Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31222 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sabrina Putri Fatonah; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Erik Riya Firmanto
Abstrak:
Distres kerja merupakan kondisi ketegangan psikologis yang timbul akibat ketidaksesuaian antara tuntutan pekerjaan dengan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki pekerja, yang apabila berlangsung kronis dapat berdampak pada kesehatan, kinerja, dan kesejahteraan psikologis. Meskipun isu distres kerja telah lama menjadi perhatian dalam kesehatan kerja, sektor perkantoran relatif kurang mendapat sorotan dibandingkan sektor dengan risiko fisik tinggi, padahal beban administratif, target kinerja, dan koordinasi lintas fungsi yang intensif berpotensi meningkatkan risiko psikososial pada pekerja kantor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan distres kerja pada pekerja kantor PT XYZ tahun 2026, meliputi faktor work arena (beban kerja, ketidakjelasan peran, konflik peran, ketidakamanan kerja, kontrol pekerjaan), home arena (home-work interface, status pernikahan), social arena (hubungan interpersonal, dukungan sosial), dan individual arena (usia, jenis kelamin, masa kerja). Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif melalui kuesioner terhadap 119 pekerja kantor PT XYZ. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Chi-Square, serta regresi logistik sederhana untuk variabel dengan lebih dari dua kategori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 68 responden (57,1%) mengalami distres kerja kategori tinggi. Hasil uji statistik menemukan hubungan yang signifikan antara distres kerja dengan beban kerja tinggi (p=0,003; OR=3,16), ketidakjelasan peran tinggi (p=0,012; OR=2,67), konflik peran tinggi (p<0,001; OR=3,91), hubungan interpersonal buruk (p=0,000; OR=6,076), jenis kelamin perempuan (p=0,048; OR=2,12), dan masa kerja menengah (p=0,020; OR=4,80), sedangkan ketidakamanan kerja, kontrol pekerjaan, home-work interface, status pernikahan, dukungan sosial, dan usia tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p>0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa lebih dari separuh pekerja kantor PT XYZ mengalami distres kerja tinggi, dengan konflik peran dan hubungan interpersonal sebagai faktor yang berhubungan paling kuat. Perusahaan disarankan melakukan asesmen distres kerja secara berkala, evaluasi dan redistribusi beban kerja, penyusunan deskripsi tugas yang jelas, serta penguatan budaya kerja yang suportif untuk menurunkan risiko distres kerja pada pekerja kantor.

Work distress is a condition of psychological strain arising from an imbalance between job demands and the resources or capacities available to workers, which, if chronic, can negatively affect health, performance, and psychological well-being. Although work distress has long been a concern in occupational health, the office sector has received relatively less attention compared to sectors with high physical risk, even though administrative workload, performance targets, and intensive cross-functional coordination may increase psychosocial risk among office workers. This study aims to analyze the factors associated with work distress among office workers at PT XYZ in 2026, covering the work arena (workload, role ambiguity, role conflict, job insecurity, job control), home arena (home–work interface, marital status), social arena (interpersonal relationships, social support), and individual arena (age, gender, length of employment). This study used a cross-sectional design with a quantitative approach through questionnaires administered to 119 office workers at PT XYZ. Bivariate analysis was conducted using the Chi-Square test, along with simple logistic regression for variables with more than two categories. The statistical analysis found significant associations between work-related distress and high workload (p = 0.003; OR = 3.16), high role ambiguity (p = 0.012; OR = 2.67), high role conflict (p < 0.001; OR = 3.91), poor interpersonal relationships (p < 0.001; OR = 6.076), female gender (p = 0.048; OR = 2.12), and medium job tenure (p = 0.020; OR = 4.80). In contrast, job insecurity, job control, home–work interface, marital status, social support, and age were not significantly associated with work-related distress (p > 0.05). This study concludes that more than half of office workers at PT XYZ experience high levels of work distress, with role conflict and interpersonal relationships being the most strongly associated factors. The company is advised to conduct periodic work distress assessments, evaluate and redistribute workload, establish clear job descriptions, and strengthen a supportive work culture to reduce the risk of work distress among office workers.
Read More
S-12374
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zulkarnaen; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Auliah Rahmi, Hamas Musyaddad Abdul Aziz
Abstrak: Berdasarkan data tahun 2019-2022 tercatat 17 kecelakaan kerja dilaporkan di dalam PT. XYZ, dari 17 kecelakaan, 14 terjadi di bagian produksi. Tujuan umum penelitian adalah menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kecelakaan kerja pada pekerja bagian produksi di PT. XYZ. Desain penelitian yang digunakan yaitu cross sectional. Populasi dan sampel 152 pekerja menggunakan teknik sampling jenuh. Data yang digunakan yaitu data primer berasal dari kuesioner dan observasi serta data sekunder perusahaan. Analisis data menggunakan uji chi- square. Hasil penelitian 40,1% pekerja pernah mengalami kecelakaan kerja dengan jenis kecelakaan terbanyak adalah terjepit, sebagian besar pekerja memiliki umur dewasa, laki-laki, pendidikan menengah, masa kerja ≤ 5 Tahun, pola kerja shift, memiliki sikap positif, sering/sangat sering melakukan tindakan tidak aman, kelelahan rendah/menengah, kondisi fisik baik, pengawasan kurang baik, pelatihan baik, sosialisasi baik, sering/sangat sering mendapatkan APD tidak tepat, housekeeping kondusif dan sering/sangat sering bersinggungan dengan kondisi tidak aman. Kemudian ada hubungan antara pengetahuan, tindakan tidak aman, kondisi fisik, pelatihan dan kondisi tidak aman dengan kecelakaan kerja (p value < 0,05). Maka berdasarkan hasil penelitian diharapkan PT. XYZ selalu dapat melakukan perbaikan yang berkelanjutan dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja
Based on data for 2019-2022, 17 work accidents were reported at PT. XYZ, out of 17 accidents, 14 occurred in production. The general objective of this research is to analyze the factors related with work accidents in production workers at PT. XYZ. The research design used is cross sectional. The population and sample of 152 workers used saturated sampling technique. The data used are primary data derived from questionnaires and observations as well as secondary company data. Data analysis used the chi-square test. The results of the study 40.1% of workers had experienced work accidents with the most types of accidents being pinched, most workers were of mature age, male, secondary education, working period ≤ 5 years, shift work pattern, had a positive attitude, often/very often perform unsafe actions, low/medium fatigue, good physical condition, poor supervision, good training, good socialization, often/very often get inappropriate PPE, conducive housekeeping and often/very often intersect with unsafe conditions. Then there is a relationship between knowledge, unsafe actions, physical conditions, training and unsafe conditions with work accidents (p value <0.05). So based on the research results it is expected that PT. XYZ can always make continuous improvements in work accident prevention efforts.
Read More
T-6724
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tri Indra Adithia; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Erdy Techrisna Satyadi, Marina Kartikawati
Abstrak: Kondisi pekerjaan yang tidak nyaman dapat menimbulkan stres pada pekerja sehingga mempengaruhi kesejahteraan pekerja dan meningkatkan gejala kecemasan dan depresi. Stres yang dialami oleh pekerja dipengaruhi oleh hubungan beberapa faktor seperti faktor psikososial, faktor pekerjaan, lingkungan kerja dan individu pekerja. Gangguan kesehatan terkait dengan stres diantaranya adalah penyakit hipertensi, penyakit kardiovaskular, penyakit maag, musculoskeletal symptoms. PT. XYZ merupakan perusahaan yang bergerak di bidang logistik pangan. Tingginya intensitas pekerjaan di PT. XYZ yang melebihi batas kemampuan pekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya dapat menimbulkan stres kerja. Stres kerja seringkali tidak menjadi perhatian dari pihak manajemen perusahaan karena pencapaian yang utama adalah target yang diusahakan oleh pekerja untuk memenuhi target perusahaan, sehingga dapat mengakibatkan bahaya yang serius bagi keselamatan dan kesehatan pekerja. Dalam penelitian ini, peneliti berupaya mencari faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada pekerja di perusahaan logistik pangan. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data langsung melalui survey dengan menggunakan kuisioner. Kuesioner yang telah melewati uji validasi dan reliabiliti digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja yaitu faktor psikososial (organisasi dan budaya kerja, hubungan interpersonal, kepemimpinan, pengembangan karir dan manajemen), faktor pekerjaan (desain kerja, waktu istirahat, beban kerja, kontrol pekerjaan dan bidang pekerjaan), faktor fisik lingkungan kerja dan faktor individu (umur, jenis kelamin, status perkawinan, masa kerja dan gaya hidup). Hasil penelitian dengan analisis statistik multivariat regresi linier ganda faktor yang paling dominan menunjukkan bahwa stres kerja berdasarkan indikator emosi yaitu Organisasi dan Budaya Kerja (p value = 0,004 & B = 0,24), stres kerja berdasarkan indikator fisik yaitu Lingkungan Kerja (p value = 0,01 & B = 0,19) dan stres kerja berdasarkan indikator perilaku yaitu Gaya Hidup Tidak Sehat (p value = 0,00 & B = 0,27).
Read More
T-5697
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aisha Salwa Savitri; Pembimbing: Hendra; Penguji: Mila Tejamaya, Rizki Rahmawati
Abstrak:
Mata merupakan indera manusia yang paling dominan dalam beraktivitas. Sekitar 90% aktivitas dalam kehidupan sehari-hari dikendalikan oleh sistem penglihatan sehingga penglihatan yang terganggu akan berpengaruh terhadap berbagi domain fungsional. Kelelahan mata merupakan salah satu gangguan yang paling sering ditemui pada pekerja dan dapat terjadi di berbagai jenis pekerjaan, termasuk pada pekerja fabrikasi yang aktivitas pekerjaannya sangat mengandalkan mata serta membutuhkan konsentrasi visual yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan mata pada pekerja fabrikasi di PT XYZ tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional yang dilakukan pada 76 pekerja fabrikasi di PT XYZ. Variabel penelitian meliputi kelelahan mata, intensitas pencahayaan di tempat kerja, kelainan refraksi, usia, masa kerja, durasi kerja, jenis pekerjaan, dan penggunaan APD. Variabel intensitas pencahayaan diukur dengan lux meter, variabel kelelahan diukur dengan Visual Fatigue Questionnaire, dan variabel lain diukur dengan kuesioner yang dikembangkan oleh peneliti. Data yang dikumpulkan dianalisis secara univariat dan bivariat, yaitu dengan uji chi-square dan mann-whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 67,1% pekerja fabrikasi di PT XYZ mengalami kelelahan mata. Tiga gejala terbanyak yang pernah dialami adalah mata terasa lelah (65,8%), penglihatan kabur atau buram (56,6%), dan iritasi mata (47,4%). Hasil penelitian juga menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kelainan refraksi (p=0,006), usia (p=0,034), dan masa kerja (p=0,004) dengan kelelahan mata. Rata-rata skor kelelahan mata juga berbeda secara signifikan berdasarkan intensitas pencahayaan (p=0,049) dan durasi kerja (p=0,007). Oleh sebab itu, untuk meminimalisir risiko kelelahan mata, perlu dilakukan perbaikan yang mencakup faktor-faktor risiko tersebut.


The eyes are the most dominant human sensory organ in daily activities. Approximately, 90% of everyday tasks rely on the visual system; therefore, impaired vision can affect various functional domains. Eye fatigue is one of the most common visual complaints among workers and can occur in various types of jobs, including fabrication work, which heavily depends on visual concentration. This study aims to analyze the factors associated with eye fatigue among fabrication workers at PT XYZ in 2025. A quantitative research design with a cross-sectional approach was employed, involving 76 fabrication workers. The variables examined included eye fatigue, lighting intensity in the workplace, refractive errors, age, years of service, working hours, job type, and the use of personal protective equipment (PPE). Lighting intensity was measured using a lux meter, eye fatigue was assessed using the Visual Fatigue Questionnaire, and other variables were measured through a self-developed questionnaire. Data were analyzed using univariate and bivariate methods, specifically chi-square and Mann-Whitney tests. The results showed that 67.1% of workers experienced eye fatigue. The three most commonly reported symptoms were tired eyes (65.8%), blurred vision (56.6%), and eye irritation (47.4%). Significant associations were found between eye fatigue and refractive errors (p=0.006), age (p=0.034), and years of service (p=0.004). Significant differences in average eye fatigue scores were also observed based on lighting intensity (p=0.049) and working hours (p=0.007). Therefore, to minimize the risk of eye fatigue, improvements targeting these risk factors are necessary.
Read More
S-12101
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lena Tresnawati; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Robiana Modjo, Indri Hapsari Susilowati, Lutfi Muzaqi, M. Fadri Al Baihaqi
Abstrak: Latar Belakang: Distres merupakan bentuk negatif dari psikososial, dimana sumber distres dapat berasal dari faktor pekerjaan itu sendiri, faktor keluarga dan sosial, serta faktor individu. Beberapa kejadian mengindikasikan terjadinya distres pada mekanik di PT. X. Indikasi tersebut terlihat dari gejala fisiologis, psikologis, perilaku, dan kognitif yang timbul dari pekerja.
Tujuan: Menganalisis tingkat distres kerja dan faktor-faktor yang berhubungan terhadap tingkat distres pada mekanik di PT. X. Metode: Penelitian menggunakan desain studi cross sectional, dilakukan pada seluruh mekanik di PT. X sejumlah 37 pekerja, dan analisis data menggunakan uji chi square serta regresi logistik.
Hasil: Faktor yang berhubungan terhadap tingkat distres adalah budaya dan fungsi organisasi, hubungan interpersonal, tekanan kerja, work family conflict, desain tugas, jadwal dan jam kerja, intensitas olahraga, kecemasan, pengendalian emosi, serta kebiasaan merokok. Faktor pengendalian emosi paling berpengaruh terhadap distres dengan Exp(B) 0,34. Kesimpulan: Berbagai faktor memiliki hubungan terhadap tingkat distres pada mekanik di PT. X sehingga perlu dilakukan tindakan yang mampu menurunkan risiko distres seperti pengaturan lembur dan pemberian pelatihan
Background: Distress is a negative form of psychosocial. It can be caused by work factors, family and social factors, and individual factors. Several cases indicate the occurrence of mechanical distress at PT. X. The indications showed from the physiological, psychological, behavioral, and cognitive symptoms that arise from the workers.
Objective: To analyze the associated factors with distress level of mechanics at PT. X. Methods: Used a cross sectional design study, carried out on all mechanics at PT. X with number of 37 workers, data analysis using chi square test and logistic regression.
Results: Factors related to the distress level are organizational culture and function, interpersonal relationships, work pressure, work family conflict, task design, working hours and scheduler, exercise intensity, anxiety, emotional control, and smoking habits. Emotional control factor has the most associated on distress with Exp(B) 0.34. Conclusion: Various factors have a relationship with the distress level of mechanics at PT. X so it is necessary to take actions that can reduce the risk of distress such as overtime program and providing training
Read More
T-6323
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizki Iwari Saputra; Pembimbing: Hendra; Penguji: Dadan Erwandi, Robiana Modjo, Yuni Kusminanti, Muhamad Fertiaz
Abstrak:
Berdasarkan data BPJS Ketenagakerjaan tahun 2021 terdapat kasus 234.370 kasus, dengan kontribusi terbesar dari sektor manufaktur dan konstruksi sebesar 22,3%, Sebagian besar kecelakaan kerja dan perilaku yang tidak aman disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mengidentifikasi bahaya dan kesalahan persepsi terhadap penerapan K3. penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi terhadap penerapan K3 pada karyawan PT XYZ tahun 2024. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah desain cross-sectional. Studi ini melibatkan 143 karyawan yang diminta untuk mengisi kuisioner yang diberikan kepada mereka. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian karyawan mempunyai persepsi yang baik terhadap penerapan K3 yaitu sebesar 50,3%, sedangkan 49,7% responden mempunyai persepsi yang buruk terhadapa penerapan K3. Nilai p dari hasil uji korelasi antara faktor-faktor yang berhubungan dengan penerpan K3 antara lain masa kerja (0,507), Pendidikan (0,131), sikap K3(<0,001), Pengetahuan K3 (0,001), Pelatihan K3 (0,004), dan Ketersediaan sarana dan prasarana K3(0,04). Kesimpulan disimpulkan faktor yang berhubungan dengan persepsi terhadap penerpan K3 pada karyawan di PT XXY adalah sikap K3, pengtahuan K3, pelatihan K3, ketersedian sarana dan prasarana sehingga perusahaan perlu meningkatkan pemahaman dan pelatihan kepada karyawan dengan program-program K3 yang lebih efektif

Based on BPJS Employment data in 2021, there were 234,370 cases, with the largest contribution from the manufacturing and construction sector at 22.3%, Most work accidents and unsafe behavior are caused by the inability to identify hazards and misperceptions of OHS implementation. This research aims to identify factors related to perceptions of OHS implementation among PT XYZ employees in 2024. The method used in this research is a cross-sectional design. This research involved 143 employees who were asked to fill out a questionnaire given to them. Data analysis was carried out using the Chi-square test. The research results show that some employees have a good perception of the implementation of K3, namely 50.3%, while 49.7 respondents had a Badperception of the implementation of OHS. The p-value from the correlation test results between factors related to the implementation of OHS includes work experience (0.507), education (0.131), OHS attitude (<0.001), OHS knowledge (0.001), OHS training (0.004), and availability of facilities. and OHS infrastructure (0.04). In conclusion, the factors related to the perception of OHS implementation among PT XXY employees are OHS attitudes, OHS knowledge, OHS training, availability of facilities and infrastructure so that the company needs to increase employee understanding and training more effectively OHS programs.
 
Read More
T-7143
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wardani Adi saputra; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Fetrina Lestari
T-7715
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adhelina Zulfiana; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Aulia Rahmi
Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan fatigue pada pekerja wanita di PT. X. Penelitian ini dilakukan pada bulan juni-juli 2021 dengan melibatkan 5 orang pekerja dari PT. X yaitu 2 orang pekerja di bagian manajemen dan 3 orang pekerja di bagian produksi. Desain penelitian yang digunakan adalah desain studi deskriptif kualitatif dengan pengambilan data berupa data primer yang dilakukan dengan wawancara mendalam dan data sekunder dari PT.X. Faktor risiko fatigu yang diteliti terdiri dari faktor risiko terkait kerja dan faktor risiko tidak terkait kerja.
Read More
S-10680
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diva Revyanda; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Nur Anis Laila
Abstrak: Distres kerja adalah respons negatif fisik dan emosional terhadap ketidaksesuaian antara tuntutan pekerjaan, sumber daya, dan kemampuan pekerja yang dapat menimbulkan dampak terhadap kondisi fisiologis dan psikologis pekerja. Guru SLB Negeri merupakan salah satu profesi yang rentan mengalami distres kerja karena pekerjaannya yang berbeda dengan guru sekolah formal pada umumnya serta memiliki tuntutan peran dan tekanan pekerjaan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian distres kerja dan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan distres kerja pada guru SLB Negeri di wilayah Kota Jakarta Selatan. Penelitian ini dilakukan kepada guru dari empat SLB Negeri di Kota Jakarta Selatan. Besar sampel yang digunakan adalah total sampling, yaitu 199 orang. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner yang diadaptasi dari NIOSH Generic Job Stress Questionnaire. Dari besar sampel sebanyak 199 orang, hanya 186 orang yang bersedia menjadi responden sehingga didapatkan hasil bahwa sebanyak 84 orang (45,2%) mengalami distres kerja dan 102 orang (54,8%) tidak mengalami distres kerja. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berhubungan secara statistik melalui uji chi-square adalah usia (nilai P = 0,034), status pernikahan (nilai P = 0,022), dan ambiguitas peran (nilai P = 0,015).
Work distress is a physical and emotional negative response to the discrepancy between job demands, resource and abilities of workers, which can has many impact on physiological and psychological conditions of workers. Public special education teacher is one of the professions that are prone to work distress because their jobs are different from other formal schoolteachers and have high job demands and pressures. This study aims to describe the conditions of work distress and analyze the factors related to work distress for public special education teachers in Jakarta Selatan. This study conducted on teachers from four public special educations in Jakarta Selatan so that the sample size used was total sampling, which was 199 respondents. The study method used is quantitative with cross-sectional design study and uses instrument adapted from NIOSH Generic Job Stress Questionnaire. From 199 respondents, only 186 respondents were willing to filled the questionnaire so the results showed that 84 respondents (45,2%) experienced work distress and 102 respondents (54,8%) did not experience work distress. The factors related to work distress through Chi-Square test were age (P value = 0,034), marital status (P value = 0,022) and role ambiguity (P value = 0,015).
Read More
S-10980
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Resty Wulandari; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Dadan Erwandi, Indri Hapsari Susilowati, Bimo Prasetyo, Roy Nababan
Abstrak:
Distres kerja menjadi masalah kesehatan yang cukup serius di industri konstruksi. Distres kerja dikaitkan dengan perasaan emosional dan mental, tapi juga dapat berdampak buruk pada kesehatan secara fisik, menurunkan motivasi, produktivitas, dan kepuasan kerja. Ada berbagai faktor yang mempengaruhi timbulnya distres kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko distres kerja pada pekerja konstruksi proyek XYZ, baik faktor individu, faktor psikososial, dan faktor dukungan sosial. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Penelitian dilakukan pada pekerja konstruksi XYZ pada bulan Maret-Mei 2023. Jumlah sampel penelitian adalah 127 responden yang diambil dengan teknik non random sampling. Kuesioner yang digunakan adalah Short Version – New Brief Job Stress Questionnaire (SV-NBJSQ) dan 3 pertanyaan tambahan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji statistik chi-square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan faktor risiko yang berhubungan dengan distres kerja adalah faktor psikososial job control, kompatibilitas dengan pekerjaan, interaksi dengan atasan, interaksi dengan organisasi, dan faktor dukungan sosial. Hasil analisis menunjukkan variabel yang dominan berhubungan dengan distres kerja adalah job control dan dukungan sosial. Dari kedua variabel tersebut, dukungan sosial adalah variabel yang paling dominan berhubungan dengan distres kerja (AOR=4,062)



Job distress is a serious health problem in the construction industry. Job distress is associated with emotional and mental feelings, but it can also have a negative impact on physical health, reducing motivation, productivity and job satisfaction. There are various factors that influence the emergence of job distress. This study aims to analyze the risk factors of job distress on XYZ construction workers, including individual factors, psychosocial factors, and social support factors. This research used a cross sectional design. The research was conducted on XYZ construction workers in March-May 2023. The number of samples in this study were 127 respondents who were taken using a non-random sampling technique. The questionnaire used is the Short Version – New Brief Job Stress Questionnaire (SV-NBJSQ) and 3 additional questions. Data analysis was performed using the chi-square and logistic regression statistical test. The results showed that the risk factors associated with job distress were psychosocial factors, job control, job compatibility, interactions with superiors, interactions with organizations, and social support factors. The results of the analysis show that the dominant variable related to job distress are job control and social support. Among these two variables, social support is the most dominant variable related to job distress (AOR=4,062)
Read More
T-6720
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive