Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34594 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ahmad Alfian Rahza; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Abdul Kadir, Yudi Ramdani
Abstrak:
Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan salah satu upaya yang dilakukan perusahaan untuk meningkatkan pengetahuan, membentuk sikap, dan mendorong perilaku kerja yang aman guna mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Namun, efektivitas pelatihan K3 perlu dievaluasi untuk mengetahui sejauh mana tujuan pelatihan telah tercapai. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pelatihan K3 berdasarkan aspek Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku (PSP) pada pekerja subkontraktor di PT. X tahun 2026. Penelitian ini menggunakan mixed methods dengan desain penelitian triangulasi konkuren (concurrent triangulation) pada 21 pekerja. Data kuantitatif diperoleh melalui nilai pre-test dan post-test, dan kuesioner, sedangkan data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara pada pekerja, wawancara pada pengawas, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh kelompok pelatihan mengalami peningkatan pengetahuan setelah pelatihan. Variabel pengetahuan dan sikap umumnya berada pada kategori baik, sedangkan perilaku menunjukkan hasil yang lebih bervariasi. Berdasarkan evaluasi PSP, tiga pelatihan tergolong efektif dan tiga pelatihan tergolong efektif parsial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelatihan K3 di PT. X efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan membentuk sikap keselamatan kerja pekerja. Namun, perubahan perilaku keselamatan kerja belum terjadi secara optimal pada seluruh kelompok pelatihan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan melalui pengawasan, pembinaan, dan monitoring berkelanjutan untuk meningkatkan konsistensi perilaku keselamatan kerja di lapangan.

Occupational Safety and Health (OHS) training is one of the efforts undertaken by companies to improve knowledge, shape attitudes, and encourage safe work behaviors to prevent workplace accidents. However, the effectiveness of OHS training needs to be evaluated to determine the extent to which training objectives have been achieved. This study aims to evaluate the effectiveness of OHS training based on the Knowledge, Attitude, and Practice (KAP) aspects of subcontractor workers at PT. X in 2026. This study used a mixed methods design with a concurrent triangulation design on 21 workers. Quantitative data were obtained through pre- and post-test scores, and questionnaires, while qualitative data were collected through worker interviews, supervisor interviews, and observations. The results showed that all training groups experienced an increase in knowledge after the training. Knowledge and attitude variables generally categorized as good, while behavior showed more variable results. Based on the PSP evaluation, three training courses were classified as effective and three training courses were classified as partially effective. This study concluded that OHS training at PT. X was effective in improving workers' knowledge and shaping occupational safety attitudes. However, changes in occupational safety behavior have not been optimally achieved across all training groups. Therefore, strengthening is needed through continuous supervision, coaching, and monitoring to improve the consistency of work safety behavior in the field.
Read More
S-12435
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Age Bunga Perdana; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Abdul Kadir, Barmanto
Abstrak:
Kecelakaan kerja masih menjadi isu penting di tempat kerja, termasuk di PT X, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi. Salah satu upaya preventif yang dilakukan adalah pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja (safety training) bagi pekerja lapangan. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas safety training dalam meningkatkan pengetahuan K3 pada pekerja lapangan PT X tahun 2025. Penelitian menggunakan mix method dengan desain pre-eksperimental (One Group Pre-Test Post-Test) pada 55 peserta pelatihan. Data kuantitatif diperoleh melalui pre-test, post-test, dan kuesioner kepuasan, sedangkan data kualitatif dikumpulkan melalui observasi dan telaah dokumen. Analisis statistik dilakukan dengan paired sample t-test, sementara data kualitatif dianalisis secara deskriptif berdasarkan model evaluasi CIRO (Context, Input, Reaction, Outcome). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata pengetahuan K3 dari 87,64 pada pre-test menjadi 92,73 pada post-test atau naik 5,81% dengan perbedaan yang signifikan (p < 0,05). Seluruh peserta (100%) mencapai nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 70. Rata-rata kepuasan peserta terhadap pelatihan mencapai 4,14 (kategori tinggi), dengan penilaian tertinggi pada kompetensi instruktur. Evaluasi aspek konteks dan input menunjukkan bahwa pelatihan sesuai kebutuhan, difasilitasi dengan baik, dan disampaikan oleh instruktur kompeten. Secara keseluruhan, safety training dinyatakan efektif dalam meningkatkan pengetahuan K3.

Workplace accidents remain a major concern, including at PT X, a company engaged in the telecommunications sector. One preventive effort implemented is occupational health and safety (OHS) training for field workers. This study aims to analyze the effectiveness of safety training in improving OHS knowledge among field workers at PT X in 2025. A mixed-method approach was used with a pre-experimental design (One Group Pre-Test Post-Test) involving 55 training participants. Quantitative data were collected through pre-tests, post-tests, and satisfaction questionnaires, while qualitative data were gathered through observation and document review. Statistical analysis was conducted using the paired sample t-test, and qualitative data were analyzed descriptively based on the CIRO evaluation model (Context, Input, Reaction, Outcome). Results showed an increase in the average OHS knowledge score from 87.64 (pre-test) to 92.73 (post-test), representing a 5.81% improvement, with a statistically significant difference (p < 0.05). All participants (100%) achieved scores above the minimum passing criteria (≥ 70). The average satisfaction score was 4.14 (high category), with the highest rating in instructor competence. Evaluation of the context and input aspects indicated that the training was relevant, well-facilitated, and delivered by competent instructors. Overall, the safety training was effective in enhancing workers’ OHS knowledge.
Read More
S-11990
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Umar Mulkhan Fajar; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra, Putri Ayuni Alayyannur
Abstrak:
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor dengan risiko keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tertinggi di dunia, namun implementasi K3 di kalangan petani di Indonesia masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran pengetahuan, sikap, dan praktik pencegahan kecelakaan kerja pada petani aktif di Desa X, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan melibatkan seluruh 54 petani aktif anggota kelompok tani sebagai responden melalui metode total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur yang terdiri atas instrumen pengetahuan (11 item, skala dikotomi), sikap (7 item, skala Likert 4 poin), dan praktik (12 item, skala frekuensi 4 poin) mengenai pencegahan kecelakaan kerja. Analisis data dilakukan secara univariat menggunakan distribusi frekuensi dan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (83,3%) dengan rata-rata usia 52,5 tahun dan rata-rata masa kerja 21,0 tahun. Sebanyak 57,4% responden belum pernah memperoleh informasi mengenai pencegahan kecelakaan kerja dan 33,3% pernah mengalami kecelakaan kerja. Dari sisi pengetahuan, sebagian besar responden (59,3%) tergolong memiliki pengetahuan yang baik tentang pencegahan kecelakaan kerja (skor ≥8 dari 11) dengan mean 7,52 (SD ± 2,55), meskipun pengetahuan terendah ditemukan pada aspek keselamatan kelistrikan (46,3%) dan membaca petunjuk penggunaan mesin (55,6%). Dari sisi sikap, sebanyak 57,4% responden memiliki sikap positif terhadap pencegahan kecelakaan kerja (mean 21,28; SD ± 3,84) berdasarkan cut-off mean setelah uji normalitas Shapiro-Wilk. Dari sisi praktik, hanya 37,0% responden yang tergolong memiliki praktik pencegahan kecelakaan kerja yang baik (skor ≥36 dari 48) dengan mean 30,39 (SD ± 8,05). Praktik terendah ditemukan pada pencatatan penggunaan pestisida (68,5% tidak pernah) dan perlindungan kelistrikan mesin (50,0% tidak pernah). Terdapat kesenjangan antara pengetahuan dan sikap yang relatif lebih baik dibandingkan dengan praktik pencegahan kecelakaan kerja yang masih rendah. Temuan ini mengindikasikan perlunya intervensi yang tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada penguatan faktor pendukung (enabling factors) dan peningkatan akses terhadap alat pelindung diri guna mendukung penerapan pencegahan kecelakaan kerja di kalangan petani.

The agricultural sector is one of the industries with the highest occupational safety and health (OSH) risks worldwide. However, the implementation of occupational safety and health (OSH) among farmers in Indonesia remains suboptimal. This study aimed to describe the knowledge, attitudes, and practices regarding occupational accident prevention among active rice farmers in Village X, Rancaekek District, Bandung Regency. A descriptive study with a quantitative approach was conducted involving all 54 active members of farmer groups using a total sampling method. Data were collected using a structured questionnaire consisting of a knowledge instrument (11 dichotomous items), an attitude instrument (7 items on a 4-point Likert scale), and a practice instrument (12 items on a 4-point frequency scale) related to occupational accident prevention. Data were analyzed using univariate analysis with frequency distributions and descriptive statistics. The results showed that most respondents were male (83.3%), with a mean age of 52.5 years and an average working experience of 21.0 years. A total of 57.4% of respondents had never received information regarding occupational accident prevention, while 33.3% had experienced a work-related accident. Regarding knowledge, most respondents (59.3%) demonstrated good knowledge of occupational accident prevention (score ≥8 out of 11), with a mean score of 7.52 (SD ± 2.55). The lowest levels of knowledge were found in electrical safety (46.3%) and reading machine operating instructions (55.6%). Regarding attitudes, 57.4% of respondents demonstrated positive attitudes toward occupational accident prevention (mean = 21.28, SD ± 3.84), based on the mean cut-off after the Shapiro-Wilk normality test. Regarding practices, only 37.0% of respondents demonstrated good occupational accident prevention practices (score ≥36 out of 48), with a mean score of 30.39 (SD ± 8.05). The poorest practices were related to recording pesticide use (68.5% never performed) and protecting machinery electrical systems (50.0% never performed). A noticeable gap was observed between respondents' relatively good knowledge and attitudes and their poor occupational accident prevention practices. These findings indicate the need for interventions that not only improve knowledge but also strengthen enabling factors and increase access to personal protective equipment to support the implementation of occupational accident prevention among farmers.
Read More
S-12373
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Tri Rizki Febriansyah; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra, Putri Ayuni Alayyannur
Abstrak:
Kondisi kerja di sektor pertanian masih ditandai oleh rendahnya pengetahuan, sikap, dan praktik keselamatan dan kesehatan kerja (K3), keterbatasan penyediaan alat pelindung diri, jam kerja yang panjang dan tidak teratur, serta beban kerja yang tinggi dengan upah yang relatif rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik individu dengan pengetahuan, sikap, dan praktik K3 pada petani padi di Desa Haurpugur, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional dan metode survei analitik. Analisis data dilakukan secara bivariat menggunakan uji Chi-Square. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara langsung kepada petani padi menggunakan kuesioner terstruktur pada Mei-Juni 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia, tingkat pendidikan, dan pengalaman penyuluhan dengan pengetahuan K3. Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan sikap K3, serta antara pengalaman penyuluhan dengan praktik K3. Penelitian ini menyimpulkan bahwa beberapa karakteristik individu berhubungan dengan pengetahuan, sikap, dan praktik K3 pada petani padi. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan penerapan K3 melalui penguatan program penyuluhan pertanian serta dukungan kebijakan dari instansi terkait yang mempertimbangkan karakteristik individu petani padi guna mendorong terbentuknya perilaku kerja yang lebih aman di sektor pertanian.

Working conditions in the agricultural sector continue to be characterized by inadequate occupational safety and health (OHS) knowledge, attitudes, and practices, limited availability of personal protective equipment (PPE), long and irregular working hours, and high workloads accompanied by relatively low wages. This study aimed to analyze the association between individual characteristics and OHS knowledge, attitudes, and practices among rice farmers in Haurpugur Village, Rancaekek District, Bandung Regency. A quantitative approach with a cross-sectional study design and an analytical survey method was employed. Bivariate data analysis was performed using the Chi square test. Data were collected through face-to-face interviews with rice farmers using a structured questionnaire between May and June 2026. The findings revealed significant associations between age, educational level, and participation in agricultural extension programs and OHS knowledge. In addition, significant associations were found between sex and OHS attitudes, as well as between participation in agricultural extension programs and OHS practices. This study concludes that several individual characteristics are associated with OHS knowledge, attitudes, and practices among rice farmers. Therefore, efforts to improve OHS knowledge and its implementation should be strengthened through enhanced agricultural extension programs and policy support from relevant institutions that take farmers' individual characteristics into account in order to promote safer work practices in the agricultural sector.
Read More
S-12382
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Santia Saptinary; Pembimbing: Ridwan Z. Sjaaf; Penguji: Robiana Modjo, Chandra Prijanahadi
Abstrak:
Keselamatan penerbangan merupakan salah satu isu nasional yang sedang menjadi objek pennasalahan dalam dunia keselamatan dan kesehatan ke1ja. Berbagai penycbab dapat saja dgadikan lingkup penelitian dalam mengatasi permasalahan tersebut_ Salah satunya adalah mempertanyakan kembali kualitas sumber daya manusia yang mengoperasikan alctifitas penerbangan tersebut. Keselamatan penerbangan memang menjadi titik awal dan titik akhir dari setiap aktifitas penerbangan. Namun dalam kenyataanya pelatihan yang secara tend adalah kunci daripada penilaian kualitas SDM, tcmyata masih belum memiliki data yang dapat mcmbuktikan keberhasilan pelaksanaan pelatihan. Dengan pcnelitian ini diharapkan akan mernberikan data awal tentang peranan pelatihan keselamatan dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap keselamatan penerbangan. Pemilihan mang lingkup penelitian pengetahuan dan sikap karena pengaruh daripada pelatihan memang hanya dapat mengukur pengetahuan dan sikap pescrfanya. Sedangkan alat ukm' yang digunakan adalah kuesioner yang diisi oleh peserta secara pre dan post. Artinya terdapat dua kali pengukuran dengan alat ukur yang sama. Hal ini dimaksudkan untuk melihat pengaruh intervensi yang dibcrikan yaitu pelatihan. Hasil yang didapatkan membuktikan bahwa pelatihan yang dibcxikan dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap peserta. Walaupun tidak terdapat detail basil pcnelitian apakah peningkatannya sudah sesuai dengan tujuan ataupun standar secara nasional maupun internasional. Namun pcnelitan ini juga membcrikan bebezapa kesimpulan dan saran yang diharapkan akan terus berlanjut dalam meningkatkan keselamatan penerbangan sebagai salah satu upaya mengaiasi pcrmasalahan yang telah dimmgkapkan diatas. Kesimpulan dari penelitian ini antara Iain bahwa melalui proses pelatihan, pengetahuan dan sikap individu dapat ditingkatican sesuai dengan tujuan pelatihan secara khusus dan pencapaian program secara umum. Pelatihan sendiri harus diperbaiki dari waktu ke walctu, baik dalam hal metoda maupun matcri pelatihan. Oleh sebab itu, evaluasi pelatihzm harus dilakukan secara berkala. Hal ini sangat pcnting karena pelatihan merupakan elemcn penting dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang merupakzm aset utama bagi perusahaan penerbangan.

Aviation Safety is a national issue that has become an object in the occupational health and safety world. There are many aspects that can become scope of research in terms of addressing the problem. One of them is to inquire the human resources quality who operate the flight activities. Safety is the starting, as well as the ending, point from each flight. But as a matter of fact, training, that theoretically is the key in judging the human resources ability, still has no information yet that can prove the succeed ofa training. This research is expected to come up with initial data about the role of safety training in improving the knowledge and flight safety attitude. Knowledge and attitude is chosen under consideration that the impact of training can only measure those two aspects of the trainees. A questioner that is filled by the trainees before and aller training would be measurement instruments. It means that there are two measurements with the same instrument. This is for us to see the impact of intervention that is training. The result shows that training can improve knowledge and attitude of the trainees, though there is no detail result whether the improvement is already suited with the purpose or national and international standard. However, this research also comes up with conclusions and suggestions that should be continued in improving flight safety as an effort inaddressing the problems mentioned above. One of the conclusions of this research is that through training process, knowledge and individual attitude can be improved in line with the purpose of the training and generally, program achievements. Training itself should he improved from time to time, both content and method, therefore training evaluation should be conducted frequently. This is very important as it is seen that training is an important element in improving the quality of human resources as main asset for the aviation company.
Read More
T-2546
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syifa Putri Mahirah; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Abdul Kadir, Maemuna
Abstrak:
Sektor konstruksi masih menjadi salah satu sektor dengan angka kecelakaan tertinggi. Sebagian besar kecelakaan tersebut berhubungan dengan kejadian unsafe action yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya yaitu safety climate. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis safety climate berdasarkan karakteristik organisasi, pekerjaan, dan individu pada Proyek Infrastruktur Y PT X yang belum pernah melakukan penilaian safety climate. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Sebanyak 192 sampel ditentukan menggunakan teknik stratified random sampling dan data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang diadaptasi dari NOSACQ-50. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Proyek Y PT X memperoleh skor rata-rata sebesar 3,28 dan termasuk dalam kategori cukup baik. Persepsi pekerja di tingkat organisasi menunjukkan skor terendah dibandingkan persepsi pekerja di tingkat individu dan pekerjaan. Peningkatan perlu dilakukan pada dimensi mengenai pemberdayaan keselamatan oleh manajemen dan keadilan keselamatan oleh  manajemen. Secara keseluruhan, dimensi komitmen pekerja terhadap keselamatan memiliki skor tertinggi, sedangkan dimensi prioritas keselamatan pekerja dan penolakan risiko memiliki skor terendah. Perbedaan persepsi safety climate ditemukan pada beberapa dimensi  berdasarkan tingkat pendidikan, masa kerja, posisi/jabatan, dan jenis pemberi kerja. Perusahaan perlu meningkatkan keterlibatan pekerja dalam pengambilan keputusan keselamatan, memperkuat budaya pelaporan yang adil, serta meningkatkan pemahaman pekerja terhadap risiko dan bahaya di tempat kerja.

The construction sector remains one of the sectors with the highest accident rates. Most of these accidents are related to unsafe actions influenced by various factors, one of which is the safety climate. This study aims to analyze the safety climate based on organizational, job, and personal characteristics at Infrastructure Project Y of PT X, which has never conducted a safety climate assessment. This study employs a quantitative approach with a cross-sectional study design. A total of 192 participants were selected using stratified random sampling, and data were collected via a questionnaire adapted from the NOSACQ-50. The results indicate that Project Y at PT X achieved an average score of 3.28, placing it in the “fairly good” category. Workers’ perceptions at the organizational level scored the lowest compared to those at the personal and job levels. Improvements are needed in the dimensions of safety empowerment by management and safety fairness by management. Overall, the dimension of workers’ safety commitment had the highest score, while the dimensions of workers’ safety priority and risk non-acceptance had the lowest scores. Differences in perceptions of safety climate were found across several dimensions based on level of education, length of work, position level, and type of employer. Companies need to increase worker involvement in safety decision-making, strengthen a just culture of reporting, and improve workers’ understanding of workplace risks and hazards.
Read More
S-12421
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aidea Arsyi Pempasa; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Bimo Prasetyo
Abstrak:
PT X mengalami peningkatan produksi, hal ini seiring dengan peningkatan kejadian kecelakaan kerja di PT X. Dalam upaya penanganan kecelaakaan kerja, dilakukan pelaporan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi langkah yang perlu dilakukan kedepannya. Penelitian deskriptif dengan metode kualitatif ini memiliki pendekatan study case dengan melihat pelaporan kecelakaan yang lebih dari ketentuan 2x24 jam. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran pengetahuan, sikap, dan faktor eksternal terhadap pelaporan kecelakaan kerja. Hasil: Responden belum memiliki pengetahuan yang cukup menyelutuh mengenai kecelakan kerja, regulasi pelaporan kecelakaan kerja, alur pelaporan kecelakaan kerja, namun telah memiliki pengetahuan yang baik untuk defnisi pelaporan kecelakaan kerja dan suransi kecelakan kerja. Responden memiliki sikap cenderung untuk tidak melaporkan kecelakaan ringan meski telah menganggap pelaporan kecelakaan kerja penting. Sikap dalam pemilihan asuransi juga memiliki kecenderungan tidak memilih BPJS Ketenagakerjaan meski telah mengetahui asuransi untuk kecelakaan kerja. Faktor eksternal responden mencakup dukungan atasan dan rekan kerja cenderung positif. Responden juga mengetahui tidak adanya punishment serta PT X telah memfasilitasi keselamatan.

PT X has experienced an increase in production, which has coincided with a rise in workplace accidents. In an effort to address workplace accidents, reporting is conducted to identify and evaluate the necessary steps moving forward. This descriptive research, using a qualitative method, employs a case study approach by examining accident reports exceeding the 2x24 hour limit. The aim of this study is to provide an overview of knowledge, attitudes, and external factors influencing accident reporting. Results: Respondents lack comprehensive knowledge about workplace accidents, accident reporting regulations, and the accident reporting process, but they do possess good knowledge of the definition of accident reporting and accident insurance. Respondents tend to avoid reporting minor accidents, despite recognizing the importance of accident reporting. Their attitude towards choosing insurance also shows a tendency not to select BPJS Ketenagakerjaan, even though they are aware of workplace accident insurance. External factors for respondents include positive support from supervisors and colleagues. Respondents also recognize the absence of punishments and that PT X has facilitated safety measures.
Read More
S-11795
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yovans Yuniar; Pembimbing: Ridwan Z. Syaaf; Penguji: Robiana Modjo, Wien Goerindro
S-6206
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kelvin Duta Pamungkas; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Abdul Kadir, Redo Maulana
Abstrak:
Pendahuluan: Kebakaran merupakan salah satu permasalahan yang masih dihadapi di dunia, dimana dampaknya bersifat sangat merugikan. Laboratorium merupakan salah satu sektor dengan risiko kebakaran yang cukup tinggi akibat adanya potensi penggunaan material dan bahan kimia yang berbahaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan sistem keselamatan kebakaran yang sudah diterapkan di laboratorium PT. X pada tahun 2026. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif observasional yang menganalisis empat komponen utama berupa sistem proteksi kebakaran aktif, sistem proteksi kebakaran pasif, sarana penyelamatan jiwa, dan manajemen tanggap darurat. metode pengumpulan data utama dilakukan melalui observasi yang ditriangulasi dengan mewawancarai laboran sebagai penghuni gedung beserta beberapa informan kunci, serta dengan menelaah dokumen sekunder yang tersedia di lokasi. Hasil: Laboratorium PT. X secara keseluruhan memenuhi 52,11% dimana kinerja tersebut tergolong kurang baik (Pramesti, A. 2024). Dengan dimensi tertinggi diraih pada penerapan sarana penyelamatan jiwa (61.11%) dan dimensi terendah pada penerapan sistem proteksi kebakaran aktif (47,05%). Kesimpulan: Laboratorium PT. X belum mampu memaksimalkan penerapan sistem keselamatan kebakaran yang sesuai dengan standar internasional NFPA. Dibutuhkan adanya upaya untuk memperbaiki sistem yang sudah ada untuk meningkatkan performa sistem keselamatan kebakaran tersebut.

Introduction: Fire remains a critical problem in the world, taking millions of casuality and losses up to billions of dollars. Laboratories using chemicals is one of high fire risk sectors due to usage of flammable and combustible chemicals. This study aims to evaluate PT. X laboratory’s existing fire safety systems at the year 2026. Method: the research design is a qualitative, observational study. Evaluating four main components: active fire protection system; passive fire protection system; means of egress; and emergency response management, in which data is collected primarily from observations and triangulated with interviews and document reviews. Result: Evaluation of PT. X laboratory’s existing fire safety system yielded a result of 52.11%. Based on recent study by Pramesti, A. (2024), the result is still unsatisfactory. The highest result attained from this study is from the performance of the implementation of means of egress (61.11%), while the lowest attained is from the performance of the implementation of active fire protection (47,05%). Conclusion: PT. X’s laboratory hasn’t been able to implement NFPA fire safety standards, and needs immediate action to improve the performance of its existing fire safety system.
Read More
S-12370
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wenni Sriastuti; Pembimbing: Ridwan Z. Sjaaf; Penguji: Baiduri, Robiana Modjo, Syahrul E. Panjaitan, Mayarni
Abstrak:

Pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kelja (K3) di Rumah Sakit adalah salah satu benluk upaya untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat dan sejahtera, bebas dad penyakit akibat kerja dan penyakit akibat hubungan keja serta bebas pencemaran Iingkungan menuju peningkatan produktifitas. Keberhasilan program K3 di Rumah Sakit tergantung pada kemampuan atau kompetensi sumber daya manusia (SDM) dalam melakukannya. SDM yang kompeten merupakan kunci dan pemicu (enabler) untuk keberhasilan praktek manajemen K3 Rumah Sakit. Kompetensi SDM dapat diperoleh melalui pelatihan. Salah satu faktor yang membérikan konhibusi dalam tercapainya efektifitas pelatihan adalah materi pelatihan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis isi materi pelatihan K3 Rumah Sakit yang diselenggarakan oleh PT X Tahun 2008. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dengan Studi deskriptif analilik. Sedangkan sampel penelitian adalah materi (teori) pelatihan K3 RS yang diselenggaxakan pada tanggal 26-29 Mei 2008 di Jakarta. Pengukuran data menggunakan instrumen penelitian yang telah disusun kedalarn kategori kognitifl afektif, dan psikomotor yang sudah reliabel. Pengukuran dilakukan dengan metode analisa isi (content analysis) untuk mengobservasi dan mengukur isi dari mated pelatihan berdasarkan kategori yang telah ditetapkan. Kemudian dilakukan validitas dan reliabilitas data dengan menggunakan bantuan key injbrman untuk menguji keabsahan data. Selanjutnya dilakukan analisa data dengan menggunakan statistik deskriptif yaitu mendeskripsikan valiabel penelitian kedalam bentuk tabel distribusi frekuensi, agar mudah dibaca dengan pengelompokan temuan penelitian sesuai dengan kategori-kategori. Hasil penelitian diperoleh gambaran materi pelatihan K3 RS terdiri dari 11 materi teori dan 73 tema. Uraian materi yang belum rinci adalah materi audit internal, tanggap darurat, dokumentasi sistem manajemen K3, dan Kegawatdaruratan di RS. Materi yang memiliki unsur kognitif paling tinggi adalah materi bahaya potensial di RS (l00%) dan PAK/KAK di RS (83%), sedangkan unsur kognitif paling rendah adalah materi kebijakan manajemen K3 di RS (35,29%). Materi yang memiliki unsur afektif pa!ing tinggi adalah materi peraturan pemndangan (50%), yang paling rendah adalah PAK/KAK di RS, Bahaya Potensial di RS, dan Manajemen Risiko K3 RS sebesar 0%. Materi yang memiliki unsur psikomotor paling tinggi adalah materi kebijakan manajemen K3 di RS (35,29%). Sedangkan yang paling rendah adalah materi peraturan perundangan (0%). Secara keseluruhan unsur kompetensi yang paling tinggi didalam materi pelatihan K3 RS adalah unsur kognitif (51%), sedangkan unsur afeklif dan psikomotor relatif sama. Materi yang belurn tercakup dalam persyaratan OHSAS 18001: 2007 adalah Evaluasi Pemenuhan dan Pengadaan. Saran penelitian ini berupa usulan kepada PT. X (Bagian Diklat) sebagai penyusun modul pelatihan untuk memberikan stmktur program pelatihan kepada instmktur/nara sumber pelatihan dengan menyertakan Evaluasi Pemenuhan dan Pengadaan menjadi bagian dari materl pelatihan K3 RS, sedangkan mated Audit internal, tanggap darurat, dokumentasi sistem manajemen K3 agar dapat disempumakan Iagi, sehingga tujuan pelatihan K3 RS dapat dicapai.


Hospital occupational health and safety (OHS) program is one of etforts to create a safe workplace, health, human being, free from occupational diseases and work related disesases, free fiom environmental pollution to get increase productivity. A successful of OHS programs depend on the ability or competence of human resources in doing it. The competent human resources are a key or enabler to gain a success of Ol-IS practiced. One of contributing factors to gain training effectivity is a training material. The goals of this research are to analyze a content material of hospital OHS training that organized by PT. X 2008. The approach of this research is a qualitative with descriptive analytic study. The sample of this study is a teoritic training materials of hospital OHS on 26-29 May 2008 in Jakarta. Data measurement is using an instrument research that was constructing to cognitif, affective and psychomotor category that have been reliabeled. The measurement was done with content analysis methods to observe and measure about content of training materials based on categorization. Data validity and reliability was used with using some helping fiom key informan to data validity testing. Data analysis with using descritive statistics to describe research variables into frequency distribution tables is supposed to easy while reading with grouping results based on categorization. Result of the research that gained about review of hospital OHS training material emphasis of ll teoritical material and 73 themes. The description of material that was not cleared is intemal audits, emergency responses, OHS management system documentation, and emergency in hospital. Material with high cognitive unsure is a potcnsial hazard in hospital (l00%), and occupational diseases/work related diseases (PAK/PAHK) in hospital (83%), Material with low cognitive unsure is a OHS management in hospital (3S,29%). Material with high affective unsure is a legal role (50%), material with low affective unsure is PAK/PAHK in hospital, potensial hazard in hospital, and risk management of OHS in hospital (0%). Material with high psychomotor unsure is a managemen policy of OHS in Hospital (35,29%). Material with low psychomotor unsure is a legal role (0%). Mostly of whole material, cognitive unsure is a high competence unsure in training material of OHS in hospital. The material that was not scouped in OHSAS 1800122007 requirements is a compliance of evaluation. The researcher suggest to PT. X, especially to training divison as a arranger of training modul to give some programme structur to instmctur/trainer about compliance of evaluation being part of material of hospital OHS training. About intemal audit, emergency responses, OHS management system documentation have to be described; it is suppose to get hospital OHS training goals.

Read More
T-2897
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive