Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 23757 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Diana Hartaty Anggraini; Promotor: Evi Martha; Kopromotor: Besral, Farida Kurniawati; Penguji: Agustin Kusumayati, Sutanto Priyo Hastono, Asep Supena, R. Harry Hikmat, Nasyith Forefry, Nana Mulyana
Abstrak:
Remaja dengan disabilitas intelektual ringan memiliki kerentanan tinggi terhadap risiko kesehatan reproduksi dan kekerasan seksual, sementara kapasitas orang tua sebagai pendidik utama masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengembangkan Model Edukasi Parent as Teacher (PAT) dan menilai efeknya dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan efikasi diri orang tua dalam memberikan pendidikan seksual kepada remaja dengan disabilitas intelektual ringan. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed methods) dengan desain sequential exploratory yang terdiri atas tiga tahap. Tahap pertama adalah eksplorasi pemahaman, hambatan, dan kebutuhan orang tua melalui studi kualitatif dengan wawancara mendalam. Tahap kedua adalah pengembangan model PAT berbasis kebutuhan dengan mengacu pada kerangka ADDIE. Tahap ketiga adalah pengujian efek model melalui desain kuasi-eksperimental one-group pretest-posttest pada 50 orang tua, dengan tiga kali pengukuran dan analisis menggunakan General Linear Model Repeated Measures. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kapasitas orang tua yang bermakna pada seluruh variabel (p<0,05). Skor pengetahuan meningkat dari 48,00 menjadi 78,10; skor sikap meningkat dari 64,07 menjadi 91,17; dan skor efikasi diri meningkat dari 58,54 menjadi 91,81 Ukuran efek berada pada kategori besar dengan rentang Partial η² = 0,173–0,365, dan peningkatan bertahan hingga pengukuran tindak lanjut. Model PAT menunjukkan efek positif dalam meningkatkan kapasitas orang tua dan berpotensi menjadi pendekatan pendidikan seksual berbasis keluarga yang terstruktur, kontekstual, dan berkelanjutan bagi remaja dengan disabilitas intelektual ringan.

Adolescents with mild intellectual disabilities are highly vulnerable to reproductive health risks and sexual violence, while the capacity of parents as primary educators remains limited. This study aimed to develop the Parent as Teacher (PAT) Educational Model and evaluate its effect on improving parents’ knowledge, attitudes, and self-efficacy. A mixed-methods approach with a sequential exploratory design was employed, consisting of three stages: exploration of parents’ understanding, barriers, and needs through a qualitative study involving in-depth interviews with informants; development of a needs-based educational model guided by the ADDIE framework; and evaluation of the model’s effect. The quantitative phase used a one-group pretest–posttest quasi-experimental design involving 50 parents, with three measurement points and analysis using General Linear Model Repeated Measures. The results showed a significant improvement in parental capacity across all variables (p<0.05). Knowledge scores increased from 48.00 to 78.10, attitude scores from 64,07  to 91,17, and self-efficacy scores from 58,54 to 91,81. The effect sizes were in the large category, with Partial η² ranging from 0.173 to 0.365, and the improvements were sustained at follow-up. The PAT Educational Model was proven effective in improving parental capacity and has the potential to serve as a structured, contextual, and sustainable family-based approach to sexual education for adolescents with mild intellectual disabilities.
Read More
D-624
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Petriana Ekklesia Mahmud; Promotor: Kemal Nazaruddin Siregar; Kopromotor: Tri Krianto, Mus Huliselan; Penguji: Asri C. Adisasmita, Besral, Ira Nurmala, Raditya Wratsangka, Sudibyo Alimoeso
Abstrak:
Perilaku seksual berisiko pada remaja puteri merupakan masalah kesehatan reproduksi yang dapat meningkatkan risiko kehamilan tidak diinginkan serta berdampak pada aspek kesehatan, sosial, dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan menguji Strategi Holistik Intervensi Nilai dan Edukasi (SHINE) dengan pendekatan Tiga Batu Tungku sebagai model peningkatan determinan protektif perilaku seksual berisiko kehamilan pada remaja puteri di Kota Ambon. Penelitian menggunakan mixed-methods exploratory sequential design yang terdiri atas tahap eksplorasi budaya dan kebutuhan intervensi, pengembangan model, serta pengujian efektivitas intervensi melalui desain kuasi-eksperimen. Tahap kualitatif melibatkan 53 informan, terdiri atas remaja, orang tua, tokoh agama, tokoh adat, guru/kepala sekolah, dan petugas kesehatan. Tahap kuantitatif melibatkan remaja usia 12–15 tahun, dengan 85 responden pada kelompok intervensi di Negeri Hative Kecil dan 83 responden pada kelompok kontrol di Negeri Passo. Data kuantitatif dianalisis menggunakan Difference-in-Differences (DiD). Analisis DiD menunjukkan bahwa kelompok intervensi mengalami peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan asertif yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol, dengan selisih masing-masing sebesar 32,24 poin, 23,26 poin dan 16,56 poin. Efek intervensi pada ketiga variabel signifikan secara statistik dengan nilai p<0,05. Temuan ini menunjukkan bahwa Strategi Holistik Intervensi Nilai dan Edukasi  (SHINE) dengan pendekatan Tiga Batu Tungku berpotensi meningkatkan determinan protektif pengetahuan, memperbaiki sikap, dan memperkuat keterampilan asertif remaja puteri dalam menolak tekanan seksual, mempertahankan keputusan, serta menghindari situasi berisiko. Model ini dapat dipertimbangkan sebagai strategi intervensi berbasis budaya lokal untuk pencegahan perilaku seksual berisiko kehamilan pada remaja puteri di Kota Ambon.

Risky sexual behavior among adolescent girls is a reproductive health problem that can increase the risk of unintended pregnancy and affect health, social, and economic aspects. This study aimed to develop and test the Holistic Strategy for Value Intervention and Education (SHINE) using the Tiga Batu Tungku approach as a model to improve protective determinants against pregnancy-related risky sexual behavior among adolescent girls in Ambon City. This study employed a mixed-methods exploratory sequential design consisting of cultural exploration and intervention needs assessment, model development, and intervention effectiveness testing through a quasi-experimental design. The qualitative phase involved 53 informants, consisting of adolescents, parents, religious leaders, traditional leaders, teachers/school principals, and health workers. The quantitative phase involved adolescents aged 12-15 years, with 85 respondents in the intervention group in Negeri Hative Kecil and 83 respondents in the control group in Negeri Passo. Quantitative data were analyzed using Difference-in-Differences (DiD). The DiD analysis showed that the intervention group experienced greater increases in knowledge, attitudes, and assertive skills than the control group, with differences of 32.24 points, 23.26 points, and 16.56 points, respectively. The intervention effects on the three variables were statistically significant with p < 0.05. These findings indicate that the Holistic Strategy for Value Intervention and Education (SHINE) using the Tiga Batu Tungku approach has the potential to improve protective determinants of knowledge, enhance attitudes, and strengthen assertive skills among adolescent girls in refusing sexual pressure, maintaining their decisions, and avoiding risky situations. This model may be considered a local culture-based intervention strategy for preventing pregnancy-related risky sexual behavior among adolescent girls in Ambon City
Read More
D-645
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Risna Dewi Yanti; Promotor: Sabarinah; Kopromotor: Agustin Kusumayati, Erna Herawati; Penguji: Evi Martha, Pujiyanto, Ade Jubaedah, Tina Hayati Dahlan, Asep Surahman
Abstrak:
Latar Belakang Penurunan usia menarche di Indonesia menyebabkan sebagian siswi SD telah mengalami menstruasi pada usia dini, sehingga meningkatkan risiko ketidaksiapan dalam menjaga kesehatan menstruasi. Dalam konteks masyarakat Sunda, faktor sosiokultural turut memengaruhi pemahaman dan praktik menstruasi, sehingga diperlukan pendekatan yang kontekstual dengan melibatkan ibu sebagai aktor utama. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model edukasi berbasis sosiokultural untuk meningkatkan dukungan ibu terhadap kesehatan menstruasi siswi SD di Kabupaten Garut. Metode Penelitian menggunakan desain Mixed Method Exploratory Sequential Design dalam tiga tahap, yaitu studi kualitatif, pengembangan model, dan uji intervensi dengan desain quasi experiment. Penelitian dilaksanakan pada 16 SD di Kabupaten Garut pada  tahun 2024–2025. Sampel  adalah ibu siswi yang telah mengalami menstruasi sebanyak 166 orang, terdiri dari 83 kelompok intervensi dan 83 kelompok kontrol. Analisis data dilakukan menggunakan Generalized Estimating Equations (GEE) dan Difference-in-Differences (DiD). Hasil: Hasil penelitian kualitatif dan pengembangan model menghasilan edukasi Ambu Binangkit yaitu  model edukasi kesehatan menstruasi yang dikembangkan dengan pendekatan sosiokultural Sunda. Dengan analisis statistik GEE diperlihatkan bahwa skor dukungan ibu pada kelompok intervensi meningkat sebesar 18,30 (95% SK: 15,48–21,12; p < 0,001)  Hasil analisis DiD terdapat peningkatan skor dukungan ibu pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok kontrol dengan koefisien sebesar 21,077 (p < 0,001). Intervensi model berkontribusi terhadap peningkatan dukungan ibu sebesar 68% pada posttest pertama  dan 77% pada posttest kedua   Peningkatan terbesar terjadi pada dukungan instrumental yaitu 20.15 (95% SK: 16.33–23.97; <0.001) dan dukungan pendampingan yaitu 19.06 (95%SK: 14.83–23.30;<0.001) sementara dukungan emosional dan informasional juga meningkat secara signifikan meskipun dengan besaran efek yang lebih rendah. Kesimpulan dan Saran Model Ambu Binangkit efektif dalam meningkatkan dukungan ibu terhadap kesehatan menstruasi anak melalui pendekatan sosiokultural yang kontekstual pada tatanan SD. Model ini berpotensi dikembangkan sebagai strategi intervensi berbasis keluarga dalam meningkatkan kesehatan menstruasi sejak usia SD. Implementasi model perlu diperkuat melalui integrasi dengan program sekolah dan layanan kesehatan guna menjamin keberlanjutan dan perluasan dampak Kata kunci: kesehatan menstruasi, dukungan ibu, sosiokultural, Ambu Binangkit, SD

Background: The declining age at menarche in Indonesia has resulted in some primary school girls experiencing menstruation at an early age, thereby increasing their risk of being unprepared to manage menstrual health. In the Sundanese community context, sociocultural factors influence menstrual understanding and practices, highlighting the need for a contextual approach that involves mothers as key actors. This study aimed to develop a sociocultural-based educational model to improve maternal support for the menstrual health of primary school girls in Garut Regency. Methods: This study employed an exploratory sequential mixed methods design conducted in three stages: a qualitative study, model development, and an intervention trial using a quasi-experimental design. The study was conducted in 16 primary schools in Garut Regency from 2024 to 2025. The sample consisted of 166 mothers of schoolgirls who had experienced menstruation, comprising 83 participants in the intervention group and 83 participants in the control group. Data were analyzed using Generalized Estimating Equations (GEE) and Difference-in-Differences (DiD). Results: The qualitative findings and model development process resulted in the Ambu Binangkit educational model, a menstrual health education model developed through a Sundanese sociocultural approach. The GEE analysis showed that maternal support scores in the intervention group increased by 18.30 points (95% CI: 15.48–21.12; p < 0.001). The DiD analysis indicated a greater increase in maternal support scores in the intervention group compared with the control group, with a coefficient of 21.077 (p < 0.001). The intervention model contributed to a 68% increase in maternal support at the first posttest and a 77% increase at the second posttest. The largest increases were observed in instrumental support, with a coefficient of 20.15 (95% CI: 16.33–23.97; p < 0.001), and accompaniment support, with a coefficient of 19.06 (95% CI: 14.83–23.30; p < 0.001). Emotional and informational support also increased significantly, although with smaller effect sizes. Conclusion and Recommendations: The Ambu Binangkit model was effective in improving maternal support for children’s menstrual health through a contextual sociocultural approach within the primary school setting. This model has the potential to be developed as a family-based intervention strategy to improve menstrual health from primary school age. Its implementation should be strengthened through integration with school programs and health services to ensure sustainability and broader impact. Keywords: menstrual health, maternal support, sociocultural, Ambu Binangkit, primary school.
Read More
D-629
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fenita Purnama Sari Indah; Promotor: Tris Eryando; Kopromotor: Kemal Nazaruddin Siregar, Lely Wahyuniar; Penguji: Besral, Meiwita Paulina Budiharsana, Zubairi Djoerban, Trihono, Muchlis Achsan Udji Sofro
Abstrak:
Indonesia memiliki Pengidap HIV Terbanyak di Asia Tenggara. Pada target 95% ARV, hingga Maret 2023 Indonesia masih mencapai kurang dari setengah target (42%) yang masih di dalam pengobatan ARV. Tujuan utama penelitian ini adalah mengembangkan model edukasi digital m-Health OMA untuk meningkatkan pengetahuan, sikap ODHIV mengenai HIV/AIDS dan ARV dan kepatuhan mengonsumsi pada ODHIV. Penelitian ini adalah penelitian analitik operational research yang terdiri atas 5 (lima) tahap dengan metode campuran atau mixed methods. Tahap penelitian tersebut adalah 1) Identifikasi faktor determinan kepatuhan mengonsumsi ARV (Antiretroviral) pada ODHIV (n=142 ODHIV); 2) Menyusun konten dan desain aplikasi m-Health OMA (n=9 informan Focus Group Discussion); 3) Pengembangan aplikasi m-Health OMA. Peneliti bekerja sama dengan tim IT membentuk model aplikasi m-Health OMA dengan muatan konten dan desain berdasarkan hasil FGD pada tahap sebelumnya; 4) Uji coba konten dan desain m-Health OMA dengan melakukan penilaian user experience aplikasi m-Health OMA (n=33 ODHIV). Analisis hasil pengukuran User Experience (UEQ Data Analysis Tool melalui excel Microsoft Office 365) ; 5) Mengevaluasi model dan sistem aplikasi m-Health OMA. Hasil penelitian mengemukakan bahwa determinan yang paling terkait dengan kepatuhan mengonsumsi ARV pada ODHIV adalah status ekonomi (berkaitan juga dengan biaya transportasi), pengetahuan tentang HIV/AIDS dan ARV, dan stres. Faktor determinan ini menjadi landasan dalam penyusunan konten dan desain aplikasi. Fitur aplikasi yang disusun yaitu kotak obat; pengingat minum obat (mengetikkan kata penyemangat); pantun jenaka; mitos/fakta; poster dan komik; jurnal dan buku HIV/AIDS, ARV; Media Audio Visual. Keseluruhan fitur dapat menambah semangat, memotivasi dan mengingatkan untuk terus konsumsi ARV agar ODHIV tidak lupa dan jenuh. Desain yang diciptakan dibuat menarik dengan tampilan full color dilengkapi dengan media audio visual, komik, poster, kotak obat, pantun yang lucu dan memberikan semangat. Aplikasi m-Health OMA dan video tutorial penggunaan aplikasi telah didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Uji coba konten dan desain m-Health OMA dengan melakukan penilaian user experience aplikasi m-Health OMA menunjukkan hasil excellent pada aspek daya tarik, kejelasan, efisiensi, ketepatan, stimulasi, dan kebaruan. Pada evaluasi m-Health OMA dan pemberian leaflet pada ODHIV untuk pengukuran perubahan pengetahuan, sikap dan kepatuhan mengonsumsi ARV. m-Health OMA telah terbukti dapat meningkatkan pengetahuan (p value <0,001), sikap (p value <0,001) dan kepatuhan mengonsumsi ARV (p value = 0,001).

Indonesia has the most HIV sufferers in Southeast Asia. With a target of 95% ARVs, until March 2023 Indonesia has still reached less than half of the target (42%) on ARV treatment. The main objective of this project is to develop a new m-Health digital education model for OMA in order to improve PLHIV's attitudes, knowledge, and adherence to taking ARVs and HIV/AIDS. This research project is an analytical operational study with five (five) stages and an assortment of approaches. The research proceeded in three stages: 1) determining the factors that influence PLHIV (those living with HIV) to use ARVs (antiretrovirals; n = 142 PLHIV); 2) developing the OMA m-Health application's design and content (n = 9 focus group discussion informants); and 3) developing the OMA m-Health application. For the purpose of to test the content and design of m-Health OMA, researchers collaborated with the IT team to create the OMA m-Health application model, with content and design based on the results of the FGD in the previous stage; 4) evaluate the m-Health OMA application's user experience (n=33 PLHIV). 5) Assess the OMA m-Health application model and system; 5) Analyze User Experience measurement data (UEQ Data Analysis Tool using Excel Microsoft Office 365). The results of the research indicate that stress, knowledge about HIV/AIDS and ARVs, and economic status—which is also related to transportation expenses—are the factors most associated with PLHIV adherence to taking ARVs. This important factor creates the basis for content and application design development. The components of the application are arranged as a result: a medicine box; a rhyme; myth/fact; posters and comics; HIV/AIDS journals and books; ARVs; audio visual media; and a reminder to take medication (type messages of motivation). All of these features assist PLHIV remain motivated, enthusiastic, and reminded to keep taking ARVs to prevent forgetting or getting fatigued. The full color display of the exquisite designs is further developed with visual and audio material, comics, posters, medication boxes, and humorous and inspirational lyrics. The intellectual property rights (HKI) have been registered for the OMA m-Health application and the video tutorials that complement it. The OMA m-Health content and design trial produced great results in terms of attractiveness, clarity, efficiency, input, stimulation, and originality when the user experience of the OMA m-Health application was evaluated. Providing PLHIV leaflets and evaluating m-Health OMA are two ways to assess how PLHIV's knowledge, attitudes, and adherence to taking ARVs have changed. It has been established that m-Health OMA increases adherence to taking ARVs (p value = 0.001), knowledge (p value <0.001), and attitudes (p value <0.001).
 
Read More
D-507
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erika Yulita Ichwan; Promotor: Dian Ayubi; Kopromotor: Rita Damayanti; Penguji: Mardiati Nadjib, Martya Rahmaniati M., Lucia RM Royanto, Irwanto, Indra Supradewi, Maria Gayatri
Abstrak:
Latar Belakang : Remaja merupakan aset bagi pembangunan bangsa. Perubahan fisik dan biologis, termasuk berkembangnya ciri-ciri seksual sekunder dan perubahan hormonal pada organ-organ seksual, menyebabkan ketidaksiapan remaja dalam menghadapi dampak perilaku seksual yang mereka lakukan. Hal ini mempengaruhi kualitas kehidupan remaja selanjutnya. Untuk mengatasi permasalahan sosial akibat perilaku seksual pada remaja, diperlukan faktor protektif untuk mengontrol dan mencegah perilaku seksual melalui Developmental Assets yang dimiliki remaja. Tujuan : Penelitian ini untuk mengembangkan model pencegahan perilaku seksual remaja dengan pendekatan Developmental Assets pada remaja di DKI Jakarta. Metode : Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Pengumpulan data dilakukan pada 1048 remaja SMA usia 17-19 di DKI Jakarta secara purposive sampling. Menggunakan Developmental Asset Profile (DAP) Questionnaire yang telah diadaptasi dan dianalisis faktor dengan CFA sebelum digunakan. Analisa data menggunakan SEM PLS. Hasil : Penelitian menemukan masih terdapat 4,2% remaja dengan perilaku seksual pranikah berisiko, 7 komponen yang mendukung developmental assets remaja di DKI Jakarta, yaitu Family support and expectation, Constructive use of time in community dan School boundaries and expectation sebagai aset eksternal. Sementara Social competencies, Positives values, Personal identity, dan Commitment to learning merupakan aset internal. Variabel yang berhubungan langsung dengan perilaku seksual adalah Self efficacy, Family support and expectation dan Personal identity dengan nilai SRMR estimated model 0,073 (perfect fit) Kesimpulan : Masih ditemukan remaja dengan perilaku seksual pranikah berisiko meskipun dalam jumlah yang rendah, model yang didapatkan tidak menunjukkan bahwa developmental assets merupakan faktor protektif utama, namun developmental assets melalui aset eksternal berhubungan dengan semua aset internal untuk meningkatkan self efficacy terhadap perilaku seksual berisiko. Implementasi program pendidikan seksual diperlukan dengan memperkuat kolaborasi antar lembaga, dan penguatan aset eksternal dan internal untuk mendukung perkembangan remaja yang sehat dengan pendekatan yang mengintegrasikan dukungan keluarga, lingkungan sekolah, dan kegiatan komunitas. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami lebih dalam jalur tidak langsung ini dan mengembangkan intervensi yang efektif.

Background: Adolescents are a vital asset for national development. However, the physical and biological changes, including the development of secondary sexual characteristics and hormonal changes in sexual organs, often leave them unprepared to face the consequences of their sexual behavior. This lack of preparedness can significantly affect their future quality of life. To address social issues arising from adolescent sexual behavior, protective factors are needed to control and prevent such behavior through the Developmental Assets that adolescents possess. Objective: This study aims to develop a model for preventing adolescent sexual behavior using a Developmental Assets approach among adolescents in DKI Jakarta. Methods: This research employs a quantitative approach with a cross-sectional design. Data were collected from 1,048 high school students aged 17-19 in DKI Jakarta using purposive sampling. The Developmental Asset Profile (DAP) Questionnaire was adapted and validated using Confirmatory Factor Analysis (CFA) for data collection. Data analysis was conducted using Structural Equation Modeling (SEM) with Partial Least Squares (PLS). Results: The research found that there are still 4.2% of teenagers with risky premarital sexual behavior. Seven components support the developmental assets of teenagers in DKI Jakarta: Family support and expectations, Constructive use of time in the community, and School boundaries and expectations as external assets. Meanwhile, internal assets include social competencies, Positive values, Personal identity, and Commitment to learning. Variables that are directly related to sexual behavior are Self-efficacy, Family support and expectations, and Personal identity, with an SRMR estimated model value of 0.073 (perfect fit) Conclusion: There are still teenagers with risky premarital sexual behavior, although, in low numbers, the model obtained does not show that developmental assets are the main protective factor; developmental assets through external assets are related to all internal assets to increase self-efficacy for risky sexual behavior. Implementation of sexual education programs requires strengthening collaboration between institutions and strengthening external and internal assets to support healthy adolescent development with an approach that integrates family support, the school environment, and community activities. Further research is needed to understand these indirect pathways better and develop effective interventions.
 
 
Read More
D-529
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yusef Dwi Jayadi; Promotor: Robiana Modjo; Penguji: Fatma Lestari, Mila Tejamaya; Penguji: Sabarinah, Sandra Fikawati, Sudi Astono, Sugiarti, Heny Mayawati
Abstrak:

Pada tahun 2023 industri perkebunan kelapa sawit tercatat sebagai sektor dengan angka kecelakaan kerja tertinggi nasional (60,5%) dengan tren kenaikan sebesar 18–20 % per tahun. Dua faktor utama penyebab kecelakaan dan penyakit pada pekerja di sektor ini adalah kurangnya pengawasan dari manajemen (lack of management control) dan rendahnya tingkat pengetahuan pekerja (human factor). Untuk mengatasi hal tersebut, penelitian ini mengembangkan Model Edukasi K3 melalui penyusunan Modul Edukasi K3 dan pembentukan Kader Sawit, yang bertujuan meningkatkan literasi dan praktik keselamatan kerja pekerja sawit. Penelitian menggunakan pendekatan mix-method exploratory yang dilakukan selama 6 bulan dengan tahapan penelitian: (1) analisis penyelenggaraan K3 dan mengidentifikasi status gizi pekerja, (2) penyusunan Modul Edukasi K3 melalui studi literatur dan expert judgement serta pembentukan Kader Sawit, dan (3) uji coba/menilai dampak intervensi dengan Quasi Experiment Design (Wilcoxon Test). Hasil intervensi menunjukkan peningkatan signifikan pada skor pengetahuan (dari 38,68 menjadi 50,60), sikap (61,87 menjadi 68,13), dan perilaku (25,38 menjadi 30,53). Peningkatan skor Pengetahuan, Sikap dan Perilaku pada kelompok intervensi rata-rata 7.4 kali lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Selain itu, kecelakaan kerja menurun dari 66,7 % menjadi 10 %, dan angka kejadian penyakit turun dari 43,3 % menjadi 33,3 % setelah intervensi. Dengan demikian, intervensi melalui Modul Edukasi K3 dan Kader Sawit terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku K3 serta menurunkan angka kecelakaan dan penyakit, sehingga dapat menjadi langkah strategis dan efektif untuk meningkatkan literasi dan praktik K3 di industri perkebunan kelapa sawit di Indonesia.


In 2023, the palm oil plantation industry was recorded as the sector with the highest national rate of occupational accidents (60.5%), with an annual increasing trend of 18 20%. The two main contributing factors to accidents and occupational illnesses in this sector are lack of management control and low levels of worker knowledge (human factor). To address these issues, this study developed an Occupational Safety and Health (OSH) Education Model through the formulation of an OSH Education Module and the establishment of “Kader Sawit” (Palm Cadres), aimed at improving workers’ safety literacy and practices. This research applied an exploratory mixed-method approach over a six-month period, with the following phases: (1) analysis of OSH implementation and identification of workers’ nutritional status, (2) development of the OSH Education Module through literature review and expert judgment, along with the training of Kader Sawit, and (3) trial and evaluation of the intervention impact using a Quasi-Experimental Design (Wilcoxon Test). The intervention resulted in a significant increase in knowledge scores (from 38.68 to 50.60), attitudes (from 61.87 to 68.13), and safety behavior (from 25.38 to 30.53). The average increase in knowledge, attitude, and behavior scores in the intervention group was 7.4 times higher than in the control group. Furthermore, the incidence of occupational accidents decreased from 66.7% to 10%, while the occurrence of work-related illnesses declined from 43.3% to 33.3% after the intervention. These findings demonstrate that the implementation of the OSH Education Module and the involvement of Kader Sawit are effective strategies for enhancing OSH-related knowledge, attitudes, and behaviors, and for reducing the incidence of accidents and diseases, thereby offering a strategic and impactful approach to improving OSH literacy and practices in Indonesia’s palm oil plantation industry.

Read More
D-577
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Amin Bakri; Promotor: Tris Eryando; Kopromotor: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Rita Damayanti, Tris Eryando, Wahyu Septiono, Asep Supine, Fidiansjah Mursyid Ahmad, Rahmadya Trias Handayanto
Abstrak:
Kompleksitas gejala depresi remaja diakui sebagai tantangan kesehatan masyarakat dunia. Jika tidak terdeteksi dan tertangani, gejala depresi dapat secara signifikan mengurangi kualitas hidup dan berpotensi menjadi depresi berat pada masa selanjutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model machine learning untuk memprediksi perkembangan gejala depresi dari remaja, serta mengungkap prediktor yang memiliki hubungan signifikan dengannya. Penelitian didesain dengan menggunakan data Indonesia Family Life Survey (IFLS). Dataset dibangun dari hasil survey tiga gelombang, yaitu tahun 2000, 2007, dan 2014. Hasil analisis menunjukkan sejumlah variabel terkait faktor sosio-demografi, kesehatan, ekonomi, psikososial, kehidupan anggota rumah tangga, dan lingkungan rumah, memiliki hubungan signifikan terhadap perkembangan gejala depresi remaja. Model machine leaerning yang dikembangkan adalah gabungan dua model; Model-1 memprediksi perkembangan gejala depresi selama 7 tahun dan Model-2 memprediksi perkembangan gejala depresi selama 14 tahun. Pada Model-1, kinerja prediksi terbaik dicapai oleh Random Forest dengan akurasi 0,93, AUC 0,72, precision 0,93, recall 1,00, dan F1-Score 0,97. Sedangkan pada Model-2, kinerja prediksi terbaik dicapai oleh Regresi Logistik dengan akurasi 0,77, AUC 0,65, precision 0,78, recall 0,97, dan F1-Score 0,87. Model ini telah berhasil di-deploy ke dalam aplikasi mobile bernama D’Symptomata yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut untuk mendukung skrining potensi risiko perkembangan gejala depresi di kalangan remaja Indonesia.

The complexity of adolescent depressive symptoms is one of the public health challenges. If left untreated, depressive symptoms can significantly reduce quality of life and potentially lead to major depression in the future. This study aims to develop a machine learning model to predict the development of depressive symptoms in adolescence and their predictors. The dataset is built from three wave IFLS surveys, 2000, 2007, and 2014. The results showed several variables socio-demography, health, economic, psychosocial, household members, and house environment factors, had a significant relationship with the development of adolescent depressive symptoms. The machine learning model developed is a combination of two models; Model-1 which predicted the development of depressive symptoms over 7 years and Model-2 for 14 years. On Model-1, the best prediction performance was achieved by Random Forest with an accuracy of 0.93, AUC 0.72, precision of 0.93, recall of 1.00, and F1-Score 0.97. In Model 2, the best prediction performance was achieved by Logistic Regression with an accuracy of 0.77, AUC of 0.65, precision of 0.78, recall of 0.97, and F1-Score 0.87. This model has been successfully deployed into a mobile application D'Symptomata to support screening for the development of depressive symptoms among Indonesian adolescents.
Read More
D-527
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratna Wulandari; Promotor: Ahmad Syafiq; Kopromotor: Tria Astika Endah Permatasari; Penguji: Besral, Kusharisupeni Djokosujono, Emi Nurjasmi, Kodrat Pramudho, Sobar Darmadja
Abstrak:
Permasalahan gizi pada ibu hamil di Indonesia yang paling dominan adalah anemia dan kurang energi kronis. Intervensi telah dilakukan dengan pemberian tablet tambah darah dan pemberian makanan tambahan selama kehamilan, namun tingkat konsumsinya belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menilai intervensi pemberian edukasi menggunakan aplikasi catin sehat yang telah disusun pada masa prakonsepsi terhadap status gizi pada masa kehamilan. Populasi dalam penelitian ini adalah calon pengantin wanita di Puskesmas Wilayah Kota Depok pada tahun 2023, dengan total sampel yaitu 100 orang. Hasil penelitian berdasarkan uji t dependen menunjukkan bahwa pada kelompok yang diberikan intervensi pada masa calon pengantin wanita yang kemudian diukur pasca pemberian intervensi yakni pada masa kehamilan trimester I terdapat rata-rata peningkatan status gizi pada tiga indikator yaitu rata-rata; kadar hemoglobin meningkat 1,64 g/dL, indeks massa tubuh meningkat 2,51 kg/m2, dan lingkar lengan tengah atas meningkat 0,51 cm, sedangkan ketiga indikator pada kelompok kontrol rata-rata cenderung menurun. Efektivitas pemberian modul edukasi Aplikasi Catin Sehat dalam meningkatkan kadar haemoglobin sebesar 13.5% dan efektivitas dalam meningkatkan indeks massa tubuh sebesar 14.7%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah memberikan edukasi mengenai pemenuhan gizi kehamilan pada calon pengantin, akan berdampak pada perilaku konsumsi makanan dan meningkatkan status gizi yakni kadar haemoglobin dan indeks massa tubuh pada masa kehamilan. Edukasi mengenai persiapan gizi kehamilan yang diberikan kepada calon pengantin atau pada masa pra konsepsi, merupakan langkah strategis dan awal dalam mencegah kekurangan gizi pada masa kehamilan.

The most dominant nutritional problems among pregnant women in Indonesia are Anemia and chronic energy deficiency. Interventions have been carried out by administering blood supplement tablets and providing additional food during pregnancy, but the level of consumption is not optimal. This study aims to assess educational interventions using educational modules during the preconception period on nutritional status during pregnancy. The population in this study were prospective brides at the Depok City Regional Health Center in 2023, with a sample size of 100 people. The results of the study based on the dependent t test showed that in the group given the intervention during the bride's period which was then measured after the intervention was given, namely during the first trimester of pregnancy, there was a potential average increase in nutritional status in three indicators, namely average; Hemoglobin levels increased by 1.64g/dL, body mass index increased by 2.51kg/m2, and mid-upper arm circumference increased by 0.51cm, while the three indicators in the control group tended to decrease on average. The effective improvement is 14.7% and 13.4%. The conclusion of this research is that providing education regarding the provision of pregnancy nutrition to prospective brides and grooms will have an impact on food consumption behavior and improve nutritional status during pregnancy. Education regarding pregnancy nutritional preparation given to prospective brides and grooms or during the preconception period is a strategic and initial step in preventing malnutrition during pregnancy.
Read More
D-512
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Delmaifanis; Promotor: Kemal Nazaruddin Siregar; Kopromotor: Anhari Achadi, Kalamullah Ramli; Penguji: Sabarinah, Sutanto Priyo Hastono, Tris Eryando, Indra Supradewi; Elizabeth Jane Soepardi
Abstrak:
Salah satu upaya untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) adalah melalui pelayanan antenatal. Adanya transformasi digital menjadikan pelayanan antenatal juga perlu menerapkan kesehatan digital untuk meningkatkan kualitas layanan. Salah satu petugas yang berperan penting dalam pelayanan antenatal adalah bidan. Sebanyak 85% pemeriksaan kehamilan dilakukan oleh bidan, baik yang dilakukan di puskesmas maupun Praktik Mandiri Bidan. Untuk itu diperlukan model layanan antenatal oleh bidan yang efektif dan efisien. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan model layanan antenatal oleh bidan yang didukung Web-based Apps ‘Bundaqusehat’ untuk meningkatkan kualitas layanan antenatal dan promosi kesehatan ibu hamil. Metode penelitian adalah pengembangan sistem yang terdiri dari 5 tahap. Tahap 1 adalah systematic literature review, tahap 2 adalah analisis kebutuhan sistem, tahap 3 merupakan pengembangan model pelayanan antenatal dengan proses bisnis baru, tahap 4 pengembangan prototipe Web-based Apps ‘Bundaqusehat’, tahap 5 melakukan uji prototype Web-based Apps ‘Bundaqusehat’ yang terdiri dari; uji usability, uji penerimaan oleh bidan dan ibu hamil dan uji efikasi. Uji efikasi dilakukan dengan desain studi quasi experiment pretest and posttest with control group design. Fitur utama Web-based apps ‘Bundaqusehat’ adalah pengecekan penerapan 10T layanan antenatal, catatan kesehatan, deteksi risiko, reminder, promosi kesehatan, link rujukan, telekonsultasi, pemantauan gerakan janin, dan laporan real time. Penelitian dilakukan di wilayah Jakarta Barat. Sebagai kelompok intervensi adalah 30 bidan dan 30 ibu hamil di Puskesmas Cengkareng, dan 30 bidan dan 30 ibu hamil di Puskesmas Kalideres sebagai kontrol. Analisis statistik uji T menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu hamil (p value=0,009), kepuasan ibu hamil (p value=0,001), kepatuhan minum tablet Fe (p value=0,030) dan pemantauan gerakan janin (p value=0,039). Model layanan antenatal yang didukung oleh Web-based Apps ‘Bundaqusehat’ cukup efektifitas meningkatkan kualitas layanan antenatal. Agar transformasi kesehatan dapat terlaksana, diperlukan ekosistem dalam implementasi kesehatan digital.

One of the efforts to reduce the Maternal Mortality Rate (MMR) is through antenatal care. The existence of digital transformation makes antenatal services also need to implement digital health to improve service quality. One of the officers who play an important role in prenatal checks is the midwife; as much as 85% of prenatal checks are carried out by midwives at health centres and in independent midwifery practices. For this reason, an effective and efficient model of antenatal care by midwives is needed. This study aims to develop a model of antenatal care by midwives supported by the Web-based application 'Bundaqusehat' to improve the quality of antenatal care and the health of pregnant women. The research method is system development which consists of 5 stages. Stage 1 is a systematic literature review; stage 2 is an analysis of system requirements; stage 3 is the development of an antenatal care model with new business processes; stage 4 is the development of a Web-based 'Bundaqusehat' Application prototype; stage 5 has been testing the 'Bundaqusehat' Web-Based Application prototype consisting of; usability test, acceptance test by midwives and pregnant women and efficacy test. The efficacy test was carried out using a quasi-experimental research design with a pretest and a posttest with a control group design. The main features of the web-based 'Bundaqusehat' application are checking the implementation of 10T antenatal services, health records, risk detection, reminders, health promotion, referral links, teleconsultation, fetal movement monitoring, and real-time reports. The research was conducted in the West Jakarta area. As the intervention group, there were 30 midwives and 30 pregnant women at the Cengkareng Health Center and 30 midwives and 30 pregnant women at the Kalideres Health Center as controls. Statistical analysis of the t-test showed an increase in knowledge of pregnant women (p-value = 0.009), the satisfaction of pregnant women (p-value = 0.001), adherence to taking Fe tablets (p-value = 0.030) and fetal movement monitoring (p-value = 0.039). The antenatal care model supported by the web-based 'Bundaqusehat' application effectively improves the quality of antenatal care. For health transformation to occur, an ecosystem is needed to implement digital health.
Read More
D-490
Depok : FKM-UI, 2023
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Purnamawati; Promotor: Ratna Djuwitna; Ko Promotor I: Sudijanto Kamso; Kopromotor II: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Budi Utomo, Hadi Pratomo, Elizabeth Jane Soepardi, Soewarta Kosen, Toha Muhaimin
D-317
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive