Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34295 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rita Damayanti; Promotor: Hadi Pratomo; Ko-promotor: Sarlito Wirawan Sarwono; Penguji: Soekidjo Notoatmodjo, Adang Bachtiar, Ali Nina Liche Chairy, Seniaty, Irwanto, Purnawan Junadi, Sidijanto Kamso
D-198
Depok : FKM-UI, 2007
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erika Yulita Ichwan; Promotor: Dian Ayubi; Kopromotor: Rita Damayanti; Penguji: Mardiati Nadjib, Martya Rahmaniati M., Lucia RM Royanto, Irwanto, Indra Supradewi, Maria Gayatri
Abstrak:
Latar Belakang : Remaja merupakan aset bagi pembangunan bangsa. Perubahan fisik dan biologis, termasuk berkembangnya ciri-ciri seksual sekunder dan perubahan hormonal pada organ-organ seksual, menyebabkan ketidaksiapan remaja dalam menghadapi dampak perilaku seksual yang mereka lakukan. Hal ini mempengaruhi kualitas kehidupan remaja selanjutnya. Untuk mengatasi permasalahan sosial akibat perilaku seksual pada remaja, diperlukan faktor protektif untuk mengontrol dan mencegah perilaku seksual melalui Developmental Assets yang dimiliki remaja. Tujuan : Penelitian ini untuk mengembangkan model pencegahan perilaku seksual remaja dengan pendekatan Developmental Assets pada remaja di DKI Jakarta. Metode : Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Pengumpulan data dilakukan pada 1048 remaja SMA usia 17-19 di DKI Jakarta secara purposive sampling. Menggunakan Developmental Asset Profile (DAP) Questionnaire yang telah diadaptasi dan dianalisis faktor dengan CFA sebelum digunakan. Analisa data menggunakan SEM PLS. Hasil : Penelitian menemukan masih terdapat 4,2% remaja dengan perilaku seksual pranikah berisiko, 7 komponen yang mendukung developmental assets remaja di DKI Jakarta, yaitu Family support and expectation, Constructive use of time in community dan School boundaries and expectation sebagai aset eksternal. Sementara Social competencies, Positives values, Personal identity, dan Commitment to learning merupakan aset internal. Variabel yang berhubungan langsung dengan perilaku seksual adalah Self efficacy, Family support and expectation dan Personal identity dengan nilai SRMR estimated model 0,073 (perfect fit) Kesimpulan : Masih ditemukan remaja dengan perilaku seksual pranikah berisiko meskipun dalam jumlah yang rendah, model yang didapatkan tidak menunjukkan bahwa developmental assets merupakan faktor protektif utama, namun developmental assets melalui aset eksternal berhubungan dengan semua aset internal untuk meningkatkan self efficacy terhadap perilaku seksual berisiko. Implementasi program pendidikan seksual diperlukan dengan memperkuat kolaborasi antar lembaga, dan penguatan aset eksternal dan internal untuk mendukung perkembangan remaja yang sehat dengan pendekatan yang mengintegrasikan dukungan keluarga, lingkungan sekolah, dan kegiatan komunitas. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami lebih dalam jalur tidak langsung ini dan mengembangkan intervensi yang efektif.

Background: Adolescents are a vital asset for national development. However, the physical and biological changes, including the development of secondary sexual characteristics and hormonal changes in sexual organs, often leave them unprepared to face the consequences of their sexual behavior. This lack of preparedness can significantly affect their future quality of life. To address social issues arising from adolescent sexual behavior, protective factors are needed to control and prevent such behavior through the Developmental Assets that adolescents possess. Objective: This study aims to develop a model for preventing adolescent sexual behavior using a Developmental Assets approach among adolescents in DKI Jakarta. Methods: This research employs a quantitative approach with a cross-sectional design. Data were collected from 1,048 high school students aged 17-19 in DKI Jakarta using purposive sampling. The Developmental Asset Profile (DAP) Questionnaire was adapted and validated using Confirmatory Factor Analysis (CFA) for data collection. Data analysis was conducted using Structural Equation Modeling (SEM) with Partial Least Squares (PLS). Results: The research found that there are still 4.2% of teenagers with risky premarital sexual behavior. Seven components support the developmental assets of teenagers in DKI Jakarta: Family support and expectations, Constructive use of time in the community, and School boundaries and expectations as external assets. Meanwhile, internal assets include social competencies, Positive values, Personal identity, and Commitment to learning. Variables that are directly related to sexual behavior are Self-efficacy, Family support and expectations, and Personal identity, with an SRMR estimated model value of 0.073 (perfect fit) Conclusion: There are still teenagers with risky premarital sexual behavior, although, in low numbers, the model obtained does not show that developmental assets are the main protective factor; developmental assets through external assets are related to all internal assets to increase self-efficacy for risky sexual behavior. Implementation of sexual education programs requires strengthening collaboration between institutions and strengthening external and internal assets to support healthy adolescent development with an approach that integrates family support, the school environment, and community activities. Further research is needed to understand these indirect pathways better and develop effective interventions.
 
 
Read More
D-529
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
R. Kintoko Rochadi; Pembimbing: Soekidjo Notoatmodjo; Adang Bachtiar; Sudijanto Kamso
D-95
Depok : FKM UI, 2004
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Balqis; Promotor: Hasbullah Thabranyl; Kopromotor: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Anhari Achadi, Dumilah Ayuningtyas, Besral, Zubairi Djoerban, Lely Wahyuniar, Makhdum Priyatno
Abstrak:
Penelitian ini membahas peran kolaborasi lintas sektor terhadap kinerja program pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS di Provinsi Sulawesi Selatan, merupakan penelitian mix method dengan design cross sectional dan kualitatif dengan Rapid Assessment Procedur. Pengukuran kolaborasi P2 HIV-AIDS dilakukan melalui beberapa tahap. Tahap pertama adalah pengembangan indikator proses kolaborasi melalui pendekatan kualitatif dengan melakukan indepth interview pada berbagai pemangku kepentingan yaitu KPAN, kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial dan Kementerian Pendidikan, telaah dokumen dan diskusi pakar. Hasil wawancara dianalisis melaui analisis tematik. Tahap kedua dilakukan uji coba kuesioner yang telah dikembangkan dengan uji Alpha Cronbach dan confirmatory factor analysis. Tahap ketiga melakukan perbaikan instrument dari hasil ujicoba yang telah dilakukan melalui diskusi pakar. Tahap terakhir dilakukan pengukuran kolaborasi di Provinsi Sulawesi Selatan dengan melibatkan 328 responden yang mewakili lembaga yang berkolaborasi. Pegukuran menggunakan analisis uji beda mean untuk mengetahui perbedaan rata-rata proses kolaborasi antar kelompok wilayah, kepentingan lembaga, keberadaaan KPA dan peran pemda dan uji beda proporsi untuk mengetahui hubungan antar pemerintah daerah dengan keberadaan KPA serta mengetahui hubungan antara output kolaborasi dan kinerja temuan kasus ODHA. Dilakukan juga analisis regersi logistic untuk melihat pengaruh peran kolaborasi lintas sektor terhadap kinerja program P2 HIV-AIDS. Penelitian ini menghasilkan 29 indikator dari 5 dimensi proses kolaborasi. Hasil peneitian juga menunjukkan terdapat perbedaan rerata skor proses kolaborasi antar ketiga kelompok fokus wilayah, kelompok kepentingan lembaga dan kelompok keberadaan KPA. Terdapat hubungan antar peran sekretariat KPA dengan berjalannya proses kolaborasi serta ada hubungan yang kuat antar perhatian pemerintah daerah dengan keberadaan sekretariat KPA. Terdapat hubungan antar proses kolaborasi dengan output kolaborasi dan juga antar output kolaborasi dengan kinerja temuan kasus ODHA. Dimensi kolaborasi yang berpengaruh terhadap peningkatan temuan kasus ODHA adalah dimensi output yaitu penguatan kebijakan, program, dana dan SDM. Peran output kolaborasi dalam hal ini program, dana dan SDM memiliki kontribusi yang besar terhadap temuan kasus ODHA. Studi ini merekomendasikan perlu peran kolaborasi lintas sektor dalam peningkatan kinerja pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS.
Read More
D-416
Depok : FKM-UI, 2020
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nia Murniati; Promotor: Sudijanto Kamso; Kopromotor: Ratu Ayu Dewi Sartika, Purwantyastuti; Penguji: Ratna Djuwita, Ali Nina Liche Seniati, Herqutanto, Ria Maria Theresa, Fidiansjah
Abstrak:
Banyak faktor pemicu terjadinya depresi pada lansia yang sudah terdokumentasi dengan baik melalui berbagai literatur, namun belum ada kajian antar kelompok lansia perkotaan dan perdesaan di Indonesia. Kajian antar kelompok ini diperlukan agar penatalaksanaan masalah depresi pada lansia dapat lebih tepat sasaran. Peran biopsikososial dipertimbangkan sebagai kajian holistik yang saling terkait untuk memeriksa sejauh mana hubungannya dengan depresi pada lansia. Kajian dilakukan menggunakan data Indonesia Family Life Survey gelombang 4 dan 5. Hasil menunjukkan terdapat perubahan faktor biopsikososial dengan depresi lansia di perkotaan dan perdesaan Indonesia. Perubahan kondisi fisik dan kesejahteraan subyektif menjadi risiko depresi lansia di perkotaan. Sedangkan untuk lansia perdesaan, ditemukan perubahan kondisi fisik, perubahan rasa saling percaya, perubahan partisipasi masyarakat dan perubahan status marital sebagai risiko depresi lansia.

There are several well-documented factors that contribute to elderly depression, however there haven't been any research in Indonesia comparing elderly populations in urban and rural areas. In order to better effectively manage depression issues in the elderly, a research across groups is required. The role of biopsychosocial is viewed as an interrelated holistic study to determine the extent of its impact on depression in the elderly using data from the Indonesian Family Life Survey waves 4 and 5. The results show that there are differences in the risk of depression in the elderly in urban and rural Indonesia. Changes in physical condition and subjective well-being are risks of depression in urban elderly people. Meanwhile, for rural elderly, changes in physical condition, changes in mutual trust, changes in community participation and changes in marital status were found as risks for elderly depression.
Read More
D-496
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Meutia Sari; Promotor: Ratna Djuwita; Kopromotor: Besral, Triya Damayanti; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Evi Martha, Putri Bungsu, Eva Susanti, Chandra Rudyanto, Arief Bakhtiar
Abstrak:
Pendahuluan: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sering tidak terdeteksi pada tahap awal, terutama di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Dibutuhkan instrumen skrining yang valid, sederhana dan mudah yang sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia untuk meningkatkan penemuan kasus secara dini. Penelitian ini bertujuan menyusun dan mengembangkan instrumen skrining PPOK baru, yaitu TAMI (insTrumen skrining PPOK pAda Masyarakat berIsiko), serta membandingkan validitasnya dengan instrumen PUMA (Prevalence Study and Regular Practice, Diagnosis and Treatment Among General Practitioners in Populations at Risk of COPD). Metode: Penelitian menggunakan desain exploratory sequential mixed methods, dimulai dengan penelitian kualitatif dan dilanjutkan dengan kuantitatif. Pada penelitian kualitatif menggunakan pendekatan qualitative case study dalam kerangka general inquiry, dilakukan melalui wawancara mendalam dan panel expert judgment untuk menyusun instrumen baru. Penelitian kuantitatif menggunakan desain studi kasus-kontrol, melibatkan 200 responden (100 kasus dan 100 kontrol) berisiko PPOK yang berkunjung ke Poliklinik Paru RSUD Jakarta pada Januari-Mei 2025 untuk pengisian instrumen dan pemeriksaan spirometri sebagai gold standard. Analisis mencakup uji bivariat dan multivariat, serta uji sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksi positif (PPV), nilai prediksi negatif (NPV), Youden Index, dan area under the curve (AUC). Hasil: Instrumen TAMI menunjukkan kinerja diagnostik yang baik dengan AUC 0,773, serta keseimbangan sensitivitas dan spesifisitas yang stabil. Instrumen PUMA memiliki AUC 0,736 dengan sensitivitas dan spesifisitas lebih rendah dibandingkan TAMI. Nilai PPV dan NPV yang lebih besar pada TAMI juga menunjukkan kemampuan diskriminasi yang lebih baik dalam mengidentifikasi dan membedakan kasus PPOK dibandingkan PUMA. Kesimpulan: Instrumen TAMI terbukti valid dan dapat menjadi alat skrining PPOK yang lebih sesuai digunakan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) di Indonesia. TAMI juga lebih praktis sebagai instrumen skrining PPOK untuk penggunaan rutin di masyarakat. Implementasi TAMI di FKTP diharapkan meningkatkan penemuan kasus PPOK dan memperkuat upaya pencegahan serta edukasi pada masyarakat berisiko.

Background: Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is a major public health problem that is often underdiagnosed in its early stages, particularly in primary healthcare settings. A valid, simple, and user-friendly screening instrument tailored to population characteristics in Indonesia is needed to improve early case detection. This study aimed to develop a new COPD screening tool, TAMI (insTrumen skrining PPOK pAda Masyarakat berIsiko), and to compare its validity with the PUMA instrument (Prevalence Study and Regular Practice, Diagnosis and Treatment Among General Practitioners in Populations at Risk of COPD). Methods: This study employed an exploratory sequential mixed-methods design, beginning with a qualitative phase followed by a quantitative phase. The qualitative phase used a qualitative case study approach within a general inquiry framework, conducted through in-depth interviews and expert judgment panels to construct the new instrument. The quantitative phase applied a case–control study design involving 200 respondents (100 cases and 100 controls) at risk for COPD who attended the Pulmonary Clinic of RSUD Jakarta between January and May 2025. All respondents completed the screening instruments and underwent spirometry as the gold standard. Data analysis included bivariate and multivariate testing, as well as assessment of sensitivity, specificity, positive predictive value (PPV), negative predictive value (NPV), Youden Index, and area under the curve (AUC). Results: The TAMI instrument demonstrated strong diagnostic performance with an AUC of 0.773 and a stable balance between sensitivity and specificity. The PUMA instrument showed a lower AUC of 0.736, along with lower sensitivity and specificity compared with TAMI. Higher PPV and NPV values for TAMI further indicated superior discriminatory ability in identifying and excluding COPD cases compared with PUMA. Conclusion: The TAMI instrument is valid and suitable for use as a COPD screening tool in primary healthcare facilities in Indonesia. It also offers practical advantages for routine community-based screening. Implementation of TAMI in primary healthcare settings is expected to enhance early COPD detection and strengthen preventive and educational efforts among at-risk populations.
Read More
D-608
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tati Sumiati; Promotor: Sabarinah; Kopromotor: Agustin Kusumayati; Penguji: Asri C. Adisasmita, Meiwita P. Budiharsana, Rita Damayanti, Pribudiarta Nur Sitepu, Wendy Hartanto, Yekti Widodo
Abstrak:
Ketidaksiapaan seorang perempuan remaja untuk hamil, melahirkan dan mengasuh dapat mengakibatkan tidak tercapainya perkembangan anak. Dalam meningkatkan perkembangan anak yang optimal, diperlukan kondisi perawatan pengasuhan yang dapat meningkatkan kesehatan, nutrisi, keamanan dan keselamatan, pengasuhan responsif, serta peluang belajar sejak dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek kehamilan remaja terhadap perawatan pengasuhan anak di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data integrasi Susenas Kor Maret dan Riskesdas tahun 2018. Pengukuran kelas perawatan pengasuhan menggunakan analisis kelas laten. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan aplikasi MPlus Versi 8.3. Perawatan pengasuhan terdiri dari 5 komponen yaitu kesehatan, nutrisi, keamanan dan keselamatan, pengasuhan responsif, serta peluang belajar sejak dini. Hasil penelitian menunjukkan proporsi anak yang dikandung oleh ibu remaja sebesar 31,7%. Terdapat 3 kelas perawatan pengasuhan dalam penelitian ini yang dapat dinamakan kelas dukungan perawatan pengasuhan yang komprehensif, GESID, dan PAUD. Dari 5 komponen perawatan pengasuhan, 3 di antaranya kesehatan, nutrisi dan peluang belajar sejak dini terungkap dibutuhkan oleh semua anak, serta 2 komponen (keamanan dan keselamatan, serta pengasuhan responsif) dibutuhkan oleh kelas tertentu. Sebanyak 62% ibu hamil membutuhkan perawatan pengasuhan komprehensif bagi anaknya, lebih tinggi dibanding ibu usia 20 tahun ke atas (10%). Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa anak yang dikandung ibu remaja ini 2 kali lebih membutuhkan dukungan perawatan pengasuhan komprehensif dibanding anak yang dikandung oleh ibu berusia 20 tahun ke atas. Ibu remaja memerlukan bimbingan semua komponen perawatan pengasuhan. Karena isu perawatan pengasuhan adalah lintas bidang dan lintas sektor, maka koordinasi program lintas SKPD sangat penting untuk meningkatkan kesehatan, kecukupan nutrisi, dan peluang belajar sejak dini, serta sesuai kebutuhan masing-masing kelas.

The unpreparedness of an adolescent woman to get pregnant, give birth and nurture can result in not achieving child development. In promoting optimal child development, nurturing care conditions are needed that can improve health, nutrition, security and safety, responsive caregiving, and opportunities for early learning. This study aims to determine the effect of adolescent pregnancy on nurturing care in Indonesia. This study uses integrated data from Susenas kor March and Riskesdas 2018. The masurement nurturing care classes uses latent class analysis. Data analysis in this study used the Mplus application Version 8.3. Nurturing care consists of 5 components namely health, nutrition, security and safety, responsive caregiving, and opportunities for early learning. The results showed that the proportion of children conceived by adolescent mothers was 31.7%. There are 3 classes of nurturing care in this study which can be called comprehensive nurturing care classes, GESID, and PAUD. Of the 5 components of nurturing care, 3 of which are health, nutrition and opportunities for early learning were revealed to be needed by all children, and 2 components (security and safety, and responsive caregiving) were needed by certain classes. As many as 62% of adolescent pregnancy require comprehensive nurturing care for their children, higher than mothers aged 20 years and over (10%). Logistic regression analysis showed that children conceived by adolescent mothers were twice as likely to need comprehensive care support as children conceived by mothers aged 20 years and over. Adolescent mothers need more guidance on all components of nurturing care. Because the issue of nurturing care is cross-cutting and cross sectoral, program coordination across SKPD is very important to improve health, nutritional adequacy, and opportunities for early learning, and according to the needs of each class.
Read More
D-468
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farah Alphi Nabila; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Toha Muhaimin, Debby Permatasari
Abstrak: Perilaku berobat dalam penelitian ini ialah perilaku ODHA dalam meminum obatARV, mulai dari pengambilan obat ARV hingga pada pengonsumsiannya.Penggunaan ARV menuntut ODHA untuk patuh dan menjalankan pengobatannyadengan teratur. Sedikit pelanggaran dari ketentuan mengonsumsi obat tersebut dapatmenyebabkan kegagalan proses pengobatan dan memicu munculnya resistensi. DiIndonesia, angka kejadian kegagalan dalam pengobatan ARV masih tinggi akibatkepatuhan berobat yang kurang baik. Hingga September 2014, ada 38.399 orang yangberhenti melakukan pengobatan ARV dan tidak ter-followup. Tujuan dari penelitianini ialah memperoleh gambaran yang mendalam tentang perilaku berobat ODHAYayasan Kotex Mandiri yang berkaitan dengan pengetahuan, self efficacy, riwayatefek samping obat, akses layanan kesehatan, pengalaman mendapat stigma dandiskriminasi di layanan kesehatan, dukungan tenaga kesehatan, dan dukungankelompok. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakandesain studi kasus. Metode yang digunakan adalah wawancara mendalam dan telaahdokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ODHA Yayasan KotexMandiri memiliki pengetahuan yang baik mengenai HIV, cara penularan, danpengobatan ARV, memiliki self efficacy yang tinggi, mengalami riwayat efek sampingobat seperti mual, demam, ruam-ruam, namun dapat diatasi dengan baik dan tidakmenimbulkan perilaku putus obat, mendapat akses layanan kesehatan sangat mudah,tidak mengalami stigma dan diskriminasi di layanan kesehatan tempatnya berobat,mendapat dukungan dari tenaga kesehatan, dan kelompok (keluarga, teman, danLSM). Adanya program pendampingan dari Yayasan Kotex Mandiri di layanankesehatan memberikan dampak seperti peningkatan pengetahuan dan motivasi berobatODHA.
Kata Kunci: Perilaku Berobat, ODHA, Yayasan Kotex Mandiri
The treatment behavior in this study is the behavior of ODHA in taking ARV drugs,starting from taking ARV in health services to their consumption. The use ofantiretrovirals requires ODHA to comply and carry out their treatment regularly.Few violations of the provisions for taking these drugs can cause a failure of thetreatment process and trigger resistance. In Indonesia, the incidence of ARVtreatment failure is still high due to poor adherence to treatment. Until September2014, there were 38,399 people who stopped taking ARV treatment and were notfollowed up. The purpose of this study was to obtain an in-depth picture of thetreatment behavior of the ODHA of Kotex Mandiri Foundation relating toknowledge, self efficacy, history of drug side effects, access to health services,experience of getting stigma and discrimination in health services, support of healthworkers, and group support. This research is a type of qualitative research usingcase study design. The method used is in-depth interviews and document review.The results showed that most ODHA in Kotex Mandiri Foundation had goodknowledge about HIV, modes of transmission, and ARV treatment, had high selfefficacy, experienced a history of drug side effects such as nausea, fever, rashes,but could be treated well and does not cause drug breaking behavior, gets access tohealth services very easily, does not experience stigma and discrimination in healthservices where he is treated, gets support from health workers, and groups (family,friends and NGOs). The existence of a mentoring program from Kotex MandiriFoundation in health services has had an impact such as increasing the knowledgeand motivation of ODHA treatment.
Keywords: Treatment Behavior, ODHA, Kotex Mandiri Foundation.
Read More
S-10195
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tri Krianto; Promotor: Soekidjo Notoatmodjo; Ko-Promotor: Sudijanto Kamso; Penguji: SUdarti Kresno, Supratman Sukowati, Puwantyastuti, Dewi Susana, Ekowati Rahadjeng, Soewarta Kosen
D-231
Depok : FKM UI, 2009
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Frima Elda; Promotor: Kusharisupeni; Ko-Promotor: Ahmad Syafiq, Abas Basuni Jahari; Penguji: Soekidjo Notoatmodjo, Diah Mulyawati Utari, Besral, Fawzia Hadis, Anies Irawati, Cesilia Meti Dwiriani
Abstrak: Salah satu transisi gaya hidup yang terjadi adalah perubahan perilaku makan.Diet yang dilakukan seringkali tidak sesuai dengan kaidah kesehatan dan gizi yangdapat menjurus ke arah penyimpangan perilaku makan PPM. Untuk jangka panjang,penyimpangan perilaku makan memberikan dampak yang cukup serius yaituKurang Energi Kronis KEK, dimana remaja putri sebagai calon ibu yang akanmenentukan kualitas hidup generasi yang akan datang. Untuk mengatasi maslaahini perlu dilakukan suatu upaya salah satunya denga memberikan edukasi gizi melaluimedia yang bisa dipahami oleh remaja.
  
Studi ini bertujuan untuk melihat pengaruh keterpajanan media gizi seimbangterhadap perubahan kecenderungan penyimpangan perilaku makan pada siswi SMAdi Jakarta. Media yang diberikan yaitu berupa poster banner dan leaflet booklet.Studi dengan desain quasi eksperimen dilakukan pada 7 sekolah terpilih di DKIJakarta yang dibagi dalam tiga kelompok yaitu kelompok kontrol, kelompokposter banner dan kelompok leaflet booklet. Sejumlah 504 siswi SMA dijadikansampel dalam penelitian yang, yang dilakukan selama 7 bulan.
  
Dari sebanyak 504 responden yang disaring. maka di dapatkan jumlah siswiSMA yang mengalami kecenderungan PPM pada kelompok kontrol sebesar 90.1 .pada kelompok dengan poster dan banner sebesar 95.9 dan kelompok denganleaflet dan booklet sebesar 97.1. Faktor personal yang mempunyai hubungansignifikan dengan perubahan skor PPM, yaitu riwayat diet post intervensi pvalue=0.001, citra tubuh post intervensi p value=0.016, konsumsi protein hewani p value=0.045, konsumsi protein hewani p value=0.019, skor PPM pre intervensi p value=0.000, skor sikap post intervensi p value=0.009, skor pengetahuan postintervensi 0.000. Faktor lingkungan yang mempunyai hubungan signifikan denganperubahan skor PPM, yaitu kritik dari orang tua p value=0.011, ejekan pvalue=0.011, dan pengaruh media massa untuk memulai olahraga p value=0.008.
 
 
Hasil uji menunjukkan ada pengaruh intervensi media terhadap perubahanskor PPM p value=0.007. Variabel yang paling mempengaruhi perubahan skorPPM adalah skor PPM pre intervensi p value=0.000, yang memberikansumbangan terhadap perubahan skor PPM sebesar 0.355. Terdapat perbedaan yangsignifikan dari intervensi media pada kelompok kontrol dengan kelompokleaflet booklet dan intervensi media pada kelompok poster banner dengankelompok leaflet booklet. Rata-rata perubahan skor PPM setelah pada kelompokleflet booklet yaitu sebesar 2.43 poin, pada kelompok poster banner yaitu sebesarxiii Universitas Indonesia1.61 poin dan kelompok kontrol sebesar 1.24 poin. Secara keseluruhan mediabooklet leaflet lebih efektif menurunkan skor gejala kecenderungan PPM sebesar41 dibandingkan media poster banner. Perkembangan teknologi yang menyebabkan terjadinya PPM pada remaja,maka perlu segera dilakukan penanganan dalam hal pencegahan. Dari hasil penelitianini dapat dimanfaatkan booklet dan leaflet untuk bahan edukasi, sebagai salah satucara untuk menangkal efek yang lebih buruk dari akibat perkembangan teknologi,terutama dalam industri makanan.Kata kunci : intervensi media, edukasi gizi, penyimpangan perilaku makan, giziremaja
 

 
One of the lifestyle transition which occurred is a change in behavior. Adiet that often do not correspond to the rules of health and nutrition that can lead toeating disorders ED. For the long term, eating disorders give a pretty serious impactapplies less energy chronic KEK, which young women as potential mothers whowill determine the quality of life of generations to come will be. For it can make thistagline affairs carried out an attempt by a radical way of providing nutrition educationthrough the media that can be understood by teenagers.
 
 
The aims of this study is knowing the influence of balanced nutritionmedia to changes in eating disorders tendency on high school students in Jakarta.Applies the given media in the form of poster banner, brochure booklet. Quasiexperimental design with studies done on 7 selected schools in Jakarta are divided inthree groups apply the control group, the group 39 s poster banner, the group`s brochure booklet.
 
 
A number of 504 students high school made the samples in the study,conducted over the past 7 months. From 504 respondents are filtered out, then get thenumber of high school students who experience the tendency of PPM in the controlgroup amounted to 90.1, in the group with posters and banners of 95.9 and withleaflets and booklets of 97.1. Personal factors that have a significant relationshipwith the change score PPM, diet history post intervention p value 0.001, bodyimage post intervention p 0.016, consumption of animal protein p value 0045, consumption of vegetable protein p value 0.019, score PPM pre intervention pvalue 0000, score the attitude of post intervention p 0.009, score of knowledgepost intervention 0000. Environmental factors that have a significant relationshipwith the change score PPM, valid criticism from parents value of p 0,011, ridicule value of p 0,011, and the influence of the mass media to start sports value p 0.008.
 
Test results showed there is the influence of media on intervention changesscore PPM p 0.007. The variables most influence the change score PPM is scorePPM pre intervention p value 0000, which contribute to the change score PPM of0.355 poin. There is a significant difference from the intervention of the media in thecontrol group with the group of brochure booklet and intervention of media group ofposter banner with the group brochure booklet. The average score on the group afterthe change of PPM, the group of brochure booklet applies of 2.43 points, on a groupof poster banner applies of 1.61 points and a control group of 1.24 points. Overallxv Universitas Indonesiamedia brochure booklet more effectively lowers the score symptoms tendency of41 compared to PPM media poster banner.
 
Technological developments that led to the PPM on teenagers, then thetagline immediately done handling in terms of prevention. From the results of thisresearch can be utilized booklet and brochure for educational materials, as one way toward off the effect worse than the development of technology, especially theauthenticity in the food industry.
Read More
D-373
Depok : FKM-UI, 2017
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive