Ditemukan 39020 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Luthfia Amalia Tama; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Putri Bungsu, Sulistiyawati Murdiningrum
Abstrak:
Read More
Wasting pada balita merupakan kondisi ketika balita terlalu kurus jika dibandingkan dengan tinggi badannya yang merupakan akibat dari penurunan berat badan yang cepat atau kegagalan menambah berat badan. Provinsi Maluku dan Bali merupakan dua provinsi dengan prevalensi wasting yang sangat berbeda. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi serta determinan kejadian wasting pada balita usia 6-59 bulan di Provinsi Maluku dan Bali berdasarkan data SSGI 2022. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan menggunakan data sekunder dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh balita yang berusia 6-59 bulan di Provinsi Maluku dan Bali yang menjadi sampel dalam SSGI tahun 2022 dan sesuai dengan kriteria inklusi. Data dianalisis menggunakan analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian ini menemukan bahwa prevalensi wasting pada balita usia 6-59 Bulan di Provinsi Maluku adalah 12,2% sementara prevalensi wasting pada balita usia 6-59 bulan di Provinsi Bali adalah 2,2%. Determinan kejadian wasting di Provinsi Maluku adalah umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan ibu, dan kepemilikan jamban. Sementara itu, determinan kejadian wasting di Provinsi Bali adalah jenis kelamin, status berat badan lahir, tingkat pendidikan ibu, wilayah tempat tinggal, dan pemberian Vitamin A. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam penyusunan program pencegahan wasting pada balita dan penelitian selanjutnya.
Wasting in children refers to a condition where a child is too thin for his or her height, resulting from rapid weight loss or the failure to gain weight. The provinces of Maluku and Bali exhibit significantly different prevalence rates of wasting. Therefore, this study aims to determine the proportion and determinants of wasting among children aged 6-59 months in Maluku and Bali provinces based on the 2022 Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI) data. This research employs a cross-sectional study design using secondary data from the 2022 SSGI. The sample consists of all children aged 6-59 months in Maluku and Bali who were included in the 2022 SSGI and meet the inclusion criteria. Data were analyzed using univariate, bivariate, and multivariate analyses. The results indicate that the prevalence of wasting among children aged 6-59 months in Maluku Province is 12.2%, while in Bali Province, it is 2.2%. The determinants of wasting in Maluku Province include age, gender, mother’s education level, and latrine ownership. In Bali Province, the determinants include gender, birth weight status, mother’s education level, place of residence, and Vitamin A supplementation. These findings are expected to inform the development of programs aimed at preventing wasting in children and to guide future research.
S-12294
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Andri Musita; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Kusharisupeni, Besral, Minarto, Anies Irawati
T-4782
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rita Julianti Ariza; Pembimbing: Adang Bachtiar, Ratna Djuwita; Penguji: Endang L. Achadi , Eko Prihastono
Abstrak:
Read More
Tesis ini membahas Pemanfaatan Buku KIA Anak Anak terhadap kejadian stunting di Provinsi Banten Tinggi. Penelitian ini menggunakan cross sectional menggunakan analisis data riskesdas 2018. Penelitian ini menemukan bahwa pada kelompok yang tidak memanfaatkan Buku KIA Anak 32,10 % mengalami stunting, sedangkan pada kelompok yang memanfaatkan Buku KIA Anak 30,32 % yang mengalami stunting Pada penelitian ini didapatkan hubungan antara pemanfaatan Buku KIA Anak dengan stunting dengan aOR 0,09 (95% CI, 0,23-4,16).
This study investigates the relationship between the utilization of Child Health Booklet) and the occurrence of stunting among toddlers (aged 6-59 months) in Banten Province, Indonesia. The analysis is based on data obtained from the Riskesdas 2018 survei. The objective of the study is to examine whether there is an association between the utilization of the Child Health Booklet and the prevalence of stunting in this specific population. The results reveal that among the group of toddlers whose caregivers did not utilize the Child Health Booklet, 32.10% experienced stunting. On the other hand, among the group of toddlers whose caregivers utilized the Child Health Booklet, the prevalence of stunting was 30.32%. The association between the utilization of the Child Health Booklet and stunting was further assessed using adjusted odds ratio (aOR) analysis. The findings indicate a nonsignificant association, with an aOR of 0.095 (95% CI, 0.006-1,406). These findings suggest that there is no significant relationship between the utilization of the Child Health Booklet and the occurrence of stunting among toddlers in Banten Province. However, additional research is necessary to explore other potential faktors that may contribute to stunting in this population.
T-7153
[s.l.] :
FKM UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ika Rania Annisa; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah; Hidayat Nuh Ghazali
Abstrak:
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyakit yang termasuk ke dalam peringkat tiga tertinggi terkait penyebab kematian dan kecacatan pada anak-anak dan dewasa di seluruh dunia. Diestimasikan sekitar 4 juta kematian pada anak-anak usia di bawah 5 tahun (balita) setiap tahunnya akibat ISPA. Berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) Tahun 2017, Provinsi Jawa Barat merupakan Provinsi dengan persentase gejala ISPA pada balita tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Provinsi Banten (6,3%) yaitu sebesar 5,8%. Jika dibandingkan dengan data SDKI 2012, prevalensi kejadian gejala ISPA pada balita di Provinsi Jawa Barat juga mengalami kenaikan dari 4,1% di Tahun 2012 menjadi 5,8% di tahun 2017. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor resiko yang berhubungan dengan gejala ISPA pada balita (6-59 bulan) di Provinsi Jawa Barat berdasarkan analisis data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional atau potong lintang dengan sampel yang bersumber dari data SDKI tahun 2017 sejumlah 1.356 responden balita usia 6-59 bulan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah prevalensi kejadian gejala ISPA pada balita di Provinsi Jawa Barat sebesar 51,3% dan faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian gejala ISPA pada balita di Provinsi Jawa Barat adalah usia balita dan status ASI eksklusif.
Read More
S-10996
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rudini; Pembimbing: Helda; Penguji: Asri C. Adisasmita, Felly Philipus Senewe, Yurista Permanasari
Abstrak:
Read More
Salah satu faktor yang dapat mengakibatkan terjadinya stunting adalah kehamilan usia remaja. Angka prevalensi stunting di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih diangka 18,6% di tahun 2021, padahal targetnya harus dibawah 10,38% di tahun 2024. Disamping itu, data terkait pernikahan usia remaja terus meningkat dari tahun ke tahun yang terjadi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung hingga mencapai 18,76% pada tahun 2020 sehingga menempatkan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjadi urutan pertama dari 34 provinsi di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat kontribusi kehamilan usia remaja dengan kejadian stunting pada anak usia 0-59 bulan di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2021. Peneliti menggunakan desain studi cross sectional dimana data yang digunakan merupakan total sampling dari SSGI Tahun 2021 wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebanyak 2.969 responden. Analisis data dengan regresi logistik menggunakan sofware STATA 13. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi stunting dapat diturunkan sebesar 3,4% jika kehamilan usia remaja dapat dikendalikan, dimana risiko kehamilan usia remaja untuk terjadi stunting pada anak usia 0-59 tahun sebesar 1,25 kali (95% CI: 0,70 – 2,23) setelah dikontrol oleh variabel ASI Ekslusif dan variabel BBLR. Adanya kontribusi dan pengaruh kehamilan usia remaja terhadap kejadian stunting mengharuskan adanya intervensi dalam pengendalian pernikahan usia dini dengan melibatkan sektor kesehatan, pendidikan, agama, dan adat.
One of the factors that can cause stunting is teenage pregnancy. The stunting prevalence rate in the Bangka Belitung Islands Province is still at 18.6% in 2021, even though the national target must be below 10.38% in 2024. In addition, data related to teenage marriage continues to increase from year to year in the Province Bangka Belitung Islands reached 18.76% in 2020, placing the Bangka Belitung Islands Province in first place out of 34 provinces in Indonesia. The purpose of this study was to see the contribution of teenage pregnancy to the incidence of stunting in children aged 0-59 months in the Bangka Belitung Islands Province in 2021. The researchers used a crosssectional study design where the data used was total sampling from SSGI in 2021 in the Bangka Islands Province. Belitung as many as 2,969 respondents. Data analysis using logistic regression using STATA 13 software. The results showed that the prevalence of stunting could be reduced by 3.4% if teenage pregnancies could be controlled, where the risk of teenage pregnancies for stunting in children aged 0-59 years was 1.25 times (95% CI: 0.70 – 2.23) after being controlled by exclusive breastfeeding and LBW variables. The contribution and influence of teenage gestational age on the incidence of stunting requires intervention in controlling early marriage by involving the health, education, religion, and customary sectors.
T-6782
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Miftakhuddiniyah; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Anies Irawati, Sudiharto
T-3999
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ni Luh Budi Febriani; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Ratna Djuwita, Punto Dewo
Abstrak:
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan karakteristik anak (jeniskelamin), karakteristik orang tua (pendidikan ibu, pekerjaan ibu, penghasilan keluargadan riwayat obesitas orang tua), daerah tempat tinggal, aktifitas fisik, kebiasaan makan(konsumsi fast food, cemilan/minuman manis, kebiasaan sarapan), sedentary behavior(durasi menonton TV/video, durasi bermain games) dan durasi tidur dengan overweightdan obesitas pada anak usia sekolah di Kabupaten Badung Provinsi Bali Tahun 2018.Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2018 dengan desain cross sectional. Teknikpengambilan sampel dilakukan secara acak sederhana. Instrumen penelitianmenggunakan timbangan digital dan microtoa serta kuesioner untuk ibu dan FFQ. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa 51.8% siswa masuk dalam kategori overweight danobesitas. Variabel yang berhubungan dengan overweight dan obesitas pada anak usiasekolah di Kabupaten Badung Provinsi Bali Tahun 2018 adalah aktifitas fisik (p=0.001,OR=2.3), konsumsi cemilan/minuman manis (p=0.001, OR= 2.2), Konsumsi fast food(p=0.001, OR= 2), riwayat obesitas ayah (p=0.012, OR= 1.5) dan riwayat obesitas ibu(p=0.034, OR=1.4). Peneliti menyarankan kepada pihak sekolah agar memiliki programuntuk memantau berat badan siswa setidaknya setiap 6 bulan serta diharapkan orangtuaturut serta dalam mengawasi pola makan anak dan membatasi perilaku sedentarybehavior.Kata kunci:Overweight, obesitas, anak usia sekolah, Badung.
Read More
S-9810
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Eka Desi Purwanti; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Soewarta Kosen, Woro Riyadina
Abstrak:
Stunting merupakan bentuk malnutrisi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan menyebabkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan anak. Selain disebabkan karena kurangnya asupan gizi secara kronis, stunting juga dapat disebabkan oleh penyakit infeksi berulang. Upaya pencegahan penyakit infeksi seperti imunisasi akan turut berperan dalam meningkatkan pertumbuhan anak khususnya di negara berkembang. Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan antara status imunisasi dasar dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia. Penelitian ini menggunakan disain studi cross sectional dan menggunakan data sekunder SSGI Tahun 2021. Kriteria inklusi penelitian ini adalah balita berusia 12-59 bulan saat pengumpulan data, diukur tinggi badannya, tidak sedang mengalami sakit berat/kronis, dan memiliki data variabel yang lengkap. Sebanyak 70.267 balita memenuhi kriteria inklusi dan seluruhnya diambil sebagai sampel penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan uji cox regression untuk mendapatkan besar asosiasi prevalence ratio (PR) dengan interval kepercayaan 95%. Penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi stunting balita usia 12-59 bulan di Indonesia adalah 23,1% dan proporsi balita yang mempunyai status imunisasi dasar lengkap adalah 74,92%. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa status imunisasi dasar berhubungan signifikan secara statistik dengan kejadian stunting. Balita dengan status imunisasi dasar yang tidak lengkap berisiko 1,19 kali lebih tinggi untuk mengalami stunting dibandingkan balita dengan status imunisasi dasar lengkap [adjusted PR 1,19 (95% CI 1,15 – 1,23)]. Balita yang tidak imunisasi sama sekali mempunyai risiko yang lebih tinggi lagi yaitu 1,27 kali untuk mengalami stunting dibandingkan balita dengan status imunisasi dasar lengkap [adjusted PR 1,27 (95% CI 1,15 – 1,39)], setelah mengontrol variabel pendidikan ibu, status ekonomi dan berat lahir anak. Diperlukan upaya untuk melengkapi status imunisasi anak sesuai jadwal dan peningkatan pengetahuan ibu mengenai pemanfaatan pelayanan kesehatan, pemenuhan gizi balita dan stimulasi tumbuh kembang anak.
Stunting is a malnutrition that is still a public health problem in Indonesia and causes various adverse effects on children's health. Besides caused by a chronic lack of nutrition, stunting can also be caused by recurrent of infectious diseases. Efforts to prevent infectious diseases, such as immunization, will play a role in increasing child growth, especially in developing countries. The purpose of this study was to examine the association between basic immunization status and the incidence of stunting in toddlers in Indonesia. This study used a cross-sectional study design using secondary data from SSGI 2021. The inclusion criteria for this study were that toddlers were aged 12–59 months at the time of data collection, their height was measured, were not experiencing severe or chronic illness, and had complete variable data. A total of 70,267 toddlers met the inclusion criteria, and all were taken as research samples. Data analysis was performed using the Cox regression to obtain a prevalence ratio (PR) with 95% of confidence interval. This study shows that the prevalence of stunting among children aged 12–59 months in Indonesia is 23.1%, and the proportion of children under five who have complete basic immunization status is 74.92%. The results of the multivariate analysis showed that basic immunization status had a statistically significant association with the incidence of stunting. Toddlers with incomplete basic immunization status are at risk 1.19 times higher for stunting compared to toddlers with complete basic immunization status [adjusted PR 1.19 (95% CI 1.15–1.23)]. Toddlers who are not immunized at all have an even higher risk of experiencing stunting, which is 1.27 times higher compared to toddlers with complete basic immunization status [adjusted PR 1.27 (95% CI 1.15–1.39)], after controlling for variables such as the mother's education, economic status, and the child's birth weight. Efforts are needed to complete the child's immunization status on time according to schedule and increase the mother's knowledge regarding the use of health services, the fulfillment of toddler nutrition, and the stimulation of child growth and development.
Read More
Stunting is a malnutrition that is still a public health problem in Indonesia and causes various adverse effects on children's health. Besides caused by a chronic lack of nutrition, stunting can also be caused by recurrent of infectious diseases. Efforts to prevent infectious diseases, such as immunization, will play a role in increasing child growth, especially in developing countries. The purpose of this study was to examine the association between basic immunization status and the incidence of stunting in toddlers in Indonesia. This study used a cross-sectional study design using secondary data from SSGI 2021. The inclusion criteria for this study were that toddlers were aged 12–59 months at the time of data collection, their height was measured, were not experiencing severe or chronic illness, and had complete variable data. A total of 70,267 toddlers met the inclusion criteria, and all were taken as research samples. Data analysis was performed using the Cox regression to obtain a prevalence ratio (PR) with 95% of confidence interval. This study shows that the prevalence of stunting among children aged 12–59 months in Indonesia is 23.1%, and the proportion of children under five who have complete basic immunization status is 74.92%. The results of the multivariate analysis showed that basic immunization status had a statistically significant association with the incidence of stunting. Toddlers with incomplete basic immunization status are at risk 1.19 times higher for stunting compared to toddlers with complete basic immunization status [adjusted PR 1.19 (95% CI 1.15–1.23)]. Toddlers who are not immunized at all have an even higher risk of experiencing stunting, which is 1.27 times higher compared to toddlers with complete basic immunization status [adjusted PR 1.27 (95% CI 1.15–1.39)], after controlling for variables such as the mother's education, economic status, and the child's birth weight. Efforts are needed to complete the child's immunization status on time according to schedule and increase the mother's knowledge regarding the use of health services, the fulfillment of toddler nutrition, and the stimulation of child growth and development.
T-6625
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sutrani Rachmawati; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Ratna Djuwita, Andri Mursita
Abstrak:
Di Indonesia, stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Provinsi Banten memiliki prevalensi stunting yang tinggi yaitu 29,6% pada tahun 2017 dan terus mengalami peningkatan selama tiga tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kecukupan nutrisi pada awal kehidupan (praktik IMD, ASI eksklusif, usia pemberian MP-ASI, dan pemberian vitamin A) dengan kejadian stunting setelah dikontrol dengan faktor jenis kelamin balita, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, jumlah anggota rumah tangga, jumlah balita, dan tempat tinggal. Desain studi penelitian ini yaitu cross-sectional dengan analisis multivariat regresi logistik ganda. Data yang digunakan yaitu data Pemantauan Status Gizi (PSG) dengan jumlah sampel 840 balita usia 12-23 bulan. Hasil analisis menunjukan bahwa kecukupan nutrisi pada awal kehidupan, ASI eksklusif, usia pemberian MP-ASI, dan pemberian vitamin A tidak berhubungan dengan kejadian stunting. Namun terdapat hubungan antara praktik IMD dengan kejadian stunting. Salah satu upaya pemerintah dalam optimalisasi upaya preventif dan promotif dapat dilakukan dengan pendekatan pada remaja terkait gizi seimbang melalui media sosial. Kata Kunci : stunting, kecukupan nutrisi, balita usia 12-23 bulan, Banten, PSG 2017
Read More
S-9911
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mohammad Fikry Al Akrom; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Helda, Mutmainah Indriyati
Abstrak:
Read More
Malnutrisi merupakan kontributor tunggal dan terbesar tingginya morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. WHO mengestimasikan bahwa 45% kematian balita disebabkan karena masalah kekurangan gizi. Pada tahun 2018, wasting (salah satu bentuk kekurangan gizi) menempati peringkat kedua penyebab kematian pada balita di dunia. Di Indonesia, wasting masih menjadi masalah kesehatan yang serius, dengan prevalensi kasus sebesar 10,2%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gizi kurang (wasting) pada balita usia 0-59 bulan di Provinsi Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Indonesia Family Life Survey (IFLS) ke-5 tahun 2014. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan desain studi cross-sectional. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 587 balita yang menjadi responden IFLS 5. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi kejadian wasting pada balita adalah 9,71%. Hasil uji statistik chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan (p≤0,05) antara riwayat penyakit infeksi dan status pekerjaan ibu dengan kejadian wasting pada balita. Perhitungan derajat asosiasi menggunakan prevalence odds ratio (POR), menunjukkan bahwa peluang kejadian wasting lebih tinggi pada balita berumur 0-23 bulan (POR=1,70), berjenis kelamin laki-laki (POR=1,48), memiliki riwayat penyakit infeksi (POR=2,37), tidak diberikan ASI eksklusif (POR=1,15), diberikan MP-ASI pada waktu < 6 bulan (POR=1,57), memiliki riwayat BBLR (POR=1,66), memiliki ayah berpendidikan rendah (POR=1,09), ibu yang bekerja (POR=1,93), dan ayah yang tidak bekerja (POR=1,04). Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama antara pembuat kebijakan/program dan masyarakat untuk dapat memberikan intervensi dan tatalaksana yang tepat terhadap balita yang mengalami wasting, serta memberikan edukasi faktor risiko wasting kepada keluarga balita (khususnya yang mengasuh balita) dan masyarakat.
Malnutrition is the single largest contributor to high morbidity and mortality worldwide. The WHO estimates that 45% of under-five deaths are due to malnutrition. In 2018, wasting (a form of malnutrition) ranked as the second leading cause of death among children under five in the world. In Indonesia, wasting remains a serious public health problem, with a prevalence rate of 10.2%. This study aims to determine the factors associated with the incidence of wasting among children under the age of 0-59 months in East Java Province. This study used secondary data from the 5th Indonesia Family Life Survey (IFLS) in 2014. This study used a quantitative approach, with a cross-sectional study design. The number of samples used in this study was 587 toddlers who were part of IFLS 5 respondents. The results showed the prevalence of wasting in toddlers was 9.71%. The results of the chi-square statistical test showed that there was an association (p≤0.05) between the history of infectious diseases and mother's employment status with the incidence of wasting in toddlers. The degree of association calculation using the prevalence odds ratio (POR), showed that the odds of wasting was higher in children aged 0-23 months (POR = 1.70), being male (POR = 1.48), had a history of infectious diseases (POR = 2, 37), not exclusively breastfed (POR=1.15), given complementary food at
S-11366
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
