Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38537 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nadia Putri; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Putri Bungsu, Yogi Puji Rachmawan
Abstrak:
Atherosclerotic Cardiovascular Disease (ASCVD) merupakan komplikasi utama pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) dan menjadi penyebab utama morbiditas serta mortalitas pada populasi ini. Namun, bukti mengenai hubungan ASCVD dengan kematian pasien DMT2 di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan ASCVD dengan kematian pasien DMT2 di Indonesia menggunakan Data Sampel Kontekstual DM BPJS Kesehatan periode 2015–2022. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif terhadap 6.189 pasien DMT2 yang pertama kali terdiagnosis pada tahun 2015 dan diikuti hingga tahun 2022. Analisis survival dilakukan menggunakan metode Kaplan-Meier dan uji log-rank. Hubungan ASCVD dengan kematian dianalisis menggunakan regresi Cox proportional hazards. Interaksi antara ASCVD dan status gagal jantung dievaluasi untuk menilai adanya modifikasi efek. Karena ditemukan interaksi yang signifikan, analisis lanjutan dilakukan secara terpisah pada kelompok dengan dan tanpa gagal jantung serta dikontrol oleh penyakit ginjal kronis (CKD) dan wilayah tempat tinggal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 710 pasien (11,47%) memiliki ASCVD. Proporsi kematian pada kelompok ASCVD lebih tinggi dibandingkan kelompok tanpa ASCVD (14,79% vs 11,53%). Terdapat perbedaan cumulative survival probability yang bermakna antara pasien DMT2 dengan ASCVD dan tanpa ASCVD (77,65% vs 80,36%; p=0,0407). Pada pasien tanpa gagal jantung, ASCVD berhubungan dengan peningkatan hazard kematian sebesar 1,36 kali dibandingkan pasien tanpa ASCVD (aHR=1,36; 95% CI: 1,00–1,86). Sementara itu, pada pasien dengan gagal jantung diperoleh aHR sebesar 0,76 (95% CI: 0,58–1,01). Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan ASCVD dengan kematian pasien DMT2 berbeda menurut status gagal jantung. Diperlukan penguatan deteksi dini dan pengelolaan ASCVD secara komprehensif pada pasien DMT2 untuk meningkatkan ketahanan hidup dan menurunkan risiko kematian.

Atherosclerotic Cardiovascular Disease (ASCVD) is a major complication among patients with Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) and a leading cause of morbidity and mortality in this population. However, evidence regarding the association between ASCVD and mortality among patients with T2DM in Indonesia remains limited. This study aimed to analyze the association between ASCVD and mortality among patients with T2DM in Indonesia using the BPJS Kesehatan Diabetes Mellitus Contextual Sample Data from 2015–2022. A retrospective cohort study was conducted involving 6,189 patients with T2DM who were newly diagnosed in 2015 and followed until 2022. Survival analysis was performed using the Kaplan–Meier method and log-rank test. The association between ASCVD and mortality was assessed using Cox proportional hazards regression. The interaction between ASCVD and heart failure status was evaluated to assess effect modification. Because a significant interaction was identified, subsequent analyses were conducted separately among patients with and without heart failure, while adjusting for chronic kidney disease (CKD) and residential area. The results showed that 710 patients (11.47%) had ASCVD. The proportion of deaths was higher among patients with ASCVD than among those without ASCVD (14.79% vs. 11.53%). A significant difference in cumulative survival probability was observed between patients with and without ASCVD (77.65% vs. 80.36%; p=0.0407). Among patients without heart failure, ASCVD was associated with a 1.36-fold higher hazard of mortality compared with those without ASCVD (aHR=1.36; 95% CI: 1.00–1.86). In contrast, among patients with heart failure, the adjusted hazard ratio was 0.76 (95% CI: 0.58–1.01). These findings indicate that the association between ASCVD and mortality among patients with T2DM differs according to heart failure status. Strengthening early detection and comprehensive management of ASCVD in patients with T2DM is needed to improve survival and reduce mortality risk.
Read More
T-7560
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tri Damayanti Simanjuntak; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, Esti Widiastuti, Eva Sulistiowati
Abstrak:
Prevalensi diabetes meningkat pesat terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, salah satunya Indonesia. Berdasarkan Riskesdas tahun 2018, prevalensi diabetes melitus berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk semua umur menurut provinsi mencapai 1,5%. Tingkat kejadian penyakit ginjal pada populasi diabetes tidak menurun. Beberapa penelitian cross-sectional besar di dunia mengungkapkan bahwa prevalensi penyakit ginjal kronis pada penderita diabetes tipe 2 bahkan mencapai 50%. Lama menderita diabetes merupakan salah satu faktor risiko penyakit ginjal kronis yang perlu dipertimbangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama menderita diabetes dengan penyakit ginjal kronis pada penderita diabetes melitus tipe 2 di Indonesia. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif, dengan desain cross sectional study. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari survei Riskesdas tahun 2018. Jumlah sampel 639 orang, yaitu memenuhi kriterian inklusi dan eksklusi dalam penelitian ini. Analisis yang digunakan cox regression. Prevalensi penyakit ginjal kronis pada penderita diabetes melitus tipe 2 di Indonesia sebesar 17,68%. Terdapat hubungan lama menderita diabetes dengan penyakit ginjal kronis pada penderita diabetes melitus tipe 2 di Indonesia yang bermakna signifikan secara statistik dengan p=0,0000. Perlu dilakukan deteksi diabetes melitus tipe 2 sedini mungkin dan skrining fungsi ginjal secara rutin sejak didiagnosa diabetes melitus tipe 2 oleh dokter.

Prevalence diabetes is increasing rapidly especially in low and middle- income countries, one of which is Indonesia. Based on Riskesdas in 2018, the prevalence of diabetes mellitus based on the diagnosis of doctors in the population of all ages by province reaches 1,5%. The incidence rate of kidney disease in the diabetic population does not decrease. Some large cross-sectional studies in the world reveal that the prevalence of chronic kidney disease in people with type 2 diabetes even reaches 50%. Duration suffering diabetes is a risk factor for chronic kidney disease that needs to be considered. This study aims to determine the relationship duration suffering from diabetes with chronic kidney disease in patients with type 2 diabetes mellitus in Indonesia. This type of research is quantitative, with cross-sectional study design. This study uses secondary data from the 2018 Riskesdas survey. The number of samples was 639 people, who met the inclusion and exclusion criteria in this study. The analysis used cox regression The prevalence of chronic kidney disease in patients with type 2 diabetes mellitus in Indonesia is 17.68%. There was a relationship duration suffering diabetes with chronic kidney disease in patient type 2 diabetes mellitus in Indonesia which is statistically significant with p = 0.0000. So, important to screening mass type 2 diabetes mellitus as early as possible and routine screening kidney function since type 2 diabetes mellitus diagnose by a doctor.

Read More
T-5840
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maulidya Sekar Aulia; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah; Jamaludin
Abstrak: Latar Belakang: Penyakit kardiovaskular, termasuk stroke merupakan masalah kesehatan utama yang terjadi di Dunia. Setiap tahunnya, terdapat lebih dari 13,7 juta kasus baru dan 5,5 juta kematian akibat stroke yang terjadi secara global. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2018 prevalensi stroke di Indonesia mencapai 10,9 per mil. Pada Provinsi DKI Jakarta, prevalensi stroke berdasarkan diagnosis dokter meningkat dari 9,7 per mil (2013) menjadi 12,2 per mil (2018). Berdasarkan data IDF tahun 2019, prevalensi diabetes di Indonesia mencapai 10.7 juta kasus dan menjadikan Indonesia sebagai Negara dengan kasus terbanyak ketujuh secara global. Selain itu, menurut Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, dana yang digunakan untuk pelayanan stroke terus meningkat yaitu 1,43 Trilyun (2016), 2,18 Trilyun (2017) dan 2,56 Trilyun (2018) dan menurun menjadi 2,1 Trilyun (2020). Meskipun terdapat penurunan di tahun 2020, stroke masih menjadi peringkat ke tiga sebagai penyeap dana jaminan sosial BPJS. Diabetes melitus yang merupakan faktor risiko stroke mengalami peningkatan prevalensi di Provinsi DKI Jakarta dari tahun 2,5% (2013) menjadi 3,4% (2018).Tujuan: mengetahui hubungan diabetes melitus tipe 2 dengan kejadian penyakit stroke pada penduduk berusia ≥18 tahun Di Provinsi DKI Jakarta tahun 2018. Metode: Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif dan menggunakan studi cross-sectional analitik. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder Riskesdas 2018. Terdapat 1.537 sampel yang dianalisis sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil: Berdasarkan hasil analisis didapatkan prevalensi stroke sebesar 1,6% dan diabetes melitus tipe 2 sebesar 7,7%. Terdapat hubungan yang signifikan antara variabel diabetes melitus tipe 2 dengan kejadian penyakit stroke. Selain itu, variabel kovariat seperti usia (POR=5,26; 95%CI: 2,28-12,12), pekerjaan (POR=2,63; 95%CI: 1,12-6,19), hipertensi (POR=9,52; 95%CI: 2,83-32,06), dan penyakit jantung (POR=5,30; 95%CI: 1,75-16,04) juga berhubungan secara signifikan dengan kejadian stroke. Berdasarkan analisis stratifikasi didapatkan bahwa variabel yang menjadi efek interaksi (modifikasi) adalah pendidikan, hipertensi, dan penyakit jantung. Sedangkan variabel yang termasuk variabel perancu adalah usia, pendidikan, hipertensi, dan penyakit jantung. Kesimpulan: Diabetes melitus tipe 2 merupakan faktor risiko yang penting untuk diperhatikan dalam pencegahan dan pengendalian stroke di Indonesia.
Bankground: Cardiovascular disease, including stroke, is a major health problem in the world. Every year, there are more than 13.7 million new cases and 5.5 million deaths from stroke that occur globally. Based on Riskesdas data in 2018, the prevalence of stroke in Indonesia reached 10.9 per mile. In DKI Jakarta Province, the prevalence of stroke based on doctor's diagnosis increased from 9.7 per mile (2013) to 12.2 per mile (2018). Based on IDF data in 2019, the prevalence of diabetes in Indonesia reached 10.7 million cases and made Indonesia the country with the seventh most cases globally. In addition, according to the Health Social Security Administration (BPJS), the funds used for stroke services continued to increase, namely 1.43 trillion (2016), 2.18 trillion (2017) and 2.56 trillion (2018) and decreased to 2. 1 Trillion (2020). Although there is a decline in 2020, stroke is still ranked third as a provider of BPJS social security funds. Diabetes mellitus which is a risk factor for stroke has increased prevalence in DKI Jakarta Province from 2.5% (2013) to 3.4% (2018). Objective: To determine the relationship between type 2 diabetes mellitus and the incidence of stroke in the population aged 18 years. In DKI Jakarta Province in 2018. Methods: The study was conducted with quantitative methods and used an analytical cross-sectional study. The data source used in this study is secondary data from Riskesdas 2018. There are 1,537 samples analyzed according to the inclusion and exclusion criteria. Results: Based on the results of the analysis, the prevalence of stroke was 1.6% and type 2 diabetes mellitus was 7.7%. There is a significant relationship between the variables of type 2 diabetes mellitus and the incidence of stroke. In addition, covariate variables such as age (POR=5.26; 95%CI: 2.28-12.12), occupation (POR=2.63; 95%CI: 1.12-6.19), hypertension ( POR=9.52; 95%CI: 2.83-32.06), and heart disease (POR=5.30; 95%CI: 1.75-16.04) were also significantly associated with the incidence of stroke. Based on the stratification analysis, it was found that the variables that became the interaction effect (modification) were education, hypertension, and heart disease. Meanwhile, the confounding variables were age, education, hypertension, and heart disease. Conclusion: Type 2 diabetes mellitus is an important risk factor to consider in the prevention and control of stroke in Indonesia.
Read More
S-11019
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wagiran; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Ratna Djuwita, M. Sugeng Hidayat, Punto Dewo
T-4855
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Crysti Mei Manik; Pembimbing: Soedarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Pradana Soewondo, Mondastri Korib Sudaryo, Ajeng Tias Endarti
Abstrak: Prevalensi obesitas di dunia tinggi. Data 2016 menunjukkan bahwa prevalensi obesitas meningkat 3 kali lipat yakni lebih dari 650 juta orang. Pada populasi obesitas ditemukan banyak penderita DM dan hipertensi. Hal ini kemungkinan menunjukkan bahwa ada hubungan antara DM dengan hipertensi pada populasi obesitas. Penelitian yang menjelaskan tentang Hubungan DM dengan Hipertensi Pada Populasi Obesitas di Indonesia masih jarang. Penelitian ini bertujuan melihat Hubungan DM dengan Hipertensi Pada Populasi Obesitas di Indonesia dengan menggunakan data The Indonesian Family Life Survey kelima (IFLS-5) Tahun 2014. Desain penelitian ini adalah cross sectional. Sumber data penelitian adalah berasal dari data IFLS-5. Jumlah populasi obesitas adalah 5991 orang. Jumlah sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi adalah 712 orang. Analisis data menggunakan cox regression dengan 95% Confident Interval. Kriteria inklusi penelitian ini adalah penduduk obesitas di Indonesia yang menjadi responden pada kegiatan IFLS- 5 tahun 2014 dan memiliki data tekanan darah yang diukur sebanyak 3 kali. Kriteria eksklusi adalah responden yang tidak memiliki data lengkap pada seluruh variable. Pada penelitian ini, dari 712 orang yang obesitas, 86 orang (12.1%) menderita DM dan 626 orang (87.9%) tidak menderita DM. Pada kelompok obesitas yang DM terdapat 73 orang (84.9%) yang hipertensi. Pada kelompok obesitas yang tidak DM terdapat 386 orang (61.7%) yang hipertensi. Hasil analisis diperoleh nilai PR sebesar 1.302 kali (95% CI; 1.007-1.684), artinya pada populasi obesitas dengan DM beresiko untuk terjadi hipertensi sebesar 1.302 kali dibandingkan dengan populasi obesitas tanpa DM setelah di kontrol oleh variabel umur dan jenis kelamin
Read More
T-5721
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andini Wisdhanorita; Pembimbing: Syahrizal, Putri Bungsu; Penguji: Dian Meutia
Abstrak: Prevalensi diabetes melitus di Indonesia meningkat sebanyak 23,2% dari 6,9% pada tahun 2013 menjadi 8,5% pada tahun 2018 (Riskesdas, 2018). Selain itu, perilaku merokok yang diduga sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya diabetes melitus juga mengalami peningkatan sebesar 6,14% dari 34,2 persen pada tahun 2007 menjadi 36,3 persen pada tahun 2013 (Riskesdas, 2013). Berbagai penelitian telah menunjukan bahwa terdapat hubungan antara perilaku merokok dengan diabetes melitus tipe 2 (Cho dkk, 2014; Sairenchi dkk, 2004; Shi dkk, 2013; Papier, 2016). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Antara Perilaku Merokok Dengan Kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 Di Kecamatan Bogor Tengah. Desain penelitian menggunakan kohort retrospektif. Sampel terdiri dari 1804 responden yang berasal dari studi kohort faktor risiko PTM. Responden diamati selama 6 tahun. Insidens rate diabetes melitus adalah 4,13%.
Read More
T-5688
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Uswatun Hasanah; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji; Renti Mahkota, Yoan Hotnida Naomi
Abstrak:
Latar Belakang: Prevalensi DM di Indonesia beranjak naik dari tahun ke tahun, ini sesuai hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 menunjukkan prevalensi nasional penyakit DM sebesar 1,1% dan pada tahun 2013 mengalami peningkatan menjadi 2,1%. Sedangkan aktivitas fisik sebagai salah satu faktor risiko Diabetes Melitus tipe 2 prevalensi mengalami penurunan yaitu dari 48,2% menjadi 26,1% (Litbangkes 2013). Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara aktifitas fisik dengan DM tipe 2 di Indonesia berdasarkan data Riskesdas Tahun 2013, Metode: Desain study cross sectional, dilaksanakan pada bulan bulan Mei-Juni tahun 2015, total sampel sebesar 22.779 orang, analisis data menggunakan uji regresi logistik. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan Diabetes Melitus tipe 2 dengan uji statistik (OR=1,069: CI 95% : 0,978 – 1,167).

Background: The prevalence of DM in Indonesia is rising from year to year, this according to the results of Health Research (Riskesdas) in 2007 showed a national prevalence of 1.1% DM disease and by 2013 had increased to 2.1%. While physical activity as a risk factor for type 2 diabetes mellitus prevalence decreased from 48.2% to 26.1% (Research 2013). Objective: To determine the relationship between physical activity and type 2 diabetes in Indonesia based on data Riskesdas In 2013, Methods: cross sectional study, conducted in the month of May-June 2015, a total sample of 22 779 people, data analysis using logistic regression. Results: The study showed that there was no significant association between physical activity with diabetes mellitus type 2 with a statistical test (OR = 1.069: 95% CI: 0.978 to 1.167).
Read More
T-4522
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Intan Permatasari; Pembimbing: Rizka Maulida; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Diah Satyani Saminarsih
Abstrak:
Latar Belakang: Penelitian ini menganalisis hubungan pola konsumsi dan gaya hidup dengan kejadian DM tipe 2 pada penduduk usia ≥25 tahun di Indonesia, mengingat tren peningkatan kasus dari 6,9% pada 2013 menjadi 8,5% pada 2018. Metode: Penelitian ini menggunakan data Riset Dasar Kesehatan (Riskesdas) 2018 menggunakan desain studi cross sectional. Sampel penelitian adalah penduduk usia ≥ 25 tahun dari data Riskesdas tahun 2018 yang berjumlah 26.850 responden. Analisis data menggunakan analisis univariat dengan distribusi frekuensi, analisis bivariat dengan uji chi-square, dan analisis multivariat dengan menggunakan regresi logistik ganda. Variabel dependennya adalah diabetes melitus tipe 2 dan variabel independennya adalah pola konsumsi dan gaya hidup (konsumsi makanan manis, konsumsi minuman manis, konsumsi minuman berkarbonisasi, konsumsi minuman berenergi, konsumsi makanan olahan berpengawet, konsumsi makanan instan, konsumsi sayur dan buah, aktivitas fisik, perilaku merokok, konsumsi minuman beralkohol). Hasil: Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat hubungan antara faktor pola konsumsi dan gaya hidup, antara lain konsumsi makanan manis (AOR: 1,24; 95%: CI: 1,13-1,37), konsumsi minuman manis (AOR: 1,64; 95% CI: 1,47-1,82), konsumsi makanan instan (AOR: 1,20; 95% CI: 1,11-1,29), dan perilaku merokok (AOR: 1,68; 95% CI: 1,54-1,83). Selain itu, pada variabel aktivitas fisik memiliki efek protektif dengan kejadian DM tipe 2 (AOR: 0,76; 95% CI: 0,70-0,83). Kesimpulan: Konsumsi makanan manis, konsumsi minuman manis, konsumsi makanan instan, aktivitas fisik, dan perilaku merokok berasosiasi dengan kejadian diabetes melitus tipe 2 pada penduduk ≥25 tahun di Indonesia. Demikian, perlu adanya kebijakan mengenai pembatasan konsumsi makanan dan minuman manis, makanan instan, serta pengendalian perilaku merokok.

Background: This study analyzed the association of consumption patterns and lifestyle with the incidence of type 2 DM in Indonesia's population aged ≥25 given the increasing trend of cases from 6.9% in 2013 to 8.5% in 2018. Methods: Using a cross-sectional study design, this study used data from Riset Dasar Kesehatan (Riskesdas) 2018. The study sample was the population aged ≥25 years from the Riskesdas 2018 data totaling 26,850 respondents. Data analysis included univariate analysis with frequency distribution, bivariate analysis with chi-square test, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The dependent variable was type 2 diabetes mellitus, and the independent variables were consumption patterns and lifestyle (consumption of sweet foods, sweet drinks, carbonized drinks, energy drinks, preserved processed foods, instant foods, vegetables and fruits, physical activity, smoking behavior, and alcoholic beverages). Results: The results found associations between consumption patterns and lifestyle factors, including sweet foods (AOR: 1.24; 95% CI: 1.13-1.37), sweet drinks (AOR: 1.64; 95% CI: 1.82), instant foods (AOR: 1.20; 95% CI: 1.11-1.29), and smoking behavior (AOR: 1.68; 95% CI: 1.54-1.83). Additionally, physical activity had a protective effect against type 2 DM (AOR: 0.76; 95% CI: 0.70-0.83). Conclusion: Sugary food and drink consumption, instant food consumption, physical activity, and smoking behavior are associated with the incidence of type 2 diabetes mellitus in the population aged ≥25 years in Indonesia. Therefore, policies are needed to restrict the consumption of sugary foods and drinks, instant foods, and to control smoking behavior
Read More
S-11797
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Masitah Sari Dewi; Pembimbing: Ratna Djuwita, Putri Bungsu; Penguji: Helda Khusnun, Yoan Hotnida Naomi
Abstrak: Diabetes melitus merupakan penyakit tidak menular yang cendrung mengalamipeningkatan. Data IDF Atlas 2015 menyebutkan, Prevalensi DM di Indonesiamenduduki urutan ke 7 didunia. Di Indonesia data Riskesdas menunjukkan peningkatanprevalensi diabetes melitus dari 5,7% (2007) meningkat menjadi 6,9% (2013). Obesitassentral adalah prediktor yang kuat untuk terjadinya diabetes melitus tipe 2.Prevalensi obesitas sentral berdasarkan data Riskesdas 2007 sebesar 18,8% meningkatmenjadi 26,6% (Riskesdas, 2013) Tujuan penelitian untuk mengetahui hubunganobesitas sentral terhadap diabetes melitus tipe 2 pada penduduk usia ≥ 18 tahun diwilayah peluncuran GERMAS tahun 2016. Desain penelitian studi cross sectional,Analisis menggunakan uji Regresi Logistic. Hasil analisis diperoleh proporsi diabetesmelitus tipe 2 sebesar 6,1 % dan obesitas sentral sebesar 68,9%. Selain itu hasilmultivariat menunjukkan hubungan obesitas sentral dengan diabetes melitus tipe 2didapatkan nilai POR 3,296 (95% CI 2,344-4,636) artinya penduduk dengan obesitassentral memiliki peluang sebesar 3,296 kali (95% CI 2,344-4,636) mengalami diabetesmelitus tipe 2 dibandingkan dengan penduduk yang tidak obesitas sentral setelahdikendalikan oleh aktifitas fisik dan hipertensi. Kesimpulan dan saran agar masyarakatrutin tiap bulan melakukan pemeriksaan kesehatan di POSBINDU PTM, untukmelakukan deteksi dini obesitas sentral dan pemeriksaan kadar glukosa darah gunamenjaring kasus diabetes melitus tipe 2 sedini mungkin.Kata kunci:Diabetes melitus Tipe 2, Obesitas sentral, GERMAS
Diabetes mellitus is a non-communicable disease that tends to increase. IDFAtlas 2015 data says, DM prevalence in Indonesia ranked 7th in the world. In Indonesia,Riskesdas data showed an increased prevalence of diabetes mellitus from 5.7% (2007)increased to 6.9% (2013). Central obesity is a strong predictor for the occurrence of type2 diabetes mellitus. The prevalence of central obesity based on Riskesdas 2007 data of18.8% increased to 26.6% (Riskesdas, 2013) The objective of the study was toinvestigate the relationship of central obesity to type 2 diabetes mellitus in thepopulation age ≥ 18 years in GERMAS launching area in 2016. Study design cross-sectional study, Analysis using logistic regression test. The analysis results obtainedproportion of type 2 diabetes mellitus by 6.1% and central obesity of 68.9%. In addition,multivariate results showed that the association of central obesity with diabetes mellitustype 2 was found to be POR 3,296 (95% CI 2,344-4,636) meaning that people withcentral obesity had a chance of 3,296 times (95% CI 2,344-4,636) had diabetes mellitustype 2 compared with non-obese residents after being controlled by physical activityand hipertension. Conclusions and suggestions for routine public health checks inPOSBINDU PTM, to perform early detection of central obesity and blood glucoseexamination to capture cases of type 2 diabetes mellitus as early as possible.Keywords:Diabetes mellitus Type 2, central obesity, GERMAS.
Read More
T-5465
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maria Angelika; Pembimbing: Asri C. Adisasmital; Penguji: Dwi Gayatri, Lanny Luhukay
Abstrak:
Pada tahun 2022, jumlah kematian kanker payudara di Indonesia merupakan yang keempat tertinggi secara global. Banyaknya kematian kanker payudara salah satunya disebabkan oleh komorbiditas. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan komorbiditas dengan survival tiga tahun kanker payudara di Indonesia.  Studi ini menggunakan desain studi kohort retrospektif dan mencakup 896 sampel dari Data Sampel General BPJS Kesehatan tahun 2018-2023. Kurva dan probabilitas survival dibuat dengan metode Kaplan-Meier. Sedangkan hubungan dilihat dengan uji log-rank dan Hazard Ratio (HR) dianalisis dengan uji cox regression. Hasil studi menunjukkan cumulative survival probability (CSP) pada total sampel di bulan ke-36 adalah 49,9%, median waktu survival adalah 35,34 bulan. Pasien kanker payudara yang memiliki komorbid dan komorbid lainnya memiliki risiko kematian yang lebih tinggi dalam tiga tahun (Komorbid CSP = 43,7%; HR = 1,38; 95% CI = 1,01-1,89, komorbid lainnya CSP = 42,4%; HR = 1,43; 95% CI = 1,01-2,04). Studi ini tidak menemukan perbedaan survival yang signifikan antara kedua kelompok di variabel gangguan metabolik termasuk diabetes, hipertensi, penyakit kardiovaskular, usia saat diagnosis, status pernikahan, kondisi sosial ekonomi, dan tempat tinggal. Survival pasien kanker payudara di Indonesia termasuk rendah, khususnya pasien dengan komorbid.


In 2022, Indonesia ranked fourth globally in the number of breast cancer deaths. One of the contributing factors to the high mortality rate is comorbidity. This study aims to examine the association between comorbidities and three-year survival of breast cancer patients in Indonesia. A retrospective cohort design was used, involving 896 samples from the 2018–2023 BPJS Kesehatan General Sample Data. Survival curves and probabilities were estimated using the Kaplan-Meier method, while associations were analyzed using the log-rank test and Hazard Ratios (HR) via Cox regression. The study found that the cumulative survival probability (CSP) at 36 months for the overall sample was 49.9%, with a median survival time of 35,34 months. Breast cancer patients with comorbidities and other comorbid conditions had a higher risk of death within three years (comorbidity CSP = 43.7%; HR = 1.38; 95% CI = 1.01–1.89, other comorbidities CSP = 42.4%; HR = 1.43; 95% CI = 1.01–2.04). No significant differences in survival were found based on metabolic disorders including diabetes, hypertension, cardiovascular disease, age at diagnosis, marital status, socioeconomic status, or place of residence. Breast cancer survival in Indonesia remains low, particularly among patients with comorbidities.
Read More
S-12071
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive