Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 43049 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Wawang; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Putri Bungsu, Endah Kusumowardani, Ikke Yuniherlina
Abstrak:
Pneumonia merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada balita di Indonesia. Paparan polusi udara rumah tangga, khususnya dari bahan bakar memasak yang menghasilkan asap, serta paparan asap rokok diduga berperan dalam meningkatkan risiko kejadian pneumonia pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara polusi udara rumah tangga dan paparan asap rokok dengan kejadian pneumonia pada balita di Indonesia.Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Analisis dilakukan pada balita usia 12–59 bulan dengan variabel dependen kejadian pneumonia, serta variabel independen utama berupa bahan bakar memasak dan paparan asap rokok. Variabel kovariat dipilih berdasarkan nilai    p < 0,25 pada analisis bivariat dan pertimbangan teoritis. Analisis data dilakukan secara bertahap menggunakan regresi logistik berganda dengan pendekatan survei (svy) untuk mengontrol variabel perancu serta menguji interaksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi pneumonia pada balita sebesar 1,92%. Pada analisis bivariat, penggunaan bahan bakar memasak yang menghasilkan asap berhubungan signifikan dengan kejadian pneumonia (OR = 1,30; 95% CI: 1,03–1,64; p = 0,030). Pada analisis multivariat model akhir, bahan bakar memasak tetap berhubungan signifikan dengan kejadian pneumonia (OR = 1,30; 95% CI: 1,03–1,65; p = 0,027). Selain itu, status gizi akut (wasting) juga berhubungan signifikan dengan kejadian pneumonia (OR = 1,41; 95% CI: 1,04–1,91; p = 0,028). Paparan asap rokok tidak menunjukkan hubungan yang signifikan baik pada analisis bivariat (OR = 0,86; p = 0,215) maupun multivariat (OR = 1,22; p = 0,306), namun ditemukan adanya efek modifikasi oleh status imunisasi (p = 0,037), dengan efek protektif imunisasi lengkap terhadap dampak paparan asap rokok. Tidak ditemukan interaksi bermakna antara asap rokok dengan variabel lain. Variabel lain seperti jenis kelamin, usia balita, pendidikan ibu, dan status ekonomi menunjukkan hubungan yang bervariasi, dengan sebagian tetap signifikan dalam model akhir. Meskipun tidak ditemukan variabel confounder berdasarkan kriteria perubahan OR ≥ 10%, seluruh variabel tetap dipertahankan berdasarkan pertimbangan statistik dan teoritis. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kejadian pneumonia pada balita bersifat multifaktorial, dengan faktor utama yang berperan adalah bahan bakar memasak dan status gizi akut. Efek bahan bakar memasak juga dipengaruhi oleh faktor sosial seperti pendidikan ibu, sementara paparan asap rokok tidak berhubungan langsung dengan kejadian pneumonia namun dipengaruhi oleh status imunisasi sebagai efek modifikasi. Upaya pencegahan pneumonia perlu difokuskan pada pengendalian polusi udara rumah tangga, pengurangan paparan asap rokok, perbaikan status gizi, serta penguatan program imunisasi dan edukasi kesehatan.

Pneumonia is a leading cause of morbidity and mortality among toddlers in Indonesia. Household air pollution, particularly from smoky cooking fuels, and secondhand smoke exposure are suspected risk factors. This study aims to analyze the relationship between household air pollution and secondhand smoke exposure with pneumonia incidence among toddlers in Indonesia. Using a cross-sectional design, this study analyzed secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI) focusing on children aged 12–59 months. Data were analyzed using multiple logistic regression with a survey (svy) approach. The results showed a pneumonia prevalence of 1.92%. Bivariate analysis indicated that smoky cooking fuels were significantly associated with pneumonia (OR = 1.30; 95% CI: 1.03–1.64; p = 0.030). In the final multivariate model, cooking fuel remained significant (OR =1.30; 95% CI: 1.03–1.65; p = 0.027), alongside acute nutritional status/wasting (OR = 1.41; 95% CI: 1.04–1.91; p = 0.028). Secondhand smoke exposure showed no direct significant association in bivariate (OR = 0.86; p = 0.215) or multivariate analysis (OR = 1.22; p = 0.306). However, immunization status acted as a significant effect modifier (p = 0.037), providing a protective effect against smoke exposure. Other variables such as gender, age, maternal education, and economic status showed varying associations. In conclusion, pneumonia incidence is multifactorial, primarily driven by cooking fuel and nutritional status. The impact of cooking fuel is influenced by maternal education, while the effect of smoke exposure is modified by immunization. Prevention efforts should focus on controlling household air pollution, reduced exposure to cigarette smoke, improving nutrition, and strengthening immunization and health education programs.
Read More
T-7506
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kezia Andini Bu'ulolo; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Trisari Anggondowati, Holisoh
Abstrak:
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksius yang menjadi masalah kesehatan masyarakat baik secara global, maupun secara nasional. Kelompok balita adalah salah kelompok paling rentan terhadap penyakit ini. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kondisi keluarga karena ketergantungan balita pada orang tua mereka. Meskipun begitu, masih didapatkan inkosistensi penemuan mengenai signifikansi variabel-variabel tersebut terhadap kejadian ISPA pada balita. Peneliti bermaksud untuk mengetahui hubungan faktor kondisi keluarga dengan kejadian ISPA pada balita di Provinsi DKI Jakarta menurut SKI tahun 2023. Penelitian ini dilakukan menggunakan desain studi potong lintang atau cross-sectional dan dianalisis secara univariat dan bivariat dengan chi-square. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa 6,3% balita didiagnosis dengan ISPA. Persentase ISPA terbesar ditemukan pada balita berumur 0-24 bulan (7,3%), balita dengan riwayat BBLR (8,8%), balita dengan status imunisasi tidak lengkap (10,8%), balita dengan ibu yang tidak bekerja (6,5%), balita dengan ayah perokok (8,1%), dan balita dengan ayah yang merokok di rumah (12,7%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa balita dengan status imunisasi yang tidak lengkap memiliki kemungkinan 2,8 kali untuk mengalami ISPA (POR: 2,8, 95% CI: (0,92 – 8,47)). Selain itu, balita dengan ayah yang merokok di rumah memiliki kemungkinan 1,9 kali untuk mengalami ISPA (POR:1,9, 95% CI: (0,71 – 5,13)). Uji statistik menunjukkan hasil yang tidak signifikan, kemungkinan dipengaruhi oleh kecilnya sampel karena missing data. Perlunya ada intervensi berkaitan dengan status imunisasi yang tidak lengkap dan perilaku merokok ayah untuk mencegah ISPA pada balita secara efektif, sekaligus peningkatan kualitas data untuk meningkatkan kekuatan statistik penelitian selanjutnya.

Acute Respiratory Infections (ARIs) are infectious diseases that pose a public health problem both globally and nationally. Toddlers are among the groups that are most vulnerable to this diseases. Said vulnerability is influenced by various factors, one of which is the family conditions due to the toddler’s dependence on their parents. However, findings regarding the significance of these variables among toddlers remain incosistent. The researchers aimed to determine the association between family circumstances and the incidence of ARI among toddlers in DKI Jakarta based on data from SKI 2023. This study uses a cross-sectional design through univariate and bivariate methods and uses chi-square tests. Based on the results, it was found that 6,3% of toddlers were diagnosed with ARI. The highest percentage of ARI cases was found among toddlers aged 0-24 months (7,3%), toddlers with a history of low birth weight (8,8%), toddlers with incomplete immunization status (10,8%), toddlers whose mothers were not employed (6,5%), toddlers whose fathers smoked (8.1%), and toddlers whose fathers smoked at home (12,7%). Results of the bivariate analysis showed that infants with incomplete immunization were 2,8 times more likely to develop ARI (POR: 2,8, 95% CI: (0,92 – 8,47)). Additionally, toddlers with fathers who smoked at home were 1,9 times more likely to develop ARI (POR:1,9, 95% CI: (0,71 – 5,13)). Statistical tests showed non-significant results, likely influenced by the small sample size due to missing data. Interventions addressing incomplete immunization status and fathers’ smoking behavior are needed to effectively prevent ARI in toddlers, along with improvements in data quality to enhance the statistical power of future studies.
Read More
S-12313
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Stevy Elisabeth Dame Simamora; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Helda; Yosyah; Penguji: Soewarta Kosen, Mularsih Restianingrum
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Stevy Elisabeth Dame Simamora Program Studi : Epidemiologi Judul : Pengaruh Paparan Asap Rokok Dari Suami Pada Wanita Usia 15-57 Tahun Dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah Di Indonesia (Analisis Data Lanjutan IFLS V Tahun 2014) Pembimbing : DR. dr. Sudarto Ronoatmodjo S.K.M., M.Sc Di Indonesia berdasarkan hasil riskesdas tahun 2013 menunjukkan angka nasional BBLR yaitu sekitar 10,2%. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Global Adult Tobacco Survey (GATS) tahun 2011 diperoleh hasil bahwa 67% laki-laki di Indonesia merokok. (1) Sementara itu pada tahun 2011-2015 prevalensi perokok pasif yang terpapar asap rokok di rumah sekitar 78.4%, lebih dari separuh perokok pasif adalah kelompok rentan seperti perempuan dan balita. (2).  Penelitian ini bertujuan untuk menegetahui hubungan paparan asap rokok dari suami pada wanita usia 15-57 tahun dengan kejadian BBLR. Penelitian ini bertujuan untuk menegetahui hubungan paparan asap rokok dari suami pada wanita usia 15-57 tahun dengan kejadian BBLR. Penelitian ini menganalisis data IFLS V tahun 2014.Jumlah wanita usia 15-57 tahun yang menjadi responden IFLS V sebanyak 2.721 orang. Sebanyak 1.599 orang menjadi total sampel karena telah memenuhi syarat kriteria inklusi yaitu wanita  usia 15 – 57 tahun dengan anak kelahiran terakhir yang lahir hidup dalam kurun waktu 2007-2015, Pernah melahirkan. Sedangkan kriteria ekslusi yaitu : data tentang riwayat merokok suamidan variabel kovariat  tidak lengkap, dan ibu merupakan perokok aktif. Proporsi ibu usia 15-57 tahun yang terpapar asap rokok dari suami adalah 73,5 % . Proporsi bayi  dengan berat lahir rendah yang dilahirkan oleh ibu yang terpapar asap rokok dari suami pada penelitian ini adalah 7,74 %, dan  proporsi bblr pada ibu yang tidak terpapar asap rokok dari suami yaitu 6,86%. Terdapat hubungan yang tidak bermakna antara merokok pasif pada ibu usia 15-57 tahun dengan kejadian BBLR dengan 1,096 (CI 95% 0,721-1,66) setelah dikontrol oleh variabel riwayat kunjungan ANC. Pengaruh paparan asap rokok terhadap kejadian BBLR setelah dikontrol oleh variabel riwayat kunjungan ANC tidak bermakna. Meskipun faktor yang mempengaruhi BBLR sangat banyak dan kompleks, namun hal ini dapat dicegah sejak dini. Salah satunya melalui melindungi masyarakat dari paparan asap rokok melalui upaya pencegahan dan promosi kesehatan. Kata Kunci : bblr,merokok pasif, IFLS


ABSTRACT Name : Stevy Elisabeth Dame Simamora Study Program : Epidemiology Title : The Effect of Cigarette Smoke Exposure From Husbands In Women Aged 15-57 Years With Low Birth Weight In Indonesia (Advanced Data Analysis of IFLS V 2014) Counsellor : DR. dr. Sudarto Ronoatmodjo S.K.M., M.Sc In Indonesia based on the results of Riskesdas (Basic Health Research) in 2013 shows the national rate of LWB is about 10.2%. Based on a survey conducted by Global Adult Tobacco Survey (GATS) in 2011, it was found that 67% of men in Indonesia smoke. (1) Meanwhile in 2011-2015 the prevalence of passive smokers exposed to cigarette smoke at home is about 78.4%, more than half of passive smokers are vulnerable groups such as women and toddlers. (2). Objective: This study to see the effect of exposure to husbands cigarette smoke with the LWB. Method: This study analyzed IFLS V data in 2014. A total of 1,599 people into the total sample because it has fulfilled the inclusion criteria, namely women aged 15 - 57 years with the last born birth of children in the period 2007-2015, Ever give birth. While the exclusion criteria are: data about husbans smoking history and  covariate variable is incomplete, and mother is active smoker. Results: 73.5% of husbands were smokers. The proportion of infants with low birth weight born to mothers exposed to cigarette smoke from husbands in this study was 7.74%, and the proportion of bblr in mothers not exposed to cigarette smoke from husbands was 6.86%. There was no significant relationship between passive smoking in women aged 15-57 years with LWB incidence with 1.096 (95% CI 0.721-1.66) after controlled by antenatal care (ANC) visit variables. Conclusion: The effect of exposure to husbands smoke with the  LWB after controlled by antenatal care (ANC) visit history variable is not significant. Although the factors that affect LBW are very numerous and complex, but this can be prevented early on. One of them through protecting people from exposure to cigarette smoke through prevention efforts and health promotion. Key words : LWB, passive smoker, IFLS

Read More
T-5142
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Paulina Magdalena Nainggolan; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Renti Mahkota, Punto Dewo, Nikson Sitorus
Abstrak: Latar Belakang: Paparan asap rokok merupakan salah satu faktor risiko yang dapat menjadi pencetus terjadinya hipertiroid selain beberapa faktor risiko lainnya. Prevalensi merokok di Indonesia semakin meningkat dari 27% (tahun 1995) menjadi 36,3% (tahun 2013). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan paparan asap rokok dengan hipertiroid pada penduduk Indonesia umur ≥ 15 tahun.
Metode: Desain studi dalam penelitian ini adalah cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh penduduk Indonesia umur ≥ 15 tahun yaitu sebesar 722.329 responden. Sampel penelitian adalah penduduk Indonesia umur ≥ 15 tahun yang menjadi responden dalam Riskesdas tahun 2013 dan memiliki data lengkap tentang variabel yang diteliti yaitu sebesar 46.823 responden. Analisis data multivariat menggunakan regresi logistik untuk mengetahui hubungan paparan asap rokok dengan hipertiroid setelah dikontrol variabel umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, kandungan iodium dalam garam yang digunakan dalam rumah tangga dan status gizi.
Hasil: Prevalensi hipertiroid pada penelitian ini adalah 0,8%. Prevalensi keterpaparan asap rokok 77,4%. Responden yang terpapar asap rokok dengan status pendidikan tinggi memiliki peluang 1,65 kali untuk mengalami hipertiroid dibandingkan pada responden yang tidak terpapar asap rokok dan bukan status pendidikan tinggi. Responden yang terpapar asap rokok dengan status pendidikan sedang memiliki peluang 1,30 kali untuk mengalami hipertiroid dibandingkan pada responden yang tidak terpapar asap rokok dan bukan status pendidikan tinggi. Responden yang terpapar asap rokok dengan status pendidikan rendah memberikan efek protektif 0,69 kali terhadap hipertiroid dibandingkan pada responden yang tidak terpapar asap rokok dan bukan pendidikan tinggi.
Kesimpulan: Paparan asap rokok berinteraksi dengan pendidikan dalam menyebabkan hipertiroid.
Kata Kunci: Hipertiroid; Paparan asap rokok; Pendidikan; Riskesdas 2013.
Read More
T-4988
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novita Pratama; Pembimbing: Kirisnawati Bantas; Penguji: Putri Bungsu, Edy Harianto
Abstrak: Pneumonia merupakan masalah kesehatan utama balita, penyebab kematian keduatertinggi di Indonesia diantara balita setelah diare. Tingkat kematian balita akibatpneumonia lebih tinggi di perdesaan dibanding perkotaan. Prevalensi pneumoniadan persentase period prevalence pneumonia di daerah perdesaan lebih tinggidibandingkan dengan daerah perkotaan. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktorrisiko terjadinya kejadian pneumonia pada balita di wilayah perdesaan IndonesiaTahun 2012. Desain studi cross sectional dengan menggunakan data SDKI 2012.Variabel independen dalam penelitian ini adalah karakteristik anak yang meliputiusia, jenis kelamin, berat badan lahir, pemberian ASI ekslusif, pemberian vitaminA, status imunisasi campak, status imunisasi DPT; karakterisk sosial dan ekonomiyang meliputi pendidikan ibu, status ekonomi; dan karakteristik lingkungan yangmeliputi keberadaan perokok dalam rumah dan bahan bakar memasak. Sedangkanvariabel dependen dalam penelitian ini adalah pneumonia balita. Hasil penelitianini didapatkan bahwa ada hubungan bermakna antara usia (PR=1,42-1,80), jeniskelamin (PR=1,2), berat badan lahir (PR=1,3), pemberian ASI ekslusif (PR=1,85),status ekonomi (PR=1,59-1,60) dan bahan bakar memasak (PR=1,43).Kata Kunci :Balita, pneumonia, perdesaan.
Read More
S-9530
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Faraz Ali; Pembkimbing: Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Ema Hermawati, Fajar Nugraha, Rindu Rachmiaty
Abstrak:
Asap rokok di rumah (SHS) telah menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama di daerah dengan prevalensi merokok yang tinggi seperti Indonesia. Paparan SHS telah dikaitkan dengan gejala pernapasan seperti sesak napas dan batuk. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan korelasi antara paparan SHS di rumah dengan gejala pernapasan pada orang dewasa yang tidak merokok di Depok, Indonesia. Sebanyak 108 orang dewasa yang tidak merokok berusia 18–30 tahun, yang terpapar SHS di rumah, direkrut menggunakan teknik sampling kenyamanan untuk penelitian potong lintang. Kuesioner terstruktur yang diisi oleh pewawancara digunakan untuk mengumpulkan data mengenai gejala pernapasan batuk dan sesak napas. Statistik deskriptif digunakan dalam deskripsi karakteristik peserta, dan hubungan antara paparan asap rokok pasif (SHS) dan gejala pernapasan ditentukan menggunakan uji Chi-square. Menurut temuan dari penelitian tersebut, hubungan signifikan secara statistik dari prevalensi gejala pernapasan dengan usia (p = 0,046; OR = 2,63, 95% CI: 1,05–6,55), pekerjaan (p = 0,050; OR = 2,61, 95% CI: 1,04–6,53), frekuensi paparan (p = 0,001; OR = 4,86, 95% CI: 1,84–12,83), dan waktu paparan SHS (p = 0,007; OR = 3,76, 95% CI: 1,43–9,87) ditetapkan. Hasil ini menunjukkan bahwa pria, individu yang terpapar SHS dalam durasi yang lebih lama, terutama yang terpapar lebih dari lima jam, dan individu yang tidak bekerja, memiliki prevalensi gejala yang lebih tinggi. Temuan ini menunjukkan adanya risiko kesehatan dari paparan SHS jangka panjang di rumah bagi orang dewasa yang tidak merokok. Hal ini menekankan pentingnya penerapan undang-undang rumah bebas rokok dan kesadaran bahaya SHS di masyarakat.

Secondhand smoke (SHS) home exposures have come to represent a public health concern, especially where there is high prevalence of smoking such as Indonesia. SHS exposures have been linked to respiratory manifestations such as shortness of breath and cough. This study set out to determine the correlation of SHS home exposures with respiratory symptoms among nonsmoking adults in Depok, Indonesia. A total of 108 nonsmoking adults aged 18–30 years old, exposed to SHS at home, were recruited using convenience sampling for the cross-sectional study. A structured interviewer-administered questionnaire was filled to gather data for measurement of respiratory symptoms of cough and shortness of breath. Descriptive statistics were utilized in the description of the participants' characteristics, and the association between second-hand smoke (SHS) exposure and respiratory symptoms was determined using the Chi-square test. According to the findings from the study, statistically significant associations of the prevalence of respiratory symptoms with age (p = 0.046; OR = 2.63, 95% CI: 1.05–6.55), occupation (p = 0.050; OR = 2.61, 95% CI: 1.04–6.53), the frequency of exposure (p = 0.001; OR = 4.86, 95% CI: 1.84–12.83), and the time of SHS exposure (p = 0.007; OR = 3.76, 95% CI: 1.43–9.87) were established These results indicate that male, individuals exposed to SHS for longer durations. Significantly, SHS-exposed subjects for longer than five hours and unemployed subjects showed prevalence of symptoms. It is the study findings with implications of health risks of long SHS home exposures among nonsmoking adults. It vouches for the importance of implementing legislation of smoke-free houses and SHS hazards awareness in the community.
Read More
T-7332
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Melly Wulandari; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Budi Hartono, Laila Fitria, Tria Astika Endah Permatasari, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:

Ketidakseimbangan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan anak atau malnutrisi dapat menyebabkan terganggunya perkembangan dan pertumbuhan anak. Infeksi penyakit, wilayah tempat tinggal, sanitasi yang buruk dan keterbatasan akses air minum merupakan salah satu faktor yang berkontribusi dalam meningkatkan malnutrisi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis malnutrisi dengan pendekatan spasial (by place) dan statistik dengan menggunakan data sekunder SKI 2023. Variabel dependen meliputi malnutrisi balita (stunting, wasting dan underweight). Variabel independen yaitu penyakit infeksi balita (ISPA, pneumonia, dan diare) dan faktor lingkungan rumah tangga (akses air minum, sumber air minum, sanitasi rumah tangga, higiene dasar, rumah layak huni). Analisis dalam penelitian ini menggunakan uji korelasi spearman/pearson dan pemetaan menggunakan Quantum GIS versi 3.38.2. Diare berkorelasi sedang dengan malnutrisi. Akses air minum (lama waktu >30 menit), sanitasi belum layak, tidak ada higiene dasar, dan rumah layak huni berkorelasi kuat dengan stunting. Sumber air minum air permukaan berkorelasi kuat dengan stunting, wasting, dan underweight. Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Barat merupakan wilayah dengan tingkat kerawanan malnutrisi tertinggi. Perlu adanya intervensi multisektoral untuk menangani malnutrisi di Indonesia.


Nutritional imbalance during the first 1,000 days of life has been shown to significantly  impair a child’s growth and development. Various factors such as infectious diseases,  geographic location, inadequate sanitation, and limited access to safe drinking water  contribute to the prevalence of malnutrition among children. This study aimed to analyze  child malnutrition in Indonesia using a spatial and statistical approach, based on  secondary data from the 2023 Indonesia Health Survey (SKI). The dependent variables  were the three main indicators of child malnutrition: stunting, wasting, and underweight.  Independent variables included infectious diseases in children (acute respiratory  infections, pneumonia, and diarrhea) and household environmental factors (access to  drinking water, water source, household sanitation, basic hygiene, and adequacy of  housing conditions). Analytical methods included Spearman’s or Pearson’s correlation  tests and spatial mapping using Quantum GIS version 3.38.2. The results indicated that  diarrhea was moderately correlated with malnutrition, while prolonged access to drinking  water (>30 minutes), unimproved sanitation, absence of basic hygiene facilities, and  inadequate housing showed strong correlations with stunting. Furthermore, the use of  surface water sources was strongly associated with all three malnutrition indicators:  stunting, wasting, and underweight. The most vulnerable regions identified were  Highland Papua, Central Papua, South Papua, East Nusa Tenggara, and Southwest Papua.  These findings underscore the urgent need for integrated, multisectoral interventions  targeting nutrition, infectious disease prevention, and improvements in basic household  infrastructure. 

Read More
T-7364
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayu Indriyani Lestari; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Asri C Adisasmita, Ririn Arminsih, Diah Wati
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Ayu Indriyani Lestari Program studi : Magister Epidemiologi Judul : Pengaruh Polusi Dapur Rumah Tangga Dengan Kematian Balita (0 – 59 Bulan) Di Indonesia Polusi dapur dalam rumah tangga, terutama akibat penggunaan bahan bakar masak merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang berpengaruh terhadap kesehatan penghuni rumah, salah satunya pada balita. Penyebab kematian utama balita di Indonesia berdasarkan data WHO adalah pneumonia. untuk mengetahui hubungan polusi dapur rumah tangga dan kematian balita (0 – 59 bulan) di Indonesia berdasarkan data SDKI tahun 2012 Hubungan antara polusi dapur rumah tangga dengan kematian balita dianalisis dengan menggunakan cox regression Pada kelompok balita anak pertama dengan BBLR risiko kematian akibat bahan bakar masak tidak aman dan dapur di dalam rumah adalah 1,4 kali (0,52 – 3,78) dan risiko kematian akibat bahan bakar masak tidak aman dan dapur di luar rumah hampir tidak ada (PR 1,03, 95% CI 0,25 – 4,21). Pada kelompok anak kedua dengan BBL normal risiko kematian akibat bahan bakar masak tidak aman dan dapur di dalam rumah adalah 1,76 kali (95% CI 0,9 – 3,45) dan risiko kematian akibat bahan bakar masak tidak aman dan dapur di luar rumah lebih tinggi yaitu 1,83 kali (95% CI 0,8 – 4,16). Pada keseluruhan balita, didapatkan risiko kematian akibat bahan bakar masak tidak aman dan dapur di dalam rumah adalah 1,11 kali (0,76 – 1,62) dan risiko kematian akibat bahan bakar masak tidak aman dan dapur di luar rumah 0,93 kali (95% CI 0,59 – 1,48). Risiko kematian balita meningkat pada rumah tangga dengan bahan bakar tidak aman berdasarkan letak dapur. Pada anak pertama dengan BBLR lebih rentan mengalami kematian akibat polusi udara rumah tangga, sementara pada kelompok anak kedua dengan BBL normal, berisiko untuk mengalami kematian akibat polusi udara rumah tangga. Kata kunci: polusi dapur rumah tangga, bahan bakar masak, letak dapur, kematian balita


ABSTRACT Name : Ayu Indriyani Lestari Study program : Magister Epidemiology Title : Kitchen Pollution and Under-five Mortality in Indonesia Kitchen pollution, mainly due to the use of cooking fuel is one public health problem that affects the health of residents, particularly in infants. The main cause of mortality under five in Indonesia based on data from WHO was pneumonia. This study aims to determine the association of kitchen pollution and under-five mortality in Indonesia based on data from Demographic and Health Survey 2012. The association between kitchen pollution and under-five mortality was analysed by cox regression method. Under-five mortality for the first-born children and low birth weight group, risk of death from polluting cooking fuels and the kitchen in the house was 1.4 times (0.52 to 3.78) and almost no risk of death from polluting cooking fuels and outdoor kitchens (PR 1.03; 95% CI 0.25 to 4.21). While, for the second and subsequentborn children with normal birth weight group, risk of death from polluting cooking fuels and the kitchen in the house was 1.76 times (95% CI 0.9 to 3.45) and the risk of death from polluting cooking fuels and outdoor kitchens home is 1.83 times higher (95% CI 0.8 to 4.16). For total group of under-five children, risk of death due to polluting cooking fuels and the kitchen in the house was 1.11 times (0.76 to 1.62) and the risk of death from polluting cooking fuels and outdoor kitchens 0.93 times (95% CI 0.59 to 1.48). Risk to death increased in households with polluting fuel by the kitchen location. For first-born child with low birth weight were more susceptible to death from household air pollution, while the second and subsequent-born group of children with normal birth weight were at risk of death from household air pollution. Keywords: kitchen pollution, cooking fuel, kitchen location, under-five mortality

Read More
T-4832
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hanna Audila; Pembimbing: Helda; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Ratna Djuwita, Sugiharti
Abstrak:

Latar belakang: Masalah gizi stunting masih menjadi isu kesehatan masyarakat yang utama. Prevalensi stunting di Indonesia khususnya, pada bayi di bawah dua tahun (baduta) masih tergolong tinggi yakni 18.50%. Angka laju penurunan stunting pada baduta cenderung lamban dalam periode 10 tahun terakhir. Diperlukannya optimalisasi intervensi stunting terutama pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) salah satunya, melalui pemeriksaan kehamilan (antenatal care).
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kualitas pemeriksaan kehamilan terhadap kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia setelah di kontrol oleh variable lainnya pada ibu yakni; faktor sosiodemografi, kesehatan kehamilan dan kesehatan anak.
Metode: Studi ini berdesain cross-sectional, dimana faktor paparan dan outcome diukur pada satu waktu. Data yang digunakan adalah data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Mengikutsertakan sebanyak 18.898 anak berusia 6-23 bulan yang ibunya sedang tidak hamil dan memiliki data pemeriksaan kehamilan lengkap pada instrumen SKI tahun 2023. Analisis hubungan menggunakan cog regression sedangkan, pada pengontrolan hubungan variable menggunakan metode time-dependent dan backward-elimination.
Hasil: Anak berusia 6-23 bulan di Indonesia yang ibunya tidak melakukan pemeriksaan kehamilan berkualitas berisiko 1.23 kali (aPR = 1.230, 95%CI: 1.111-1.361, p-value = 0,000) mengalami stunting setelah di kontrol oleh variabel kovariat lainnya.
Kesimpulan: Melakukan ANC minimal 4 kali dan menerima pelayanan ANC yang berkualitas dapat menurunkan resiko stunting pada baduta di Indoensia.


 

Background: Child stunting is still be a major public health issue in Indonesia, expecially in toddlers (child aged 6-23 months). The prevalence of stunting among toddlers remains relatively high, 18.50%. The annual average rate of reduction (AARR) of stunting has been steadily slow over the last past 10 years. Therefore, it is crucial to optimize the stunting interventions, predominantly during the first 1000 days of life, one of the ways is through the antenatal care. Objectives: This study aims to analyze the relationship between the quality of antenatal care and the incidence of stunting in children aged 6-23 monts in Indonesia, after being controlled by the other variable, such are; sociodemographic factors, pregnANCy health and child health. Methods: This is a cross-sectional study, in which both of the exposures and the outcome are being measured at the same point of time. The data used are from the Indonesi Health Survey in 2023. There are 18.898 children aged 6-23 months were included, whose mothers were not pregnant and had a fulfilled of antenatal care data, in the SKI 2023 instrument. The association analysis was conducted by cog regression while the time-dependent methods and backward elimination were conducted to to control those variables. Findings: Child aged 6-23 monthss old in Indonesia, whose mothers did not receive four visit of antenatal care have a 1.23 times higher risk (aPR = 1.230, 95%CI: 1.111-1.361, p-value 0.000) of experiencing stunting, after controlling for the other covariate variables.   Conclusions: Receiving at least four antenatal care (ANC) visits, and accessing quality ANC services can reduce the risk of stunting among children aged 6-23 months- old in Indonesia.

 

Read More
B-2530
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Imra Asy`ari; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Nuning M. Kiptiyah, Sudarto Ronoatmodjo, Widiawati
Abstrak:

ABSTRAK

ISPA merupakan penyebab utama kematian pada bayi dan anak balita didunia,khususnya di negara berkembang. Kematian tersebut diperkirakan 2-5 juta setiaptahunnya. Di Indonesia prevalensi ISPA masih tinggi yaitu 25,5% menurut hasilRiset Kesehatan Dasar tahun 2007. Faktor utama penyebab ISPA adalah polusiudara dalam ruangan yang umumnya berasal dari hasil pembakaran bahan bakarbiomass, batu bara, dan minyak tanah yang digunakan rumah tangga untukmemasak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis bahan bakardan tempat memasak rumah tangga terhadap kejadian ISPA pada balita dipedesaan Indonesia tahun 2007 setelah dikontrol seluruh confounding. Desainstudi yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional analysis denganmenggunakan data SDKI 2007. Analisis penelitian melakukan pembobotansehingga peneliti menggunakan analisis complex design survey dengan populasisumber berasal dari 33 propinsi di Indonesia, yaitu sebanyak 7.602 responden.Hasil analisis didapatkan prevalensi ISPA pada balita sebesar 12,0%. Jenis bahanbakar memasak berisiko 1,459 kali (CI 95%: 1,011-2,105) terhadap kejadianISPA pada balita dengan p value: 0,047 (ada hubungan yang signifikan). Jeniskelamin anak, status imunisasi BCG, lama pemberian ASI, berat badan lahir anak,pemberian vitamin A, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, dan tingkat kesejahteraankeluarga merupakan variabel covariat yang berpengaruh secara signifikanterhadap kejadian ISPA pada balita dengan p value < 0,05. Analisis multivariatCox Regression didapatkan balita yang tinggal pada polusi dapur rumah tanggatinggi polusi berisiko 1,217 kali (CI 95%: 0,767-1,931) untuk menderita ISPAsetelah dikontrol variabel covariat. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankanpada masyarakat untuk memasak yang menggunakan bahan bakar high pollutandalam rumah agar memperhatikan sirkulasi udara pada tempat memasak dan bagipemerintah agar dapat memberikan KIE tentang pengendalian polusi udara dalamruangan.

ABSTRACT

ARI is the leading cause of death in infants and children under five in the world,particularly in developing countries. The estimated 2-5 million deaths annually.ARI prevalence in Indonesia is still high at 25.5% according to the results of the2007 Basic Health Research. ARI is the main factor causing indoor air pollution,primarily from the burning of biomass fuels, coal, and kerosene are used byhouseholds for cooking. This study aimed to determine the effect of cooking fueltype and household kitchen of ARI events in children under five years in ruralIndonesia in 2007 after a controlled throughout confounding. Study design used inthis study is cross-sectional analysis using data from Demographic and HealthSurvey 2007. Analysis of the research done so that investigators use a weightedanalysis of complex survey design with source populations from 33 provinces inIndonesian, as many as 7,602 respondents. Analysis we found the prevalence ofARI in children under five years are 12.0%. Type of cooking fuel have risk 1.459times (95% CI: 1.011 to 2.105) of ARI Events In Children Under Five Years witha p value: 0.047 (no significant relationship). Sex of the child, BCG immunizationstatus, duration of breastfeeding, birth weight children, vitamin A, maternaleducation, maternal employment, and family welfare is covariat variables thatsignificantly affect the incidence of respiratory infection in childrens with p value<0.05 . Multivariate Cox Regression analysis found that childrens living in thehousehold kitchen high pollution have risk 1.217 times (95% CI: 0.767 to 1.931)of ARI Events In Children Under Five Years after controlling for covariatvariables. Based on the results of this study suggested that people use for cookingfuel high pollutants in the house to pay attention to air circulation on a place tocook and for the government to provide IEC about controlling indoor airpollution.

Read More
T-4004
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive