Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 42468 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Manuella Pramunditya Widyandari; Pembimbing: Wahyu Septiono; Penguji: Dien Anshari, Suci Puspita Ratih
Abstrak:
Latar Belakang: Perilaku merokok memicu beban kesehatan global masif dan kerugian ekonomi makro akibat penyakit katastropik. Setiap negara memiliki kebijakan pengendalian rokok dengan performa berbeda, termasuk Indonesia dan Filipina. Penelitian ini membandingkan hubungan paparan kebijakan pengendalian rokok pada perokok dewasa usia ≥25 tahun dengan upaya berhenti merokok di kedua negara menggunakan data sebanding. Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif menggunakan data sekunder Data Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia dan Filipina 2021. Sampel akhir mencakup 2.451 responden (Indonesia) dan 2.989 responden (Filipina) berusia ≥25 tahun. Variabel dependen adalah upaya berhenti merokok, sedangkan variabel independen utama adalah paparan tobacco advertising, promotion, and sponsorship (TAPS) dan kawasan tanpa rokok (KTR) yang diukur dengan Tobacco Control Scale (TCS). Analisis menggunakan regresi logistik biner 4 model. Hasil: Pada model akhir, paparan TAPS tinggi di Indonesia berhubungan signifikan dengan upaya berhenti merokok (AOR=1,27; 95% CI: 1,02-1,58) sedangkan paparan KTR tidak berhubungan signifikan (AOR=0,93; 95% CI: 0,78-1,12). Sementara di Filipina, paparan TAPS dan KTR tidak berhubungan signifikan dengan upaya berhenti merokok (AOR=1,17; 95% CI: 0,99-1,40 dan AOR=1,11; 95% CI: 0,93-1,32). Di kedua negara, anjuran tenaga kesehatan dan aturan larangan merokok di rumah signifikan meningkatkan peluang upaya berhenti merokok. Di Indonesia, jenis kelamin perempuan, pengetahuan bahaya merokok yang baik, dan daerah tempat tinggal di perkotaan juga menjadi prediktor signifikan. Kesimpulan: Paparan TAPS berhubungan dengan upaya berhenti merokok di Indonesia, sedangkan paparan KTR di Indonesia serta paparan TAPS dan KTR di Filipina tidak berhubungan signifikan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa implementasi kebijakan pengendalian rokok di Indonesia belum optimal dibandingkan Filipina. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kebijakan pengendalian tembakau dengan memperketat pelarangan total TAPS, memperkuat penegakan hukum KTR, mengoptimalkan peran tenaga kesehatan dan keluarga, serta meningkatkan promosi kesehatan untuk mendukung upaya berhenti merokok.

Background: Smoking behavior triggers a massive global health burden and macroeconomic losses due to catastrophic diseases. Every country has tobacco control policies with varying performances, including Indonesia and Philippines. This study compares the relationship between tobacco control policy exposure among adult smokers aged ≥25 years and smoking cessation attempts in both countries using comparable data. Methods: This quantitative study used secondary data from the 2021 Global Adult Tobacco Survey (GATS) of Indonesia and Philippines. The final sample included 2,451 respondents from Indonesia and 2,989 respondents from Philippines aged ≥25 years. The dependent variable was smoking cessation attempts, while the independent variables were exposure to tobacco advertising, promotion, and sponsorship (TAPS) and smoke-free areas (SFA), measured using the Tobacco Control Scale (TCS). Data were analyzed using a 4-model binary logistic regression. Results: In the final model, high TAPS exposure in Indonesia was significantly associated with smoking cessation attempts (AOR=1.27; 95% CI: 1.02-1.58), whereas SFL exposure showed no significant association (AOR=0.93; 95% CI: 0.78-1.12). Meanwhile, in the Philippines, neither TAPS nor SFL exposure was significantly associated with smoking cessation attempts (AOR=1.17; 95% CI: 0.99-1.40 and AOR=1.11; 95% CI: 0.93-1.32). In both countries, advice from healthcare professionals and smoke-free home rules significantly increased the odds of smoking cessation attempts. In Indonesia, female gender, good knowledge of smoking hazards, and urban residence were also significant predictors. Conclusion: TAPS exposure is associated with smoking cessation attempts in Indonesia, whereas SFA exposure in Indonesia as well as both TAPS and SFL exposures in the Philippines show no significant association. The findings also indicate that the implementation of tobacco control policies in Indonesia remains suboptimal compared to the Philippines. The Indonesian government is advised to strict total bans on TAPS, enforce SFA laws, optimize the roles of healthcare professionals and families, and enhance health promotion.
Read More
S-12385
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Raysa Arma Mutiarani; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Popy Yuniar, Rio Jayusman
Abstrak:

Latar Belakang: Penggunaan rokok elektrik meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir dan sering diklaim sebagai alternatif lebih aman dari rokok konvensional, bahkan sebagai alat bantu berhenti merokok. Namun, klaim ini belum terbukti secara konsisten, terutama pada kelompok perokok konvensional harian usia produktif di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara penggunaan rokok elektrik dengan keberhasilan berhenti merokok pada perokok konvensional harian usia 20–44 tahun di Indonesia.
Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain cross-sectional menggunakan data sekunder dari Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia 2021. Analisis dilakukan pada responden berusia 20–44 tahun yang merupakan perokok konvensional harian dan pernah mencoba berhenti merokok. Variabel dependen adalah keberhasilan berhenti merokok, sedangkan variabel independen adalah penggunaan rokok elektrik. Analisis multivariabel dilakukan dengan regresi logistik berganda.
Hasil: Setelah dikontrol oleh variabel confounder (jenis kelamin, status ekonomi, status merokok keluarga dan teman, serta larangan merokok di rumah), penggunaan rokok elektrik harian berhubungan positif dan signifikan dengan keberhasilan berhenti merokok (AOR = 10,37; 95% CI = 2,14-50,33; p < 0,004), sedangkan penggunaan kadang-kadang tidak signifikan, meskipun arah hubungannya positif (AOR = 1,71; 95% CI = 0,45–6,46; p = 0,427).
Kesimpulan: Penggunaan rokok elektrik secara harian dapat menjadi alat bantu yang mendukung keberhasilan berhenti merokok jika digunakan secara konsisten. Namun, peran lingkungan dan sosial juga tetap menjadi faktor penting yang mendorong keberhasilan berhenti merokok. Penemuan ini dapat menjadi dasar dalam merancang kebijakan pengendalian tembakau dan strategi berhenti merokok berbasis bukti di Indonesia.


Background: The use of electronic cigarettes has increased significantly over the past decade and is often perceived as a safer alternative to conventional cigarettes, even as a smoking cessation aid. However, its effectiveness in Indonesia remains inconsistent, particularly among daily conventional smokers in the productive age group. This study aims to identify the association between e-cigarette use and successful smoking cessation among daily conventional smokers aged 20–44 years in Indonesia. Methods: This quantitative study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2021 Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia. The analysis focused on respondents aged 20–44 years who were daily conventional smokers and had attempted to quit smoking. The dependent variable was successful smoking cessation, while the independent variable was e-cigarette use. Multivariable analysis was conducted using multiple logistic regression. Results: After controlling for confounding variables (gender, economic status, household and peer smoking status, and household smoking restrictions), daily e-cigarette use was positively and significantly associated with successful smoking cessation (AOR = 10.37; 95% CI = 2.14–50.33; p < 0.004), whereas occasional use was not statistically significant, although the direction of the association was positive (AOR = 1.71; 95% CI = 0.45–6.46; p = 0.427). Conclusion: Daily e-cigarette use may serve as a supportive tool for successful smoking cessation if used consistently. However, environmental and social factors also remain critical contributors to cessation success. These findings can serve as a foundation for developing evidence-based tobacco control policies and smoking cessation strategies in Indonesia.

Read More
S-11973
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vebby Amellia Edwin; Pembimbing: Besral; Penguji: Sudijanto Kamso, Martya Rahmawati, Enny Ekasari, Andi Sari Bunga Untung
Abstrak: Prevalensi perokok secara global mengalami penurunan dari 23% (2007) menjadi21% (2013). Sedangkan di Indonesia, prevalensi merokok di Indonesia mengalamipeningkatan yaitu 27% (1995), 34,2% (2007), 34,7% (2010), dan 36,3% (2013).Persentase mantan merokok di Indonesia mengalami penurunan dari 5,4% (2010)menjadi 4% (2013). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan eksternaldengan faktor berhenti merokok di Indonesia tahun 2011. Desain penelitian yangdigunakan adalah cross sectional dengan menggunakan data sekunder Global AdultTobacco Survey (GATS) Indonesia 2011. Uji statistik yang digunakan adalah regresilogistik ganda. Proporsi perokok yang berhenti merokok di Indonesia sebesar 15,7persen. Faktor eksternal yang berperan dalam perilaku berhenti merokok yaituterdapat larangan merokok di rumah, terdapat larangan merokok di tempat kerja,ketidakterpaparan iklan rokok (televisi, koran/majalah, dinding publik, spanduk),keterpaparan media tentang bahaya merokok (koran/majalah), dan pernahmengunjungi kawasan tanpa rokok. Disarankan pemerintah pusat dan daerah untukmenerapkan larangan merokok di tempat kerja dan kawasan tanpa rokok dengantidak menyediakan ruangan khusus merokok dan menyebarluaskan nomor pengaduanyang dapat dihubungi oleh masyarakat jika menemukan pelanggaran kawasan tanparokok, meningkatkan upaya pelaksanaan pembatasan iklan rokok di televisi,koran/majalah, dinding publik, dan spanduk, dan penyebarluasan media bahayamerokok menggunakan media kora/majalah, serta mengalihfugnsikan media yangdigunakan sebagai iklan rokok sebagai media bahaya merokok seperti menggunaknadinding publik sebagai media bahaya merokok.. Bagi orang tua dan masyarakat,menerapkan rumah bebas asap rokok dan menyuruh dan memberikan dukunganuntuk anggota keluarga yang merokok untuk berhenti merokokKata Kunciberhenti merokok, faktor eksternal, GATS
The prevalence of smokers globally decreased from 23% (2007) to 21% (2013).While in Indonesia, the prevalence of smoking in Indonesia had risen to 27% (1995),34.2% (2007), 34.7% (2010), and 36.3% (2013). The percentage of former smokingin Indonesia had decreased from 5.4% (2010) to 4% (2013). This study aims todetermine the relationship of external factors on smoking cessation in Indonesia in2011. The study design that used is cross sectional using secondary data Global AdultTobacco Survey (GATS) Indonesia 2011. The statistical test that used was a multiplelogistic regression. The proportion of smokers who quit smoking in Indonesia isabout 15.7 percent. External factors which play a role in smoking cessation behaviorare a ban on smoking in the home, a ban on smoking in the workplaces, healthwarning of cigarette packages, exposure of cigarette advertising (television,newspaper/magazine, public walls, banner), exposure of smoking media(newspaper/magazine), and ever visited the no smoking area. the researchers suggestthat central and local governments to implement the ban on smoking in the workplaceand the region without cigarettes by not providing special room for smoking anddisseminate a contact to complaint which can be reached by the public when findinga violation of the region without cigarettes, increasing efforts to implementrestrictions on cigarette advertising on television, newspapers / magazines, the wallsof the public, and banners, and dissemination of media dangers of tobacco by usingnewspaper / magazines, as well as re-functioning the media used from cigaretteadvertising to a medium of showing the dangers of smoking by using walls of thepublic. To parents and society, applying homes smoke-free by forbidding smoker tosmoke at home (both family members and guests), banned smoking in publicmeetings, stickers home smoke-free at the front door of every house, and bannedsmoking in front of children and pregnant women (though outside the house) andprovide support for family members who smoke to quit smoking.Key Wordsexternal factor, GATS, stop smoking,
Read More
T-4590
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Huriah Astuti; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Besral, Endang Mulyani, Prijo Sidipratomo
Abstrak: Abstrak

Tujuan dan Metode. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan frekuensi merokok dengan lama waktu sampai mulai menyalahgunakan ganja. Sampel penelitian ini adalah 10.379 pelajar/mahasiswa perokok, dengan 708 penyalahguna ganja. Metode analisis yang digunakan adalah analisis kesintasan regresi Cox with time dependent covariats.

Hasil Penelitian. Berdasarkan frekuensi merokok, median waktu ketahanan dari mulai pertama kali merokok sampai menyalahgunakan ganja menunjukkan tidak ada perbedaan antara kelompok merokok rutin dengan kelompok merokok tidak rutin, masing-masing 2 tahun. Hasil uji wilcoxon menyimpulkan ada perbedaan ketahanan menyalahgunakan ganja antara kelompok jarang merokok dengan kelompok perokok berfrekuensi <5 - >35 batang/minggu. Analisis multivariat menunjukkan pola semakin banyak jumlah batang rokok yang dikonsumsi, semakin besar nilai risiko untuk menyalahgunakan ganja setelah dikontrol oleh variabel confounder (riwayat minum alkohol, keluarga terpajan alkohol dan atau narkoba, pernah terpisah orangtua minimal enam bulan, dan pengaruh teman sebaya). Risiko untuk terjadinya penyalahgunaan ganja pada pelajar/mahasiswa yang merokok dengan frekuensi <5 - 7 batang/minggu adalah 2.5 lebih besar daripada pelajar/mahasiswa yang jarang merokok. Sedangkan risiko untuk terjadinya penyalahgunaan ganja pada pelajar/mahasiswa yang merokok dengan frekuensi >7 - 35 batang/minggu adalah 4.0 kali lebih cepat daripada pelajar/mahasiswa yang jarang merokok. Sementara, risiko untuk terjadinya penyalahgunaan ganja pada pelajar/mahasiswa yang merokok dengan frekuensi >35 batang/minggu adalah 4.5 kali lebih cepat daripada pelajar/mahasiswa yang jarang merokok.

Kesimpulan. Frekuensi merokok mempengaruhi besarnya risiko untuk menyalahgunakan ganja. Semakin banyak jumlah batang rokok yang dikonsumsi, semakin besar risiko untuk menyalahgunakan ganja.


Objective. The purpose of this study was to know the relationship between cigarette smoking frequency with long time to start cannabis use. A sample of 10.379 student smokers, with 708 cannabis users was used. Cox regression with time dependent covariats was analyzed as study method.

Results. Based on the frequency of cigarette smoking, the median of survival time from initial smoking to cannabis use showed no difference among regular smoking group with non regular smoking group, each 2 years. Wilcoxon test result concluded that there were difference of survival cannabis use between non regular smoking group with smokers groups which regular cigarette smoking <5 - >35 cigarette/week. Multivariate analysis showed patterns that the more the number of cigarettes consumed, the greater risk to cannabis use, after controlled by the confounder variables (history of alcohol drinking, family exposed to alcohol and or drugs, separated parents at least six months, and the influence of peers). Risk to cannabis use among students who cigarette smokers <5 ? 7 cigarette/week was 2.5 greater than students who non regular smoking. Risk to cannabis use among students who cigarette smokers <7 ? 35 cigarette/week was 4.0 greater than students who non regular smoking. Risk to cannabis use among students who cigarette smokers <35 cigarette/week was 4.5 greater than students who non regular smoking.

Conclusion. Frequency of smoking influences the risk of cannabis use. The more the number of cigarette consumed, the greater risk to cannabis use.

Read More
T-3937
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Uweisha Eraz Puteri; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Artha Prabawa, Leny Latifah
Abstrak: Bunuh diri termasuk penyebab kematian ketiga pada remaja usia 10 hingga 19 tahun. Pada tahun 2016, angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia diestimasikan sebesar 3,4 per 100.000 penduduk. Kematian akibat bunuh diri adalah sebuah fenomena gunung es, dimana besarnya masalah akan terlihat lebih jelas jika perilaku bunuh diri dimasukkan dalam perhitungan. Salah satu faktor utama perilaku bunuh diri remaja usia sekolah adalah bullying. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara bullying dengan perilaku bunuh diri ada pelajar SMP dan SMA di Indonesia setelah dikontrol oleh variabel confounding. Desain studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional dengan pendekatan kuantitatif menggunakan data sekunder Global School Based Health Survey Indonesia 2015. Sampel penelitian ini adalah pelajar SMP dan SMA yang berusia 12-17 tahun (n = 8733). Analisis yang digunakan adalah analiss univariat, bivariat dan multivariabel dengan level kepercayaan 95%. Hasil analisis multivariabel dengan regresi logistik berganda, menunjukkan rasio odds terjadinya perilaku bunuh diri pada pelajar SMP dan SMA di Indonesia yang pernah mengalami bullying dibandingkan dengan pelajar yang tidak pernah mengalami bullying adalah 2,27 (95% CI: 1,92-3,53). Selain itu, hasil analisis multivariabel juga mununjukan adanya variabel interaksi (variabel moderator/effect modifier) yaitu perilaku berkelahi dan kekerasan seksual. Strategi pencegahan bullying dan perilaku bunuh diri berbasis sekolah sangat diperlukan untuk mengurangi risiko perilaku bunuh diri pada pelajar. Kata kunci: Bunuh diri, Perilaku Bunuh Diri, Bullying Suicide is the third leading cause of death in adolescents aged 10 to 19 years old. In 2016, the death rate due to suicide in Indonesia was estimated at 3.4 per 100,000 population. Complete suicide is an iceberg phenomenon, where the problem will be seen more clearly if suicidal behavior was involved. One of the main factors that could intensify suicidal behavior risk among high school students is bullying. This study examined the association between bullying and suicide among high school student in Indonesia after adjusting for confounder variables. It was a secondary analysis of Global School Based Health Survey Indonesia 2015 which used cross sectional study design. Univariate, bivariate, and multivariable analyses were performed at 95% confidence level. Multivariable regression logistic model showed that students who had been bullied had 2.27 times greater odds of having suicidal behavior compared to students who had never experienced bullying (OR: 2,27; 95% CI: 1,92-3,53). Besides, we indicated that physical fighting, and sexual abuse as effect modifiers (moderator or interaction variables) that affect the association between bullying and suicidal behavior. School-based bullying and suicidal behavior prevention strategies are needed to reduce the risk of suicidal behavior among students. Key words: Suicide, Suicidal Behavior, Bullying
Read More
S-10338
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahma Miladia Sari; Pembimbing: Sabarinah Prasetyo; Penguji: Popy Yuniar, Usep Solehudin
Abstrak: Angka hubungan seksual pranikah pada remaja di Indonesia tidak mengalami penurunan yang signifikan sepanjang tahun 2007 hingga 2017. Berbagai penelitian menemukan bahwa remaja usia pertengahan (pelajar SMA) lebih banyak yang melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan remaja usia awal (pelajar SMP). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor determinan perilaku hubungan seksual pranikah pada pelajar SMP dan pelajar SMA di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional dan menggunakan data sekunder Global School based Student Health Survey (GSHS) tahun 2015. Sampel penelitian ini adalah pelajar SMP dan SMA yang berusia 11 hingga 18 tahun yang terdapat pada data GSHS 2015. Hasil penelitian menunjukkan 5,8% pelajar SMP dan 3,7% pelajar SMA di Indonesia pernah melakukan hubungan seksual pranikah. Berdasarkan hasil penelitan, ditemukan bahwa faktor yang berhubungan dengan perilaku hubungan seksual pranikah pada pelajar SMP terdiri dari keterikatan dengan orang tua, peran teman sebaya, pendidikan seksualitas dan HIV/AIDS di sekolah, keinginan bunuh diri, dan konsumsi alkohol. Sementara faktor yang berhubungan dengan perilaku hubungan seksual pranikah pada pelajar SMA, yaitu usia, keterikatan dengan orang tua, peran teman sebaya, keinginan bunuh diri, merokok, dan konsumsi alkohol. Konsumsi alkohol menjadi faktor yang paling berhubungan dengan perilaku hubungan seksual pranikah, baik pada pelajar SMP maupun pelajar SMA.
Read More
S-10983
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurfahira Hernovirianti; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Artha Prabawa, Galuh Budi Leksono Adhi
Abstrak: Tuberkulosis merupakan 10 besar penyakit yang menyebabkan kematian di seluruh dunia. Pada tahun 2013 prevalensi kejadian tuberkulosis paru di Indonesia berdasarkan terdiagnosis dokter sebesar 0,4% dan berdasarkan gejala sebesar 3,9%. Saat ini diabetes melitus diketahui sebagai faktor risiko tuberkulosis. Prevalensi diabetes melitus berdasarkan diagnosis dokter di Indonesia pada tahun 2013 sebanyak 2,1%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan diabetes melitus dengan kejadian tuberkulosis paru di Indonesia. Penelitian ini merupakan analisis lanjut Indonesia Family Life Survey dengan desain studi Cross Sectional. Responden dalam penelitian ini adalah seluruh penduduk di Indonesia usia ≥ 15 tahun yang memiliki data variabel penelitian lengkap. Berdasarkan penelitian ini diperoleh bahwa responden yang menderita diabetes melitus memiliki peluang 3,80 kali lebih besar untuk menderita tuberkulosis paru dibandingkan dengan responden yang tidak menderita diabetes melitus setelah dikontrol oleh variabel jenis kelamin, status gizi, dan riwayat merokok.
Read More
S-10056
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fathiyya Aliyah Birjaman; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Rico Kurniawan, Chandra Rudyanto
Abstrak:
Indonesia merupakan salah satu negara berpendapatan menengah yang 72 juta penduduknya atau hampir lebih dari seperempat penduduknya merupakan perokok aktif. Kelompok umur dengan prevalensi tertinggi ada pada kelompok remaja dan dewasa yang rentan terhadap perilaku merokok. Tingginya angka perokok berkontribusi pada tingginya prevalensi penyakit yang berhubungan dengan rokok. Berhenti merokok menjadi langkah penting untuk mencapai target pengurangan tembakau yang dapat berdampak signifikan pada peningkatan kesehatan. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku berhenti merokok. Penelitian ini menggunakan data GATS 2021 di Indonesia dengan sampel penduduk usia 15-44 tahun. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan analisis regresi logistik. Berdasarkan hasil analisis regresi logistik, faktor yang berhubungan dengan perilaku berhenti merokok pada penduduk 15-44 tahun di Indonesia adalah jenis kelamin, pendidikan, status pekerjaan, larangan merokok di rumah, dan status merokok keluarga. Sedangkan umur, status ekonomi, tempat tinggal, umur pertama merokok, pengetahuan bahaya rokok, pernah mengunjungi KTR, keterpaparan media antirokok dan keterpaparan iklan rokok tidak berhubungan signifikan. Faktor yang paling dominan berhubungan dengan perilaku berhenti merokok adalah status merokok keluarga. Diharapkan upaya berhenti merokok yang berfokus pada pendekatan keluarga yang dapat didukung dengan adanya larangan merokok di rumah. Upaya berhenti merokok juga dapat berfokus melalui tatanan sekolah atau pendidikan dengan meningkatkan kesadaran pentingnya berhenti merokok. Pendekatan promosi kesehatan dapat difokuskan pada tatanan tempat kerja melalui pemilik usaha/wiraswasta maupun kelompok pekerja untuk meningkatkan keberhasilan berhenti merokok pada penduduk usia 15-44 tahun.

Indonesia is one of the middle-income countries where 72 million people or almost more than a quarter of the population are active smokers. The age group with the highest prevalence is teenagers and adults who are vulnerable to smoking behavior. The high number of smokers contributes to the high prevalence of smoking-related diseases. Quitting smoking is an important step towards achieving tobacco reduction targets that can have a significant impact on health outcomes. Therefore, it is important to examine the factors associated with quit smoking. This study used GATS 2021 data in Indonesia with a sample of the population aged 15-44 years. Used a cross-sectional design with logistic regression analysis. Based on the results of logistic regression analysis, the factors associated with smoking cessation in the population of 15-44 years in Indonesia are gender, education, employment status, smoking restrictions at home, and family smoking status. While age, economic status, place of residence, age of first smoking, knowledge of the dangers of smoking, ever visited KTR, exposure to anti-smoking media and cigarette advertisements were not significantly associated. The most dominant factor associated with smoking cessation is family smoking status. It is hoped that smoking cessation efforts will focus on a family approach which can be supported by a smoking ban at home. Efforts to stop smoking can also be focused through schools or education by increasing awareness of the importance of quitting smoking. A health promotion approach in the workplace to increase the success of quitting smoking in the population aged 15-44 years.
Read More
S-11617
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cathrine Jane David; Pembimbing: Wahyu Septiono; Penguji: Lhuri D.Rahmartani, A Muchtar Nasir
Abstrak:
Latar Belakang: Penyakit kardiovaskular (PKV) merupakan penyebab mortalitas utama. Risiko insidensi PKV telah meningkat secara signifikan sejak fase asimtomatik prediabetes akibat disfungsi endotel dan inflamasi kronik. Namun, studi berskala nasional yang memetakan dan membandingkan risiko kardiovaskular Framingham antara populasi normoglikemia dan prediabetes di Indonesia masih belum tersedia. Metode: Penelitian kuantitatif ini memanfaatkan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Sampel penelitian terdiri dari 12.821 penduduk dewasa berusia ≥30 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. Estimasi probabilitas risiko PKV dalam 10 tahun mendatang dianalisis menggunakan algoritma Framingham Risk Score (FRS) dan diklasifikasikan ke dalam tingkat risiko rendah, menengah, dan tinggi. Hasil: Rata-rata skor risiko FRS pada kelompok prediabetes (10,98 ± 5,8) terbukti secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok normoglikemia (8,83 ± 6,1) dengan nilai p<0,001. Mayoritas kelompok normoglikemia masih menempati kategori risiko rendah (71,5%). Sebaliknya, proporsi populasi prediabetes bergeser secara progresif dan menumpuk pada kategori risiko menengah sebesar 40,1% dan risiko tinggi yang mencapai 42,5%  Kesimpulan:. Kelompok prediabetes terbukti memiliki akumulasi risiko kardiovaskular yang jauh lebih tinggi dibandingkan populasi normoglikemia. Fase ini merupakan periode kritis (window of opportunity) yang mendesak fasilitas layanan primer untuk mengintegrasikan deteksi dini berkala dengan pemantauan risiko digital, guna memutus rantai progresivitas gangguan glikemik sebelum berkembang menjadi komplikasi kardiovaskular.

Background: Cardiovascular disease (CVD) is a leading cause of mortality. The incidence risk of CVD increases significantly starting from the asymptomatic phase of prediabetes due to endothelial dysfunction and chronic inflammation. However, a national-scale study mapping and comparing the Framingham cardiovascular risk between normoglycemic and prediabetic populations in Indonesia is currently unavailable. Methods: This quantitative study utilized secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). The study sample consisted of 12,821 adults aged ≥30 years who met the inclusion criteria. The estimated probability of 10-year CVD risk was analyzed using the Framingham Risk Score (FRS) algorithm and classified into low, intermediate, and high-risk categories. Results: The mean FRS risk score in the prediabetic group (10.98 ± 5.8) was significantly higher compared to the normoglycemic group (8.83 ± 6.1) with a p-value
Read More
S-12334
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anjar Kusnawa Ardani; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Flourissa J. Sudradjat
S-6704
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive