Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37002 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Tazkiyyah Alhaura; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Asih Setiarini, Endang Laksminingsih Achadi
Abstrak:
Wasting merupakan bentuk kekurangan gizi yang merepresentasikan berat  badan balita kurus berdasarkan tinggi badan. Kejadian wasting umumnya merupakan akibat dari asupan gizi yang tidak adekuat, baik dari segi kuantitas maupun kualitas makanan, dan/atau karena anak sering mengalami penyakit infeksi. Di antara seluruh masalah gizi pada anak, wasting memiliki risiko kematian tertinggi. Risiko kematian pada anak yang mengalami wasting adalah 12 kali lebih besar dibandingkan anak dengan status gizi baik. Tujuan umum pada penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dan faktor risiko kejadian wasting pada balita usia 0-59 bulan di DKI Jakarta tahun 2024. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari SSGI 2024 dengan desain studi cross sectional dan metode stratified two stage sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini terdiri dari 3476. Analisis data yang digunakan adalah chi-square. Hasil penelitian didapatkan 7,7% balita mengalami wasting. Hasil bivariat didapatkan terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat diare (p value 0,014), kunjungan ANC (p value 0.020), dan pemberian makanan tambahan (p value 0,001) dengan kejadian wasting pada balita usia 0-59 bulan di DKI Jakarta tetapi tidak terdapat hubungan yang bermakna dengan usia balita, jenis kelamin balita, Riwayat ISPA, Riwayat pneumonia, Riwayat TBC, ASI eksklusif, status imunisasi, IMD, kepemilikan buku KIA, dan sumber air minum.

Wasting is a form of undernutrition characterized by low weight-for-height in children under five years of age. Wasting is generally caused by inadequate nutritional intake, both in terms of the quantity and quality of food consumed, and or frequent infectious diseases. Among all forms of child malnutrition, wasting carries the highest risk of mortality. Children with wasting are 12 times more likely to die than children with normal nutritional status. The general objective of this study was to describe the prevalence and identify the risk factors associated with wasting among children aged 0–59 months in DKI Jakarta in 2024. This study used secondary data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI) and employed a cross-sectional study design with a stratified two-stage sampling method. A total of 3,476 children were included in the analysis. Data were analyzed using the chi-square test. The results showed that 7.7% of children under five were affected by wasting. Bivariate analysis revealed significant associations between a history of diarrhea (p = 0.014), antenatal care (ANC) visits (p = 0.020), and supplementary feeding (p = 0.001) and the incidence of wasting among children aged 0–59 months in DKI Jakarta. However, no significant associations were found between wasting and the child's age, sex, history of acute respiratory infection (ARI), history of pneumonia, history of tuberculosis (TB), exclusive breastfeeding, immunization status, early initiation of breastfeeding (EIBF), ownership of a Maternal and Child Health (MCH) handbook, or source of drinking water.
Read More
S-12459
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nazlia Anjani; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Farida Ariyyani
Abstrak:
Wasting merupakan bentuk kekurangan gizi yang merepresentasikan berat badan balita kurus berdasarkan tinggi badan. Pada tahun 2022 berdasarkan data dari SSGI prevalensi wasting di DKI Jakarta lebih tinggi (8%) dibanding prevalensi nasional (7.7%). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian wasting pada balita usia 0-23 bulan di DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari SSGI 2022 dengan desain studi cross sectional dan metode stratified two stage sampling. Jumlah sampel yang digunakan sebesar 1192. Analisis data yang digunakan adalah chi-square, regresi logistik sederhana, dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian didapatkan 8.47% balita mengalami wasting. Analisis bivariat menggunakan CI 95% didapatkan terdapat hubungan yang bermakna antara usia balita dengan kejadian wasting pada balita usia 0-23 bulan di DKI Jakarta (p value 0.043) tetapi tidak terdapat hubungan yang bermakna dengan jenis kelamin, tingkat pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, diare, ISPA, cacingan, TB paru, ASI eksklusif, status imunisasi, kunjungan ANC, MDD, IMD, kepemilikan KIA, pemberian vitamin A, PMT, BBLR, ketahanan pangan, sumber air minum, dan ketersediaan jamban. Analisis multivariat diperoleh tingkat pendidikan ibu merupakan faktor protektif dengan kejadian wasting (OR=0.467). Hasil uji interaksi diperoleh terdapat interaksi antara pendidikan ibu dengan infeksi ISPA (pvalue 0.030) dan TB paru (p value 0.021).

Wasting is a form of malnutrition that represents the weight of thin children based on height. In 2022, based on data from SSGI, the prevalence of wasting in DKI Jakarta was higher (8%) compared to the national prevalence (7.7%). The purpose of this study is to determine the factors associated with wasting in children aged 0-23 months in DKI Jakarta. This study used secondary data from SSGI 2022 with a cross-sectional study design and stratified two-stage sampling method. The sample size used was 1192. Data analysis used chi-square, simple logistic regression, and multiple logistic regression. The research found that 8.47% of children experienced wasting. Bivariate analysis using 95% CI found a significant correlation between the age of children with wasting among children in 0-23 months of age in DKI Jakarta (p-value 0.043), but there was no significant correlation with gender, mother’s education level, maternal occupation status, diarrhea, ARI, helminthiasis, pulmonary TB, exclusive breastfeeding, immunization status, ANC visits, MDD, IMD, ownership of KIA, vitamin A supplementation, PMT, LBW, food security, source of drinking water, and availability of toilets. Multivariate analysis found that maternal education level was a protective factor against wasting (OR=0.467). Interaction analysis found interactions between maternal education level and ARI infection (p-value 0.030) and pulmonary TB (p-value 0.021).
Read More
S-11727
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Early Vici Azmia; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Trini Sudiarti, Salimar
Abstrak:
Prevalensi balita wasting di Indonesia tahun 2022 sebesar 7,7%, menurut WHO masalah wasting ini sudah termasuk masalah kesehatan masyarakat yang buruk. Wasting adalah masalah gizi pada balita yang berdampak pada morbiditas dan mortalitas. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian wasting pada balita usia 6–59 bulan di Kelurahan Cimpaeun Kota Depok Tahun 2023. Penelitian ini dilakukan pada bulan April–Juni 2023, menggunakan desain cross-sectional, metode proportionate stratified random sampling dengan sampel penelitian 136 balita usia 6–59 bulan. Data dianalisis univariat dan bivariat menggunakan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan 9,6% balita usia 6–59 bulan di Kelurahan Cimpaeun Kota Depok Tahun 2023 menderita wasting, dan termasuk pada masalah kesehatan masyarakat yang buruk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asupan energi, asupan protein, pengetahuan gizi ibu, dan pendapatan keluarga berhubungan dengan kejadian wasting pada balita usia 6–59 bulan. Risiko wasting lebih tinggi pada balita dengan asupan energi dan protein yang kurang, pengetahuan gizi ibu yang kurang, serta pendapatan keluarga yang rendah.

The prevalence of wasting under five in Indonesia in 2022 is 7.7%, according to WHO this wasting problem is a bad public health problem. Wasting is a nutritional problem in toddlers that has an impact on morbidity and mortality. The research objective was to determine the factors associated with wasting in toddlers aged 6–59 months in Cimpaeun Village in 2023. This research was conducted in April–June 2023, using a cross-sectional design, proportionate stratified random sampling method with a research sample of 136 toddlers aged 6–59 months. Data were analyzed univariately and bivariately using chi-square. The results showed that 9.6% of toddlers aged 6–59 months in the Cimpaeun Village in 2023 were suffering from wasting, and this is a bad public health problem. The results showed that energy intake, protein intake, mother's nutritional knowledge, and family income were associated with wasting in toddlers aged 6–59 months. The risk of wasting is higher for toddlers with less energy and protein intake, less knowledge of mother's nutrition, and low family income.
Read More
S-11394
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dayu Nazella; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Ahmad Syafiq, Hesty Ayu Nurranti Ramadhani
Abstrak: Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan akibat gizi buruk, infeksi berulang dan stimulasi psikososial tidak memadai yang ditandai oleh indikator TB/U atau PB/U
Stunting is the impaired growth and development of children due to poor nutrition, repeated infection and inadequate psychosocial stimulation that can be identified if their height-for-age (HAZ) is less than -2 standard deviation. The prevalence of stunting in Indonesia was 21,6% in 2022, whereas it’s capital city, DKI Jakarta has a prevalence of 14,8%. This study aims to identify the dominant factor and factors associated with stunting among children aged 0-59 months in Jakarta. The design of this study is cross-sectional using data from SSGI 2022 with a sample of children aged 0-59 months who were selected as respondents in the SSGI 2022. Data analysis was carried out in this study using univariate analysis with frequency distribution, bivariate analysis using chi-square test and multivariate analysis using multiple logistic regression. This study found that among 3.627 children, 17% were stunted. Multivariate analysis showed that birth length is the most dominant factor associated with stunting among children in the age group of 0-5 months and 24-59 months (OR: 37,498 and OR: 1,657), whereas mother’s height is the most dominant factor associated with stunting among children in the age group of 6-23 months (OR: 2,287).
Read More
S-11718
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tania Syntia Rahma Sari; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Damiana Veronika Djahari
Abstrak:
Underweight merupakan salah satu masalah gizi pada balita yang ditandai dengan nilai berat badan menurut umur (BB/U) kurang dari -2 standar deviasi berdasarkan Standar Pertumbuhan Anak WHO. Kondisi ini merefleksikan malnutrisi akut maupun kronis yang berdampak pada gangguan pertumbuhan, perkembangan kognitif, penurunan imunitas, hingga peningkatan risiko mortalitas pada balita. Provinsi Nusa Tenggara Timur tercatat sebagai salah satu provinsi dengan prevalensi underweight tertinggi di Indonesia berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian underweight pada balita usia 24-59 bulan di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data sekunder SSGI 2024. Sampel penelitian berjumlah 7.895 balita usia 24-59 bulan di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Analisis data dilakukan secara bivariat menggunakan uji chi-square dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi underweight pada balita usia 24-59 bulan di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 35,8%. Analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara berat badan lahir, riwayat ISPA, usia ibu saat hamil, tingkat pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, jumlah anggota keluarga, pemberian PMT pemulihan, kepemilikan Buku KIA, sumber air minum layak, dan wilayah tempat tinggal dengan kejadian underweight (p < 0,05). Faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian underweight pada balita usia 24-59 bulan di Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah PMT pemulihan (aOR: 3,186; 95% CI: 2,614-3,884).

Underweight is a nutritional problem among infants and toddlers characterized by a weight-for-age (WFA) score of less than -2 standard deviations based on the WHO Child Growth Standards. This condition reflects both acute and chronic malnutrition, which can lead to growth failure, impaired cognitive development, weakened immunity, and an increased risk of mortality among infants and toddlers. East Nusa Tenggara Province is recorded as one of the provinces with the highest prevalence of underweight in Indonesia based on the 2024 Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI). This study aims to identify factors associated with the incidence of underweight in infants and toddlers aged 24–59 months in East Nusa Tenggara Province. This is a quantitative study with a cross-sectional design using secondary data from the 2024 SSGI. The study sample consisted of 7.895 infants aged 24–59 months in East Nusa Tenggara Province. Data analysis was performed using bivariate analysis with the chi-square test and multivariate analysis with multiple logistic regression. The results of the study show that the prevalence of underweight among toddlers aged 24–59 months in East Nusa Tenggara Province is 35.8%. Bivariate analysis indicates a significant association between birth weight, history of acute respiratory infections (ARI), maternal age at conception, maternal education level, maternal employment status, household size, provision of recovery supplementary feeding (PMT), possession of a Maternal and Child Health (MCH) booklet, access to safe drinking water, and residential area with the occurrence of underweight (p < 0,05). The dominant factor associated with the prevalence of underweight among toddlers aged 24–59 months in East Nusa Tenggara Province is the provision of recovery supplementary feeding (aOR: 3.186; 95% CI: 2.614-3.884).
Read More
S-12343
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ruth Alpita Silva; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Trini Sudiarti, Sahruna
Abstrak:
Prevalensi wasting di DKI Jakarta mencapai 8% pada tahun 2022. Menurut data SSGI tahun 2022, Jakarta Utara memiliki prevalensi wasting tertinggi sebesar 9,4% (mendekati batas angka 10% masalah gizi kesehatan masyarakat berat) dibandingkan wilayah lain di DKI Jakarta. Usia 24-59 bulan merupakan usia rentan mengalami kejadian wasting karena kebutuhan gizi anak yang tinggi untuk mendukung pertumbuhan cepat sehingga dibutuhkan asupan gizi yang adekuat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis faktor yang berhubungan (asupan gizi, penyakit infeksi, karakteristik keluarga, dan karakteristik anak) dan faktor dominan kejadian wasting pada anak usia 24-59 bulan di Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara 2023. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan teknik simple random sampling. Subjek penelitian balita usia 24-59 bulan di wilayah Kecamatan Tanjung Priok berjumlah 188 orang. Data dikumpulkan melalui wawancara dan pengukuran antropometri. Analisis data menggunakan chi-square dilanjutkan dengan regresi logistik. Hasil penelitian ini menunjukkan faktor-faktor yang berhubungan signifikan dengan kejadian wasting adalah asupan energi (p-value= 0,023), dan asupan lemak (p-value=0,05), sedangkan yang paling dominan adalah asupan energi OR = 4,026 (95%, CI: 1,211-13,385). Perlu adanya deteksi dini dan pencegahan wasting pada anak harus ditingkatkan melalui program pemantauan tumbuh kembang anak pada saat kegiatan penimbangan setiap bulan oleh posyandu dengan dukungan pihak puskesmas.

The prevalence of wasting in DKI Jakarta reached 8% in 2022. According to SSGI data in 2022, North Jakarta has the highest prevalence of wasting at 9.4% (close to the 10% limit for severe public health nutrition problems) compared to other regions in DKI Jakarta. Age 24-59 months is a vulnerable age to experience the incidence of wasting due to the high nutritional needs of children to support rapid growth so that adequate nutritional intake is needed. This study aims to determine and analyze related factors (nutritional intake, infectious diseases, family characteristics, and child characteristics) and dominant factors of wasting incidence in children aged 24-59 months in Tanjung Priok District, North Jakarta 2023. The study used a cross-sectional design with simple random sampling technique. Subjects of research toddlers aged 24-59 months in the District of Tanjung Priok amounted to 188 people. Data was collected through interviews and anthropometric measurements. Data analysis using chi-square followed by logistic regression. The results showed that the factors significantly associated with the incidence of wasting are energy intake (p-value= 0.023), and fat intake (p-value=0.05), while the most dominant is energy intake OR = 4.026 (95%, CI: 1.211-13.385). The need for early detection and Prevention of wasting in children must be improved through a child growth and Development Monitoring program during monthly weighing activities by posyandu with the support of the public health center.
Read More
S-11302
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fiddlin Nurani Qomara Putri; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Sandra Fikawati, Kusharisupeni
Abstrak:
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang ditandai dengan nilai tinggi badan menurut umur (TB/U) atau panjang badan menurut umur (PB/U) berada di bawah -2 standar deviasi standar pertumbuhan anak WHO. Kejadian stunting bersifat multifaktorial dan dipengaruhi oleh faktor anak, pola asuh dan pemberian makan, kondisi kesehatan, karakteristik ibu, serta faktor lingkungan dan sanitasi. Dampak stunting tidak hanya berupa hambatan pertumbuhan fisik, tetapi juga gangguan perkembangan kognitif, peningkatan risiko PTM pada usia dewasa, serta menurunnya produktivitas. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Provinsi Sulawesi Barat tahun 2024 mencapai 35,4%, jauh di atas prevalensi nasional (19,8%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Sulawesi Barat tahun 2024. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain cross sectional yang meneliti data sekunder SSGI 2024 dengan jumlah sampel 713 anak serta metode pemilihan sampel yaitu total sampling. Data dianalisis menggunakan uji chi square, fischer test, dan regresi logistik ganda dengan analisis bivariat menghasilkan adanya hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, berat badan lahir, panjang badan lahir, pola konsumsi susu, sumber air minum rumah tangga, tingkat pendidikan ibu, dan pengetahuan/sikap ibu terkait stunting dengan kejadian stunting pada anak 6-23 bulan di Sulawesi Barat. Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara riwayat IMD, ASI eksklusif, konsumsi protein hewani, Minimum Acceptable Diet (MAD), riwayat penyakit infeksi, kepemilikan jamban, dan status pekerjaan terhadap kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Sulawesi Barat tahun 2024. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor dominan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Sulawesi Barat tahun 2024 adalah berat badan lahir (aOR = 3,05) yang berarti anak dengan berat badan lahir rendah memiliki peluang 3,05 kali lebih besar untuk mengalami stunting.

Stunting is a condition of growth failure characterized by a height-for-age (HAZ) or length-for-age (LAZ) below -2 standard deviations of the WHO Child Growth Standards. Stunting is a multifactorial condition influenced by child characteristics, feeding practices, health status, maternal factors, as well as environmental and sanitation conditions. The impact of stunting includes not only impaired physical growth but also cognitive developmental delays, an increased risk of non-communicable diseases (NCDs) in adulthood, and reduced productivity. Based on the Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI), the prevalence of stunting in West Sulawesi Province in 2024 was 35.4%, which is considerably higher than the national prevalence (19.8%). This study aimed to identify the dominant factors associated with stunting among children aged 6-23 months in West Sulawesi in 2024. This quantitative study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2024 SSGI. A total of 713 children were included through total sampling. Data were analyzed using the Chi-square test, Fisher's exact test, and multiple logistic regression. Bivariate analysis showed significant associations between child sex, birth weight, birth length, milk consumption pattern, household drinking water source, maternal education level, and maternal knowledge and attitudes regarding stunting with the occurrence of stunting among children aged 6-23 months in West Sulawesi. However, no significant associations were found between early initiation of breastfeeding, exclusive breastfeeding, animal-source protein consumption, Minimum Acceptable Diet (MAD), history of infectious diseases, household latrine ownership, maternal employment status, and stunting. Multivariate analysis identified low birth weight as the dominant factor associated with stunting (aOR = 3.05), indicating that children with low birth weight were 3.05 times more likely to experience stunting than those with normal birth weight.
Read More
S-12348
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmi Ariyani; Pembimbing: Endang Laksminingsih; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Besral, Tiara Lutfie, Asril
Abstrak: abstrak Stunting merupakan salah satu permasalahan status gizi di Indonesia. 1 dari 3 anak di. Indonesia mengalami stunting. Indonesia masuk 5 besar negara yang memiliki prevalensi stunting tertinggi (37,2%) di dunia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita usia 12-59 bulan. Metoda Desain penelitian adalah cross-sectional. Sampel penelitian ini pada Indonesia Family Life Survey (1FLS) yaitu anak yang berusia 12-59 bulan tahun 2014 sebesar 1442 orang. Data dianalisis dengan regresi logistik. Hasil: Hubungan yang signifikan antara stunting dengan berat lahir, jenis kelamin, riwayat penyakit infeksi, usia ibu saat hamil, pendidikan ibu, pendidikan ayah, tinggi badan ibu, tinggi badan ayah, wilayah tempat tinggal, sanitasi dasar dan fasilitas air bersih. Balita yang memiliki berat lahir <2500 gram kemungkinan mengalami stunting 2,58 setelah dikontrol dengan faktor-faktor lainnya. Kesimpulan: Berat lahir menjadi salah satu faktor risiko penting dalam stunting. Untuk mencegah peningkatan stunting memerlukan program intervensi yang spesifik dan sensitif. Penanganan sejak dini khususnya 1000 Hari Pertama Kehidupan melalui kualitas pemeriksaan ibu hamil, pemantauan penambahan berat badan ibu selama hamil,serta pemberian minimal 90 tablet tambah darah. Kata Kunci :Stunting, Berat Lahir, 1000 Hari Pertama Kehidupan Stunting is one of nutritional problems in Indonesia. 1 of 3 children in Indonesia has stunting. Indonesia entered the top 5 countries that have the highest stunting prevalence (37.2%) in the world. Objectives: This study aims to find out the risk faktors stunting in children aged 12-59months. Methods: The study design was cross-sectional. This study took samples on Indonesia Family Life Survey (1FLS) that were 1442 children aged 12-59 months in 2014. Data analysis applied logistic regression. Results: Significant association between stunting and birth weight, sex, history of infectious diseases, maternal age during pregnancy, maternal education, father's education, maternal height, father's height, residence area, basic sanitation and clean water facilities. Children who have birth weight <2500 grams are likely to have stunting 2.58 after controlled with other factors.Conclusion: Birth weight is an important risk factor in stunting. To prevent stunting increases requires a specific and sensitive intervention program. Early handling, especially the First 1000 Days of Life through the quality of pregnant women's examination, monitoring of maternal weight gain during pregnancy, and giving at least 90 tablets plus blood. Keywords: Stunting, Birth Weight, 1000 Days of Life
Read More
T-5179
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Paramitha Anisa; Pembimbing: Yvonne Magdalena Indrawani; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Rahmawati
S-7224
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Abraham Lawas; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Siti Masruroh
Abstrak: Wasting merupakan bentuk kekurangan gizi akut sebagai akibat dari keadaan kekurangan asupan makanan atau mengalami penyakit infeksi yang terjadi dalam waktu yang singkat yang ditandai dengan berat badan yang kurang menurut tinggi badan. Angka wasting di Provinsi Maluku (12%) pada tahun 2021 lebih tinggi dibandingkan dengan angka wasting Nasional (7,1%) pada tahun yang sama menurut data SSGI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan kejadian wasting pada baduta usia 0-23 bulan di Provinsi Maluku tahun 2021. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain cross sectional dan memanfaatkan data sekunder SSGI 2021 dengan jumlah sampel sebesar 978 baduta. Data dianalisis menggunakan uji chi square, fischer test, dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian ini menunjukan terdapat 10.9% baduta yang mengalami wasting. Hasil analisis bivariat menunjukan terdapat hubungan yang signifikan antara wasting dengan jenis kelamin, umur, penyakit diare, dan penyakit ISPA, namun tidak ada hubungan yang signifikan antara wasting dengan status berat badan lahir, pneumonia, TB paru, kecacingan, campak, MDD, IMD, ASI Eksklusif, status imunisasi, kepemilikan buku KIA, pemberian Vitamin A, status pekerjaan ibu, tingkat pendidikan ibu, kerawanan pangan, wilayah tempat tinggal, sumber air minum, pemanfaatan posyandu, dan ketersediaan jamban. Faktor dominan kejadian wasting pada baduta di Provinsi Maluku tahun 2021, yaitu pemanfaatan layanan posyandu (OR = 2.12). Kesimpulan dari penelitian ini adalah baduta yang tidak pernah memanfaatkan layanan posyandu memiliki risiko 2.12 kali untuk mengalami wasting.
Wasting is a form of acute malnutrition as a result of a lack of food intake or experiencing an infectious disease that occurs in a short time which is characterized by underweight for height. The wasting rate in Maluku Province (12%) in 2021 is higher than the National wasting rate (7.1%) in the same year according to SSGI data. This study aims to determine the dominant factor for wasting in children aged 0-23 months in Maluku Province in 2021. This quantitative study used a cross-sectional design and utilized secondary data from SSGI 2021 with a total sample of 978 children. Data were analyzed using the chi square test, Fisher's test, and multiple logistic regression. The results of this study showed that there were 10.9% of toddlers who experienced wasting. The results of the bivariate analysis showed that there was a significant relationship between wasting and gender, age, diarrheal disease, and ARI, but there was no significant relationship between wasting and birth weight status, pneumonia, pulmonary TB, helminthiasis, measles, MDD, IMD , exclusive breastfeeding, immunization status, ownership of MCH handbook, provision of Vitamin A, mother's employment status, education level of mother, food insecurity, area of ​​residence, source of drinking water, utilization of posyandu, and availability of latrines. The dominant factor for wasting in toddlers in Maluku Province in 2021 is the utilization of posyandu services (OR = 2.12). The conclusion of this study is that toddlers who have never used Posyandu services have a 2.12 times risk of experiencing wasting
Read More
S-11420
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive