically active. The result of BasicHealth Research 2013 showed that 33.4% of adolescents aged 15-19 years in West Javawere not active in physical activity, and Depok was the city with the highest proportionof the least active population in West Java which was 40.5%. This study aimed todetermine the determinants of physical activity on senior high school students in Depok,West Java 2018. This study used cross sectional design, data was collected using self-administered questionnaire on 358 randomly selected students from five senior highschools in Depok, and analyzed using chi-square and multiple logistic regression tests.The result showed 54.2% students were sufficiently active. These findings revealed thatknowledge (p=0,002 OR=2,379, 95% CI 1,383-4,091), attitudes (p=0,005 OR=1,888,95% CI 1,209-2,949), and facilities (p=0,036 OR=1,673, 95% CI 1,035-2,704) relatedto physical activity while family support as confounding. Highly knowledgeablestudents had two-fold chance of being active in physical activity than low-knowledgestudents after being controlled by attitudes, facilities, and family support. Therefore, it isnecessary to deliver health information about physical activity, socialization of healthylifestyle in the community, and the encouragement for physical activity in schools as aneffort to encourage students to be more active.Key words : physical activity, student, senior high school.
Read More
T-5421
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marti Rahayu Diah Kusumawati; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Triyanti, Evi Martha, Andi Sari Bunga Untung, Fiena Fithriah
Abstrak: Konsumsi buah dan sayur pada siswa masih belum memenuhi rekomendasi yangdianjurkan. Kurangnya konsumsi buah dan sayur mengakibatkan peningkatan risikopenyakit tidak menular dan menyebabkan kematian. Kelompok usia sekolah menengahatas merupakan kelompok usia remaja yang berada dalam masa yang tepat untukpertumbuhan dan perkembangannya dalam menanamkan kebiasaaan makan yang sehat.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan konsumsi buah dan sayur padasiswa SMA Negeri di Kecamatan Jatinegara Jakarta Timur. Penelitian ini merupakanpenelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Sebanyak 326 siswa dari 4SMA Negeri berpartisipasi dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwasikap, preferensi, dan ketersediaan buah dan sayur di rumah merupakan determinan darikonsumsi buah dan sayur dengan faktor dominan yang ditemukan adalah preferensi(OR=7,87; CI=1,8-34,1). Peningkatan pemahaman akan manfaat dan pentingnyakecukupan konsumsi buah dan sayur bagi kesehatan serta upaya pemberdayaanmasyarakat sekolah dapat membentuk persepsi yang baik bahwa buah dan sayur adalahmakanan sehat dengan rasa yang enak dan dapat dikonsumsi dalam berbagai jenispengolahan yang menarik.Kata kunci: Konsumsi buah dan sayur, remaja, siswa.
Consumption of fruits and vegetables in students still not meet the recommendedrecommendations. Lack of fruit and vegetable consumption leads to an increased risk ofnon-communicable diseases and causing death. The high school age group is a group ofteenagers who are in the right age for their growth and development in instilling healthyeating habits. This study aims to determine the determinants of fruit and vegetableconsumption in high school students in East Jakarta Jatinegara Subdistrict. This researchis a quantitative research with cross-sectional study design. A total of 326 students from4 public senior high school participated in this study. The results showed that theattitudes, preferences, and availability of fruits and vegetables at home were thedeterminants of fruit and vegetable consumption with the dominant factor found inpreference (OR = 7,87, CI = 1,8-34,1). Increased understanding of the benefits andimportance of the adequacy of fruit and vegetable consumption for health and efforts toempower the school community can form a good perception that fruits and vegetablesare healthy foods with good taste and can be consumed in various types of attractiveprocessing.Keywords: Consumption of fruit and vegetables, adolescents, students.
Read More
T-5313
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive