Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40805 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Aditya Wahid Zatmiko; Pembimnbing: Rizka Maulida; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Budi Setiawan
Abstrak:
Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian di Indonesia, termasuk di Provinsi DKI Jakarta, namun kajian tren mortalitas berbasis data surveilans rutin di tingkat provinsi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menggambarkan tren mortalitas akibat penyakit kardiovaskular di Provinsi DKI Jakarta tahun 2018, 2020, 2022, dan 2024 berdasarkan jenis penyakit, kelompok usia, jenis kelamin, dan wilayah administrasi. Desain studi potong lintang digunakan dengan data surveilans kematian Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, mencakup 61.435 kasus kematian kardiovaskular (ICD-10: I10–I99) yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis univariat dilakukan menggunakan indikator Cause-Specific Death Rate (CSDR), Age-Specific Death Rate (ASDR), dan Sex-Specific Death Rate (SSDR) serta 95% (CI). Hasil menunjukkan pergeseran dominasi penyebab kematian dari Penyakit Serebrovaskular (CSDR 249,77 per 1.000.000 penduduk; 95% CI: 240,45–259,35) ke Gangguan Irama dan Konduksi Jantung yang meningkat dari CSDR 188,09 (95% CI: 180,01–196,43) pada 2018 menjadi 750,03 (95% CI: 733,96–766,36) pada 2024, dengan lonjakan tajam sejak fase pandemi akut. Kelompok lansia (≥60 tahun) menanggung beban kematian terbesar (62,1%–64,8%), dengan ASDR Gangguan Irama dan Konduksi Jantung mencapai 4.736,59 (95% CI: 4.607,69–4.868,18) per 1.000.000 lansia pada 2024. Laki-laki secara konsisten memiliki ASDR lebih tinggi dibanding perempuan pada seluruh periode studi. Jakarta Selatan mencatat CSDR tertinggi antarwilayah untuk kematian akibat Gangguan Irama dan Konduksi Jantung pada 2024 sebesar 1.210,13 (95% CI: 1.165,91–1.255,60) per 1.000.000 penduduk.

Cardiovascular disease is the leading cause of death in Indonesia, including in Jakarta Province, yet trend analyses using routine provincial mortality surveillance data remain scarce. This study aimed to describe cardiovascular disease mortality trends in Jakarta Province for 2018, 2020, 2022, and 2024 based on disease type, age group, sex, and administrative region. A cross-sectional design was employed using mortality surveillance data from the Jakarta Provincial Health Office, comprising 61,435 cardiovascular deaths (ICD-10: I10–I99) meeting the inclusion and exclusion criteria. Univariate analysis was conducted using the Cause-Specific Death Rate (CSDR), Age-Specific Death Rate (ASDR), Sex-Specific Death Rate (SSDR), and 95% confidence intervals (CI). Results showed a shift in dominant cause of death from Cerebrovascular Disease (CSDR 249.77 per 1,000,000 population; 95% CI: 240.45–259.35) to Cardiac Arrhythmia and Conduction Disorders, which increased from CSDR 188.09 (95% CI: 180.01–196.43) in 2018 to 750.03 (95% CI: 733.96–766.36) in 2024, with a sharp surge during the acute pandemic phase. The elderly (≥60 years) consistently bore the greatest mortality burden (62.1%–64.8%), with an ASDR for Cardiac Arrhythmia and Conduction Disorders of 4,736.59 (95% CI: 4,607.69–4,868.18) per 1,000,000 elderly in 2024. Males consistently exhibited higher ASDR than females throughout the entire study period. South Jakarta recorded the highest inter-district CSDR for deaths attributable to Cardiac Arrhythmia and Conduction Disorders in 2024, at 1,210.13 (95% CI: 1,165.91–1,255.60) per 1,000,000 population.
Read More
S-12338
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadiya Eka Suci; ;Pembimbing: Rizka Maulida; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Budi Setiawan
Abstrak:
Penyakit ginjal kronis meningkat secara global maupun nasional, namun studi terkait mortalitas akibat penyakit ginjal kronis terbatas. Penelitian bertujuan menganalisis tren dan distribusi kematian akibat penyakit ginjal kronis di DKI Jakarta berdasarkan umur, jenis kelamin, wilayah, dan sumber pelaporan selama 2020-2025 dengan desain potong lintang menggunakan data Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Penelitian menggunakan total sample berjumlah 11.495, dengan minimal 384 sampel per tahun, berupa kematian dengan penyebab dasar penyakit ginjal kronis sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian berdasarkan perhitungan Crude-Specific Death Rate dengan Confidence Interval 95% menunjukkan angka kematian populasi cenderung meningkat selama periode penelitian, puncak tren terjadi tahun 2024 CSDR 215,8 (CI 95%:207,8-224,8) dengan rumah sakit sebagai sumber pelaporan utama. Kelompok usia ≥60 tahun mendominasi dengan puncak di tahun 2025 CSDR 1014,4 (CI 95%:959,9-1071,2). Angka kematian laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan dengan puncak tren di 2025 CSDR 233,7 (CI 95%:221,0-247,0). Wilayah Jakarta Timur menyumbang jumlah kematian absolut tertinggi, dengan puncak di tahun 2024 CSDR 251,5 (CI 95%:234,1-269,8). Ditemukan 317 data anomali kode menunjukkan inkonsistensi pengkodean diagnosis, dengan puskesmas menyumbang laporan anomali terbanyak. Tren mortalitas penyakit ginjal kronis di DKI Jakarta yang meningkat, terutama pasca-pandemi, serta laporan kasus tidak valid menunjukkan perlunya upaya pencegahan dan perbaikan kualitas data untuk mendukung efektivitas pengendalian penyakit.

Chronic kidney disease is rising both globally and nationally, yet studies on mortality due to chronic kidney disease remain limited. This study aims to analyse trends and the distribution of mortality rates due to chronic kidney disease in Jakarta, based on age, sex, region, and source of reporting, for the period 2020-2025, using a cross-sectional design and data from the Jakarta Provincial Health Office. The study used a total sample of 11.495, with a minimum 384 cases per year, comprising deaths with chronic kidney disease as the underlying cause, in accordance with the inclusion and exclusion criteria. The results showed that the mortality rate for the entire population tended to increase during the study period, peaking in 2024 at a CSDR of 215.8 (95% CI: 207.8–224.8), with hospitals as the primary source of reporting. The age group ≥60 years dominated, with a peak in 2025 at a CSDR of 1014.4 (95% CI: 959.9–1071.2). Men had a higher mortality rate than women, with the trend peaking in 2025 at a CSDR of 233.7 (95% CI: 221.0–247.0). The East Jakarta region contributed the highest absolute number of deaths, with a peak in 2024 at 251.5 CSDR (95% CI: 234.1–269.8). A total of 317 cases of coding anomalies were identified, indicating inconsistencies in diagnosis coding, with the community health centre accounting for the highest number of anomalous reports. The rising trend in chronic kidney disease mortality in Jakarta, particularly post-pandemic, along with reports of invalid cases, highlights the need for preventive measures and improvements in data quality to support the effectiveness of disease control.
Read More
S-12228
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Thalita Sekar Alya; Pembimbing: Rizka Maulida; Penguji: Lhuri D. Rahmartani, Budi Setiawan
Abstrak:
Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit tidak menular yang berkontribusi terhadap tingginya angka kematian, terutama di wilayah perkotaan seperti DKI Jakarta. Namun, kajian mortalitas akibat diabetes melitus berbasis data kematian rutin di tingkat provinsi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menggambarkan tren mortalitas akibat diabetes melitus di Provinsi DKI Jakarta tahun 2020–2025 berdasarkan usia, jenis kelamin, dan wilayah administrasi. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang (cross-sectional) dengan pendekatan kuantitatif menggunakan data surveilans kematian Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tahun 2020–2025. Sampel penelitian mencakup 17.582 kasus kematian akibat diabetes melitus tipe 1 dan tipe 2 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis dilakukan secara univariat menggunakan indikator Cause-Specific Death Rate (CSDR) dan 95% confidence interval (CI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai CSDR tertinggi terjadi pada tahun 2021 sebesar 34,90 per 100.000 penduduk (95% CI: 33,78–36,04), kemudian menurun pada tahun 2022 menjadi 23,81 (95% CI: 22,89–24,75) dan relatif stabil hingga tahun 2025. Kelompok usia ≥70 tahun memiliki angka kematian tertinggi, perempuan cenderung memiliki nilai CSDR sedikit lebih tinggi dibandingkan laki-laki meskipun CI beririsan, serta Jakarta Timur, Jakarta Pusat, dan Jakarta Utara menunjukkan nilai CSDR relatif tinggi. Mortalitas akibat diabetes melitus di DKI Jakarta masih menunjukkan beban kematian yang tinggi, terutama pada kelompok usia lanjut dan wilayah tertentu. 

Diabetes mellitus is one of the non-communicable diseases contributing to high mortality rates, particularly in urban areas such as Jakarta. However, studies on diabetes mellitus mortality using routine mortality data at the provincial level remain limited. This study aimed to describe mortality trends due to diabetes mellitus in Jakarta Province from 2020 to 2025 based on age, sex, and administrative region. This study used a cross-sectional design with a quantitative approach utilizing mortality surveillance data from the Jakarta Provincial Health Office from 2020 to 2025. The study sample consisted of 17,582 deaths due to type 1 and type 2 diabetes mellitus that met the inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed using univariate analysis with the Cause-Specific Death Rate (CSDR) indicator and 95% confidence interval (CI). The results showed that the highest CSDR occurred in 2021 at 34.90 per 100,000 population (95% CI: 33.78–36.04), followed by a decline in 2022 to 23.81 (95% CI: 22.89–24.75), and remained relatively stable until 2025. The ≥70 years age group had the highest mortality rate, females tended to have slightly higher CSDR values than males although the CIs overlapped, and East Jakarta, Central Jakarta, and North Jakarta showed relatively high CSDR values compared with other regions. Mortality due to diabetes mellitus in Jakarta remains a substantial public health burden, particularly among older adults and certain regions.
Read More
S-12230
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ferdian Akhmad Ferizqo; Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Retno Henderiawati, Agus Sugiarto
Abstrak:
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di Provinsi DKI Jakarta dengan angka kematian yang masih tinggi. Identifikasi faktor risiko kematian akibat DBD penting untuk meningkatkan strategi pencegahan dan penanganan kasus. Penelitian ini menggunakan desain studi observasional analitik dengan pendekatan case-control pada tahun 2024 di DKI Jakarta. Data sekunder diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta yang mencakup laporan kasus pasien DBD meninggal dan yang sembuh. Analisis bivariat dilakukan untuk memilih variabel kandidat dengan p-value <0,25, kemudian dilanjutkan analisis regresi logistik multivariat untuk menentukan faktor risiko kematian akibat DBD. Dari analisis bivariat, variabel domisili penduduk dan jenis fasilitas kesehatan memenuhi kriteria masuk ke analisis multivariat. Hasil regresi logistik multivariat menunjukkan bahwa domisili penduduk berpengaruh signifikan terhadap kematian akibat DBD dengan odds ratio 4,42 (p=0,024; 95% CI: 1,21–16,13). Pada model ini pasien yang berdomisili di DKI Jakarta memiliki risiko kematian 4,42 kali lebih tinggi dibanding pasien dari luar Jakarta. Variabel jenis fasilitas kesehatan meskipun memiliki odds ratio >1, tidak signifikan secara statistik (p=0,319). Domisili penduduk merupakan faktor risiko utama kematian akibat DBD di DKI Jakarta. Perlu penguatan sistem pelayanan kesehatan dan edukasi masyarakat untuk deteksi dini serta penanganan cepat guna menurunkan angka kematian akibat DBD.

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an infectious disease that remains a public health problem in DKI Jakarta Province with a high mortality rate. Identifying risk factors for DHF-related death is crucial to improve prevention strategies and case management. This study employed an analytic observational case-control design in 2024 in DKI Jakarta. Secondary data were obtained from the DKI Jakarta Provincial Health Office, including reports of DHF patient deaths and survivors. Bivariate analysis was conducted to select candidate variables with p-value <0.25, followed by multivariate logistic regression analysis to determine risk factors for DHF mortality. Bivariate analysis identified resident identity and type of healthcare facility as eligible for inclusion in the multivariate model. The multivariate logistic regression revealed that resident identity (domicile) was significantly associated with DHF mortality, with an odds ratio of 4.42 (p=0.024; 95% CI: 1.21–16.13). Patients residing in DKI Jakarta had a 4.42 times higher risk of death compared to patients from outside Jakarta. Although the type of healthcare facility had an odds ratio >1, it was not statistically significant (p=0.319). Resident identity (domicile) is a significant risk factor for DHF-related death in DKI Jakarta. Strengthening the healthcare system and enhancing public education for early detection and timely treatment are crucial to reduce DHF mortality.

Read More
T-7327
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Stella Tracylia; Pembimbing: Rizka Maulida; Penguji: Trisari Anggondowati, Budi Setiawan
Abstrak:
Studi terkait mortalitas akibat kanker, khususnya di tingkat lokal, seperti provinsi, masih terbatas dan sebagian besar berfokus pada morbiditas atau prevalensi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren mortalitas akibat kanker di Jakarta pada tahun 2017, 2019, 2021, dan 2023 menggunakan desain potong lintang dengan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta. Analisis univariat dilakukan untuk mengevaluasi tren mortalitas berdasarkan tahun, kelompok usia, jenis kelamin, wilayah, dan sumber pelaporan fasilitas kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan perubahan peringkat kanker utama, di mana kanker trakea, bronkus, dan paru-paru, yang menjadi penyebab kematian tertinggi pada 2017, digantikan oleh kanker payudara mulai 2019. CSDR (Cause Specific Death Rate) kanker utama meningkat sejak 2017, menurun pada 2021, lalu mencapai puncaknya pada 2023. Mortalitas tertinggi terjadi pada kelompok lansia (43,9% – 44,6%) dan dewasa paruh baya (42,8% – 44,7%), dengan perempuan (52,0% – 57,7%) lebih banyak terdampak dibandingkan laki-laki (42,3% – 48%). Jakarta Timur melaporkan mortalitas tertinggi (27,9% – 30,8%), diikuti Jakarta Barat (20,9% – 26,7%), dengan rumah sakit sebagai sumber pelaporan utama (66,2% – 83,7%). Kasus-kasus tereksklusi dalam penelitian ini mencerminkan tantangan dalam pengumpulan dan pencatatan data yang akurat. Penelitian ini menekankan pentingnya peningkatan kualitas data untuk mendukung kebijakan dan intervensi yang lebih efektif dalam mengurangi beban mortalitas akibat kanker.

Studies related to cancer mortality, especially at the local level, such as provinces, are still limited and mostly focus on morbidity or prevalence. This study aims to analyze cancer mortality trends in Jakarta in 2017, 2019, 2021, and 2023 using a cross-sectional design with data from the Jakarta Provincial Health Office. Univariate analysis was conducted to evaluate mortality trends based on year, age group, gender, region, and the reporting source from healthcare facilities. The results show a change in the ranking of major cancers, where tracheal, bronchial, and lung cancer, which was the leading cause of death in 2017, was replaced by breast cancer starting in 2019. The Cause-Specific Death Rate (CSDR) for major cancers increased since 2017, decreased in 2021, and then peaked in 2023. The highest mortality occurred in the elderly group (43.9% – 44.6%) and middle-aged adults (42.8% – 44.7%), with women (52.0% – 57.7%) being more affected than men (42.3% – 48%). East Jakarta reported the highest mortality (27.9% – 30.8%), followed by West Jakarta (20.9% – 26.7%), with hospitals as the primary reporting source (66.2% – 83.7%). Cases excluded from this study reflect challenges in the collection and recording of accurate data. This study emphasizes the importance of improving data quality to support policies and interventions that are more effective in reducing the cancer mortality burden.
Read More
S-11861
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zati Bayani; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Helda, Inggariwati
Abstrak:
Provinsi DKI Jakarta merupakan salah satu wilayah yang endemis terhadap leptospirosis, namun penelitian terkait leptospirosis di Jakarta masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran distribusi dan tren kasus leptospirosis berdasarkan usia, jenis kelamin, wilayah kota dan kecamatan selama periode 2020-2025 di wilayah DKI Jakarta dengan desain studi epidemiologi deskriptif berupa case series. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dianalisis secara univariat dengan menampilkan grafik dan peta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus leptospirosis sebanyak 388 kasus selama periode 6 tahun. Angka tertinggi terjadi pada tahun 2020, menurun pada tahun 2021-2022, dan mulai meningkat kembali pada 2023-2025. Kelompok usia 20-44 tahun menjadi penyumbang kasus terbanyak (46,65%) dan laki-laki menjadi jenis kelamin yang memiliki proporsi kasus terbesar (76,42%). Wilayah Jakarta Barat menjadi wilayah dengan angka kasus tertinggi (42,89%) secara keseluruhan maupun per tahun. Pemetaan menunjukkan bahwa kasus leptospirosis banyak terjadi di wilayah barat laut DKI Jakarta, meliputi kecamatan seperti Palmerah, Kebon Jeruk, Cengkareng, Tanah Abang, dan Pasar Minggu. Perlunya peningkatan edukasi dan intervensi yang berfokus pada wilayah dengan proporsi kasus tertinggi, kelompok usia produktif, dan laki-laki sebagai sasaran utama untuk pencegahan terjadinya penularan dan infeksi leptospirosis.

DKI Jakarta Province is an area endemic to leptospirosis, however research related to leptospirosis in Jakarta is still very limited. This study aims to provide an overview of the distribution and trends of leptospirosis cases based on age, sex, city area and sub-district during the 2020-2025 period in the DKI Jakarta area using a descriptive epidemiological study design in the form of a case series. This research uses secondary data from the DKI Jakarta Provincial Health Agency analyzed univariately by displaying graphs and maps. The research results show that there were 388 cases of leptospirosis over a 6 year period. The highest number of leptospirosis cases occurred in 2020, decreased in 2021-2022, and began to increase again in 2023-2025. The 20-44 year age group contributed the most cases (46.65%) and men were the gender with the largest proportion of cases (76.42%). The West Jakarta region has the highest number of cases (42,89%) overall and per year. Mapping shows that leptospirosis cases often occur in the northwest region of DKI Jakarta, including sub-districts such as Palmerah, Kebon Jeruk, Cengkareng, Tanah Abang, and Pasar Minggu. Increased education and interventions are needed, focusing on areas with the highest proportion of cases, the productive age group, and men as the primary targets for preventing leptospirosis transmission and infection.
Read More
S-12436
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sabila Nur Lailiah; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Trisari Anggondowati, Retno Henderiawati
Abstrak:
Penelitian terkait premature mortality yaitu kematian usia 30-70 tahun akibat PTM di Indonesia masih terbatas. Penelitian bertujuan menganalisis tren premature mortality akibat 4NCD, meliputi kardiovaskular (CVD), kanker, diabetes, dan respirasi kronis (CRD) di DKI Jakarta tahun 2020-2024 menggunakan desain potong lintang berdasarkan data sekunder Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Analisis univariat mengkaji tren premature mortality 4NCD berdasarkan distribusi umur, jenis kelamin, wilayah domisili, dan laporan fasilitas kesehatan. Hasil penelitian menyatakan premature mortality 4NCD diakibatkan CVD (78%), diabetes (17%), kanker (14%), dan CRD (9%). Kematian CVD disebabkan blok penyakit jantung lain (47,4%) dan serebrovaskular (19,4%). Kanker ganas primer di lokasi spesifik (88,7%), DM tipe 2 (77%). Kematian CRD didominasi blok penyakit lain pada sistem pernapasan (34%) dan penyakit pernapasan bawah kronis (27,8%). Premature mortality tertinggi terjadi di usia dewasa paruh baya (49%), lansia muda (46%), dan dewasa muda (5%). Kematian laki-laki (58%) lebih tinggi daripada perempuan (42%). Domisili angka kematian tertinggi terjadi di Jakarta Timur (30%), Jakarta Selatan (19%), Jakarta Utara (17%), dengan sumber laporan tertinggi puskesmas (56%). Kasus kematian tidak spesifik menggambarkan tantangan proses surveilans yang akurat. Penelitian ini menitikberatkan vitalitas kualitas data sebagai penunjang intervensi dan kebijakan yang efektif dan tepat sasaran dalam mengurangi morbiditas dan mortalitas PTM.


Research related to premature mortality, deaths aged 30-70 years due to NCDs in Indonesia, is still limited. This study aims to analyze the trend of premature mortality due to 4NCD, including CVD, cancer, diabetes, and CRD in DKI Jakarta in 2020-2024 using a cross-sectional design based on secondary data from DKI Jakarta Health Department. Univariate analysis examined 4NCD premature mortality trends based on age distribution, gender, domicile area, and health facility reports. The results showed 4NCD premature mortality was caused by CVD (78%), diabetes (17%), cancer (14%), and CRD (9%). CVD mortality due to other heart disease (47.4%) and cerebrovascular (19.4%). Site-specific primary malignant cancer (88.7%), type 2 DM (77%). CRD mortality by other respiratory system disease block (34%) and chronic lower respiratory disease (27.8%). Premature mortality was highest in middle-aged adults (49%), young elderly (46%), young adults (5%). Male mortality (58%) was higher than female mortality (42%). Domicile of death was highest in East Jakarta (30%), South Jakarta (19%), North Jakarta (17%), the highest source of report being puskesmas (56%). Unspecified death cases illustrate the challenges of accurate surveillance processes. This study emphasizes the vitality of data quality to support effective and targeted interventions and policies in reducing morbidity.
Read More
S-12141
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aziza Auilia Irfa; Pembimbing: Nurhayati A. Prihartono; Penguji: Yovsyah, Woro Riyadina
S-6785
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fadia Isnaini; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Dewi Kristanti
Abstrak:
Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan masalah kesehatan yang cukup serius sebab kasusnya terus meningkat dari tahun ke tahun. PGK berada pada peringkat ke-10 penyebab kematian global. Selain itu, pengobatan PGK juga membutuhkan biaya yang besar dan jangka waktu yang panjang. Diabetes mellitus yang merupakan faktor risiko utama terjadinya PGK juga mengalami peningkatan prevalensi dari tahun ke tahun di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara diabetes mellitus dengan kejadian penyakit ginjal kronis pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Provinsi DKI Jakarta tahun 2018. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross-sectional dan data sekunder dari Riskesdas 2018. Setelah menyesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi didapatkan sampel penelitian sebanyak 7.427 orang. Hasil penelitian menunjukan bahwa prevalensi PGK pada penduduk berusia ≥ 15 tahun di Provinsi DKI Jakarta sebesar 0,5% dan prevalensi diabetes mellitus sebesar 5,7%. Hasil analisis statistik menunjukan terdapat hubungan antara diabetes mellitus dengan PGK dengan Prevalence Odds Ratio (POR) sebesar 3,549 (95% CI=1,461-8,617). Setelah dilakukan stratifikasi diketahui bahwa usia berpotensi menjadi confounding dengan nilai POR sebesar 2,69 (95% CI=1,04-6,93). Oleh karena itu, promosi kesehatan dan deteksi dini diabetes mellitus perlu digencarkan sebagai upaya pencegahan PGK.

Chronic kidney disease (CKD) is serious health problem because the prevalence continues to increase from year to year. Based on WHO data in 2019, CKD was the 10th most common cause of death globally. In addition, CKD treatment also requires a lot of money and a long period of time. Diabetes mellitus as a major risk of CKD also experienced an increase in prevalence from year to year in DKI Jakarta Province. This study aimed to determine the association between diabetes mellitus and chronic kidney disease in population aged ≥15 years in DKI Jakarta Province in 2018. This study used quantitative method with a cross-sectional study design and secondary data obtained from Basic Health Research (Riskesdas) 2018). After adjusting the inclusion and exclusion criteria, a sample of 7,427 people was obtained. The result showed that the prevalence of CKD in population aged ≥15 years in DKI Jakarta Province was 0,5% and the prevalence of diabetes mellitus was 5,7%. Based on the statistical analysis showed that there was a relationship between diabetes mellitus and CKD with Prevalence Odds Ratio (POR) of 3,549 (95% CI=1,461-8,617). After stratification, it was found that age had the potential to be confounding with a POR value of 2.69 (95% CI=1.04-6.93). Therefore, health promotion and early detection of diabetes mellitus need to be intensified as an effort to prevent CKD.
Read More
S-11230
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sandrina Hagja Salsabila; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Trisari Anggondowati, Nining Mularsih
Abstrak:
Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan secara global. Kejadian maupun risiko komplikasi stroke dapat dicegah melalui pengendalian faktor risiko dan komorbid. Meskipun skrining penyakit tidak menular (PTM) memegang peran krusial dalam pencegahan primer maupun tersier, evaluasi program ini di Indonesia dan Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta umumnya masih terbatas pada lingkup fasilitas kesehatan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan aspek fisiologis (hipertensi dan hiperglikemia) dan stroke berdasarkan aspek epidemiologi (waktu, tempat, dan orang), serta menjelaskan korelasi antar faktor risiko dan komorbiditas pada populasi skrining PTM DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan data agregat sekunder dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tahun 2020-2024. Analisis dengan jenis kelamin serta wilayah kota administrasi meliputi analisis tren, pemetaan kota, dan uji korelasi Spearman Rank untuk data berdistribusi tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan tren pemulihan partisipasi masif pasca pandemi Covid-19 hingga mencapai lebih dari 7 juta partisipan pada tahun 2024. Terdapat kontribusi partisipasi skrining konsisten dengan dominasi perempuan (53–56%) serta konsentrasi terbesar di Jakarta Timur. Secara wilayah kota, ditemukan tren yang berbeda dengan Jakarta Selatan konsisten memiliki beban hipertensi tertinggi. Sementara itu, beban hiperglikemia menunjukkan tren kenaikan di Jakarta Selatan dan Timur, berbeda dengan penurunan di Jakarta Pusat dan Utara. Meskipun partisipasi laki-laki lebih rendah, kelompok ini menunjukkan kerentanan lebih tinggi dengan beban penyakit yang lebih besar. Hasil penelitian menemukan bahwa beban hipertensi memiliki hubungan korelasi yang kuat dengan proporsi temuan stroke pada seluruh populasi (r= 0,677; 95% CI= 0,354 – 0,845), berbeda dengan beban hiperglikemia yang tidak berkorelasi pada populasi umum maupun pada setiap jenis kelamin. Beban hipertensi konsisten pada kedua jenis kelamin dengan korelasi pada laki-laki (r= 0,718; 95% CI= 0,440 – 0,844) tercatat lebih kuat dibandingkan perempuan (r= 0,537; 95% CI= 0,182 – 0,772). Oleh karena itu, diperlukan strategi intervensi yang gender-responsive serta pendekatan berbasis wilayah untuk mengendalikan beban penyakit di wilayah dengan risiko tinggi.

Stroke is a leading cause of death and disability globally. Both the incidence and risk of stroke complications can be prevented through control of risk factors and comorbidities. Although non-communicable diseases (NCDs) screening plays a crucial role in primary and tertiary prevention, evaluation of this program in Indonesia and Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta is generally limited to healthcare facilities. Therefore, this study aims to describe the burden of risk (hypertension and hyperglycemia) and stroke based on epidemiological aspects (time, place, and person), and to demonstrate the correlation between risk factors and comorbidities in the NCDs screening population of DKI Jakarta. This study used an ecological study design with secondary aggregate data from the DKI Jakarta Provincial Health Office for 2020-2024. Analysis by gender and administrative city area included trend analysis, city mapping, and Spearman Rank correlation test for non-normally distributed data. The results showed a trend of massive participation recovery after the Covid-19 pandemic, reaching more than 7 million participants by 2024. There was a consistent contribution to screening participation, with a female predominance (53–56%) and the largest concentration in East Jakarta. By city region, the burden shows a different pattern, with South Jakarta consistently having the highest hypertension burden. Meanwhile, the burden of hyperglycemia shows an increasing trend in South and East Jakarta, in contrast to a decrease in Central and North Jakarta. Despite lower male participation, this group demonstrates higher vulnerability with a greater burden of disease findings. The study found that the burden of hypertension was strongly correlated with stroke findings proportion in the population (r= 0,677; 95% CI= 0,354 – 0,845), in contrast to the burden of hyperglycemia findings, which did not correlate in the general population or in either sex. The pattern of hypertension findings was consistent across both sexes, with a stronger correlation in men (r= 0,718; 95% CI= 0,440 – 0,844) than in women (r= 0,537; 95% CI= 0,182 – 0,772). Therefore, gender-responsive intervention strategies and area-based approaches are needed to control the disease burden in high-risk areas.
Read More
S-12211
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive