Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40189 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nursang; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Dieta Nurrika
Abstrak:
Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan hambatan interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku hiperaktif. Prevalensi ASD terus meningkat secara global, dengan sekitar 0,6-0,75% populasi dunia mengalami ASD tahun 2000-2012 dan terus meningkat hingga mencapai 1% pada tahun 2022, sedangkan di Indonesia sendiri, prevalensi ASD diperkirakan sekitar 1% atau 10 kasus per 1.000 penduduk. Jabodetabek merupakan salah satu wilayah dengan jumlah anak autisme yang cukup besar serta didukung oleh keberadaan sekolah inklusi dan pusat terapi. Salah satu pendekatan yang banyak diterapkan dalam pengelolaan anak autisme adalah diet bebas gluten dan kasein (GFCF). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan penerapan diet GFCF pada anak autisme di wilayah Jabodetabek. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Pemgambilan data dilakukan melalui google form kuesioner yang disebar secara online kepada orang tua anak autisme. Penelitian dilakukan pada 93 responden dengan metode total sampling. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menemukan bahwa 75,3% responden memiliki penerapan diet GFCF yang baik. Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pemanfaatan informasi melalui layanan terapi (p=0,009; OR=0,273; 95% CI=0,100-0,746) dengan penerapan diet GFCF. Sementara itu, tidak terdapat hubungan signifikan antara tingkat pendidikan ibu, tingkat pekerjaan ibu, pengetahuan ibu, dan keikutsertaan dalam komunitas anak autisme (p>0,05) dengan penerapan diet GFCF. Namun, terdapat kecenderungan bahwa orang tua yang mengikuti komunitas anak autisme memiliki proporsi penerapan diet GFCF yang lebih baik dibandingkan yang tidak mengikuti komunitas. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi dan pendampingan terkait penerapan diet GFCF melalui tenaga kesehatan, dan komunitas orang tua agar penerapan diet GFCF dapat dilakukan secara lebih konsisten.

Autism Spectrum Disorder (ASD) is a neurodevelopmental disorder characterized by impairments in social interaction and communication, and hyperactive behavior. The prevalence of ASD continues to increase globally, with approximately 0.6–0.75% of the world's population experiencing ASD between 2000 and 2012, and this figure is expected to reach 1% by 2022. In Indonesia, the prevalence of ASD is estimated at around 1%, or 10 cases per 1,000 people. Greater Jakarta (Jabodetabek) is one of the areas with a significant number of children with autism, supported by the presence of inclusive schools and therapy centers. One approach widely applied in the management of children with autism is the gluten-free and casein-free (GFCF) diet. Therefore, this study aims to analyze factors related to the implementation of the GFCF diet in children with autism in the Greater Jakarta area. This study is a quantitative study with a cross-sectional design. Data collection was carried out through a Google form questionnaire distributed online to parents of children with autism. The study was conducted on 93 respondents using a total sampling method. The data obtained were then analyzed univariately and bivariately. The results found that 75.3% of respondents had good implementation of the GFCF diet, while 24.7% of respondents had poor implementation of the GFCF diet. The results of the chi-square test showed a significant relationship between the use of information through therapy services (p = 0.009; OR = 0.273; 95% CI = 0.100-0.746) and the implementation of the GFCF diet. Meanwhile, there was no significant relationship between maternal education level, maternal employment level, maternal knowledge, and participation in a community for children with autism (p>0.05). However, there was a trend that parents who participated in a community for children with autism had a better proportion of GFCF diet implementation than those who did not. Therefore, increased education and support regarding the implementation of the GFCF diet through healthcare professionals and parent communities is needed to ensure more consistent implementation of the GFCF diet.
Read More
S-12387
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Najma Rienita Marsya;Pembimbing: Triyanti; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Dieta Nurrika
Abstrak:
Ultra-processed food atau UPF adalah produk pangan yang telah melalui serangkaian teknik dan proses industri. 38% dari total energi harian anak usia prasekolah berasal dari produk UPF. Konsumsi UPF secara berlebihan diketahui dapat meningkatkan risiko berat badan lebih dan obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan konsumsi UPF pada anak usia 3–6 tahun di Kecamatan Cinere, Kota Depok tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan jumlah sampel sebanyak 150. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner online yang diisi secara mandiri. Data yang diperoleh akan dianalisis secara univariat dan bivariat (chi-square). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 49,3% anak dilaporkan mengonsumsi UPF tingkat tinggi. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status pendidikan orang tua, status pekerjaan ibu, pengetahuan UPF orang tua, penggunaan UPF sebagai regulasi emosi, praktik modeling, praktik pengawasan, dan praktik pembatasan UPF oleh orang tua dengan tingkat konsumsi UPF anak. Modeling, pengawasan, dan pembatasan upf untuk kesehatan oleh orang tua bersifat protektif terhadap konsumsi UPF anak prasekolah, sementara pemberian makan berbasis regulasi emosi dan ibu tidak bekerja merupakan faktor risiko. Intervensi sebaiknya mempromosikan praktik pemberian makan adaptif, bukan hanya peningkatan pengetahuan. Orang tua dapat secara konsisten memberikan contoh makan sehat, aktif memantau asupan anak, dan membatasi akses terhadap UPF tanpa menggunakan makanan sebagai regulasi emosi anak. Program edukasi gizi perlu dikembangkan dengan fokus pada keterampilan praktis seperti membaca label pangan dan strategi pengaturan makan di rumah.

Ultra-processed foods (UPF) are food products that have undergone a series of industrial techniques and processes. UPF accounts for 38% of total daily energy intake among preschool children in Indonesia. Excessive UPF consumption is known to increase the risk of overweight and obesity. This study aimed to identify factors associated with UPF consumption in children aged 3-6 years in Cinere District, Depok City, in 2026. A cross-sectional design was used with a sample size of 150 participants. Data were collected using a self-administered online questionnaire. Data were analyzed using a univariate and bivariate (chi-square) method. The result showed that 49,3% of children were reported to have high levels of UPF consumption. Bivariate analysis revealed significant associations between parents' education level, maternal employment status, parental UPF knowledge, UPF as emotion regulation, parental modeling practices, monitoring practices, and restriction of UPF for health and children’s UPF consumption levels. Parental modeling, monitoring, and restriction for health were protective against preschool children’s UPF consumption, while emotion regulation feeding and non-working mothers were risk factors. Interventions should promote adaptive feeding practices rather than solely increasing knowledge. Parents are advised to consistently model healthy eating during meals, actively monitor children’s intake, and restrict access to UPF without using food as a soothing tool. Health institutions need to develop nutrition education programs that focus on practical skills, such as reading food labels and implementing household food management strategies.
Read More
S-12400
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vinca Dhias Salsabilla; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Sabbina Maharani
Abstrak:
Diabetes Melitus (DM) Tipe 2 merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat dan seringkali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, sehingga deteksi dini sangat diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat risiko DM Tipe 2 pada orang dewasa usia 35–59 tahun di Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok Tahun 2026. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif observasional dengan desain studi cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 177 responden yang dipilih secara purposif. Pengambilan data meliputi wawancara kuesioner Modified FINDRISC-BI, asupan gizi melalui Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), serta pengukuran antropometri (berat badan, tinggi badan, dan lingkar pinggang). Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square dan Fisher's Exact, serta multivariat menggunakan Regresi Logistik Ganda dengan metode Backward LR. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna secara statistik (p-value < 0,05) antara Indeks Massa Tubuh (IMT), lingkar pinggang, riwayat keluarga, riwayat glukosa darah tinggi, hipertensi, aktivitas fisik, dan konsumsi sayur buah dengan tingkat risiko DM Tipe 2. Sebaliknya, asupan karbohidrat, asupan lemak, frekuensi konsumsi makanan dan minuman manis tidak menunjukkan hubungan yang bermakna (p-value > 0,05).

Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is a non-communicable disease with a continuously increasing prevalence that often presents no symptoms in its early stages, making early detection highly necessary. This study aimed to determine the factors associated with the risk level of T2DM among adults aged 35–59 years in Sukmajaya District, Depok City in 2026. This research is an observational quantitative study with a cross-sectional design. The study sample consisted of 177 respondents selected through purposive sampling. Data collection included interviews using the Modified FINDRISC-BI questionnaire, nutritional intake assessment via the Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), and anthropometric measurements (body weight, height, and waist circumference). Data analysis was conducted univariately, bivariately using Chi-Square and Fisher's Exact tests, and multivariately using Multiple Logistic Regression with the Backward LR method. The bivariate analysis results showed a statistically significant association (p-value < 0.05) between Body Mass Index (BMI), waist circumference, family history, history of high blood glucose, hypertension, physical activity, and vegetable and fruit consumption with the risk level of T2DM. Conversely, carbohydrate intake, fat intake, and the frequency of sweet food and beverage consumption showed no significant association (p-value > 0.05).
Read More
S-12419
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Febby Andyca; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Salimar
Abstrak:

Prevalensi autis meningkat dari tahun ke tahun, akan tetapi saat ini belum pernah dilakukan penelitian tentang status gizi pada anak autis.. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi pada anak autis di tiga Rumah Autis (Bekasi, Tanjung Priuk, Depok) dan Klinik Tumbuh Kembang Depok. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional.Hasil penelitian, dari 62 anak autis ditemukan sebesar 43,5% kelebihan berat badan. Berdasarkan hasil uji statistik terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin, kecukupan konsumsi energi dan kecukupan konsumsi lemak dengan status gizi anak autis. Anak autis yang mengonsumsi energi dengan kategori ?lebih? (>100% AKG) berisiko 3,7 kali kelebihan berat badan dan kecukupan konsumsi lemak merupakan faktor protektif tehadap kelebihan berat badan. Tetapi tidak ada hubungan yang bermakna antara umur, pantangan, aktivitas fisik, kecukupan konsumsi karbohidrat dan protein, frekuensi konsumsi pangan sumber energi (karbohidrat, protein, lemak) dengan status gizi pada anak autis. Namun terdapat kecenderungan kelebihan berat badan lebih banyak pada anak autis yang mengonsumsi makanan protein dengan kategori ?lebih? (50%), sumber karbohidrat dengan frekuensi ?sering sekali? >3x sehari (55,6%) dan sumber lemak dengan frekuensi ?sering? > 6x seminggu (48,1%).Penulis menyarankan bagi orang tua menerapkan pola konsumsi yang sehat bagi anak autis seperti makan dengan beraneka ragam warna dan variasi makanan.


 

The prevalence of autism increased from year to year, but now it has never done research on the nutritional status in children with autism. The focus of this study is about Factors Associated with nutritional status at Children Autism in Three Autism house (Jakarta, Tanjung Priuk, Depok) and Growth Clinic Kreibel Depok.The results of the study, 62 children with autism was found to be 43.5% overweight. Based on the results of statistical tests found a significant association between the sexes, the adequacy of energy consumption and the adequacy of fat consumption with the nutritional status of children with autism. Autism children who consume energy by category of "more" (> 100% RDA) 3.7x the risk of overweight and fat consumption adequacy repres protective factor overweight. But there is no significant relationship between age, abstinence, physical activity, adequate consumption of carbohydrates and protein, the frequency of food consumption of energy sources (carbohydrates, proteins, fats) with nutritional status in children with autism. But there is a tendency more overweight in children with autism who eat protein with the category of "more" (50%), carbohydrate source with a frequency of "very often"> 3x daily (55.6%) and fat sources with a frequency of "frequent" > 6x a week (48.1%).The author suggests that parents implement a healthy consumption pattern for children with autism such as eating with a wide range of colors and variety of food.

Read More
S-6911
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Masni Nurrahmadini; Pembimbing: Asih Setiarini
S-3450
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gumanti Cita Murni; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Kusnidar Achmad, Muhamad Nasir
S-6537
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fauziah; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Ahmad Syafiq, Ida Ruslita
S-5989
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Setya Ardiningsih; Pembimbing: Ratu Atyu Dewi Sartika; Penguji: Kusharisupeni, Rahmawati
S-7832
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adinda Ardania; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Fatmah, Indrarti Soekotjo
S-5987
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puri Delanauva; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Triyanti, Trini Sudiarti
Abstrak:
Konstipasi fungsional merupakan kondisi yang ditandai dengan adanya gangguan pada sistem pencernaan, di mana tekstur feses menjadi keras dan frekuensi buang air besar menjadi jarang. Faktor yang berhubungan dengan kejadian konstipasi fungsional banyak ditemukan pada pekerja kantoran, termasuk tenaga kependidikan, seperti gaya hidup tidak sehat, antara lain rendahnya asupan serat dan cairan, tingginya asupan natrium, aktivitas fisik yang rendah, durasi duduk yang tinggi, serta durasi tidur yang kurang. Selain itu, faktor demografis seperti usia yang lebih tua, jenis kelamin perempuan, dan status gizi lebih juga dapat menjadi faktor risiko konstipasi fungsional. Faktor psikologis seperti stres juga berperan dalam kejadian konstipasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian konstipasi fungsional pada tenaga kependidikan Universitas Indonesia yang berlokasi di Depok, Jawa Barat pada bulan April hingga Mei 2026. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan data primer yang melibatkan 115 responden berusia 18–59 tahun. Sampel diperoleh menggunakan teknik non-probability sampling dengan metode convenience sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 11,3% mengalami konstipasi fungsional. Terdapat hubungan yang signifikan antara stres dengan konstipasi fungsional (p = 0,03) dan OR 8,066. Selain itu, proporsi konstipasi fungsional lebih tinggi pada responden dengan asupan serat rendah dan berjenis kelamin perempuan. Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara asupan serat, asupan cairan, asupan natrium, aktivitas fisik, durasi duduk, durasi tidur, jenis kelamin, usia, dan status gizi dengan konstipasi fungsional.

Functional constipation is a condition characterized by disturbances in the gastrointestinal system, in which stool consistency becomes hard and the frequency of bowel movements decreases. Factors associated with functional constipation are commonly found among office workers, including university administrative staff, such as unhealthy lifestyle behaviours, including low fiber and fluid intake, high sodium intake, low physical activity, prolonged sitting duration, and insufficient sleep duration. In addition, demographic factors such as older age, female sex, and overweight or obesity status may also serve as risk factors for functional constipation. Psychological factors, such as stress, also play a role in the occurrence of constipation. The purpose of this study was to determine the factors associated with functional constipation among university administrative staff at Universitas Indonesia, located in Depok, West Java, from April to May 2026. This study used a cross-sectional design using primary data collected from 115 respondents aged 18–59 years. The sample was selected using a non-probability sampling technique with a convenience sampling method. Data were collected through questionnaires and interviews. The results showed that 11.3% of the respondents had functional constipation.There was a significant association between stress and functional constipation (p = 0.03) with an odds ratio (OR) of 8.066. In addition, the proportion of functional constipation was higher among respondents with low fiber intake and among female respondents. However, no significant associations were found between fiber intake, fluid intake, sodium intake, physical activity, sitting duration, sleep duration, sex, age, and nutritional status and functional constipation.
Read More
S-12344
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive