Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36059 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Jumiati; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Abdul Kadir, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Hanny Harjulianti, Arie Meutia Nada
Abstrak:
Distress psikologis merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang dapat memengaruhi kesejahteraan, produktivitas, dan kualitas kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN). Berbagai faktor risiko psikososial, baik yang berasal dari organisasi maupun individu, diduga berkontribusi terhadap munculnya distress psikologis pada ASN. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor risiko psikososial yang meliputi faktor organisasi dan faktor individu terhadap distress psikologis pada ASN di Kantor Walikota X. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 257 responden yang dipilih menggunakan teknik proportional stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis univariat serta uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 75 responden (29,2%) mengalami distress psikologis, sedangkan 182 responden (70,8%) tidak mengalami distress psikologis. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara tuntutan kerja (p=0,001), konflik peran (p=0,001), kondisi kesehatan (p=0,001), resiliensi psikologis (p=0,003), tekanan finansial (p=0,001), dan penggunaan media sosial (p=0,001) dengan distress psikologis. Sebaliknya, keadilan organisasi (p=0,099), dukungan sosial (p=0,680), dan mekanisme koping (p=1,000) tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan distress psikologis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor risiko psikososial yang berhubungan dengan distress psikologis pada ASN meliputi tuntutan kerja, konflik peran, kondisi kesehatan, resiliensi psikologis, tekanan finansial, dan penggunaan media sosial. Oleh karena itu, organisasi perlu mengembangkan program promotif dan preventif kesehatan mental, seperti Employee Assistance Program (EAP), penguatan resiliensi psikologis, literasi keuangan, serta edukasi penggunaan media sosial yang sehat guna mendukung kesejahteraan psikologis ASN dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Psychological distress is a mental health issue that can impact the well-being, productivity, and quality of performance of State Civil Servants (ASN). Various psychosocial risk factors, both organizational and individual, are suspected to contribute to the emergence of psychological distress in ASN. This study aims to analyze the relationship between psychosocial risk factors, including organizational and individual factors, and psychological distress in ASN at the Mayor's Office X. The study used a quantitative design with a cross-sectional approach. The study sample consisted of 257 respondents selected using proportional stratified random sampling. Data were collected through questionnaires and analyzed using univariate analysis and the Chi-Square test to determine the relationship between variables. The results showed that 75 respondents (29.2%) experienced psychological distress, while 182 respondents (70.8%) did not experience psychological distress. Bivariate analysis showed a significant relationship between job demands (p=0.001), role conflict (p=0.001), health conditions (p=0.001), psychological resilience (p=0.003), financial stress (p=0.001), and social media use (p=0.001) and psychological distress. Conversely, organizational justice (p=0.099), social support (p=0.680), and coping mechanisms (p=1.000) did not show a significant relationship with psychological distress. This study concluded that psychosocial risk factors associated with psychological distress in civil servants include job demands, role conflict, health conditions, psychological resilience, financial stress, and social media use. Therefore, organizations need to develop promotive and preventive mental health programs, such as Employee Assistance Programs (EAPs), strengthening psychological resilience, financial literacy, and education on healthy social media use to support the psychological well-being of civil servants and improve the quality of public services.
Read More
T-7646
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Dyah Sharifa; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Didik Triwibowo
S-12349
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arie Januarius Putra; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Baiduri Widanarko, Mufti Wirawan, Hanny Harjulianti, Diantika Prameswara
Abstrak:
Stres kerja merupakan tantangan besar dalam kesehatan kerja yang berdampak negatif pada kesehatan fisik, mental, dan produktivitas pekerja. Aparatur Sipil Negara (ASN) menghadapi tuntutan kerja tinggi yang berpotensi menyebabkan stres, namun penelitian mengenai faktor psikososial yang mempengaruhinya masih terbatas di Indonesia. Oleh sebab itu tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor psikososial yang mempengaruhi terjadinya stres kerja di Balai Besar Pelatihan X. Penelitian ini merupakan penelitian inferensial dengan pendekatan cross sectional. Analisis data dilakukan dengan chi-square untuk menganalisis hubungan dua variable dan analisis regresi logistic untuk menganalisis faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi stres kerja. Hasil penelitian menunjukkan jumlah responden yang mengalami stres sebanyak 48.7%, dengan 49.2% responden merasa memiliki tuntutan kerja yang tinggi, 55.8% memiliki kontrol pekerjaan yang rendah dan dukungan sosial yang rendah 68%. Hasil bivariat menunjukkan bahwa seluruh variable (tuntutan pekerjaan, kontrol pekerjaan dan dukungan sosial) berpengaruh secara signifikan terhadap terjadinya stres. Pada analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan mempengaruhi stres kerja adalah tuntutan tinggi. Merujuk pada tingginya tingkat stres pekerja, maka perlu adanya wellness program yang dirancang guna mengurangi tingkat stres kerja. Peneliti selanjutnya dapat menguji coba model intervensi seperti wellness program tersebut.


Job stress is a significant challenge in occupational health, harming the physical and mental health, as well as the productivity of workers. The State Civil Apparatus (ASN) faces high work demands that have the potential to cause stress; however, research on psychosocial factors that influence it is still limited in Indonesia. Therefore, the purpose of this study was to examine the psychosocial factors that contribute to the occurrence of work stress at the X Training Center. This study employs a inferential, cross-sectional approach. Data analysis was conducted using the chi-square test to examine the relationship between two variables and logistic regression analysis to identify the most significant factors influencing work stress. The results showed that 48.7% of respondents experienced stress, with 49.2% feeling they had high work demands, 55.8% having low job control and 68% experiencing low social support. The bivariate results showed that all variables (job demands, job control and social support) had a significant effect on the occurrence of stress. The multivariate analysis showed that the most dominant factor influencing work stress was high demands. In response to the high level of worker stress, a wellness program is necessary that is designed to mitigate work-related stress. Further researchers can test intervention models such as wellness programs.

Read More
T-7321
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhamad Fajar Maulidi Tanjung; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Hendra; Laksita Ri Hastiti, Reni Karnila Sari, Yuni Kusminanti
Abstrak:
Isu stres terkait kerja diakui sebagai masalah global yang memengaruhi semua profesi. Industri manufaktur atau perusahaan yang bergerak dibidang pengolahan beresiko lebih tinggi mengalami stres dibanding jenis pekerjaan lain. Stress kerja merupakan akibat dari satu atau beberapa interaksi bahaya psikososial di tempat kerja. Hasil survey intenal PT X pada tahun 2021 dan 2022 menunjukan bahwa stres kerja merupakan yang paling banyak yang dikeluhkan karyawan. Tren kecelakaan kerja bulan Januari-April 2022 di area Hotpress terus meningkat yang didominasi penyebab perilaku tidak aman dan angka absenteisme pada bulan Februari 2022 mengalami kenaikan dua kali lipat dibanding bulan sebelumnya. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor psikososial terhadap distress pada pekerja di area Hotpress PT X Penelitian ini akan dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan desain studi cross sectional. Data yang digunakan adalah data primer melalui kuesioner secara daring (online). Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2022 – Juli 2022. Pekerja di area Hotpress PT. X didominasi oleh distress didominasi oleh tingkat distress sedang dan ringan hampir sebanding dengan masing-masing sebanyak 50% dan 49,2% serta tingkat distress berat sebanyak 2 orang (0,8%). Distress berat, sedang dan ringan mengalami keluahan gejala fisiologis berupa ganguan otot. Gejala emosional distress berat yang sering dikeluhkan adalah sulit rileks, mudah tersinggung, tegang, mudah sedih, memiliki persasaan bersalah, motivasi aktivitas sehari-hari menurun, kelelahan fisik dan emosional dengan frekuensi sering sampai selalu. Gejala kognitif distress berat yang sering dikeluhkan adalah sulit mengingat sesuatu dengan frekuensi selalu. Gejala perilaku distress berat yang paling banyak dilakukan adalah merokok lebih sering dari biasanya dan mengalami gangguan tidur dengan frekuensi sering samapai selalu. Semua variabel faktor psikososial didominasi oleh kategori kondisi “kurang baik” kecuali variabel budaya organisasi. Berdasar uji T Independent didapat bahwa setiap jenis kelamian (p=0,683) baik laki-laki maupun perempuan memiliki rata-rata tingkat distress yang sama. Berdasarkan uji anova diketahui setiap status pernikahan (p=0,111) baik belum menikah, menikah maupun cerai memiliki rata-rata tingkat distress yang sama. Berdarakan uji Chi-square didapat variabel usia (p=0,746; OR=1,142), masa kerja (p=0,704; OR=0,905), budaya organisasi (p=0,202; OR=1,432), pengembangan karir (p=0,699; OR=1,119), kontrol pekerjaan (p=0,097; OR=0,645) dan desain pekerjaan (p=0,794; OR=1,073) tidak ada hubungan dengan tingkat distress. Sedangkan varibel peran dalam organisasi (p=0,001; OR; 2,349), hubungan interpersonal (p=0,007; OR=2,056), hubungan rumah dan tempat kerja (p=0,000; OR 3,505), Beban kerja (p=0,003; OR=2,193), jadwal kerja (p=0,021; OR=1,851) dan kondisi lingkungan fisik kerja (p=0,000; OR=7,597) memilihi hubungan dengan distress. Berdasarkan hasil penelitian perlunya perbaikan terkait kondisi pada variabel peran dalam organisasi, pengembangan karir dengan kejelasan karir, kontrol pekerjaan dengan melibatkan pekerja, hubungan interpersonal tempat kerja dengan , hubungan rumah dan tempat kerja, desain kerja, beban kerja dengan mengevaluasi beban pekerja dengan kemampuannya, jadwal kerja dan kondisi lingkungan fisik kerja.

The issue of work-related stress is recognized as a global problem that affects all professions. Manufacturing industries or companies engaged in processing are at higher risk of experiencing stress than other types of work. Job stress is the result of one or more psychosocial threatening interactions at work. The results of PT X's internal survey in 2021 and 2022 show that work stress is the most complained of by employees. The trend of work accidents in January-April 2022 in the Hotpress area continues to increase, which is dominated by unsafe behavior and the absentee rate in February 2022 has doubled compared to the previous month. The purpose of this study is to analyze psychosocial factors on the pressure on workers in the Hotpress area of PT X. This research will be conducted using a quantitative approach and a cross sectional study design. The data used is primary data through a bold questionnaire (online). This research was conducted in March 2022 – July 2022. Workers in the Hotpress area of PT. X is dominated by distress, which is dominated by moderate and mild difficulty levels, almost equal to 50% and 49.2%, respectively, and 2 people (0.8%). Severe, moderate and mild distress experienced symptoms that were felt in the form of muscle disorders. Symptoms of emotional distress that are often complained of are difficulty relaxing, easy to make you tense, easy to feel sad, have feelings of guilt, decreased motivation for daily activities, physical and emotional fatigue with frequent to constant frequency. Cognitive symptoms of severe distress that are often complained of is remembering something with a frequency always. The most common symptoms of severe disorders are smoking habits more often than usual and experiencing sleep disturbances with a frequency that is often the same as always. All psychosocial factor variables are dominated by the “unfavorable” condition category except for the organizational culture variable. Based on the Independent T test, it was found that each gender (p = 0.683) both men and women had the same average level of distress. Based on the ANOVA test, it is known that each marital status (p = 0.111) is either unmarried, married or has the same average stress level. Based on the Chi-square test, the variables were age (p=0.746; OR=1.142), years of service (p=0.704; OR=0.905), organizational culture (p=0.202; OR=1.432), career development (p=0.699; OR =1.119), job control (p=0.097; OR=0.645) and job design (p=0.794; OR=1.073) had no relationship with the level of distress. While the role variables in the organization (p=0.001; OR; 2.349), interpersonal relationships (p=0.007; OR=2.056), home and work relations (p=0.000; OR 3.505), workload (p=0.003; OR= 2.193, work schedule (p = 0.021; OR = 1.851) and physical work environment conditions (p = 0.000; OR = 7.597) choose the relationship with difficulty. The results of the study need improvements related to conditions on role variables in the organization, career development with career careers, work control by involving workers, workplace interpersonal relationships with e-mail, home and workplace relations, work design, workloads with workers' workloads with their abilities, work schedules and physical conditions of the work environment.
Read More
T-6578
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irfan Kurniawan; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Abdul Kadir, Puspita Tri Utami, Firman Fridono
Abstrak:
Sindrom metabolik merupakan kumpulan faktor risiko kardiometabolik yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes melitus tipe 2. Pegawai perkantoran, termasuk Aparatur Sipil Negara (ASN), berisiko mengalami sindrom metabolik karena pola kerja sedentary, keterbatasan aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, dan perilaku berisiko lainnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor risiko sindrom metabolik pada pegawai ASN Lembaga X tahun 2026. Penelitian menggunakan desain mixed methods sequential explanatory. Tahap kuantitatif merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional pada 340 responden menggunakan data Medical Check-Up tahun 2025 dan kuesioner faktor risiko tahun 2026. Status sindrom metabolik ditentukan berdasarkan kriteria Joint Interim Statement 2009. Analisis meliputi univariat, bivariat, dan regresi logistik multivariat. Tahap kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam dengan informan kunci untuk menjelaskan hasil kuantitatif. Prevalensi sindrom metabolik sebesar 26,2%. Komponen yang paling banyak ditemukan adalah obesitas sentral (58,5%), diikuti trigliserida tinggi (32,4%), glukosa darah puasa tinggi (32,1%), HDL rendah (28,5%), dan hipertensi (18,2%). Model akhir menunjukkan bahwa IMT obesitas merupakan faktor paling dominan (AOR=23,347; 95% CI: 7,863–69,372; p<0,001), diikuti merokok (AOR=2,452; 95% CI: 1,235–4,868; p=0,010), pola makan tidak sering bergizi seimbang (AOR=2,430; 95% CI: 1,405–4,203; p=0,001), riwayat penyakit keluarga (AOR=2,135; 95% CI: 1,181–3,859; p=0,012), perilaku sedentary ≥6 jam/hari (AOR=2,182; 95% CI: 1,096–4,344; p=0,026), dan aktivitas fisik kurang aktif (AOR=1,829; 95% CI: 0,999–3,348; p=0,050). Hasil kualitatif menunjukkan bahwa pekerjaan duduk lama, konsumsi saat rapat atau lembur, hambatan aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan belum optimalnya tindak lanjut hasil MCU memperkuat risiko sindrom metabolik. Sindrom metabolik pada pegawai ASN Lembaga X dipengaruhi oleh interaksi faktor biologis, perilaku, dan lingkungan kerja. Diperlukan program kesehatan kerja terintegrasi berbasis hasil MCU yang memprioritaskan pengendalian obesitas, konsumsi sehat, peningkatan aktivitas fisik, pengurangan perilaku sedentary, serta program berhenti merokok.

Metabolic syndrome is a cluster of cardiometabolic risk factors that increases the risk of cardiovascular disease and type 2 diabetes mellitus. Office workers, including civil servants, are at risk because of sedentary work patterns, limited physical activity, unhealthy dietary habits, and other risk behaviors. This study aimed to analyze risk factors for metabolic syndrome among civil servants at Institution X in 2026. A sequential explanatory mixed-methods design was used. The quantitative phase was an analytical observational cross-sectional study involving 340 respondents, using 2025 Medical Check-Up data and a 2026 risk-factor questionnaire. Metabolic syndrome was defined according to the 2009 Joint Interim Statement criteria. Analyses included univariate, bivariate, and multivariable logistic regression. The qualitative phase involved in-depth interviews with key informants to explain the quantitative findings. The prevalence of metabolic syndrome was 26.2%. The most common component was central obesity (58.5%), followed by elevated triglycerides (32.4%), elevated fasting blood glucose (32.1%), low HDL cholesterol (28.5%), and hypertension (18.2%). In the final model, obesity based on body mass index was the strongest factor (AOR=23.347; 95% CI: 7.863–69.372; p<0.001), followed by smoking (AOR=2.452; 95% CI: 1.235–4.868; p=0.010), infrequent consumption of a balanced diet (AOR=2.430; 95% CI: 1.405–4.203; p=0.001), family history of disease (AOR=2.135; 95% CI: 1.181–3.859; p=0.012), sedentary behavior ≥6 hours/day (AOR=2.182; 95% CI: 1.096–4.344; p=0.026), and insufficient physical activity (AOR=1.829; 95% CI: 0.999–3.348; p=0.050). Qualitative findings indicated that prolonged sitting, food consumption during meetings or overtime, barriers to physical activity, smoking habits, and suboptimal follow-up of Medical Check-Up results reinforced metabolic syndrome risk. Metabolic syndrome among civil servants at Institution X is influenced by the interaction of biological, behavioral, and workplace environmental factors. An integrated occupational health program based on Medical Check-Up results is needed, prioritizing obesity control, healthy food policies, promotion of physical activity, reduction of sedentary behavior, and smoking cessation
Read More
T-7644
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puspita Gaharu Nisaa; Pemimbing: Robiana Modjo; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Stevan D. Anbiya, Achmad Muchlis, Corah Usman
Abstrak:
Tenaga kesehatan senantiasa dihadapkan dengan tuntutan kerja dan bahaya risiko psikososial yang berpengaruh terhadap kesehatan mental seperti distress kerja, kondisi tersebut dapat bermanifestasi terhadap kesejahteraan tenaga kesehatan dan kualitas pelayanan pasien. Tahun 2024, diketahui terdapat tenaga kesehatan di RSUD Balaraja yang memiliki derajat distress sedang hingga berat terkait upaya kerja. Tesis ini bertujuan menganalisis hubungan faktor risiko psikososial serta faktor individu dan distress kerja pada tenaga kesehatan yang bekerja di RSUD Balaraja Kabupaten Tangerang Tahun 2025. Desain penelitian adalah cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif pada total 140 tenaga kesehatan (dokter, perawat, farmasi, dan tenaga kesehatan lain seperti bidan, perekam medis, fisioterapis, analis kesehatan, radiografer, dsb.)  Distress kerja diukur menggunakan instrumen distress dari DASS-21 yang dikategorikan menjadi “Normal-Ringan” dan “Sedang-Berat”. Faktor risiko psikososial (berdasarkan model Effort-Reward Imbalance, COPSOQH III dan NIOSH Generic Stress Scale) dan faktor individu diukur melalui kuesioner. Hasil penelitian ditemukan 14,3% responden dengan distress kerja sedang-berat. Analisis inferensial menunjukan hubungan signifikan antara faktor psikososial dengan distress kerja. Variabel yang berhubungan dengan distress kerja diantaranya ketidakseimbangan kerja-rumah (OR=17,34; 95% CI 3,84–78,41; p<0,001), komitmen kerja berlebihan (OR=14,48; 95% CI 3,21–65,31; p<0,001), upaya kerja yang tinggi (OR=6,44; 95% CI 2,03–20,44; p=0,001) dan penghargaan kerja yang tidak baik (OR=4,14; 95% CI 1,31–13,10; p=0,02). Tidak ditemukan hubungan statistik yang signifikan antara faktor individu dan distress kerja (p >0,05). Faktor individu yang perlu diberi perhatian yakni pada variable status single dan perilaku tidak sehat (kurang aktifitas fisik, merokok, minum kopi, dan minum alkohol.) Kesimpulan adalah distress kerja pada tenaga kesehatan di RSUD Balaraja secara dominan berasosiasi dengan faktor psikososial yang bersifat organisasional dan dapat dimodifikasi. Intervensi berbasis prioritas terutama untuk perbaikan area kritis diantaranya ketidakseimbangan antara kehidupan kerja-rumah serta komitmen berlebihan. Rekomendasi difokuskan pada kebijakan organisasional sehingga tercipta budaya kerja yang sehat, suportif dan positif, diantaranya adalah, pertama, pemberian pelatihan sesuai kompetensi, edukasi pengelolaan distress dan  manajemen waktu serta fleksibilitas pemilihan waktu libur atau cuti; Kedua, evaluasi beban kerja agar tidak berlebihan dan lebih merata, fit to work bagi tenaga kesehatan pasca dengan keterbatasan fisik atau pemulihan dari sakit, komunikasi dan transparansi sistem penghargaan maupun kompensasi kepada seluruh tenaga kesehatan, termasuk dalam pemberian insentif dan kebijakan upah kerja lembur dalam rangka keseimbangan upaya kerja dan penghargaan kerja yang lebih baik; Ketiga, evaluasi tugas kerja dan beban kerja oleh manajemen secara periodik yang disertai adanya keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan. Rekomendasi lain adalah kegiatan senam rutin 150 menit per minggu, kelompok konseling kesehatan mental dan perilaku tidak sehat, serta perbaikan sistem antrian pasien rawat jalan dengan pemberlakuan kode booking kunjungan ulang atau fast track untuk pasien kontrol merupakan strategi yang dapat diambil untuk peningkatan kesehatan kerja dan upaya penurunan distress kerja bagi tenaga kesehatan di RSUD Balaraja.
Healthcare workers are constantly faced with work demands and psychosocial hazards that affect their mental health, such as work related distress. This condition can manifest in the well-being of healthcare workers and the quality of patient care. In 2024, it was found that a number of healthcare workers at Balaraja Regional General Hospital (RSUD) experienced moderate to severe distress related to their work effort. This thesis aims to analyze of risk factors associated with work-related distress to healthcare workers of RSUD Balaraja, Tangerang Regency In 2025. This study used cross-sectional design with a quantitative approach, involved total 140 healthcare workers as respondens (doctors, nurses, pharmacists, and other health care workers such as midwife, medical recorders, physichal therapist, health analysts, radiographer, etc.) Work related distress was measured using a standardized instrument based on distress scale from DASS 21 and categorized as "Normal-Mild" and "Moderate-Severe". Psychosocial risk factors (based on the Effort-Reward Imbalance model, COPSOQ III, and the NIOSH Generic Job Stress Questionnaire) and individual factors were measured through a questionnaire. The results showed that 14.3% of respondents experienced moderate-to-severe work related distress. Inferential analysis indicated an association between psychosocial factors and work related distress, included work-life imbalance (OR=17.34; 95% CI 3.84–78.41; p<0.001), overcommitment (OR=14.48; 95% CI 3.21–65.31; p<0.001), high effort (OR=6.44; 95% CI 2.03–20.44; p=0.001), and low reward (OR=4.14; 95% CI 1.31–13.10; p=0.02). No statistical significant association was found between individual factors and work related distress (p > 0.05). Individual factors that may warrant attention include single marital status and unhealthy bahaviors (lack of physical activity, smoking, and consumption of coffee or alcohol.) The conclusion is that work related distress among healthcare workers at RSUD Balaraja is predominantly associated with modifiable, organizational psychosocial factors. Priority-based interventions are needed, especially to improve critical areas such as work-life imbalance and overcommitment. Recommendations focus on organizational policies to create a healthy, supportive, and positive work culture. These include provide competency-based training, education on distress and time management, and offer flexibility in scheduling holiday or day off; Second, conduct workload evaluations to prevent overload and ensure equitable distribution. Implement "fit-to-work" assessments for healthcare workers with physical limitations or recovering from illness. Ensure transparent communication regarding reward and compensation systems for all staff, including incentives and overtime pay policies, to achieve a better effort-reward balance. Third, reviewing workload policies for better distribution and prevention of excessive demands, providing competency-based training, and offering distress management, priority management, and coping mechanisms to restore work-life balance. Other recommendations include group exercise sessions, aiming for 150 minutes per week, Establish counseling groups for mental health support and to address unhealthy behaviors, improve the outpatient queuing system by implementing “a booking code system” for return visits or “a fast-track pathway." Furthermore, promoting a healthy work culture and controlling overcommitment through periodic evaluation of job tasks and workload by management, with input from employees, is advised. These strategies can be adopted to enhance occupational health and reduce work-related distress among healthcare workers at RSUD Balaraja.

 
Read More
T-7373
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Asmui; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Robiana Modjo, Mila Tejamaya, Iqbal Mochtar, Nurhadi Amin
Abstrak: Tesis ini ditulis untuk menganalisis faktor risiko terjadinya kelelahan pada asisten rumah tangga yang bekerja di negara X. Ada tiga faktor yang dianalisis yaitu faktor individu (usia, kuantitas tidur, konsumsi kafein dan kebiasaan olahraga), faktor pekerjaan (total jam kerja, beban kerja, tipe pekerjaan, masa kerja dan stres kerja) dan faktor lingkungan (iklim cuaca). Penelitian dilakukan dengan metode analisis kuantitatif dan deskriptif dengan uji regresi linear. Data diperoleh melalui wawancara dan kuesioner yang diadopsi dari Industrial Fatigue Research Committee pada 94 responden kemudian dianalisis menggunakan analisis univariat, bivariat dan multivariat dengan tingkat kepercayaan sebesar (CI) 95%. Variabel yang diteliti dinyatakan memiliki pengaruh dengan kelelahan kerja jika nila p < 0,05. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat 47 orang (50%) mengalami kelelahan sedang. pada faktor individu secara keseluruhan memiliki pengaruh sebesar 27,1% terhadap risiko terjadinya kelelahan. Pada faktor ini, terdapat satu variabel yang memiliki pengaruh dengan risiko terjadinya kelelahan yaitu kuantitas tidur dengan nilai p = 0,000. Sementara 3 variabel lainnya tidak memiliki pengaruh yaitu usia p = 0,196, konsumsi kafein p = 0,384 dan kebiasaan olahraga p = 0,213. Untuk faktor pekerjaan secara keseluruhan memiliki pengaruh sebesar 29,5% terhadap risiko terjadinya kelelahan. Pada faktor ini, terdapat 3 variabel yang memiliki pengaruh dengan risiko terjadinya kelelahan yaitu beban kerja p = 0,001, tipe pekerjaan p = 0,045 dan stres kerja p = 0,035. Sementara 2 variabel lainnya tidak memiliki pengaruh yaitu total jam kerja p = 0,987 dan masa kerja p = 0,676. Sementara faktor lingkungan (iklim cuaca) didapatkan hasil adanya pengaruh dengan risiko terjadinya kelelahan dengan nilai p = 0,000.
This thesis is written to analyze risk factors for fatigue in household assistants working in country X. There are three factors to be analyzed; individual factors (age, sleep quantity, caffeine consumption and physical exercise), work factors (total hours worked, workload , job type, years of service and work stress) and environmental factors (weather climate). The study was conducted with quantitative and descriptive analysis methods using linear regression test. Data obtained through interviews and questionnaires adopted from the Industrial Fatigue Research Committee on 94 respondents then analyzed using univariate, bivariate and multivariate analysis with a confidence level of (CI) 95%. The variables studied were stated to have an influence with work fatigue if the value of p <0.05. The analysis showed that there are 47 people (50%) experiencing moderate fatigue. on individual factor has an influence of 27.1% on the risk of fatigue. In this factor, there is one variable that has an influence on the risk of fatigue, the quantity of sleep with a value of p = 0.000. While the other 3 variables did not have an influence: age p = 0.196, caffeine consumption p = 0.384 and physical exercise p = 0.213. The work factor has an effect of 29.5% on the risk of fatigue. In this factor, there are 3 variables that have an influence with the risk of fatigue, workload p = 0.001, type of work p = 0.045 and work stress p = 0.035. While the 2 other variables do not have an influence, total hours worked p = 0.987 and years of service p = 0.676. While the environmental factor (weather climate) has an influence of the risk of fatigue with a value of p = 0.000.
Read More
T-6042
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muthiah; Pembimbing: Doni Himat Ramdhan; Penguji: Robiana Modjo, Faridah Tusafariah
Abstrak: PT. X merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata dan properti. Karyawan dituntut untuk terus meningkatkan kualitas layanan sesuai dengan ekspektasi konsumen dan organisasi sehingga tidak terlepas dari streskerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor bahaya psikososial yangberhubungan dengan stres kerja menggunakan desain studi cross sectional pada107 responden. Hasil penelitian menunjukkan 49,5% responden mengalami stres tinggi. Faktor-faktor yang berhubungan secara signifikan dengan stres kerja padakaryawan adalah perkembangan karir, kepuasan kerja, hubungan interpersonal,desain kerja, beban kerja. tidak ada hubungan yang signifikan antara kontrolpekerjaan dan jadwal kerja dengan stres kerja.

PT. X is a company of tourism and property industry. The employees arerequired to continuously improve the quality of services in accordance theexpectation of customers and organization that cause stress of work. This studyaims to analyze the association between psychosocial hazards and work relatedstress using a cross sectional study on 107 respondents. The result showed 49.5%of respondents experiencing high stress. Psychosocial factors significantlyassociated with work-related stress on employees are career development, jobsatisfaction, interpersonal relationship, task design and workload. There was nosignificantly associated job control, and work schedule with work-related stress.
Read More
S-8315
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ira Risnawati; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Abdul Kadir, Hendra, Decy Situngkir, Ahmad Irfandi
Abstrak:
Bahaya psikososial di tempat kerja adalah interaksi antara lingkungan kerja, job content, kondisi organisasi dengan kapasitas, kebutuhan, budaya, pertimbangan personal pekerja yang berpotensi mempengaruhi kesehatan, performa kerja dan kepuasan kerja. Risiko psikososial di tempat kerja berdampak pada kesehatan fisik, mental dan sosial para pekerja. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis faktor psikososial yang berhubungan terhadap tingkat risiko psikososial. Penelitian ini dilakukan di Universitas X pada karyawan pada bulan Januari-Mei 2022. Penelitian ini bersifat kuantitatif menggunakan desain studi cross sectional dengan sampel 188 responden. Data risiko psikososial diambil menggunakan instrumen Pandemic-Related Perceived Stress Scale of COVID- 19 (PSS-10-C), data factor psikososial diambil menggunakan kuesioner yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas menggunakan instrumen COPSOQ III dan NIOSH Generic Job Questionnaire. Hasil dari penelitian ini menunjukkan pada arena rumah dan sosial tidak terdapat variabel yang signifikan dengan tingkat risiko psikososial. Pada arena individu terdapat usia yang berhubungan signifikan terhadap tingkat risiko psikososial. Pada arena kerja variabel yang berhubungan signifikan dengan tingkat risiko psikososial adalah masa kerja, pola WFH, beban kerja, konflik peran, ketidakjelasan peran, job insecurity, work life balance. Variabel yang paling berhubungan adalah pola WFH, konflik peran, dan work life balance.

Psychosocial hazards in the workplace are interactions between the work environment, job content, organizational conditions with capacities, needs, culture, and personal considerations of workers that have the potential to affect health, work performance and job satisfaction. Psychosocial risks in the workplace have an impact on the physical, mental and social health of workers. The purpose of this study is to analyze psychosocial factors related to the level of psychosocial risk. This research was conducted at University X on employees in January-May 2022. This research is quantitative using a cross sectional study design with a sample of 188 respondents. Psychosocial risk data was taken using the Pandemic-Related Perceived Stress Scale of COVID-19 (PSS-10-C) instrument, psychosocial factor data was taken using a questionnaire that had passed the validity and reliability test using the COPSOQ III instrument and the NIOSH Generic Job Questionnaire. The results of this study indicate that in the home and social arenas there are no significant variables with the level of psychosocial risk. In the individual arena, age is significantly associated with the level of psychosocial risk. In the work arena, the variables that are significantly related to the level of psychosocial risk are years of service, WFH pattern, workload, role conflict, role ambiguity, job insecurity, work life balance. The most related variables are WFH pattern, role conflict, and work life balance.
Read More
T-6485
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ira Budi Hayati; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Mila Tejamaya, Arief Budiman
S-10462
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive