Ditemukan 39505 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Issfi Rahayu Faradila; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Deasy Martini
Abstrak:
Read More
Keragaman konsumsi pangan merupakan salah satu indikator kualitas pola makan yang berkaitan dengan kecukupan zat gizi mikro. Mahasiswi termasuk kelompok yang rentan mengalami pola konsumsi pangan yang kurang beragam akibat perubahan gaya hidup, peningkatan kemandirian, serta berbagai faktor sosial, lingkungan, dan individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan keragaman konsumsi pangan minimal serta faktor-faktor yang berhubungan pada mahasiswi S1 kesehatan dan non-kesehatan di Universitas Indonesia Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 264 mahasiswi yang terdiri atas 125 mahasiswi kesehatan dan 139 mahasiswi non-kesehatan. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dan pengukuran keragaman konsumsi pangan menggunakan Minimum Dietary Diversity for Women (MDD-W) berbasis food list-based method 24 hour. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan Fisher’s Exact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi mahasiswi dengan keragaman konsumsi pangan minimal beragam pada kelompok non-kesehatan (87,1%) lebih tinggi dibandingkan kelompok kesehatan (82,4%), namun tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok. Pada kelompok kesehatan, terdapat hubungan yang signifikan antara besar uang saku (p=0,028) dengan keragaman konsumsi pangan minimal. Sementara itu, pada kelompok non-kesehatan terdapat hubungan yang signifikan antara peran teman sebaya (p=0,021) dan akses terhadap makanan (p=0,016) dengan keragaman konsumsi pangan minimal. Variabel peran keluarga/orang tua, pengaruh penggunaan media sosial, tempat tinggal, ketersediaan makanan, tingkat pengetahuan gizi, dan tingkat stres tidak menunjukkan hubungan yang signifikan pada kedua kelompok, sedangkan besar uang saku tidak menunjukkan hubungan yang signifikan pada kelompok non-kesehatan (p>0,05). Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan proporsi keragaman konsumsi pangan minimal antara mahasiswi kesehatan dan non-kesehatan di Universitas Indonesia. Faktor yang berhubungan dengan keragaman konsumsi pangan minimal pada mahasiswi kesehatan adalah besar uang saku, sedangkan pada mahasiswi non-kesehatan adalah peran teman sebaya dan akses terhadap makanan. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan akses terhadap pangan yang beragam dan terjangkau, penguatan peran teman sebaya dalam promosi konsumsi pangan yang beragam di lingkungan perguruan tinggi.
Dietary diversity is one indicator of dietary quality related to micronutrient adequacy. Female college students are a group at risk of having less diverse dietary patterns due to lifestyle changes, increased independence, and various social, environmental, and individual factors. This study aims to determine differences in minimum dietary diversity and associated factors among undergraduate female students majoring in health and non-health fields at the University of Indonesia in 2026. This study employed a cross-sectional design involving 264 female students, comprising 125 health majors and 139 non-health majors. Data were collected via an online questionnaire, and dietary diversity was measured using the Minimum Dietary Diversity for Women (MDD-W) based on the 24-hour food list method. Data analysis was performed using the chi-square test and Fisher’s exact test. The results of the study show that the proportion of female students with at least a moderate level of dietary diversity in the non-health group (87.1%) was higher than in the health group (82.4%), but there was no significant difference between the two groups. In the health group, there was a significant association between the amount of allowance (p=0.028) and minimal dietary diversity. Meanwhile, in the non-health group, there were significant associations between the role of peers (p=0.021) and access to food (p=0.016) and minimal dietary diversity. The variables of family/parental role, the influence of social media use, place of residence, food availability, level of nutritional knowledge, and stress level did not show a significant association in either group, whereas the amount of pocket money did not show a significant association in the non-health group (p > 0.05). It can be concluded that there is no difference in the proportion of minimum dietary diversity between health and non-health female students at the University of Indonesia. The factor associated with minimum dietary diversity among health female students is the amount of pocket money, whereas among non-health female students, it is the role of peers and access to food. Therefore, efforts are needed to improve access to diverse and affordable food and to strengthen the role of peers in promoting diverse food consumption on college campuses.
S-12416
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Naila Afifah; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Triyanti, Deasy Martini
Abstrak:
Read More
Tablet Tambah Darah (TTD) merupakan suplemen gizi dengan kandungan zat besi setara 60 mg besi elemental dan 400 μg asam folat yang diberikan kepada Remaja Putri dan Wanita Usia Subur (WUS) yang bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan remaja putri dalam mengonsumsi TTD sehingga dapat menurunkan prevalensi anemia pada remaja putri (Simatupang dan Widiyarti, 2024). Namun, penerimaan atau tingkat kepatuhan konsumsi TTD masih menjadi isu yang kritis untuk diperhatikan. Penelitian yang dilakukan pada mahasiswi kesehatan dan non kesehatan di Universitas Jember dengan mayoritas mahasiswi berusia 23 tahun menunjukkan bahwa sebanyak 64,8% mahasiswi dari jurusan kesehatan dan 91,5% mahasiswi dari jurusan non kesehatan tidak teratur dalam mengonsumsi TTD (Dzati et al., 2024). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku dan hubungan status tinggal, sikap, pendidikan ibu, efek samping TTD, aksesibilitas TTD, media, dukungan keluarga, dukungan teman, dan dukungan tenaga kesehatan dengan perilaku konsumsi TTD pada mahasiswi kesehatan dan non kesehatan sarjana reguler di Universitas Indonesia tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan metode pengambilan sampel purposive sampling yang melibatkan 182 responden mahasiswi kesehatan dan non kesehatan sarjana reguler Universitas Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan perilaku konsumsi TTD pada mahasiswi kesehatan dan non kesehatan Sarjana Reguler Universitas Indonesia Tahun 2026, yaitu 86,8% pada mahasiswi kesehatan dan 82,4% pada mahasiswi non kesehatan. Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan tenaga kesehatan dengan perilaku konsumsi TTD pada mahasiswi kesehatan dan terdapat hubungan yang signifikan antara efek samping TTD, aksesibilitas TTD, dan dukungan keluarga dengan perilaku konsumsi TTD pada mahasiswi non kesehatan. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status tinggal, sikap, pendidikan ibu, media, dan dukungan teman dengan perilaku konsumsi TTD pada mahasiswi kesehatan dan non kesehatan. Dibutuhkan peningkatan kesadaran mahasiswi mengenai pentingnya konsumsi TTD sebagai upaya preventif anemia dan keterlibatan berbagai pihak dalam menyebarluaskan informasi mengenai TTD serta pendampingan terkait program konsumsi TTD pada mahasiswi di lingkungan kampus.
Iron-Folic Acid Tablets (IFAT) are nutritional supplements containing 60 mg of elemental iron and 400 μg of folic acid, distributed to adolescent girls and Women of Reproductive Age (WRA) with the aim of improving adherence to IFAT intake among adolescent girls, thus reducing the prevalence of anemia in this population (Simatupang dan Widiyarti, 2024). However, the acceptance or compliance rate for IFAT consumption remains a crucial issue that requires attention. A research of health and non-health majors at the University of Jember, with the majority of participants aged 23, showed that 64,8% of students in health-related majors and 91,5% of students in non-health-related majors did not consume IFAT consistently (Dzati et al., 2024). The purpose of this study is to analyze IFAT consumption behavior as well as the relationship between residential status, attitudes, mother's education, IFAT side effects, IFAT accessibility, media, family support, peer support, and healthcare provider support and IFAT consumption behavior among female undergraduate students in health and non-health majors at the University of Indonesia in 2026. This study used a cross-sectional design with purposive sampling, involving 182 respondents from female undergraduate students in health and non-health majors at the University of Indonesia. According to the study's findings, there is a difference in IFAT consumption behavior among female undergraduate students at the University of Indonesia in 2026, with 86,8% of health majors and 82,4% of non-health majors. There is a significant association between healthcare provider support and IFAT consumption behavior among female health students as well as between IFAT side effects, IFAT accessibility, and family support and IFAT consumption behavior among female non-health students. There is no significant association between residential status, attitudes, mother’s education, media, and peer support and IFAT consumption behavior among female health and non-health students. There is a need to increase awareness among female students about the necessity of consuming IFAT as a preventive step against anemia, as well as to involve various stakeholders in spreading information about IFAT along with providing guidance on IFAT consumption programs for female students on campus.
S-12457
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Jauza Nawal Hadi; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Asih Setiarini, Dian Kusumadewi
Abstrak:
Read More
Kerawanan pangan pada mahasiswa merupakan isu kesehatan masyarakat yang memiliki dampak buruk pada kesehatan dan performa akademik mahasiswa, terutama pada mahasiswa tahun pertama yang sedang mengalami masa transisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fakto-faktor yang berhubungan dengan status kerawanan pangan pada mahasiswa S1 Reguler tahun pertama Rumpun Ilmu Kesehatan dan Non-Kesehatan di Universitas Indonesia tahun 2026. Desain penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan pada bulan Mei 2026 menggunakan kuesioner daring dengan teknik convenience sampling. Sebanyak 312 responden dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi kerawanan pangan pada tahun pertama sebesar 40,7%. Analisis bivariat menunjukan adanya hubungan signifikan antara status sebagai generasi pertama yang berkuliah (p =0,001), tempat tinggal (p=0,005), jenis kelamin (p=0,015), dan uang saku (p=0,045) dengan status kerawanan pangan. Hasil analisis multivariat menunjukkan mahasiswa yang tinggal secara indekos memiliki risiko 3,074 kali lebih besar untuk mengalami kerawanan pangan dibandingkan mahasiswa yang tinggal dengan orang tua (p= 0,000; 95% CI = 1.738 – 5.437). Oleh karena itu, Universitas Indonesia perlu menginisiasi program berupa hunian mahasiswa adaptif berbasis kemampuan finansial mahasiswa guna memitigasi risiko kerawanan pangan tersebut.
Food insecurity among university students represents a critical public health issue that adversely affects both health outcomes and academic performance, particularly among first-year students navigating transitional life stages. This study aims to determine the factors associated with food insecurity status among first-year regular undergraduate students across the Health and Non-Health Sciences clusters at Universitas Indonesia in 2026. A quantitative research design with a cross-sectional approach was employed. Data were collected in May 2026 using an online questionnaire distributed via convenience sampling. A total of 312 valid respondents were analyzed utilizing Chi-square tests and multiple logistic regression. The findings revealed that the prevalence of food insecurity among first-year students was 40.7%. Bivariate analysis indicated significant associations between food insecurity status and being a first-generation college student (p = 0.001), place of residence (p = 0.005), gender (p = 0.015), and monthly allowance (p = 0.045). Furthermore, multivariate analysis demonstrated that students living in off-campus housing faced a 3.074 times higher risk of experiencing food insecurity compared to those residing with their parents (p = 0.000; 95% CI = 1.738 - 5.437). Consequently, Universitas Indonesia needs to initiate adaptive student housing programs tailored to students' financial capacities as a targeted intervention to mitigate the risk of food insecurity.
S-12414
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
kristina adjie; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Sada Rasmada
Abstrak:
Read More
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan asupan zat besi mahasiswi berdasarkan faktor konsumsi (konsumsi lauk hewani, konsumsi lauk nabati, konsumsi sayur-sayuran, konsumsi buah-buahan, konsumsi Ultra Processed Food) dan faktor individu (Sikap terhadap konsumsi daging merah, pengaruh sosial media, pengetahuan gizi, uang saku, jenis tempat tinggal). Desain dari penilitian ini adalah cross-sectional dengan 147 responden mahasiswi S1 Reguler Fakultas Kesehatan Masyarakat Angkatan 2021, 2022, 2023. Pemilihan responden dilakukan berdasarkan simple random sampling dan pengambilan data adalah secara daring dengan Zoom. Pengerjaan kuesioner penelitian adalah menggunakan Google Form, dan Spreadsheet untuk Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire. Data yang diperoleh dianalisis dengan metode Uji T Independen. Hasil analisis univariat menemukan bahwa rata-rata asupan zat besi adalah 15.35±7.30 mg per hari dengan 70.1% mahasiswi belum mencukupi kebutuhan zat besi mereka. Penelitian ini menemukan bahwa terdapat perbedaaan asupan zat besi brdasarkan konsumsi lauk hewani, konsumsi lauk nabati, konsumsi sayur-sayuran, konsumsi buah-buahan, konsumsi Ultra Processed Food, dan jenis tempat tinggal.
This study aims to determine the differences in iron intake among female college students based on consumption factors (animal-based side dishes, plant-based side dishes, vegetables, fruits, Ultra Processed Food) and individual factors (attitude towards red meat consumption, social media influence, nutrition knowledge, allowance, type of residence). The design of this study is cross-sectional, involving 147 undergraduate regular students from the Faculty of Public Health class of 2021, 2022, and 2023. Respondents were selected based on simple random sampling, and data collection was conducted online using Zoom. The research questionnaire was administered using Google Forms and Spreadsheets for the Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire. The data obtained were analyzed using the Independent T-Test method. Univariate analysis results showed that the average iron intake was 15.35±7.30 mg per day, with 70.1% of the female students not meeting their iron requirements. The study found differences in iron intake based on the consumption of animal-based side dishes, plant-based side dishes, vegetables, fruits, Ultra Processed Food, and type of residence.
S-11663
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Adeline Vashtianada; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Fajrinayanti
Abstrak:
Read More
Ultra-processed food/UPF merupakan produk yang melalui serangkaian teknik dan proses industri serta memiliki nilai zat gizi yang rendah. Apabila dikonsumsi secara berlebihan, UPF dapat meningkatkan risiko berat badan lebih dan obesitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan proporsi konsumsi UPF berdasarkan karakteristik individu, faktor lingkungan, dan faktor gaya hidup pada mahasiswa S1 non-kesehatan Universitas Indonesia tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 149 sampel. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner online yang diisi secara mandiri. Data yang diperoleh akan dianalisis secara univariat dan bivariat (chi-square). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 50,3% mahasiswa mengonsumsi UPF tingkat tinggi. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat perbedaan proporsi yang signifikan antara pengaruh teman sebaya dan akses terhadap UPF dengan tingkat konsumsi UPF. Peneliti menyarankan mahasiswa untuk meningkatkan kesadaran terkait pemilihan makanan dan minuman serta menjadi penggerak dalam lingkungan teman sebaya terkait hal tersebut. Pihak Universitas Indonesia dapat memberikan edukasi dan membuat ketentuan terkait UPF dan konsumsi makanan sehat kepada mahasiswa. Pemangku kebijakan dapat meningkatkan dalam penyampaian pesan kesehatan, mendukung lembaga pendidikan, dan mendukung penelitian terkait pola makan mahasiswa dan faktor-faktor yang memengaruhi konsumsi UPF. Peneliti selanjutnya dapat meneliti pada populasi lain dengan variabel dan teknik yang berbeda.
Ultra-processed food/UPF is a product that undergoes a series of industrial techniques and processes and has low nutritional value. Overconsumption of UPF can increase the risk of overweight and obesity. The purpose of this study is to determine the differences in the proportion of UPF consumption based on individual characteristics, environmental factors, and lifestyle factors among non-health undergraduate students in Universitas Indonesia in 2023. A cross sectional study design conducted on 149 samples. The data was collected using a self-administered online questionnaire. The data was analyzed using univariate and bivariate (chi-square) analyses. The results showed that 50,3% of the students consumed a high level of UPF. The bivariate analysis showed a significant difference in the proportion of UPF consumption based on peer influence and access to UPF. The researchers suggest students to increase awareness of food and beverage choices, also become advocates within their peer groups regarding this matter. Universitas Indonesia should implement health education and make provisions regarding UPF and healthy food consumption for students. Policymakers suggested to improve the delivery of health messages to students, support educational institutions, and support research on students’ dietary patterns and factors influencing UPF consumption. Future researchers can examine other populations with different variables and methods.
S-11414
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Raihani Ramadhan; Pembimbing: Wahyu Kurnia Yusrin Putra; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Khoirul Anwar
Abstrak:
Read More
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui prevalensi serta perbedaan proporsi dismenore primer berdasarkan durasi perdarahan saat menstruasi, riwayat keluarga, aktivitas fisik, stres, kebiasaan sarapan, frekuensi konsumsi lemak jenuh, konsumsi omega-3, konsumsi zat besi, frekuensi konsumsi produk susu, konsumsi kafein, dan frekuensi konsumsi gula tambahan pada mahasiswa S1 FKM UI Tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dan dilakukan pada 150 mahasiswa S1 Reguler angkatan 2019-2022 S1 FKM UI yang terpilih melalui teknik sampling systematic random sampling di bulan Mei 2023. Pengisian kuesioner dilakukan secara daring melalui google form dan spreadsheet. Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis dengan uji chi square dan regresi logistik ganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa 61,3% mahasiswi mengalami dismenore primer. Hasil analisis bivariat juga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan proporsi dismenore primer yang signifikan berdasarkan riwayat keluarga, konsumsi kafein, dan frekuensi konsumsi gula tambahan. Analisis multivariat menunjukkan bahwa frekuensi konsumsi gula tambahan merupakan faktor dominan terhadap kejadian dismenore primer pada mahasiswi S1 FKM UI tahun 2023.
The focus of this study is to determine the prevalence and differences in the proportion of primary dysmenorrhea based on bleeding duration during menstruation, family history, physical activity, stress, breakfast habits, frequency of saturated fat intake, omega-3 intake, iron intake, frequency of dairy products intake, caffeine intake, and frequency of added sugars intake in undergraduate students at Faculty of Public Health, Universitas Indonesia in 2023. This cross-sectional study was conducted on 150 female students in class 2019-2022 from the Faculty of Public Health, Universitas Indonesia, who were chosen by using a systematic random sampling approach in May 2023. The data was collected online by filling out the Google form and spreadsheet. The obtained data were then analyzed using chi-square and multiple logistic regression tests. The univariate analysis resulted in 61,3% of female students experiencing primary dysmenorrhea. The bivariate analysis also shows significant differences in the proportion of primary dysmenorrhea based on family history, caffeine, and frequency of added sugars intake. According to the multivariate analysis, the frequency of added sugars intake is the dominant factor influencing primary dysmenorrhea among Undergraduate Students at the Faculty of Public Health, Universitas Indonesia in 2023.
S-11375
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Patrisha Ramadhiani; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Sandra Fikawati, Fitri Hudayani
Abstrak:
Read More
Minuman kopi merupakan salah satu sugar sweetened beverages, dibuat dari bubuk kopi, gula dan air melalui proses pemanasan. Konsumsi minuman kopi yang tinggi berkaitan dengan kandungan gulanya yang dapat meningkatkan risiko obesitas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perbedaan proporsi tingkat konsumsi minuman kopi berdasarkan karakteristik individu dan faktor lingkungan pada mahasiswa non-kesehatan Universitas Indonesia tahun 2023. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 181 mahasiswa aktif S1 non-kesehatan tahun 2023. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juni 2023 melalui pengisian kuesioner secara mandiri. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil menunjukkan bahwa sebanyak 52,5% responden memiliki tingkat konsumsi minuman kopi yang tinggi (≥ 3-4 kali seminggu). Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat perbedaan proporsi signifikan konsumsi minuman kopi berdasarkan perilaku merokok, pengaruh teman, ketersediaan, serta aksesibilitas (p-value < 0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa pengaruh teman adalah faktor dominan yang mempengaruhi konsumsi minuman kopi mahasiswa. Peneliti menyarankan mahasiswa untuk meningkatkan kesadaran dan mengajak lingkungan pertemanannya untuk membatasi konsumsi minuman kopi. Peneliti juga menyarankan bagi institusi kesehatan untuk dapat memberikan edukasi dan informasi mengenai batas aman konsumsi.
Coffee drinks are sugar-sweetened beverages made from coffee powder, sugar, and water, through a heating process. High consumption of coffee drinks is associated with the sugar content, which can increase the risk of obesity. The aim of this study was to determine the differences in coffee drinks consumption levels based on individual characteristics and environmental factors among non-health undergraduate students at the University of Indonesia in 2023. This quantitative study used a cross-sectional design with a sample of 181 active undergraduate non-health students in 2023. Data were collected in June 2023 through self-administered. The results showed that 52.5% of the respondents had a high level of coffee drink consumption (≥ 3-4 times per week). Bivariate analysis revealed significant differences in coffee drinks consumption based on smoking behavior, peer influence, availability of coffee at home, and accessibility (p-value < 0.05). Multivariate analysis indicated that peer influence was the dominant factor influencing students' coffee drink consumption. The researchers suggest students increase their awareness and encourage their social circle to limit excessive coffee consumption. Additionally, relevant health institutions are advised to provide education, increase information about recommended limits of coffee consumption.
S-11413
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Jusephina; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Fatmah, Marudut
Abstrak:
Literasi gizi adalah tingkatan dimana seseorang memiliki kapasitas untuk menperoleh, memproses, dan memahami informasi dasar seputar gizi. Literasi gizi dapat memengaruhi pembentukan pola makan pada usia remaja dan dewasa muda. Skripsi ini meneliti tingkat literasi gizi pada mahasiswa untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengannya, antara lain jenis kelamin, rumpun ilmu kesehatan dan non kesehatan, dan tingkat uang saku. Desain studi yang digunakan adalah cross sectional kepada 373 mahasiswa sarjana Universitas Indonesia angkatan 2017 dengan menggunakan instrumen kuesioner yang terdiri dari tiga domain literasi fungsional, interaktif, dan kritikal. Data dianalisis dengan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan 47.2% responden memiliki literasi gizi tidak adekuat. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan bermakna antara rumpun ilmu kesehatan dan non kesehatan dengan tingkat literasi gizi total (p = 0.000, OR = 4.6). Rumpun ilmu kesehatan dan non kesehatan juga berhubungan bermakna dengan literasi gizi fungsional (p = 0.000, OR = 2.9), dengan literasi gizi interaktif (p = 0.002, OR = 2.5), dan dengan literasi gizi kritikal (p = 0.001, OR = 2.7). Kata kunci: Jenis Kelamin, Literasi gizi, Mahasiswa sarjana tahun pertama, Rumpun ilmu kesehatan dan non kesehatan, Uang saku. Nutrition literacy is defined as the degree to which individual has the capacity to obtain, process, and understand about basic nutrition information. Nutrition literacy can affect the formation of different diet in adolescents and young adults. This thesis examines the level of nutrition literacy among first-year undergraduate students to know about the factors associated with it, including gender, clusters of health and non-health science, and allowance. This study used cross-sectional design to 373 first-year undergraduate students in University of Indonesia by using the questionnaire instrument consisting of three domains: functional, interactive, and critical. Data were analyzed by chi-square test. The result showed that 47,2% of respondents had inadequate nutrition literacy. The result of bivariate analysis showed that there is a significant correlation between health science and non health science cluster with the total nutrition literacy rate (p = 0.000, OR = 4.6). Health science and non health science cluster were also significantly associated with the functional nutrition literacy (p = 0.000, OR = 2.9), interactive nutrition literacy (p = 0.002, OR = 2.5), and critical nutrition literacy (p = 0.001, OR = 2.7). Key words: Allowance, First-year undergraduate students, Gender, Health science and non health science cluster, Nutrition Literacy
Read More
S-9748
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dinda Elaphria Permatahati Betaputri; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Cesilia Meti Dwiriani
Abstrak:
Sugar-sweetened beverages dengan kandungan gula tambahan yang tinggi energi namun rendah nilai gizi, jika dikonsumsi berlebihan dapat menyebabkan obesitas dan penyakit tidak menular lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan frekuensi konsumsi SSB berdasarkan status merokok, tingkat stres, karakteristik individu, dan faktor lingkungan pada mahasiswa non-kesehatan Universitas Indonesia tahun 2022. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan jumlah sampel 221 orang. Data diambil melalui pengisian kuesioner online secara mandiri oleh responden. Data akan dianalisis secara univariat dan bivariat (chi-square). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 67,4% mahasiswa non-kesehatan Universitas Indonesia mengonsumsi SSB dalam tingkat tinggi (≥2x/minggu). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat perbedaan proporsi yang signifikan antara keterpaparan media promosi SSB, ketersediaan SSB di tempat tinggal, dan status rokok dengan tingkat konsumsi SSB. Peneliti menyarankan agar mahasiswa lebih memperhatikan jumlah SSB yang dikonsumsi dan dapat memilih alternatif minuman lain. Produsen SSB disarankan untuk dapat mencantumkan informasi nilai gizi pada SSBnya, terutama bagi perusahaan SSB waralaba. Peneliti juga menyarankan bagi pemangku kebijakan, untuk dapat mencanangkan informasi nilai gizi dalam bentuk yang lebih mudah dibaca, terutama untuk mengetahui kandungan gula di dalam produk
Read More
S-10906
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hannah Silvia; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, ingrid S. Surono
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungandengan konsumsi pangan probiotik pada mahasiswi Program Studi Gizi FakultasKesehatan Masyarakat Universitas Indonesia tahun 2011. Penelitian ini adalahpenelitian kuantitatif dengan menggunakan desain studi cross sectional danpengambilan sampel dilakukan dengan cara sampel jenuh pada mahasiswiProgram Studi Gizi seluruh angkatan. Hasil penelitian menunjukkan konsumsiterakhir pangan probiotik pada > 4 minggu lalu sebesar 37,4%, disusul olehresponden yang mengonsumsi pangan probiotik pada < 2 minggu lalu yakni34,6%, konsumsi 2-4 minggu lalu sebesar 27,9%. Pihak yang menganjurkankonsumsi adalah inisiatif sendiri yakni 86,3%, sebagian besar mengakumerasakan manfaat dari konsumsi probiotik yakni 56,9%, tidak melihatsaran/petunjuk pemakaian produk yakni sebesar 72,1%, dan respondenmengkonsumsi dua merek produk pangan probiotik sebesar 50,3%. Rata-rata skorpengetahuan responden mengenai probiotik adalah 38,84 poin dari skor maksimal80 poin. Sebanyak 44,7% memiliki uang saku Rp.0-Rp 500.000, memiliki skoraktivitas fisik 0,7184, tidak memiliki riwayat konstipasi dalam satu bulan terakhirsebesar 83,1%, dan memiliki rata-rata frekuensi keterpaparan media promosimengenai probiotik sebanyak 29,15 kali dalam satu bulan.Hubungan yang bermakna hanya ditemui pada variabel aktivitas fisik(p=0,016), sedangkan variabel lainnya tidak memiliki hubungan yang signifikanyakni hubungan konsumsi pangan probiotik sebagai variabel dependent denganpengetahuan (p=0,173), besar uang saku (p=0,695), riwayat konstipasi dalam satubulan terakhir (p=0,915), dan media promosi probiotik (p=0,833) sebagai variabelindependen. Dibutuhkan penelitian lanjutan pada kelompok usia yang berbedadengan penambahan variabel penelitian seperti kebiasaan makan.Kata kunci: pangan probiotik
This study aims to determine the factors associated with the consumptionof probiotic foods in female students of Nutrition Program of Public HealthFaculty at the University of Indonesia in 2011. This study is a quantitative studyusing cross-sectional study design and sampling is done by saturated sampling ofstudents at Nutrition Program Study throughout the year. The result showed finalconsumption of probiotic foods in > 4 weeks ago are 37,4%, followed byrespondents who consumed probiotic foods at < 2 weeks ago are 34,6%,consumption of 2-4 weeks ago are 27,9%. Students that promote the consumptiontheir own initiative are 86,3%, most claim to feel the benefits of probiotic foodsconsumption are 56,9%, did not see a suggestion/user of products are 72,1%, andthe respondents consume two brands of probiotic food products are 50,3%. Anaverage score of knowledge about probiotics is 38,84 points from 80 maximumpoints. A total of 44,7% had an allowance (per month) of Rp.0-Rp.500.000, anaverage score of physical activity are is 0,7184, no history of constipation in thepast month are 83,1%, and has an average 29,15 time in a month of exposure tomedia promotion of probiotics.A significant association was only found on the variable of physicalactivity (p=0,016), whereas other variables had no significant relationship whichis the relationship of food consumption of probiotic foods as a dependent variablewith knowledge, (p=0,173), large pocket money (p=0,695), history of constipationin the past month (p=0,915), and media promotion (p=0,833) as independentvariables. Further research is needed in different age groups with the addition ofthe study variables such as eating habit.Key words: probiotic foods
Read More
This study aims to determine the factors associated with the consumptionof probiotic foods in female students of Nutrition Program of Public HealthFaculty at the University of Indonesia in 2011. This study is a quantitative studyusing cross-sectional study design and sampling is done by saturated sampling ofstudents at Nutrition Program Study throughout the year. The result showed finalconsumption of probiotic foods in > 4 weeks ago are 37,4%, followed byrespondents who consumed probiotic foods at < 2 weeks ago are 34,6%,consumption of 2-4 weeks ago are 27,9%. Students that promote the consumptiontheir own initiative are 86,3%, most claim to feel the benefits of probiotic foodsconsumption are 56,9%, did not see a suggestion/user of products are 72,1%, andthe respondents consume two brands of probiotic food products are 50,3%. Anaverage score of knowledge about probiotics is 38,84 points from 80 maximumpoints. A total of 44,7% had an allowance (per month) of Rp.0-Rp.500.000, anaverage score of physical activity are is 0,7184, no history of constipation in thepast month are 83,1%, and has an average 29,15 time in a month of exposure tomedia promotion of probiotics.A significant association was only found on the variable of physicalactivity (p=0,016), whereas other variables had no significant relationship whichis the relationship of food consumption of probiotic foods as a dependent variablewith knowledge, (p=0,173), large pocket money (p=0,695), history of constipationin the past month (p=0,915), and media promotion (p=0,833) as independentvariables. Further research is needed in different age groups with the addition ofthe study variables such as eating habit.Key words: probiotic foods
S-7664
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
