Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35186 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Setyo Aji Sasongko; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Intan Yustisiawati
Abstrak:
Unmet need Keluarga Berencana (KB) masih menjadi tantangan kesehatan reproduksi di Indonesia karena berkontribusi terhadap kehamilan tidak direncanakan, kematian ibu, dan berbagai dampak kesehatan lainnya. Permasalahan tersebut semakin kompleks pada WUS Generasi Z yang telah menikah akibat keterbatasan akses informasi dan ketakutan terhadap efek samping kontrasepsi. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran kejadian unmet need KB dan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan unmet need KB pada WUS Generasi Z yang telah kawin di Kota Depok. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional menggunakan data primer yang dikumpulkan pada April 2026. Sampel berjumlah 135 WUS Generasi Z (15–27 tahun) yang telah kawin dan dipilih menggunakan mixed sampling design, yaitu pemilihan kecamatan secara purposif dan pemilihan klaster secara bertahap (multistage cluster random sampling). Analisis data meliputi analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square atau Fisher's Exact Test dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi unmet need KB sebesar 27,4%, lebih tinggi dibandingkan hasil analisis SDKI 2017 pada perempuan muda yang telah menikah (9,3%), capaian nasional tahun 2023 (11,5%), maupun target Renstra Kemendukbangga/BKKBN 2025–2029 sebesar 10,0%. Kebutuhan KB yang belum terpenuhi didominasi oleh unmet need untuk penjarangan kehamilan (spacing) sebesar 17,0%. Dari seluruh variabel yang dianalisis, hanya paparan petugas kesehatan yang berhubungan signifikan dengan kejadian unmet need KB (p-value=0,041), sedangkan usia, status pekerjaan, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi, jumlah anak hidup, jumlah anak ideal, dan paparan media massa tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa unmet need KB pada WUS Generasi Z di Kota Depok masih tergolong tinggi dan didominasi oleh kebutuhan penjarangan kehamilan. Penguatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE), peningkatan kualitas konseling kontrasepsi oleh tenaga kesehatan, promosi Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), serta pengembangan sistem informasi keluarga berencana yang terintegrasi perlu dioptimalkan untuk menurunkan unmet need KB pada Generasi Z

Unmet need for family planning (FP) remains a major reproductive health challenge in Indonesia because it contributes to unintended pregnancies, maternal mortality, and various adverse health outcomes. This issue is particularly pronounced among married Generation Z women of reproductive age (WRA) due to limited access to information and concerns about contraceptive side effects. This study aimed to describe the prevalence of unmet need for family planning and to analyze factors associated with unmet need for family planning among married Generation Z women of reproductive age in Depok City. This study employed a cross-sectional design using primary data collected in April 2026. A total of 135 married Generation Z women of reproductive age (15–27 years) were selected using a mixed sampling design, consisting of purposive selection of subdistricts followed by multistage cluster random sampling. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses. The bivariate analysis employed the Chi-square test or Fisher's Exact Test with a 95% confidence level. The results showed that the prevalence of unmet need for family planning was 27.4%, which was higher than the prevalence reported in the 2017 Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS) among married young women (9.3%), the national prevalence in 2023 (11.5%), and the 2025–2029 Strategic Plan target of the Ministry of Population and Family Development/National Population and Family Planning Board (10.0%). Unmet need was predominantly attributed to the need for birth spacing (17.0%). Among all variables examined, only exposure to family planning information provided by health workers was significantly associated with unmet need for family planning (p-value=0.041). In contrast, age, employment status, educational level, economic status, number of living children, ideal number of children, and exposure to mass media were not significantly associated with unmet need for family planning. In conclusion, the prevalence of unmet need for family planning among Generation Z women of reproductive age in Depok City remains high and is predominantly related to the need for birth spacing. Strengthening family planning communication and education, improving the quality of contraceptive counseling provided by health workers, promoting Long-Acting Reversible Contraceptive Methods (LARCs), and developing an integrated family planning information system should be optimized to reduce unmet need for family planning among Generation Z
Read More
S-12466
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Joyceline Esther; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Dian Kristiani Irawaty
Abstrak: Melihat karakteristik DKI Jakarta yang merupakan Ibukota Negara yang wilayahnya perkotaan, sebagai salah satu provinsi penyangga utama program KB nasional, banyaknya sumber daya manusia yang berkualitas, dan cukupnya fasilitas kesehatan, angka tersebut perlu diturunkan. Tujuan penelitian ini mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian unmet need KB di DKI Jakarta, berdasarkan analisis data SDKI 2017. Disain studi dalam penelitian ini adalah potong lintang dengan sampelnya meliputi seluruh responden wanita usia subur (15-49 tahun) yang berstatus kawin. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi kejadian unmet need KB adalah usia (OR=0,569), dukungan suami (OR=5,550), dan paparan tenaga kesehatan (OR=2,055). Faktor yang paling besar pengaruhnya adalah dukungan suami (OR=5,550).
Read More
S-10745
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gracia Ivanna Caroline; Pembimbing: Meiwita Budiharsana; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Anindita Dyah Sekarpuri
Abstrak: Secara umum, unmet need KB didefinisikan sebagai persentase wanita subur dan aktifsecara seksual, belum/tidak ingin hamil, namun tidak menggunakan kontrasepsi apapun.Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), persentase unmet needKB di Indonesia stagnan di angka 11% sejak tahun 2012 lalu. Sementara itu, persentaseunmet need KB di Jawa Tengah pada tahun 2017 tidak berada jauh dari rata-rata nasional,yakni pada angka 10,8%. Angka tersebut masih perlu diturunkan terlebih lagi JawaTengah memiliki kontribusi yang besar sebagai salah satu provinsi penyangga utama KBnasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungandengan kejadian unmet need KB di Jawa Tengah berdasarkan analisis data SDKI Tahun2017. Desain studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah potong lintang sementarasampel penelitian ini meliputi seluruh respomden wanita usia subur yang sudah berstatuskawin/sedang tinggal bersama pasangannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktoryang berhubungan dengan kejadian unmet need KB adalah usia, tingkat ekonomi,dukungan suami, serta paparan informasi KB oleh petugas kesehatan. Disarankan bagipetugas kesehatan untuk melakukan sosialisasi program KB yang sensitif gender kepadapasangan usia subur, khususnya pria/suami, untuk meningkatkan pemahaman dandukungan suami terhadap program KB.
Kata kunci:Unmet Need, Keluarga Berencana (KB), Kontrasepsi, Jawa Tengah.
Read More
S-10443
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Stevia Vania Finriani; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Atik Nurwahyuni, Pujiyanto, Margareth Maya P. Naibaho, Wira Hartiti
Abstrak: Jumlah penduduk Indonesia dari tahun 2010-2017 terus mengalami peningkatan dari 238 juta jiwa menjadi 261 juta jiwa pada tahun 2017 dengan laju pertumbuhan penduduknya sebesar 1,34 % per tahun dan angka kematian ibu sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Persentase putus pakai (Drop Out) kesertaan ber KB sebesar yaitu 34 persen dan persentase wanita kawin umur 15-49 dengan kebutuhan ber-KB yang belum terpenuhi (unmet need) sebesar 11%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan pemilihan jenis kontrasepsi pada wanita usia subur yang berstatus kawin. Variabel yang diamati cukup bervariasi, yaitu umur, pendidikan, status pekerjaan, wilayah tempat tinggal, status ekonomi, jumlah anak, jenis kelamin anak, tempat pelayanan KB, dan kepemilikan jaminan kesehatan nasional (JKN) wanita usia subur. Data yang digunakan adalah Data Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) tahun 2017 dan dianalisis dengan menggunakan regresi logistik multivariat. Hasilnya membuktikan bahwa variabel umur, pendidikan, status pekerjaan, wilayah tempat tinggal, status ekonomi, jumlah anak, jenis kelamin anak, tempat pelayanan KB, dan kepemilikan jaminan kesehatan nasional (JKN) mempengaruhi pemilihan metode KB wanita usia subur di Indonesia. Dari hasil temuan ini, diharapkan pemerintah mampu meningkatkan gerakan penyuluhan kesehatan kepada wanita usia subur agar bersedia ber-KB dan meningkatkan jumlah tenaga terlatih khususnya bidan desa.
The population of Indonesia from 2010-2017 continues to increase from 238 million to 261 million in 2017 with a population growth rate of 1.34% per year and maternal mortality rate is 359 per 100,000 live births. The percentage of drop out of family planning participation is 34% and the percentage of married women aged 15-49 with unmet need for family planning is 11% . This study aims to analyze the determinants of the choice type of contraception in women of childbearing age. Variables observed were age, education, work status, domicile, economic status, number of children, gender of children, place of family planning services, and ownership of national health insurance (JKN) women of childbearing age. The data used are Susenas Data (National Socio- Economic Survey) in 2017 and analyzed using multivariate logistic regression. The results explain that the variables of maternal age, education, work status, domicile, economic status, number of children, gender of children, place of family planning services, and ownership of national health insurance (JKN) influence the choice of birth control methods for women of childbearing age in Indonesia. From the results of this finding, it is expected that the government will be able to improve the health education movement for women of childbearing age to be willing to use family planning and increase the number of trained personnel, especially village midwives
Read More
T-6163
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Febrina Yolanda; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Anhari Achadi, Dumilah Ayuningtyas, Muhammad Jabari, Hafni Andayani
Abstrak:
Pendahuluan: . Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di negara berkembang Masih tingginya unmet need ini patut diduga berkontribusi terhadap landainya penurunan Angka kematian ibu (AKI) dimana program KB merupakan salah satu upaya penurunan AKI. Unmet need KB pada SDKI 2017 masih berada pada angka yang sama dengan SDKI 2012 yaitu 11 persen. AKI dapat disebabkan oleh kehamilan yang tidak diinginkan oleh ibu. Kehamilan yang tidak diinginkan dapat mendorong ibu melakukan hal yang tidak aman dalam pelayanan Kesehatan seperti tindakan aborsi. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Hasil penelitian dianalisis menggunakan complex sample analysis dengan tiga tahap yaitu univariat, bivarat dan multivariat. Hasil: Faktor yang berhubungan dengan unmet need KB adalah umur, Pendidikan, daerah tempat tinggal. pekerjaan, pengetahuan, jumlah anak ideal, ketersediaan layanan, paparan media massa sedangkan faktor kunjungan kurang signifikan dengan unmet need. Keputusan suami merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap unmet need di Indonesia. Kesimpulan: Faktor yang paling dominan terjadi status unmet need KB pada wanita subur di Indonesia dengan menggunakan data SDKI 2017 adalah faktor persetujuan suami. Factor ini menunjukkan 6.92 kali berisiko lebih besar untuk berstatus unmet need dibandingkan status unmet need dengan responden yang bukan keputusan suami. Hal ini setelah dikontrol dengan variable umur, bekerja, jumlah ideal anak, pengetahuan KB. Saran: Memperkuat KIE yang selama ini dilaksanakan yang dimana belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat utamanya, bahan-bahan edukasi terkait dengan komplikasi, efek samping dan kegagalan serta mengoptimalkan pelayanan KB mobile pada DTPK Kata kunci : unmet need, KB, SDKI

Introduction: Mortality and morbidity in pregnant and childbirth women are a major problem in developing countries still at unmet need, which is to be expected to contribute toward the gradual decline in maternal mortality (aki), where the birth control program is one of the aki decline. The unmet need for KB in 2017 is still at the same number as sdki 2012, which is 11 percent. Aki can be caused by an unwanted pregnancy by the mother. An unwanted pregnancy may lead mothers to unsafe practices in health services such as abortion. Method: this study USES a quantitative approach with a design for a sectional study. Analysis with a complex of specimen analysis with three stages: univariate, bivarat and multivariate. Results: factors related to unmet need birth control are age, education, home territory. Work, knowledge, the ideal number of children, availability of services, media exposure while visiting factors are less significant with unmet need. The decision of husbands is the most influential factor in Indonesia's unmet need. Conclusion: the most dominant factor in the unmet need KB status on fertile women in Indonesia using 2017 resources data is the husband's approval factor. This factor indicates that 6.92 times greater risk of status unmet need than that of unmet need with respondents who are not making a husband. It's being controlled by variables, work, the ideal number of children, birth control. keywords: unmet need, family planning, IDHS
Read More
T-7523
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fajar Firdawati; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Mardiati Nadjib, Adang Bachtiar, Eni Gustina, Lovely Daisy
Abstrak:
Penggunaan kontrasepsi modern di perkotaan cenderung mengalami penurunan, sedangkan di pedesaan sebaliknya, disisi lain jumlah penduduk di wilayah perkotaan semakin banyak, dan lebih mudah memiliki akses terhadap informasi, fasilitas kesehatan, dan transportasi, selain tingkat pendidikan dan status ekonomi yang juga lebih tinggi dibanding pedesaan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan faktor penggunaan kontrasepsi modern dan faktor apa paling dominan serta menganalisis dan memberikan rekomendasi kebijakan berbasis bukti untuk meningkatan penggunaan kontrasepsi modern di perkotaan dan pedesaan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan data sekunder SKAP KKBPK tahun 2019 yang dilengkapi dengan penelitian kualitatif dengan menelaah dokumen kebijakan dan menganalisis kebijakan peningkatan penggunaan kontrasepsi modern. Hasil penelitian menunjukkan hampir seluruh variabel independen berhubungan dengan penggunaan kontrasepsi modern di perkotaan dan pedesaan kecuali kepemilikan jaminan kesehatan (p-value=0,370) untuk di perkotaan, dan variabel pengetahuan KB (p-value=0,066) dan kepemilikan jaminan kesehatan (p-value=0,347) untuk di pedesaan. Hampir seluruh variabel juga merupakan faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap penggunaan kontrasepsi modern baik di perkotaan dan pedesaan, kecuali keterpaparan sumber informasi melalui media dan institusi serta kepemilikan jaminan kesehatan untuk di perkotaan, dan variabel pengetahuan KB, keterpaparan sumber informasi melalui institusi dan kepemilikan jaminan kesehatan untuk di pedesaan. Hasil analisis kebijakan yang berkaitan dengan peningkatan penggunaan kontrasepsi modern, pada perumusan kebijakan masih belum menggambarkan secara jelas kebijakan yang berdasarkan segmentasi sasaran dan wilayah terutama di perkotaan dan pedesaan yang memiliki karakteristik yang berbeda. Dalam pelaksanaanya juga masih ada kendala dalam pemenuhan kuantitas, persebaran dan kapasitas tenaga lini lapangan terutama penyuluh KB yang menjadi ujung tombak program KB. Disisi lain belum semua pihak dapat menerima program KB karena bervariasinya komitmen pelaksana kebijakan di wilayah tertentu dan masih adanya hambatan sosial dan budaya. Selain itu belum optimalnya pelaksanaan komunikasi kebijakan dan masih adanya anggapan program KB hanya tanggung jawab BKKBN mempengaruhi peningkatan penggunaan kontrasepsi modern di perkotaan dan pedesaan. Adapun rekomendasi kebijakan berdasarkan hasil penelitian adalah perlu merumuskan kembali pada beberapa kebijakan yang berkaitan dengan peningkatan penggunaan kontrasepsi modern dan memperkuat strategi komunikasi yang efektif menurut segmentasi sasaran dan wilayah.

The use of modern contraceptives in urban areas tends to decrease, while in rural areas it is the opposite, on the other hand, the population in urban areas is more numerous, and has easier access to information, health facilities, and transportation, in addition to higher levels of education and economic status than rural areas. The purpose of this study was to determine the relationship between the factors of modern contraceptive use and the most dominant factors and to analyze and provide evidence-based policy recommendations to increase the use of modern contraceptives in urban and rural areas. This study is a quantitative study using secondary data from SKAP KKBPK in 2019 which is complemented by qualitative research by reviewing policy documents and analyzing policies to increase the use of modern contraceptives. The results showed that almost all independent variables were associated with modern contraceptive use in urban and rural areas except ownership of health insurance (pvalue=0.370) for urban areas, and family planning knowledge variables (p-value=0.066) and ownership of health insurance (p-value=0.347) for rural areas. Almost all variables are also the most dominant factors affecting modern contraceptive use in both urban and rural areas, except exposure to information sources through media and institutions and ownership of health insurance for urban areas, and variables of family planning knowledge, exposure to information sources through institutions and ownership of health insurance for rural areas. The results of the analysis of policies related to increasing the use of modern contraceptives, in the formulation of policies still do not clearly describe policies based on target segmentation and areas, especially in urban and rural areas that have different characteristics. In its implementation, there are still obstacles in fulfilling the quantity, distribution and capacity of field personnel, especially family planning extension workers who are the spearhead of the family planning program. On the other hand, not all parties can accept the KB program because of the varying commitment of policy implementers in certain areas and the existence of social and cultural barriers. In addition, the implementation of policy communication has not been optimal and there is still an assumption that the family planning program is only the responsibility of BKKBN affecting the increase in the use of modern contraceptives in urban and rural areas. The policy recommendations based on the research results are the need to reformulate some policies related to increasing the use of modern contraceptives and strengthening effective communication strategies according to target segmentation and region.
Read More
T-6523
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Riris Febriana; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, Basalama Fatum
S-7095
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fadllil Kaafi; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Mardiati Nadjib, Vetty Yulianty Permanasari, Mukhtar Bakti, Wahyu Puji Nugraheni
Abstrak:
Salah satu target Pemerintah melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) adalah meningkatkan kepesertaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Pelayanan Keluarga Berencana merupakan salah 1 manfaat pelayanan promotif preventif dalam Jaminan Kesehatan. Namun, di Indonesia, kontrasepsi menggunakan suntik (Non MKJP) merupakan metode yang paling banyak digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor determinan yang mempengaruhi seorang wanita usia subur dalam pemilihan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan waktu pengambilan data secara cross sectional. Data yang digunakan adalah data sekunder Survei Ekonomi Nasional (Susenas) 2018 dengan sampel penelitian adalah wanita usia subur berstatus menikah berusia 15-49 tahun sebanyak 28.889 dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat dengan model regresi logit biner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kepemilikan jaminan kesehatan, mengunjungi fasilitas kesehatan khususnya FKTP, Umur 27-49 tahun, pendidikan tinggi, jumlah anak > 2, status bekerja, bertempat tinggal di Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Sulawesi, status ekonomi kaya, dan bertempat tinggal di Perdesaan. Dengan determinan paling dominan yaitu pada variabel responden yang bertempat tinggal di Bali dan Nusa Tenggara dan yang berumur 27-49 tahun

One of the Government's targets through the Population and Family Planning Agency (BKKBN) is to increase the membership of the Long-Acting Reversible Contraception (LARC). Family Planning Services is one of the benefits of preventive promotive services in Health Insurance. However, in Indonesia, contraception using injection (Non LARC) is the most widely used method. This research is a quantitative study with cross sectional data collection time. The data used are secondary data from the 2018 National Economic Survey (Susenas) with a sample of 28,889 married women of childbearing age of 15-49 years who were analyzed univariately, bivariately and multivariately using  binary logit regression models. The results showed that ownership of health insurance, visiting health facilities especially FKTP, Age 27-49 years, higher education, number of children> 2, working status, living in Java, Bali and Nusa Tenggara, Sulawesi, rich economic status, and residing living in rural areas has the opportunity to increase the use of LARC. With the most dominant determinant is the respondent variable residing in Bali and Nusa Tenggara and those aged 27-49 years.

Read More
T-5902
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Evy Misrawaty Purba; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Evi Martha, Rina F. Bahar
S-6567
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zakiah; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Anhari Achadi, Pujiyanto, Enny Ekasary, Bety Setyorini
Abstrak: Kesehatan adalah hak yang sangat mendasar bagi manusia, untuk itu negara harus hadirdalam pemenuhannya. Dalam era otonomi daerah, Standar Pelayanan Minimal (SPM)bidang kesehatan menjadi jaminan penyelenggaraan pelayanan kesehatan dengan jenis danmutu pelayanan dasar yang sama. Salah satu jenis layanan dasar adalah SPM bidangkesehatan pada usia produktif (SPM BKUP). Jenis layanan dasar ini bernilai strategis bagikinerja Pemerintah Daerah, karena berdasarkan BPS (2017) komposisi penduduk usiaproduktif menempati proporsi 60-70% dari seluruh jumlah penduduk dan nilai strategisbagi pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) karena bentuk skrining. Analisiskesiapan ditujukan untuk melihat seberapa besar jarak antara kondisi ideal dengankenyataan yang sebenarnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknikWM, FGD dan telaah dokumen terkait. Hasil penelitian didapatkan 10 dari 13 indikatorkesiapan implementasi, belum lengkap dimiliki Kota Depok, meliputi konseling faktorrisiko PTM, Pelatihan teknis petugas skrining dan surveilans berbasis web, pelayananterpadu PTM, pencatatan pelaporan, monitoring evaluasi, komunikasi, sikap pelaksana,ketersediaan SDM, fasilitas dan dana. Sementara 3 indikator yang belum sama sekalidimiliki yaitu insentif bagi pelaksana yang mencapai target, SOP pelaksanaan SPM BKUPdan Tim penanggung jawab penyelenggaraan SPM BKUP. Kesimpulan didapatkan bahwaKota Depok memiliki kesiapan yang minimal dalam rangka implementasi SPM BKUP.Kata kunci: analisis kesiapan, kinerja pemerintah daerah, pelayanan kesehatan usiaproduktif, pengendalian PTM, standar pelayanan minimal
Health is a fundamental right for human being, in its fulfillment, the state must be presentto provide health services for all citizens. In the era of regional autonomy, MinimumService Standards (MSS) in the field of health becomes the guarantee of health servicedelivery with the same type and quality of basic services. One type of basic service is theSPM field of health at the productive age (MSSPA). This type of basic service is ofstrategic importance to the performance of the regional government, since based on BPS(2017) the composition of the productive age population occupies a proportion of 60-70%of the total population and the strategic value for the control of Non-CommunicableDiseases (NCD) due to the form of screening. Preparation analysis is intended to see howmuch distance between ideal conditions and actual reality. This research uses qualitativemethod with indepth interview technique, FGD and study related documents. The results ofthe study were 10 out of 13 indicators of implementation readiness, not yet fully owned byDepok City, including NCD risk factor counseling, technical training of screening officersand web-based surveillance, NCD integrated service, reporting recording, evaluationmonitoring, communication, dispotition, human resources availability, facilities and funds.While 3 indicators that have not yet been owned are incentives for implementers whoachieve the target, SOP implementation MSSPA and the team responsible for theimplementation of MSSPA. The conclusion found that Depok City has minimalpreparedness in order to implement MSSPA.Key words: preparation analysis, local government performance, productive healthservice age, NCD control, minimum service standard.
Read More
T-5095
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive