Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34036 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Falah Nur Chusniati; Pembimbing: Helda; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Indah Budiarti
Abstrak:
Latar Belakang: Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) masih menjadi masalah kesehatan global. Meskipun telah mengalami penurunan sebesar 1,9% dari dekade sebelumnya, angka tersebut belum cukup untuk mencapai target global dalam The Global Nutrition Target. BBLR banyak terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Berdasarkan laporan SKI 2023, prevalensi kejadian BBLR di Indonesia sebesar 6,1%. Proporsi bayi dengan BBLR yang tinggi di populasi menjadi indikator permasalahan kesehatan yang kompleks karena mengindikasikan terjadinya malnutrisi jangka panjang pada ibu, kondisi kesehatan yang buruk, serta pelayanan kesehatan yang kurang memadai pada masa kehamilan. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian BBLR di Indonesia berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Metode: Penelitian ini menggunakan data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dengan desain studi cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 57.512 bayi lahir hidup dengan kelahiran tunggal. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat dengan menggunakan uji Chi-Square serta regresi logistik berganda. Hasil: Prevalensi kejadian BBLR di Indonesia berdasarkan data SKI 2023 adalah sebesar 5%. Faktor yang secara independen berhubungan dengan kejadian BBLR di Indonesia adalah usia gestasi (APOR = 7,274; 95% CI: 6,312–8,382), status gizi ibu (APOR = 1,898; 95% CI: 1,586–2,271), jenis kelamin bayi (APOR = 0,733; 95% CI: 0,644–0,833), kepemilikan KKS (APOR = 1,212; 95% CI: 1,024–1,436), bahan bakar memasak (APOR = 1,217; 95% CI: 1,018–1,456), tempat tinggal (APOR = 0,816; 95% CI: 0,710–0,937), dan status ekonomi menengah (APOR = 0,795; 95% CI: 0,663–0,952) setelah dikontrol variabel lain. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan pentingnya peningkatan gizi dan status kesehatan pada ibu dan bayi.

Background: Low Birth Weight (LBW) remains a global health issue. Although it has decreased by 1,9% from the previous decade, this reduction is still insufficient to achieve the Global Nutrition Targets. LBW predominantly occurs in low- and middle-income countries. According to the 2023 Indonesian Health Survey report, the prevalence of LBW in Indonesia stands at 6,1%. A high proportion of infants with LBW in a population indicates a complex health problem, as it reflects long-term maternal malnutrition, poor health conditions, and inadequate maternal healthcare services during pregnancy. Objective: To determine the factors associated with the incidence of LBW in Indonesia based on the 2023 Indonesian Health Survey data. Methods: This study performed a secondary analysis using data from the 2023 Indonesian Health Survey, employing a cross-sectional study design. The research sample consisted of 57.512 live-born infants from single pregnancies (singleton births). Univariate, bivariate, and multivariate analyses were performed using the Chi-Square test and multiple logistic regression. Results: The prevalence of LBW in Indonesia based on the 2023 SKI data was 5%. Factors independently associated with the incidence of LBW in Indonesia after adjusting for other variables were gestational age (APOR = 7,274; 95% CI: 6,312–8,382), maternal nutritional status (APOR = 1,898; 95% CI: 1,586–2,271), infant's sex (APOR = 0,733; 95% CI: 0,644–0,833) , ownership of Family Prosperity Card/KKS (APOR = 1,212; 95% CI: 1,024–1,436), cooking fuel (APOR = 1,217; 95% CI: 1,018–1,456), place of residence (APOR = 0,816; 95% CI: 0,710–0,937), and middle-class economic status (APOR = 0,795; 95% CI: 0,663–0,952). Conclusion: This study highlights the critical importance of improving nutritional and health status for both mothers and infants.

Read More
S-12296
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hera Apprimadona; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Ratna Djuwita, Soewarta Kosen
Abstrak:
Bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan masalah kesehatan karena termasuk penyebab utama kematian neonatus di Indonesia selain karena dampak negatif jangka panjang yang disebabkannya. Konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) minimal 90 tablet selama kehamilan merupakan upaya menurunkan resiko kejadian BBLR. Namun kepatuhan konsumsi TTD pada ibu hamil di Indonesia masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kepatuhan konsumsi TTD pada ibu hamil dengan kejadian BBLR di Indonesia menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023. Populasi penelitian ini adalah perempuan berusia 10-54 tahun di Indonesia berstatus kawin/cerai hidup/cerai mati yang memiliki riwayat persalinan periode 1 Januari 2018 sampai 25 September 2023, untuk kelahiran terakhir yang telah berakhir yang menjadi responden dalam SKI 2023. Sampel dalam penelitian ini adalah responden dari populasi penelitian yang memenuhi kriteria inklusi. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah perempuan melahirkan bayi tunggal, informasi berat lahir bayi berdasarkan KIA, dengan data yang lengkap untuk semua variabel yang diteliti. Desain penelitian ini adalah cross sectional  dan menggunakan uji regresi cox dalam analisis data bivariat dan multivariat untuk mendapatkan Prevalence Ratio (PR) dengan interval kepercayaan 95%. Pendekatan analisis multivariat dilakukan untuk mengontrol variabel kovariat yaitu usia, pendidikan, pekerjaan, paritas, usia kehamilan, komplikasi kehamilan, merokok, kuantitas ANC K4,  kualitas ANC 10T, pola makan, status ekonomi, wilayah tempat tinggal dan jenis kelamin. Hasil penelitian ini menunjukkan proporsi BBLR sebesar 5,33% dan proporsi kepatuhan konsumsi TTD pada ibu hamil sebesar 49,02%. Hasil analisis multivariat menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik antara ibu hamil yang tidak patuh mengkonsumsi TTD dengan kejadian BBLR di Indonesia, dimana ibu hamil yang tidak patuh mengkonsumsi TTD mempunyai risiko 1,216 kali lebih besar (adjusted PR: 1,216; 95% CI: 1,04-1,43; p-value: 0,016) untuk melahirkan BBLR dibandingkan ibu yang patuh mengkonsumsi TTD, setelah dikontrol usia kehamilan Kepatuhan konsumsi TTD pada ibu hamil di masih rendah, padahal berhubungan signifikan dengan kejadian BBLR di Indonesia, sehingga perlu perhatian dari pemerintah untuk meningkatkan kepatuhan konsumsi TTD pada ibu hamil.

Low birth weight (LBW) is a health problem because it is one of the main causes of neonatal mortality in Indonesia in addition to the long-term negative impacts it causes. Consumption of Iron Supplement Tablets (TTD) of at least 90 tablets during pregnancy is an effort to reduce the risk of LBW. However, compliance with TTD consumption in pregnant women in Indonesia is still low. This study aims to analyze the relationship between compliance with TTD consumption in pregnant women and the incidence of LBW in Indonesia using data from the 2023 Indonesian Health Survey. The population of this study were women aged 10-54 years in Indonesia with married/divorced/divorced and died status who had a history of childbirth from January 1, 2018 to September 25, 2023, for the last birth that had ended who were respondents in the 2023 SKI. The sample in this study were respondents from the study population who met the inclusion criteria. The inclusion criteria in this study were women giving birth to a single baby, information on the baby's birth weight based on the KIA, with complete data for all variables studied. The design of this study was cross-sectional and used the cox regression test in bivariate and multivariate data analysis to obtain the Prevalence Ratio (PR) with a 95% confidence interval. The multivariate analysis approach was carried out to control covariate variables, namely age, education, occupation, parity, gestational age, pregnancy complications, smoking, quantity of ANC K4, quality of ANC 10T, diet, economic status, area of residence and gender. The results of this study showed a proportion of LBW of 5.33% and a proportion of compliance with TTD consumption in pregnant women of 49.02%. The results of the multivariate analysis showed a statistically significant relationship between pregnant women who were not compliant in consuming TTD and the incidence of LBW in Indonesia, where pregnant women who were not compliant in consuming TTD had a 1.216 times greater risk (adjusted PR: 1.216; 95% CI: 1.04-1.43; p-value: 0.016) of giving birth to LBW compared to mothers who were compliant in consuming TTD, after controlling for gestational age. Compliance with TTD consumption in pregnant women is still low, even though it is significantly related to the incidence of LBW in Indonesia, so the government needs attention to increase compliance with TTD consumption in pregnant women.

Read More
T-7290
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitri Mar`atus Sholilah; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Helda, Anindita Dyah Sekarputri
S-8502
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Devi Kartika; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Rahmadewi
Abstrak: Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Indonesia masih menjadi masalah penting karena merupakan salah satu penyebab tingginya angka kematian bayi. Salah satu faktor penyebab BBLR adalah usia ibu. Penelitian ini bertujuan untuk melihat ada tidaknya hubungan usia ibu dengan berat badan lahir rendah setelah di kontrol dengan faktor pendidikan ibu, konsumsi tablet tambah darah, usia gestasi, komplikasi kehamilan, perilaku merokok, paritas, usia kandungan saat K1, frekuensi antenatal care dan keinginan memiliki anak. Desain studi penelitian ini yaitu cross-sectional dengan analisis multivariat regresi logistik ganda. Data yang digunakan dalam penelitian adalah data Riskesdas 2018 dengan jumlah sampel 30.299 wanita usia subur 15-35 tahun yang sudah pernah melahirkan. Hasil analisis menunjukkan bahwa usia ibu, pendidikan ibu, konsumsi tablet tambah darah, usia gestasi, komplikasi kehamilan, perilaku merokok dan frekuensi antenatal care berhubungan dengan kejadian BBLR. Namun tidak terdapat hubungan antara usia kandungan saat K1 dan keinginan memiliki anak dengan BBLR. Ibu usia remaja memiliki peluang 1,564 kali lebih tinggi melahirkan bayi BBLR dibandingkan dengan ibu usia bukan remaja. Salah satu upaya pemerintah dalam optimalisasi preventif dan promotif dapat dilakukan dengan pendekatan kepada remaja dan WUS terkait kehidupan berkeluarga dan kesehatan reproduksi melalui melalui media sosial. Kata kunci : Berat badan lahir rendah; Usia Ibu; Remaja; Indonesia; Riskesdas 2018 Low birth weight (LBW) in Indonesia is still becomes a serious problem because it is one of the causes of high infant mortality. One of the factors causing LBW is maternal age. Therefore, this study aims to find the relationship between maternal age with low birth weight after being controlled by maternal education factors, consumption of iron tablets, gestational age, pregnancy complications, smoking behavior, parity, gestational age at K1, frequency of antenatal care and desire to have children. The design of this study is cross-sectional study with multivariate logistic regression analysis. The data used in this study are Indonesia Basic Health Research 2018 with the sample of 30,299 childbearing woman age 15-35 years old who had given birth. The analysis shows that maternal age, maternal education, consumption of iron tablets, gestational age, pregnancy complications, smoking behavior and frequency of antenatal care are related to LBW events. However, there is no relationship between the gestational age at K1 and the desire to have children with LBW. Young mothers have a 1.564 times higher chance of giving birth to LBW babies compared to non-young mothers. Preventive and promotive actions can be done by doing family life and reproductive health related approaches targeted to adolescents and women of childbearing age through social media. Key words : Low birth weight; Mother's age; Teenagers; Indonesia; Riskesdas 2018
Read More
S-10408
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Maisaroh; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Krisnawati Bantas, Kusharisupeni, Siti Kulsum, Abas Basuni Djahari
T-4098
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Desya Mulyaningrum; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Iwan Ariawan, Mugia Bayu Rahadja
Abstrak:
BBLR adalah berat bayi lahir kurang dari 2500 gram (sampai dengan 2499 gram). BBLR dapat menyebabkan kematian dan kesakitan prenatal, serta meningkatkan risiko terkena penyakit tidak menular. Proporsi BBLR di Indonesia dari periode SDKI 2007, 2012, 2017 cenderung stabil dan tidak ada penurunan dari tahun 2007 dengan tahun 2017. Kehamilan tidak diinginkan menjadi salah satu faktor risiko BBLR. Kehamilan tidak diinginkan (unwanted pregnancy) adalah suatu kehamilan yang terjadi di luar perencanaan. Karena pasangan suami atau istri tidak mau menggunakan kontrasepsi, tidak ada akses ke pelayanan KB sehingga menyebabkan kehamilan, dimana sceara fisik atau psikologis pasangan tidak siap dan menolak kejadian kehamilan (unwanted pregnancy). Proporsi kehamilan tidak diinginkan berdasarkan periode SDKI 2007, 2012, 2017 cenderung stabil.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kehamilan tidak diinginkan terhadapp kejadian BBLR perdesaan dan perkotaan di Indonesia berdasarkan data sekunder SDKI 2017. Penelitian ini menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Sampel penelitian ini adalah kelahiran hidup dalam 5 tahun sebelum survei dengan laporan berat lahir yang memiliki berat kurang dari 2500 gram dan bertempat tinggal di pedesaan atau perkotaan di Indonesia.
 
Hasil penelitian ini adalah proporsi kejadian kehamilan tidak diinginkan di Indonesia adalah 7,6% dengan rincian 8,9% di perkotaan, 6,3% di perdesaan. Pada daerah perkotaan, kehamilan diinginkan lebih berisiko untuk mengalami BBLR setelah dikontrol dengan variabel tingkat pendidikan, komplikasi kehamilan, dan paritas.
 
Hasil analisismultivariat secara statistik kategori kehamilan dengan BBLR di perkotaan menunjukkan hubungan yang tidak bermakna. Pada daerah perdesaan kehamilan diinginkan lebih berisiko untuk mengalami BBLR setelah dikontrol dengan variabel tingkat ekonomi, komplikasi kehamilan, dan kunjungan ANC. Hasil analisis multivariat secara statistik kategori kehamilan dengan BBLR di perdesaan menunjukkan hubungan yang tidak bermakna.
 

LBW is brith weight less than 2500 grams (up to 2499 grams). LBW can cause prenatal death and pain, and increase the risk of causing non-communicable diseases. The proportion of LBW in Indonesia from the 2007 IDHS period, 2012, 2017 was stable and there was no different from 2007 to 2017. Unwanted pregnancies became one of the risk factors for LBW. Unwanted pregnancy is a pregnancy that occurs outside of planning. Because a husband or wife partner cannot use contraception, there is no access to family planning services which causes pregnancy, while the physical or psychological condition of the partner is not ready and rejects the pregnancy. The proportion of unwanted pregnancies in the 2007, 2012, 2017 IDHS period is stable.
 
This research discusses the expected research on rural and urban LBW events in Indonesia based on the IDHS 2017 secondary data. This study uses data from the Indonesian Demographic and Health Survey (SDKI) 2017. The sample of this study was a study of life in 5 years before the survey with reports on birth weight which weighs less than 2500 grams and resides in rural or urban areas in Indonesia.
 
The results of this study are that the proportion of undesirable events in Indonesia is 7.6% with 8.9% in urban areas, 6.3% in rural areas. In urban areas, pregnancy needs to be more for LBW after controlled by variable levels of education, complications of pregnancy, and parity.
 
The results of multivariate analysis with statistics on the category of pregnancies with LBW in urban areas show a not significant relationship. In BPLR, after being controlled by economic level variables, complications, and ANC visits. The results of multivariate analysis based on statistics on the category of pregnancies with LBW in rural areas showed a not significant relationship.
 
 
Read More
S-9896
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zahra Syahrani; Pembimbing: Lhuri Dwianti Rahmartani; Penguji: Trisari Anggondowati, Nadia Shafira
Abstrak:
Latar Belakang: Menarche dini, atau menstruasi pertama pada usia sebelum 12 tahun, merupakan isu kesehatan masyarakat yang penting karena memengaruhi berbagai luaran kesehatan reproduksi seperti meningkatkan risiko kanker payudara dan endometrium. Terjadi tren penurunan rata-rata usia menarche di Indonesia, dari 13,0 tahun pada Riskesdas 2013 menjadi 12,8 tahun pada Riskesdas 2018. Menyikapi tren penurunan tersebut, penelitian berskala nasional yang secara khusus menganalisis faktor-faktor yang berasosiasi dengan kejadian menarche dini di Indonesia sangat diperlukan, mengingat ketersediaannya yang masih sangat terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berasosiasi dengan menarche dini pada remaja usia 15–19 tahun di Indonesia menggunakan data SKI 2023. Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif observasional analitik dengan desain potong lintang menggunakan data sekunder SKI 2023. Sebanyak 17.765 remaja perempuan usia 15–19 tahun yang telah mengalami menarche dan memiliki data usia menarche yang valid. Menarche dini yang didefinisikan sebagai menarche pada usia < 12 tahun memiliki beberapa variabel independen yang memengaruhinya, yakni status gizi, wilayah tempat tinggal, gugus pulau, kuintil kekayaan, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, aktivitas fisik, konsumsi minuman manis, konsumsi makanan berlemak, pajanan asap rokok. Analisis data dilakukan secara univariat, lalu bivariat menggunakan Chi-square dan dilanjutkan multivariat menggunakan regresi logistik dengan mempertimbangkan desain survei kompleks SKI 2023. Hasil: Prevalensi menarche dini pada remaja usia 15–19 tahun di Indonesia adalah 12,2%. Status gizi lebih meningkatkan odds menarche dini (aOR = 1,72; 95% CI: 1,44 – 2,07), sebaliknya, status gizi kurang menurunkan odds menarche dini (aOR = 0,58; 95% CI: 0,38 – 0,89) dibandingkan status gizi normal. Remaja yang berada di Kepulauan Maluku memiliki odds lebih rendah mengalami menarche dini (aOR = 0,38; 95% CI: 0,24 – 0,61), sedangkan tidak ada perbedaan odds yang signifikan pada Kalimantan (aOR = 0,84; 95% CI: 0,67 – 1,07) dan Papua (aOR = 0,82; 95% CI: 0,43 – 1,53). Remaja dari kuintil terendah (aOR = 0,71; 95% CI: 0,54 – 0,92) dan kuintil menengah bawah (aOR = 0,72; 95% CI: 0,57 – 0,91) memiliki odds menarche dini lebih rendah dibandingkan kuintil menengah. Remaja dengan ibu berpendidikan tinggi memiliki nilai odds menarche dini yang lebih tinggi (aOR = 1,30; 95% CI: 1,09 – 1,55). Kesimpulan: Studi ini menunjukkan bahwa menarche dini pada remaja Indonesia usia 15–19 tahun dipengaruhi oleh gugus pulau, kuintil kekayaan, pendidikan ibu, dan status gizi remaja, dengan status gizi sebagai faktor dengan asosiasi paling kuat. Temuan ini menggarisbawahi perlunya program intervensi kesehatan remaja yang komprehensif dan berbasis bukti, menyasar pengendalian status gizi anak hingga remaja, sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif kesehatan reproduksi remaja di tingkat nasional.

Background: Early Age at Menarche (AAM), defined as the first menstruation occurring before age 12, is an important public health issue because it affects various reproductive health outcomes, including an increased risk of breast and endometrial cancer. Indonesia has seen a declining trend in average menarche age, from 13.0 years in Riskesdas 2013 to 12.8 years in Riskesdas 2018. In response to this trend, a national-scale study specifically analyzing the factors associated with AAM in Indonesia is greatly needed, given the still limited availability of such research. Objective: This study aims to analyze the factors associated with AAM among adolescents aged 15–19 years in Indonesia using 2023 Indonesian Health Survey (SKI) data. Methods: This is a quantitative, analytical observational study with a cross-sectional design using secondary data from SKI 2023. A total of 17,765 female adolescents aged 15–19 years who had experienced menarche and had valid menarche age data were included. AAM, defined as menarche occurring before age 12, was examined in relation to nutritional status, area of residence, island group, wealth quintile, maternal education, maternal occupation, physical activity, sugary beverage consumption, fatty food consumption, and secondhand smoke exposure. Data were analyzed univariately, followed by bivariate analysis using Chi-square, and multivariate analysis using logistic regression, accounting for the complex survey design of SKI 2023. Results: The prevalence of Early Age at Menarche (AAM) among adolescents (15–19 years) was 12.2%. AAM odds were significantly higher in those with overweight (aOR 1.72; 95% CI 1.44–2.07) and lower in those with underweight (aOR 0.58; 95% CI 0.38–0.89) compared to normal weight. Geographically, adolescents in the Maluku Islands had lower odds of AAM (aOR 0.38; 95% CI 0.24–0.61), while no significant differences were observed in Kalimantan (aOR 0.84; 95% CI 0.67–1.07) and Papua (aOR 0.82; 95% CI 0.43–1.53). Adolescents in the lowest (aOR 0.71; 95% CI 0.54–0.92) and lower-middle (aOR 0.72; 95% CI 0.57–0.91) wealth quintiles also showed lower odds of AAM compared to the middle quintile. Finally, higher maternal education was associated with increased odds of AAM (aOR 1.30; 95% CI 1.09–1.55). Conclusion: This study shows that AAM among Indonesian adolescents aged 15–19 years is influenced by island group, wealth quintile, maternal education, and nutritional status, with nutritional status as the factor most strongly associated with AAM. These findings underscore the need for comprehensive, evidence-based adolescent health intervention programs targeting nutritional status control from childhood through adolescence, as part of promotive and preventive efforts for adolescent reproductive health at the national level.
Read More
S-12324
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dhorkas Dhonna Ruth Marpaung; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Yovsyah, Salimar
Abstrak: Pendahuluan. Indonesia merupakan negara yang masih banyak layanankesehatannya terletak di daerah perifer dengan fasilitas minim dan jarang memilikitenaga ahli untuk memprediksi berat bayi saat dilahirkan.Metode. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional. Kriteria inklusiibu melahirkan anak terakhir, bayi lahir hidup, dan bayi tunggal, didapatkan sampelsebanyak 23.689.Hasil. Variabel yang menjadi faktor risiko kejadian BBLR adalah usia kehamilan(POR 2,01), umur (POR 1,28), paritas (POR 1,56), tinggi ibu (POR 1,48),komplikasi (POR 1,46). Analisis ROC didapatkan area under curve untukmengidentifikasi kejadian BBLR sebesar 0,602. Nilai titik potong untuk skoringprediksi 4 dan sensitivitas 59,8%.Kesimpulan. Usia kehamilan, umur, paritas, tinggi ibu, dan komplikasi merupakanfaktor risiko dan dapat digunakan untuk memprediksi bayi yang akan dilahirkanberisiko BBLR.Kata Kunci: berat lahir bayi, sensitivitas, prediksi
Introduction. Indonesia is a country that still many health services located inperipheral areas with minimal facilities and rarely have experts to predict the weightof the baby at birth.Methods. This study using cross sectional study design. The inclusion criteriamaternal last child, a baby was born alive, and a single baby, obtained a sample of23.689.Results. Variables are a risk factor for LBW is gestational age (POR 2,01), age(POR 1,28), parity (POR 1,56), maternal height (POR 1,48) and complications(POR 1,46). ROC analysis obtained an area under the curve to identify the LBW of0,602. Value cut-off point for scoring 4 prediction and sensitivity of 59,8%.Conclusion. Gestational age, age, parity, height, and complications are risk factorsand can be used to predict the baby to be born at risk of LBW.Keywords: birth weight babies, sensitivity, predictive.
Read More
T-4719
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lily Rohmatus Sholihah; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Sabarinah, Elvira Liyanto
Abstrak: Berat bayi lahir rendah merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kematian dini, rendahnya tingkat kecerdasan anak, serta kerentanan terhadap penyakit tidak menular ketika dewasa. Kekurangan zat besi saat hamil merupakan salah satu faktor terjadinya BBLR. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang observasional analitik dengan analisis univariat, bivariat, dan stratifikasi. Data yang digunakan ialah data sekunder (SDKI 2017). Sampel yang digunakan sejumlah 11.820 bayi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa konsumsi Fe minimal 90 tablet mampu memberikan proteksi terhadap kelompok berisiko seperti ibu dengan usia kehamilan 35 tahun, ibu dengan sosioekonomi rendah (kuintil 1-2), ibu yang pernah melahirkan 4 anak atau lebih, dan ibu perokok.
Read More
S-10223
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khairunnisa Cahya Pertiwi; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Trisari Anggondowati, Sandeep Nanwani
Abstrak:
Komplikasi persalinan merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu di Indonesia dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Usia ibu diketahui sebagai faktor risiko, namun faktor-faktor risiko spesifik pada tiap kelompok usia memerlukan analisis tersendiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dan faktor risiko kejadian komplikasi persalinan berdasarkan kelompok usia ibu di Indonesia. Data berasal dari Survei Kesehatan Indonesia 2023 dengan menggunakan desain studi potong lintang. Sampel terdiri dari 70.681 ibu yang pernah bersalin pada periode 1 Januari 2018 hingga pengumpulan data SKI. Analisis menggunakan statistik deskriptif dan uji asosiasi Chi-Square. Hasil penelitian ini menemukan perbedaan proporsi komplikasi persalinan di Indonesia pada usia muda (15,1%), ideal (16,9%), dan tua (19,2%), dan perbedaan faktor yang berasosasi dengan kejadian komplikasi persalinan pada setiap kelompok usia. Jenis komplikasi persalinan paling dominan pada usia muda dan ideal adalah partus lama dan ketuban pecah dini, sedangkan sungsang pada usia tua. Faktor-faktor yang secara konsisten berasosiasi dengan kejadian komplikasi persalinan di ketiga kelompok usia ibu adalah tingkat pendidikan, wilayah tempat tinggal, paritas, perencanaan kehamilan, riwayat komplikasi kehamilan, penolong persalinan, tempat persalinan, dan sumber pembiayaan persalinan. Faktor yang spesifik pada kelompok usia ideal dan tua, yaitu tingkat pendidikan pasangan, jarak kelahiran, dan riwayat kunjungan ANC. Faktor yang hanya berasosiasi signifikan pada kelompok usia tertentu. Faktor dukungan suami atau keluarga hanya berpengaruh pada kelompok usia ideal, sementara status pekerjaan ibu hanya berpengaruh pada kelompok usia tua. Diperlukan tindakan deteksi dini dan manajemen risiko yang terdiferensiasi sesuai kelompok usia. Peningkatan kualitas layanan kesehatan ibu perlu diiringi dengan intervensi yang menyasar faktor risiko spesifik, baik klinis (partus lama pada usia muda, hipertensi pada usia tua) maupun sosiodemografi.


Labor complications are a primary cause of maternal mortality in Indonesia and are influenced by various factors. Maternal age is a known risk factor, yet the specific factors for each age group require distinct analysis to inform targeted interventions. This study aims to determine the overview and risk factors for labor complications based on maternal age groups in Indonesia. This study utilized a cross-sectional design, analyzing secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). The sample consisted of 70,681 mothers who met the inclusion criteria. Data were analyzed using descriptive statistics and the Chi-Square test. The study found differences in the proportion of childbirth complications in Indonesia across young (15.1%), ideal (16.9%), and older (19.2%) age groups, as well as differences in factors associated with complications in each age group. The most dominant types of childbirth complications in young and ideal age groups were prolonged labor and premature rupture of membranes, while breech presentation was more common in older age groups. Factors consistently associated with childbirth complications across all three maternal age groups were education level, area of residence, parity, pregnancy planning, history of pregnancy complications, birth attendant, place of delivery, and source of delivery financing. Factors specific to the ideal and older age groups were partner's education level, birth spacing, and history of Antenatal Care (ANC) visits. Factors that were only significantly associated with specific age groups included husband or family support, which only affected the ideal age group, and maternal employment status, which only affected the older age group. Early detection and differentiated risk management tailored to each age group are necessary. targeting specific risk factors, both clinical (e.g., prolonged labor in young age, hypertension in older age) and sociodemographic.
Read More
S-12143
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive