Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 2998 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Koran   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Buku 1, Republika, hal. 68
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Koran   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gelant Sanjaya; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Zakianis, Yulita Suprihatin
Abstrak: Studi ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana gambaran perilaku mencegah timbulan sampah pada ibu rumah tangga yang berlokasi di Pulau Panggang, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Jumlah responden yang dilibatkan dalam studi ini sebanyak 89 responden yang semuanya ibu rumah tangga. Studi ini juga menggambarkan faktor-faktor predisposisi diantaranya pendidikan terakhir ibu rumah tangga, pendapatan perbulan keluarga, sikap mencegah timbulan sampah, dan pengetahuan tentang mencegah timbulan sampah. Selain itu, studi ini juga menggambarkan faktor pendukung perilaku yakni dukungan dari kepala keluarga, tetangga sekitar, dan perangkat RT atau RW. Kedua faktor tersebut juga dilakukan analisis bivariat untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku mencegah timbulan sampah. Studi ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang dibuat oleh peneliti dan juga sudah melewati tahap validitas dan reliabilitas dengan 13 pertanyaan perilaku dalam mencegah timbulan sampah, 9 pertanyaan pengetahuan tentang mencegah timbulan sampah, 8 pertanyaan sikap terhadap mencegah timbulan sampah, dan 5 pertanyaan untuk masing-masing dukungan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa perilaku mencegah timbulan sampah masih perlu diperbaiki dengan skor rata-rata 65,17%. Perilaku-perilaku yang masih perlu diperbaiki diantaranya adalah penggunaan kantong plastik pembelian minuman dan makanan instan, serta membuang makanan yang masih layak. Kemudian faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku yakni pendidikan terakhir (t = 2,375, p = 0,020), sikap terhadap mencegah timbulan sampah(r = 0,288, p = 0,003), dan dukungan kepala keluarga (r = 0,236, p = 0,026). Sehingga peningkatan perilaku mencegah timbulan sampah dapat dilakukan dengan fokus pada bagian yang masih perlu diperbaiki serta meningkatkan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku mencegah timbulan sampah.
Read More
S-10224
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Azalia Putri Hanasri; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Haryoto Kusno Putranto, Muhammad Rudi AR
Abstrak:
Perairan Kepulauan Seribu diketahui telah tercemar oleh kadmium (Cd), hal ini turut menyebabkan terjadinya akumulasi kadmium (Cd) dalam tubuh ikan yang hidup di dalamnya. Nantinya ikan yang terkontaminasi kadmium (Cd) dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia yang rutin mengonsumsinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi tingkat risiko kesehatan akibat pajanan kadmium (Cd) dalam ikan pada masyarakat Pulau Tidung. Desain penelitian yang digunakan adalah analisis risiko kesehatan lingkungan (ARKL) menggunakan data primer dengan jumlah responden sebanyak 97 penduduk. Hasil pengujian menunjukkan konsentrasi kadmium (Cd) dalam ikan sebanyak 0,001 mg/kg (tongkol), 0,055 mg/kg (selar), dan 0,001 mg/kg (kembung). Konsentrasi tersebut masih berada di bawah baku mutu yang berlaku. Perhitungan nilai RQ untuk populasi dan nilai RQ untuk seluruh individu menghasilkan nilai RQ ≤1, Sehingga dapat diambil kesimpulan tingkat risiko yang ditimbulkan masih bersifat aman untuk populasi dan tiap individu penduduk, namun perlu dipertahankan agar risiko yang ada tetap bersifat aman. Pencegahan risiko dapat dilakukan pada sumber pencemaran dengan melakukan pengawasan terhadap limbah buangan yang dikeluarkan ke badan air dan pemanfaatan alga sebagai bioabsorben, seperti Chaetocerus sp., Euchema sp., Cladophora glomerata, Euchema isiforme, dan Sargassum sp. untuk mengurangi cemaran kadmium (Cd) di perairan.

The waters of the Seribu Islands are known to be polluted by cadmium (Cd), this has contributed to the accumulation of cadmium (Cd) in the bodies of the fish that live there. In the future, fish contaminated with cadmium (Cd) can cause health problems in humans who regularly consume it. This study aims to estimate the level of health risk due to exposure to cadmium (Cd) in fish in the Tidung Island community. The research design used was environmental health risk analysis (EHRA) using primary data with a total of 97 respondents. The test results showed that the concentration of cadmium (Cd) in fish was 0.001 mg/kg (tongkol), 0.055 mg/kg (selar), and 0.001 mg/kg (kembung). This concentration is still below the applicable quality standards. Calculation of the RQ value for the population and the RQ value for all individuals produces an RQ value of ≤1. It can be concluded that the level of risk posed is still safe for the population and each individual resident, but needs to be maintained so that the existing risks remain safe. Risk prevention can be carried out at pollution sources by monitoring waste released into water bodies and using algae as bioabsorbents, such as Chaetocerus sp., Euchema sp., Cladophora glomerata, Euchema isiforme, and Sargassum sp. to reduce cadmium (Cd) concentration in waters.
Read More
S-11769
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Resa Mailina; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Budi Hartono, Dewi Susanna, Edy Mulyanto, Edwin Nasli
Abstrak:
Peran masyarakat dalam pengelolaan sampah plastik merupakan upaya yang tidak terbatas dalam hal mengelola sampah yang dihasilkan, melainkan juga upaya untuk menurunkan frekuensi pemakaian plastik sekali pakai, memilah sampah plastik sebelum dibuang, termasuk menjadikan sampah plastik bernilai ekonomis. Peneitian ini bertujuan menganalisis peran masyarakat dalam upaya pengelolaan sampah plastik di Provinsi DKI Jakarta, Tahun 2022. Desain studi yang digunakan adalah kuantitatif (cross sectional) dengan jumlah sampel 198 responden dan kualitatif dengan wawancara mendalam sebanyak 6 informan kepada ketua RT/RW, pengelola Bank Sampah Induk dan perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta. Peran Masyarakat dalam Upaya Pengelolaan Sampah Plastik di Provinsi DKI Jakarta masih rendah berkisar 21,2%. Hal ini berkaitan dengan tidak melakukan pemilahan sampah (62,1 %), tidak melakukan mendaur ulang atau membuat kerajinan tangan dari sampah (87,4%) dan tidak Mengirim sampah ke bank sampah (75,3%). Hasil Uji statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara jenis kelamin dan pengetahuan terhadap peran masyarakat dalam pengelolaan sampah. Pengetahuan menjadi variabel dominan yang berpengaruh dan usia, petugas sampah serta kendaraan pengangkut sampah menjadi variabel confounder terhadap peran masyarakat. Hasil wawancara mendalam beberapa informan mendapatkan hasil bahwa kepedulian masyarakat masih rendah dalam hal pengelolaan sampah plastik, kurang dukungan dari lintas sektor, sarana prasarana masih kurang memadai serta perlunya adanya monitoring dan evaluasi terkait pengelolaan sampah plastik. Kesimpulan mendapatkan bahwa peran masyarakat masih rendah dalam pengelolaan sampah plastik, pada faktor predisposisi didapatkan lebih banyak usia produktif, jenis kelamin perempuan, penghasilan tinggi, pengetahuan tinggi dan sikap mendukung. Pada faktor penguat didapatkan bahwa dukungan keluarga dan dukungan RT/RW masih rendah. Sarana prasarana seperti bank sampah sudah tersedia, tempat sampah pilah belum tersedia, petugas dan kendaraan pengangkut sampah sudah tersedia. Kata kunci: Peran Masyarakat, Upaya Pengelolaan Sampah, Sampah Plastik

The role of the community in plastic waste management is an effort that is not limited in terms of managing the waste produced, but also an effort to reduce the frequency of single-use plastic use, sorting plastic waste before disposal, including making plastic waste economically valuable. This research aims to analyze the role of the community in efforts to manage plastic waste in Province DKI Jakarta, 2022. The study design used was quantitative (cross sectional) with a sample of 198 respondents and qualitative with in-depth interviews of 6 informants to the head of RT/RW, the manager of the Main Waste Bank and representatives of the DKI Jakarta Provincial Environmental Service. The role of the community in the effort to manage plastic waste in DKI Jakarta is still low at around 21.2%. This is related to not sorting waste (62.1%), not recycling or making handicrafts from waste (87.4%) and not sending waste to the waste bank (75.3%). The results of the statistical test showed a significant relationship between gender and knowledge of the community's role in waste management. Knowledge becomes the dominant variable that influences and age, garbage officers and waste transport vehicles become confounding variables on the role of the community. The results of in-depth interviews with several informants found that public awareness was still low in terms of plastic waste management, lack of support from across sectors, inadequate infrastructure and the need for monitoring and evaluation related to plastic waste management. The conclusion is that the community's role is still low in the management of plastic waste, on the predisposing factors it is found that more productive age, female gender, high income, high knowledge and supportive attitude. On the reinforcing factor, it was found that family support and RT/RW support were still low. Infrastructure facilities such as waste banks are already available, segregated garbage bins are not yet available, officers and waste transport vehicles are available. Key words: Communty Roles, Waste Management Efforts, Plastic Waste.
Read More
T-6369
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurwirah Verliyanti; Pembimbing: Umar Fahmi Achmadi; Penguji: Dewi Susanna, John Marbun, Sri Anggraini
T-4252
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ruth Christy Setyaningtyas; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Purnawan Junadi, Vetty Yulianty Permanasari, Murniasi Hutapea, Ika Reny Retnowati
Abstrak:
Kepulauan Seribu merupakan salah satu wilayah kepulauan di Indonesia. Kondisi geografis ini menjadi tantangan dalam memberikan layanan kesehatan optimal bagi masyarakat. Manajemen rujukan pelayanan kesehatan adalah layanan suatu proses pemindahan pasien dari FKTP ke FKTRL dikarenakan belum dapat ditangani secara kompetensi di faskes pertama. Rujukan di wilayah seribu selatan lebih banyak rujukan poli dibandingkan dengan rujukan emergency. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana manajemen rujukan pelayanan kesehatan di wilayah kerja puskesmas kepulauan seribu selatan berjalan. Desain studi kasus kualitatif menggunakan metode pengumpulan data secara wawancara mendalam dan telaah dokumen. Hasil penelitian dilihat dari komponen input, ketersediaan SDMK saat ini sudah sesuai dengan standar minimal sebagai puskesmas maupun pustu, sarana dan prasarana yang dimiliki untuk menujang pelayanan rujukan ada kapal ambulans dan ambulans golf maupun standar jenis layanan di puskesmas, regulasi dalam bentuk SOP rujukan tersedia di masing-masing faskes namun belum ada regulasi yang secara spesifik membahas mengenai rujukan di wilayah kepulauan baik nasional maupun pemerintah daerah, serta sumber pendanaan untuk pelayanan rujukan didapatkan dari APBD dan BLUD. Dilihat dari komponen proccess, koordinasi yang berjalan antara pihak tenaga kesehatan perujuk, tenaga kesehatan rumah sakit rujukan, tenaga kesehatan pengantar rujukan, hingga KSOP berjalan sesuai dengan prosedur rujukan perseorangan yang berlaku. Perpaduan kedua komponen tersebut menghasilkan terlaksananya manajemen rujukan pelayanan kesehatan dengan baik secara dimensi availability, accessibility, dan affordability. 

Seribu Islands is an archipelagic region in Indonesia with unique geographic challenges in delivering optimal health services. Referral management at Seribu Selatan Community Health Center involves transferring patients from primary to advanced care due to competency limits at initial facilities. Most referrals are outpatient rather than emergency. This qualitative case study used in-depth interviews and document reviews to analyze referral management in Seribu Selatan. The results show that, in terms of input components, the availability of health human resources in Seribu Selatan meets the minimum standards for both Puskesmas and auxiliary health centers (Pustu). The facilities and infrastructure supporting referral services include ambulance boats and golf ambulances, as well as standard service types at the Puskesmas. Referral regulations in the form of standard operating procedures (SOPs) are available at each health facility based on current regional regulations. However, there are no regulations that specifically address referrals in archipelagic areas at either the national or local government levels. Funding sources for referral services come from the regional budget (APBD) and the Public Service Agency budget (BLUD). Regarding the process component, coordination between referring health workers, referral hospital health workers, referral escorts, and the KSOP (Harbor Master Office) runs according to the applicable individual referral procedures. The integration of these components results in well-executed referral management services in Seribu Selatan, evaluated through the dimensions of availability, accessibility, and affordability.
Read More
T-7254
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Buku 4, Koran Tempo hal. 44
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Koran   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizkya Fitriani; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Zakianis, Muhammad Rudi AR
Abstrak:
Pulau tidung merupakan salah satu destinasi wisata yang berada di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Di Pulau Tidung, berbagai aktivitas pariwisata maupun penduduk khususnya pada transportasi dapat menjadi sumber pencemaran yang berpotensi membahayakan kesehatan manusia. PM2,5 memiliki potensi untuk menyebabkan gangguan kesehatan karena kemampuannya untuk masuk ke sistem pernapasan yang dapat memicu berbagai penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi risiko kesehatan masyarakat akibat pajanan PM2,5 di udara ambien. Penelitian ini menggunakan desain studi Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan dengan melakukan pengukuran sampel udara di 4 titik dengan jumlah 96 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi PM2,5 di Pulau Tidung masih berada dibawah baku mutu sesuai PP No. 22 Tahun 2021, yaitu dibawah 55 µg/m3 dengan nilai maksimum 44,7 µg/m3. Perhitungan nilai RQ dilakukan pada kondisi konsentrasi minimum, rata-rata, dan maksimum. Hanya terdapat 1 titik dengan nilai RQ>1, yaitu pada kondisi konsentrasi maksimum di titik 1. Dengan mempertimbangkan konsentrasi PM2,5, waktu pajanan, frekuensi pajanan, durasi pajanan, berat badan, dan periode waktu rata-rata, tingkat risiko pajanan PM2,5 di udara ambien pada masyarakat Pulau Tidung dengan konsentrasi sebesar 44,7 µg/m3, tidak aman bagi masyarakat dengan berat badan 64 kg, waktu pajanan 24 jam, frekuensi pajanan 363 hari/tahun selama 35,5 tahun dan saat ini masyarakat mungkin berisiko mengalami gangguan kesehatan.

Pulau Tidung is one of the tourist destinations located in the Administrative Regency of the Kepulauan Seribu. Tourism activities and the population can become sources of pollution that may endanger health. PM2.5 has the potential to cause health problems due to its ability to enter the respiratory system and trigger various diseases. This study aims to estimate the health risks to the community from exposure to PM2.5 in ambient air. The research used an Environmental Health Risk Analysis study design by measuring air samples at 4 points with a total of 96 respondents. The results showed that the concentration of PM2.5 on Tidung Island was still below the quality standard according to Government Regulation No. 22 of 2021, which is below 55 µg/m3 with a maximum value of 44.7 µg/m3. In the risk characterization stage, only 1 point had an RQ value >1, which was at the maximum concentration condition at point 1. Considering the concentration of PM2.5, anthropometric characteristics, and community activity patterns, the level of risk of PM2.5 exposure in ambient air on Tidung Island at a concentration of 44.7 µg/m3 is unsafe for the community with a body weight of 64 kg, exposure time of 24 hours, exposure frequency of 363 days/year for 35.5 years, and currently, the community may be at risk of experiencing health problems
Read More
S-11741
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ghamal Ahmad Pramana; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Puput Oktamianti, Vicktor, Winarto
Abstrak:

Unit rawat jalan adalah suatu bagian dari rumah sakit. Unit rawat jalan memiliki peran penting karena merupakan pintu atau media pertama untuk kontak dan berinteraksi dengan pengguna jasa atau pasien. Rawat jalan juga merupakan salah satu pintu masuk bagi layanan rawat inap lainnya. RSUD Kepulauan Seribu sebagai rumha sakit satu-satunya di wilayah Kepulauan Seribu masih belum mencapai standar pelayanan minimal rawat jalan yang diwajibkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mutu rawat jalan RSUD Kepulauan Seribu dengan kriteria Malcolm Baldrige. Kriteria mengevaluasi organisasi berdasarkan tujuh kriteria yaitu kepemimpinan, perencanaan strategi, fokus pelanggan, pengukuran, analisis, dan manajemen pengetahuan, fokus staff, manajemen proses, serta hasil kinerja. Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Data yang dikumpulkan didapatkan melalui kuesioner, wawancara mendalam, dan telaah dokumen. Hasil penelitian menggunakan Malcolm Baldrige Criteria menunjukan bahwa RSUD Kepulauan Seribu meraih skor sebesar 379,83 dari maksimal 1000. Hal ini berarti untuk penilaian kinerja rumah sakit berdasarkan MBNQA, RSUD Kepulauan Seribu meraih predikat average dan termasuk dalam kategori Early Improvement (skala poin 376-475). Early improvement berarti RSUD Kepulauan Seribu berada dalam posisi peningkatan tahap awal di sektor layanan kesehatan. Untuk itu direkomendasikan agar RSUD Kepulauan seribu membangun kepimpinan yang kuat dan kerjasama tim yang baik agar dapat menentukan rencana strategis yang tepat


 

The outpatient unit is a part of the hospital. The outpatient unit has an important role because it is the first door or medium for contact and interaction with service users or patients. Outpatient care is also an entry point for other inpatient services. Seribu Islands Regional General Hospital as the only hospital in the Thousand Islands region has not yet reached the required minimum outpatient service standard. This study aims to analyze the quality of outpatient care at Seribu Islands Hospital with the criteria of Malcolm Baldrige. The criteria for evaluating organizations are based on seven criteria, namely leadership, strategic planning, customer focus, measurement, analysis, and knowledge management, staff focus, process management, and performance results. This study uses a descriptive analytic research design with quantitative and qualitative approaches. The data collected was obtained through questionnaires, in-depth interviews, and document review. The results of the study using the Malcolm Baldrige Criteria showed that Seribu Islands Regional Hospital won a score of 379.83 out of a maximum of 1000. This means that for hospital performance assessment based on MBNQA, Seribu Islands Hospital won the average title and was included in the Early Improvement category (point scale 376-475). Early improvement means that Seribu Islands Hospital is in a position of early stage improvement in the health service sector. For this reason, it is recommended that the Thousand Islands Hospital develop strong leadership and good teamwork in order to determine the right strategic plan
Keywords: outpatient. malcolm baldridge

Read More
B-2380
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive