Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31858 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Riska Marini; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan
M-1107
Depok : FKM UI, 2002
D3 - Laporan Magang   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tizi Dzul Khair; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Robiana Modjo, Ike Pujiriani
S-7276
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Margiastoeti; Pembimbing: Ridwan Z. Sjaaf; Penguji: Robiana Modjo, Dadan Erwandi, Alfajri Ismail, C. Setyo Rohadi
Abstrak:
Angka keoclakan kerja saat ini masih sangat tinggi terutama pada perusahaan-perusahaan yang rentan dcngan kecelakaan dimana budaya kuselamatan dan kesehatan kelja belum terlaksana dengan baik. Contoh angka kecelakaan kerja di PT X masih tinggi, tercatat dari bulan januari sampai dengan Olaober 2008 sebesar 456 kejadian kecelakaan, dimana saat ini sering kali tidak diketahui secara tspat penyebab utama kecelakaan kelja tersebut terjadi. Apakah karena tindakan tidak aman (unsajé act), kondisi tidak aman, kurangnya pengawasan danlatau karena pengaruh organisasi? Dengan melihat latar belakang tersebut, pencliti ingin mengetahui mengapa dan bagaimana kecclakaan kcrja tersebut teljadi, tujuan penelitian ini adalah untuk mcnganalisa profil penyebab kecclakaan kelja pada PT. X yang ditinjau dcngan menggunakan The Human Factors Analysis' and Class{{ica!ion System (I-IFACS), sebagai unit analisis kasus kecelakaan kexja. Dari hasil penelilian menunjukan bahwa dari ke empat klasifikasi penyebab kecelakaan saling berkaitan, berdasarkan hasil analisis dcngan mengunakan sislem klasifikasi HFACS, didapatkan bahwa faktor dau perscntasc terbesar penyebab kecelakaan kcnja di PT, X, yaitu tindakan tidak aman 44,'75%, sedangkan kondisi sebelum mclakukan tindakan tidak aman 36,80%, pengawasan yang kurang 14,91% dan pcngaruh organisasi 3,54%. Penycbab tindakan tidak aman adalah kesalahan manusia 30,57 % dan pelanggaran I4,18%. Kesalahan manusia teljadi karena 3 hal, yaitu karena kesalahan sebab kemampuan 21,2l%, kcsalahan memutuskan 6,93%, dan kcsalahan persepsi 2,42%. Sedangkan pelanggaran terjadi karena pelanggaran rutin 8,86% dan pelanggaran perkocualian 5,32%. Kondisi scbclum melakukan tindakan tidak aman sebesar 36,80%, yang dipengaruhi oleh kondisi operator 22,05%, faktor lingkungan 9,67% dan faktor personil 5,08%. Sedangkan penyebab kccelakaan pengawasan yang kurang sebesar l4,9I%, dengan persentasc tcrbesar adalah gagal untuk mempcrbaiki problem yang sudah dikuasai sebesar 8,50%, kemudian disusul karcna pengawasan yang tidak memadai/cukup 4,25%, pelanggaran pengawasan sebesar 1,46% dan perencanaan operasi yang tidak tcpat 0,70%. Dan penyebab kecelakaan karena pengaruh organisasi sebcsar 3,54%, didapatkan penyebab terbesar karena iklim organisasi 2,22%, kemudian disusul karena manajeman 0,83%, dan proses organisasi 0,50%. Hal-hal yang pcrlu dilakukan untuk mengurangi faktor penyebab kecclakaan adalah membuat laporan hasil investigasi kecelakaan yang lcbih baik; melakukan training dan re-training untuk meningkatkan kemampuan (skill) dan pengetahuan operator, terutama mcngenai ketezampilan dan instruksi kezja untuk menambah pengalaman kerja; pembuatan peraturan atau SOP, manual, checklist yang jelas dan tegas serta men-sosialisasikannya _sccara berkala kepada pihak-pihak yang berkepentingan; mcmperkenalkan kcmbali tombol-tombol kontrol pada mesin yang dijalankan; mcmbuat display instmmen yang mudah dimcngerti, sistem peringatan yang baik; menciptakan suasana dan kexja sama team yang baik agar reduksi errors dapat ditingkankan; melakukan pengawasan terhadap perilaku pekcrja (behaviour observation); memberikan sanksi apabila terjadi pclanggaran sesuai ketentuan yang berlaku; melakukan seleksi perke1ja lebih baik; memberikan izin dan sertifikasi untuk pekedaan tertentu; mengatur jadwal kerja; memberikan pelatihan dan menata ulang tcmpat kmja bila memungkinkan, dan membentuk gtup diskusi setiap ada kecelakaan yang teljadi guna memecahkan permasalahan yang tirnbul agar tidak terulang kembali.

Recently, the numbers of work accident is still high specifically at the company where work safety and health have not been implemented well. For example, there have been 456 work accidents recorded from January to October 2008 at X Company. The causes ofthe accidents are unknown. Are they because of the unsafe act, the precondition of the unsafe act, the inappropriate supervision, and/or the organizational influence? Based on those backgrounds, the researcher wants to find out why and how the work accidents happen. The aim of this research is to analyze the profile of work accident cases at X Company observed using The Human Factors Anabwsir and Classification .System (I-IFACS) as the unit of work accident case analysis. The research result shows four classifications ofthe work accidents factors are related to each other. Based on the analysis using I-[FACS classification system, the biggest factors and percentage causing work accidents at X Company are : the unsafe act with 44,75%, the precondition of the unsafe act with 36,80%, the unsafe supervision with l4,9l%, and the organizational influence with 3,54%. The causes of the unsafe act are human error (30,57%) and violation (14,18%). Human error happens because of three things: skill-base errors (21,2l%), decision errors (6,93%), and perceptual errors (2,42%). Meanwhile, the violation happens due to routine violation (8,86%) and exceptional violation (S,32%). The precondition of the unsafe act sharing 36,80% is influenced by the conditions of operators (22,05%), the environmental factors (9,67%), and the personnel factors (5,08%). Moreover, the cause of the unsafe supervision sharing l4,91% happens duc to the failure to correct problem (8,50%), the inadequate supervison (4,25%), the supervisory violation (l,46%), and the planned inappropriate operations (0,70%). Last, the organisational influence sharing 3,54% is caused by the organizational climate (2, 22%), the resource management (0,83%), and the organizational process (0.50%) The necwsary things to do in order to minimize those work accident factors are making a better accident investigation report, doing training and retraining in order to increase the skill and the knowledge of the operator, specifically related to the work competence and instmction to increase work experience, the making of SOP, manual, clear and explicit checklist, and socializing it periodically to those who are concemed; reintroducing control buttons on the operating machine, making comprhensible instrument display and good warning system, creating good team work atmosphere in order to improve error reduction, doing behaviour supervision to the employees, giving sanctions to any violations based on the prevailed regulations, oing a better employees selection, giving license and certificate for certain jobs, arranging work schedule, doing training, re-designing the workplace if possible, and making a discussion group whenever an accident happens in order to solve appeared problem so it will not happen again in the future.
Read More
T-2985
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Taufik Ikhsan Derana; Pembimbing: Sjahrul M. Nasri; Penguji: Fatma Lestari, Tata Soemitra, Febry Afrianto Setyawan
T-3240
Depok : FKM UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizqi Avrila Putri; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Puspitasari
Abstrak: Salah satu tujuan utama dari investigasi kecelakaan adalah untuk memberikan rekomendasi perbaikan dan pencegahan agara dapat mencegah kecelakaan yang sama terulang di kemudian hari. Adanya kecelakaan berulang di PT.X mengindikasikan bahwa investigasi kecelakaan yang dilakukan belum efektif. Salah satu yang menjadi faktor penting dalam investigasi kecelakaan adalah kualitas investigator, karena investigator lah yang akan menjalankan seluruh rangkaian proses investigasi kecelakaan kerja. Berdasarkan hasil wawancara awal, pihak investigator menjelaskan bahwa para investigator belum pernah mendapatkan pelatihan khusus mengenai investigasi kecelakaan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menilai kualitas investigator kecelakaan kerja di PT.X . Kualitas investigator dilihat dari tiga variabel yaitu kompetensi, konsistensi, dan open minded. Metode yang digunakan adalah kualitatif bersifat deskriptif melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen. ku Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas investigator di PT.X masih kurang baik. Dimana, aspek kompetensi masih kurang baik, aspek konsitensi berada pada tingkatan yang baik dan open minded berada pada tingkatan cukup baik. Kata Kunci: Investigator, Kecelakaan Kerja, Kompetensi, Konsistensi, Open Minded
One of the main purpose of accident investigation is to create recommendations for corrective actions in order to prevent the recurrent accident in the future. Some reccurent accidents at PT.X indicating that the previous accident investigations have not done effectively. One of the main factors in accident investigation is the quality of investigators, because investigators conduct the whole steps of accident investigation. Based on an early interview with some of the investigators, they said that they‟ve never been trained about accident investigation. Thus, this qualitative study aims to assess the quality of accident investigators at PT.X. The aspects of quality that will be assessed in this study are competency, consistency, and the ability of investigators to be open minded. The method used in this study is descriptive qualitative with in-depth interviews, observations, and secondary data. The result showed that the overall quality of accident investigators at PT.X is categorized not good, in which the competency aspect is poor, consistency aspect is good, and the ability of investigators to be open minded aspect is good enough. Key Words: Investigator, Workplace Accident, Competency, Consistency, Open Minded
Read More
S-8915
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irrna Melina; Pembimbing: Widjaya, Melly
M-753
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
D3 - Laporan Magang   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shony Erdinal; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Fatma Lestari, Widura Imam Mustopo, Mufti Wirawan
Abstrak:
Tesis ini mengkaji kecelakaan kerja aktivitas pengangkatan pada operasi rig darat di PT X. menggunakan metode Human Factor Analysis and Classification System (HFACS) periode tahun 2014 - 2018. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. Hasil analisis penelitian menunjukkan lapisan unsafe acts (tindakan tidak selamat) yang paling bekerja tidak efektif dengan paling banyak berkontribusi terhadap kecelakaan kerja sebanyak 45 dari total 49 kecelakaan kerja yang diteliti, dengan tipe errors (kesalahan) yang berkontribusi terbanyak dengan 39 kecelakaan kerja Lapisan organizational influences (pengaruh organisasi) tidak bekerja efektif dengan berkontribusi terbanyak kedua terhadap kecelakaan kerja sebanyak 26 dari total 49 kecelakaan kerja yang diteliti, dengan tipe organizational process (proses organisasi) yang berkontribusi terbanyak dengan 23 kecelakaan kerja. Lapisan unsafe supervisions (pengawasan tidak selamat) tidak bekerja efektif dengan berkontribusi terbanyak ketiga terhadap kecelakaan kerja sebanyak 16 dari total 49 kecelakaan kerja yang diteliti, dengan tipe inadequate supervision (pengawasan tidak memadai) dan planned inappropriate operations (perencanaan operasi yang tidak tepat) berkontribusi sama banyak yaitu masing-masing dengan 10 kecelakaan kerja. Lapisan preconditions for unsafe acts (prakondisi untuk tindakan tidak selamat) cukup bekerja efektif dengan berkontribusi paling sedikit dengan 8 kecelakaan kerja dari total 49 kecelakaan kerja yang diteliti, dengan tipe personnel factors (faktor personalia) berkontribusi terbanyak dengan 7 kecelakaan kerja. Hasil analisis penelitian menyarankan dilakukan tindakan perbaikan di setiap lapisan HFACS sebagai sistem proteksi keselamatan baik latent failures (kegagalan laten) dan active failures (kegagalan aktif) dengan penekanan perbaikan dimulai dahulu dari lapisan organizational influences (pengaruh organisasi) dilanjutkan dengan lapisan unsafe supervisions (pengawasan tidak selamat) dan kemudian lapisan unsafe acts (tindakan tidak selamat), sedangkan perbaikan lapisan preconditions for unsafe acts (prakondisi untuk tindakan tidak selamat) menjadi tahapan perbaikan terakhir, selain juga perbaikan pada organizational influences (pengaruh organisasi), lapisan unsafe supervisions (pengawasan tidak selamat), dan lapisan unsafe acts (tindakan tidak selamat) akan memberikan pengaruh positif pada lapisan preconditions for unsafe acts (prakondisi untuk tindakan tidak selamat)

The focus of this research is to analyze all occupational accidents of lifting activities on land rig operations in PT ‘X’ using the Human Factor Analysis and Classifications System (HFACS) method in 2014 - 2018. The type of research methodology is qualitative research with a descriptive design. The final result shows that the unsafe act layer is the most ineffective layer that contributing to almost all occupational accident cases which is 45 of 49 total cases of occupational accidents. Error is the sub-layer of unsafe act which has the highest number of contributions to occupational accident cases with total 39 cases. On the other side, the organizational influences layer is the second layer that has high contribution to accident which is 26 of 49 total cases of occupational accidents. The organizational process is the sub-layer of organizational influences which contributing to 23 cases of occupational accident. The third layer which has contribution to accident is unsafe supervision. The unsafe supervision has contribution to accident which is 16 of 49 total cases of occupational accidents. Inadequate supervision and planned inappropriate operation are the sub-layer of inadequate supervision which contribute to the accident cases for 10 cases equally. The layer of preconditions for unsafe actions is the effective layer which has contribution to occupational accident cases which is 8 of 49 total cases of occupational accidents. Personnel factor is the sub-layer of preconditions for unsafe actions which contribute to 7 cases of occupational accidents. According to the result, researcher recommend that corrective action must be taken at each layer of HFACS as the safety protection system, both latent failures and active failures with the emphasis on improvement, which start from the organizational influences layer, followed by the unsafe supervisions layer, and then unsafe actions layer, while the improvement on the layer of precondition for unsafe actions becomes the last improvement. Improvement to organizational influences layer, unsafe act layer, and unsafe supervisions layer will have a positive influence on the layer of precondition for unsafe actions.

Read More
T-5954
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sunarni; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Fatma Lestari, Jimmy Erick Prasetya
T-2693
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andrizqa; Pembimbing: Mufti Wirawan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Asep Zaenal Muttaqien
Abstrak:
Persepsi pekerja terhadap keselamatan dapat mempengaruhi safety climate di perusahaan yang dapat menjadi penyebab dari peningkatan cedera dan kecelakaan kerja di industri manufaktur. Analisis iklim keselamatan kerja pada industri semen di Indonesia dilakukan dengan mengetahui persepsi para pekerja terhadap implementasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang ada. Setiap proses kerja yang terdapat di industri semen mulai dari proses penambangan hingga proses pengemasan mempunyai potensi bahaya K3. Kegiatan penambangan di industri semen merupakan hal yang rentan terhadap terjadinya kecelakaan kerja. Pekerja di area quarry tempat penambangan memiliki level risiko tertinggi (high). Penelitian ini dilakukan pada pekerja di area quarry dengan metode kuantitatif dengan menggunakan kuesioner yang diadaptasi dari Loughborough Safety Climate Assessment Toolkit untuk mengetahui gambaran safety climate di area quarry PT X. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori nilai rendah terdapat pada masing-masing subvariabel dari variabel organizational safety value, group safety value, dan individual safety value. Faktor yang paling berpengaruh adalah kebijakan dan prosedur di perusahaan serta pemahaman pekerja mengenai cara mengidentifikasi risiko dan bahaya di pekerjaannya.

The perception of workers towards safety can influence the safety climate within a company, which can be a cause of increased injuries and workplace accidents in the manufacturing industry. An analysis of the safety climate in the cement industry in Indonesia was conducted by understanding workers' perceptions of the implementation of Occupational Health and Safety (OHS) measures. Every work process in the cement industry, from mining to packaging, carries potential occupational health and safety hazards. Mining activities in the cement industry are particularly vulnerable to workplace accidents. Workers in the quarry area, where mining takes place, face the highest level of risk. This research focuses on workers in the quarry area, utilizing a quantitative method with a questionnaire adapted from the Loughborough Safety Climate Assessment Toolkit to assess the safety climate at X's Company quarry area. The research findings indicate that low values are observed in each sub-variable of organizational safety value, group safety value, and individual safety value. The most influential factors are the company's policies and procedures, as well as workers' understanding of how to identify risks and hazards in their work.
Read More
S-11507
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Umi Sajidah; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Baiduri Widanarko, Irma Setiawati
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang analisis risiko K3 di proses kerja Die Casting Plan 3 PT. X pada bulan Mei-Juni 2016. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan AS/NZS ISO 31000:2009 sebagai standar untuk proses penilaian risiko K3. Metode yang digunakan dalam penilaian risiko adalah semi-kuantitatif formula matematika W. T Fine. Identifikasi risiko menggunakan metode Job Hazard Analysis (JHA). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat risiko K3 pada proses kerja Die Casting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan sebanyak 58 risiko pada proses kerja Die Casting dimana pada penilaian risiko awal (basic risk) sebanyak 48,27% risiko dengan level very high, 24,14% risiko dengan level risiko substantial, 18,97% risiko dengan level risiko priority 3, dan 8,62% risiko dengan level risiko priority 1. Kemudian risiko dinilai kembali dengan mempertimbangkan pengendalian yang sudah ada (existing control) menjadi 46,55% risiko dengan level risiko priority 3, 24,13% risiko dengan level risiko substantial, 13,80% risiko dengan level risiko priority 1, 8,62% risiko dengan level risiko very high, dan 6,90% risiko dengan level risiko acceptable. Sedangkan dari keempat proses kerja Die Casting terdapat 5 risiko terbesar dengan level risiko yang belum acceptable, yaitu very high, priority 1 dan substantial. Oleh karena itu, diberikan rekomendasi untuk pengendalian dari 5 risiko terbesar tersebut dari masing-masing proses yang bersifar engineering control, administrative control atau personal protective control.
Kata kunci: AS/NZS ISO 31000 : 2009, manajemen risiko, penilaian risiko, tingkat risiko.

This study discusses about the risk analysis of occupational health and safety in the working process Die Casting Plan 3 PT. X in May-June 2016. This study used a descriptive research design with AS / NZS ISO 31000: 2009 as standard for the risk assessment process of occupational health and safety. The method used in the risk assessment is a semi-quantitative mathematical formula W. T Fine. Risk identification method in this study adopted by Job Hazard Analysis (JHA). The purpose of this study was to determine the risk level of occupational health and safety in the working process Die Casting. The results showed that found as many as 58 risks in the working process Die Casting. where the initial risk assessment (basic risk) as much as 48.27% of risk with a very high level, 24.14% of risk with substantial risk level, 18.97% of risk with risk priority level 3, and 8.62% risk risk level priority 1. Then these risks reassessed taking into account the existing controls (existing risk) to 46.55% of risk with risk priority level 3, 24.13% of risk with substantial risk level, 13.80% risk risk priority level 1, 8.62% of risk with a very high level of risk, and 6.90% to the level of risk acceptable risk. While on the fourth working process Die Casting, there are 5 biggest risk to the level of risk that is not acceptable, is very high, priority 1 and substantial. Therefore, given advice on the control of the 5 biggest risks of each process that is engineering controls, administrative controls or personal protective control.
Keyword: AS / NZS ISO 31000: 2009, risk management, risk assessment, risk levels.
Read More
S-9204
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive