Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 22046 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ajeng Tria Ahista; Pembimbing: Wahyu Septiono; Penguji: Sabarinah, Wan Aisyiah Baros
Abstrak:
Latar Belakang: Penyakit Ginjal Kronis (PGK) merupakan penyakit progresif dengan beban mortalitas dan pembiayaan yang masif dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Fase prediabetes, yang secara patobiologis masih bersifat dapat kembali, sering kali tidak teridentifikasi hingga terjadinya komplikasi. Tujuan: Menganalisis probabilitas kesintasan bebas PGK serta mengidentifikasi determinan sosiodemografi yang memengaruhinya pada pasien prediabetes. Metode: Penelitian ini menggunakan data sekunder bersumber dari Data Sampel BPJS Kesehatan periode 2019–2024. Analisis probabilitas kesintasan dilakukan menggunakan kurva Kaplan-Meier, sedangkan faktor risiko dianalisis menggunakan regresi Cox Proportional Hazards. Hasil: Selama periode pengamatan, insidensi progresi menuju PGK ditemukan sebesar 4,68%, dengan median waktu kejadian secara langsung belum tercapai (not reached). Meskipun demikian, analisis perjalanan penyakit pada subkohort menunjukkan laju perburukan yang cepat, dengan median waktu transisi dari prediabetes menjadi Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) selama 503 hari (1,5 tahun). Setelah terdiagnosis DMT2, 25% pasien di antaranya mengalami progresivitas menuju PGK dalam 2.014 hari (5,5 tahun). Secara keseluruhan, analisis kesintasan melaporkan bahwa probabilitas kumulatif bebas PGK pada tahun kelima berada di angka 88,08% (95% CI: 0,8771–0,8843). Berdasarkan pemodelan multivariat, usia saat diagnosis teridentifikasi sebagai prediktor independen yang secara konsisten memengaruhi progresivitas penyakit, dengan setiap penambahan usia 10 tahun meningkatkan risiko kejadian PGK sebesar 22% (aHR = 1,222; 95% CI: 1,003–1,490). Kesimpulan: Probabilitas kesintasan bebas PGK dan DMT2 pada pasien prediabetes tergolong rendah. Oleh karena itu, diperlukan upaya preventif yang komprehensif, mulai dari masyarakat, BPJS Kesehatan, hingga pemangku kebijakan.

Background: Chronic Kidney Disease (CKD) is a progressive condition associated with a massive burden in terms of mortality and healthcare costs on the National Health Insurance (NHI) system. The prediabetes stage, which is pathobiologically reversible, often goes unrecognized until complications arise. Objective: To analyze the probability of CKD-free survival and identify the sociodemographic determinants influencing it in patients with prediabetes. Methods: This study utilized secondary data sourced from the BPJS Health Sample Data for the 2019–2024 period. Survival probability analysis was performed using Kaplan-Meier curves, while risk factors were analyzed using Cox Proportional Hazards regression. Results: During the observation period, the incidence of progression to CKD was 4.68%, with the median time to event not yet reached. However, disease course analysis in a subcohort revealed a rapid rate of progression, with a median time to transition from prediabetes to T2DM of 503 days (1.5 years). After being diagnosed with T2DM, 25% of these patients progressed to CKD within 2,014 days (5.5 years). Overall, survival analysis reported that the cumulative probability of remaining CKD-free at the fifth year was 88.08% (95% CI: 0.8771–0.8843). Based on multivariate modeling, age at diagnosis was identified as an independent predictor that consistently influenced disease progression, with each 10-year increase in age increasing the risk of CKD by 22% (aHR = 1.222; 95% CI: 1.003–1.490). Conclusion: The probability of CKD-free and T2DM-free survival in prediabetic patients is relatively low. Therefore, comprehensive preventive efforts are needed, involving the community, BPJS Kesehatan, and policymakers.
Read More
S-12330
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aisha Lathifa Zahra; Pembimbing: Popy Yuniar; Penguji: Rico Kurniawan, Umi Zakiati
Abstrak:
Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di Indonesia, terutama pada pasien dengan kondisi hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesintasan stroke pada pasien hipertensi di Indonesia tahun 2017-2022. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrespektif dengan Data Sampel BPJS Kesehatan Tahun 2017-2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa survival probability stroke pada pasien hipertensi secara keseluruhan adalah 90,7% (95% CI, 90,0% - 99,14%) pada tahun keenam setelah tercatat sebagai pasien hipertensi. Pasien hipertensi yang mengidap diabetes, mengidap dislipidemia, dan tidak mengidap penyakit jantung memiliki cumulative survival probability yang lebih rendah dan memiliki risiko terkena stroke yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang mengalami diabetes (0,900), mengalami dislipidemia (0,897), tidak mengalami penyakut jantung (0,905), berusia 45-65 tahun (0,896), berjenis kelamin laki-laki (0,897), memiliki status cerai (0,901), bertempat tinggal di Jawa-Bali (0,902), dan memiliki kondisi sosial ekonomi menengah ke bawah (0,899) memiliki cumulative survival probability yang lebih rendah dibandingkan dengan kategori lainnya. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa pasien hipertensi yang mengidap penyakit jantung (AHR=0,8; 95% CI 0,624-0,992) memilliki risiko yang elbih rendah untuk mengalami stroke daripada pasien hipertensi yang tidak mengidap penyakit janutng setelah dikontrol variabel usia, jenis kelamin, status perkawinan, tempat tinggal, dan kondisi sosial ekonomi.

Stroke is one of the leading causes of death and disability in Indonesia, particularly among patients with hypertension. This study aims to determine the stroke survival rates among hypertensive patients in Indonesia from 2017 to 2022. A retrospective cohort design was used, utilizing the BPJS Health Sample Data from 2017-2022. The study results indicate that the overall stroke survival probability among hypertensive patients is 90.7% (95% CI, 90.0% - 99.14%) in the sixth year after being recorded as hypertensive patients. Hypertensive patients who have diabetes, dyslipidemia, and no heart disease have lower cumulative survival probabilities and higher risks of stroke compared to those who do not have these conditions. Specifically, the cumulative survival probabilities were 0.900 for diabetes, 0.897 for dyslipidemia, 0.905 for those without heart disease, 0.896 for those aged 45-65 years, 0.897 for males, 0.901 for divorced individuals, 0.902 for residents of Java-Bali, and 0.899 for those with lower socioeconomic status. The multivariate analysis showed that hypertensive patients with heart disease (AHR=0.8; 95% CI 0.624-0.992) had a lower risk of stroke compared to hypertensive patients without heart disease, after controlling for age, gender, marital status, residence, and socioeconomic conditions.
Read More
S-11788
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Karina Adristi Sasmitaningrum; Pembimbing: Kemal Nazarudin Siregar; Penguji: Popy Yuniar, Umi Zakiati
Abstrak:

Penyakit ginjal kronis merupakan penyebab kematian nomor 12 pada tahun 2017 dan diprediksi menjadi penyebab kematian nomor 5 pada tahun 2040. Berdasarkan data SKI 2023, prevalensi penyakit ginjal kronis di Indonesia adalah 0,18%. Walaupun relatif relatif kecil, masalah yang dihadapi adalah deteksi dini risiko dari faktor risiko penyakit ginjal kronis. Permasalahan penanganan penyakit ginjal kronis di Indonesia adalah kurangnya edukasi mengenai deteksi dini penyakit ginjal kronik serta faktor risikonya kepada masyarakat. Berdasarkan permasalahan ini, dilakukan penelitian untuk melihat faktor-faktor penyebab ginjal kronis di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan menggunakan data SKI 2023 dengan jumlah sampel sebanyak 22639 individu. Penelitian ini dilakukan dengan uji kai kuadrat dan dilanjutkan dengan regresi logistik. Dari hasil regresi logistik yang dilakukan didapatkan hasil bahwa variabel yang menjadi faktor terbesar penyebab penyakit ginjal kronis adalah diabetes ( p-value = 0,008 ; OR = 4.792 (1,52-15,14)). Karena hasil penelitian menunjukkan diabetes sebagai faktor terbesar penyebab penyakit ginjal kronis, maka peneliti menyarankan bahwa terdapat dua fokus kebijakan yang dapat dilakukan. Pertama untuk penderita diabetes dalam hal pengontrolan penyakit, dan kedua kepada orang sehat dalam hal skrining dan deteksi dini serta promosi kesehatan untuk penerapan pola hidup sehat.


Chronic kidney disease was the 12th leading cause of death in 2017 and is predicted to be the  fifth leading cause of death in 2040. Based on SKI 2023 data, the prevalence of chronic  kidney disease in Indonesia is 0.18%. Although relatively small, the problem faced is early  detection of the risk of chronic kidney disease risk factors. The problem of handling chronic  kidney disease in Indonesia is the lack of education regarding the early detection of chronic  kidney disease and its risk factors to the community. Based on this problem, a study was  conducted to see the factors causing kidney chronicity in Indonesia. The study was conducted  using SKI 2023 data with a sample size of 22,639 individuals. This study was conducted  using the chi-square test and continued with logistic regression. From the results of the  logistic regression, it was obtained that the variable that was the most significant factor  causing chronic kidney disease was diabetes (p-value = 0.008; OR = 4.792 (1.52-15.14)).  Because the results of the study showed diabetes as the most significant factor causing  chronic kidney disease, the researcher suggested that there were two policy focuses that could  be implemented. Firstly, for people with diabetes in terms of disease control, and secondly,  for healthy people in terms of screening and early detection as well as health promotion for  implementing a healthy lifestyle. 

Read More
S-11873
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syifa Aulia Suryani; Pembimbing: Popy Yuniar; Penguji: Besral, Umi Zakiati
Abstrak:
Indonesia merupakan satu dari delapan negara yang menyumbang lebih dari dua pertiga kasus TB global pada tahun 2021. Kematian karena TB diperkirakan sebesar 144.000 kematian atau 52 per 100.000 penduduk pada tahun 2021. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesintasan pasien tuberkulosis di Indonesia menggunakan Data Sampel Kontekstual Tuberkulosis BPJS Kesehatan tahun 2019 – 2022 dengan desain kohort retrospektif. Dilakukan analisis univariat, bivariat (kurva Kaplan Meier), dan multivariat (cox proportional hazard). Hasil analisis multivariat menunjukkan beberapa faktor risiko kematian pada pasien tuberkulosis. Risiko kematian meningkat dengan satu komorbid (AHR = 1,343; 95% CI 1,178 – 1,531), dua komorbid (AHR = 2,215; 95% CI 1,911 – 2,567), tiga komorbid (AHR = 2,650; 95% CI 1,901 – 2,691), dan empat atau lebih komorbid (AHR = 2,057; 95% CI 1,659 – 2,551). Faktor lain termasuk koinfeksi HIV (AHR = 2,613; 95% CI 2,613 – 4,167), diabetes (AHR = 1,214; 95% CI 1,093 – 1,349), ketidakpatuhan pengobatan (AHR = 1,717; 95% CI 1,551 – 1,902), usia 21-40 tahun (AHR = 2,384; 95% CI 1,822 – 3,119), usia 41-60 tahun (AHR = 5,372; 95% CI 4,139 – 6,972), usia >60 tahun (AHR = 8,338; 95% CI 6,403 – 10,858), jenis kelamin laki-laki (AHR = 1,510; 95% CI 1,370 – 1,663), dan kondisi sosial ekonomi lebih rendah (AHR = 0,827; 95% CI 0,751 – 0,911). Penelitian ini mengidentifikasi populasi yang berisiko dan memberikan dasar untuk merancang intervensi yang lebih efektif.

Indonesia is one of eight countries that contributed more than two-thirds of global TB cases in 2021. TB-related deaths were estimated at 144,000, or 52 per 100,000 population in 2021. This study aims to determine the survival probability of tuberculosis patients in Indonesia using the BPJS Health Contextual Tuberculosis Data Sample from 2019 to 2022 with a retrospective cohort design. Univariate, bivariate (Kaplan-Meier curve) and multivariate (Cox proportional hazard) analyses were conducted. The multivariate analysis results indicate several risk factors for mortality in tuberculosis patients in Indonesia. The mortality risk increases with one comorbidity (AHR = 1.343; 95% CI 1.178 – 1.531), two comorbidities (AHR = 2.215; 95% CI 1.911 – 2.567), three comorbidities (AHR = 2.650; 95% CI 1.901 – 2.691), and four or more comorbidities (AHR = 2.057; 95% CI 1.659 – 2.551). Other factors include HIV coinfection (AHR = 2.613; 95% CI 2.613 – 4.167), diabetes (AHR = 1.214; 95% CI 1.093 – 1.349), inconsistent treatment adherence (AHR = 1.717; 95% CI 1.551 – 1.902), age 21-40 years (AHR = 2.384; 95% CI 1.822 – 3.119), age 41-60 years (AHR = 5.372; 95% CI 4.139 – 6.972), age over 60 years (AHR = 8.338; 95% CI 6.403 – 10.858), male gender (AHR = 1.510; 95% CI 1.370 – 1.663), and lower socioeconomic status (AHR = 0.827; 95% CI 0.751 – 0.911). This study identifies at-risk populations and provides a foundation for designing more effective interventions.
 
Read More
S-11784
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Qonita Ayunina; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Al Asyary, Khaterina Kristina Manurung
Abstrak:
Latar belakang: Dari tahun 1990 hingga 2019, beban penyakit kardiovaskular di Indonesia meningkat sebesar 120% dan menjadi beban katastropik utama bagi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Hal ini memerlukan intervensi yang tepat sasaran, salah satunya disesuaikan dengan wilayah tempat tinggal peserta. Meskipun penelitian terdahulu menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara beban penyakit kardiovaskular di urban dan rural, belum ada penelitian yang membuktikan hipotesis tersebut berdasarkan data klaim JKN. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan prevalensi penyakit kardiovaskular di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) antara wilayah tempat tinggal urban dan rural pada peserta JKN usia ≥15 tahun. Metode: Penelitian ini menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan 2025 dengan desain studi cross-sectional. Besar sampel dalam penelitian ini adalah sebesar 1.882.860 peserta. Penyakit kardiovaskular didefinisikan melalui data diagnosis primer dan sekunder kunjungan FKRTL kode I00-I99 ICD-10. Analisis data menggunakan uji chi-square, dengan Prevalence Ratio (PR) sebagai ukuran asosiasi. Hasil: Prevalensi penyakit kardiovaskular di FKRTL pada wilayah tempat tinggal urban (3,54%) lebih tinggi daripada rural (2,09%) (p<0,05) dan melampaui prevalensi nasional (2,42%), dengan Prevalence Ratio (PR) sebesar 1,689 (95% CI: 1,686-1,692). Berdasarkan analisis stratifikasi, perbedaan prevalensi yang signifikan ditemukan secara konsisten pada seluruh strata dengan kesenjangan terbesar ditemukan pada kelompok remaja (PR=2,07) dan lansia (PR=2,01) dibandingkan dengan kelompok usia lainnya, serta peserta PBI (PR=1,90) dibandingkan dengan peserta non-PBI (PR=1,27). Kesimpulan: Temuan ini  menunjukkan adanya kesenjangan prevalensi penyakit kardiovaskular berdasarkan wilayah tempat tinggal pada peserta JKN. Prevalensi pada wilayah urban secara konsisten lebih tinggi daripada rural pada seluruh strata yang dianalisis. Namun, temuan ini perlu diinterpretasikan secara hati-hati karena data berbasis klaim JKN berpotensi menghasilkan underestimasi kasus di wilayah rural akibat keterbatasan akses fasilitas rujukan.

Background: From 1990 to 2019, the burden of cardiovascular disease in Indonesia increased by 120% and became the primary catastrophic burden for the National Health Insurance (JKN). This requires targeted interventions, one of which is tailored to the participants’ residential areas. Although previous studies have shown significant differences in the burden of cardiovascular disease between urban and rural areas, no study has yet confirmed this hypothesis using JKN claims data. This study was conducted to compare the prevalence of cardiovascular disease at Advanced Referral Health Facilities (FKRTL) between urban and rural residential areas among JKN participants aged ≥15 years. Methods: This study utilized the 2025 BPJS Health Sample Data with a cross-sectional study design. The sample size for this study was 1,882,860 participants. Cardiovascular diseases were defined using primary and secondary diagnosis data from FKRTL visits with ICD-10 codes I00–I99. Data analysis employed the chi-square test, with the Prevalence Ratio (PR) as the measure of association. Results: The prevalence of cardiovascular disease among FKRTL in urban areas (3.54%) was higher than in rural areas (2.09%) (p<0.05) and exceeds the national prevalence (2.42%), with a Prevalence Ratio (PR) of 1.689 (95% CI: 1.686–1.692). Based on stratification analysis, significant differences in prevalence were consistently found across all strata, with the largest gaps observed in the adolescent group (PR=2.07) and the elderly group (PR=2.01) compared to other age groups, as well as among PBI participants (PR=1.90) compared to non-PBI participants (PR=1.27). Conclusion: These findings indicate a disparity in the prevalence of cardiovascular disease based on residential area among JKN participants. Prevalence in urban areas was consistently higher than in rural areas across all analyzed strata. However, these findings should be interpreted with caution because JKN claims-based data may underestimate cases in rural areas due to limited access to referral facilities.
Read More
S-12315
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitrah; Pembimbing: Iwan Ariawan; Penguji: Mieke Savitri, Citra Jaya
S-10193
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agil Oktora; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Nilna Rahmi Isna
Abstrak: Sectio cesarean merupakan tindakan untuk membantu melahirkan pada Ibu hamildengan melakukan pembedahan pada dinding abdomen (laparatomi) dan dindinguterus (histerotomi). (Cunningham et, 2017). Melahirkan dengan sectio cesareandi dunia sudah melebihi batas angka yang telah ditetapkan oleh WHO yaitu 15%dari seluruh kelahiran disetiap Negara. Di Indonesia angka melahirkan dengansectio cesarean berdasarkan Riskesdas tahun 2018 yaitu sebesar 17%, danberdasarkan laporan data sampel BPJS Kesehatan tahun 2015-2016 tindakansectio cesarean ringan merupakan 10 tindakan terbanyak yang dilakukan padapeserta BPJS Kesehatan. Sectio cesarean dilakukan dengan indikasi medis dantanpa indikasi medis keadaan yang menyebabkan seseorang melahirkan dengansectio cesarean tanpa indikasi medis dapat disebabkan oleh beberapa hal sepertipsikologis, takut berlebihan dan lain sebagainya. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui hubungan antara karateristik peserta BPJS Kesehatan denganmelahirkan sectio cesarean tanpa indikasi medis. Dengan desain penelitian CrossSectional dan menggunakan data sampel BPJS Kesehatan tahun 2015-2016.Sampel dalam penelitian ini yaitu dengan kriteria inklusi Ibu yang melahirkansectio cesarean dengan pada data sampel BPJS Kesehatan dan kriteria Eklusiyaitu Ibu yang melahirkan tanpa sectio cesarean. Hasil dari penelitian ini bahwaproporsi peserta BPJS Kesehatan yang melahirkan sectio cesarean tanpa indikasimedis sebesar 61,18%. Terdapat hubungan yang signifikan antara Wilayah,segmentasi peserta daan Kepemilikan tempat pelayanan kesehatan denganmelahirkan sectio cesarean tanpa indikasi medis. Sedangkan pada variabel Umurtidak terdapat hubungan dengan melahirkan sectio cesarean tanpa indikasi medis.Oleh karena itu perlu ditingkatkan pengawasan tindakan sectio cesarean yangdilakukan dirumah sakit yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan, dan perluditingkatan promosi terhadap masayarakat tentang bahaya sectio cesarean tanpaindikasi medis.Kata kunci:Melahirkan, Sectio Cesarean, BPJS Kesehatan
Cesarean sectio is an action to help give birth to pregnant women by performingsurgery on the abdominal wall (laparatomy) and uterine wall (hysterotomy).(Cunningham et, 2017). Childbirth with cesarean sectio in the world has exceededthe limit set by the WHO which is 15% of all births in each country. In Indonesiathe number of births with cesarean sections based on Riskesdas in 2018 is 17%,and based on the BPJS Kesehatan sample data report for 2015-2016 mildcesarean sectio measures are the 10 most actions taken on BPJS Kesehatanparticipants. Cesarean Sectio is done with medical indications and withoutmedical indication the conditions that cause a person to give birth with cesareansectio without medical indications can be caused by several things such aspsychological, excessive fear and so forth. This study aims to determine therelationship between BPJS Health participant characteristics and cesarean sectiodelivery without medical indication. With Cross Sectional research design andusing BPJS Kesehatan sample data for 2015-2016. The sample in this study wasthe inclusion criteria for mothers who gave birth to cesarean sections with theBPJS Kesehatan sample data and the exclusion criteria were mothers who gavebirth without cesarean sections. The results of this study that the proportion ofBPJS Kesehatan participants who gave birth to cesarean sectio without medicalindications was 61.18%. There is a significant relationship between regions,segmentation of participants and ownership of health care facilities and deliveryof cesarean sectio without medical indication. Whereas the age variable is notrelated to cesarean sectio birth without medical indication. Therefore, it isnecessary to increase supervision of cesarean sectio measures performed inhospitals in collaboration with BPJS Kesehatan, and it is necessary to increasepromotion of the community about the dangers of cesarean sectio without medicalindication.Keywords:Childbirth, Sectio Cesarean, BPJS Kesehatan.
Read More
S-10226
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nisa Rahmadani; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Al Asyary, Erfan Chandra Nugraha
Abstrak:
Skizofrenia merupakan gangguan mental berat yang menjadi beban utama pada layanan kesehatan mental di Indonesia. Hal ini terlihat dari tingginya kebutuhan rawat inap, dan lamanya perawatan, namun data tren pelayanan masih terbatas. Penelitian deskriptif retrospektif menggunakan data klaim BPJS Kesehatan pada fasilitas rujukan tingkat lanjut (FKRTL) tahun 2021–2024. Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan tren proporsi dan pola rawat inap, sedangkan uji chi-square membandingkan rawat inap kunjungan skizofrenia dan non-skizofrenia. Dari 1,32 juta kunjungan gangguan kesehatan mental, 40,68% adalah skizofrenia. Proporsi menurun dari 46,52% (2021) menjadi 35,12% (2024), namun jumlah absolut tetap meningkat, terutama pada laki-laki, remaja, peserta PBI, dan kelas rawat III . Pola rawat inap skizofrenia terus meningkat dari 41,59% pada tahun 2021 menjadi 63,56% di tahun 2024. Analisis bivariat menunjukkan risiko rawat inap (RR=3,07; 95% CI: 3,06–3,09) dan lama rawat inap panjang (RR=15,06; 95% CI: 14,61-15,52) pada skizofrenia lebih tinggi dibanding non-skizofrenia. Skizofrenia tetap menjadi beban utama FKRTL, terutama pada kelompok sosial ekonomi rentan. Peningkatan kebutuhan rawat inap menegaskan pentingnya deteksi dini, kesinambungan pengobatan, dan penguatan layanan komunitas.

Schizophrenia is a severe mental disorder and represents a major burden on mental health services in Indonesia. This burden is reflected in high inpatient demand and long treatment durations, yet data on service trends remain limited. A retrospective descriptive study was conducted using BPJS Kesehatan claims data from advanced referral health facilities (FKRTL) between 2021 and 2024. Univariate analysis described trends in proportions and inpatient care patterns, while chi-square tests were used to compare inpatient outcomes between schizophrenia and non-schizophrenia visits. Out of 1.32 million mental health visits, 40.68% were for schizophrenia. Although the proportion declined from 46.52% in 2021 to 35.12% in 2024, absolute visit numbers increased, particularly among males, adolescents, PBI participants (social assistance program), and Class III inpatients. Inpatient care for schizophrenia rose steadily from 41.59% in 2021 to 63.56% in 2024. Bivariate analysis indicated that schizophrenia visits had higher risks of inpatient admission (RR = 3.07; 95% CI: 3.06–3.09) and prolonged inpatient stay (RR = 15.06; 95% CI: 14.61–15.52) compared with non-schizophrenia visits. Schizophrenia remains a primary burden on FKRTL, especially among socioeconomically vulnerable groups. The increasing inpatient demand highlights the importance of early detection, continuity of care, and strengthening community mental health services.
Read More
S-12316
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cathrine Jane David; Pembimbing: Wahyu Septiono; Penguji: Lhuri D.Rahmartani, A Muchtar Nasir
Abstrak:
Latar Belakang: Penyakit kardiovaskular (PKV) merupakan penyebab mortalitas utama. Risiko insidensi PKV telah meningkat secara signifikan sejak fase asimtomatik prediabetes akibat disfungsi endotel dan inflamasi kronik. Namun, studi berskala nasional yang memetakan dan membandingkan risiko kardiovaskular Framingham antara populasi normoglikemia dan prediabetes di Indonesia masih belum tersedia. Metode: Penelitian kuantitatif ini memanfaatkan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Sampel penelitian terdiri dari 12.821 penduduk dewasa berusia ≥30 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. Estimasi probabilitas risiko PKV dalam 10 tahun mendatang dianalisis menggunakan algoritma Framingham Risk Score (FRS) dan diklasifikasikan ke dalam tingkat risiko rendah, menengah, dan tinggi. Hasil: Rata-rata skor risiko FRS pada kelompok prediabetes (10,98 ± 5,8) terbukti secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok normoglikemia (8,83 ± 6,1) dengan nilai p<0,001. Mayoritas kelompok normoglikemia masih menempati kategori risiko rendah (71,5%). Sebaliknya, proporsi populasi prediabetes bergeser secara progresif dan menumpuk pada kategori risiko menengah sebesar 40,1% dan risiko tinggi yang mencapai 42,5%  Kesimpulan:. Kelompok prediabetes terbukti memiliki akumulasi risiko kardiovaskular yang jauh lebih tinggi dibandingkan populasi normoglikemia. Fase ini merupakan periode kritis (window of opportunity) yang mendesak fasilitas layanan primer untuk mengintegrasikan deteksi dini berkala dengan pemantauan risiko digital, guna memutus rantai progresivitas gangguan glikemik sebelum berkembang menjadi komplikasi kardiovaskular.

Background: Cardiovascular disease (CVD) is a leading cause of mortality. The incidence risk of CVD increases significantly starting from the asymptomatic phase of prediabetes due to endothelial dysfunction and chronic inflammation. However, a national-scale study mapping and comparing the Framingham cardiovascular risk between normoglycemic and prediabetic populations in Indonesia is currently unavailable. Methods: This quantitative study utilized secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). The study sample consisted of 12,821 adults aged ≥30 years who met the inclusion criteria. The estimated probability of 10-year CVD risk was analyzed using the Framingham Risk Score (FRS) algorithm and classified into low, intermediate, and high-risk categories. Results: The mean FRS risk score in the prediabetic group (10.98 ± 5.8) was significantly higher compared to the normoglycemic group (8.83 ± 6.1) with a p-value
Read More
S-12334
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ade Rika Fajrin; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Popy Yuniar, Lili Musnelina
Abstrak:
Indonesia dinobatkan sebagai negara ketiga terbanyak kasus prediabetes di dunia pada tahun 2019 dengan jumlah penderita sebesar 29,1 juta kasus. Prediabetes merupakan kondisi meningkatnya kadar glukosa darah dari batas normal, namun belum mencapai ambang diagnosis diabetes mellitus. Prediabetes memiliki risiko tinggi berkembang menjadi penyakit diabetes mellitus tipe 2 dan berdampak pada peningkatan kasus penyakit tidak menular (PTM) yang dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat determinan kejadian prediabetes pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Indonesia berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia 2023. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif, chi-square, dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi prediabetes di Indonesia sebesar 26,9%. Variabel yang memiliki hubungan secara statistik berdasarkan regresi logistik yaitu usia, jenis kelamin, pendidikan, hipertensi, obesitas sentral, dan status merokok. Variabel dominan yang berhubungan dengan kejadian prediabetes yaitu lansia ≥ 60 tahun (AOR=3,198; 95% CI=2,673 - 3,825). Dengan demikian, pentingnya menetapkan batas minimal usia pemeriksaan kadar glukosa darah rutin terutama pada kelompok berisiko tinggi, intervensi terkait promosi gaya hidup sehat dan ajakan melakukan deteksi dini kadar glukosa darah di masyarakat. Selain itu, diperlukan kerja sama sektor kesehatan maupun non kesehatan untuk mencegah terjadinya prediabetes yang berfokus pada usia dewasa, pra-lanjut usia, dan lansia. 

In 2019, Indonesia was recognized as the third-ranked country in the world for the prevalence of prediabetes with an estimated 29.1 million people affected. Prediabetes is defined as a condition involving elevated blood glucose levels outside the normal range, but below the diagnostic threshold for diabetes mellitus. This condition carries a significant risk of progressing to type 2 diabetes mellitus and contributes to the rising burden of non-communicable diseases (NCDs), thereby adversely impacting the quality of life of those affected. This study aims to identify the determinants of prediabetes among individuals aged 15 years and older in Indonesia, utilizing data from the 2023 Indonesian Health Survey. This study uses descriptive analysis, chi-square test, and logistic regression. Based on the results of the study, the prevalence of prediabetes in Indonesia is 26.9%. Variables that are statistically related to prediabetes as determined by logistic regression included age, gender, education, hypertension, central obesity, and smoking status. The variable that is the most significant factor causing prediabetes is elderly ≥ 60 years (AOR=3.198; 95% CI=2.673 - 3.825). Consequently, the importance of establishing a minimum age threshold for routine blood glucose screening, implementing interventions to promote healthy lifestyles, and encouraging early detection of blood glucose levels within the community. In addition, collaboration between health and non-health sectors is essential to prevent prediabetes, with a focus on adult, pre-elderly, and elderly populations.
Read More
S-11890
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive