Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39720 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Chiesa Nazwa Camila; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Budi Hidayat, Trisnasari
Abstrak:
Kematian ibu tetap menjadi tantangan global dan nasional yang krusial. Dalam upaya akselerasi penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), WHO merekomendasikan standar pelayanan Antenatal Care (ANC) minimal delapan kali kontak. Merespons hal tersebut, Indonesia melalui Permenkes No. 21 Tahun 2021 telah meningkatkan standar pelayanan minimal dari empat menjadi enam kali kontak (K6). Namun, implementasi kebijakan ini masih menghadapi tantangan pada keberlanjutan layanan. Meskipun pembiayaan telah terintegrasi dalam skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), peran JKN dalam pembiayaan ANC dinilai belum optimal dengan cakupan 64,6%. Penelitian ini bertujuan menganalisis utilisasi dan keberlanjutan pelayanan ANC K6 tahun 2023-2024 pada peserta JKN di FKTP menggunakan rancangan kohort retrospektif dan data sampel BPJS Kesehatan tahun 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari total populasi tertimbang 1.077.168 ibu hamil, sebanyak 561.843 ibu (52,2%) tidak memanfaatkan JKN untuk ANC. Di antara 515.324 peserta yang memanfaatkan skema JKN, hanya 25.473 peserta (2,4%) yang berhasil menuntaskan standar minimal enam kali kontak (K6). Analisis menunjukkan bahwa variabel usia, status pernikahan, wilayah geografis, segmentasi kepesertaan, hak kelas rawat, dan jenis FKTP berpengaruh signifikan terhadap utilisasi ANC K6. Tingginya kesenjangan antara data survei nasional dengan data klaim JKN mengindikasikan adanya pergeseran pembiayaan ke jalur mandiri (out-of-pocket). Hasil ini menunjukkan perlunya penguatan tata kelola klaim dan deteksi kecurangan, perluasan jejaring mitra JKN, simplifikasi prosedur administratif, serta intervensi berbasis komunitas melalui kader kesehatan dan pelibatan pasangan guna mendorong keberlanjutan ANC dan menekan AKI nasional.

Maternal mortality remains a critical global and national challenge. In an effort to accelerate the reduction of the Maternal Mortality Rate (MMR), the World Health Organization (WHO) recommends an Antenatal Care (ANC) standard of at least eight contacts. In response, Indonesia, through Minister of Health Regulation (Permenkes) No. 21 of 2021, has increased the minimum service standard from four to six contacts (K6). However, the implementation of this policy still faces challenges regarding service continuity. Although financing is integrated into the National Health Insurance (JKN) scheme, JKN's role in financing ANC is considered suboptimal, with a coverage of 64.6%. This study aimed to analyze the utilization and continuity of K6 ANC services from 2023-2024 among JKN participants at primary healthcare facilities (FKTP) using a retrospective cohort design based on the 2023-2024 BPJS Kesehatan Sample Data. The results showed that of a total weighted population of 1,077,168 pregnant women, 561,843 (52.2%) did not utilize JKN for ANC. Among the 515,324 participants who utilized the JKN scheme, only 25,473 (2.4%) successfully completed the minimum standard of six contacts (K6). Analysis revealed that age, marital status, geographical region, membership segmentation, ward class entitlement, and type of FKTP significantly influenced K6 ANC utilization. The significant gap between national survey data and JKN claim data indicates a shift in financing toward out-of-pocket payments. These results underscore the need for strengthening claim governance and fraud detection, expanding JKN partner networks, simplifying administrative procedures, and implementing community-based interventions through health cadres and spousal involvement to promote ANC continuity and reduce national MMR
Read More
S-12322
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Imma Nadya Simarmata; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Puput Oktamianti, Erfan Chandra Nugraha
Abstrak:
Latar Belakang: Pemanfaatan pelayanan KB di Indonesia masih belum optimaal ditandai dengan unmet need yang stagnan di angka 11% dan rendahnya kesertaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Meskipun pelayanan KB dijamin dalam skema JKN dan dapat diakses melalui 23.639 FKTP, gambaran pemanfaatan pelayanan KB dalam konteks kepesertaan JKN secara nasional masih sangat terbatas. Tujuan: Menganalisis gambaran pemanfaatan pelayanan KB dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan jenis pelayanan KB MKJP dan Non-MKJP. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan data sekunder dari Data Sampel BPJS Kesehatan Reguler Edisi 2025 menggunakan sampel berjumlah 13.660 peserta. Analisis data meliputi univariat (distribusi frekuensi) dan bivariat menggunakan regresi logistik complex samples yang memperhitungkan desain sampel kompleks (strata, cluster, dan pembobotan). Hasil: Non-MKJP mendominasi sebesar 70,6% dengan jenis terbanyak adalah pemberian kontrasepsi suntik/pil dan pemantauan (36,6%). Dari 8 variabel yang diteliti, 4 variabel berhubungan bermakna dengan jenis pemanfaatan pelayanan KB, yaitu jenis kelamin (p=0,024), jenis FKTP (p=0,001), wilayah regional FKTP (p=0,001), dan wilayah tempat tinggal (p<0,001), sedangkan usia, status perkawinan, hubungan keluarga, dan segmentasi kepesertaan tidak berhubungan bermakna. Kesimpulan: Pemanfaatan MKJP di FKTP masih belum optimal dan terdapat disparitas signifikan berdasarkan karakteristik peserta dan wilayah.

Background: Family planning (FP) service utilization in Indonesia remains suboptimal, characterized by an unmet need that has stagnated at 11% and persistently low uptake of Long-Acting Contraceptive Methods (LACMs). Although FP services are covered under the National Health Insurance (JKN) scheme and accessible through 23,639 primary health care facilities (FKTP), a comprehensive national picture of FP service utilization among JKN participants remains largely unavailable. Objective: To analyze the profile of FP service utilization and the factors associated with the type of FP service utilized, namely LACMs and Non-LACMs. Methods: A cross-sectional study design was employed using secondary data from the BPJS Kesehatan Regular Sample Data 2025 Edition, with a sample of 13,660 participants. Data analysis included univariate (frequency distribution) and bivariate analyses using complex samples logistic regression. Results: Non-LACMs dominated at 70.7%, with contraceptive injection/pill provision being the most common service type (36.6%). Of the 8 variables examined, 4 were significantly associated with the type of FP service utilized, namely sex (p=0.024), type of FKTP (p=0.001), regional FKTP zone (p=0.001), and area of residence (p<0.001), whereas age, marital status, family relationship, and membership segmentation were not significantly associated. Conclusion: LACMs utilization at FKTP remains suboptimal, with significant disparities observed across participant characteristics and geographic regions.
Read More
S-12429
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nanda Alvina Imron; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Budi Hidayat, Febriansyah Budi Pratama
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rujukan kasus tuberkulosis peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non-eksperimental dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada Februari-Juni 2026 menggunakan data sekunder dari Data Sampel BPJS Kesehatan Tahun 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kunjungan kasus TBC di FKTP yang kemudian dirujuk sebesar 24,3%. Hal tersebut lebih menjadi masalah karena lebih tinggi dari standar yang seharusnya. Faktor-faktor yang menunjukkan hubungan yang signifikan yaitu umur, jenis kelamin, status perkawinan, komorbiditas, segmentasi peserta, hak kelas rawat, jenis FKTP, wilayah FKTP, serta regional FKTP. Determinan utama dalam hal ini yaitu komorbiditas (aOR 12,017; 95% CI: 11,819 – 12,218; p < 0,001). Temuan ini menunjukkan perlunya optimalisasi penanggulangan TBC di FKTP dan juga penguatan tata laksana serta pemantauan faktor risiko penyakit tidak menular, salah satunya dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

This study aimed to analyze case referrals for tuberculosis among National Health Insurance (JKN) participants at Primary Health Care Facilities. It was a non-experimental quantitative study with a cross-sectional design, conducted between February and June 2026 using secondary data from the BPJS Kesehatan sample dataset 2025. The results showed that 24.3% of tuberculosis cases presenting at FKTPs were subsequently referred. This rate is concerning as it exceeds the established standard. Factors demonstrating a significant association included age, gender, marital status, comorbidities, participant segment, inpatient care class entitlement, FKTP type, FKTP area, and FKTP region. The primary determinant identified was the presence of comorbidities (aOR 12.017; 95% CI: 11.819–12.218; p < 0.001). These findings highlight the need to optimize tuberculosis management at primary healthcare facilities and to strengthen the management and monitoring of non-communicable disease risk factors, for instance through the CKG program.
Read More
S-12377
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Afifah; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Trisari Anggondowati, Chandra Nurcahyo
Abstrak:
Penelitian ini membahas mengenai utilisasi fasilitas kesehatan tingkat pertama  pelayanan kesehatan mental anxiety pada peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Indonesia. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan menggunakan data sampel BPJS tahun 2025 yang berisi data kunjungan tahun 2024 dan menggunakan Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas peserta melakukan kunjungan ke FKTP sebanyak 1-3 kali dalam satu tahun yang termasuk dalam kategori utilisasi rendah sebanyak 158.957 peserta. Proporsi utilisasi pelayanan kesehatan mental anxiety di Indonesia lebih besar pada jenis kelamin perempuan sebanyak 118.730 peserta, kelompok umur dewasa (19-59 tahun) sebanyak 144.533 peserta, status kawin 110.577, tinggal di Provinsi Jawa Barat sebanyak 34.186 peseta, jenis fasilitas kesehatan puskesmas sebanyak 107.875 peserta, fasilitas kesehatan milik pemerintah sebanyak 113.261 peserta, dan segmen peserta PPU sebanyak 56.900 peserta. Faktor yang menunjukkan adanya hubungan signifikan diantaranya, yaitu umur, status perkawinan, dan segmentasi peserta.

This study analyses about utilization of first-level health facilities for mental health services for anxiety among National Health Insurance (NHI) in Indonesia. This study used cross-sectional design using BPJS sample data for 2025 which contained visit data for 2024 and used Chi-Square. The result shows that the majority of participants utilized at primary healthcare with range 1 – 3 visits per year in low category of utilization, totaling 158.957 participants. Proportion of mental health services utilization for anxiety at primary healthcare in Indonesia is greater in the female gender with 118.730 participants, adult group (19-59 years) with 144.533 participants, married status with 110.577 participants, livin in West Javawith 34.186 participants, visiting puskesmas with 107.875 participants, Government-owned healthcare facilities with 113.261 participants, and PPU participants segmentation with 56.900 participants. The factors significantly associated with anxiety related mental health service utilization were age, marital status, and participant segmentation.
Read More
S-12449
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alvina Nur Fadillah; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Laksmi Damaryanti
Abstrak:
Penyakit tidak menular (PTM) menyumbang lebih dari 87,14% dari total kematian di Indonesia. Salah satu penyakit tidak menular yang menjadi perhatian adalah penyakit diabetes. Prevalensinya yang tinggi serta perannya sebagai faktor utama terciptanya penyakit lain sebagai komorbid membuat DM menjadi penyakit kronis yang berdampak luas. Rendahnya pemanfaatan layanan kesehatan primer penderita diabetes melitus, seperti Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) dianggap berkontribusi terhadap tingginya tingkat rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan, yang mengakibatkan pembiayaan kesehatan yang lebih besar . Penelitian ini menganalisis pemanfaatan pelayanan kesehatan Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) pada peserta JKN penderita diabetes melitus tahun 2023 berdasarkan data sampel BPJS 2024. Penelitian ini merupakan  non-eksperimental dengan desain penelitian menggunakan pendekatan cross-sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas peserta JKN penderita diabetes melitus memanfaatkan pelayanan kesehatan rawat jalan tingkat pertama (RJTP) secara tidak rutin, yaitu 88,4%, sementara itu, hanya 11,6% peserta atau sejumlah 75.165 yang melakukan kunjungan secara rutin (≥12 kali per tahun) dengan proporsi kunjungan rutin untuk diabetes tipe 1 sebanyak 2.402 peserta dan 72.763 penderita diabetes melitus tipe 2. Faktor-faktor yang memiliki hubungan signifikan dengan pemanfaatan layanan meliputi usia, jenis kelamin, kelas rawat, segmentasi kepesertaan, hubungan keluarga, jenis FKTP, wilayah regional FKTP, wilayah tempat tinggal. Sedangkan status perkawinan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p-value >0,005). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu diperlukan pendekatan yang inovatif untuk menyasar kelompok masyarakat dengan disparitas tinggi yang memiliki utilisasi rendah terhadap pelayanan kesehatan RJTP.


Non-communicable diseases (NCDs) contribute to more than 87.14% of total deaths in Indonesia. One of the non-communicable diseases that has gained attention is diabetes. Its high prevalence and its role as a primary factor for the development of other diseases as comorbidities make DM a chronic disease with widespread impacts. The low utilization of primary healthcare services for diabetes mellitus patients, such as Primary Healthcare (RJTP), is considered to contribute to the high referral rates to advanced healthcare facilities, resulting in higher healthcare costs. This study analyzes the utilization of Primary Healthcare (RJTP) services among JKN participants with diabetes mellitus in 2023 based on BPJS sample data from 2024. This research is non-experimental with a cross-sectional approach. The results show that the majority of JKN participants with diabetes mellitus use RJTP services irregularly, at 88.4%, while only 11.6% of participants, or 75,165 individuals, made regular visits (≥12 times per year), with 2,402 participants with type 1 diabetes and 72,763 participants with type 2 diabetes. Factors significantly related to service utilization include age, gender, care class, membership segmentation, family relationship, type of FKTP, FKTP regional area, and place of residence. Meanwhile, marital status showed no significant relationship (p-value >0.05). The conclusion of this study is that innovative approaches are needed to target communities with high disparities who have low utilization of RJTP healthcare services.
Read More
S-12072
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farhana Ameera Lubis; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Ede Surya Darmawan, Trisnasari
Abstrak:
Latar Belakang: Prevalensi kanker serviks di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya sehingga beban ekonomi yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan mengalami peningkatan yang signifikan. Skrining pap smear sebagai upaya deteksi kanker serviks menjadi esensial untuk mencegah keterlambatan penanganan yang berdampak pada pembengkakan biaya kesehatan. Namun, tidak lebih dari 5% perempuan di Indonesia pernah memanfaatkan layanan skrining pap smear. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan layanan skrining pap smear oleh peserta JKN pada tahun 2024. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan sumber data sekunder berupa Data Sampel BPJS Kesehatan Tahun 2025. Hasil: Cakupan utilisasi skrining pap smear dalam program JKN pada tahun 2024 masih tergolong sangat rendah (0,24%). Seluruh variabel independen berupa karakteristik peserta dan fasilitas kesehatan ditemukan memiliki hubungan yang signifikan dengan pemanfaatan layanan skrining pap smear. Peserta JKN perempuan yang berusia 30 – 65 tahun (OR = 4,14; 95% CI = 3,98 – 4,31), berstatus kawin (OR = 1,74; 95% CI = 1,71 – 1,78), tergolong PPU (OR = 4,83; 95% CI = 4,67 – 5,00), memiliki hak kelas rawat II (OR = 1,96; 95% CI = 1,90 – 2,01), terdaftar di klinik pratama (OR = 1,99; 95% CI = 1,97 – 2,02), dan terdaftar di FKTP yang berlokasi di Bali (OR = 4,88; 95% CI = 4,64 – 5,14) menjadi kelompok dengan probabilitas tertinggi untuk melakukan skrining pap smear. Kesimpulan: Upaya promosi kesehatan, pemasaran sosial, dan transformasi layanan skrining pap smear diperlukan guna meningkatkan tingkat utilisasinya dalam program JKN.

Background: The prevalence of cervical cancer in Indonesia continues to increase annually, leading to a significant rise in the economic burden borne by BPJS Kesehatan. Pap smear test, as an effort for early cervical cancer detection, is essential to prevent delayed treatment that results in an escalated costs for healthcare. However, no more than 5% of women in Indonesia have ever utilized pap smear test. Objective: This study aims to analyze the utilization of pap smear test services among the JKN participants in 2024. Methods: This study used a cross-sectional design using secondary data from the 2025 BPJS Kesehatan Sample Data. Results: The coverage of pap smear test utilization within the JKN program in 2024 was still classified as very low (0.24%). All independent variables, including the characteristics of participant and healthcare facility, were found to have a significant relationship with the utilization of pap smear test. Female JKN participants aged 30 – 65 years old (OR = 4.14; 95% CI = 3.98 – 4.31), married (OR = 1.74; 95% CI = 1.71 – 1.78), classified as PPU (formal workers) (OR = 4.83; 95% CI = 4.67 – 5.00), entitled to Class II inpatient care (OR = 1.96; 95% CI = 1.90 – 2.01), registered at a primary clinic (OR = 1.99; 95% CI = 1.97–2.02), and registered at a primary healthcare facility located in Bali (OR = 4.88; 95% CI = 4.64 – 5.14) were found to be the group with the highest probability of undergoing a pap smear test. Conclusion: Efforts in health promotion, social marketing, and the transformation of pap smear test services are required to increase its utilization rate within the JKN program.
Read More
S-12292
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Divyra Rizqina Adiva; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Budi Haryanto, Budi Hidayat, Khaterina Kristina Manurung
Abstrak:
Latar Belakang: Stroke menyumbang angka kecacatan jangka panjang yang berdampak pada aktivitas sehari-hari pasien dan pemulihannya memerlukan penaganan rehabilitasi medik yang berkelanjutan. Layanan rehabilitasi medik di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) menjadi salah satu layanan esensial dalam penanganan pasien stroke dengan defisit fungsional. Tujuan: Menganalisis pemanfaatan layanan rehabilitasi medik serta faktor-faktor yang berhubungan pada pasien stroke peserta JKN di FKRTL. Metode: Desain cross sectional dengan pendekatan kuantitatif berdasarkan data sekunder berupa Data Sampel BPJS Kesehatan Tahun 2024-2025. Hasil: Selama masa perawatan 1 tahun setelah pulang dari rawat inap, pemanfaatan kelompok kunjungan rendah (≤8 kunjungan) sebesar 50,3% dan kunjungan tinggi (>8 kunjungan) sebesar 49,7%, dengan penumpukan terbesar pada pasien yang hanya berkunjung satu kali dalam setahun setelah pulang rawat inap (17,4%), sehingga pemanfaatan berpotensi belum optimal. Seluruh variabel independen (karakteristik peserta, klinis, dan pelayanan) berhubungan signifikan dengan pemanfaatan layanan rehabilitasi medik, dengan peserta yang tinggal di Kalimantan (OR = 10,364; 95% CI = 8,879–12,097), memanfaatkan di RS Tipe A (OR = 6,315; 95% CI = 5,707–6,987), dan memiliki hak kelas rawat Kelas I (OR = 6,311; 95% CI = 5,815–6,848) menjadi kelompok dengan probabilitas tertinggi untuk memanfaatkan layanan rehabilitasi medik. Kesimpulan: Temuan ini menunjukkan perlunya penguatan kontinuitas layanan melalui rehabilitasi yang lebih fleksibel, pemerataan tenaga dan fasilitas rujukan, penjaminan akses bagi kelompok kebutuhan tinggi dengan pemanfaatan rendah, serta penguatan upaya promotif berupa edukasi dan sosialisasi pemanfaatan layanan kepada pasien dan caregiver untuk mendukung kesinambungan utilisasi rehabilitasi medik dalam mencegah perburukan fungsional dan stroke berulang pada pasien stroke, guna mendorong pemanfaatan yang optimal dan berkeadilan dalam pengelolaan defisit fungsional pada pasien stroke selama masa pemulihan.

Background: Stroke contributes to long-term disability that affects patients's daily activities, and its recovery requires sustained medical rehabilitation management. Medical rehabilitation services at Advanced Referral Health Facilities (FKRTL) constitute one of the essential services in the management of stroke patients with functional deficits. Objective: This study aims to analyze the utilization of outpatient medical rehabilitation services and the factors associated with it among stroke patients insured by the National Health Insurance (JKN) at FKRTL. Methods: This study employed a cross sectional design with a quantitative approach, using secondary data from the 2024–2025 BPJS sample data. Results: Over a one-year period after discharging from inpatient care, 50.3% of patients are in the low-frequency utilization group (≤8 visits) and 49.7% are in the high-frequency group (>8 visits), with the largest concentration among patients who attended only a single visit per year (17.4%), indicating that utilization remains potentially suboptimal. All independent variables, comprising participant, clinical, and service characteristics, were significantly associated with the frequency of medical rehabilitation visits with participants residing in Kalimantan (OR = 10.364; 95% CI = 8.879–12.097), treated at Type A hospitals (OR = 6.315; 95% CI = 5.707–6.987), and entitled to Class I inpatient care (OR = 6.311; 95% CI = 5.815–6.848) constituting the group with the highest probability of utilizing medical rehabilitation services. Conclusion: This study finds that strengthening the continuity of care is needed through more flexible rehabilitation models, a more equitable distribution of personnel and referral facilities, guaranteed access for groups with high need but low utilization, and strengthened promotive efforts through education and outreach on service utilization for patients and caregivers to support continuity of the utilization of medical rehabilitation in preventing functional decline and recurrent stroke, in order to promote optimal and equitable service utilization in the management of functional deficits in stroke patients during recovery period.
Read More
S-12425
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bunga Pramesuari Mei Syara; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Pujiyanto, Khaterina Kristina Manurung
Abstrak:
Kesehatan gigi merupakan bagian integral dari kesehatan tubuh secara keseluruhan, dan masalah kesehatan gigi berkontribusi signifikan terhadap beban penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh berbagai variabel terhadap utilisasi layanan kesehatan gigi di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) berdasarkan data sampel BPJS pada tahun 2023. Desain penelitian menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney dengan total sampel sebanyak 8.694 peserta yang memanfaatkan layanan kesehatan gigi di FKTP wilayah Provinsi Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel usia 15-64 tahun, jenis kelamin Perempuan, tempat tinggal peserta di kota, status perkawinan kawin, lokasi FKTP kota, jenis FKTP klinik pratama, serta segmen kepesertaan PPU, semuanya memiliki hubungan signifikan terhadap utilisasi pelayanan kesehatan gigi di FKTP (p-value < 0,001). Kesimpulan dari penelitian ini yakni seluruh variabel berhubungan signifikan dengan utilisasi layanan kesehatan gigi di FKTP wilayah Provinsi Jawa Barat.


Dental health is an integral part of overall body health, and dental health problems contribute significantly to the burden of disease. This study aims to analyze the influence of various variables on the utilization of dental health services at the Primary Health Care (FKTP) based on BPJS sample data in 2023. The research design used the Kruskal-Wallis and Mann-Whitney tests with a total sample of 8,694 participants who utilized dental health services at FKTP in West Java Province. The results showed that the variables of age 15-64 years, female gender, residence in the city, marital status, location of city primary health care facilities, type of primary health care facilities, and PPU membership segment all had a significant relationship with the utilization of dental health services at primary health care facilities (p-value <0.001). The conclusion of this study is that all variables are significantly associated with the utilization of dental health services at primary health care facilities in West Java Province
Read More
S-12115
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amanda Solparka; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Putri Bungsu, Amila Megraini
Abstrak:
Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi beban pembiayaan signifikan dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dengan klaim biaya yang terus meningkat dari tahun ke tahun, sementara utilisasi rawat jalan yang seharusnya berperan dalam mencegah komplikasi belum diketahui secara pasti hubungannya dengan utilisasi rawat inap tingkat lanjut (RITL). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara utilisasi rawat jalan dengan utilisasi rawat inap tingkat lanjut (RITL) pada peserta JKN penderita DM di Indonesia tahun 2023−2024, beserta karakteristik peserta yang berhubungan dengan RITL. Penelitian ini menggunakan desain observasional dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional) terhadap Data Sampel BPJS Kesehatan Kontekstual Diabetes Melitus, dengan jumlah sampel sebanyak 792.874 peserta (bobot). Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji regresi logistik tunggal, dan multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa 13,4% peserta memanfaatkan layanan RITL, sedangkan hanya 17,3% peserta yang tergolong rutin memanfaatkan rawat jalan (≥12 kali per tahun). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa utilisasi rawat jalan berhubungan secara bermakna dengan RITL (p=0,000), di mana peserta yang tidak rutin justru memiliki peluang RITL 0,911 kali (AOR=0,911; 95% CI: 0,895-0,927) dibandingkan peserta yang rutin. Temuan ini dapat dijelaskan melalui konsep kebutuhan pelayanan rawat kesehatan (need-based utilization) dalam Model Andersen. Selain itu, delapan dari sembilan variabel karakteristik peserta terbukti berhubungan secara bermakna dengan RITL, yaitu umur (AOR kelompok anak-anak tertinggi), jenis kelamin (AOR kelompok perempuan tertinggi), penyakit penyerta sebagai indikator terkuat (AOR=4,258), segmentasi kepesertaan (AOR PBI yang memiliki peluang tertinggi), hak kelas rawat (kelas II dan III lebih berisiko), wilayah tempat tinggal berdasarkan kepulauan (Maluku dan Papua tertinggi), dan kabupaten/kota (Kabupaten AOR=1,431), serta jenis fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) terdaftar (Puskesmas tertinggi); sementara status perkawinan tidak terbukti berhubungan secara bermakna setelah dikontrol variabel lain. Nilai R-Square model sebesar 0,112 menunjukkan bahwa masih terdapat faktor lain di luar penelitian ini yang turut memengaruhi utilisasi RITL. Penelitian ini menyimpulkan bahwa frekuensi kunjungan rawat jalan semata tidak cukup digunakan sebagai indikator keberhasilan dalam pengelolaan DM, sehingga diperlukan penguatan kualitas pelayanan di FKTP, optimalisasi Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis), serta perhatian khusus pada kelompok rentan seperti peserta PBI dan wilayah dengan akses pelayanan kesehatan terbatas, guna menurunkan kejadian RITL dan mengendalikan pembiayaan JKN bagi penderita DM.

Diabetes mellitus (DM) is one of the non-communicable diseases that imposes a significant financial burden on Indonesia's National Health Insurance (JKN) program, with claim costs continuously increasing each year, while the role of outpatient care utilization in preventing complications has not been clearly established in relation to advanced inpatient care utilization (RITL). This study aims to analyze the association between outpatient care utilization and RITL among JKN participants with DM in Indonesia in 2023−2024, along with participant characteristics associated with RITL. This study employed an observational design with a cross-sectional approach using the BPJS Kesehatan Diabetes Mellitus Contextual Sample Data, with a total sample of 792,874 participants (weighted). Data were analyzed univariately, bivariately using simple logistic regression, and multivariately using multiple logistic regression. The results showed that 13,4% of participants utilized RITL services, while only 17,3% of participants were classified as routine outpatient visitors (≥12 visits per year). Multivariate analysis showed that outpatient care utilization was significantly associated with RITL (p=0,000), where non-routine participants had a 0,911 times lower odds of RITL (AOR=0,911; 95% CI: 0,895−0,927) compared to routine participants. This finding can be explained through the concept of need-based utilization within Andersen's Model. Furthermore, eight of nine participant characteristic variables were significantly associated with AICU, namely age (children group had the highest AOR), gender (women group had the highest AOR), comorbidities as the strongest indicator (AOR=4,258), membership segmentation (PBI had the highest odds), inpatient class rights (classes II and III were at higher risk), region of residence based on island groups (Maluku and Papua had the highest odds) and regency/city status (regency, AOR=1,431), as well as the type of registered primary healthcare facility (Puskesmas had the highest odds); meanwhile, marital status was not significantly associated after controlling for other variables. The model's R-Square value of 0,112 indicates that other factors beyond this study still contribute to AICU utilization. This study concludes that outpatient visit frequency alone is insufficient as an indicator of successful DM management; therefore, strengthening service quality at primary healthcare facilities, optimizing the Chronic Disease Management Program (Prolanis), and giving special attention to vulnerable groups such as PBI participants and regions with limited healthcare access are needed to reduce RITL occurrence and control JKN financing for DM patients
Read More
S-12364
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Monica Tara Chrishanti; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Sabarinah, Mardiati Nadjib
Abstrak:
Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian di Indonesia dan menimbulkan beban pembiayaan yang besar dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Meskipun pelayanan Rawat Inap Tingkat Lanjut (RITL) menyerap proporsi pembiayaan JKN yang tinggi, hasil penelitian menunjukkan hanya sebagian kecil peserta JKN dengan penyakit kardiovaskular di Provinsi DKI Jakarta yang memanfaatkan RITL. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran dan hubungan karakteristik peserta JKN dengan utilisasi RITL kasus penyakit kardiovaskular di Provinsi DKI Jakarta tahun 2023. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional dan sumber data berupa Data Sampel BPJS Kesehatan Tahun 2024. Sampel penelitian terdiri atas 915 peserta sebelum pembobotan yang setelah dilakukan pembobotan merepresentasikan 142.621 peserta JKN yang memperoleh pelayanan di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut di Provinsi DKI Jakarta dengan diagnosis primer penyakit kardiovaskular kode ICD-10 I05–I09, I11, I20–I25, dan I30–I50. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 9,0% peserta memanfaatkan RITL, sedangkan 91,0% tidak memanfaatkan RITL. Median lama rawat peserta RITL adalah empat hari. Usia, jenis kelamin, status perkawinan, hak kelas rawat, segmentasi kepesertaan, dan hubungan keluarga memiliki hubungan yang signifikan dengan utilisasi RITL (p-value <0,05). Proporsi RITL tertinggi ditemukan pada peserta usia 15 – 64 tahun sebesar 9,9%, perempuan sebesar 10,8%, belum menikah sebesar 10,5%, kelas II sebesar 14,9%, PBI APBN sebesar 14,5%, dan kelompok hubungan keluarga sebagai anak sebesar 33,8%. Kelompok tambahan pada variabel hubungan keluarga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dibandingkan peserta utama. Utilisasi RITL yang relatif rendah tidak dapat langsung dimaknai sebagai hambatan akses karena sebagian peserta dimungkinkan memperoleh pengelolaan melalui pelayanan primer dan rawat jalan tingkat lanjut. BPJS Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dan fasilitas kesehatan disarankan mempertahankan kesinambungan pengelolaan penyakit kronis serta memanfaatkan data klaim untuk memantau kelompok peserta dengan proporsi RITL relatif tinggi tanpa membatasi akses pelayanan sesuai kebutuhan medis.

Cardiovascular disease is the main cause of death in Indonesia and causes a large financing burden in the Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Although the Advanced Inpatient Service (RITL) absorbs a high proportion of JKN financing, research results show that only a small percentage of JKN participants with cardiovascular disease in DKI Jakarta Province take advantage of RITL. This study aims to find out the characteristics and relationship of JKN participants with the RITL utilization of cardiovascular disease cases in DKI Jakarta Province in 2023. Research uses a quantitative approach with cross-sectional design and data sources in the form of BPJS Health Sample Data for 2024. The study sample consisted of 915 participants before the weighting, who after the weighting represented 142,621 participants of JKN who received services at Advanced Reference Health Facilities in DKI Jakarta Province with primary diagnosis of cardiovascular disease code ICD-10 I05–I09, I11, I20–I25, and I30–I50. Data are analyzed univariate and bivariate using Chi-Square tests and simple logistic regression. Research results showed that 9.0% of participants used RITL, while 91.0% did not use RITL. The median length of care for RITL participants is four days. Age, sex, marital status, nursing class rights, participation segmentation, and family relationships have a significant relationship with RITL utilization (p-value <0.05). The highest proportion of RITLs was found in participants aged 15–64 at 9.9%, women at 10.8%, unmarried at 10.5%, class II at 14.9%, PBI APBN at 14.5%, and family relations groups as children at 33.8%. Additional groups on the family relationship variable showed no significant relationship compared to the main participants. The relatively low utilization of RITL cannot be immediately interpreted as an access barrier because some participants may obtain management through advanced primary and outpatient services. BPJS Health, the DKI Jakarta Provincial Health Office, and health facilities are advised to maintain continuous management of chronic diseases and utilize claim data to monitor groups of participants with relatively high proportions of RITL without limiting service access according to medical needs.
Read More
S-12434
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive